cover
Contact Name
Norbertus Marcell Prayogi
Contact Email
editor.jimki.bapin@gmail.com
Phone
+6281372545321
Journal Mail Official
editor@jimki.bapin.or.id
Editorial Address
Jl. Dr. G.S.S.Y. Ratulangi No. 29, Menteng, Jakarta Pusat 10350
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia
ISSN : 23026391     EISSN : 27211924     DOI : https://doi.org/10.53366/jimki
Core Subject : Health,
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia (JIMKI) adalah jurnal yang dikelola oleh Badan Analisis dan Pengembangan Ilmiah Nasional (BAPIN). JIMKI berfokus menjadi wadah untuk publikasi penelitian mahasiswa kedokteran.
Articles 326 Documents
Hubungan Antara Tingkat Aktivitas Fisik dengan Kekuatan Otot Genggaman Tangan Pada Mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Lampung Angkatan 2023 Malakiano, Rasya Diva Fatika
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.967

Abstract

Pendahuluan: Kekuatan otot genggaman tangan adalah parameter kesehatan yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Mahasiswa kedokteran merupakan populasi dengan risiko tinggi perilaku sedentari akibat tuntutan akademik. Metode: Penelitian ini menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan teknik total sampling pada 100 mahasiswi angkatan 2023 di FK Universitas Lampung. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan kuesioner Physical Activity Level (PAL) dan kekuatan otot genggaman tangan menggunakan dinamometer. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil: Partisipan (n=100) memiliki rerata usia 19,9 tahun. Mayoritas partisipan memiliki tingkat aktivitas fisik sedang (65%) dan kekuatan genggaman tangan sedang (74%). Ditemukan adanya korelasi positif yang sangat kuat dan signifikan secara statistik antara tingkat aktivitas fisik dan kekuatan otot genggaman tangan (r = 0.718; p < 0.001). Pembahasan: Temuan ini konsisten dengan prinsip adaptasi fisiologis spesifik terhadap latihan. Hasil ini mengindikasikan bahwa sistem neuromuskular beradaptasi secara spesifik terhadap tuntutan fungsional yang repetitif, seperti pada aktivitas olahraga yang dominan menggunakan tangan, sehingga berkontribusi pada peningkatan kapasitas fungsional pada area yang dilatih. Simpulan: Terdapat hubungan positif yang sangat kuat dan signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan kekuatan otot genggaman tangan pada mahasiswi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Lampung angkatan 2023.
Dampak Diabetes Melitus Tipe 2 Terhadap Fungsi Auditorik: Tinjauan Literatur Fatwa, Zahra Ramadhani; Imanto, Mukhlis; Larasati, Ratri Mauluti; Kurniawaty, Evi
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.968

Abstract

Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DM tipe 2) merupakan penyakit metabolik kronik yang ditandai oleh hiperglikemia akibat gangguan sekresi atau kerja insulin. Hiperglikemia kronik dapat menyebabkan komplikasi mikrovaskular dan neuropatik, termasuk pada sistem pendengaran. Tinjauan literatur ini bertujuan untuk mengeksplorasi mekanisme gangguan fungsi auditorik akibat DM tipe 2 dan meninjau bukti ilmiah mengenai hubungan antara DM tipe 2 dan gangguan fungsi auditorik. Metode: Tinjauan ini menggunakan pendekatan narrative review melalui penelusuran literatur pada PubMed, ScienceDirect, dan Google Scholar menggunakan kata kunci “type 2 diabetes mellitus”, “hearing loss”, dan “auditory function”. Artikel yang dipilih adalah publikasi lima tahun terakhir (2020–2025) yang relevan dengan topik. Pembahasan: DM tipe 2 dapat memengaruhi pendengaran melalui kerusakan mikrovaskular pada kapiler koklea, neuropati saraf auditori, stres oksidatif, dan akumulasi advanced glycation end products (AGEs). Mekanisme tersebut mengakibatkan disfungsi stria vaskularis, atrofi sel rambut koklea, serta gangguan transmisi impuls saraf. Beberapa penelitian menunjukkan adanya peningkatan risiko sensorineural hearing loss bilateral pada pasien DM tipe 2, terutama dengan kontrol glikemik buruk dan durasi penyakit lebih lama. Simpulan: DM tipe 2 berhubungan dengan gangguan fungsi pendengaran akibat mekanisme vaskular, neuropatik, dan oksidatif. Pemeriksaan audiometri rutin disarankan untuk deteksi dini disfungsi auditori sebagai bagian dari perawatan komprehensif pasien diabetes.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Status Hidrasi Pekerja PT.X Lampung Putra, Ruchpy Cahya; Winda Trijayanthi Utama; Anisa Nuraisa Jausal; Sutarto
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.972

Abstract

Latar Belakang: Iklim kerja panas merupakan risiko kesehatan okupasional signifikan yang dapat mengganggu termoregulasi dan menyebabkan dehidrasi. Kegagalan dalam mengganti cairan yang hilang akibat keringat berlebih dapat meningkatkan suhu inti tubuh dan memicu penyakit akibat panas. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan paparan iklim kerja panas, tingkat asupan cairan, dan status hidrasi di kalangan pekerja industri. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain cross-sectional ini dilakukan pada Agustus–November 2025 di departemen cannery, PT. X, Lampung. Sebanyak 100 pekerja berpartisipasi melalui random sampling. Data iklim kerja diukur menggunakan Heat Stress Monitor (ISBB/WBGT), asupan cairan diukur dengan kuesioner, dan status hidrasi dinilai secara objektif melalui Berat Jenis Urin (BJU) menggunakan refraktometer. Hasil: Mayoritas pekerja (80%, n=80) teridentifikasi terpapar iklim kerja panas di atas Nilai Ambang Batas (NAB). Terkait perilaku hidrasi, 41% pekerja (n=41) memiliki asupan cairan yang tidak adekuat (<2.000 ml/hari). Meskipun demikian, sebagian besar pekerja (62%, n=62) ditemukan memiliki status hidrasi normal (BJU <1.026), sementara 38% (n=38) teridentifikasi mengalami dehidrasi. Kesimpulan: Terdapat prevalensi dehidrasi yang substansial (38%) di lokasi penelitian. Temuan bahwa mayoritas pekerja terpapar panas tinggi (80%) namun mayoritas tetap terhidrasi (62%) menunjukkan kemungkinan peran protektif dari asupan cairan yang adekuat (ditemukan pada 59% pekerja) dan proses aklimatisasi panas. Intervensi kesehatan kerja harus difokuskan pada edukasi untuk memperkuat kebiasaan minum (faktor individu) guna mengatasi 38% pekerja yang masih dehidrasi. 
Bronkiektasis Pasca TB Paru dengan Infeksi Mikosis Paru Syazili Mustofa; Amanda Febby Febrina; Giska Tri Putri; Soraya Rahmanisa; Rizqun Nisa Afriyanti; Amanda Febby
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.976

Abstract

Pendahuluan: Bronkiektasis adalah pelebaran permanen saluran bronkial akibat peradangan kronis dan infeksi saluran napas yang berulang. Salah satu penyebab utama bronkiektasis adalah tuberkulosis paru, yang dapat menyebabkan pembentukan sekuel, dan infeksi. Mikosis paru juga berperan dalam patogenesis dan eksaserbasi bronkiektasis. Jamur seperti Candida albicans dan Aspergillus spp., yang memiliki potensi patogenik tinggi, sering ditemukan pada pasien bronkiektasis, terutama karena gangguan pembersihan mukosilier dan kemampuan jamur untuk menghindari pertahanan imun inang. Laporan kasus ini mengkaji patofisiologi, diagnosis, dan penatalaksanaan bronkiektasis terinfeksi pasca-TB dengan infeksi mikosis paru. Ilustrasi Kasus: Seorang laki-laki berusia 51 tahun datang dengan keluhan sesak napas dan batuk hilang timbul yang memberat dalam tiga hari terakhir, disertai penurunan berat badan dan nafsu makan. Riwayat menunjukkan TB Paru terkonfirmasi tahun 2024 dengan pengobatan OAT selama enam bulan. Pemeriksaan di RS Abdoel Moeloek menunjukkan bronkiektasis pasca-TB dengan infeksi jamur paru. Diskusi: Kerusakan paru pasca-TB memicu gangguan mukosilier yang mendukung kolonisasi jamur oportunistik. Hasil kultur menunjukkan infeksi Candida glabrata dan Acinetobacter baumannii. Terapi kombinasi antibiotik, antijamur, dan antiinflamasi memberikan respons klinis baik. Kasus ini menegaskan pentingnya diagnosis dini infeksi jamur pada bronkiektasis pasca TB untuk mencegah perburukan. Simpulan: Bronkiektasis pasca-TB meningkatkan risiko infeksi mikosis paru. Diagnosis cepat dan terapi tepat dapat memperbaiki kondisi klinis serta mencegah komplikasi lanjut  
Gambaran Kualitas Hidup Penderita Glaukoma Pada Kelompok Yang Dilakukan Atau Tidak Dilakukan Trabeculectomy Berdasarkan Visual Function Questionnaire (NEI-VFQ) Yesica Debora
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.982

Abstract

Pendahuluan: Glaukoma tidak hanya mempengaruhi fungsi lapang pandang tetapi kualitas hidup seseorang. Fungsi lapang pandang yang menurun mengakibatkan penurunan kualitas hidup. Target utama terapi dan pembedahan glaukoma adalah untuk mempertahankan bidang visual dan ketajaman visual, dan mempertahankan kualitas hidup serta kemandirian pasien. Maka dibutuhkan penilaian kualitas hidup penderita glaukoma baik yang sudah dan belum trabeculectomy. Metode: Diikuti oleh 54 pasien glaukoma primer tertutup atau terbuka disalah satu mata atau keduanya baik yang sudah atau belum trabeculectomy. Diambil dari data rekam medik menggunakan desain analitik cross sectional dengan teknik purposive sampling. Pasien memiliki hasil perimetri standard 24-2, dilakukan wawancara menggunakan NEI VFQ-25 versi Bahasa Indonesia. Hasil: Skoring kualitas hidup sudah trabeculectomy sedikit tinggi di beberapa susbkala. Skoring rerata pasien sudah trabeculectomy memiliki nilai yang lebih rendah. Korelasi sedang didapatkan antara VFI mata yang buruk untuk pasien belum trabeculectomy pada subskala : kesehatan umum, penglihatan umum, penglihatan jauh, fungsi sosial, kesehatan mental, penglihatan perifer dan skor rerata pasien (p<0.05). Pembahasan: Didapatkan skoring pasien yang menjalani terapi lebih tinggi dimana pasien yang menjalani keduanya memiliki skoring yang lebih rendah. Simpulan: Terdapat perbedaan skoring dan korelasi kualitas hidup penderita glaukoma baik yang sudah atau belum trabeculectomy dengan VFI mata yang buruk. 
Gambaran Gejala Klinis Pasien Human Immunodeficiency Virus di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung Periode Januari –Desember 2024 Santosa, Timothy Rooney
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.986

Abstract

Pendahuluan: Human Immunodeficiency Virus (HIV) masih menjadi masalah kesehatan global dengan beban penyakit tinggi, termasuk di Indonesia. Manifestasi klinis HIV bervariasi dari gejala ringan hingga berat dan menjadi indikator penting untuk menentukan stadium penyakit serta efektivitas terapi antiretroviral. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan jenis, frekuensi, dan distribusi gejala klinis pada pasien HIV di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Bandar Lampung periode Januari–Desember 2024. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data diperoleh dari rekam medis seluruh pasien HIV rawat jalan dan rawat inap selama tahun 2024 dengan teknik total sampling. Analisis dilakukan secara deskriptif untuk menampilkan karakteristik pasien serta distribusi jumlah dan jenis gejala klinis yang dialami, disajikan dalam bentuk tabel dan persentase. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien HIV di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek mengalami satu hingga empat gejala klinis, dan sebagian kecil tidak menunjukkan gejala. Gejala yang paling sering ditemukan adalah tuberkulosis paru, diikuti oleh tuberkulosis ekstraparu, pneumonia, toksoplasmosis sistem saraf pusat, dan dermatitis seboroik. Pembahasan: Hasil ini menunjukkan bahwa infeksi oportunistik seperti tuberkulosis dan toksoplasmosis masih menjadi manifestasi utama pada pasien HIV, sejalan dengan berbagai penelitian sebelumnya di negara berkembang. Simpulan: Penelitian ini menggambarkan gejala klinis yang dialami oleh pasien HIV di Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Abdul Moeloek, Bandar Lampung, selama periode Januari–Desember 2024, mencakup pasien rawat jalan maupun rawat inap. Penelitian ini juga menyoroti variasi jumlah gejala klinis yang dialami, yaitu antara satu hingga empat gejala. Keterbatasan penelitian ini terletak pada desainnya yang bersifat deskriptif serta penggunaan data rekam medis sekunder, sehingga tidak dapat menilai hubungan antara gejala klinis, status imunologis, dan kepatuhan terhadap terapi antiretroviral.
Cracking The Code: Bilateral Optic Disc Swelling  With Serous Retinal Detachment  As A Clue Of Vogt-koyanagi-harada Disease Saraswati, Sani Ratna; Aryawan, I Ketut
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.988

Abstract

Background: Vogt–Koyanagi–Harada disease (VKH) is a rare autoimmune disorder that attacks melanocyte-containing tissues, particularly the eyes, and can involve the central nervous system, hearing, and skin. VKH is one of the leading causes of non-infectious panuveitis in pigmented populations, and delayed diagnosis can lead to permanent visual impairment. Therefore, early detection and appropriate corticosteroid therapy are crucial to prevent long-term visual impairment. The purpose of this case report is to describe the clinical manifestations, supporting examinations, and response to high-dose corticosteroid therapy in a patient with suspected VKH disease. Case Illustration: A 39-year-old male presented with one week of progressive bilateral visual loss accompanied by fever, headache, and tinnitus. Examination revealed anterior chamber cells and flare, optic disc swelling, and serous retinal detachment. Optical coherence tomography confirmed subretinal fluid with septa formation. The patient was treated with high-dose intravenous methylprednisolone followed by oral tapering, resulting in significant visual improvement and stable recovery over one year. Conclusion: Early recognition of VKH disease and prompt initiation of high-dose corticosteroid therapy are crucial to control inflammation, prevent recurrences, and preserve long-term visual function.
Impact of BMI on Knee Osteoarthritis WOMAC Severity in Adults: A Cross-Sectional Study Rajanagara, Arya Satya; Amru, Basra Ahmad; Putra, Aditya; Djajawiguna, Hafidz Naeriansyah; Iqra, Mohammad Alief; Shafira, Syifa; Putra, ⁠I Putu Wirasatya Eka; Mangun, Dhea JRN
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.992

Abstract

Background: Knee osteoarthritis (OA) is a degenerative joint disease that most often causes pain and disability in adults and the elderly. Risk factors for OA progression include age, gender, physical activity, and body mass index (BMI). Increased BMI is known to contribute to increased mechanical load on the knee joint and trigger inflammation, which can exacerbate OA severity. Objective: To assess the relationship between body mass index (BMI) and the severity of knee osteoarthritis in adult patients. Methods: This is a cross-sectional analytical study conducted at Rheumatology Clinic of Dr. Soetomo General Hospital, Surabaya, in 2019. A total of 42 patients diagnosed with knee OA who met the inclusion and exclusion criteria were enrolled. OA severity was assessed using the WOMAC (Western Ontario and McMaster Universities Osteoarthritis Index) score, while BMI was calculated based on WHO standards and categorized into normal and high (overweight/obese). Analysis of the relationship between BMI and the severity of OA was carried out using the Fisher's Exact Test, with a p value < 0.05 considered significant. Results: Most patients with normal BMI had moderate-severe OA (77.8%), while patients with high BMI were more likely to have very severe OA (58.3%). Fisher's Exact Test showed a significant association between BMI and OA severity (p = 0.0285). Patients with high BMI were more likely to have very severe OA compared to patients with normal BMI (OR ? 4.9; 95% CI ? 1.1–21.5). Conclusion: There was a significant association between increasing BMI and the severity of knee osteoarthritis. These findings emphasize the importance of weight control as part of the prevention and management strategy for knee OA in adult patients.
Hubungan Kadar Trigliserida dengan Neutrophil Lymphocyte Ratio pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 di RS Anutapura Palu Pane, Marsamad Andriansyah
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.995

Abstract

Abstrak Pendahuluan: Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan gangguan metabolic kronik yang ditandai oleh resistensi insulin dan hiperglikemi. Kondisi ini sering diikuti dengan menigkatnya kadar trigliserida yang dapat memicu peroses inflamasi sistemik. neutrophil lymphocyte ratio (NLR) merupakan salah satu biomarker inflamasi yang dapat mencerminkan Tingkat peradangan pada DMT2. Peran trigliserida dengan NLR dalam proses inflamasi dan komplikasi sehingga dibuat penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan kadar trigliserda dengan neutrophil lymphocyte ratio pada pasien diabates melitus tipe 2. Metode: Desain penelitian menggunakan pendekatan deskriptif cross-sectional Dengan Pendekatan Menggunakan Research Method (Kunjungan Rumah Sakit). Data yang digunakan merupakan data sekunder dari rekam medis pasien. Hasil: Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan pada kadar trigliserida dengan neutrophil lymphocyte ratio (NLR) pada pasien diabetes melitus tipe 2. Semakin tinggi kadar trigliserida akan semakin tinggi nilai NLR. Pembahasan: Temuan ini memiliki Implikasi penting bagi penatalaksanaan pasien diabetes melitus tipe 2. Kadar trigliserida dan neutrophil lymphocyte ratio dapat dijadikan sebagai indikator untuk memantau risiko komplikasi kardiometabolik. Simpulan: Semakin tinggi kadar trigliserida maka semakin tinggi pula nilai NLR, sehingga hipertrigliseridemia berpotensi memperburuk inflamasi sistemik pada diabetes melitus tipe 2.
Clinical Manifestations, TSH and FT4 Levels During Initiation and Maintenance Therapy in Patients with Graves’ Disease at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, 2017–2022 Rahmat, Nia Aulia; Dinda Aprilia; Dian Pertiwi; Rudy Afriant; Elfira Yusri; Yustini Alioes
JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025)
Publisher : BAPIN-ISMKI (Badan Analisis Pengembangan Ilmiah Nasional - Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53366/jimki.v12i2.996

Abstract

Background: Graves’ disease is an autoimmune cause of hyperthyroidism marked by characteristic symptoms and abnormalities in TSH and FT4 levels. Management consists of an initial treatment phase followed by long-term maintenance, and variability in immune responsiveness may influence therapeutic outcomes. This study aimed to describe clinical manifestations and thyroid hormone profiles during initial and maintenance therapy among patients treated at Dr. M. Djamil General Hospital, Padang, from 2017 to 2022. Method: A descriptive cross-sectional design with total sampling was applied. Forty patients diagnosed with Graves’ disease were included. Clinical and laboratory variables were extracted from medical records, and univariate analysis was performed using SPSS v26. Results: The majority of patients were women aged 40–60 years. Palpitations were the most frequent symptom in both treatment phases, followed by excessive sweating, tremor, and exophthalmos. Treatment duration exceeded 24 months for the majority. Mean TSH increased from 0.11±0.17 µIU/mL in the initial phase to 0.62±1.03 µIU/mL during maintenance, while mean FT4 decreased from 47.09±32.79 pmol/L to 21.73±13.10 pmol/L. Discussion: The observed rise in TSH and decline in FT4 indicate biochemical improvement consistent with antithyroid drug responsiveness. The reduction in symptom frequency parallels hormonal stabilization, supporting the clinical utility of long-term therapy. The extended duration of treatment aligns with standard recommendations that emphasize sustained disease control to minimize the risk of relapse. Conclusion: Transition from initial to maintenance therapy was associated with symptomatic improvement and progressive normalization of thyroid function, emphasizing the importance of prolonged and well-supervised treatment in Graves’ disease.

Filter by Year

2012 2026


Filter By Issues
All Issue Vol 12 No 3 (2026): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.3 (2026) : Article i Vol 11 No 3 (2025): Vol. 11 No. 3 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 1 Vol 12 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.2 (2025) Vol 12 No 1 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 12.1 (2025) Vol 11 No 2 (2025): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 11.2 (2025) Book of Abstrack RCIMS 2025 Vol 11 No 1 (2024): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 11.1 (2024) Vol 10 No 3 (2024): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol. 10.3 2024 Vol 10 No 2 (2024): JIMKI (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia) Volume 10 Nomor 2 Periode O Vol 10 No 1 (2023): JIMKI (Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia) Volume 10 Nomor 1 Periode M Vol 9 No 3 (2022): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.3 Edisi Desember 202 Vol 8 No 3 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.3 Edisi September 20 Vol 9 No 2 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.2 Edisi Agustus - No Vol 9 No 1 (2021): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 9.1 Edisi Maret - Juli Vol 8 No 1 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.1 Edisi November 201 Vol 8 No 2 (2020): JIMKI: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 8.2 Edisi Maret - Agus Vol 7 No 2 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.2 Edisi Mei - Oktob Vol 7 No 1 (2019): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 7.1 Edisi Januari - A Vol 6 No 2 (2018): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 6.2 Edisi Oktober - D Vol 6 No 1 (2018): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Volume 6.1 Edisi April - Sep Vol 2 No 2 (2014): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 2 No 1 (2013): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 1 No 2 (2012): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia Vol 1 No 1 (2012): JIMKI : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Kedokteran Indonesia More Issue