cover
Contact Name
Fahmi
Contact Email
fahmi@ulm.ac.id
Phone
+6285332834301
Journal Mail Official
jurnalseru@gmail.com
Editorial Address
Master Program of Natural Science Education, Postgraduate Program, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin City, South Kalimantan Indonesia, 70123
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
SERIBU SUNGAI: Journal of Research and Community Service
ISSN : -     EISSN : 30259371     DOI : https://dx.doi.org/10.20527
The SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat or abbreviated as the SERU Journal (Jurnal SERU) [E-ISSN 3025-9371] was first published in 2023. This journal is managed and published by the Master of Science Education Study Program, Lambung Mangkurat University, Banjarmasin. The aim of this journal is to accommodate research output and community service. We invite researchers, educators, or practitioners of research and community service to publish original articles that have never been published in other journals. The articles that we can accept and publish in this journal are in accordance with the focus and scope. This journal is published twice a year, namely July, and December. Since 2024, the time publication has changed to May and November.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2023): December" : 7 Documents clear
Usaha berbagai olahan makanan berbahan dasar cabe bagi kelompok kewirausahaan PKK Desa Wage Sidoarjo Jawa Timur Surasmi, Wuwuh Asrining; Setiani, Rahyu; Winarti, Winarti; Dwikoranto, Dwikoranto
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.243

Abstract

Cabe sebagai salah satu bahan pangan yang penting bagi masyarakat. Cabe merupakan bahan pokok yang tidak stabil harga dan pasokannya, cuaca dan kondisi alam sangat mempengaruhi produktivitas petani Cabe. Kekeringan yang panjang dan hujan yang berlebihanlah yang menjadi kendala bagi petani Cabe. Kondisi alam tersebut harus disiasati oleh para petani agar tidak merugi dan tetap dapat bertahan pada sector pertanian. Cuaca bisa juga mendatangkan berkah dan musibah bagi petani Cabe. Harga cabe yang terus melambung, membuat petani cabe menangguk untung sesaat tetapi masyarakat umum yang resah. Harga Cabe mahal saat terjadi becana alam banjir, letusan gunung dan gangguan hama yang serentak karena stok di petani habis atau menipis. Kisaran harga yang terlalu fluktuatif tersebut mengganggu bagi petani dan masyarakat ditambah ulah para pengepul dan penimbun yang memainkan harga tanpa pertimbangan keresahan masyarakat. Untung sesaat dapat mematikan petani cabe dan mengganggu kegiatan kuliner masyarakat luas. Pasca Pandemi Covid-19 ini mulai berangsur pulih untuk memulai wirausaha kuliner. Untuk mengatasi hal tersebut maka diperlukan mengedukasi dalam beberapa bentuk mengawetkan, merubah hasil produk ke bentuk yang lain dengan bekerja sama dengan ibu-ibu PKK desa Wage untuk melakukan diversifikasi olahan Cabe agar kegiatan kewirausahaan baik saat panen maupun musim penghujan dan saat terjadi bencana dengan kisaran kenaikan harga yang manusiawi. Solusinya adalah bersinergi dengan Ibu-ibu PKK dilatih melalui pelatihan kewirausahaan diversifikasi olahan berbahan baku Cabe dan pengemasan hasil olahan Cabe yang Higienis dan tahan lama. Hasil PKM ibu-ibu PKK memiliki keterampilan pengolahan Cabe dan timbul jiwa wira usaha baru untuk menambah penghasilan bagi keluarga.Abstract. The Chili is an important food ingredient for society. Chili is a staple ingredient whose price and supply are unstable, weather and natural conditions greatly influence the productivity of chili farmers. Long droughts and excessive rain are obstacles for chili farmers. Farmers must overcome these natural conditions so that they do not suffer losses and can continue to survive in the agricultural sector. Weather can also bring blessings and disasters to chili farmers. The price of chilies continues to soar, making chili farmers reap short profits but the general public is worried. Chili prices are expensive when natural disasters occur, floods, volcanic eruptions and simultaneous pest attacks because farmers' stocks run out or are running low. The overly fluctuating price range is disturbing for farmers and the public, in addition to the actions of collectors and hoarders who manipulate prices without considering public concerns. Fortunately, for a moment it can kill chili farmers and disrupt the culinary activities of the wider community. After the Covid-19 pandemic, people are starting to gradually recover to start a culinary business. To overcome this, it is necessary to provide education in several forms of preserving, changing the product to another form by collaborating with PKK women in Wage village to diversify processed chilies so that entrepreneurial activities both during the harvest and the rainy season and when disasters occur with the range of increase humane price. The solution is to synergize with PKK mothers who are trained through entrepreneurship training on diversification of processed products made from chili raw materials and packaging of processed chili products that are hygienic and long-lasting. As a result of PKM, PKK women have skills in processing chilies and a new entrepreneurial spirit has emerged to increase income for the family. Key words: Diversification; Processed chilies; Post-pandemic; Culinary
Peningkatan kemampuan literasi dan kesadaran lingkungan melalui program pendampingan belajar (dunia sains) untuk anak pesisir Pulau Tarakan Nugroho, Bimo Aji; Fajeriadi, Hery; Retnaningati, Dewi; Iskandar, Ayuk Cucuk
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.198

Abstract

Pendidikan merupakan hak setiap anak, namun masih banyak anak yang belum mempunyai akses terhadap pendidikan yang berkualitas. Mutu pendidikan suatu daerah akan menentukan kemajuan daerah tersebut. Daerah pesisir seringkali terabaikan, sehingga banyak anak-anak pesisir yang tidak mempunyai akses terhadap pendidikan. Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membawa manfaat yang besar bagi siswa, orang tua dan masyarakat sekitar. Metode yang digunakan dalam pelayanan ini mengikuti pola: identification, plan, organizing, action, and impact (IPOAI). Model ini merupakan modifikasi dari model penelitian sosial dan model pelayanan. Kebanyakan orang mencari nafkah dengan menanam rumput laut. Data berhasil dikumpulkan mengenai 20 anak usia sekolah, banyak di antaranya tidak bisa membaca atau menulis. Pada dasarnya anak-anak sadar akan pentingnya dan manfaat pendidikan, namun faktor ekonomi menjadi penyebab banyak anak usia sekolah  tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. Program dukungan pendidikan terhadap anak-anak di wilayah pesisir diharapkan dapat menyelesaikan beberapa permasalahan yang muncul seperti rendahnya kualitas pendidikan di wilayah pesisir. Melalui program ini, kampus sebagai lokasi akademik dapat memberikan nilai lebih dan manfaatnya dapat langsung dirasakan oleh masyarakat yang berada di lingkungan kampus. Selain itu, anak-anak yang putus sekolah masih dapat mengakses ilmu-ilmu yang tidak diperoleh di sekolah.Abstract. Every child has the right to an education, but many still lack access to a good education. The level of education in a region will affect how far that region will advance. Many coastal youngsters lack access to schooling since coastal communities are frequently overlooked. We anticipate that this program will greatly benefit the students, parents, and neighborhood. This service employs an identification, plan, organizing, action, and impact (IPOAI) methodology. The social research model and the service model have been modified to create this paradigm. Growing seaweed is how most people make a living. Twenty school-age youngsters, many of whom were illiterate, had their data collected. In general, kids are aware of the value and advantages of education, yet many school-age kids choose not to continue their education at the next level due to financial constraints. A few issues, including the poor quality of education in coastal communities, are supposed to be solved by the educational support program for kids. Through this program, the campus may provide value as a place of higher learning, and those who live there can immediately reap the rewards. Children who have left school can still access knowledge that was not learned in school, aside from that. Keyword: High-quality education; Coastal region; Literacy; Learning support
Analisis validitas isi instrumen penilaian untuk mengukur literasi sains berdasarkan tujuan pembelajaran Kurikulum Merdeka Ariefianti, Maula; Sholahuddin, Arif; Wati, Mustika
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.249

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan bertujuan menganalisis validitas isi instrumen penilaian untuk mengukur literasi sains peserta didik berdasarkan tujuan pembelajaran kurikulum merdeka pada jenjang SMP yang valid dan reliabel. Instrumen yang dikembangkan pada mata pelajaran ilmu pengetahuan alam (IPA) dalam materi energi kalor. Instrumen terdiri dari 30 butir soal pilihan ganda (PG) dengan indikator literasi sains. Metode penelitian ini menggunakan analisis dekskriptif dari perhitungan validitas isi intrumen penilaian menggunakan rumus V-Aiken dengan metode. Data validitas isi diperoleh dari 5 validator yang terdiri dari 3 dosen ahli yang bergelar doktor di bidang fisika dan instrumen serta 2 orang guru yang terdiri dari guru fisika SMA dan guru IPA di Kabupaten Tapin.Abstract. This research is development research aimed at analyzing the content validity of assessment instruments to measure students' scientific literacy based on valid and reliable Merdeka curriculum learning objectives at the junior high school level. Instruments developed in natural science (IPA) subjects in heat energy. The instrument consists of 30 multiple choice questions (PG) with scientific literacy indicators. This research method uses descriptive analysis from calculating the content validity of assessment instruments using the V-Aiken formula with the method. Content validity data was obtained from 5 validators consisting of 3 expert lecturers with doctoral degrees in physics and instruments and 2 teachers consisting of high school physics teachers and science teachers in Tapin Regency. Keyword: Assessment instruments; Content validity; Scientific literacy; Merdeka Curriculum
Pemanfaatan alat pengering gabah berbahan bakar briket pada kelompok usaha tani penggilingan padi “Setia Budi” di Gambut Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan Suryajaya, Suryajaya; Haryanti, Ninis Hadi; Suarso, Eka; Manik, Tetti N.; Hidayat, Taufik; Sari, Putri; Munir, M. Jiddan Mishbahul
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.240

Abstract

Daerah Gambut di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan merupakan lumbung padi untuk daerah Kalimantan. Setelah panen, gabah perlu dikeringkan agar dapat disimpan  dan siap untuk digiling menjadi beras. Masyarakat mengeringkan gabah secara tradisional yaitu dijemur langsung di terik matahari. Hal ini sangat bergantung terhadap cuaca. Pengabdian masyarakat ini bertujuan membuat alat pengering gabah berbahan bakar briket sekam padi. Pada saat uji coba, alat pengering gabah berbahan bakar briket dapat menaikkan suhu dalam kotak pengering dari 40oC menjadi 56oC dalam waktu 20 menit. Untuk menaikkan suhu dalam kotak pengering, kita hanya perlu menambah bahan bakar pada tungku pemanas.Abstract. The peat area in Banjar Regency, South Kalimantan is a rice granary for the Kalimantan area. After harvesting, the grain needs to be dried so it can be stored and ready to be milled into rice. People dry grain traditionally, namely drying it directly in the hot sun. This really depends on the weather. This community service aims to make a grain dryer powered by rice husk briquettes. During the trial, the briquette-fueled grain dryer was able to increase the temperature in the drying box from 40oC to 56oC in 20 minutes. To increase the temperature in the drying box, we only need to add fuel to the heating furnace. Keyword: Peat; Rice husk; Briquettes; Grain dryer
Pelatihan pembelajaran digital untuk guru dalam upaya penunjang pendidikan abad 21 Irhasyuarna, Yudha; Kusasi, Muhammad; Fahmi, Fahmi; Muslim, M; Rahmati, Pramita Dwi; Maulidia, Maulidia; Rusyadi, Ahmad; Setiadi, Iswan; Sadiqin, Ikhwan Khairu; Ali, Akhmad Chaidir; Yulianti, Yuyun Eka
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.237

Abstract

Perkembangan situasi dan kondisi teknologi saat ini sangatlah dinamis sekali, setiap individu banyak menggunakan gadget dan internet dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan Abad 21 adalah pendidikan yang menekankan pada keterampilan dan keterampilan yang mendalam, tidak lepas dari keterlibatan teknologi, serta interaksi langsung dengan kebudayaan dan kultur masyarakat sekitar. Oleh karena itu, kita siap atau tidak siap, ranah sains, teknologi, dan kebudayaan telah menjadi bagian kehidupan kita. Bahkan pesatnya perkembangan sains dan teknologi saat ini telah mendorong dunia pendidikan untuk melakukan inovasi yang berhubungan dengan teknologi.Abstract. The development of the current technological situation and conditions is very dynamic, every individual uses gadgets and the internet a lot in everyday life. 21st Century Education is education that emphasizes in-depth skills and expertise, cannot be separated from the involvement of technology, as well as direct interaction with the culture and culture of the surrounding community. Therefore, whether we are ready or not, the realms of science, technology and culture have become part of our lives. In fact, the rapid development of science and technology today has encouraged the world of education to carry out innovations related to technology. Keyword: Digital learning; Teacher competency; 21st century education
Pelatihan penerapan manajemen kemitraan sekolah dengan masyarakat SDN di lahan basah Kecamatan Banjarmasin Utara Suhaimi, Suhaimi; Amberansyah, Amberansyah
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.244

Abstract

Tujuan pelatihan pada program pengabdian kepada masyarakat untuk memberikan pemahaman dan melatih guru SDN melalui Pelatihan Penerapan Manajemen Kemitraan Sekolah dengan Masyarakat SDN di Lahan Basah Kecamatan Banjarmasin Utara. Pelatihan bermakna penting karena pendidikan merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua, masyarakat dan pemerintah. Berdasarkan hal itu, pendidikan tidak boleh hanya dibebankan kepada salah satu dari ketiga unsur tersebut. Masyarakat diharapkan peransertanya dalam melaksanakan dan menyelenggarakan pendidikan, terutama dalam mendidik moral, norma, dan etika yang sesuai dengan agama dan kesepakatan masyarakat. Peserta didik belajar di sekolah dalam waktu terbatas, sedangkan waktu terbanyak ada di rumah dan masyarakat. Proses kegiatan kemitraan masyarakat dapat ditempuh melalui lima tahap, yaitu: (1) perencanaan; (2) pelaksanaan; (3) pengecekan tanggapan masyarakat; (4) penilaian dan pengontrolan hasil; (5) pemberian saran kepada pimpinan. Perencanaan dan pelaksanaan program, kegiatan kemitraan masyarakat harus dilakukan secara langsung oleh sekolah yang bersangkutan berserta masyarakat. Dalam pelaksanaannya diperlukan pemberdayaan, khususnya pemberdayaan warga sekolah dan warga masyarakat. Warga sekolah dan warga masyarakat yang berdaya adalah mereka yang mau dan mampu untuk terlibat langsung dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah. Masyarakat yang berdaya akan dapat diperankan baik sebagai mitra, sebagai pendukung maupun sebagai pelanggan pendidikan yang cerdas. Akhirnya keuntungan yang dapat dipetik oleh sekolah apabila masyarakatnya sudah berdaya yaitu prestasi siswa.Abstract. The aim of the training in the community service program is to provide understanding and train elementary school teachers through training in implementing school partnership management with the elementary school community in the wetlands of North Banjarmasin District. Training is important because education is a shared responsibility between parents, society and the government. Based on this, education should not only be assigned to one of these three elements. The community is expected to participate in implementing and administering education, especially in educating morals, norms and ethics that are in accordance with religion and community agreements. Students study at school for a limited time, while most of the time is at home and in the community. The process of community partnership activities can be taken through five stages, namely: (1) planning; (2) implementation; (3) checking public responses; (4) assessment and control of results; (5) providing advice to leadership. Planning and implementation of programs and community partnership activities must be carried out directly by the school concerned and the community. In its implementation, empowerment is needed, especially empowerment of school residents and community members. Empowered school residents and community members are those who are willing and able to be directly involved in the implementation of education at school. An empowered community will be able to act both as a partner, as a supporter and as an intelligent customer of education. Finally, the benefit that schools can reap if their community is empowered is student achievement. Keyword: Training; Management; Partnership; School; Public
Pengabdian masyarakat untuk mengembangkan karya literasi sains pada lingkungan lahan basah Suyidno, Suyidno; Mahtari, Saiyidah; Astuti, Yanti; Friskandani, Anti; Hadianti, Raisa
SERIBU SUNGAI: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2023): December
Publisher : Master Program of Natural Science Education, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/seru.v1i2.250

Abstract

Pendidik kreatif diyakini mampu mencetak lulusan yang kreatif. Namun, penguasaan konten dan pedagogis pada pendidik IPA dalam menghasilkan karya literasi sains masih rendah. Oleh karena itu, kegiatan pengabdian Masyarakat ini dilakukan pada MGMP IPA Swasta Kota Banjarmasin untuk mengembangkan karya literasi sains berbasis lingkungan lahan basah. Metode pengabdian diadaptasi dari tahapan penelitian tindakan, yaitu perencanaan, pelaksanaan (workshop, pendampingan, diskusi, dan penugasan), observasi-evaluasi, dan refleksi. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa pendidik IPA mampu memahami konsep literasi sains, contoh-contoh karya literasi sains, berbagai model pembelajaran inovatif untuk mengembangkan karya literasi sains peserta didik, project penguatan profil pelajar pancasila dan penerapannya dalam mengembangkan karya literasi sains peserta didik, serta mampu menghasilkan berbagai karya literasi sains berbasis lingkungan lahan basah dengan baik.Abstract. Creative educators are believed to be able to produce creative graduates. However, the content and pedagogical mastery of science educators in producing science literacy work is still low. Therefore, this community service activity was carried out at the Private Science MGMP in Banjarmasin City to develop science literacy work based on the wetland environment. The service method is adapted from the stages of action research, namely planning, implementation (workshops, mentoring, discussions, and assignments), observation-evaluation, and reflection. The results of the service show that science educators can understand the concept of science literacy, examples of science literacy work, various innovative learning models to develop students' science literacy work, project strengthening the Pancasila learner profile and its application in developing students' science literacy work, and can produce various science literacy works based on the wetland environment well. Keywords: Scientific literacy work; Wetland environment; Innovative learning models

Page 1 of 1 | Total Record : 7