cover
Contact Name
Komang Wisnanda
Contact Email
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnalaksarakonfirmasi@gmail.com
Editorial Address
Jalan Trengguli I Nomor 34 Denpasar Timur, Bali 80238
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Aksara
ISSN : 08543283     EISSN : 25800353     DOI : 10.29255/aksara
Aksara is a journal that publishes results of literary studies researches, either Indonesian, local, or foreign literature. All articles in Aksara have passed the reviewing process by peer reviewers and edited by editors. Aksara is published by Balai Bahasa Bali twice a year, June and December. Aksara was first published in Denpasar in 1991, by Balai Penelitian Bahasa Denpasar. The name of Aksara had undergone the following changes: Aksara (1991—1998), Aksara Jurnal Bahasa dan Sastra (1998—2016), and Aksara (2017). By 2017, Aksara has started to publish in electronic version under the name of Aksara. Since the electronic version should refer to the printed version and following the official document SK 0005.25800353/JI.3.1/SK.ISSN/2017.05 dated May 20th, 2017 stating that ISSN 0854-3283 printed version uses the (only) name of Aksara, in 2017 the electronic version began to use the name Aksara and obtained a new e-ISSN number: 2580-0353. Starting in 2020, Aksara published 12 articles. Aksara accepts submissions of original articles that have not been published elsewhere nor being considered or processed for publication anywhere, and demonstrate no plagiarism whatsoever. The prerequisites, standards, and format of the manuscript are listed in the author guidelines and templates. Any accepted manuscript will be reviewed by at least two referees. Authors are free of charge throughout the whole process, including article submission, review and editing process, and publication.
Articles 206 Documents
Eksplorasi Makna dan Nilai dalam Puisi Mantra Bakbrung Hariang Banga Yessi Hermawati; Yayat Sudaryat; Retty Isnendes; Usep Kuswari; Dede Kosasih
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4934.66-81

Abstract

This study aims to analyze the meaning of the Bakbrung Hariang Banga mantra poem using the pancacuriga approach and to examine its implications for character development in the eight-dimensional graduate profile. Research data were collected through observation, interviews, and documentation of mantra poems from the Cigugurgirang Village community. Data analysis was conducted qualitatively using the pancacuriga semiotic method, which includes five elements of interpretation: silib, sindir, symbol, siloka, and sasmita. The results show that each element of pancacuriga manifests religious, moral, social, and cultural values that are rich in meaning in the mantra poem text. These findings also reveal the connection between the symbolic meaning of mantra poetry and the dimensions of faith, critical reasoning, independence, and communication in the profile of deep learning graduates. The main contribution of this research is the development of the pancacuriga semiotic analysis approach as a comprehensive method in oral literature studies as well as an ethnopedagogical medium for character education based on local wisdom. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna puisi mantra Bakbrung Hariang Banga menggunakan pendekatan pancacuriga serta mengkaji implikasinya terhadap pengembangan karakter dalam profil lulusan delapan dimensi. Data penelitian dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi teks puisi mantra dari masyarakat Desa Cigugurgirang. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan metode semiotik pancacuriga yang meliputi lima unsur interpretasi: silib, sindir, simbol, siloka, dan sasmita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masing-masing unsur pancacuriga memanifestasikan nilai-nilai religius, moral, sosial, dan kultural yang kaya makna dalam teks puisi mantra. Temuan ini juga mengungkap keterkaitan makna simbolik puisi mantra dengan dimensi keimanan, penalaran kritis, kemandirian, dan komunikasi dalam profil lulusan pembelajaran mendalam. Kontribusi utama penelitian ini adalah pengembangan pendekatan analisis semiotik pancacuriga sebagai metode yang komprehensif dalam kajian sastra lisan sekaligus sebagai media etnopedagogik untuk pendidikan karakter berbasis kearifan lokal.
Interdependent Cultural and Postcolonial Readings of Violence in Chinua Achebe’s Things Fall Apart Doni Efrizah; Purwarno Purwarno; Indah Sari; Nurbaiti Ali; Eka Surya Fitriani
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4961.280-293

Abstract

Existing scholarship on Things Fall Apart tends to examine indigenous and colonial forms of violence as separate analytical domains, leaving their interconnections underexplored. This study aims to analyze how domestic, ritual, ideological, and structural forms of violence operate as an interdependent system within the novel. Employing a descriptive–interpretive qualitative approach, the study draws on 42 purposively selected textual excerpts from the 2000 edition of the novel. Data were collected through textual documentation and analyzed using close reading and thematic coding informed by postcolonial and gender theory. The findings reveal that violence in the novel operates as a recursive and multi-layered system. Internally sanctioned forms of violence, particularly patriarchal control and culturally legitimized practices, sustain social order while simultaneously generating structural vulnerabilities. These vulnerabilities are subsequently exploited by colonial forces through ideological delegitimization and institutional domination, indicating a shift from physical toward epistemic and symbolic forms of violence. Acts of resistance, although grounded in indigenous moral logic, produce ambivalent outcomes by restoring symbolic authority while provoking intensified repression. These results demonstrate that violence in Things Fall Apart functions as a cyclical and mutually reinforcing process across personal, cultural, and political domains. The study contributes by offering an integrated analytical framework that bridges postcolonial and gender perspectives, while highlighting the novel’s relevance for understanding cultural resilience, identity reconstruction, and the ethical complexities of resistance in postcolonial contexts. Abstrak Kajian-kajian sebelumnya pada Things Fall Apart cenderung meneliti bentuk-bentuk kekerasan pribumi dan kolonial sebagai domain analitis yang terpisah, sehingga keterkaitannya kurang dieksplorasi. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana bentuk-bentuk kekerasan domestik, ritual, ideologis, dan struktural beroperasi sebagai sistem yang saling bergantung dalam novel tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif-interpretatif, studi ini mengambil 42 kutipan teks yang dipilih secara purposif dari edisi novel tahun 2000. Data dikumpulkan melalui dokumentasi tekstual dan dianalisis menggunakan pembacaan cermat dan pengkodean tematik yang didasarkan pada teori pascakolonial dan gender. Temuan menunjukkan bahwa kekerasan dalam novel beroperasi sebagai sistem rekursif dan berlapis-lapis. Bentuk-bentuk kekerasan yang disetujui secara internal, khususnya kontrol patriarki dan praktik-praktik yang dilegitimasi secara budaya, mempertahankan tatanan sosial sekaligus menghasilkan kerentanan struktural. Kerentanan ini kemudian dieksploitasi oleh kekuatan kolonial melalui delegitimasi ideologis dan dominasi institusional, yang menunjukkan pergeseran dari bentuk kekerasan fisik menuju bentuk kekerasan epistemik dan simbolik. Tindakan perlawanan, meskipun berlandaskan logika moral pribumi, menghasilkan hasil yang ambivalen dengan memulihkan otoritas simbolik sekaligus memicu represi yang lebih intensif. Hasil ini menunjukkan bahwa kekerasan dalam Things Fall Apart berfungsi sebagai proses siklik dan saling memperkuat di berbagai domain pribadi, budaya, dan politik. Studi ini berkontribusi dengan menawarkan kerangka analitis terintegrasi yang menjembatani perspektif pascakolonial dan gender, sekaligus menyoroti relevansi novel ini untuk memahami ketahanan budaya, rekonstruksi identitas, dan kompleksitas etika perlawanan dalam konteks pascakolonial.
Developing Students’ Literacy and Communication Skills: A Fundamental Need for Enhancing Career Readiness Rina Heryani; Melda Fauzia Damaiyanti; Rini Utari
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4943.147-163

Abstract

Effective communication is a core competency required for university students to achieve academic success and workplace readiness. This study aims to examine students’ perceptions of the importance of communication skills, the frequency with which they are applied in real academic contexts, and the priority dimensions of speaking skills considered essential. A qualitative approach was employed, and data were collected through open-ended and structured questionnaires administered to 54 respondents from diverse study programs. Data were analyzed using thematic analysis following Miles, Huberman, and Saldana, involving data reduction, data display, and conclusion drawing/verification. The analysis process included coding responses, categorizing emerging patterns, and synthesizing themes interpretively to ensure analytical rigor and trustworthiness. The findings indicate that although students demonstrate a high level of awareness regarding the importance of communication, the frequency of its application in daily academic activities remains relatively low. Moreover, communication skills were found to contribute to students’ confidence, critical thinking, and writing abilities, reinforcing their role as integral components of academic literacy. The study recommends that higher education institutions integrate communication skills into the curriculum to foster functional literacy and enhance students’ career readiness in a comprehensive and holistic manner. AbstrakKomunikasi yang efektif merupakan kompetensi inti yang diperlukan mahasiswa untuk mencapai keberhasilan akademik dan kesiapan memasuki dunia kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi mahasiswa terhadap pentingnya keterampilan komunikasi, frekuensi penerapannya dalam konteks akademik nyata, serta dimensi prioritas keterampilan berbicara yang dianggap esensial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner terbuka dan terstruktur yang diberikan kepada 54 responden dari berbagai program studi. Data dianalisis menggunakan analisis tematik mengacu pada Miles, Huberman, and Saldana yang meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan dan verifikasi kesimpulan. Proses analisis mencakup pengodean data, pengelompokan pola yang muncul, serta sintesis tema secara interpretatif untuk menjamin ketelitian analitis dan keabsahan temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun mahasiswa memiliki tingkat kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya komunikasi, frekuensi penerapannya dalam aktivitas akademik sehari-hari masih tergolong rendah. Selain itu, keterampilan komunikasi terbukti berkontribusi terhadap peningkatan kepercayaan diri, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan menulis mahasiswa sehingga menegaskan perannya sebagai komponen integral dalam literasi akademik. Penelitian ini merekomendasikan agar institusi pendidikan tinggi mengintegrasikan keterampilan komunikasi ke dalam kurikulum guna mengembangkan literasi fungsional serta meningkatkan kesiapan karier mahasiswa secara komprehensif dan holistik.
Penggunaan Bahasa dalam Komunikasi Lintas Budaya di Perbatasan Sulteng-Sulsel: Kajian Sosiolinguistik Nur Eva; Yunidar Yunidar; Ulfa Ulfa
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4941.1-23

Abstract

Language use in the border region between Central Sulawesi and South Sulawesi is strongly influenced by long-standing social, historical, and mobility-related dynamics within the community. This study aims to analyze patterns of language use in cross-cultural communication among the people of Mayoa Village, covering the domains of family, workplace, and public spaces, as well as to identify the factors that support its sustainability. This research employs a qualitative approach with a descriptive sociolinguistic design. The data consist of spoken utterances from community members of diverse ethnic backgrounds, including Bugis, Bare’e, and Pamona, collected through in-depth interviews and participant observation. Data sources include social interactions within families, economic activities in the marketplace, and communication within formal institutions. Data were collected using observation, note-taking, and interview techniques, and analyzed through an interactive model involving data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings reveal that border communities demonstrate a high and adaptive level of multilingual competence. Indonesian functions as a lingua franca in cross-ethnic communication, particularly in formal contexts such as education, governance, and public interaction due to its neutrality. Meanwhile, local languages such as Bugis, Bare’e, and Pamona remain actively used in family and community domains as symbols of identity, emotional closeness, and social solidarity. The phenomena of code-switching and code-mixing occur intensively in everyday interactions, reflecting speakers’ linguistic flexibility and contextual awareness. The main factors influencing these practices include kinship relations and interethnic marriages, socio-economic mobility, formal education, socio-religious environments, as well as the development of technology and social media. The study implies that linguistic diversity in border areas is not only maintained but also dynamically զարգ berkembang within a balanced language ecology, highlighting the importance of supporting multilingual education policies and the preservation of local languages. AbstrakPenggunaan bahasa di wilayah perbatasan antara Sulawesi Tengah dan Sulawesi Selatan dipengaruhi secara kuat oleh kondisi sosial, historis, dan mobilitas masyarakat yang telah berlangsung lama. Penelitian ini betujuan untuk menganalisis pola penggunaan bahasa dalam komunikasi lintas budaya pada masyarakat Desa Mayoa, meliputi ranah keluarga, tempat kerja, dan ruang publik, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberlangsungannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif sosiolinguistik. Data berupa tuturan lisan masyarakat dari berbagai latar etnis seperti Bugis, Bare’e, dan Pamona, yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatif. Sumber data mencakup interaksi sosial di lingkungan keluarga, aktivitas ekonomi di pasar, serta komunikasi dalam institusi formal. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui teknik simak, catat, dan wawancara, sedangkan analisis data menggunakan model interaktif yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat perbatasan memiliki kompetensi multibahasa yang tinggi dan adaptif. Bahasa Indonesia berfungsi sebagai lingua franca dalam komunikasi lintas etnis, terutama dalam konteks formal seperti pendidikan, pemerintahan, dan interaksi publik karena sifatnya yang netral. Sementara itu, bahasa daerah seperti Bugis, Bare’e, dan Pamona tetap digunakan secara aktif dalam ranah keluarga dan komunitas sebagai simbol identitas, kedekatan emosional, dan solidaritas sosial. Fenomena alih kode dan campur kode terjadi secara intensif dalam interaksi sehari-hari, mencerminkan fleksibilitas linguistik dan kesadaran kontekstual penutur. Faktor-faktor utama yang memengaruhi praktik ini meliputi hubungan kekerabatan dan perkawinan campuran, mobilitas sosial dan ekonomi, pendidikan formal, lingkungan sosial-keagamaan, serta perkembangan teknologi dan media sosial. Implikasi penelitian ini menunjukkan bahwa keberagaman bahasa di wilayah perbatasan tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang secara dinamis dalam suatu ekologi bahasa yang seimbang, sehingga penting untuk didukung melalui kebijakan pendidikan multibahasa dan pelestarian bahasa daerah.
Bahasa Indonesia di SMP Sulawesi Selatan dalam Perspektif Culturally Responsive Teaching Ber-muatan Nilai Kearifan Lokal Bugis M. Fachmy Achdan Kadir; Anwar Efendi; Hartono Hartono
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4945.329-341

Abstract

This study aims to describe and analyze Indonesian language learning in junior high schools in South Sulawesi from a Culturally Responsive Teaching (CRT) perspective incorporating Bugis local wisdom. The study employed a qualitative descriptive-analytical approach. Data were collected through classroom observations, interviews with teachers and students, and analysis of instructional documents. Data analysis was conducted interactively through data reduction, data display, and conclusion drawing. The findings indicate that Indonesian language learning has reflected CRT principles; however, its implementation remains partial and lacks systematic planning. The integration of Bugis local wisdom values, such as sipakatau (mutual respect), lempu’ (honesty), getteng (steadfastness), and siri’ na pacce (sense of shame and social empathy), is evident in instructional materials, speaking activities, and culturally grounded language practices emphasizing politeness and communicative ethics. CRT-based learning incorporating local culture enhances students’ engagement, comprehension, confidence, and positive attitudes toward learning. These findings highlight the importance of strengthening teachers’ competencies and developing culturally based instructional materials to promote meaningful, contextual, and sustainable learning. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis pembelajaran Bahasa Indonesia di SMP Sulawesi Selatan dari perspektif Culturally Responsive Teaching (CRT) yang bermuatan nilai kearifan lokal Bugis. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data diperoleh melalui observasi pembelajaran, wawancara dengan guru dan peserta didik, serta analisis dokumen pembelajaran. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran Bahasa Indonesia telah mengarah pada prinsip CRT, namun implementasinya masih bersifat parsial dan belum terencana secara sistematis. Integrasi nilai kearifan lokal Bugis, seperti sipakatau (saling menghargai), lempu’ (kejujuran), getteng (keteguhan), dan siri’ na pacce (rasa malu dan empati sosial), tampak dalam pemilihan materi, aktivitas berbicara, serta praktik kebahasaan yang mencerminkan kesantunan dan etika komunikasi. Pembelajaran berbasis CRT bermuatan budaya lokal terbukti meningkatkan keterlibatan, pemahaman, kepercayaan diri, dan sikap positif peserta didik. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan kompetensi guru serta pengembangan perangkat ajar berbasis budaya lokal untuk mewujudkan pembelajaran yang kontekstual, bermakna, dan berkelanjutan.
Pengaruh Gender terhadap Kesiapan Guru Prajabatan dalam Implementasi Pembelajaran Sastra pada Kurikulum Sekolah Menengah: Studi Deskriptif Komparatif Ari Ambarwati; Khoirul Muttaqin
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4924.217-231

Abstract

The literary policy in the curriculum launched by the Ministry of Education in 2024 raises the question of whether pre-service teachers are ready to implement the policy. This study aims to explore the influence of gender on the readiness of Indonesian Language Pre-service Teacher Professional Education (PPG) students at the University of Islam Malang, class of 2024, in implementing literary learning in the secondary school curriculum. This study employed a descriptive-comparative survey design with a cross-sectional approach. Data were collected through a questionnaire covering seven readiness indicators and analyzed using descriptive-comparative analysis based on frequency and proportion. This approach was chosen to map the response patterns in depth to a specific target group without generalizing the population broadly. The results indicated differences in responses between male and female students regarding the “Literature in the Curriculum” policy, particularly in terms of policy knowledge, information sources, and implementation readiness. Male students tended to have more consistent information exposure, while female students showed wider internal variation. Nonetheless, most respondents from both groups felt the need for additional training and resources. Further research is recommended to design more targeted training and provide comprehensive literary materials to narrow the gap in understanding and readiness between female and male teachers in implementing the Literature-in-the-Curriculum program. AbstrakKebijakan sastra masuk kurikulum yang diluncurkan Kementerian Pendidikan pada tahun 2024 menimbulkan pertanyaan apakah guru prajabatan siap menerapkan kebijakan tersebut. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi pengaruh gender terhadap kesiapan mahasiswa Program Pendidikan Profesi Guru (PPG) Prajabatan Bahasa Indonesia Universitas Islam Malang angkatan 2024 dalam mengimplementasikan pembelajaran sastra pada kurikulum sekolah menengah. Penelitian menggunakan rancangan survei deskriptif-komparatif dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional). Pendekatan ini dipilih untuk memetakan pola respons secara mendalam pada kelompok sasaran tertentu tanpa melakukan generalisasi populasi secara luas. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup tujuh indikator kesiapan dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif-komparatif berbasis frekuensi dan proporsi. Temuan penelitian mengindikasikan terdapat perbedaan respons antara mahasiswa laki-laki dan perempuan terhadap kebijakan “Sastra masuk kurikulum”, terutama dalam aspek pengetahuan kebijakan, sumber informasi, dan kesiapan implementasi. Mahasiswa laki-laki cenderung memiliki keterpaparan informasi yang lebih konsisten dibandingkan mahasiswa perempuan yang memperlihatkan variasi internal lebih lebar. Meskipun demikian, mayoritas responden dari kedua kelompok merasa memerlukan pelatihan dan sumber daya tambahan. Penelitian lanjutan direkomendasikan untuk merancang pelatihan yang lebih tepat sasaran dan menyediakan materi sastra yang komprehensif guna mempersempit kesenjangan pemahaman dan kesiapan guru perempuan dan laki-laki dalam melaksanakan program sastra masuk kurikulum.
Politeness, Power, and Identity in Podcast Discourse: an Emic Discursive Pragmatic Analysis of Digital Talk Kristina Marta Noviance; R. Kunjana Rahardi
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4951.82-97

Abstract

Podcast communication has evolved into a significant site of digital public discourse, where norms of politeness are no longer fixed but are continuously negotiated and redefined within dynamic interactions. This study aims to analyze politeness practices in podcast discourse by examining how politeness is constructed, interpreted, and negotiated in relation to power relations and identity formation among speakers. This research employs a qualitative design using an integrative discursive pragmatic approach grounded in an emic–epistemological perspective. The data consist of utterances from naturally occurring podcast interactions. The data sources are selected podcast episodes featuring interactions between hosts and guests. Data were collected through observation methods, employing recording and note-taking techniques. Data analysis was conducted using discursive pragmatic analysis, involving data reduction, categorization of politeness strategies, interpretation of interactional and sociocultural contexts, and meaning-making based on participants’ emic perspectives. The findings reveal that politeness in podcast discourse functions not only to maintain interpersonal harmony but also to assert authority, expertise, and social identity. Speakers with higher symbolic power tend to control interactional norms, while less dominant participants adjust their politeness strategies accordingly. Furthermore, discrepancies between actual politeness practices and conventional theoretical models indicate that politeness is highly contextual and dynamic within digital environments. The implications of this study highlight the need to develop more context-sensitive and adaptive politeness theories in digitally mediated communication, particularly within discursive pragmatics. This research also contributes to fostering more inclusive communication practices and opens avenues for further studies across diverse podcast genres, marginalized speaker groups, and cross-cultural contexts. AbstrakKomunikasi podcast telah berkembang menjadi ruang penting dalam wacana publik digital, di mana norma kesantunan tidak lagi bersifat tetap, melainkan dinegosiasikan dan didefinisikan ulang dalam interaksi yang dinamis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik kesantunan dalam wacana podcast dengan menyoroti bagaimana kesantunan dikonstruksi, ditafsirkan, dan dinegosiasikan dalam kaitannya dengan relasi kekuasaan dan pembentukan identitas penutur. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan pragmatik diskursif integratif berbasis perspektif emik–epistemologis. Data penelitian berupa tuturan dalam interaksi podcast yang diperoleh dari rekaman podcast autentik (naturally occurring data). Sumber data berasal dari beberapa episode podcast yang memuat interaksi antara host dan narasumber. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui metode simak dengan teknik rekam dan catat. Teknik analisis data menggunakan analisis pragmatik diskursif, dengan tahapan reduksi data, kategorisasi strategi kesantunan, interpretasi konteks interaksional dan sosiokultural, serta penafsiran makna berdasarkan perspektif emik partisipan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesantunan dalam wacana podcast tidak hanya berfungsi menjaga keharmonisan interpersonal, tetapi juga menjadi sarana untuk menegaskan otoritas, keahlian, dan identitas sosial. Penutur dengan kekuasaan simbolik lebih tinggi cenderung mengontrol norma interaksi, sedangkan partisipan yang kurang dominan menyesuaikan strategi kesantunannya. Selain itu, ditemukan adanya perbedaan antara praktik kesantunan aktual dengan model teoretis konvensional, yang menunjukkan bahwa kesantunan bersifat kontekstual dan dinamis dalam ruang digital. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya pengembangan teori kesantunan yang lebih kontekstual dan adaptif terhadap media digital, khususnya dalam kajian pragmatik diskursif. Penelitian ini juga memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik komunikasi yang lebih inklusif serta membuka peluang penelitian lanjutan pada berbagai genre podcast, kelompok marjinal, dan konteks lintas budaya.
Dwiaksara Latin-Lontara dalam Lanskap Linguistik Sidenreng Rappang Erlita Erlita; Mantasiah Mantasiah; Juanda Juanda
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4963.294-302

Abstract

This study analyzes the phenomenon of dual-script use, actors, and functions of the Linguistic Landscape (LL) on street signs in Sidenreng Rappang Regency. A qualitative descriptive method was employed with 200 public space language signs collected through direct observation, field photography, and systematic documentation in October–November 2025. Data were analyzed using data reduction, classification, presentation, and conclusion-drawing techniques within a sociolinguistic-semiotic framework. The results show that of 200 LL signs, 120 (60%) use monolingual Latin, 40 (20%) use monolingual Lontara, and 40 (20%) use dual-script (Latin–Lontara). The main LL actors are public authorities (top-down), consistently implementing language policies to preserve the Bugis script. The functions of the Lontara script include symbolic (marker of Bugis ethnic identity), historical aesthetic (cultural memory reinforcement), and educational (script revitalization). These findings demonstrate that regional visual policy is the primary determinant of local script representation in Indonesian urban linguistic landscapes. AbstrakPenelitian ini menganalisis fenomena dwiaksara, pelaku, dan fungsi Lanskap Linguistik (LL) pada papan nama jalan di Kabupaten Sidenreng Rappang. Metode deskriptif kualitatif digunakan dengan sumber data berupa 200 tanda bahasa di ruang publik yang dikumpulkan melalui observasi langsung, fotografi lapangan, dan dokumentasi sistematis pada bulan Oktober–November 2025. Data dianalisis melalui reduksi, klasifikasi, penyajian, dan penarikan kesimpulan dengan kerangka semiotik sosiolinguistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 200 data LL, sebanyak 120 data (60%) menggunakan Latin monolingual, 40 data (20%) menggunakan Lontara monolingual, dan 40 data (20%) menggunakan dwiaksara (Latin–Lontara). Pelaku utama LL adalah otoritas publik (top-down) yang secara konsisten mengimplementasikan kebijakan bahasa untuk pemertahanan aksara Bugis. Fungsi aksara Lontara meliputi fungsi simbolik (penanda identitas etnis Bugis), historis-estetik (penguatan memori budaya), dan edukatif (revitalisasi aksara). Temuan ini menunjukkan bahwa kebijakan visual daerah merupakan faktor penentu utama representasi aksara lokal dalam LL perkotaan di Indonesia.
Otonomi Perempuan dalam Mencapai Aktualisasi Diri Pada Novel Home Sweet Loan Karya Almira Bastari Putu Debby Yolanda; Wiyatmi Wiyatmi; Ary Kristiyani
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4915.164-180

Abstract

This research aims to examine the manifestations of women’s autonomy and their relationship to the process of self-actualization as represented in the novel Home Sweet Loan by Almira Bastari. The study employs the perspectives of feminist psychology as articulated by Jean Baker Miller and the theory of self-actualization proposed by Abraham Maslow, utilizing a qualitative descriptive method. The primary data source is the 309-page novel Home Sweet Loan. Data were collected through close reading, note-taking, and documentation techniques, and subsequently analyzed using the Miles and Huberman model, which consists of data reduction, data display, and conclusion drawing or verification. Data validity was ensured through semantic validity and intrarater reliability. The findings indicate that women’s autonomy in the novel is reflected in several dimensions: (1) financial autonomy, encompassing the ability to manage personal finances, plan long-term financial goals, and obtain employment and income; (2) relational autonomy, characterized by the awareness to choose and determine an equal partner and to cultivate healthy friendships; (3) decision-making autonomy, including making independent life choices, deciding to own a house, and determining educational paths; (4) emotional autonomy, defined as the capacity to regulate anger and forgive others’ mistakes; and (5) autonomy in resisting discrimination within the family sphere and challenging gender stereotypes imposed upon women. Accordingly, this study concludes that autonomy functions as a key factor enabling urban women to attain holistic self-actualization. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk memahami wujud otonomi perempuan serta keterkaitannya dengan proses aktualisasi diri tokoh dalam novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari. Kajian ini menggunakan perspektif psikologi feminis Jean B. Miller dan teori aktualisasi diri Abraham Maslow dengan metode deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian adalah novel Home Sweet Loan karya Almira Bastari yang terdiri atas 309 halaman. Data dikumpulkan melalui teknik baca,  catat, dan dokumentasi kemudian dianalisis menggunakan model analisis Miles dan Huberman yang meliputi tahap reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Keabsahan data dijamin melalui validitas semantis dan reliabilitas intrater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa otonomi perempuan dalam novel tercermin dalam beberapa aspek: (1) otonomi finansial, berupa kemampuan mengelola keuangan pribadi, kemampuan merencanakan finansial jangka panjang, dan kemampuan memperoleh pekerjaan dan penghasilan; (2) otonomi relasional, ditandai dengan kesadaran untuk memilih dan menentukan pasangan yang setara serta menjalin hubungan persahabatan yang sehat; (3) otonomi pengambilan keputusan, mencakup membuat keputusan hidup secara mandiri, keputusan memiliki rumah sendiri, dan menentukan pendidikan; (4) otonomi pengelolaan emosi, yaitu kemampuan mengendalikan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain; serta (5) otonomi perlawanan terhadap diskriminasi dalam lingkungan keluarga dan melawan stereotip gender terhadap perempuan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa otonomi merupakan faktor kunci bagi perempuan urban untuk mencapai aktualisasi diri secara utuh.
Penggunaan Logika Proposisional dalam Analisis Makna Kalimat: Kajian Interdisipliner Matematika dan Linguistik I Made Dharma Atmaja; Ni Wayan Eminda Sari
Aksara Vol 38, No 1 (2026): AKSARA, EDISI JUNI 2026
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v38i1.4791.24-38

Abstract

Analyzing the meaning of sentences in natural language presents a significant challenge due to its often ambiguous and complex nature. This research addresses this issue by introducing the potential of propositional logic as a formal analytical tool, highlighting the need for an interdisciplinary approach that integrates mathematics and linguistics. The aim of this article is to thoroughly examine the application of propositional logic in sentence meaning analysis, explore the interdisciplinary relationship between these two fields, and identify the strengths and limitations of this approach. The research method employed is a qualitative-analytical literature study, reviewing primary and secondary literature from the fields of logic, linguistics, and philosophy of language through literature documentation for data collection and descriptive-critical content analysis for data analysis. The results indicate that propositional logic can represent the logical structure of sentences and formally analyze truth conditions. Its main advantages lie in the precision and formality it offers, yet limitations exist in handling aspects of quantification, modality, and pragmatics of natural language. The synergy between mathematics and linguistics, particularly through formal semantics and mathematical linguistics, proves to make a significant contribution to enriching sentence meaning analysis in a more comprehensive and profound manner. AbstrakAnalisis makna kalimat dalam bahasa alami merupakan tantangan signifikan mengingat sifatnya yang seringkali ambigu dan kompleks. Penelitian ini mengkaji permasalahan tersebut dengan memperkenalkan potensi logika proposisional sebagai alat analisis formal, serta menyoroti kebutuhan akan pendekatan interdisipliner yang mengintegrasikan matematika dan linguistik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji secara mendalam aplikasi logika proposisional dalam analisis makna kalimat, mengeksplorasi hubungan interdisipliner antara kedua bidang ilmu tersebut, serta mengidentifikasi keunggulan dan keterbatasan pendekatan ini. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka kualitatif-analitis, dengan mengkaji literatur primer dan sekunder dari bidang logika, linguistik, dan filsafat bahasa melalui teknik pengumpulan data dokumentasi kepustakaan dan teknik analisis data menggunakan analisis isi deskriptif-kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa logika proposisional mampu merepresentasikan struktur logis kalimat dan menganalisis kondisi kebenaran secara formal. Keunggulan utamanya terletak pada presisi dan formalitas yang ditawarkan, namun terdapat keterbatasan dalam menangani aspek kuantifikasi, modalitas, dan pragmatik bahasa alami. Sinergi antara matematika dan linguistik, khususnya melalui semantik formal dan linguistik matematika, terbukti memberikan kontribusi penting dalam memperkaya analisis makna kalimat secara lebih komprehensif dan mendalam.