cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 206 Documents
Preserving The Majapahit Cultural Heritage in Trowulan Through Innovative Indonesian Language Teaching Materials Nurul Kholifah; Sri Wahyuni; Abdul Rani
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4947.247-264

Abstract

This study aims to develop digital Indonesian language teaching materials incorporating Majapahit culture in Trowulan to strengthen junior high school students’ cultural literacy and character development. The study employed a Research and Development method using the 4D model (Define, Design, Develop, and Disseminate). The research subjects included Indonesian language teachers, junior high school students, and expert validators consisting of media experts and language/content experts. The research data comprised teacher and student needs analysis data, expert validation data, practicality test data, and effectiveness data. Data were collected through questionnaires, test, and validation sheets. Quantitative data were analyzed using SPSS, while qualitative data were analyzed descriptively to support interpretation. The results indicate that the developed digital teaching materials are valid based on expert evaluation and fall within the practical to very practical categories according to teacher and student responses. The materials demonstrate strengths in content relevance, ease of use, clarity of presentation, and integration of cultural values. Students also showed positive responses in terms of visual attractiveness, comprehension, and perceived usefulness. These findings suggest that integrating Majapahit culture into digital teaching materials supports contextual and meaningful Indonesian language learning. Therefore, the developed materials are feasible and effective as an alternative resource for culture-based learning aligned with the Merdeka Curriculum. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengembangkan materi ajar bahasa Indonesia digital yang menggabungkan budaya Majapahit di Trowulan untuk memperkuat literasi budaya dan pengembangan karakter siswa SMP. Penelitian menggunakan metode Penelitian dan Pengembangan menggunakan model 4D (Define, Design, Develop, and Disseminate). Subjek penelitian meliputi guru bahasa Indonesia, siswa SMP, dan validator ahli yang terdiri dari pakar media dan ahli bahasa/konten. Data penelitian terdiri dari data analisis kebutuhan guru dan siswa, data validasi ahli, data uji kepraktisan, dan data efektivitas. Data dikumpulkan melalui kuesioner, tes, dan lembar validasi. Data kuantitatif dianalisis menggunakan SPSS, sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif untuk mendukung interpretasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar digital yang dikembangkan valid berdasarkan evaluasi ahli dan termasuk dalam kategori praktis hingga sangat praktis sesuai respon guru dan siswa. Materi menunjukkan kekuatan dalam relevansi konten, kemudahan penggunaan, kejelasan penyajian, dan integrasi nilai-nilai budaya. Siswa juga menunjukkan respon positif dari segi daya tarik visual, pemahaman, dan kegunaan yang dirasakan. Temuan ini menunjukkan bahwa mengintegrasikan budaya Majapahit ke dalam bahan ajar digital mendukung pembelajaran bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna. Oleh karena itu, materi yang dikembangkan layak dan efektif sebagai sumber alternatif pembelajaran berbasis budaya yang selaras dengan Kurikulum Merdeka. 
Linguistic Capital and Symbolic Violence: A Phenomenological Analysis of Foreign Nationals in Indonesian Housing Nurul Huda; Engkus Kuswarno; Ilham Gemiharto
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4942.112-124

Abstract

Foreign nationals residing in Indonesian local housing face structural linguistic disadvantages that existing second language acquisition literature has largely overlooked, particularly in non-institutional everyday settings. This study aims to analyze how linguistic capital and symbolic violence operate in shaping the identity reconstruction of foreign nationals within an Indonesian residential context. This research employs a critical phenomenological approach integrating Bourdieu’s linguistic capital theory with Schutz’s social phenomenology. Data were drawn from semi-structured in-depth interviews (60–90 minutes) with six foreign nationals residing at Easton Park Apartment, Jatinangor, representing diverse linguistic backgrounds (Kenya, China, Pakistan, England, Ethiopia, and Bangladesh), as well as the apartment manager. Data were collected through purposive and maximum variation sampling, then analyzed through phenomenological reduction combined with critical discourse analysis. Findings reveal that linguistic identity awareness emerges through systematic communicative breakdown across phonological, morphosyntactic, and pragmatic dimensions. Foreign nationals deploy four adaptive strategies: technological mediation, gestural compensation, practical mimesis, and code-switching. These strategies, how-ever, operate within asymmetrical power relations that produce symbolic violence through the systematic misrecognition of non-native competence—a condition this study terms “linguistic precarity.” Identity reconstruction unfolds across four temporal phases, from existential disorientation to hybrid linguistic integration, yet competence remains situationally fragile. Critically, the study exposes institutional linguistic violence through the complete absence of linguistic support structures at the residential level, forcing individualized adaptation without systemic scaffolding. These findings carry significant implications for housing policy, institutional linguistic justice, and critical language pedagogy, calling for multilingual support systems that recognize linguistic diversity as a communal resource rather than an individual deficiency. AbstrakWarga negara asing yang tinggal di hunian lokal Indonesia menghadapi ketimpangan linguistik struktural yang selama ini kurang mendapat perhatian dalam literatur pemerolehan bahasa kedua, khususnya dalam konteks keseharian di luar institusi formal. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana modal linguistik dan kekerasan simbolik beroperasi dalam membentuk rekonstruksi identitas warga negara asing di lingkungan hunian Indonesia. Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi kritis yang mengintegrasikan teori modal linguistik Bourdieu dengan fenomenologi sosial Schutz. Data diperoleh melalui wawancara mendalam semi-terstruktur (60–90 menit) dengan enam warga negara asing yang bermukim di Easton Park Apartment, Jatinangor, yang mewakili latar belakang linguistik beragam (Kenya, Cina, Pakistan, Inggris, Ethiopia, dan Bangladesh), serta pengelola apartemen. Pengumpulan data dilakukan melalui purposive sampling dengan variasi maksimum, kemudian dianalisis menggunakan reduksi fenomenologis yang dipadukan dengan analisis wacana kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran identitas linguistik muncul melalui kegagalan komunikatif sistematis yang meliputi dimensi fonologis, morfosintaktis, dan pragmatis. Warga asing menerapkan empat strategi adaptif: mediasi teknologi, kompensasi gestural, mimesis praktis, dan alih kode. Namun, strategi-strategi ini beroperasi dalam relasi kuasa yang asimetris dan melahirkan kekerasan simbolik melalui salah pengakuan (misrecognition) kompetensi non-penutur asli—kondisi yang dalam penelitian ini disebut sebagai “prekaritas linguistik.” Rekonstruksi identitas berlangsung melalui empat fase temporal, dari disorientasi eksistensial hingga integrasi linguistik hibrida, namun kompetensi yang dicapai tetap bersifat situasional dan rentan. Secara kritis, penelitian ini mengungkap kekerasan linguistik institusional melalui ketiadaan total dukungan linguistik di tingkat hunian, yang memaksa warga asing menjalani adaptasi secara individual tanpa dukungan terstruktur. Temuan ini memiliki implikasi signifikan bagi kebijakan perumahan, keadilan linguistik institusional, dan pedagogi bahasa kritis, dengan mendesak penerapan sistem dukungan multibahasa yang mengakui keragaman linguistik sebagai sumber daya kolektif, bukan beban yang harus ditanggung sendiri oleh individu.
Dampak Penggunaan Teknologi Artificial Intelligence (Ai) terhadap Perilaku Belajar di Perguruan Tinggi Nisma Nisma; Ramly Ramly; Ambo Dalle
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4953.315-328

Abstract

The development of Artificial Intelligence (AI) technology has brought significant changes to learning in higher education, particularly in how students acquire information and complete academic tasks. The increasing intensity of AI usage has the potential to influence students’ learning behavior. This study aims to examine the effect of AI usage on students’ learning behavior in higher education using a mixed-method approach. Quantitative data were collected through questionnaires administered to 104 students from various public and private universities in South Sulawesi using purposive sampling techniques. Meanwhile, qualitative data in the form of open-ended responses were analyzed using content analysis to identify diction patterns reflecting cognitive and affective engagement. The research instrument was tested for content validity, empirical validity, and reliability. Data were analyzed using descriptive and inferential statistics. The prerequisite test results indicated that the data did not meet the assumption of linearity; therefore, hypothesis testing was conducted using Spearman Rank correlation. The findings reveal a significant effect of AI usage on students’ learning behavior, with a significance value of 0.00 (p ≤ 0.05). In addition, variations in students’ levels of dependence on AI were identified, ranging from low to high, each having different impacts on the learning process. These results emphasize the importance of using AI wisely to support learning independence and strengthen students’ critical thinking skills. AbstrakPerkembangan teknologi Artificial Intelligence (AI) telah membawa perubahan signifikan dalam pembelajaran di pendidikan tinggi, khususnya dalam cara mahasiswa memperoleh informasi dan menyelesaikan tugas akademik. Intensitas penggunaan AI yang semakin meningkat berpotensi memengaruhi perilaku belajar mahasiswa. Penelitian ini bertujuan mengkaji pengaruh penggunaan AI terhadap perilaku belajar mahasiswa di perguruan tinggi dengan pendekatan mixed-method. Data kuantitatif dikumpulkan melalui angket terhadap 104 mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di Sulawesi Selatan menggunakan teknik purposive sampling. Adapun data kualitatif berupa respons terbuka dianalisis melalui teknik analisis isi untuk mengungkap pola diksi yang mencerminkan keterlibatan kognitif dan afektif. Instrumen penelitian telah melalui uji validitas isi, validitas empiris, dan reliabilitas. Analisis dilakukan dengan statistik deskriptif serta inferensial. Hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data tidak memenuhi asumsi linieritas, sehingga pengujian hipotesis dilakukan menggunakan korelasi Spearman Rank. Hasil uji prasyarat menunjukkan bahwa data tidak memenuhi asumsi linieritas, sehingga pengujian hipotesis menggunakan korelasi Spearman Rank. Temuan penelitian menunjukkan adanya pengaruh signifikan penggunaan AI terhadap perilaku belajar mahasiswa dengan nilai signifikansi 0,00 (p ≤ 0,05). Selain itu, teridentifikasi variasi tingkat ketergantungan mahasiswa terhadap AI, mulai dari rendah hingga tinggi, yang masing-masing berdampak berbeda terhadap proses belajar. Hasil ini menegaskan pentingnya pemanfaatan AI secara bijak untuk mendukung kemandirian belajar dan penguatan kemampuan berpikir kritis mahasiswa.
Banalities in Kelong Makassar Asis Nojeng; Sakaria Sakaria; Nur Hasbi
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4955.193-206

Abstract

This study aims to analyze the phenomenon of banality in Makassar kelong, namely the tendency of degradation of meaning due to commercialization, use outside its original cultural context, and the influence of digital media in its distribution. The research method used is a qualitative approach. This research was conducted from May to December 2025. The data sources for this study consist of primary and secondary data. Data collection techniques used are literature study, documentation, observation, data transcription, and data classification. Meanwhile, data analysis is carried out using data reduction techniques, data presentation, and drawing conclusions, then the final stage is data validity. The results of the study show that banality in Makassar kelong occurs in several forms, such as simplification of meaning, adaptation that eliminates philosophical values, and dissemination through social media that tends to prioritize entertainment aspects over cultural substance. This phenomenon shows that kelong is no longer only part of a sacred oral tradition, but has also undergone a transformation into a pragmatic popular cultural product. This study provides a theoretical contribution to the field of oral literature by combining semiotics and banality. These findings serve as a reflection to preserve kelong so that it does not lose its depth of meaning in more modern cultural flows. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena banalitas dalam kelong Makassar, yaitu kecenderungan degradasi makna akibat komersialisasi, penggunaan di luar konteks budaya aslinya, serta pengaruh media digital dalam persebarannya. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Penelitian ini dilakukan dalam rentang waktu Mei hingga Desember 2025. Sumber data penelitian ini terdari dari data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah studi pustaka, dokumentasi, observasi, transkripsi data, dan klasifikasi data,. Sementara itu, analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penariksan kesimpulan, kemudian tahap akhir adalah keabsahan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banalitas dalam kelong Makassar terjadi dalam beberapa bentuk, seperti simplifikasi makna, adaptasi yang menghilangkan nilai filosofis, serta penyebaran melalui media sosial yang cenderung mengutamakan aspek hiburan dibandingkan substansi budaya Fenomena ini menunjukkan bahwa kelong tidak lagi hanya menjadi bagian dari tradisi lisan yang sakral, tetapi juga mengalami transformasi menjadi produk budaya populer yang bersifat pragmatis. Penelitian ini memberikan kontribusi teoretis dalam bidang sastra lisan dengan memadukan semiotika dan banalitas. Hasil temuan ini berfungsi sebagai refleksi untuk melestarikan kelong agar tidak kehilangan kedalaman maknanya dalam arus budaya yang lebih modern.
Membaca Ulang Ande-Ande Lumut: Folklor sebagai Identitas Kolektif dan Kontrol Sosial Aprilia Lailatunnuryah; Setya Yuwana; Rakmat Faisal; Basori Basori; Winci Firdaus
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4815.53-65

Abstract

This study aims to dissect the sociological and psychological dimensions of the Ande-Ande Lumut folktale through a compilation of William R. Bascom's functionalism theory and Alan Dundes's psychoanalytic expression theory. The method used in this study is descriptive qualitative with a library study approach. Data collection techniques were carried out through documentation of Ande-Ande Lumut narrative texts from various written sources. Data analysis techniques used content analysis methods that integrate narrative units into Bascom's four folklore functions and symbolic identification based on Dundes's mental image theory. The results of the study indicate that the Ande-Ande Lumut narrative operates as an effective instrument of social control in upholding norms of loyalty and traditional morality in Javanese society. Psychoanalytically, the characters of Klenting Kuning and Yuyu Kangkang are found to be forms of collective identity projection that express the tension between inner desires and social boundaries (ego and superego). This study concludes that Ande-Ande Lumut is not merely entertainment, but a cultural mechanism that maintains social stability while also serving as a channel for sublimation for the psychological aspirations of its community. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk membedah dimensi sosiologis dan psikologis cerita rakyat Ande-Ande Lumut melalui kompilasi teori fungsionalisme William R. Bascom dan teori ekspresi psikoanalitik Alan Dundes. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi teks narasi Ande-Ande Lumut dari berbagai sumber tertulis. Teknik analisis data menggunakan metode analisis isi yang mengintegrasikan unit-unit naratif ke dalam empat fungsi folklor Bascom dan identifikasi simbolis berdasarkan teori citra mental Dundes. Hasil penelitian menunjukkan bahwa narasi Ande-Ande Lumut beroperasi sebagai instrumen kontrol sosial yang efektif dalam menegakkan norma kesetiaan dan moralitas tradisional di masyarakat Jawa. Secara psikoanalitik, tokoh Klenting Kuning dan Yuyu Kangkang ditemukan sebagai bentuk proyeksi identitas kolektif yang mengekspresikan ketegangan antara hasrat batiniah dengan batasan sosial (ego dan superego). Penelitian ini menyimpulkan bahwa Ande-Ande Lumut bukan sekadar hiburan, melainkan sebuah mekanisme budaya yang menjaga stabilitas sosial sekaligus menjadi saluran sublimasi bagi aspirasi psikologis masyarakat pemiliknya.
Cover Depan Juni 2026 Cover Depan
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.5083.%p

Abstract

English Job Interview Analysis in the Hospitality Industry: Human Resource Professionals’ Prefer-ences Putu Ayu Prabawati Sudana; Made Aryawan Adijaya
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4954.265-279

Abstract

A job interview is a significant factor in the recruiting and selection process, particularly in the hospitality sector, where English is widely spoken. Despite their importance, there are only a few empirical research works dedicated to English job interviews in the hospitality environment. This study aims to examine the nature of job interviews in the hospitality industry based on human resource (HR) practitioners in terms of interview preparation, interview types, interview type questions, evaluation of the candidates, and interview etiquette. A qualitative research strategy was employed with 20 HR professionals in Bali through a validated questionnaire and semi-structured interviews. The findings show structured interviews are the most preferred type of interviews, followed by unstructured and behavioural interviews, respectively. Some of the most significant measured competencies are problem-solving, leadership, interpersonal, adaptability, and personal qualities. In addition to that, HR professionals emphasize professional interview etiquette, which involves punctuality, good appearance, attitude, and honesty. This study concludes that interviews are to be combined with other selection methods, which will lead to a more profound assessment of the applicants. These findings are applicable to the English for Specific Purposes (ESP), particularly in developing English job interview instructional materials for hospitality students.AbstrakWawancara kerja merupakan faktor penting dalam proses rekrutmen dan seleksi, terutama di sektor hospitality di mana bahasa Inggris banyak digunakan. Meskipun penting, hanya sedikit penelitian empiris yang fokus pada wawancara kerja dalam bahasa Inggris di lingkungan perhotelan. Studi ini bertujuan untuk menganalisis wawancara kerja di industri perhotelan berdasarkan persepsi praktisi sumber daya manusia (SDM) dalam hal persiapan wawancara, jenis wawancara, pertanyaan dalam wawancara, evaluasi calon, dan etika wawancara. Strategi penelitian kualitatif diterapkan dengan melibatkan 20 profesional SDM di Bali melalui kuesioner yang telah tervalidasi dan wawancara semi-terstruktur. Temuan menunjukkan bahwa wawancara terstruktur adalah jenis wawancara yang paling disukai, diikuti oleh wawancara tidak terstruktur dan wawancara perilaku. Beberapa kompetensi yang paling signifikan yang diukur meliputi pemecahan masalah, kepemimpinan, interpersonal, adaptabilitas, dan kualitas pribadi. Selain itu, praktisi SDM menekankan etika wawancara profesional, yang meliputi ketepatan waktu, penampilan yang baik, sikap, dan kejujuran. Studi ini menyimpulkan bahwa wawancara harus dikombinasikan dengan metode seleksi lain, yang akan menghasilkan penilaian yang lebih mendalam terhadap calon karyawan. Temuan ini berlaku untuk Bahasa Inggris untuk Tujuan Khusus (ESP), khususnya dalam pengembangan materi instruksional wawancara kerja dalam bahasa Inggris untuk mahasiswa perhotelan.
Makna Semantik dalam Mantra dan Doa Laut Nelayan Bajau di Pulau Maratua Nina Queena Hadi Putri; Widyatmike Gede Mulawarman; Taqdiraa Taqdiraa
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4910.125-146

Abstract

This study aims to analyze the semantic meanings embedded in the sea mantras and prayers of the Bajau community on Maratua Island, Berau Regency, East Kalimantan, and to reveal their ethnolinguistic implications for the belief system and worldview of the Bajau maritime society. This research employed a qualitative approach with an ethnolinguistic design. The data, consisting of sea mantras and prayer utterances, were collected through participant observation, in-depth interviews, and documentation. Data analysis was conducted interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing, focusing on the identification of semantic fields, the analysis of lexical, connotative, and symbolic meanings, as well as the interpretation of metaphors and natural symbolism from semantic and ethnolinguistic perspectives. The findings reveal five major semantic fields, namely sea and nature, religiosity/Islam, safety, livelihood, and kinship. The Bajau ritual language contains complex layers of meaning through the use of metaphors and natural symbolism, such as the sea as an ancestor, the boat as a home, and water as a symbol of life and blessing. The study also shows a syncretism between Islamic teachings and local traditions in Bajau ritual practices. From an ethnolinguistic perspective, the mantras and sea prayers represent the Bajau cosmology that positions the sea as the center of life, a source of livelihood, a spiritual space, and a symbolic kinship entity that must be respected. This study confirms that ritual language functions not only as a medium of spiritual communication, but also as a representation of cultural identity, value systems, and the ecological relations of maritime communities. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis makna semantik dalam mantra dan doa laut masyarakat Bajau di Pulau Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, serta mengungkap implikasi etnolinguistiknya terhadap sistem kepercayaan dan pandangan dunia masyarakat maritim Bajau. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain etnolinguistik. Data berupa tuturan mantra dan doa laut dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan dengan fokus pada identifikasi medan makna, analisis makna leksikal, konotatif, dan simbolik, serta interpretasi metafora dan simbolisme alam berdasarkan perspektif semantik dan etnolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya lima medan makna utama, yaitu laut dan alam, religius/Islam, keselamatan, rezeki, dan kekerabatan. Bahasa ritual Bajau mengandung lapisan makna yang kompleks melalui penggunaan metafora dan simbolisme alam, seperti laut sebagai leluhur, perahu sebagai rumah, dan air sebagai simbol kehidupan serta keberkahan. Temuan penelitian juga menunjukkan adanya sinkretisme antara ajaran Islam dan tradisi lokal dalam praktik ritual masyarakat Bajau. Secara etnolinguistik, mantra dan doa laut merepresentasikan kosmologi masyarakat Bajau yang menempatkan laut sebagai pusat kehidupan, sumber rezeki, ruang spiritual, dan kerabat simbolik yang harus dihormati. Penelitian ini menegaskan bahwa bahasa ritual tidak hanya berfungsi sebagai media komunikasi spiritual, tetapi juga sebagai representasi identitas budaya, sistem nilai, dan relasi ekologis masyarakat maritim.
Transformasi Nilai Siri' Na Pacce dalam Sastra Digital: Kritik Sastra Interdisipliner Maria Ulviani; Siti Suwadah Rimang; Haslinda Haslinda; Ruhaliah Ruhaliah
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4995.355-366

Abstract

This study aims to analyze the representation and transformation of Siri’ na Pacce values in digital literature through the perspective of interdisciplinary literary criticism. The research employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach because the object of study consists of digital literary texts containing cultural representation, social identity, and meaning transformation within digital media contexts. The research data comprise 12 digital literary texts, including digital short stories, online poetry, and literary narratives on social media platforms published between 2020 and 2025. Data collection techniques were conducted through documentation studies and digital tracing using keywords related to Siri’ na Pacce, digital literature, and Bugis-Makassar culture. Data analysis employed content analysis, social semiotics, and hermeneutic interpretation by integrating perspectives from literary studies, cultural studies, and digital media. The findings reveal that Siri’ na Pacce values continue to be represented in digital literature, although they experience transformations in meaning due to the influence of digital culture and social media. The value of siri’, which traditionally emphasized collective honor, shifts toward representations of personal identity and digital existence, while pacce transforms from direct social solidarity into virtual empathy expressed through online interactions. In addition, digital literature presents cultural representations that are more multimodal, interactive, and contextual than conventional literature. This study demonstrates that local wisdom is dynamic and adaptable to technological developments. Therefore, digital literature functions not only as a medium of contemporary literary expression but also as a space for reinterpretation and preservation of local cultural identity in a global society. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis representasi dan transformasi nilai Siri’ na Pacce dalam sastra digital melalui perspektif kritik sastra interdisipliner. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis karena objek kajian berupa teks sastra digital yang mengandung representasi budaya, identitas sosial, dan transformasi makna dalam konteks media digital. Data penelitian berupa 12 teks sastra digital yang terdiri atas cerpen digital, puisi daring, dan narasi sastra media sosial yang dipublikasikan pada berbagai platform digital periode 2020–2025. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dan penelusuran digital (digital tracing) dengan menggunakan kata kunci yang berkaitan dengan Siri’ na Pacce, sastra digital, dan budaya Bugis-Makassar. Analisis data menggunakan teknik analisis isi (content analysis), semiotika sosial, dan interpretasi hermeneutik dengan mengintegrasikan perspektif sastra, studi budaya, dan media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Siri’ na Pacce tetap direpresentasikan dalam sastra digital, tetapi mengalami transformasi makna akibat pengaruh budaya digital dan media sosial. Nilai siri’ yang sebelumnya berorientasi pada kehormatan kolektif berubah menjadi representasi identitas personal dan eksistensi digital, sedangkan nilai pacce mengalami pergeseran dari solidaritas sosial langsung menjadi empati virtual melalui interaksi daring. Selain itu, sastra digital menghadirkan bentuk representasi budaya yang lebih multimodal, interaktif, dan kontekstual dibandingkan sastra konvensional. Penelitian ini menunjukkan bahwa kearifan lokal bersifat dinamis dan adaptif terhadap perkembangan teknologi digital. Dengan demikian, sastra digital tidak hanya menjadi media ekspresi sastra kontemporer, tetapi juga menjadi ruang reinterpretasi dan pelestarian identitas budaya lokal dalam masyarakat global.
Reproduksi Patriarki dan Resistensi Perempuan dalam Konteks Sosial Novel Gadis Kretek Karya Ratih Kumala Maya Dewi Kurnia; M. Fathur Rohman; Rustono Rustono; Hari Bakti
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4938.207-216

Abstract

This study is about the reproduction of patriarchy and women's resistance in the social context dimension of the novel Gadis Kretek by Ratih Kumala using the Critical Discourse Analysis (AWK) approach of Teun A. Van Dijk. The aim of the research is to uncover how patriarchal discourse is reproduced and how women's resistance is constructed through the structure of the social context that underlies the text. The method used is qualitative with a critical discourse analysis approach. The data source is in the form of the discourse of the novel Gadis Kretek, with data in the form of discourse that contains patriarchy and women's resistance. The results show that patriarchal reproduction in the novel operates through four mechanisms: (1) dominant ideologies protected by colonial class hierarchies, (2) stigmatization of independent women in the social order, (3) patrilineal hegemony that is naturalized through everyday practice, and (4) systemic marginalization through subtle neglect. Meanwhile, women's resistance exists through two paradoxical paths: patriarchal capitalism in the kretek industry that opens up private access to the public economic space, and the historicity of the kretek industry that provides a collective precedent for women's leadership. AbstrakStudi ini mengenai reproduksi patriarki dan resistensi perempuan dalam dimensi konteks sosial novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis (AWK) Teun A. Van Dijk. Tujuan penelitian adalah mengungkap wacana patriarki direproduksi dan bagaimana resistensi perempuan dikonstruksi melalui struktur konteks sosial yang melatarbelakangi teks. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan analisis wacana kritis. Sumber data berupa wacana novel Gadis Kretek, dengan data berupa penggalan wacana yang memuat patriarki dan resistensi perempuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa reproduksi patriarki dalam novel beroperasi melalui empat mekanisme: (1) ideologi dominan yang dilindungi hierarki kelas kolonial, (2) stigmatisasi perempuan mandiri dalam tatanan sosial, (3) hegemoni patrilineal yang dinaturalisasi melalui praktik keseharian, dan (4) marginalisasi sistemik melalui pengabaian halus. Sementara itu, resistensi perempuan hadir melalui dua jalur paradoks: kapitalisme patriarkal dalam industri kretek yang membuka akses perempuan ke ruang ekonomi publik, dan historisitas industri kretek yang menyediakan preseden kolektif bagi kepemimpinan perempuan.