cover
Contact Name
Muhammad Istiqlal
Contact Email
m.istiqlal@gmail.com
Phone
+6285729356143
Journal Mail Official
m.istiqlal@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Sholeh Km. 04, RT.002 RW.001,Dsn.Bandungan,Ds. Gedangan,Kec. Tuntang, Semarang 50773
Location
Kab. semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan
ISSN : -     EISSN : 27459985     DOI : https://doi.org/10.35672/afeksi.v2i2.28
Core Subject : Education, Social,
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan is one of the media for dissemination of information research results in the field of education which aims to communicate the various results of studies that can serve as the basis of scientific development to create educational innovation that emphasized on improving the quality of education. Afeksi is published by Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran in corporate with Mahfud Ridwan Institute.
Articles 541 Documents
Pembentukan Karakter Kemanusiaan Siswa melalui Budaya Sekolah: Studi Kasus di SDN 01 Tanjungsari Kota Blitar Viyanti Mandasari; Ida Putri Rarasati; Muhammad Iqbal Baihaqi
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1024

Abstract

Penelitian ini menganalisis pola pembentukan karakter kemanusiaan melalui budaya sekolah, bentuk perilaku siswa yang telah dan belum mencerminkan nilai kemanusiaan, serta hambatan dan respons sekolah di SDN 01 Tanjungsari Kota Blitar. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus deskriptif. Partisipan terdiri atas satu kepala sekolah, tujuh guru, satu tenaga kependidikan, dan 30 siswa fase A, B, dan C. Data dikumpulkan melalui enam kali observasi, wawancara semiterstruktur, dokumentasi, serta angket diagnostik 20 butir berskala Guttman. Data dianalisis melalui kondensasi, penyajian, dan verifikasi kesimpulan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil menunjukkan bahwa karakter kemanusiaan dibentuk melalui tiga mekanisme utama: pembiasaan, keteladanan, dan pengondisian lingkungan. Kegiatan Jumat Bersedekah, Sabtu Bersih, piket, kerja kelompok, aturan kelas, serta teladan warga sekolah menumbuhkan empati, gotong royong, tanggung jawab, dan keadaban. Namun, internalisasi belum merata. Angket menunjukkan kesiapan belajar, partisipasi kelompok, dan kesadaran terhadap konsekuensi menyontek masing-masing berada pada 40%, sedangkan perilaku mengganggu teman (30%) dan mengejek nilai buruk (40%) masih ditemukan. Hambatan meliputi perbedaan karakter siswa, latar keluarga, keterbatasan waktu, dan pengaruh lingkungan luar sekolah. Sekolah merespons melalui penguatan pembiasaan, kemitraan orang tua, kegiatan ekstrakurikuler, serta lingkungan yang lebih kondusif. Penelitian ini menghasilkan model integratif budaya sekolah yang menghubungkan nilai, rutinitas, keteladanan, arena praktik, refleksi, kemitraan keluarga, dan pemantauan perilaku.
Televisi sebagai Media Komunikasi dalam Pembelajaran Kewarganegaraan: Kajian Observasional dan Literatur tentang Identitas Nasional, Keberagaman, dan Partisipasi Warga In’am Jihan Nabilah; Anak Agung Istri Dewi Adbi Utami; Sakman Sakman; Desak Ketut Rina Wulandari; Desak Putu Astina Wulandari; Marinda Konda Betu
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1025

Abstract

Televisi tetap memiliki posisi penting dalam ekosistem komunikasi yang semakin terkoneksi dengan platform digital. Namun, klaim mengenai pengaruh televisi terhadap identitas nasional dan perilaku kewarganegaraan perlu dibedakan dari bukti yang hanya menggambarkan proses produksi media. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan proses kerja media televisi yang diamati dalam kegiatan edukasi media dan jurnalistik di Metro TV, Jakarta, serta menafsirkan relevansinya bagi pembelajaran kewarganegaraan melalui literatur ilmiah mutakhir. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui observasi langsung dan dokumentasi kegiatan pada 22 Januari 2026, yang diperkaya dengan studi literatur terarah terhadap artikel ilmiah terbitan 2022-2026. Hasil observasi memperlihatkan rangkaian kerja media yang mencakup peliputan, produksi berita, dan penyiaran program. Temuan tersebut tidak digunakan untuk menyimpulkan perubahan sikap penonton, tetapi sebagai konteks untuk memahami bahwa pesan televisi terbentuk melalui proses kelembagaan sebelum diterima publik. Sintesis literatur menunjukkan empat kontribusi potensial televisi bagi pembelajaran kewarganegaraan, yaitu menyediakan pengalaman audiovisual yang kontekstual, membentuk ruang representasi identitas nasional, memperkenalkan keberagaman, dan memantik partisipasi warga. Kontribusi tersebut bergantung pada akurasi, keberimbangan, inklusivitas representasi, serta kemampuan penonton mengevaluasi pesan secara kritis. Dengan demikian, televisi layak diposisikan sebagai sumber belajar kewarganegaraan yang perlu disertai literasi media, diskusi reflektif, dan verifikasi informasi.
Kapabilitas Organisasi dalam Transformasi Digital Pendidikan Nonformal: Studi Kasus Komunitas Kampung English Kudus Muslimin; Stela Ramadhani Khalashinikov
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1036

Abstract

Transformasi digital pada pendidikan nonformal tidak cukup dipahami sebagai penggunaan perangkat atau platform, tetapi sebagai perubahan terkoordinasi pada strategi, sumber daya manusia, proses pembelajaran, dan jejaring kelembagaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kapabilitas organisasi yang dikembangkan Komunitas Kampung English Kudus dalam merespons digitalisasi serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambatnya. Penelitian menggunakan desain studi kasus kualitatif. Data diambil di Komunitas Kampung English Kudus pada periode Holiday Program periode ke -11 pada tanggal 29 Juni - 5 Juli 2026 dengan jumlah responden 20 anak dan jumlah 5 tutor. Data di himpun melalui observasi, wawancara semi-terstruktur dengan pengelola, pengajar, dan peserta didik, serta analisis dokumen organisasi. Data dianalisis secara tematik melalui proses familiarisasi, pengodean, pengembangan tema, peninjauan tema, dan interpretasi lintas sumber. Temuan menunjukkan empat kapabilitas yang saling berkaitan: penyelarasan strategi organisasi dengan teknologi digital, pengembangan kompetensi digital pengajar, inovasi pembelajaran bauran dan media interaktif, serta penguatan kolaborasi dan jejaring. Implementasinya didukung oleh fleksibilitas organisasi, kemauan pengajar untuk belajar, dan orientasi pada kebutuhan peserta didik, tetapi dibatasi oleh kualitas infrastruktur, ketergantungan pada koneksi internet, ketimpangan kompetensi digital, dan adaptasi budaya belajar. Studi ini menegaskan bahwa adopsi teknologi baru menghasilkan transformasi ketika terintegrasi dengan keputusan manajerial dan desain pedagogis. Implikasinya, lembaga pendidikan nonformal memerlukan peta jalan digital bertahap yang menggabungkan investasi infrastruktur, pengembangan profesional, evaluasi pembelajaran, dan kemitraan.
Stabilitas Struktur Faktor Instrumen Literasi Digital Mahasiswa Sebelum dan Sesudah Transformasi Metode Summated Rating Scale Andi Auliyah Warsyidah; Faridah Agus Setiawati; Edi Istiyono; Widihastuti Widihastuti
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1040

Abstract

Instrumen literasi digital sering menggunakan respons tipe Likert, sedangkan sifat ordinal data tersebut menimbulkan pertanyaan apakah transformasi skor mengubah struktur laten yang diperoleh melalui exploratory factor analysis (EFA). Penelitian ini mengevaluasi kestabilan instrumen literasi digital mahasiswa yang terdiri atas 53 butir sebelum dan sesudah transformasi menggunakan Method of Summated Rating Scale (MSRS). Data diperoleh melalui kuesioner daring empat kategori yang diisi oleh 280 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia. Instrumen sebelumnya ditelaah oleh lima ahli dan memperoleh koefisien validitas isi Aiken’s V = 0,98. EFA dilakukan dengan ekstraksi maximum likelihood dan rotasi varimax pada skor asli serta skor hasil transformasi MSRS. Selain membandingkan kecukupan data, struktur faktor, loading, dan konsistensi internal, matriks loading yang dilaporkan dianalisis kembali menggunakan korelasi, selisih absolut, dan root mean square error. Kedua data menghasilkan KMO = 0,91, uji Bartlett yang signifikan (p < 0,001), 12 faktor, dan alpha Cronbach = 0,95. Stabilitas loading tergolong tinggi (r = 0,915; rho = 0,944), dengan median selisih absolut 0,010, rerata selisih absolut 0,026, dan RMSE = 0,061; sebanyak 52 dari 53 butir berubah tidak lebih dari 0,10. Butir B_47 merupakan pengecualian utama karena loading meningkat dari 0,48 menjadi 0,88 dan perlu diverifikasi. Temuan menunjukkan kestabilan struktur pada tingkat makro setelah transformasi MSRS, tetapi tidak membuktikan bahwa data Likert ordinal selalu setara dengan data interval ataupun bahwa instrumen bersifat unidimensional. Validasi lanjutan perlu menggunakan korelasi polikorik, estimator ordinal, parallel analysis, rotasi oblique, reliabilitas omega, dan pengujian konfirmatori pada sampel independen.
Relevansi Konsep Adab Ibn Jama’ah dalam Mengatasi Krisis Etika Pendidikan Era Digital Ghofar Ismail; Harun Sutara; Ali Maulida
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i1.1045

Abstract

Perkembangan teknologi digital dalam dunia pendidikan telah menghadirkan perubahan besar dalam proses pembelajaran, tetapi juga memunculkan berbagai persoalan etika, seperti menurunnya penghormatan terhadap guru, lemahnya integritas akademik, serta pergeseran orientasi pendidikan dari pembentukan karakter menuju pencapaian kompetensi semata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep adab dalam pemikiran Ibn Jama‘ah serta mengkaji relevansinya sebagai kerangka etika pendidikan dalam menghadapi tantangan pendidikan era digital. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Sumber data primer berupa kitab Tadzkirat al-Sāmi‘ wa al-Mutakallim fī Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim karya Ibn Jama‘ah, sedangkan sumber sekunder berasal dari literatur ilmiah terkait pendidikan Islam, etika pendidikan, pendidikan karakter, dan transformasi pendidikan digital. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) melalui tahapan identifikasi konsep, kategorisasi tema, interpretasi makna, dan kontekstualisasi pemikiran Ibn Jama‘ah terhadap persoalan pendidikan kontemporer. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep adab Ibn Jama‘ah tidak hanya menempatkan pendidikan sebagai proses transfer ilmu, tetapi sebagai proses pembentukan manusia melalui integrasi ilmu, akhlak, keteladanan pendidik, dan tanggung jawab moral peserta didik. Konsep tersebut memiliki relevansi dalam menghadapi krisis etika pendidikan era digital, terutama melalui penguatan karakter peserta didik, profesionalisme moral pendidik, serta pembangunan hubungan edukatif yang berlandaskan penghormatan dan tanggung jawab. Penelitian ini memberikan kontribusi teoritis terhadap kajian pendidikan Islam kontemporer dengan menunjukkan bahwa pemikiran pendidikan klasik dapat dikontekstualisasikan sebagai kerangka etika dalam menghadapi perubahan pendidikan berbasis teknologi. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan kajian ini melalui pendekatan empiris untuk menguji implementasi konsep adab Ibn Jama‘ah dalam praktik pendidikan digital.
Profil Kompetensi Guru dan Engagement Siswa Berdasarkan Persepsi Guru di SD Negeri Ciwuni 01 Noviana Hartati; Sandi Aji Wahyu Utomo
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1060

Abstract

Kompetensi guru dan keterlibatan siswa merupakan dua komponen penting dalam mutu proses pembelajaran. Namun, naskah penelitian deskriptif sering menafsirkan kemunculan dua profil yang sama-sama tinggi sebagai bukti hubungan statistik, padahal kesimpulan tersebut memerlukan analisis inferensial. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan profil kompetensi guru dan engagement siswa berdasarkan persepsi guru di SD Negeri Ciwuni 01. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif deskriptif dengan sampling jenuh terhadap 16 guru. Instrumen kompetensi guru terdiri atas 37 butir yang mencakup dimensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional, sedangkan instrumen engagement siswa terdiri atas 20 butir yang mencakup keterlibatan perilaku, emosional, dan kognitif. Analisis dilakukan menggunakan frekuensi, persentase, dan kategorisasi skor. Seluruh butir memenuhi kriteria korelasi butir-total yang digunakan dalam sampel penelitian. Konsistensi internal instrumen sangat tinggi, dengan Cronbach’s alpha 0,960 untuk kompetensi guru dan 0,889 untuk engagement siswa. Sebanyak 9 guru (56,3%) menilai kompetensinya berada pada kategori tinggi dan 7 guru (43,8%) pada kategori sangat tinggi. Persepsi guru terhadap engagement siswa berada pada kategori sedang sebanyak 3 responden (18,8%), tinggi sebanyak 6 responden (37,5%), dan sangat tinggi sebanyak 7 responden (43,8%). Hasil ini menunjukkan profil positif pada kedua konstruk, tetapi tidak membuktikan adanya hubungan atau pengaruh karena penelitian tidak melakukan uji korelasi dan engagement dinilai melalui persepsi guru. Temuan berfungsi sebagai data dasar bagi sekolah untuk memperkuat praktik pembelajaran yang mendukung partisipasi, relasi positif, regulasi diri, dan keterlibatan kognitif siswa. Penelitian lanjutan perlu menggunakan laporan siswa, observasi kelas, sampel yang lebih luas, dan analisis hubungan antarkonstruk.
Perbandingan Tingkat Hedonisme Berdasarkan Jenis Kelamin pada Mahasiswa Pengguna Tiktok di Program Studi Bimbingan dan Konseling Nadia Karmella Eudia Br Sembiring; Bernardinus Agus Arswimba
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1062

Abstract

Penelitian ini disusun untuk membandingkan tingkat hedonisme antara mahasiswa laki-laki dan perempuan pengguna media sosial TikTok di Program Studi Bimbingan dan Konseling Universitas Sanata Dharma, sekaligus menandai butir skala yang capaiannya tergolong tinggi sebagai bahan penyusunan topik layanan bimbingan. Pendekatan yang dipakai adalah kuantitatif komparatif dengan teknik purposive sampling terhadap 70 mahasiswa aktif pengguna TikTok, terdiri atas 55 responden perempuan dan 15 responden laki-laki; komposisi ini tidak seimbang dan membatasi daya uji untuk mendeteksi perbedaan berukuran kecil hingga sedang. Pengumpulan data dilakukan melalui skala hedonisme model Likert yang disebarkan secara daring melalui Google Form; dari 54 pernyataan yang diujicobakan pada sampel yang sama dengan sampel pengujian hipotesis, 49 di antaranya dinyatakan valid dengan koefisien Cronbach's Alpha 0,977. Oleh karena sebaran data pada kelompok perempuan tidak memenuhi asumsi normalitas, pengujian hipotesis utama menggunakan uji nonparametrik Mann-Whitney U yang membandingkan distribusi/peringkat skor kedua kelompok; uji Welch t-test disertakan hanya sebagai pembanding deskriptif, bukan sebagai dasar pengambilan keputusan. Hasil analisis tidak menemukan bukti statistik yang memadai mengenai perbedaan tingkat hedonisme antara kedua kelompok (Mann-Whitney U = 355; z = -0,82; p = 0,414; rank-biserial r = 0,14), dengan rerata skor mahasiswi sebesar 87,42 (SD = 23,65; median = 85,0) dan mahasiswa sebesar 99,13 (SD = 37,68; median = 104,0), keduanya berada pada kategori rendah. Estimasi Hodges-Lehmann atas selisih median antarkelompok adalah -8,0 dengan interval kepercayaan 95% [-33; 10] yang mencakup nol, sehingga selisih tersebut tidak dapat dipastikan berbeda dari nol secara statistik. Temuan ini tetap perlu dimaknai secara hati-hati mengingat kecilnya jumlah sampel laki-laki (n = 15), sehingga tidak dapat disimpulkan bahwa kedua kelompok benar-benar setara. Dua butir pernyataan yang berkaitan dengan sikap terhadap tren yang sedang berkembang dan kecenderungan mengikuti tren fesyen berada pada kategori tinggi dan diusulkan sebagai indikasi awal kebutuhan topik bimbingan seputar literasi digital dan pengelolaan keuangan mahasiswa, yang perlu dikonfirmasi melalui asesmen kebutuhan layanan lebih lanjut.
Maslahah Mursalah sebagai Kerangka Pengembangan Kurikulum Pendidikan Islam yang Adaptif: Studi Eksploratif di TPQ Nurul Qur’an Surabaya Wulandaroini Sucianingsih; Ahmad Alwin Faruq
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 5 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i5.1065

Abstract

Penelitian ini menganalisis penerapan maslahah mursalah sebagai kerangka normatif dalam pengembangan kurikulum pendidikan Islam di TPQ Nurul Qur’an Surabaya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-eksploratif dengan data lapangan berupa wawancara langsung dengan seorang pengajar yang memahami penyusunan dan pelaksanaan kurikulum, serta kajian literatur mengenai maslahah mursalah, maqasid al-shariah, pendidikan Al-Qur’an, pendidikan karakter, dan media pembelajaran digital. Data dianalisis secara komparatif-interpretif dengan membandingkan kebijakan dan praktik pembelajaran yang dilaporkan informan dengan kriteria kemaslahatan: tidak bertentangan dengan nash, menghadirkan manfaat yang nyata, mencegah mafsadat, dan mendukung tujuan syariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kewajiban seragam, disiplin waktu, penggunaan CCTV, video pembelajaran, dan diskusi kelompok dapat dipahami terutama sebagai maslahah hajiyah dan tahsiniyah. Kebijakan tersebut memudahkan proses belajar, memperkuat ketertiban dan keamanan, meningkatkan keterlibatan santri, serta mendukung pembentukan tanggung jawab, kesetaraan, kerja sama, dan kecakapan sosial. Dalam perspektif maqasid, manfaatnya berkaitan terutama dengan perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Namun, legitimasi kemaslahatan tidak bersifat otomatis; setiap kebijakan perlu dievaluasi berdasarkan proporsionalitas, perlindungan anak, privasi, akses yang setara, serta bukti manfaatnya. Studi ini menawarkan matriks analisis maslahah-maqasid untuk membantu TPQ merancang kurikulum yang adaptif dan tetap berorientasi pada prinsip syariah.
Model Akhlaq-Inklusif dalam Pendidikan Nilai PAI bagi Peserta Didik Disabilitas: Kajian Pustaka Integratif Aditiya Pratama Masyhuri; Mukh. Nursikin
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 6 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i6.1028

Abstract

Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi peserta didik disabilitas memerlukan lebih dari sekadar penyederhanaan materi atau penggantian media. Pembelajaran harus menjamin akses, partisipasi bermakna, internalisasi nilai, dan relasi sosial yang menghormati martabat setiap peserta didik. Artikel ini bertujuan merumuskan model pendidikan nilai PAI berbasis inklusi sosial yang dapat digunakan lintas ragam disabilitas. Penelitian menggunakan kajian pustaka integratif dengan menelaah artikel jurnal tentang PAI bagi anak berkebutuhan khusus, pedagogi inklusif, Universal Design for Learning, diferensiasi, partisipasi sosial, asesmen otentik, teknologi aksesibel, serta kolaborasi sekolah-keluarga. Literatur dipilih berdasarkan relevansi langsung, keteraksesan teks, mutu sumber, dan kemutakhiran; sumber terbit 2020-2025 diprioritaskan, sedangkan karya terdahulu digunakan secara terbatas sebagai landasan teoretis. Analisis tematik menghasilkan enam komponen model AKHLAQ-Inklusif: Aksesibilitas bermakna, Kebutuhan individual terpetakan, Habituasi nilai Islam, Lingkungan belajar partisipatif, Asesmen otentik, dan Qudwah atau keteladanan. Model ini menghubungkan nilai rahmah, keadilan, ta'awun, amanah, dan kemandirian dengan media multimodal, pembelajaran berdiferensiasi, praktik ibadah aksesibel, teman sebaya suportif, portofolio perkembangan, dan budaya sekolah anti-diskriminasi. Kajian menyimpulkan bahwa keberhasilan PAI inklusif tidak cukup dinilai dari penguasaan pengetahuan agama, tetapi juga dari meningkatnya kemandirian ibadah, partisipasi, penerimaan sosial, dan perilaku bernilai. Model perlu diuji melalui studi lapangan dan penelitian pengembangan pada sekolah inklusif, madrasah, dan sekolah luar biasa.
Model Konseptual Pembelajaran PAI Taktil-Auditori bagi Peserta Didik Disabilitas Netra: Kajian Pustaka Integratif Aditiya Pratama Masyhuri; Mukh. Nursikin
Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Vol. 7 No. 1 (2026)
Publisher : Pusat Studi Penelitian dan Evaluasi Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59698/afeksi.v7i1.1029

Abstract

Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) bagi peserta didik disabilitas netra memerlukan desain yang membuka akses terhadap pengetahuan, praktik ibadah, pengalaman spiritual, dan internalisasi akhlak tanpa bergantung pada informasi visual. Artikel ini bertujuan merumuskan model konseptual pembelajaran PAI taktil-auditori berdasarkan sintesis penelitian tentang PAI inklusif, pedagogi disabilitas netra, pembelajaran multisensori, Braille, teknologi bantu, dan Universal Design for Learning. Kajian menggunakan pendekatan pustaka integratif. Literatur ditelusuri melalui portal jurnal nasional dan internasional, DOAJ, PubMed/PMC, SpringerLink, ScienceDirect, Frontiers, dan Google Scholar; prioritas diberikan pada artikel ilmiah 2021–2026 yang dapat diakses melalui DOI atau laman penerbit, dengan beberapa sumber fondasional yang tetap dipertahankan. Sebanyak 34 artikel dianalisis melalui identifikasi konsep, pengodean tematik, perbandingan temuan, dan sintesis argumentatif. Hasil kajian menghasilkan lima komponen model: asesmen akses belajar; konkretisasi materi PAI; integrasi taktil-auditori; aktivitas, pembiasaan, dan refleksi; serta evaluasi holistik dan tindak lanjut yang ditopang kolaborasi ekosistem. Pendekatan taktil mengonkretkan bentuk, urutan, posisi, dan gerak, sedangkan pendekatan auditori memperjelas instruksi, bacaan, makna, dan refleksi. Integrasi keduanya mendukung akses kognitif, kemandirian ibadah, perkembangan afektif, dan partisipasi sosial. Model ini menawarkan kerangka operasional bagi guru PAI, tetapi masih memerlukan pengujian empiris pada sekolah khusus dan sekolah inklusif.