cover
Contact Name
Ulil Fauziyah
Contact Email
ulilfauziyah@pai.uin-malang.ac.id
Phone
+6285729510314
Journal Mail Official
mutaalim@uin-malang.ac.id
Editorial Address
Jalan Gajayana No.50, Dinoyo, Kec. Lowokwaru, Kota Malang, Jawa Timur 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
ISSN : -     EISSN : 28286227     DOI : https://doi.org/10.18860/mjpai
Mutaallim Jurnal Pendidikan Agama Islam adalah sarana komunikasi dan publikasi ilmiah yang berasal dari hasil penelitian di bidang pendidikan agama Islam baik literatur library research maupun lapangan field research dengan berbagai pendekatan Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun di bulan Maret Juni September dan Desember. Bahasa yang digunakan adalah Indonesia Inggris dan Arab. Mutaallim Jurnal Pendidikan Agama Islam dikelola oleh Program Studi Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
Articles 98 Documents
METODOLOGI USHUL FIQIH: Analisis Terhadap Konsep Dzahir, Takwil, Muraddif dan Musytarak Esafuri, Maulidi Ash Shiddiqie
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 4 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i4.11218

Abstract

This article examines the methodology of ushul fiqh with a focus on analyzing the conceptsof dzahir, takwil, muraddif, and musytarak in the context of Islamic legal interpretation.Ushul fiqh as a discipline that determines the basic principles of deriving law from shariatexts, requires a deep understanding of these key terms. The concept of dzahir refers toexplicit textual meaning, while takwil involves deeper interpretation to reach hiddenmeanings. Muraddif relates to words that have similar meanings or are synonymous, andmusytarak refers to words that have more than one meaning. This article analyzes howthese four concepts are used in the legal istinbat process and how they influence theinterpretation of the Shari'a in complex situations. Through an analytical approach, thisarticle aims to provide a clearer understanding of how ushul fiqh integrates these conceptsto produce legal conclusions that are consistent and relevant to sharia principles.Abstrak Artikel ini mengkaji metodologi ushul fiqih dengan fokus pada analisis konsep dzahir, takwil, muraddif, dan musytarak dalam konteks penafsiran hukum Islam. Ushul fiqih sebagai disiplin yang menentukan prinsip-prinsip dasar pengambilan hukum dari teks-teks syariah, mengharuskan pemahaman yang mendalam mengenai terminologi kunci tersebut. Konsep dzahir merujuk pada makna tekstual yang eksplisit, sementara takwil melibatkan interpretasi yang lebih mendalam untuk mencapai makna yang tersembunyi. Muraddif berkaitan dengan kata-kata yang memiliki makna serupa atau sinonim, dan musytarak mengacu pada kata-kata yang memiliki lebih dari satu makna. Artikel ini menganalisis bagaimana keempat konsep ini digunakan dalam proses istinbat hukum dan bagaimana mereka mempengaruhi penafsiran syariat dalam situasi yang kompleks. Melalui pendekatan analitis, artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih jelas tentang bagaimana ushul fiqih mengintegrasikan konsep-konsep ini untuk menghasilkan kesimpulan hukum yang konsisten dan relevan dengan prinsip-prinsip syariah.
PERSEPSI MAHASISWA TENTANG KOMPETENSI SOSIAL DOSEN FAKULTAS ILMU TARBIYAH UNIVERSITAS ISLAM NEGERI RADEN MAS SAID SURAKARTA Al Gufron, Misbach; Suryo, Khuriyah
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 4 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i4.11466

Abstract

Research on the social competence of lecturers reveals deficiencies in the ability to interact and behave effectively, as well as a lack of empathy and politeness in communicating. This shows the need for more attention in developing the social competence of lecturers. Therefore, this study aims to determine students' perceptions of lecturers' social competence. This study uses a descriptive quantitative approach to collect, analyze, and describe quantitative data systematically. This research was conducted in 2024 by providing questionnaires to Islamic Education students of UIN Raden Mas Said Surakarta class of 2020 through Google Form, with a total of 176 responses. This study used percentile data analysis to determine the value obtained. The results showed that the perception of Islamic Religious Education Students about the social competence of lecturers of the Faculty of Tarbiyah at Raden Mas Said University Surakarta had good criteria, especially in terms of objectivity, adaptability, empathy, and the ability to communicate effectively and politely. The majority of respondents agreed on all four indicators, with an overall average score of 66.20%. With these results, it can be concluded that the perception of students of the Islamic Religious Education study program class of 2020 about the social competence of lecturers is considered good.Abstrak Penelitian tentang kompetensi sosial dosen mengungkapkan adanya kekurangan dalam kemampuan berinteraksi dan bersikap secara efektif, serta kurangnya empati dan kesantunan dalam berkomunikasi. Hal ini menunjukkan perlunya perhatian lebih dalam mengembangkan kompetensi sosial dosen. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi mahasiswa terhadap kompetensi sosial dosen.Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menggambarkan data kuantitatif secara sistematis. Penelitian ini dilakukan pada tahun 2024 dengan memberikan kuisioner kepada mahasiswa Pendidikan Agama Islam UIN Raden Mas Said Surakarta angkatan 2020 melalui Google Form, dengan jumlah respoden 176. Penelitian ini menggunakan analisis data percentil untuk mengetahui nilai yang didapatkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi Mahasiswa Pendidikan Agama Islam tentang kompetensi sosial Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah di Universitas Raden Mas Said Surakarta memiliki kriteria baik, terutama dalam hal objektivitas, adaptabilitas, empati, dan kemampuan berkomunikasi efektif serta santun. Mayoritas responden menyatakan setuju pada keempat indikator tersebut, dengan rata-rata nilai keseluruhan sebesar 66,20%. Dengan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa persepsi mahasiswa program studi Pendidikan Agama Islam angkatan 2020 tentang kompetensi sosial dosen dinilai baik.
ALIRAN ESSENSIALISME DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM fidela, zanita; listanti, hani; sari, herlini puspika
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 3 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i3.11619

Abstract

This study examines the philosophy of essentialism within Islamic education, emphasizing the importance of foundational knowledge and universal values that align with Islamic teachings. Essentialism highlights the necessity of a curriculum grounded in time-tested values as a means to develop character and enhance students' moral integrity. Utilizing a qualitative literature-based approach, this research investigates the core principles of essentialism and its relevance to Islamic educational philosophy. The findings indicate that essentialism provides an educational framework that balances worldly and spiritual knowledge effectively. By incorporating Islamic values found in the Qur'an and Hadith, this approach plays a crucial role in fostering the development of morally upright individuals who can positively contribute to society. Therefore, essentialism proves to be not only relevant in the educational context but also serves as a foundation for cultivating strong and responsive character development in the face of contemporary challenges.Abstrak Penelitian ini membahas aliran esensialisme dalam filsafat pendidikan Islam, yang mengedepankan pengetahuan dasar serta nilai-nilai universal yang relevan dengan ajaran Islam. Esensialisme menekankan pentingnya kurikulum yang berlandaskan nilai-nilai yang telah teruji oleh waktu, sebagai upaya untuk membangun karakter dan memperkuat akhlak siswa. Melalui pendekatan kualitatif berbasis studi literatur, penelitian ini menyelidiki prinsip-prinsip inti esensialisme serta keterkaitannya dengan filsafat pendidikan Islam. Hasil analisis menunjukkan bahwa esensialisme menawarkan kerangka pendidikan yang seimbang antara pengetahuan duniawi dan ukhrawi. Dengan penerapan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis, pendekatan ini berperan penting dalam mendukung pembentukan individu yang berakhlak mulia dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat. Dengan demikian, esensialisme tidak hanya relevan dalam konteks pendidikan, tetapi juga menjadi landasan bagi pengembangan karakter yang kuat dan responsif terhadap tantangan zaman.
PENDIDIKAN ISLAM DAN PEMBENTUKAN IDENTITAS MUSLIM DI ERA DIGITAL 'Adilah, Annisatun; Amelia, Shafira Rahma
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 4 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i4.12298

Abstract

This article aims to discuss the role of Islamic education in the formation of Muslim identity in the digital era through a library research approach with qualitative methods. Islamic education aims to develop human potential holistically, with principles that emphasize the balance between worldly and ukhrawi knowledge and ethics. In the digital era, Muslim identity formation faces challenges such as the influence of foreign cultures, uncontrolled information, and lack of understanding of valid Islamic teachings, which can obscure identity. Therefore, Islamic education is key in strengthening this identity, by instilling religious values that are appropriate to the context of the times. This article also reviews the application of Islamic education methods in the digital era through the utilization of technology, such as online learning platforms, tafsir applications, and da'wah videos. Technology can be an effective tool to deepen Islamic teachings while maintaining religious values, so that Islamic education remains relevant in facing the challenges of the times and maintaining Muslim identity, as well as encouraging a deeper and more comprehensive understanding. Abstrak Artikel ini bertujuan untuk membahas peran pendidikan Islam dalam pembentukan identitas Muslim di era digital melalui pendekatan library research dengan metode kualitatif. Pendidikan Islam bertujuan mengembangkan potensi manusia secara holistik, dengan prinsip-prinsip yang menekankan keseimbangan antara ilmu duniawi dan ukhrawi serta etika. Di era digital, pembentukan identitas Muslim menghadapi tantangan seperti pengaruh budaya asing, informasi yang tidak terkendali, dan kurangnya pemahaman terhadap ajaran Islam yang sahih, yang dapat mengaburkan jati diri. Oleh karena itu, pendidikan Islam menjadi kunci dalam memperkuat identitas tersebut, dengan menanamkan nilai-nilai agama yang sesuai dengan konteks zaman. Artikel ini juga mengulas penerapan metode pendidikan Islam di era digital melalui pemanfaatan teknologi, seperti platform pembelajaran online, aplikasi tafsir, dan video dakwah. Teknologi dapat menjadi alat efektif untuk mendalami ajaran Islam sambil tetap mempertahankan nilai-nilai agama, sehingga pendidikan Islam tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman dan menjaga identitas Muslim, serta mendorong pemahaman yang lebih mendalam dan menyeluruh.
Penerapan Metode Diskusi untuk Memahami Makna, Tipologi, dan Kegunaan Asbab an-Nuzul dalam Pembelajaran Al-Qur'an Hadis An'nisa, Lila Auliani; Aziz, Umar Abdul; Febrianti, Nur Wilujeng
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 4 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i4.12517

Abstract

This inquire about points to discover out that asbab an-nuzul is an occasion or something that's the background to the disclosure of the verses of the Holy Qur'an. A deep understanding of asbab an-nuzul is very imperative within the context of understanding the meaning contained in the verses that were revealed comprehensively. This article will discuss the meaning, its typology which divided into two to be specific micro and macro with the illustrations, and the value of studying asbab an-nuzul within the setting of studying the elucidation of the Holy Qur'an. The approach utilized in this paper is previous library and journal research by collecting information utilizing qualitative descriptive analysis. The results of our research conclude that asbab an-nuzul is the underlying cause of the disclosures of the Holy Qur’an, where the scholars studied it from a micro and macro perspective. Micro asbabunnuzul refers more to events that specifically cause the revelation of verses, while macro refers more to events in general. This article also explains the value of studying asbab an-nuzul in studying the Holy Qur’an. From the results of our observations that we present through this article are expected to improve readers' understanding of the messages contained within the Holy Qur'an and apply them in everyday life. Appart from that, the article also shows the effectiveness of using the discussion method for learning the Qur'an and Hadith at the elementary level (SD/MI). The results of the study showed that there was a significant difference in learning outcomes using the discussion method and conventional methods. Students who use the discussion method have good problem-solving and critical thinking skills. Learning outcomes also increased in classes that use this method. This shows that the discussion method is a method that is able to lead students to the learning objectives. Abstrak Tulisan ini membahas tentang asbab an-nuzul yang merupakan peristiwa atau sesuatu yang melatarbelakangi diturunkannya ayat-ayat Al-Qur'an. Pemahaman mendalam tentang asbab an-nuzul sangat penting dalam konteks memahami makna yang terkandung dalam ayat-ayat yang diturunkan secara komprehensif. Tulisan ini akan membahas tentang makna, tipologinya yang terbagi menjadi dua yaitu mikro dan makro beserta ilustrasinya, dan nilai kajian asbab an-nuzul dalam konteks kajian penafsiran Al-Qur'an. Pendekatan yang digunakan dalam tulisan ini adalah penelitian pustaka dan jurnal terdahulu dengan cara pengumpulan informasi menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian kami menyimpulkan bahwa asbab an-nuzul merupakan sebab yang melatarbelakangi diturunkannya ayat-ayat Al-Qur'an, dimana para ulama mengkajinya dari sudut pandang mikro dan makro. Asbab an-nuzul mikro lebih merujuk pada peristiwa yang secara khusus menyebabkan turunnya ayat, sedangkan asbab an-nuzul makro lebih merujuk pada peristiwa secara umum. Tulisan ini juga menjelaskan tentang nilai kajian asbab an-nuzul dalam kajian Al-Qur'an. Dari hasil pengamatan yang kami sajikan melalui artikel ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman pembaca terhadap pesan-pesan yang terkandung dalam Al-Qur'an dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, artikel ini juga menunjukkan keefektifan penggunaan metode diskusi untuk pembelajaran Al-Qur'an dan Hadits pada jenjang Sekolah Dasar (SD/MI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar dengan menggunakan metode diskusi dan metode konvensional. Siswa yang menggunakan metode diskusi memiliki kemampuan memecahkan masalah dan berpikir kritis yang baik. Hasil belajar juga mengalami peningkatan pada kelas yang menggunakan metode ini. Hal ini menunjukkan bahwa metode diskusi merupakan metode yang mampu mengantarkan siswa pada tujuan pembelajaran.
MENGATASI TANTANGAN INTOLERANSI DENGAN PENDIDIKAN MULTIKULTURAL DI ERA DIGITALISASI Azzahra, Fatimah; Rosyidah, Amiliya Nur
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 3 No 4 (2024): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v3i4.13185

Abstract

Intolerance is one of the main challenges in the digitalization era, where unfiltered information flows often trigger social conflict and polarization. This article aims to explore the role of multicultural education as a solution in overcoming the challenges of intolerance amid the development of digital technology. Using a qualitative approach based on literature review, this research analyzes the concept of multicultural education, the challenges of intolerance in the digital era, and relevant implementation strategies. The results show that multicultural education has great potential in shaping attitudes of tolerance, appreciating diversity, and developing cross-cultural understanding. However, its success requires the integration of digital technology, active involvement of educators, and strong policy support. This article recommends the development of a digital-based inclusive curriculum and the improvement of digital literacy as strategic steps to realize a harmonious and tolerant society. Abstrak Intoleransi menjadi salah satu tantangan utama di era digitalisasi, di mana arus informasi yang tidak terfilter seringkali memicu konflik sosial dan polarisasi. Artikel ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran pendidikan multikultural sebagai solusi dalam mengatasi tantangan intoleransi di tengah perkembangan teknologi digital. Dengan pendekatan kualitatif berbasis kajian pustaka, penelitian ini menganalisis konsep pendidikan multikultural, tantangan intoleransi di era digital, serta strategi implementasi yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan multikultural memiliki potensi besar dalam membentuk sikap toleransi, menghargai keberagaman, dan mengembangkan pemahaman lintas budaya. Namun, keberhasilannya memerlukan integrasi teknologi digital, keterlibatan aktif para pendidik, serta dukungan kebijakan yang kuat. Artikel ini merekomendasikan pengembangan kurikulum inklusif berbasis digital dan peningkatan literasi digital sebagai langkah strategis untuk mewujudkan masyarakat yang harmonis dan toleran.
TAQLID, ITTIBA’, TALFIQ, DAN IJTIHAD DALAM PENGAMBILAN HUKUM ISLAM: Studi Kasus Penetapan Awal Ramadhan di Indonesia Ardyansyah, Muhammad Fayiz; Al Fikri, Moh Fatih; Kaminah, Lilik Iski; Muttaqin, M Imamul
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 1 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i1.11204

Abstract

This research aims to explore more deeply the function of taqlid, ittiba', talfiq, and ijtihad in the adoption of Islamic law with a focus on a case study of determining the start of Ramadan in Indonesia. Taqlid, ittiba', talfiq, and ijtihad are both methods used in taking legal action against a new event or problem that arises in society and requires a solution to the problem. Of course, the three things above are a person's choice to carry out legal istinbath. However, among these three things, there are those that are good and appropriate to use and there are those that should not be used. This research shows that the combination of these four approaches influences decisions about the start of Ramadan in Indonesia, where a deep understanding of each method can help Muslims in observing fasting appropriately. Therefore, this research uses a qualitative approach with case studies and literature analysis to find out the position and function of taqlid, ittiba', talfiq, and ijtihad in determining the start of Ramadan. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam fungsi taqlid, ittiba’, talfiq, dan ijtihad dalam pengambilan hukum Islam dengan fokus pada studi kasus penetapan awal Ramadhan di Indonesia. Taqlid, ittiba’, talfiq, dan ijtihad sama-sama merupakan metode yang digunakan dalam mengambil hukum terhadap suatu peristiwa atau masalah baru yang muncul di masyarakat dan memerlukan solusi dari masalah tersebut. Tentu ketiga hal di atas menjadi pilihan sesorang untuk melakukan istinbath hukum. Namun di antara ketiga hal tersebut ada yang baik dan tepat digunakan serta ada yang sebaiknya tidak digunakan. Penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi dari empat pendekatan ini mempengaruhi keputusan tentang awal Ramadan di Indonesia, di mana pemahaman yang mendalam tentang setiap metode dapat membantu umat Islam dalam menjalankan ibadah puasa dengan tepat. Oleh karena itu penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus dan analisis literatur untuk mengetahui bagaimana posisi dan fungsi dari taqlid, ittiba’, talfiq, dan ijtihad dalam penentuan awal Ramadhan.
IMPLEMENTASI NILAI-NILAI TAUHID DALAM SURAT AL-IKHLAS SEBAGAI LANDASAN PEMBENTUKAN AKHLAK YANG BERKARAKTER PADA SANTRI DI PONDOK PESANTREN SALAFIYAH SYAFI’IYAH PROTO KEDUNGWUNI Wahidah, Feby Khoirinnisa; Al Fariz, Mar'atu Rosyada; Lestari, Indri
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 1 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i1.12418

Abstract

This study aims to examine the implementation of the value of tawhid in the daily life of students at the Salafiyah Syafiiyah Proto Kedungwuni Islamic Boarding School. Through qualitative methods with interview, observation, and documentation techniques, it was found that the boarding school has succeeded in instilling the values of tawhid in santri. This is reflected in various aspects of the santri's daily life, such as worship, social interactions, and attitudes towards the environment. The challenges faced by santri in implementing the value of tawhid include environmental influences, laziness, and peer pressure. However, with the support of caregivers and a conducive pesantren environment, santri are able to overcome these challenges and continue to strive to practice the values of tawhid in their lives. The results of this study indicate that integrated religious and character education in Islamic boarding schools can form a young generation with noble character and strong faith. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengkaji implementasi nilai tauhid dalam kehidupan sehari-hari santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Proto Kedungwuni. Melalui metode kualitatif dengan teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi, ditemukan bahwa pondok pesantren tersebut telah berhasil menanamkan nilai-nilai tauhid pada santri. Hal ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan sehari-hari santri, seperti ibadah, interaksi sosial, dan sikap terhadap lingkungan. Tantangan yang dihadapi santri dalam mengimplementasikan nilai tauhid antara lain pengaruh lingkungan, rasa malas, dan tekanan teman sebaya. Namun, dengan dukungan dari para pengasuh dan lingkungan pesantren yang kondusif, santri mampu mengatasi tantangan tersebut dan terus berusaha untuk mengamalkan nilai-nilai tauhid dalam kehidupan mereka. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pendidikan agama dan karakter yang terintegrasi di pondok pesantren dapat membentuk generasi muda yang berakhlak mulia dan beriman kuat.
EXPLORING RELIGIOUS MODERATION: A Washatiyyah Perspective in Tafsir Tahlili Al-Qur'an Achmadin, Balya Ziaulhaq; Fattah, Abdul; Mukhsin, Akhmad; K. Amrullah, Abdul Malik; Barizi, Ahmad
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i2.15565

Abstract

This study aims to analyze the construction of Washatiyyah (moderation) in a religious context based on the perspective of the Quran, with a focus on of the study of Tahlili interpretations of the Qur'an. The method of qualitative analysis is used with a descriptive approach, involving the search of the literature, the collection of data from the relevant Tahlili interpretations, as well as the analysis and interpretation from the verses of the Koran related to religious moderation. The study is aimed at providing a deeper understanding of the constructions of religious Washatiyya in a Koran perspective, with practical implications in guiding Muslims in practicing religious moderation and building inclusive, tolerant, and harmonious societies. The study also aims to reveal the understanding and interpretation of scholarship related to religious moderation, such as the principles, values, and examples of the verses of the Qur'an that describe moderate attitudes in religion. Using the Qur'anic interpretation as a primary source, the study seeks to provide practical guidance for Muslims in applying religious moderation in everyday life. The findings of this research are expected to make an important contribution to developing thought and understanding of religious moderation from the perspective of the Qur'an, as well as promoting social peace and interreligious congregation. In the context of building inclusive and harmonious societies, a deeper understanding of religious Washatiyyah construction will be a strong foundation for overcoming conflict and enhancing tolerance in religious life.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi Washatiyyah (moderasi) dalam konteks keagamaan berdasarkan perspektif Alquran, dengan fokus kajian pada tafsir-tafsir Tahlili Alquran. Metode yang digunakan adalah metode analisis kualitatif dengan pendekatan deskriptif, yang melibatkan penelusuran literatur, pengumpulan data dari tafsir-tafsir tahlili yang relevan, serta analisis dan interpretasi dari ayat-ayat al-Qur'an yang berkaitan dengan moderasi beragama. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konstruksi keagamaan Washatiyyah dalam perspektif Alquran, yang berimplikasi praktis dalam memandu umat Islam dalam mempraktikkan moderasi beragama dan membangun masyarakat yang inklusif, toleran, dan harmonis. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengungkap pemahaman dan penafsiran para ulama terkait dengan moderasi beragama, seperti prinsip-prinsip, nilai-nilai, dan contoh-contoh ayat-ayat al-Qur'an yang menggambarkan sikap moderat dalam beragama. Dengan menggunakan tafsir Al-Qur'an sebagai sumber utama, penelitian ini berusaha memberikan panduan praktis bagi umat Islam dalam menerapkan moderasi beragama dalam kehidupan sehari-hari. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam mengembangkan pemikiran dan pemahaman tentang moderasi beragama dalam perspektif Al-Qur'an, serta mempromosikan perdamaian sosial dan kerukunan antarumat beragama. Dalam konteks membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis, pemahaman yang lebih mendalam tentang konstruksi keagamaan Washatiyyah akan menjadi fondasi yang kuat untuk mengatasi konflik dan meningkatkan toleransi dalam kehidupan beragama.
URGENSI INTEGRASI TASAMUH DAN TA’AYUSH DALAM MENGIKIS KEPANATIKAN MAZHAB TEOLOGI: Tinjauan Qs. Ali ‘Imran Ayat 103 Marfuah, Siti; Sassi, Komarudin
Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 4 No 2 (2025): Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Muta'allim: Jurnal Pendidikan Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/mjpai.v4i2.15615

Abstract

This study discusses the urgency of integrating the concepts of tasamuh (tolerance) and ta'ayush (harmonious coexistence) as a strategic effort to erode the fanaticism of theological schools of thought that often causes division among Muslims. By using a thematic interpretation approach to QS. Ali 'Imran verse 103, this study examines the values ​​of unity, oneness, and mutual respect contained in the verse as a normative basis for building an inclusive and harmonious attitude between schools of thought. The research method used is qualitative with analysis of the text of the Qur'an and related literature that supports the understanding of tasamuh and ta'ayush in the context of Islamic theology. The results of the study indicate that the integration of the two concepts is very important to reduce excessive fanaticism and strengthen Islamic brotherhood. This study recommends that scholars, educators, and community leaders prioritize the values ​​of tasamuh and ta'ayush in preaching and religious education in order to create a more inclusive, peaceful, and united Islamic society. Thus, this study makes an important contribution to the development of moderate and tolerant Islamic thought.Abstrak Penelitian ini membahas urgensi integrasi konsep tasamuh (toleransi) dan ta’ayush (hidup berdampingan secara harmonis) sebagai upaya strategis dalam mengikis sikap kepanatikkan mazhab teologi yang kerap menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Dengan menggunakan pendekatan tafsir tematik terhadap QS. Ali ‘Imran ayat 103, penelitian ini mengkaji nilai-nilai persatuan, kesatuan, dan saling menghormati yang terkandung dalam ayat tersebut sebagai landasan normatif untuk membangun sikap inklusif dan harmonis antarmazhab. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis teks Al-Qur’an dan literatur terkait yang mendukung pemahaman tasamuh dan ta’ayush dalam konteks teologi Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi kedua konsep tersebut sangat penting untuk mengurangi sikap fanatisme yang berlebihan dan memperkuat ukhuwah Islamiyah. Penelitian ini merekomendasikan agar para ulama, pendidik, dan pemimpin umat mengedepankan nilai-nilai tasamuh dan ta’ayush dalam dakwah dan pendidikan keagamaan guna menciptakan masyarakat Islam yang lebih inklusif, damai, dan bersatu. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan pemikiran keislaman yang moderat dan toleran.

Page 9 of 10 | Total Record : 98