cover
Contact Name
Muhamad Suhardi
Contact Email
jurnalp4i@gmail.com
Phone
+6285239967417
Journal Mail Official
jurnalp4i@gmail.com
Editorial Address
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I) Lingkungan Handayanai, Kel. Leneng, Kec. Praya, Kab. Lombok Tengah, NTB Principal Contact: Dr. Muhamad Suhardi, M.Pd. (085239967417) Technical Support Contact: Randi Pratama M., M.Pd. (085781267181) Email: jurnalp4i@gmail.com
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
CENDEKIA : Jurnal Ilmu Pengetahuan
ISSN : 27748030     EISSN : 27744183     DOI : -
Core Subject : Education,
Jurnal ini berisi artikel hasil pemikiran dan penelitian yang ditulis oleh para guru, dosen, pakar, ilmuwan, praktisi, dan pengkaji dalam semua disiplin ilmu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 463 Documents
BERPIKIR INDUKTIF SEBAGAI DASAR KOMPETENSI SIKAP KRITIS BAGI PESERTA DIDIK GENERASI MILLENIAL ABAD 21 SALSABILA, AISYAH RAYA; RAMADHANI, CHINTYA; FAIZIN, MOH.
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4465

Abstract

The inductive thinking model, developed based on Hilda Taba's study of learning, teaches students to draw conclusions from data through observation, testing and generalization. It encourages the development of critical, logical, systematic and creative thinking skills, which are essential in modern learning. The inductive thinking process involves three main stages: learning thinking skills through practice, active interaction between individuals and data, and mastery of skills based on logical sequences. In learning, the case study method is often applied to actively engage students in real-life situations, helping them to collect data, identify patterns and create evidence-based solutions. Teachers act as facilitators, helping students organize information, build concepts, and provide direction to support active learning. Inductive thinking can be applied in a number of subjects, such as science, math and history, to support students in improving their analytical skills and logical inference. However, challenges such as difficulty finding patterns, lack of motivation and limited abstract thinking can hold students back. Solutions involve teacher support through concrete explanations, group discussions and positive feedback, as well as collaboration between students to expand understanding. Inductive thinking shapes important cognitive skills such as analysis, evaluation and decision-making. These skills not only support academic success but also equip students to tackle the challenges of higher education, careers and everyday life. With the right approach, inductive thinking enhances students' independence, confidence and ability to understand concepts holistically. ABSTRAKModel berpikir induktif, yang dikembangkan berdasarkan kajian belajar Hilda Taba, mengajarkan siswa untuk menarik kesimpulan dari data melalui pengamatan, pengujian, dan generalisasi. Model ini mendorong pengembangan keterampilan berpikir kritis, logis, sistematis, serta kreatif, yang penting dalam pembelajaran modern. Proses berpikir induktif melibatkan tiga tahapan utama: pembelajaran keterampilan berpikir melalui latihan, interaksi aktif antara individu dan data, serta penguasaan keterampilan berdasarkan urutan logis. Dalam pembelajaran, metode studi kasus sering diterapkan agar siswa secara aktif terlibat pada situasi nyata, membantu mereka mengumpulkan data, mengidentifikasi pola, dan membuat solusi berdasarkan bukti. Guru bertindak selaku fasilitator, memfasilitasi siswa mengorganisasi informasi, membangun konsep, serta memberikan arahan untuk mendukung proses belajar aktif. Berpikir induktif bisa diaplikasikan di sejumlah mata pelajaran, seperti sains, matematika, dan sejarah, dalam mendukung siswa meningkatkan kemampuan analitis dan inferensi logika. Namun, tantangan seperti kesulitan menemukan pola, kurangnya motivasi, dan keterbatasan berpikir abstrak dapat menghambat siswa. Solusi melibatkan dukungan guru melalui penjelasan yang konkret, diskusi kelompok, dan umpan balik yang positif, serta kolaborasi antar siswa untuk memperluas pemahaman. Berpikir induktif membentuk keterampilan kognitif penting seperti analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan. Keterampilan ini tidak hanya mendukung keberhasilan akademik tetapi juga membekali para siswa dalam mengatasi tantangan pendidikan tinggi, karier serta kehidupan sehari-hari. Dengan pendekatan yang tepat, berpikir induktif meningkatkan kemandirian, rasa percaya diri, dan kemampuan siswa untuk memahami konsep secara holistik.
PENERAPAN BLENDED LEARNING DALAM UJIAN SERTIFIKASI BARANG/JASA LEVEL-1 DI BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PEMERINTAH PROVINSI JAWA TIMUR Winarto, Juli; Bramantyo, Bramantyo; Adisuyanto, Biasworo
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 1 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i1.4554

Abstract

This study aims to analyze the implementation of Blended Learning in the Level-1 Goods/Services Certification Examination at the Human Resources Development Agency (BPSDM) of the East Java Provincial Government. Using qualitative methods, this study was conducted from September to December 2024 involving 11 informants, consisting of test participants, instructors, and organizers. Data were collected through in-depth interviews, observations, and documentation studies, then analyzed using the Miles and Huberman model through the stages of data reduction, data presentation, and drawing conclusions. To ensure the validity of the data, source and method triangulation techniques were used. The results of the study indicate that Blended Learning implemented through synchronous, asynchronous, and face-to-face learning can increase the pass rate of participants. Flexibility in time and place provides comfort in learning, while face-to-face sessions help overcome gaps in understanding and provide more effective exam strategies. From a heutagogical perspective, the main factors that drive participant success are autonomy and motivation, with internal factors such as learning satisfaction and personal motivation playing a more dominant role than external factors. The effectiveness of Blended Learning is also influenced by individual motivation, learning quality, infrastructure, facilitators, and cooperation between participants. By optimizing these factors, the Blended Learning model can improve the quality and effectiveness of goods/services certification exams in government environments. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Blended Learning yang berbasis teori heutagogi Ujian Sertifikasi Barang/Jasa Level-1 di Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Menggunakan metode kualitatif, penelitian ini dilakukan dari September hingga Desember 2024 dengan melibatkan 11 informan, terdiri dari peserta ujian, instruktur, dan penyelenggara. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Untuk memastikan keabsahan data, digunakan teknik triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Blended Learning yang diterapkan melalui pembelajaran sinkronus, asinkronus, dan tatap muka mampu meningkatkan tingkat kelulusan peserta. Fleksibilitas waktu dan tempat memberikan kenyamanan dalam belajar, sementara sesi tatap muka membantu mengatasi kesenjangan pemahaman dan memberikan strategi ujian yang lebih efektif. Dalam perspektif heutagogi, faktor utama yang mendorong keberhasilan peserta adalah otonomi dan motivasi, dengan faktor internal seperti kepuasan belajar dan motivasi pribadi berperan lebih dominan dibanding faktor eksternal. Efektivitas Blended Learning juga dipengaruhi oleh motivasi individu, kualitas pembelajaran, infrastruktur, fasilitator, dan kerja sama antar peserta. Dengan optimalisasi faktor-faktor ini, model Blended Learning dapat meningkatkan kualitas dan efektivitas ujian sertifikasi barang/jasa di lingkungan pemerintah.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN Nurlita, Nurlita; Budiyanto, Mohammad
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4726

Abstract

This study aims to describe the implementation of learning, student learning outcomes, and student responses to the problem based learning model on environmental pollution material at SMP Negeri 18 Gresik. The type of research used is pre-experimental with one group pre-test post-test design which was tested on 32 students of class VIII A of SMP Negeri 18 Gresik. The research instruments used were learning implementation observation sheets, pre-test and post-test questions, and student response questionnaires. The data obtained were then analyzed by analyzing scores and assessment criteria for learning implementation, analyzing learning outcomes with normality tests, hypothesis testing and n-gain analysis, and assessment criteria for student response questionnaires. The results of the study showed that (1) learning implementation obtained a mode score of 4 which means it was implemented with a percentage of 100% which means all aspects of the activity have been implemented. (2) there is a significant difference in the application of the problem based learning model as seen from the pre-test and post-test scores which obtained an average n-gain of 0.74 with high criteria, and (3) the student response obtained a percentage of 98.12% with very good criteria. Thus it can be concluded that the application of the problem based learning model can improve student learning outcomes. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan keterlaksanaan pembelajaran, hasil belajar peserta didik, dan respon peserta didik terhadap model pembelajaran problem based learning pada materi pencemaran lingkungan di SMP Negeri 18 Gresik. Jenis penelitian yang digunakan adalah pre-experimental dengan one group pre-test post-test design yang diuji pada 32 peserta didik kelas VIII A SMP Negeri 18 Gresik. Instrumen penelitian yang digunakan berupa lembar observasi keterlaksanaan pembelajaran, soal pre-test dan  post-test, dan angket respon peserta didik. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan analisis skor dan kriteria penilaian keterlaksanaan pembelajaran, analisis hasil belajar dengan uji normalitas, uji hipotesis dan analisis n-gain, serta kriteria penilaian angket respon peserta didik. Hasil penelitian menunjukan bahwa (1) keterlaksanaan pembelajaran memperoleh skor modus 4 yang berarti terlaksana dengan persentase 100% yang berarti seluruh aspek kegiatan telah terlaksana. (2) terdapat perbedaan signifikan dari penerapan model pembelajaran problem based learning yang dilihat dari skor pre-test dan post-test yang memperoleh rata-rata n-gain 0.74 dengan kriteria tinggi, dan (3) respon peserta didik memperoleh persentase 98,12% dnegan kriteria sanggat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar pserta didik.
PENGARUH KUALITAS PENGAJARAN, FASILITAS BELAJAR, DAN SUMBER BELAJAR TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA Mursida, Mursida
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4727

Abstract

The quality of teaching, availability of learning facilities, and access to learning resources are critical factors influencing student learning achievement. This study investigates the influence of these three variables on the academic performance of students in a selected educational context. A quantitative research design was employed, utilizing a survey method to gather data from a sample of 37 students across several grade levels. The instruments used included structured questionnaires and a standardized achievement test. The data were analyzed using multiple regression analysis to determine the individual and combined effects of teaching quality, learning facilities, and learning resources on learning achievement. Results revealed that teaching quality had the most significant impact, followed by learning resources and learning facilities, all contributing positively to student performance. Collectively, the three variables accounted for 68% of the variance in student achievement, highlighting their combined importance in the learning process. The findings imply that improving teaching quality through professional development programs, upgrading learning facilities, and ensuring access to adequate learning resources are essential strategies for enhancing student outcomes. These results provide valuable insights for policymakers, educators, and school administrators aiming to improve the quality of education and foster better academic achievement. ABSTRAKKualitas pengajaran, ketersediaan fasilitas belajar, dan akses terhadap sumber belajar merupakan faktor penting yang mempengaruhi prestasi belajar siswa. Penelitian ini menyelidiki pengaruh ketiga variabel tersebut terhadap prestasi akademik siswa dalam konteks pendidikan tertentu. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode survei untuk mengumpulkan data dari sampel sebanyak 37 siswa di beberapa tingkatan kelas. Instrumen yang digunakan termasuk kuesioner terstruktur dan tes prestasi terstandar. Data dianalisis menggunakan analisis regresi berganda untuk mengetahui pengaruh kualitas pengajaran, fasilitas belajar, dan sumber daya pembelajaran secara individu dan gabungan terhadap prestasi belajar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas pengajaran memiliki dampak yang paling signifikan, diikuti oleh sumber daya pembelajaran dan fasilitas pembelajaran, yang semuanya berkontribusi positif terhadap prestasi belajar. Secara kolektif, ketiga variabel tersebut menyumbang 68% dari varians dalam prestasi siswa, menyoroti pentingnya ketiga variabel tersebut dalam proses pembelajaran. Temuan ini menyiratkan bahwa peningkatan kualitas pengajaran melalui program pengembangan profesional, peningkatan fasilitas pembelajaran, dan memastikan akses ke sumber daya pembelajaran yang memadai merupakan strategi penting untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi para pembuat kebijakan, pendidik, dan administrator sekolah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan mendorong pencapaian akademik yang lebih baik.
KESIAPSIAGAAN PSIKOLOGIS DEWASA AKHIR DI DAERAH RAWAN BENCANA ERUPSI MERAPI Cahyani, Willin Nur; Triyono, Triyono
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4728

Abstract

Natural disasters such as the volcanic eruption in 2010 resulted in many victims and damage to existing infrastructure, leaving a significant psychological imprint on people's lives. In particular, people on the slopes of Mount Merapi in late adulthood generally begin to experience a decline in their psychological and physical condition. This research will examine the description of the psychological preparedness of late adults in facing the Merapi eruption disaster. This research uses a qualitative phenomenological approach, the technique used is snowball sampling by interviewing people aged 40-60 years, residing in the KRB III area, who have experience of the 2010 Merapi disaster. The results of this research show that psychological preparedness in late adulthood can help individuals to think clearly and rationally in disaster situations and there are factors that encourage psychological preparedness in late adulthood. ABSTRAKPeristiwa bencana alam seperti letusan gunung api tahun 2010 mengakibatkan banyaknya korban dan kerusakan infrastruktur yang ada, sehingga meninggalkan jejak psikologis yang signifikan dalam kehidupan. Khususnya masyarakat lereng Gunung Merapi di usia dewasa akhir yang umumnya mulai dihinggapi penurunan kondisi psikis dan fisik. Penelitian ini akan mengkaji mengenai gambaran kesiapsiagaan psikologis dewasa akhir dalam menghadapi bencana erupsi Merapi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan fenomenologi, teknik yang digunakan snowball sampling dengan mewawancarai masyarakat berumur 40-60 tahun, berada di daerah KRB III, memiliki pengalaman bencana Merapi 2010. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kesiapsiagaan psikologis dewasa akhir dapat membantu individu  berpikir secara rasional dan jernih dalam situasi bencana dan terdapat faktor-faktor yang mendorong kesiapsiagaan psikologis dewasa akhir.
PREPARING AI SUPER USERS THROUGH GENERATIVE AI INTEGRATION IN EDUCATION Zahirah, Khinsa Fairuz; Irawan, Benny; Yusuf, Eddy
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4729

Abstract

Peningkatan pesat Kecerdasan Buatan Generatif (GenAI) menghadirkan peluang dan tantangan bagi pendidikan tinggi, khususnya dalam mempersiapkan mahasiswa untuk menggunakan perangkat AI secara efektif dan etis. Studi ini mengeksplorasi implementasi percontohan “AI Immersion,” program empat minggu di Universitas Ciputra yang dirancang untuk mengembangkan “pengguna super AI”, mahasiswa dari disiplin ilmu non-teknis yang dapat terlibat secara kreatif dan kritis dengan perangkat GenAI tanpa memerlukan keterampilan pemrograman. Program ini diintegrasikan ke dalam kursus yang ada di enam program akademik, yang melibatkan 182 mahasiswa sarjana. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, studi ini mengumpulkan data melalui wawancara, observasi, dan analisis artefak yang dibuat oleh mahasiswa. Kursus ini disusun berdasarkan empat tahap utama: konsep AI dasar, petunjuk teknik dan etika, penggunaan perangkat GenAI terapan, dan pengembangan proyek akhir. Temuan menunjukkan peningkatan dalam kecakapan teknis, pemikiran kritis, dan pemecahan masalah kreatif mahasiswa. Mahasiswa juga menunjukkan peningkatan kesadaran akan masalah etika. Bimbingan fakultas dan penggunaan perangkat gratis yang mudah diakses mendukung partisipasi inklusif di seluruh disiplin ilmu. Hasilnya menunjukkan bahwa GenAI dapat diintegrasikan ke dalam pendidikan tinggi untuk meningkatkan literasi digital dan pembelajaran interdisipliner. Makalah ini menawarkan model yang dapat diskalakan untuk inovasi kurikulum yang menyeimbangkan keterampilan praktis dengan refleksi etis, membekali siswa untuk meraih kesuksesan di dunia yang digerakkan oleh AI. ABSTRACTThe rapid rise of Generative Artificial Intelligence (GenAI) presents both opportunities and challenges for higher education, particularly in preparing students to use AI tools effectively and ethically. This study explores the pilot implementation of “AI Immersion,” a four-week program at Universitas Ciputra designed to develop “AI super users”, students from non-technical disciplines who can creatively and critically engage with GenAI tools without needing programming skills. The program was integrated into existing courses across six academic programs, involving 182 undergraduate students. Using a qualitative approach, the study collected data through interviews, observations, and analysis of student-created artifacts. The course was structured around four key stages: foundational AI concepts, prompt engineering and ethics, applied use of GenAI tools, and final project development. Findings showed improvements in students’ technical proficiency, critical thinking, and creative problem-solving. Students also demonstrated growing awareness of ethical issues. Faculty mentorship and the use of accessible, free tools supported inclusive participation across disciplines. The results suggest that GenAI can be integrated into higher education to enhance digital literacy and interdisciplinary learning. This paper offers a scalable model for curriculum innovation that balances practical skills with ethical reflection, equipping students for success in an AI-driven world.
IMPLEMENTASI BLENDED LEARNING DALAM PENGAJARAN BAHASA INGGRIS: STUDI KASUS DI SEKOLAH DASAR Yuda, Anggi Riani; Vebrianto, Rian; Juhana, Juhana
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4730

Abstract

This study aims to describe the implementation of blended learning by the teacher in teaching English to fourth grade students of primary school. This research was a descriptive case study applying a qualitative approach carried out for approximately one semester starting in August of the 2024/2025 school year at SD Swasta Buddhis Paramita Rengat. The informants of this study were English teachers, some fourth grade students, and parents of students. Secondary data came from the teaching module, teaching materials, students' work, teacher’s daily notes. Data collection was conducted by applying observation, interview, and documentation. Data analysis was applied by adopting the concept of interactive analysis model which includes data reduction, data presentation, and verification. The result shows that the implementation of blended learning in English subjects by teachers for students has been carried out effectively in improving writing and speaking skills with basic vocabulary and grammar development through procedures before face-to-face meetings, during face-to-face meetings, and after face-to-face meetings with three units of daily life topics as material assisted by Google Classroom and Blooket as online platforms, as well as English Code American 4 book as learning resources, then assessed through quiz assessments, assignments and daily practice in class. ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi blended learning oleh guru dalam pengajaran Bahasa Inggris untuk siswa sekolah dasar. Penelitian ini merupakan studi kasus deskriptif yang mengaplikasikan pendekatan kualitatif yang dilaksanakan selama kurang lebih satu semester yang dimulai pada bulan Agustus tahun ajaran 2024/2025 di SD Swasta Buddhis Paramita Rengat. Informan penelitian ini adalah guru bahasa Inggris, beberapa siswa kelas IV, dan orang tua siswa. Data sekunder bersumber dari modul ajar, daftar absensi siswa, materi ajar, hasil pekerjaan siswa, catatan harian guru. Pengumpulan data dilakukan dengan menerapkan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data diterapkan dengan mengadopsi konsep model analisis interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi blended learning dalam mata pelajaran bahasa Inggris oleh guru untuk siswa telah dilakukan secara efektif dalam meningkatkan kemampuan menulis dan berbicara dengan pengembangan kosakata dan tata bahasa dasar melalui prosedur sebelum pertemuan tatap muka, selama pertemuan tatap muka, dan setelah pertemuan tatap muka dengan tiga unit topik kehidupan sehari-hari sebagai materinya yang dibantu dengan Google Classroom dan Blooket sebagai platform onlinenya,  serta buku paket English Code American 4 sebagai sumber belajarnya, kemudian dinilai melalui penilaian kuis, tugas dan praktek harian di kelas.
AGING EFFECT ON SALIVARY GLAND : A REVIEW Ongko, Felix Hartanto; How, Kim-Chuan; Halim, Susanna
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4743

Abstract

Swallowing disorders and dry mouth are the most common oral conditions faced by aging adults. Dry mouth increases the risk of dental caries, periodontal disease, candidiasis, oral ulceration, dysphagia which can have a negative impact on nutritional status and quality of life. Saliva secreted in oral cavity is essential for food ingestion and plays an important role in sensory perception. Aging affects salivary glands and changes quantity and quality of saliva. Alterations in salivary gland function can have adverse effects on oral and systemic health. Salivary hypofunction is associated with decreased chewing and swallowing ability as well as objective taste perception. Many medical conditions and drug treatments usually affect saliva through  anticholinergic  activity  in  older  adults.  Lifestyle  factors  will  also  modify  saliva gradually over time. Besides histological gland atrophy, physiological effects of aging cause changes in salivary gland function due to decreased intensity of stimulation and reflexes in elderly population. With increasing age, there is a reduction in the number of olfactory and taste receptors, decreased neuronal salivary stimulation and decreased blood perfusion at the gland level. Complex relationship between aging and salivary changes have variability results in elderly subjects and still need many research to point out the main problem. ABSTRAKGangguan menelandan mulut kering merupakan kondisi mulut yang palingumumdialamioleh orang dewasa yang menua. Mulut kering meningkatkan risikokaries gigi, penyakit periodontal, kandidiasis, ulserasi oral, disfagia yang dapat berdampak negatif pada status gizi dan kualitas hidup. Air liur yang disekresikan dalam rongga mulut sangat pentinguntuk menelan makanan dan berperan penting  dalam persepsi  sensorik.  Penuaan  memengaruhi  kelenjar  ludah  dan mengubah kuantitas dan kualitas air liur. Perubahan fungsi kelenjar ludah dapat berdampak buruk pada kesehatan mulut dan  sistemik.  Hipofungsi  saliva  dikaitkan  dengan penurunan kemampuan mengunyah dan menelan serta persepsi rasa objektif. Banyak kondisi medis dan perawatan obat biasanya memengaruhi air liur melalui aktivitas antikolinergik pada orang dewasa yang lebih tua. Faktor gaya hidup juga akan mengubah air liur secara bertahap seiring berjalannya waktu.  Selain  atrofi kelenjar histologis, efek fisiologis penuaan menyebabkan perubahan fungsi kelenjar ludah karena penurunan intensitas rangsangan dan refleks pada populasi lanjutusia. Dengan bertambahnyausia, terjadi penurunan jumlahreseptor penciuman dan pengecap, penurunan rangsangan sarafterhadap air liur, dan penurunan perfusi darah di tingkat kelenjar. Hubungan yang kompleks antara penuaan dan perubahan saliva memiliki hasil yang bervariasi  pada  subjek  lanjut  usia  dan  masih  memerlukan  banyak  penelitian  untuk menunjukkan masalah utamanya.
TINJAUAN ARTIKEL LAPORAN KASUS PERTIMBANGAN PEMASANGAN IMPLAN GIGI PADA PASIEN LANJUT USIA Halim, Suasanna; Gusbakti, Gusbakti; Pakpahan, Sadesma Uli; Gabe, Daffa; Sirait, Yossye
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4744

Abstract

Dental implants are a sophisticated solution for replacing missing teeth, providing better stability, comfort, and aesthetics than traditional alternatives. The procedure involves surgically implanting a titanium implant into the jawbone, acting as an artificial root for the tooth. However, implant placement also faces challenges such as inadequate jawbone conditions and the patient's general health factors. The surgical techniques used, such as flap surgery and computer guidance, affect the final outcome. The postoperative recovery process and osseointegration are crucial for the success of the implant. Complications such as peri-implantitis and implant rejection can occur if oral hygiene is not maintained and the patient's general health is compromised. The method of this study is to analyze the success of dental implant placement in elderly patients. This study presents a case report of a 69-year-old male patient who experienced tooth loss. The method involves collecting data through clinical and radiographic examinations to determine the patient's oral and alveolar bone health conditions before implant placement. The results of the analysis indicate that appropriate patient selection and attention to jawbone health greatly contribute to the success of implant placement. The study involved elderly patients who successfully underwent implant placement with good preparation and intensive monitoring. Recommendations for dental practice include good oral care, regular dental visits, and thorough evaluation before the procedure to minimize the risk of implant failure. ABSTRAKDental implant merupakan solusi canggih untuk menggantikan gigi yang hilang, memberikan stabilitas, kenyamanan, dan estetika yang lebih baik dibandingkan alternatif tradisional. Prosedur ini melibatkan pembedahan untuk menanamkan implan titanium ke dalam tulang rahang, berfungsi sebagai akar buatan gigi. Namun, pemasangan implan juga dihadapkan pada tantangan seperti kondisi tulang rahang yang tidak memadai dan faktor kesehatan umum pasien. Teknik bedah yang digunakan, seperti pembedahan flap dan panduan komputer, mempengaruhi hasil akhir. Proses pemulihan pascaoperasi dan osseointegrasi sangat krusial untuk keberhasilan implan. Komplikasi seperti peri-implantitis dan penolakan implan dapat terjadi jika kebersihan mulut tidak terjaga dan kesehatan umum pasien terganggu. Metode penelitian ini untuk menganalisis keberhasilan pemasangan implan gigi pada pasien lansia. Penelitian ini menyajikan laporan kasus seorang pasien pria berusia 69 tahun yang mengalami kehilangan gigi. Metode ini melibatkan pengumpulan data melalui pemeriksaan klinis dan radiografi untuk menentukan kondisi kesehatan mulut dan tulang alveolar pasien sebelum pemasangan implan. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemilihan pasien yang tepat dan perhatian terhadap kesehatan tulang rahang sangat berkontribusi pada keberhasilan pemasangan implan. Penelitian melibatkan pasien lansia yang berhasil menjalani pemasangan implan dengan persiapan yang baik dan pemantauan yang intensif. Rekomendasi untuk praktik kedokteran gigi meliputi perawatan mulut yang baik, kunjungan rutin ke dokter gigi, serta evaluasi menyeluruh sebelum prosedur untuk meminimalkan risiko kegagalan implan.
PENERAPAN MODEL EXPERENTIAL LEARNING BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF UNTUK KETERAMPILAN MENULIS PUISI PADA PESERTA DIDIK KELAS VIII Prasanty, Arum Berliana; Yuwono, Singgih Wiku; Mayasuci, Tuti; Setyawati, Tri Puji; Nurlina, Laily; Pamungkas, Onok Yayang
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Pengetahuan Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/cendekia.v5i2.4747

Abstract

Poetry writing skills are important elements that Indonesian students should learn. Therefore, it is necessary to implement a learning model that is expected to improve the results of learning objectives. The purpose of this best practice is to describe the interactive multimedia based Experential Learning model as an innovation in learning poetry writing for grade VIII Indonesian subjects at SMPN 1 Maos, SMPN 2 Karangpucung, and SMPN 1 Pejawaran. The research subjects were 128 students. The application of the interactive multimedia-based Experential Learning model was able to improve poetry writing skills as evidenced by the completion rate at SMPN 1 Maos reaching 90.60%, SMPN 2 Karangpucung class B reaching 84.38%, SMPN 2 Karangpucung class H reaching 90.63%, and SMPN 1 Pejawaran reaching 87.50%. This learning model was able to be used as an alternative to improve creative and innovative poetry writing skills in other language subjects. ABSTRAKKeterampilan menulis puisi adalah salah satu elemen penting dalam pembelajaran Bahasa Indonesia yang seharusnya dapat dikuasai oleh peserta didik. Maka diperlukan penerapan model pembelajaran yang diharapkan dapat meningkatkan hasil tujuan pembelajaran. Tujuan best practice ini adalah mendeskripsikan model Experential Learning berbasis multimedia interaktif sebagai inovasi pembelajaran menulis puisi mata pelajaran bahasa Indonesia kelas VIII di SMPN 1 Maos, SMPN 2 Karangpucung, dan SMPN 1 Pejawaran. Subjek penelitian sejumlah 128 peserta didik. Penerapan model Experiental Learning berbasis multimedia interaktif dapat meningkatkan keterampilan menulis puisi, dibuktikan dengan tingkat ketuntasan di SMPN 1 Maos mencapai 90,60%, SMPN 2 Karangpucung kelas B mencapai 84,38%, SMPN 2 Karangpucung kelas H mencapai 90,63%, dan SMPN 1 Pejawaran mencapai 87,50%. Model pembelajaran ini dapat dijadikan sebagai sebuah alternatif untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi yang kreatif dan inovatif pada mata pelajaran rumpun bahasa lain.