cover
Contact Name
Novi Anoegrajekti
Contact Email
arif.jurnal@unj.ac.id
Phone
+6281584654042
Journal Mail Official
arif.jurnal@unj.ac.id
Editorial Address
Jl. Rawamangun Muka Barat No.11, RT.9/RW.14, Rawamangun, Kec. Pulo Gadung, Kota Jakarta Timur, Daerah Khusus Ibukota, Jakarta 13220
Location
Kota adm. jakarta timur,
Dki jakarta
INDONESIA
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
ISSN : 28303296     EISSN : 28078608     DOI : https://doi.org/10.21009/Arif.031
Jurnal ARIF bertujuan menyediakan ruang publikasi bagi peneliti bidang humaniora dalam konteks budaya Indonesia. Publikasi difokuskan pada kajian budaya, sastra, dan kearifan lokal yang meliputi bidang sosial, seni, bahasa, politik, ritual, tradisi lisan, mitos, dan identitas kelolakan Nusantara. Publikasi sebagai media komunikasi dan internalisasi nilai untuk menumbuhkan pemahaman, penghayatan, dan pemilikan bersama. Internalisasi nilai menjadi ruang bertumbuhnya kesadaran dan tanggung jawab bersama dalam mempertahankan, mengembangkan, dan memanfaatkan nilai budaya untuk meningkatkan kualitas hidup dan harmoni sosial
Articles 110 Documents
Alihwahana Sastra Berbasis Kearifan Lokal sebagai Media Promosi Inovatif Muhammad Rayhan; Novi Anoegrajekti; Endry Boeriswati; Siti Gomo Attas; Miftahulkhairah Anwar; Siti Ansoriyah; Eva Leiliyanti
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.03

Abstract

Kearifan lokal merupakan sumber daya budaya yang bernilai tinggi, namun sering kali belum dimanfaatkan secara optimal dalam konteks promosi dan pemberdayaan ekonomi kreatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan mengembangkan alihwahana sastra berbasis kearifan lokal sebagai media promosi yang inovatif, khususnya di lingkungan pesantren. Alihwahana dilakukan dengan mentransformasikan bentuk sastra lisan seperti pantun, puisi, dan kutipan lokal ke dalam format visual dan produk kreatif yang bernilai jual, seperti kartu ucapan, kaos, dan media digital. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-kualitatif dengan pendekatan partisipatoris, melibatkan santri dan guru sebagai subjek kreatif. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, dan evaluasi produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa alihwahana sastra mampu meningkatkan partisipasi komunitas dalam pelestarian budaya, sekaligus memperluas fungsi sastra sebagai sarana promosi dan ekspresi identitas. Para peserta menunjukkan peningkatan kemampuan dalam mengemas nilai-nilai lokal ke dalam media visual yang menarik dan komunikatif. Simpulan dari penelitian ini menyatakan bahwa alihwahana sastra merupakan strategi yang relevan dan potensial dalam menghubungkan kearifan lokal dengan kebutuhan promosi era digital. Konsep ini dapat direplikasi pada komunitas lain untuk mendorong kreativitas berbasis budaya sebagai bagian dari ekosistem ekonomi kreatif.
Fungsi Sosial dan Edukatif Tradisi Nyekar di Makam Mbah Kanjeng Sepuh Sidayu Novi Imroatul Awaliyah; Moh. Ahsan Shohifur Rizal
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.10

Abstract

Artikel ini mengkaji fungsi sastra lisan berjudul "Nyekar di Makam Mbah Kanjeng Sepuh Sidayu" dalam masyarakat Sidayu, Kabupaten Gresik. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis fungsi sastra lisan tersebut sebagai alat pengesahan pranata budaya dan sebagai alat pendidikan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi nyekar berfungsi sebagai pengesahan pranata sosial dan budaya karena telah menjadi kebiasaan kolektif yang diwariskan secara turun-temurun. Selain itu, praktik nyekar juga mengandung nilai pendidikan, seperti semangat berbagi, sedekah, dan kepedulian sosial yang diteladani dari sosok Mbah Kanjeng Sepuh. Kajian ini menegaskan pentingnya pelestarian tradisi lokal sebagai warisan budaya takbenda yang sarat nilai-nilai kearifan lokal. Kata kunci: sastra lisan, fungsi sastra, nyekar, mitos, sidayu
Akulturasi Budata Melayu-Tionghoa dalam Legenda Pulau Kemaro Aisyah Rizkia Choiriza; Regietha Rossalya Renandha; Filzah Hasanah Rofifah; Husnatul Muthia; Desy Aulya Nurjanah
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.02

Abstract

Penelitian ini membahas akulturasi budaya Melayu–Tionghoa dalam legenda Pulau Kemaro yang merupakan sastra lisan masyarakat Palembang, karena kajian yang menyoroti legenda tersebut dalam perspektif antropologi sastra masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk mengenali jenis-jenis akulturasi budaya dan nilai-nilai budaya yang ada di dalamnya. Metode yang diterapkan adalah analitis-deskriptif kualitatif dengan pendekatan antropologi sastra. Data penelitian mencakup narasi legenda Pulau Kemaro yang berkembang dalam tradisi lisan warga Palembang serta informasi sekunder dari berbagai sumber literatur ilmiah yang relevan. Pengumpulan data dilakukan melalui studi literatur dan dokumentasi, sementara analisis data menggunakan analisis isi dengan pendekatan interpretatif dan triangulasi sumber. Hasil penelitian menunjukkan bahwa legenda Pulau Kemaro merepresentasikan akulturasi budaya Melayu–Tionghoa yang bersifat koeksistensial serta mengandung nilai toleransi, kesetiaan, pengorbanan, dan pelestarian budaya dalam kehidupan masyarakat Palembang.
Mantra Pengasihan Tradisi Kepercayaan Masyarakat Jawa di Kalimantan Timur Amelia Virda Januarti; Nina Queena Hadi Putri
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.08

Abstract

Sastra lisan merupakan bagian dari warisan budaya yang mencerminkan nilai dan keyakinan masyarakat, termasuk mantra pengasihan yang masih dipraktikkan oleh masyarakat Jawa di Kalimantan Timur dalam konteks interaksi sosial. Tradisi kepercayaan berifat lisan dan terbatas, sehingga juga memiliki potensi mengalami perubahan. Penelitian dilakukan bertujuan untuk menggambarkan bentuk, makna, dan fungsi dari mantra pengasihan dalam kehidupan masyarakat. Metode yang digunakan adalah kualitatif pendekatan deskriptif. Data berupa tuturan mantra pengasihan yang diperoleh melalui wawancara dengan informan, kemudian dianalisis melalui tahap penyajian, analisis, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra pengasihan memiliki struktur yang sederhana dengan bahasa simbolis dan sugestif yang mencerminkan hubungan dan harapan emosional. Mantra ini juga mengandung makna budaya yang berkaitan dengan kepercayaan supranatural. Dengan demikian, mantra pengasihan adalah fenomena sosial budaya sebagai pelestarian tradisi.
Mitos dan Kepercayaan Masyarakat Lokal di Waduk Gondang sebagai Wujud Kearifan Lokal Awalinda Ni'maturrochmah; M. Shoim Anwar
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.07

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji keberadaan mitos dan kepercayaan lokal yang berkembang di masyarakat sekitar Waduk Gondang sebagai bagian dari kearifan lokal yang masih dipertahankan hingga saat ini. Mitos tidak hanya hadir sebagai cerita turun-temurun, tetapi juga berperan dalam membentuk nilai, sikap, dan perilaku masyarakat dalam berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara bertahap melalui proses reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos yang berkembang di Waduk Gondang mencakup kawasan asal-usul, kepercayaan terhadap makhluk gaib, berbagai pantangan, serta peristiwa-peristiwa yang dimaknai sebagai bagian dari pengalaman budaya masyarakat. Meskipun sebagian besar masyarakat mulai memandang mitos secara lebih rasional, keberadaannya tetap lestari karena mengandung nilai-nilai kearifan lokal, seperti kehati-hatian, penghormatan terhadap lingkungan, kesopanan, dan pelestarian identitas budaya.
Revitalisasi Pupujian Sunda sebagai Memori Kultural Digital dan Dampak Sosial-Budaya bagi Generasi Muda Hilma Erfiani Baroroh
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.09

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji Pupujian Sunda sebagai memori kultural digital dan menganalisis potensi dampak sosial-budayanya bagi generasi muda. Pendekatan kualitatif-interpretatif digunakan dengan mengintegrasikan analisis sastra lisan, teori memori kultural, pencermatan digital, dan deskripsi kuesioner. Data utama bersumber dari lima teks pupujian dan didukung oleh tiga dokumentasi performansi YouTube serta respons kuesioner dari 18 siswa MAN 4 Ciamis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pupujian Sunda berfungsi sebagai medium penyimpanan ingatan kolektif masyarakat Sunda-Muslim terkait dimensi waktu, ilmu, amal, kefanaan, kematian, akhlak, dan identitas religius. Meskipun platform YouTube memperluas aksesibilitas pupujian sebagai arsip suara digital, media ini tidak dapat menggantikan kedalaman pengalaman komunal langsung. Oleh karena itu, strategi revitalisasi yang dinilai paling efektif adalah model hibrida (komunal-digital) yang mengontegrasikan pelantunan langsung, penyediaan teks-terjemahan, kontekstualisasi makna, dan pemanfaatan media digital.
Narrative Capital dalam Pariwisata Budaya: Transformasi Siti Nurbaya dari Teks Sastra Menjadi Identtitas Wisata Kota Padang Muthia Damaiyanti; Zulfikarni; Sariani; Mutia El Khairat
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.01

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana narasi budaya dalam novel Siti Nurbaya ditransformasikan menjadi representasi pariwisata serta bagaimana transformasi tersebut menghasilkan modal budaya yang berdampak terhadap masyarakat lokal. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus di kawasan wisata Siti Nurbaya, Kota Padang. Data diperoleh melalui analisis novel Siti Nurbaya, dokumen promosi pariwisata, observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat lokal, dan representasi media digital. Seluruh data dianalisis menggunakan thematic analysis secara integratif. Hasil penelitian menunjukkan tiga temuan utama. Pertama, novel Siti Nurbaya memuat narasi budaya yang kompleks, meliputi konflik adat dan modernitas, relasi gender, kolonialisme, stratifikasi sosial, serta nilai-nilai budaya Minangkabau. Kedua, dalam konteks pariwisata, narasi tersebut mengalami proses seleksi dan transformasi melalui materialisasi ruang, interpretasi destinasi, serta reproduksi media digital, sehingga kisah cinta tragis menjadi representasi yang dominan dibandingkan pesan sosial novel. Ketiga, transformasi tersebut menghasilkan modal budaya yang memperkuat identitas kawasan, memelihara memori kolektif, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat lokal, meskipun disertai penyederhanaan makna narasi. Penelitian ini menawarkan kerangka konseptual yang menjelaskan transformasi bertahap dari narasi budaya menuju representasi pariwisata dan selanjutnya menjadi modal budaya, sehingga memperluas kajian tentang hubungan antara sastra, warisan budaya, dan pariwisata.
Pepaccur, Juluk Adek, dan Relasi Kuasa: Analisis Foucauldian atas Sastra Lisan dan Praktik Pemberian Gelar Adat pada Masyarakat Lampung Dewi Ratnaningsih
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.04

Abstract

This study examines pepaccur—the oral literature of the Lampung Pepadun community in the form of poetry—in relation to the process of acquiring traditional titles (juluk adek) through the perspective of Michel Foucault's theory of power relations. The study aims to describe the structure and function of pepaccur, analyze the philosophical values ​​of piil pesenggiri contained in it, and examine how power relations operate and are negotiated in the practice of granting traditional titles, including rejection of this practice in the contemporary context. The study uses a qualitative descriptive method with library study techniques and critical discourse analysis of pepaccur texts and news coverage of the polemics regarding the granting of traditional titles. The results show that pepaccur is not merely an oral literary work, but a discursive practice that produces identity, legitimacy, and social structure. Power relations in the juluk adek process occur through three mechanisms, namely institutional power (perwatin as gatekeeper), discursive power (pepaccur as a declarative act), and symbolic-social power (conversion of economic capital into cultural capital). In the contemporary context, traditional titles are commodified into instruments of political legitimacy. The controversy surrounding the awarding of the title "Your Majesty the Nation's Leader" to Joko Widodo in June 2026 demonstrated the emergence of resistance from traditional leaders, cultural figures, and researchers to power relations practices deemed to violate customary norms. This resistance underscores the importance of the customary arena as a dynamic battleground for discourse, where legitimacy is contested, renewed, and challenged.
Kota Tua sebagai Teks Budaya: Komparasi Sastra Pariwisata antara Kota Tua Jakarta dan At-Turaif Riyadh Heri Kuswanto
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.05

Abstract

Penelitian ini bertujuan membaca Kota Tua Jakarta dan At-Turaif Riyadh sebagai teks budaya dalam kerangka sastra pariwisata berbasis linguistik budaya. Kajian ini berangkat dari perluasan pembelajaran sastra yang tidak lagi hanya bertumpu pada teks verbal, tetapi juga pada ruang budaya, narasi heritage, visual, benda, dan praktik sosial. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-komparatif dengan data berupa dokumen resmi, narasi wisata, artikel akademik, dokumentasi visual, serta pengamatan terhadap praktik budaya yang menghidupkan kawasan Kota Tua. Data dianalisis melalui analisis isi tematik-komparatif dengan kode simbol ruang, metafora budaya, memori kolektif, narasi identitas, dan pembelajaran sastra. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Tua Jakarta menghadirkan memori kolonial Batavia yang ambivalen melalui pelabuhan, kanal, museum, bangunan kolonial, sekaligus praktik wisata kontemporer seperti sepeda wisata, kaos Kota Tua, foto booth, UMKM, dan aktivitas pengunjung. At-Turaif Riyadh menghadirkan memori penyatuan Saudi dan identitas Najdi-Saudi melalui benteng, istana, tanah liat, arsitektur Najdi, Wadi Hanifah, dan narasi Diriyah. Komparasi keduanya menegaskan bahwa situs heritage tidak hanya menyimpan masa lalu, tetapi juga memproduksi makna masa kini dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran sastra berbasis teks budaya.Kata kunci: teks budaya; sastra pariwisata; linguistik budaya; Kota Tua Jakarta; At-Turaif
Tradisi Ngejot di Desa Lenek: Praktik Budaya dan Pewarisan Nilai Karakter Emi Nurlaila; Yuliatin; Nurlatifa
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 6 No. 1 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.061.06

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pelaksanaan tradisi Ngejot serta mengidentifikasi nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya di Desa Lenek, Kabupaten Lombok Timur. Tradisi Ngejot merupakan kearifan lokal masyarakat Sasak yang berfungsi mempererat silaturahmi, menumbuhkan rasa saling menghormati, dan memperkuat hubungan sosial menjelang Hari Raya Idulfitri. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis etnografi. Informan dipilih secara purposive sampling, meliputi tokoh adat, tokoh agama, aparat desa, dan masyarakat. Data dikumpulkan melalui wawancara semi terstruktur dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles dan Huberman serta diuji dengan triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan tradisi meliputi tahapan Nyiapang Sampak, Bekumpul, Ngelampaq Sampak, Uduh, Ngejot, dan Silaturahmi. Tradisi ini juga dikembangkan melalui Festival Ngejot sebagai upaya pelestarian budaya. Nilai karakter yang terkandung meliputi demokratis, religius, toleransi, cinta tanah air, serta cinta dan peduli lingkungan sehingga berperan dalam memperkuat keharmonisan sosial, identitas budaya, dan pembentukan karakter masyarakat.

Page 11 of 11 | Total Record : 110