cover
Contact Name
Miftahul Mufid
Contact Email
miftahul.mufid@gmail.com
Phone
+6281615852025
Journal Mail Official
annas@unugiri.ac.id
Editorial Address
Jl. Ahmad Yani, No.10 Sukorejo Bojonegoro
Location
Kab. bojonegoro,
Jawa timur
INDONESIA
An-Nas
ISSN : 2549676X     EISSN : 25977822     DOI : https://doi.org/10.32665/annas.v8i1
AN-NAS : Jurnal Humaniora terbit dua kali setahun, bulan Maret dan bulan September. An-Nas diterbitkan oleh Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri pada bulan September 2016. Jurnal ini memuat kajian-kajian Humaniora yang meliputi sastra, kebudayaan, dan bahasa. P-ISSN: 2549-676X (media cetak) E-ISSN: 2597-7822 (media online)
Articles 88 Documents
MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM BAHASA ARAB DI MADRASAH: TINJAUAN SISTEMATIS PENDEKATAN, TEORI, DAN TEMUAN EMPIRIS Astoya Saimulani; Agus Pahrudin; Erlina
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.4876

Abstract

Abstrak: Pengembangan kurikulum Bahasa Arab di madrasah memiliki urgensi tinggi mengingat perannya sebagai bahasa utama dalam memahami ajaran Islam, namun masih menghadapi berbagai kendala dalam hal efektivitas pembelajaran, integrasi nilai-nilai keislaman, serta relevansi dengan kebutuhan zaman. Artikel ini bertujuan untuk menyusun tinjauan sistematis terhadap berbagai pendekatan, teori, dan model pengembangan kurikulum Bahasa Arab di madrasah, dengan menganalisis kekuatan dan kelemahan masing-masing model serta menawarkan rekomendasi pengembangan yang holistik dan kontekstual. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif berbasis studi pustaka terhadap berbagai sumber ilmiah terkini, dengan kriteria inklusi mencakup publikasi lima tahun terakhir yang relevan secara empiris maupun teoritis. Hasil kajian menunjukkan bahwa model integratif (kurikulum nasional-pesantren), pendekatan nadhariyyah al-wihdah, multiliterasi berbasis kearifan lokal, hingga pendekatan berbasis teknologi dan ACTFL telah diterapkan dengan hasil bervariasi. Keberhasilan pengembangan kurikulum sangat ditentukan oleh keterlibatan guru, relevansi konteks lokal, serta kesiapan infrastruktur digital. Meski terdapat berbagai inovasi, ditemukan pula tantangan berupa ketidaksiapan guru, keterbatasan sarana, dan kesenjangan antara idealisme kurikulum dan praktik lapangan. Dengan menyintesis temuan-temuan tersebut, artikel ini merekomendasikan model pengembangan kurikulum Bahasa Arab yang adaptif secara digital, berbasis nilai spiritual, dan relevan dengan dinamika sosial budaya madrasah masa kini.
PEMANFAATAN KARYA SASTRA LOMBOK DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS LMS UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN BUDAYA DAN SASTRA DAERAH DI SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN SYAHRONI; Sarwadi
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.4948

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas pembelajaran berbasis Learning Management System (LMS) dalam meningkatkan pemahaman budaya dan minat baca sastra daerah Lombok di kalangan siswa SMK. Menggunakan pendekatan mixed-methods explanatory sequential design (Creswell & Clark, 2018), penelitian ini menggabungkan eksperimen kuasi dengan non-equivalent control group (melibatkan 60 siswa SMK) dan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dengan guru serta pemeriksaan log LMS. Hasil kuantitatif menunjukkan peningkatan signifikan pemahaman budaya pada kelompok eksperimen (M=82.1, SD=6.7) dibanding kelompok kontrol (M=65.3, SD=8.2) dengan efek besar (*d*=1.82, *p*<0.001). Minat baca sastra daerah juga meningkat dari 2.8 (pretest) menjadi 4.1 (posttest) pada skala Likert (*p*<0.001), dengan korelasi kuat antara penggunaan LMS dan minat baca (*r*=0.76, *p*=0.002). Analisis kualitatif mengungkap tiga temuan utama: (1) LMS memfasilitasi pembelajaran multimodal (72% siswa mengakses materi audiovisual dalam 24 jam); (2) Tantangan implementasi meliputi keterbatasan bandwidth (40% gangguan sesi) dan literasi digital guru (hanya 40% mampu menggunakan fitur interaktif); (3) Strategi adaptasi kreatif seperti distribusi via USB dan kolaborasi dengan seniman lokal terbukti efektif. Temuan ini memperkuat teori TPACK (Mishra & Koehler, 2006) dan self-determination (Ryan & Deci, 2017), sekaligus menyoroti two-layer digital divide (infrastruktur dan kompetensi) di daerah pedesaan.
KESANTUNAN BERBAHASA WARGANET DALAM KOMENTAR AKUN INSTAGRAM @PSSI: TINJAUAN PRAGMATIK hartono, budi; Masnita Massaguni
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.4983

Abstract

Social media has become a dynamic space for public discourse, including in Indonesia. Instagram, particularly official accounts such as @PSSI, is often used by netizens to express opinions, criticism, and support related to national football issues. This phenomenon reflects the complexity of digital communication, which is rich in social values and linguistic politeness. This study aims to identify the forms of linguistic politeness employed by netizens in the comment section of the official Instagram account @PSSI. The research adopts a pragmatic approach, referring to Leech’s politeness maxims, which include the maxims of tact, generosity, approbation, modesty, agreement, and sympathy. This qualitative descriptive study utilizes documentation and note-taking techniques on relevant user comments collected between February and June 2025. The analysis reveals that netizens continue to apply various politeness maxims in conveying criticism, support, and expressions of solidarity in a respectful manner. These comments demonstrate ethical communication strategies, including motivation, advice, sympathy, and collective appeals. The findings affirm that the digital space, despite its vulnerability to negative speech, can serve as a platform for constructive and civil expression. This research contributes to the development of pragmatic studies and offers practical insights for public institutions in managing social media communication.
ANALYSIS OF STUDENTS' DIFFICULTIES FOR ENGLISH SUBJECT IN THE ISLAMIC EDUCATION DEPARTMENT AT STIT AQIDAH USYMUNI SUMENEP Kamal, Moh. Zainol; Edyanto; Albadri
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.4991

Abstract

This study aims to identify the difficulties of PAI study program students in studying English courses. This study employed a qualitative approach with a descriptive method, aiming to describe and analyze in depth the difficulties faced by students in taking English courses. The sampling technique used was purposive sampling, which involves selecting informants based on specific criteria, such as semester level and English learning experience. Data collection was carried out through observation, semi-structured interviews, and documentation. It can be concluded that students of the Islamic Education Department Study Program at STIT Aqidah Usymuni Sumenep face various difficulties in taking English courses. These difficulties include aspects of basic language skills, namely listening, speaking, reading, and writing, with the main obstacles being limited vocabulary, lack of understanding of grammar, and low self-confidence in communicating orally. The factors causing these difficulties come from internal aspects such as low motivation, minimal background in previous English language learning, and learning anxiety, as well as from external factors such as less varied teaching methods, limited learning media, and lack of language practice environments.
REPRODUKSI BUDAYA PADA SANGGAR SENI PINCUK DALAM PELESTARIAN TARI TRADISIONAL DI SURAKARTA Hapsari, Yuanita Dwi; Ghina Reftantia; Verbena Ayuningsih Purbasari; Deni Aries Kurniawan; Ahmad Wildan Habibi
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.5519

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam peran Sanggar Seni Pincuk dalam pelestarian tari tradisional Surakarta melalui perspektif teori reproduksi budaya Pierre Bourdieu. Sebagai salah satu pusat pembelajaran dan pengembangan seni tari tradisional, sanggar ini memainkan peranan strategis dalam mentransmisikan keterampilan teknis, pengetahuan sejarah, nilai-nilai budaya, dan makna simbolik yang terkandung dalam tradisi tari kepada generasi muda. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui observasi partisipatif terhadap proses pembelajaran, wawancara mendalam dengan pengajar, siswa, serta tokoh masyarakat, dan analisis dokumen terkait sejarah serta aktivitas sanggar. Analisis data dilakukan secara tematik dengan memanfaatkan konsep habitus, ranah (field), dan modal (capital) dari Bourdieu untuk mengidentifikasi mekanisme pewarisan dan reproduksi budaya. Hasil penelitian mengungkap bahwa proses reproduksi budaya di Sanggar Seni Pincuk berlangsung melalui pembiasaan yang konsisten, latihan intensif, penanaman disiplin seni, serta keterlibatan aktif dalam pementasan di tingkat lokal hingga nasional. Modal budaya terwujud dalam keterampilan teknis dan pengetahuan tradisi, modal sosial terbentuk melalui jejaring antar seniman dan komunitas seni, sedangkan modal simbolik muncul melalui pengakuan prestasi sanggar. Habitus yang dihasilkan tidak hanya menginternalisasi teknik tari, tetapi juga membentuk identitas kultural yang kuat. Temuan ini menegaskan pentingnya dukungan lintas pihak dan strategi adaptif dalam pelestarian tari tradisional tanpa menghilangkan esensi budayanya.
SARUNG SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS SANTRI: KAJIAN SEMANTIK DI MA’HAD BAITUL ARQOM AL ISLAMI RAHMAH, NENENG FARIDA
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.5645

Abstract

This study aims to examine the symbolic meaning of the sarong as a representation of santri identity at Ma’had Baitul Arqom Al Islami through a semantic approach. The sarong is understood not merely as traditional clothing, but as a cultural sign embedded with rich cultural, religious, and social meanings within pesantren life. Using the library research method, this study explores literature related to semantic theory, cultural symbols, and the construction of santri identity. The analysis shows that denotatively, the sarong functions as a piece of cloth to cover the body. However, connotatively, the sarong represents values of simplicity, equality, obedience, and Islamic piety—core principles in the life of a santri. The sarong also plays a crucial role in constructing collective identity within the pesantren, reinforcing the continuity of local values rooted in the Islamic tradition of the Nusantara. Thus, the meaning of the sarong reflects the integration between cultural expression and character formation within the traditional Islamic education system.
TELAAH SIMBOLIK POLA METRUM BAHR TAWIL DALAM SYAIR-SYAIR “ALALA” KARYA IMAM AL-ZARNUJI: PENDEKATAN SEMIOTIKA RIFFATERRE Hikmawati, Masna; Ulfi , Choiril; Ziya'uddin
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.5487

Abstract

: This study aims to examine the metrical pattern of Bahr Ṭawīl in the ‘Alāla poems by Imam Al-Zarnuji through the lens of Michael Riffaterre’s semiotic approach. Bahr Ṭawīl is known as one of the oldest meters widely used in the classical Arabic poetic tradition. Beyond serving as a rhythmic element, this metrical pattern also carries symbolic meanings closely related to moral and religious messages. The research employs a descriptive qualitative method with philological and semiotic approaches, encompassing text collection, identification of metrical patterns, and symbolic analysis of the rhythmic structure and the hidden messages within the poems. The findings reveal that the use of Bahr Ṭawīl in ‘Alāla is not merely an adherence to the rules of ʿarūḍ, but also embodies symbols of scholarly values, monotheism, and moral reinforcement for the santri (Islamic boarding school students). This metrical pattern functions as a semiotic medium connecting the text, the poet, and the audience, where the hidden meaning (hypogram) is manifested through the selection of specific wazan and rhythmic repetition. These results affirm that Bahr Ṭawīl in Al-‘Alāla serves not only as an aesthetic element but also as a symbolic means of conveying the educational values of the pesantren tradition.
SIMULAKRA DAN HIPERREALITAS DALAM RUANG DIGITAL: PERAN INFLUENCER TIKTOK TERHADAP KONSTRUKSI CITRA SERTA KEPUTUSAN PEMBELIAN PRODUK KECANTIKAN PADA GENERASI Z Deni Aries Kurniawan; Adelia Lucky Pratiwi; Tasya Wulandari; R.A. Amelya Salsabila; Eko Mulyono
An-Nas Vol. 9 No. 2 (2025): AN-NAS: Jurnal Humaniora
Publisher : Fakultas Syariah dan Adab Universitas Nahdlatul Ulama Sunan Giri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32665/annas.v9i2.5530

Abstract

Media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z, terutama dalam memengaruhi pola konsumsi mereka. TikTok sebagai salah satu platform yang paling populer di kalangan generasi ini, memegang peranan besar dalam membentuk tren dan perilaku konsumtif, salah satunya dalam hal pembelian produk kecantikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran influencer dan media sosial TikTok dalam membentuk keputusan pembelian produk kecantikan di kalangan Generasi Z. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan 7 subjek dari kalangan mahasiswa Generasi Z yang merupakan pengguna aktif TikTok. Teori simulasi dan hiperrealitas milik Jean Baudrillard digunakan sebagai alat analisis untuk memahami bagaimana representasi simbolik di media sosial memengaruhi realitas konsumsi. Hasil diskusi menunjukkan bahwa influencer di TikTok tidak hanya mempromosikan produk, tetapi juga melakukan konstruksi atas citra dan standar kecantikan yang ideal. Citra yang disajikan melalui konten sering kali menjadi hiperrealitas yang lebih dapat dipercaya daripada realitas objektif. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan pembelian Generasi Z sangat dipengaruhi oleh citra yang terbentuk melalui media sosial, bukan semata-mata karena kebutuhan. Penelitian ini menegaskan bahwa media sosial, khususnya TikTok, telah menjadi ruang simulasi di mana makna dan identitas konsumtif dibentuk dan dinegosiasikan