cover
Contact Name
suparna wijaya
Contact Email
life.jurnalku@gmail.com
Phone
+6287780663168
Journal Mail Official
life.jurnalku@gmail.com
Editorial Address
Serpong, Tangerang Selatan
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Indonesian Journal of Health Science
Published by PT WIM Solusi Prima
ISSN : -     EISSN : 28091167     DOI : https://doi.org/10.54957/ijhs
Core Subject : Health,
Indonesian Journal of Health Science is a place for disseminating research results in the field of health, including, but not limited to topics of public health, environmental health, occupational health, pharmacy, nutrition, epidemiology, medical laboratories, physiotherapy, or other general health.
Articles 332 Documents
Pengaruh imunoterapi sebagai upaya terapeutik wanita dengan endometriosis: Kajian Naratif Ganisia, Ainun; Kwarta, Cityta Putri; Imeldawati, Rakhmalia; Fathiyyah, Nurul
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1564

Abstract

Introduction: Endometriosis is one of the most common gynaecological and systemic diseases, with a remarkable immune background. Patients suffer from pelvic pain and decreased fertility. Due to the different immune components, immunotherapy approaches may be necessary. In endometriosis, the immune system cell fraction shift is well known. In addition, hypoxia and inflammation cause a compromised immune response. Removal of endometriosis has a therapeutic effect, normalizes immune disorders, and remains the most effective causative treatment for pain and infertility. Treatment of endometriosis with immunotherapy is promising due to the significant contribution of immunological factors and the limitations of current treatment methods. The purpose of this study was to determine the effect of immunotherapy in improving fertility in patients with endometriosis. This research method uses a literature review and narrative method by collecting research results related to immunotherapy and endometriosis. Data sources were obtained from various international journals indexed by Scopus from 2018 to 2023. Results: Immunotherapy affects improving fertility in patients with endometriosis. Conclusion: Immunotherapy can improve the peritoneal immune microenvironment and inhibit the development of endometriosis lesions, working synergistically with hormonal therapy to fundamentally relieve disturbing symptoms and improve fertility in patients with endometriosis. Pendahuluan: endometriosis merupakan salah satu penyakit ginekologi dan sistemik yang paling umum, dengan latar belakang imun yang luar biasa. Pasien menderita nyeri panggul dan penurunan kesuburan. Dikarenakan komponen imun yang berbeda, pendekatan imunoterapi mungkin menjadi penting di masa mendatang. Pada endometriosis, pergeseran fraksi sel sistem imun sudah diketahui dengan baik. Selain itu, hipoksia bersamaan dengan peradangan menyebabkan respons imun terganggu. Pengangkatan endometriosis memiliki efek terapeutik, menormalkan gangguan imun, dan tetap menjadi pengobatan kausatif yang paling efektif dalam hal nyeri dan infertilitas. Pengobatan endometriosis melalui imunoterapi cukup menjanjikan karena kontribusi signifikan faktor imunologi dan keterbatasan metode pengobatan saat ini. Tujuan dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh imunoterapi dalam meningkatkan kesuburan pasien dengan endometriosis. Metode penelitian ini  menggunakan literature review dan bermetode narative dengan mengumpulkan hasil-hasil penelitian tentang terkait imunoterapi dan endometriosis. Sumber data didapat melalui berbagai jurnal internasional terindex scopus dari tahun 2018 hingga tahun 2023. Hasil: Imunoterapi berpengaruh dalam meningkatkan kesuburan pasien dengan endometriosis. Kesimpulan: Imunoterapi dapat meningkatkan lingkungan mikro imun peritoneum dan menghambat perkembangan lesi endometriosis, bekerja secara sinergis dengan terapi hormonal untuk secara mendasar meredakan gejala-gejala yang mengganggu dan meningkatkan kesuburan pada pasien dengan endometriosis.
Gambaran tingkat kepuasan pasien terhadap pelayanan informasi obat di instalasi farmasi rawat jalan eksekutif rumah sakit X periode Januari – Februari 2024 Rayhan, Mohammad; Lakoan, Milda Rianty
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1569

Abstract

Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai akibat dari kinerja layanan kesehatan yang diperoleh setelah pasien membandingkan dengan apa yang dirasakan Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran Tingkat Kepuasan Pasien Terhadap Pelayanan Informasi Obat di Instalasi Farmasi Rumah Rawat Jalan Eksekutif Sakit “X” Bulan Januari – Febuari 2024. Berdasarkan 5 dimensi kepuasan yaitu dimensi berwujud (Tangible), dimensi kehandalan (Realibility), dimensi ketanggapan (Responsiveness), dimensi jaminan (Assurance), dan dimensi empati (Empaty). Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sampel dalam penelitian ini adalah pasien yang berobat di Instalasi Farmasi Eksekutif Rumah Sakit “X” yang memenuhi kriteria inklusi terhadap 70 responden. Hasil penelitian kepuasan pasien berdasarkan 5 dimensi yaitu dimensi berwujud (tangible) berada kategori puas (88%), dimensi kehandalan (Realibility) berada kategori puas (79,64%), dimensi daya tanggap (Responsiveness) berada kategori puas (80%), dimensi jaminan (Assurance) berada kategori puas (86,19%), dimensi empati (Empaty) berada kategori puas (83,57%) dengan rata – rata persentase 83,47%. 
Analisis implementasi total quality management dalam penurunan pending klaim BPJS kesehatan pada pelayanan rawat inap di rumah sakit X Kabupaten Serdang Bedagai Herawati, Putri; Gurning, Fitriani Pramita
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1575

Abstract

Jumlah pending klaim BPJS Kesehatan pada pelayanan rawat inap yang relatif tinggi di Rumah Sakit X Kabupaten Serdang Bedagai mencerminkan adanya permasalahan dalam penerapan manajemen mutu rumah sakit. Meskipun penerapan Total Quality Management (TQM) telah dilaksanakan di rumah sakit, namun kasus klaim yang tertunda masih sering terjadi. Kondisi ini berdampak negatif terhadap kelancaran arus kas rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi prinsip-prinsip TQM dalam upaya menurunkan pending klaim BPJS Kesehatan. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan metode survei melalui penyebaran kuesioner kepada staf rumah sakit yang terlibat dalam proses klaim. Data dianalisis dengan metode Importance Performance Analysis (IPA) untuk mengidentifikasi kesenjangan antara tingkat kepentingan dan kinerja implementasi TQM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi prinsip-prinsip Total Quality Management (TQM) di Rumah Sakit X secara keseluruhan memperoleh nilai rata-rata di atas 97, yang termasuk dalam kategori “memuaskan”. Berdasarkan analisis kartesius IPA, prinsip komunikasi dan peningkatan berkelanjutan termasuk dalam Kuadran B yaitu area yang menunjukkan kinerja tinggi namun tetap dianggap penting sehingga harus dipertahankan prestasinya. Gap terbesar ditemukan pada prinsip komunikasi (-0,13) dan peningkatan berkelanjutan (-0,12), yang menandakan perlunya perhatian untuk mempertahankan dan terus meningkatkan kinerja pada aspek tersebut. Implementasi TQM terbukti berkontribusi terhadap penurunan pending klaim, namun perlu perbaikan berkelanjutan dan penguatan koordinasi lintas unit untuk mencapai efisiensi maksimal. Implementasi prinsip-prinsip TQM secara konsisten dapat mengurangi pending klaim dan meningkatkan kualitas manajemen rumah sakit.
Implementasi kebijakan kawasan tanpa rokok pada fasilitas umum di Kecamatan X Kabupaten Deli Serdang Fitria, Adinda Dwi; Gurning, Fitriani Pramita
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1577

Abstract

Tembakau menjadi penyebab utama kematian lebih dari 8 juta orang di dunia setiap tahun, termasuk 1,2 juta kematian akibat paparan asap rokok pada perokok pasif. Di Indonesia, perilaku merokok masih sangat tinggi, dengan peningkatan signifikan pada kelompok anak-anak dan remaja. Kabupaten Deli Serdang menunjukkan prevalensi perokok yang tinggi di berbagai kelompok usia, dan angka tersebut masih jauh dari target RPJMN dan SDG’s Sebesar 8,7%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok pada fasilitas umum di Kecamatan X, Kabupaten Deli Serdang. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Fenomenologi. Teknik pengumpulan data dengan menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi kebijakan Kawasan Tanpa Rokok di Kecamatan X masih belum optimal. Kurangnya sosialisasi dan media informasi menyebabkan komunikasi kebijakan belum berjalan efektif. Sumber daya manusia dan sarana pendukung masih terbatas, disposisi pelaksana kebijakan menunjukkan kurangnya komitmen, dan struktur birokrasi belum terkoordinasi dengan baik. Akibatnya, pengawasan dan penegakan sanksi terhadap pelanggaran masih lemah. Penelitian ini memberikan saran kepada Pemerintah Daerah agar meningkatkan sosialisasi, penyediaan sarana pendukung, penguatan koordinasi antar lembaga, serta penegakan hukum yang konsisten untuk meningkatkan efektivitas kebijakan Kawasan Tanpa Rokok.
Amoebiasis: Etiologi, patofisiologi, morfologi, diagnosis, dan pengobatan Jannah, Insani Fitrahulil; Abdullah, Asriyani
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1578

Abstract

Amoebiasis is an infectious disease caused by Entamoeba histolytica and remains a public health concern, especially in developing countries with poor sanitation. Transmission occurs via the fecal–oral route through contaminated food, water, or hands. The infection may be asymptomatic or progress to severe forms such as dysenteric colitis and amoebic liver abscess. Traditional diagnosis relies on stool microscopy, which has limited sensitivity and specificity. Molecular diagnostics such as PCR and immunological methods like ELISA have improved diagnostic accuracy but are not widely accessible in endemic regions. Treatment varies according to disease severity, involving luminal amebicides for non-invasive infections and tissue amebicides for invasive disease. Long-term prevention requires improved sanitation, public education, and vaccine development. Future research should focus on host–parasite interactions, gut microbiota dynamics, and the identification of biomarkers and novel therapies to enable more effective and sustainable control of amoebiasis in affected populations. Amoebiasis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Entamoeba histolytica, dan masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang dengan kondisi sanitasi yang buruk. Penularan terjadi melalui jalur fekal-oral, baik secara langsung maupun tidak langsung. Infeksi ini dapat bersifat asimtomatik atau menyebabkan gejala berat seperti kolitis disenterik dan abses hati amebik. Diagnosis tradisional mengandalkan pemeriksaan mikroskopis feses, meskipun teknik ini memiliki keterbatasan dalam sensitivitas dan spesifisitas. Kemajuan dalam diagnostik molekuler seperti PCR dan metode imunologis (ELISA) telah meningkatkan akurasi diagnosis, namun aksesnya masih terbatas. Pengobatan tergantung pada tingkat keparahan infeksi, dengan penggunaan amebisida luminal untuk infeksi non-invasif dan amebisida jaringan untuk infeksi invasif. Pencegahan jangka panjang melibatkan peningkatan sanitasi, edukasi masyarakat, dan pengembangan vaksin. Penelitian masa depan harus difokuskan pada interaksi parasit-inang, peran mikrobiota usus, serta penemuan biomarker dan terapi baru untuk pengendalian amoebiasis yang lebih efektif dan berkelanjutan.
Identifikasi bakteri Staphylococcus aureus pada baju khusus (seragam) dokter di rumah sakit Shari, Amalia; Humaira, Andhara
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1580

Abstract

Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi di rumah sakit yang dapat menyerang pasien, petugas kesehatan serta orang-orang yang datang ke rumah sakit. Infeksi ini dapat menyebar melalui berbagai media, termasuk seragam dokter yang digunakan sering berinteraksi langsung dengan pasien. Staphylococcus aureus adalah salah satu bakteri penyebab infeksi nosokomial yang dapat hidup pada nares anterior dan kulit, dan dapat menimbulkan berbagai penyakit jika masuk ke tubuh melalui luka atau saat sistem imun lemah. Jurnal ini bertujuan untuk mengidentifikasi keberadaan bakteri Staphylococcus aureus pada seragam dokter di rumah sakit. Untuk mendeteksi keberadaan bakteri ini, dilakukan pengambilan sampel dengan metode swab pada seragam dokter. Sampel kemudian ditanam di media MSA (Manitol Salt Agar) yang selektif untuk pertumbuhan Staphylococcus aureus. Selanjutnnya, dilakukan uji pewarnaan gram dan karakterisasi bakteri Staphylococcus aureus untuk identifikasi bakteri tersebut dengan menggunakan beberapa metode karakterisasi sederhana. Metode ini dapat meliputi uji katalase, uji koagulase, uji SIM (Sulfide Indol Motility), uji fermentasi karbohidrat dan uji resistensi antibiotik. Penelitian ini dapat menunjukkan bahwa seragam dokter dapat terkontaminasi oleh bakteri Staphylococcus aureus, sehingga berpotensi menjadi sumber penyebaran infeksi nosokomial di rumah sakit. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan praktik kebersihan dan sterilisasi dalam penanganan seragam dokter di rumah sakit.
Analisis kadar Vitamin B1 pada beras, biji jagung, dan biji gandum dengan metode Spektrofotometri UV-Visibel Mulia, Putri; Putri, Dwi Kurnia; Martinus, Martinus
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1582

Abstract

Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan kadar vitamin B1 pada beras, biji jagung, dan biji gandum dengan metode spektrofotometri UV-Visibel. Vitamin B1 direaksikan dengan biru bromtimol untuk membentuk kompleks asosiasi ion dengan bantuan polivinyl alkohol sebagai zat pensolubilisasi yang diukur pada panjang gelombang maksimum 430 nm. Metode ini cukup teliti, selektif, dan dapat menentukan vitamin B1 secara langsung tanpa melakukan ekstraksi dengan pelarut organik. Hasil penelitian menunjukkan kadar vitamin B1 yang diperoleh dari beras 0,1990%0,00114, gandum 0,2085%0,000346, dan jagung0,1248%0,0000908.
Manajemen komprehensif insomnia terkait smartphone pada mahasiswa: Perspektif keperawatan, farmasi, dan fisioterapi Maulina, Devi; Anugrahwati, Ria; Adiana, Sylvi; Syafitri, Putri Karina; Arianti, Varda; Rochjana, Anna Uswatun Hasanah; Retnani, Ajeng Dwi
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1619

Abstract

Penggunaan smartphone secara berlebihan telah menjadi faktor pemicu meningkatnya kasus insomnia di kalangan mahasiswa. Paparan cahaya biru, stimulasi kognitif yang terus-menerus, dan gangguan ritme sirkadian berdampak negatif terhadap kualitas tidur. Mengingat kompleksitas masalah ini, diperlukan pendekatan komprehensif dan kolaboratif lintas profesi untuk penanganannya. Artikel ini disusun sebagai tinjauan naratif berbasis literatur yang relevan dari berbagai sumber primer dan sekunder (2013–2024), dengan fokus pada peran keperawatan, farmasi, dan fisioterapi dalam manajemen insomnia terkait penggunaan smartphone. Penelusuran dilakukan melalui database PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci: insomnia, smartphone use, nursing intervention, pharmaceutical care, physiotherapy, dan interprofessional collaboration. Tinjauan menunjukkan bahwa perawat berperan dalam edukasi sleep hygiene dan teknik perilaku seperti CBT-I; farmasis berkontribusi melalui edukasi rasional penggunaan suplemen atau obat tidur; sedangkan fisioterapis mendukung melalui intervensi fisik seperti latihan relaksasi otot dan teknik pernapasan. Sinergi ketiga profesi ini membentuk pola layanan integratif yang responsif terhadap kebutuhan mahasiswa. Pendekatan multidisipliner dalam manajemen insomnia terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan tunggal. Kolaborasi antara keperawatan, farmasi, dan fisioterapi memungkinkan intervensi yang lebih personal, holistik, dan berkelanjutan. Implikasi dari temuan ini menegaskan pentingnya integrasi pendidikan interprofesional dalam kurikulum serta penerapan praktik kolaboratif dalam pelayanan kesehatan kampus.
Rational use of NSAIDs and the incidence of potential drug interactions in inpatients with osteoarthritis at the Tangerang City General Hospital Fauziah, Siva; Aulia, Gina; Nasar, Nur Afni Syariah; Putri, Annisa Septyana; Komarudin, Dede
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1621

Abstract

Background: Osteoarthritis (OA) is a disease that affects articular cartilage, subchondral bone, synovium, capsule, and ligaments. This disease is an overlapping disorder with different etiologies but similar biological, morphological, and clinical outcomes. The rationality of drug use in osteoarthritis must be optimized to achieve optimal therapeutic outcomes. The potential for drug interactions must also be understood to prevent unwanted effects from therapy. Objective: To determine the rationality of drug use and the potential for drug interactions in osteoarthritis patients at Tangerang City General Hospital, focusing on the four principles of appropriate drug use: appropriate patient, appropriate drug, appropriate indication, and appropriate dose. This study is a descriptive observational study with a cross-sectional design and uses retrospective data. Method: The study sample was selected using purposive sampling, considering inclusion and exclusion criteria. The study sample meeting the inclusion criteria consisted of 31 medical records (patients). The data obtained were then compared with the reference standards of the Indonesian Rheumatology Association (IRA). Results: Patient characteristics based on age showed the highest proportion in early elderly (46–55 years) at 41.9%, female gender at 71%, with joint pain location in the feet at 65%, other joints at 23%, and hands at 12.9%. The profile of prescribed osteoarthritis medications was as follows: sodium diclofenac 41.9%, meloxicam 38.7%, ketorolac 12.9%, and mefenamic acid 6.5%. The rationality of patient accuracy, medication, indications, and dosage yielded 100% data related to NSAID use in osteoarthritis patients, with the highest potential for drug interactions occurring in the combination of sodium diclofenac and bisoprolol at 18.2% at a moderate severity level. The mechanism of interaction involves NSAIDs potentially weakening the antihypertensive effects of beta-blockers. The mechanism of NSAID-induced inhibition of renal prostaglandin synthesis results in uninhibited pressor activity, leading to hypertension. Additionally, NSAIDs can cause fluid retention, which also affects blood pressure. Conclusion: The rational use of NSAIDs in terms of the right patient, right drug, right indication, and right dose was 100%, and the total number of PIAO cases found was 11 (28.2%). Of all the cases identified, 8 cases were moderate in severity and 3 cases were minor. The most common drug interactions were between Sodium Diclofenac and Bisoprolol, accounting for 18.2%. Keywords: Drug rationality NSAIDs, Osteoarthritis, Potential drug interactions.
Efektivitas ekstrak Etanol Rosemary (Rosemarinus officinalis L.) pada tikus jantan putih (Rattus Norvegicus L.) sebagai agen Hepatoprotektor Komarudin, Dede; Adriana, Yulis; Ruslihagi, Farid; Fauziah, Siva; Putri, Annisa Septyana; Aulia, Gina; Nasar, Nur Afni Syariah
Indonesian Journal of Health Science Vol 5 No 4 (2025)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v5i4.1622

Abstract

Latar Belakang: Hati adalah organ penting dalam tubuh manusia.kerusakan pada hati disebabkan oleh banyak faktor termasuk obat-obatan tertentu, paparan polutan, dan bahan kimia lingkungan seperti parasetamol, karbon tetraklorida, dan lain-lain. triklorometil membentuk radikal triklorometilperoksi Peroksidasi lipid, gangguan homeostasis Ca2, dan N-acetylcysteine Tanaman Rosmarinus officinalis L. kadang-kadang dikenal sebagai rosemary atau rosmarin, merupakan anggota famili Lamiaceae dan rosemary memiliki efek antioksidan serta hepatoprotektif. Tujuan: Studi ini untuk menguji efektivitas antioxidant ekstrak Rosemary dan sebagai agen hepatoprotektor pada tikus jantan putih. Metode: Penelitian ini dilakukakan secara eksperimental dengan melakukan  ekstraksi etanol 80% Rosemary untuk menguji efektivitas antioksidan yang diujikan kepada hewan tikus 30 ekor terbagi menjadi 6 kelompok dan terdiri dari 5 ekor tikus yang masing-masing hanya di induksi karbon tertaklorida (CCL4): induksi CCL4 & obat pembanding; induksi CCL4  dan ekstrak rosemary dosis 80%, 100% dan 120% serta tikus yang hanya di beri makan dan minum kemudian untuk mengetahui penurunan dan dosis optimalnya berdasarkan kadar AST (Aspartate Aminotransferase) dan ALT (Alanine Aminotransferase). Hasil : Pengukuran setelah diinduksi CCL4 didapatkan kadar rata-rata AST & ALT masing-masing kelompok 1-6 yaitu 60 & 25,6; 155,8 & 154,6; 165 & 153,2; 149,8 & 139,4; 150,6  &147,2; 168,8 & 151 U/L. Pengukuran kadar AST dan ALT setelah dilakukan pemantauan dan perlakuan pada hari ke 1 berturut-turut yaitu 60 & 25,6; 155,8 & 154,6; 165 & 153,2; 149,8 & 139,4; 150,6 & 147,2; 168,8 & 151 U/L. Pada hari ke 7 yaitu 57,6 & 23; 113,4 & 92,4; 160,2 & 149; 114,4 & 102,8; 118.6 & 88,4; 96 & 84,6 U/L.  Pada hari ke 14 yaitu 57 & 22,4; 60 & 27; 128,2 & 123,4; 103,2 & 56,6; 70 & 38,8; 58,2 23,4 U/L. Kesimpulan: Ekstrak Rosemary berpotensi sebagai Hepatoprotektor karena dapat menurunkan aktivitas kadar ALT dan AST pada tikus putih jantan yang telah diinduksikan CCl4 dengan dosis optimum yang dapat digunakan sebagai hepatoprotektor pada dosis 100-120%.