cover
Contact Name
Zauhani Kusnul H
Contact Email
jurnal.pamenang@gmail.com
Phone
+62354-399840
Journal Mail Official
jurnal.pamenang@gmail.com
Editorial Address
Kampus Stikes Pamenang Pare Kediri Jl.Soekarno Hatta, No.15 Bendo Pare Kediri
Location
Kab. kediri,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Abdimas Pamenang
ISSN : 2988327X     EISSN : 29649625     DOI : https://doi.org/10.53599/jap.v2i1
Core Subject : Health, Education,
Jurnal Abdimas Pamenang merupakan publikasi ilmiah enam bulanan yang diterbitkan oleh STIKES PAMENANG Kediri. Jurnal Abdimas Pamenang menyajikan informasi dan kajian ilmiah hasil pengabdian masyarakat pada lingkup keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan issu-issu terkini terkait masalah kesehatan masyarakat. Redaksi Jurnal Abdimas Pamenang menerima karya ilmiah hasil pengabdian masyarakat dari bidang keperawatan, kebidanan, administrasi kesehatan dan kesehatan masyarakat dari para intelektual, praktisi, mahasiswa serta siapa saja untuk menulis dan berbagi hasil pengabdian masyarakat maupun pemikiran secara bebas, kritis, kreatif, inovatif, dan bertanggung jawab. Seluruh artikel yang masuk akan melalui proses review oleh para reviewer dengan bidang kepakaran yang relevan.
Articles 114 Documents
OPTIMALISASI PENGETAHUAN SISWA TENTANG PERTOLONGAN PERTAMA DISLOKASI MELALUI PELATIHAN DENGAN MEDIA QR CODE DAN METODE DEMONSTRASI : OPTIMIZING STUDENTS' KNOWLEDGE ABOUT FIRST AID FOR DISLOCATION THROUGH TRAINING WITH QR CODE AND DEMONSTRATION METHODS Diana Rachmania; Dhina Widayati; Dwi Setyorini
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.470

Abstract

Aktivitas olahraga pada siswa remaja memiliki risiko tinggi terhadap terjadinya cedera muskuloskeletal, salah satunya dislokasi, yang apabila tidak ditangani dengan tepat dapat menimbulkan komplikasi serius. Pengetahuan siswa mengenai pertolongan pertama dislokasi menjadi aspek penting dalam upaya pencegahan dampak cedera yang lebih berat, sehingga diperlukan metode pelatihan yang inovatif, interaktif, dan aplikatif diantaranya adalah pemanfaatan media digital berbasis QR code yang dikombinasi dengan metode demonstrasi. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan pertolongan pertama dislokasi melalui pelatihan dengan media digital berbasis QR Code dan metode demonstrasi pada siswa di SMAN 1 Plemahan. Kegiatan pengabdian dilakukan dengan pendekatan pemberdayaan melalui edukasi dan pelatihan yang melibatkan 36 siswa. Edukasi tentang dislokasi melalui media digital berbasis QR Code dan pelatihan cara memberikan pertolongan pertama dilakukan melalui demonstrasi. Hasil kegiatan menunjukkan terjadi peningkatan pengetahuan siswa dengan kategori baik dari 8,3% menjadi 63,9%. Media digital berbasis QR Code lebih menarik perhatian siswa sesuai tahap perkembangan remaja dan dapat memfasilitasi pembelajaran mandiri dan pengulangan materi secara fleksibel yang bisa diakses siswa dengan mudah, sedangkan metode demonstrasi memungkinkan siswa memahami prosedur pertolongan pertama secara konkret melalui pengamatan langsung. Diharapkan agar metode ini dapat diimplementasikan secara berkelanjutan dalam kegiatan pembelajaran maupun ekstrakurikuler seperti PMR guna meningkatkan literasi kesehatan siswa secara lebih luas. Abstract   Sports activities in adolescent students carry a high risk of musculoskeletal injuries, one of which is dislocation, which if not handled properly can lead to serious complications. Student knowledge of first aid for dislocation is a crucial aspect in preventing more severe injuries, so innovative, interactive, and applicable training methods are needed, including the use of QR code-based digital media combined with demonstration methods. The purpose of this community service activity is to improve knowledge of first aid for dislocation through training with QR Code-based digital media and demonstration methods for students at SMAN 1 Plemahan. The community service activity was carried out using an empowerment approach through education and training involving 36 students. Education about dislocation through QR Code-based digital media and training on how to provide first aid was carried out through demonstrations. The results of the activity showed an increase in student knowledge with a good category from 8.3% to 63.9%. QR Code-based digital media is more attractive to students according to the developmental stage of adolescents and can facilitate independent learning and flexible repetition of material that can be easily accessed by students, while the demonstration method allows students to understand first aid procedures concretely through direct observation. It is hoped that this method can be implemented sustainably in learning and extracurricular activities such as PMR to improve students' health literacy more broadly.
YOUTH EMPOWERMENT MELALUI PELATIHAN KEGAWATDARURATAN PADA ANGGOTA PMR SMP IT ASSALAM MALANG : YOUTH EMPOWERMENT THROUGH EMERGENCY RESPONSE TRAINING FOR YOUTH RED CROSS MEMBERS AT SMP IT ASSALAM MALANG Indah Dwi Pratiwi; Edi Purwanto; Aisyah Az Zahra Maharani; Elok Febrianti; Farel Cheri Sisnadia
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.471

Abstract

Palang Merah Remaja (PMR) di SMP IT Assalam Malang memiliki peran penting sebagai first responder dalam kegawatdaruratan di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan dan survei, didapatkan kondisi program PMR yang kapasitasnya masih terbatas, dengan hanya 20% anggota yang memahami Bantuan Hidup Dasar (BHD) dan 40% peralatan P3K yang tidak layak. Pengabdian masyarakat ini mengimplementasikan model pelatihan aktif kepada 25 anggota PMR. Metode pelaksanaan mencakup workshop, demonstrasi, praktik langsung menggunakan manekin, serta pemanfaatan media edukasi inovatif berupa modul "SIGAP!" dan flashcard "Seri First Aid". Hasil dari kegiatan ini terjadi peningkatan pengetahuan, dari skor rata-rata pre-test 35% menjadi 85% pada post-test. Sebanyak 95% peserta mampu mendemonstrasikan prosedur BHD dengan benar dan 90% terampil dalam teknik pertolongan pertama cedera umum. Kegiatan pengabdian ini terbukti efektif meningkatkan kompetensi kognitif dan psikomotor anggota PMR. Program ini berhasil memberdayakan anggota PMR atau youth empowerment sebagai garda terdepan penanganan darurat berbasis sekolah yang tangguh dan berkarakter. Abstract   The Youth Red Cross (PMR) at SMP IT Assalam Malang plays a vital role as first responders for emergencies at school. Based on observations and surveys, it was found that the program's capacity was quite limited, with only 20% of its members understanding Basic Life Support (BLS) and 40% of the first aid equipment being in poor condition. This community service project implemented an active training model for 25 PMR members. The methods included workshops, demonstrations, hands-on practice with mannequins, and the use of innovative educational tools, such as the "SIGAP!" module and the "First Aid Series" flashcards.  As a result of this activity, there was a significant increase in knowledge, with the average pre-test score rising from 35% to 85% on the post-test. Additionally, 95% of the participants were able to correctly demonstrate BLS procedures, and 90% became skilled in first aid techniques for common injuries. This community service project proved to be effective in improving both the cognitive (knowledge) and psychomotor (practical) skills of the PMR members. The program successfully empowered the PMR to become a resilient and principled frontline for emergency response at school
PELATIHAN KADER LANSIA PUSKESMAS PARE KEDIRI BERBASIS SIMULASI DALAM PERTOLONGAN DAN RUJUKAN KEGAWATDARURATAN : SIMULATION-BASED TRAINING OF ELDERLY CADRES AT COMMUNITY HEALTH CENTER (PUSKESMAS) PARE KEDIRI IN EMERGENCY AID AND REFERRAL Bambang Wiseno; Iva Milia Hani Rahmawati; Pratiwi Yuliansari
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.473

Abstract

Abstrak Kegawatdaruratan pada lansia merupakan kondisi yang memerlukan penanganan cepat dan tepat untuk mencegah komplikasi, kecacatan, hingga kematian. Keterbatasan akses layanan kesehatan serta rendahnya pengetahuan masyarakat, khususnya kader kesehatan, menjadi salah satu faktor penghambat dalam penanganan awal kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi kader lansia di Puskesmas Pare, Kabupaten Kediri dalam melakukan pertolongan pertama dan rujukan kegawatdaruratan. Metode yang digunakan adalah pelatihan berbasis teori dan praktik yang meliputi materi identifikasi kondisi gawat darurat pada lansia, prinsip pertolongan pertama, sistem rujukan, serta simulasi kasus. Peserta pelatihan adalah kader lansia yang berada di wilayah kerja Puskesmas Pare. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan serta observasi keterampilan selama praktik. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada pengetahuan dan keterampilan kader dalam penanganan awal kegawatdaruratan lansia. Rata-rata nilai post-test (56,40) mengalami peningkatan dibandingkan pre-test (78,90) yang menunjukkan efektivitas pelatihan. Didapatkan peningkatan keterampilan dan kemampuan dalam tujukan kasus kegawatdaruratan dengan  mampu melakukan identifikasi dini kondisi gawat darurat dan memahami alur rujukan yang tepat. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah pelatihan kader lansia efektif dalam meningkatkan kapasitas kader dalam pertolongan dan rujukan kegawatdaruratan di tingkat komunitas. Diharapkan kegiatan ini dapat berkontribusi dalam menurunkan risiko keterlambatan penanganan kegawatdaruratan pada lansia serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan berbasis masyarakat. Abstract Elderly emergencies require prompt and appropriate treatment to prevent complications, disability, and even death. Limited access to healthcare services and low public knowledge, particularly among health workers, are among the inhibiting factors in initial emergency management at the community level. This community service activity aims to improve the competency of elderly health workers at the Pare Community Health Center in Kediri Regency in providing first aid and emergency referrals. The method used was theory-based and practical training, covering topics on identifying emergency conditions in the elderly, first aid principles, referral systems, and case simulations. The training participants were elderly health workers within the Pare Community Health Center's work area. Evaluation was conducted through pre- and post-tests to measure knowledge gains and skills observations during the practice. The results of the activity showed a significant increase in the knowledge and skills of cadres in initial emergency management for the elderly. The average post-test score (56.40) increased compared to the pre-test (78.90), demonstrating the effectiveness of the training. Improved skills and abilities in addressing emergency cases were observed, including the ability to identify emergency conditions early and understand the appropriate referral pathway. The conclusion of this activity is that the training of elderly cadres is effective in increasing their capacity to provide emergency care and referrals at the community level. It is hoped that this activity will contribute to reducing the risk of delayed emergency care for the elderly and improving the quality of community-based health services.
IBU HEBAT, ANAK SIAGA : EDUKASI KEBENCANAAN MELALUI SEKOLAH SUNGAI DI DESA MINGGIRSARI KABUPATEN BLITAR: GREAT MOTHER, ALERT CHILD: DISASTER EDUCATION THROUGH RIVER SCHOOL IN MINGGIRSARI VILLAGE, BLITAR REGENCY Yuanita Syaiful; Agus Wahyudi; A. Maya Rupa Anjeli; Ervi Suminar; Lina Madyastuti Rahayuningrum
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.485

Abstract

Desa Minggirsari Kabupaten Blitar merupakan wilayah yang memiliki kerentanan terhadap bencana hidrometeorologi, khususnya banjir akibat kedekatannya dengan kawasan aliran sungai. Rendahnya literasi kebencanaan keluarga, terutama dalam aspek mitigasi dan kesiapsiagaan, menjadi tantangan yang berpotensi meningkatkan risiko korban saat terjadi bencana. Pengabdian masyarakat ini berfokus pada penguatan kapasitas keluarga melalui program pendampingan literasi kebencanaan berbasis komunitas dengan memanfaatkan Sekolah Sungai sebagai ruang edukasi partisipatif. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan keluarga dalam menghadapi potensi bencana secara mandiri dan berkelanjutan. Metode pengabdian menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan strategi edukasi partisipatif melalui sosialisasi, pelatihan mitigasi bencana, simulasi evakuasi, permainan edukatif, serta pendampingan keluarga siaga bencana. Subjek pengabdian terdiri atas ibu, anak, dan masyarakat sekitar kawasan sungai di Desa Minggirsari. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pemahaman masyarakat mengenai tanda-tanda bencana, jalur evakuasi, serta langkah penyelamatan diri dan keluarga. Selain itu, kegiatan ini berhasil membangun kesadaran kolektif masyarakat tentang pentingnya budaya sadar bencana melalui keterlibatan aktif keluarga dan komunitas lokal. Program Sekolah Sungai juga menjadi media edukasi yang efektif dalam memperkuat ketangguhan keluarga berbasis lingkungan dan komunitas. Abstract   Minggirsari Village, Blitar Regency, is vulnerable to hydrometeorological disasters, particularly flooding, due to its proximity to river basins. Low levels of family disaster literacy, particularly in mitigation and preparedness, pose a challenge that potentially increases the risk of casualties during a disaster. This community service project focuses on strengthening family capacity through a community-based disaster literacy mentoring program utilizing the River School as a participatory educational space. The objective of this activity is to increase family knowledge, awareness, and skills in responding to potential disasters independently and sustainably. The community service method uses a Participatory Action Research (PAR) approach with participatory education strategies through outreach, disaster mitigation training, evacuation simulations, educational games, and disaster preparedness family mentoring. The community service participants included mothers, children, and the community around the river basin in Minggirsari Village. The results of the community service program indicate an increase in community understanding of disaster warning signs, evacuation routes, and personal and family safety measures. Furthermore, this activity successfully built collective community awareness of the importance of a disaster-aware culture through the active involvement of families and the local community. The River School program also serves as an effective educational tool for strengthening family resilience based on the environment and community.
EDUKASI BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) SEJAK DINI PADA SISWA KELAS VI SEKOLAH DASAR MI AL IKHWAN MELALUI MEDIA VIDEO ANIMASI: Early Basic Life Support (BLS) Education for Sixth-Grade Elementary School Students at MI Al Ikhwan Through Animated Video Media Tengku Isni Yuli Lestari Putri; Rohmi Fadhli; Muhammad Dwi Satriyanto; Caroline Wijaya; Adnesya Prila Arneti; Amrizal Siregar
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.488

Abstract

Latar Belakang: Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan keterampilan penting dalam memberikan pertolongan awal pada kondisi kegawatdaruratan guna meningkatkan peluang keselamatan korban sebelum mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Namun, pengetahuan siswa sekolah dasar mengenai BHD masih terbatas akibat kurangnya edukasi yang diberikan secara sistematis. Media video animasi dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif karena mampu menyampaikan informasi secara menarik, interaktif, dan mudah dipahami oleh anak. Tujuan: Mengetahui efektivitas edukasi BHD melalui media video animasi dalam meningkatkan pengetahuan siswa kelas VI MI Al Ikhwan. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan desain pre-test dan post-test pada 37 siswa kelas VI MI Al Ikhwan. Pengetahuan siswa diukur menggunakan kuesioner sebelum dan sesudah pemberian edukasi BHD melalui video animasi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil: Sebelum intervensi, sebagian besar siswa memiliki tingkat pengetahuan kurang sebanyak 20 siswa (54,1%), kategori cukup 12 siswa (32,4%), dan kategori baik 5 siswa (13,5%). Setelah edukasi diberikan, jumlah siswa dengan kategori pengetahuan baik meningkat menjadi 25 siswa (67,6%), kategori cukup menjadi 10 siswa (27,0%), sedangkan kategori kurang menurun menjadi 2 siswa (5,4%). Hasil tersebut menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa setelah mendapatkan edukasi melalui media video animasi. Kesimpulan: Edukasi BHD melalui media video animasi efektif meningkatkan pengetahuan siswa kelas VI MI Al Ikhwan. Media ini dapat digunakan sebagai alternatif pendidikan kesehatan yang menarik dan mudah dipahami untuk meningkatkan pemahaman siswa sekolah dasar tentang pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan. Abstract   Background: Basic Life Support (BLS) is an essential skill in providing initial assistance during emergency situations to increase the victim’s chances of survival before receiving further medical treatment. However, elementary school students’ knowledge of BLS is still limited due to the lack of systematic educational interventions. Animated video media can serve as an effective learning tool because it delivers information in an engaging, interactive, and easily understandable way for children. Objective: To determine the effectiveness of BLS education through animated video media in improving the knowledge of sixth-grade students at MI Al Ikhwan. Methods: This community service activity used a pre-test and post-test design involving 37 sixth-grade students at MI Al Ikhwan. Students’ knowledge was measured using a questionnaire before and after the BLS education delivered through animated videos. Data were analyzed descriptively using frequency distribution and percentages. Results: Before the intervention, most students had a low level of knowledge (20 students; 54.1%), followed by moderate (12 students; 32.4%) and good categories (5 students; 13.5%). After the educational intervention, the number of students with good knowledge increased to 25 students (67.6%), moderate category became 10 students (27.0%), while the low category decreased to 2 students (5.4%). These results indicate an improvement in students’ knowledge after receiving education through animated video media. Conclusion: BLS education through animated video media is effective in improving the knowledge of sixth-grade students at MI Al Ikhwan. This media can be used as an alternative health education method that is engaging and easy to understand, helping to enhance elementary school students’ understanding of first aid in emergency situations.
PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN IBU BALITA DALAM PENANGANAN CHOKING MELALUI EDUKASI DAN DEMONSTRASI DI POSYANDU ILP SEROJA PUSKESMAS SUKORAME KOTA KEDIRI: IMPROVING THE KNOWLEDGE AND SKILLS OF MOTHERS OF CHILDREN UNDER FIVE REGARDING CHOKING MANAGEMENT THROUGH EDUCATION AND DEMONSTRATION AT THE SEROJA ILP POSYANDU, SUKORAME COMMUNITY HEALTH CENTER, KEDIRI CITY sri haryuni; Erik Irham Lutfi; Susmiati; Moh. Alimansur; Ani Sutriningsih
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.491

Abstract

Tersedak (choking) pada anak merupakan kondisi kegawatdaruratan yang memerlukan penanganan segera karena dapat menyebabkan gangguan jalan napas hingga kematian apabila tidak ditangani dengan tepat. Berdasarkan hasil wawancara awal, diketahui bahwa pengetahuan ibu balita mengenai penanganan choking masih rendah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk menganalisis peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan choking setelah diberikan edukasi dan demonstrasi. Metode yang digunakan adalah edukasi melalui penyuluhan dan demonstrasi praktik penanganan choking. Kegiatan dilaksanakan di Posyandu ILP Seroja, Puskesmas Sukorame, Kota Kediri, dengan melibatkan seluruh ibu balita sebagai peserta. Jumlah sampel sebanyak 18 orang yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengetahuan diukur menggunakan kuesioner pre-test dan post-test, sedangkan keterampilan dinilai melalui lembar observasi praktik. Analisis data dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebelum intervensi sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan kurang (61,1%) dan keterampilan kurang (72,2%). Setelah diberikan edukasi dan demonstrasi, sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan baik (77,8%) dan keterampilan baik (83,3%). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05), yang menunjukkan bahwa edukasi dan demonstrasi berpengaruh signifikan terhadap peningkatan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam penanganan choking. Kegiatan edukasi dan demonstrasi terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan ibu balita dalam memberikan pertolongan pertama pada kasus tersedak. Program edukasi serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai upaya meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menangani keadaan kegawatdaruratan pada anak serta mencegah kematian akibat keterlambatan penanganan tersedak. Abstract Choking in children is a medical emergency that requires immediate management because it can cause airway obstruction and lead to death if not treated promptly and appropriately. Based on the preliminary interviews, the knowledge of mothers with toddlers regarding choking management was still inadequate. This community service program aimed to analyze the improvement in mothers' knowledge and skills regarding choking management following an educational intervention and practical demonstration. The intervention consisted of health education through lectures and demonstrations of choking first-aid techniques. The program was conducted at ILP Seroja Integrated Health Post (Posyandu), Sukorame Public Health Center, Kediri City, involving all mothers of toddlers as participants. A total of 18 participants were recruited using a total sampling technique. Knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires, while skills were evaluated through an observational checklist during practical sessions. Data were analyzed using the Wilcoxon signed-rank test. The results showed that before the intervention, most participants had poor knowledge (61.1%) and poor skills (72.2%) in managing choking. Following the educational intervention and practical demonstration, the majority of participants demonstrated good knowledge (77.8%) and good skills (83.3%). The Wilcoxon signed-rank test revealed a statistically significant improvement in both knowledge and skills (p = 0.000; p < 0.05), indicating that the educational intervention and demonstration effectively enhanced mothers' competence in choking management. Educational sessions combined with practical demonstrations were effective in improving mothers' preparedness to provide first aid for choking incidents in children. Similar community-based educational programs are recommended to be implemented continuously to strengthen community capacity in managing pediatric emergencies and to prevent child mortality resulting from delayed choking management.
PENDAMPINGAN KESIAPSIAGAAN BENCANA ERUPSI GUNUNG MELETUS MELALUI PENDEKATAN STORYTELLING MODEL BERBASIS KEARIFAN LOKAL PADA SISWA SDN 64 KOTA TERNATE: VOLCANIC ERUPTION DISASTER PREPAREDNESS ASSISTANCE THROUGH A LOCAL WISDOM-BASED STORYTELLING MODEL APPROACH FOR STUDENTS OF SDN 64 TERNATE CITY Rasdiyanah Muhlis; Fitri idrus; Amira BSA
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.494

Abstract

Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap bencana alam karena berada pada pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yaitu Pasifik, Eurasia, dan Indo-Australia, serta termasuk dalam kawasan Ring of Fire. Salah satu gunung api aktif yang berpotensi menimbulkan ancaman bencana adalah Gunung Gamalama di Kota Ternate, Maluku Utara. Anak usia sekolah merupakan kelompok rentan yang memerlukan peningkatan kapasitas pengetahuan kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kesiapsiagaan bencana erupsi Gunung Gamalama pada siswa melalui pendekatan storytelling berbasis kearifan lokal Ternate. Kearifan lokal yang digunakan mencakup narasi turun-temurun komunitas Ternate tentang cara bertahan saat erupsi Gunung Gamalama, yang dituangkan dalam booklet storytelling berHAKI. Kegiatan dilaksanakan di SDN 64 Kota Ternate yang berada di Kawasan Rawan Bencana (KRB) I dengan melibatkan 30 siswa kelas IV dan V sebagai peserta. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesiapsiagaan bencana menggunakan media booklet, pemutaran video animasi, diskusi interaktif, serta kegiatan storytelling yang mendorong siswa berbagi pengalaman dan pengetahuan lokal terkait bencana. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test menggunakan kuesioner 10 item untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan kesiapsiagaan bencana, dimana sebanyak 86,7% siswa mencapai kategori pengetahuan baik pada saat post-test, meningkat dari 16,7% pada saat pre-test. Pendekatan storytelling berbasis kearifan lokal berkontribusi dalam meningkatkan pemahaman siswa mengenai langkah-langkah tanggap darurat erupsi Gunung Gamalama. Abstract Indonesia is a country with a high level of vulnerability to natural disasters due to its location at the convergence of three major tectonic plates—Pacific, Eurasian, and Indo-Australian—and its position within the Ring of Fire. Gunung Gamalama in Ternate City, North Maluku, is one of the active volcanoes that poses a significant disaster threat. School-age children represent a vulnerable group that requires increased disaster preparedness capacity. This community service activity aimed to enhance students’ understanding of disaster preparedness and empathy skills through a local wisdom-based storytelling approach. The activity was conducted at SDN 64 Ternate City, located in a high-risk disaster zone (KRB I), involving 30 students from grades IV and V. Methods included disaster preparedness counseling using booklet media, animated video screening, interactive discussions, and storytelling sessions that encouraged students to share local knowledge and experiences related to disasters. Evaluation was conducted through pre-test and post-test assessments. Results demonstrated a significant improvement in students’ understanding, with 86.7% achieving the ‘good’ comprehension category in the post-test, compared to only 16.7% in the pre-test. The local wisdom-based storytelling approach proved effective in enhancing students’ understanding of emergency response procedures and building their readiness to face disaster situations.
UPAYA PENCEGAHAN MENTAL DISORDERS MELALUI SKRINING PERAN KELUARGA DAN EDUKASI MANAGEMENT KESEHATAN MENTAL PADA REMAJA: EFFORTS TO PREVENT MENTAL DISORDERS THROUGH FAMILY ROLE SCREENING AND MENTAL HEALTH MANAGEMENT EDUCATION IN ADOLESCENTS Erwin Yektiningsih; Novice Afnan El Fikry; Erni Rahmawati; M.Ikhwan Kosasih
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.500

Abstract

Abstrak Periode transisi remaja mengalami perubahan biologis, psikologis serta social yang pesat menuju ke dewasa cenderung menimbulkan tekanan tersendiri sebagai stressor yang rentan mengalami mental disorders, seperti kecemasan, penurunan prestasi akademik, masalah hubungan sosial, penyalahgunaan zat terlarang, depresi, hingga bunuh diri. Oleh karena itu, diperlukan sumber pendukung kesinkronan adekuat, dari sekolah sebagai tempat remaja menghabiskan banyak waktu maupun dari keluarga berperan menjaga stabilitas emosional. Tujuan pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini melakukan upaya pencegahan mental disorders melalui skrining kesehatan mental dan peran keluarga, serta memberikan edukasi mengenai manajemen kesehatan mental pada remaja di lingkungan sekolah. Metode kegiatan PKM menggunakan tiga tahap: perencanaan, implementasi dan evaluasi, meliputi survey lokasi, proposal, perijinan, menyusun media skrining kesehatan mental remaja berupa kuisioner masalah gangguan kejiwaan dan modefikasi lima tugas kesehatan mental keluarga, melakukan kegiatan skrining menggunkan kuisioner yang telah disusun, dilanjutkan dengan mengedukasi management kesehatan mental, kemudian mengevaluasi hasil skrining dan proses kegiatan. Hasil kegiatan ini menunjukkan hasil skrining kesehatan mental remaja di tingkat baik sebesar 72,73%, cukup sebesar 24,24% dan kurang sebesar 3,03%. Sedangkan hasil tingkat tugas keluarga kesehatan jiwa baik sebesar 48% dan cukup sebesar 52%. Adapun hasil edukasi manajemen kesehatan mental terbukti dapat meningkatkan pemahaman peserta. Kesimpulan kegiatan ini menunjukkan bahwa pencegahan mental disorder pada remaja di sekolah sebagai salah satu indikator kesejahteraan psikologis dapat dilakukan melalui skrining kesehatan mental serta edukasi secara intensif dan berkelanjutan. Upaya tersebut memerlukan pendekatan yang proaktif dan terstruktur, serta melibatkan koordinasi multipihak antara sekolah dan keluarga guna mencetak generasi bangsa yang unggul. Abstract Adolescence is a transitional period characterized by rapid biological, psychological, and social changes toward adulthood, which often create unique pressures as stressors that increase vulnerability to mental disorders, such as anxiety, declining academic achievement, social relationship problems, substance abuse, depression, and even suicide. Therefore, adequate and synchronized support systems are needed, both from schools, where adolescents spend much of their time, and from families, which play a crucial role in maintaining emotional stability The purpose service community was effort prevent mental disorders through mental health screening and family roles by providing mental health management education for adolescents in school environment. This activity method used three stages: planning, implementation, and evaluation, including location surveys, proposals, and permits; compiling adolescent mental health and screening media questionnaires for mental disorders; five family mental health task modifications; implementing screening used questionnaires and mental health management education; then evaluation of screening results and activity processes. The results showed adolescent mental health screening was at good level of 72.73%, moderate of 24.24% and poor of 3.03%. Meanwhile, the results family mental health tasks were good level of 48% and moderate of 52%. The mental health management education program improved participants' understanding. Conclusion, prevention disorders mental among adolescents in schools, as an indicator of psychological well-being, can be achieved through mental health screening and intensive, continuous educational efforts. Such initiatives require proactive and structured approaches, as well as multi-stakeholder coordination between schools and families to future generation.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG KEGAWATAN DIABETIK DI POSYANDU CEMPAKA DUSUN KEMENDUNG DESA SEKOTO KECAMATAN BADAS: HEALTH EDUCATION ABOUT DIABETIC EMERGENCIES AT THE CEMPAKA POSYANDU, KEMENDUNG HALL, SEKOTO VILLAGE, BADAS DISTRICT Zauhani Kusnul; Christianto Nugroho; Arecca Falya Laggan Augustien; Balqis Tsaqifa; Naura Deastefy; Shellen Amel Armeychea
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.501

Abstract

Kegawatan diabetik merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan memerlukan penanganan segera. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai tanda, gejala, serta pertolongan awal pada kondisi kegawatan diabetik dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kematian. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kegawatan diabetik melalui penyuluhan kesehatan di Posyandu Integrasi Layanan Primer (ILP) Cempaka dusun Kemendung, desa Sekoto, kecamatan Badas. Kegiatan dilaksanakan dengan metode ceramah interaktif, diskusi, dan tanya jawab yang melibatkan 60 peserta. Evaluasi dilakukan melalui penilaian proses dengan mengamati antusiasme dan keaktifan peserta selama kegiatan, serta evaluasi hasil melalui tanya jawab langsung untuk mengetahui pemahaman peserta terhadap materi yang disampaikan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta didominasi oleh perempuan (80%) dengan distribusi usia yang beragam, mulai dari 16 tahun hingga lebih dari 64 tahun. Kelompok usia terbanyak adalah 56–64 tahun (26,68%), diikuti usia 16–22 tahun (23,33%). Selama kegiatan berlangsung, peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi, aktif dalam diskusi, serta mampu menjawab pertanyaan terkait pengertian diabetes melitus, tanda dan gejala kegawatan diabetik, faktor risiko, dan langkah pertolongan awal. Temuan ini menunjukkan bahwa Posyandu ILP merupakan sarana yang efektif untuk penyelenggaraan pendidikan kesehatan berbasis masyarakat karena mampu menjangkau berbagai kelompok usia dan topik tentang kegawatan diabetik masih asing dan baru bagi masyarakat sehingga membutuhkan upaya lebih lanjut untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat tentang kegawatan diabetik. Abstract   Diabetic emergencies are life-threatening conditions that require immediate treatment. Lack of public knowledge regarding the signs, symptoms, and initial assistance for diabetic emergencies can increase the risk of complications and death. This community service activity aims to increase public understanding of diabetic emergencies through health education at the Integrated Primary Service Post (ILP) Cempaka, Kemendung hamlet, Sekoto village, Badas district. The activity was carried out using interactive lectures, discussions, and question and answer methods involving 60 participants. Evaluation was carried out through process assessment by observing the enthusiasm and activeness of participants during the activity, as well as evaluation of the results through direct question and answer to determine participants' understanding of the material presented. The results of the activity showed that participants were predominantly female (80%) with a diverse age distribution, ranging from 16 years to over 64 years. The largest age group was 56–64 years (26.68%), followed by 16–22 years (23.33%). During the activity, participants showed high enthusiasm, were active in discussions, and were able to answer questions related to the definition of diabetes mellitus, signs and symptoms of diabetic emergencies, risk factors, and first aid steps. These findings indicate that Posyandu ILP is an effective means for implementing community-based health education because it is able to reach various age groups and the topic of diabetic emergencies is still unfamiliar and new to the community, thus requiring further efforts to increase public knowledge and awareness about diabetic emergencies.
SOSIALISASI GIZI DALAM PENCEGAHAN GAGAL GINJAL AKUT PADA REMAJA BAGI SISWA PMR DI SMA NEGERI 1 PAPAR KABUPATEN KEDIRI: NUTRITION SOCIALIZATION IN PREVENTION OF ACUTE KIDNEY FAILURE IN ADOLESCENTS FOR PMR STUDENTS AT STATE SENIOR HIGH SCHOOL 1 PAPAR, KEDIRI DISTRICT Nurin Fauziyah; Ratna Feti Wulandari; Dwi Rahayu
Jurnal Abdimas Pamenang Vol. 4 No. 2 (2026): Jurnal Abdimas Pamenang - JAP
Publisher : STIKES Pamenang Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53599/jap.v4i2.504

Abstract

Abstrak Kesehatan merupakan salah satu aspek penting yang menjadi sendi kokohnya suatu bangsa serta menjadi modal dasar untuk penguatan kualitas sumber daya manusia. Penguatan derajat kesehatan menjadi salah satu pilar utama untuk keberlanjutan pembangunan suatu masyarakat, termasuk masyarakat di Kabupaten Kediri. Penyakit gagal ginjal merupakan penyebab kematian ke-10 di Indonesia yaitu 42.000 per tahun. Data medis terbaru menunjukkan lonjakan kasus gangguan fungsi ginjal yang signifikan pada kelompok usia remaja. Remaja memiliki perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak yang mempengaruhi status gizi dan menjadi faktor resiko penyakit tidak menular di masa depan. Rangkaian kegiatan ini dilaksanakan mulai pada tanggal 22 – 29 Mei 2026, yang diawali dengan tahapan persiapan (survey lapangan sampai perizinan), dan diakhiri dengan kegiatan evaluasi (monitoring dan evaluasi kinerja). Adapun pelaksanaan kegiatan bersama siswa ini dilaksanakan satu hari ditanggal 28 mei 2026.   Kegiatan ini memiliki tujuan untuk membekali anggota PMR di SMA Negeri I Papar Kabupaten Kediri, dengan pengetahuan komprehensif mengenai hubungan antara pola makan (gizi) dengan kesehatan ginjal. Pendekatan yang digunakan adalah partisipasif dengan sasaran sejumlah 27 siswa. Dari 27 siswa yang hadir, semuanya memperhatikan dan aktif dalam kegiatan. Metode yang digunakan dengan cara memberikan materi terkait bahaya penyakit gagal ginjal serta pencegahannya. Hasil akhir yang didapatkan adalah peningkatan pengetahuan remaja tentang perubahan perilaku jajanan yang berisiko, yaitu jajanan yang tinggi gula, garam dan lemak sebagai pemicu penyakit gagal ginjal. Melalui kegiatan ini, siswa PMR diharapkan mampu mengidentifikasi, menerapkan dan menyebarluaskan kepada teman-teman sebaya. Dengan kegiatan ini, didapatkan pengetahuan siswa yang meningkat dalam penerapan pola makan yang sehat dan bergizi seimbang untuk mencegah penyakit ginjal kronis dikemudian hari, sehingga remaja Indonesia menjadi remaja yang berkualitas. Kata kunci: Sosialisasi, Gizi, Gagal ginjal, Remaja.   Abstract Health is a crucial aspect that underpins the strength of a nation and serves as the foundation for strengthening the quality of human resources. Improving health is a key pillar for the sustainable development of any community, including those in Kediri Regency. Kidney failure is the tenth leading cause of death in Indonesia, with 42,000 deaths per year. Recent medical data shows a significant surge in cases of impaired kidney function among adolescents. Adolescents engage in risky snacking behaviors, particularly those high in sugar, salt, and fat, which impact nutritional status and pose a risk factor for non-communicable diseases in the future. This series of activities took place from May 22 to May 29, 2026, beginning with a preparatory phase (ranging from field surveys to obtaining permits) and concluding with an evaluation phase (performance monitoring and assessment). The specific session involving students was held on May 28, 2026. The activity aimed to equip members of the Red Cross Youth (PMR) at SMA Negeri 1 Papar, Kediri Regency, with comprehensive knowledge regarding the link between dietary habits (nutrition) and kidney health. A participatory approach was employed, targeting a group of 27 students; all attendees paid close attention and actively participated in the proceedings. The method involved presenting information on the dangers of kidney failure and strategies for its prevention. The outcome was an increase in the adolescents' knowledge regarding the need to change risky snacking habits—specifically, the consumption of snacks high in sugar, salt, and fat, which are known triggers for kidney failure. Through this initiative, PMR students are expected to be able to identify healthy practices, adopt them, and share this knowledge with their peers. Ultimately, the activity fostered greater student understanding of how to maintain a healthy, balanced diet to prevent chronic kidney disease later in life, thereby helping to cultivate high-quality Indonesian youth.  Keywords: Socialization, Nutrition, Kidney failure, Adolescents.

Page 11 of 12 | Total Record : 114