cover
Contact Name
Fahrullah
Contact Email
bnjakys@gmail.com
Phone
+6285250916350
Journal Mail Official
bnjakys@gmail.com
Editorial Address
https://bnj.akys.ac.id/BNJ/about/editorialTeam
Location
Kota samarinda,
Kalimantan timur
INDONESIA
Borneo Nursing Journal
ISSN : 26855054     EISSN : 26548453     DOI : https://doi.org/10.61878/bnj.
Core Subject : Health, Science,
Borneo Nursing Journal (BNJ) adalah jurnal yang diterbitkan dua kali dalam satu tahun oleh Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Yarsi Pontianak. Adapun ruang lingkup/topik dalam BNJ adalah bidang Keperawatan. Dalam setiap edisinya, BNJ menerbitkan minimal 5 naskah hasil penelitian dan satu artikel editorial notes. Penulis yang dapat mengirimkan artikel ke BNJ tidak dibatasi hanya pada tenaga pengajar Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda saja, tetapi penulis yang berasal dari perguruan tinggi lain pun dapat mengirimkan manuskrip. Setiap manuskrip yang masuk akan di-review oleh reviewer yang memiliki berbagai macam latar belakang keilmuan yang relevan dengan topik manuskrip.
Articles 1,062 Documents
Hubungan Karakteristik Demografi Ibu Postpartum dengan Metode Kontrasepsi yang Digunakan Jeli Jeli; Widia Lestari; Ari Pristiana Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.897

Abstract

Penggunaan metode kontrasepsi pada ibu Postpartum merupakan upaya penting untuk mencegah kehamilan yang tidak direncanakan, mengatur jarak kelahiran, dan mendukung keberhasilan program keluarga berencana. Pemilihan metode kontrasepsi dipengaruhi oleh berbagai karakteristik demografi ibu Postpartum, seperti usia, pendidikan, pekerjaan, paritas, metode persalinan, dan lama pernikahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik demografi ibu Postpartum dengan metode kontrasepsi yang digunakan di wilayah kerja Puskesmas Sidomulyo dan Puskesmas Rejosari Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 68 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat serta bivariat dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden menggunakan metode kontrasepsi hormonal sebanyak 42 orang (61,8%), dengan jenis kontrasepsi yang paling banyak digunakan adalah implant. Sementara itu, metode kontrasepsi non hormonal digunakan oleh 26 responden (38,2%), dengan IUD sebagai metode yang paling banyak dipilih. Responden usia dewasa awal, berpendidikan SMA, tidak bekerja, Multipara, persalinan normal, serta lama pernikahan kurang dari 10 tahun cenderung menggunakan kontrasepsi hormonal. Sebaliknya, responden usia dewasa akhir, Grande Multipara, persalinan Sectio Caesarea, dan lama pernikahan lebih dari 10 tahun lebih banyak menggunakan kontrasepsi non hormonal. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara karakteristik demografi ibu Postpartum dengan penggunaan metode kontrasepsi (p < 0,005) .Disimpulkan bahwa karakteristik demografi ibu Postpartum berhubungan dengan pemilihan metode kontrasepsi. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi dan konseling kontrasepsi yang disesuaikan dengan karakteristik serta kebutuhan ibu Postpartum.
Hubungan Caring Petugas Kesehatan dan Dukungan Keluarga dengan Tingkat Kecemasan Ibu Primipara di Rumah Bersalin Yenda Hasnita; Athica Oviana; Mera Delima; Yessi Andriani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.898

Abstract

Kecemasan saat persalinan merupakan respons psikologis yang umum dialami oleh ibu primipara dan dapat berdampak negatif terhadap proses persalinan, termasuk peningkatan persepsi nyeri dan gangguan kemajuan persalinan. Salah satu faktor yang memengaruhi tingkat kecemasan ibu adalah faktor psikososial, seperti perilaku caring petugas kesehatan dan dukungan keluarga. Caring petugas kesehatan tercermin melalui komunikasi terapeutik, empati, perhatian, serta pendekatan yang melibatkan keluarga dalam proses persalinan. Tujuan dari penelitian ini untuk menganalisis hubungan perilaku caring petugas kesehatan dan dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan ibu primipara di rumah bersalin Kota Payakumbuh. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan survey analitik dengan pendekatan cros-sectional.  Penelitian ini dilakukan di Rumah Bersalin di Kota Payakumbuh dengan jumlah sampel sebanyak 30 responden ibu primipara dengan menggunakan teknik total sampling. Penelitian ini menggunakan intrumen kuesioner meliputi kuesioner caring petugas kesehatan (20 item), dukungan keluarga (12 item), dan tingkat kecemasan (20 item). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil uji statistic menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara caring petugas kesehatan dengan tingkat kecemasan ibu primipara (p = 0,005 < 0,05; OR = 25,000) dan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dengan tingkat kecemasan (p = 0,019 < 0,05; OR = 16,000). Ibu yang memperoleh caring yang baik dan dukungan keluarga yang optimal cenderung mengalami kecemasan ringan. Dapat disimpulkan bahwa caring petugas kesehatan dan dukungan keluarga berperan penting dalam menurunkan tingkat kecemasan ibu primipara saat persalinan. Peningkatan praktik kebidanan berbasis caring dan keterlibatan keluarga secara aktif dalam proses persalinan perlu dioptimalkan untuk mendukung kesejahteraan psikologis ibu.
Hubungan Durasi Bekerja dengan Tingkat Kelelahan Kerja Pada Pedagang Sembako di Pasar Tondano Kabupaten Minahasa Nadia Tamba; Achmad Paturusi; Merdekawati E. Weken
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.900

Abstract

Berdasarkan latar belakang yang telah dijelaskan, identifikasi masalah penelitian inimencakup beberapa aspek penting berupa jam kerja panjang, tuntutan fisik tinggi, sertakondisi lingkungan kerja yang kurang memadai, sehingga berisiko menimbulkan kelelahankerja yang berdampak pada kesehatan dan produktivitas. Selain itu durasi atau lama kerjamenjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi kelelahan kerja, dimana semakinlama seseorang berdagang (dalam jam per hari), semakin tinggi kemungkinan terjadinyaakumulasi kelelahan fisik, mental, dan emosional. Oleh karena itu, peneliti tertarik untukmelakukan penelitian mengenai hubungan durasi bekerja dengan tingkat kelelahan kerja padapedagang sembako di Pasar Tondano Kabupaten Minahasa. Tujuan dari penelitian ini untukmengetahui hubungan durasi bekerja dengan tingkat kelelahan kerja pada pedagang sembakodi pasar Tondano Kabupaten Minahasa. Metode penelitian ini menggunakan metodepenelitian analitik dengan pendekatan kuantitatif. Desain yang digunakan dalam penelitian inimenggunakan pendekatan cross-sectional. Variabel pada penelitian ini terbagi dua, yaituvariabel dependen berupa kelelahan kerja, dan variabel independen berupa durasi bekerja.Penelitian ini akan dilakukan di pasar Tondano, Kabupaten Minahasa dan pengambilan dataakan dilaksanakan pada bulan April 2026. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruhpedagang sembako di Pasar Tondano, Kabupaten Minahasa sebanyak 58 responden. Adapunbesaran sampel dalam penelitian ini sejumlah 58 responden dengan menggunakan rumus totalsampling. Berdasarkan hasil dari penelitian dan pembahasan tentang hubungan durasi bekerjadengan tingkat kelelahan kerja pada pedagang sembako di Pasar Tondano KabupatenMinahasa, maka dapat diambil kesimpulan: Sebagian besar responden memiliki durasi kerjalebih dari 8 jam per hari yaitu sebanyak 55 orang (94,8%), sedangkan responden yang bekerjakurang dari 8 jam hanya sebanyak 3 orang (5,2%). Sebagian besar responden mengalamikelelahan kerja. Responden yang berada pada kategori lelah sebanyak 25 orang (43,1%) dankategori sangat lelah sebanyak 21 orang (36,2%), sehingga total responden yang mengalamikelelahan kerja mencapai 46 orang (79,3%). Sementara itu, responden yang tidak mengalamikelelahan kerja sebanyak 12 orang (20,7%). Berdasarkan hasil uji bivariat menggunakan ujikorelasi Spearman diperoleh nilai signifikansi (p) sebesar 0,008 (&lt;0,05) dengan nilaikoefisien korelasi (r) sebesar 0,345. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubunganyang signifikan antara durasi bekerja dengan tingkat kelelahan kerja pada pedagang di PasarTondano Selatan Kabupaten Minahasa. Hubungan yang terbentuk bersifat positif dengankekuatan korelasi lemah, yang berarti semakin lama durasi bekerja yang dilakukan pedagangmaka semakin tinggi tingkat kelelahan kerja yang dialami. Sebaliknya, semakin pendek durasibekerja maka tingkat kelelahan kerja cenderung lebih rendah.
Hubungan Durasi Penggunaan Media Sosial dan Literasi Digital Terhadap Pengetahuan Kesehatan Reproduksi Pada Remaja Dedi Kristian Gulo; Masrina Munawarah Tampubolon; Nur Aulia
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.901

Abstract

Remaja merupakan fase perkembangan yang kritis karena terjadi perubahan pesat pada aspek fisik, psikologis, dan sosial, termasuk perkembangan organ reproduksi yang menuntut pemahaman kesehatan reproduksi yang benar sejak dini. Karena topik ini masih dianggap tabu, banyak remaja beralih ke media sosial yang digunakan dalam durasi panjang sebagai sumber informasi. Namun, tidak semua informasi yang diperoleh akurat, sehingga literasi digital menjadi kunci agar remaja mampu mengakses, mengevaluasi, dan  memanfaatkan informasi secara kritis dan bijak. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain penelitian korelasi menggunakan pendekatan cross-sectional dengan sampel 125 orang siswa yang dipilih menggunakan metode Stratified Random Sampling. Instrument penelitian berupa lembar observasi durasi penggunaan media sosial (durasi penggunaan per hari dan jenis media sosial),  kuesioner literasi digital yang telah diuji validitas dan reliabilitas dan kuesioner pengetahuan kesehatan reproduksi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan media sosial dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja (p < 0,05) dan terdapat juga hubungan yang signifikan antara durasi penggunaan literasi digital dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja (p < 0,05).  Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara durasi penggunaan media sosial dan literasi digital dengan tingkat pengetahuan kesehatan reproduksi pada remaja. Semakin lama penggunaan media sosial, semakin besar peluang memperoleh  informasi kesehatan reproduksi, meskipun dipengaruhi oleh kualitas konten yang diakses. Selain itu, literasi digital berperan dalam membantu remaja memahami dan menilai informasi sehingga dapat meningkatkan pengetahuan kesehatan reproduksi secara lebih akurat.
Analisis Potensi Pajanan Bahan Kimia Cat Sebagai Dasar Pemeriksaan Kesehatan Kerja Pada Pekerja Painting/Mixing Cat Di PT. LMN Dizza Armelia; Gilang Jatnika; Nico Linggi Pongmasangka
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.903

Abstract

Pekerjaan painting dan mixing cat berpotensi menimbulkan pajanan bahan kimia melalui inhalasi, kontak kulit, dan kontak mata akibat kandungan volatile organic compounds (VOC) dan pelarut organik dalam bahan cat, sehingga pemeriksaan kesehatan kerja perlu disusun berdasarkan karakteristik pajanan agar mampu mendeteksi dini gangguan pada organ target yang relevan. Penelitian ini bertujuan menganalisis potensi pajanan bahan kimia cat sebagai dasar pemeriksaan kesehatan kerja pada pekerja painting/mixing cat di PT. LMN menggunakan desain deskriptif observasional dengan pendekatan kualitatif melalui telaah Lembar Data Keselamatan Bahan (LDKB), HIRADC, daftar Medical Check-Up (MCU), rekapitulasi kejadian, dan observasi lapangan. Hasil identifikasi menunjukkan potensi pajanan melalui inhalasi uap pelarut organik/VOC, kontak kulit, dan kontak mata, dengan organ target meliputi sistem pernapasan, kulit, mata, sistem saraf pusat, dan ginjal secara selektif. Pemeriksaan spirometri yang telah tersedia sesuai dengan jalur pajanan inhalasi yang dominan, namun terdapat gap pada pemeriksaan kulit dan mata khusus pajanan kimia yang belum ditemukan dalam daftar MCU. Diperlukan penambahan pemeriksaan berbasis organ target yang mencakup kulit, mata, serta evaluasi selektif fungsi ginjal dan skrining neurologis sederhana sesuai rekomendasi dokter kesehatan kerja.
Implementasi Pemberian Air Rebusan Daun Seledri Pada Pasien Hipertensi Desa Mbatakapidu Sumba Timur: Studi Kasus Fani Anggarehi Rambu Hada; Melkisedek Landi; Umbu Putal Abselian; Umbu Nggiku Njakatara
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.924

Abstract

Latar Belakang: Hipertensi tetap menjadi masalah kesehatan utama yang sering muncul di kalangan masyarakat dan memicu berbagai komplikasi seperti stroke,penyakit jantung, dan gangguan fungsi ginjal. Upaya pengendalian Hipertensi tidak hanya dilakukan melalui pengobatan medis, tetapi juga dapat didukung dengan pemanfaatan terapi herbal. Salah satu tanaman yang sering digunakan adalah daun seledri karena mengandung berbagai senyawa aktif yang diduga berperan dalam membantu menurunkan tekanan darah. Tujuan: Menggambarkan perubahan tekanan darah pada pasien hipertensi setelah pemberian rebusan daun seledri. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus pada dua pasien hipertensi. Intervensi dilakukan dengan memberikan rebusan daun seledri yang dibuat dari 200 gram daun seledri dan 600 ml air yang direbus hingga tersisa 250 ml. Rebusan diberikan satu kali sehari selama lima hari berturut-turut. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum pemberian intervensi dan diulang 30 menit setelah konsumsi rebusan daun seledri. Data dianalisis secara deskriptif berdasarkan perubahan tekanan darah harian. Hasil: Hasil pengamatan menunjukkan adanya penurunan tekanan darah pada kedua pasien. Rata-rata tekanan darah pasien pertama menurun dari 169,2/91,8 mmHg menjadi 159,2/85 mmHg, sedangkan pada pasien kedua menurun dari 173,6/90 mmHg menjadi 164/84 mmHg. Rerata penurunan tekanan darah sistolik masing-masing sebesar 10 mmHg dan 9,6 mmHg, sedangkan tekanan darah diastolik menurun sebesar 6,8 mmHg dan 6 mmHg. Kesimpulan: Pemberian rebusan daun seledri selama lima hari menunjukkan kecenderungan menurunkan tekanan darah pada kedua pasien hipertensi dan dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping dalam pengelolaan hipertensi.
Perbedaan Pengaruh Nordic Hamstring Curl Dan Lying Leg Curl Terhadap Peningkatan Power Otot Tungkai Pada Pemain Sepakbola Fiqry Alfarabhi; Tyas Sari Ratna Ningrum; Andry Ariyanto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.927

Abstract

Latar belakang : Power otot tungkai menjadi komponen fisik yang sangat penting dalam mendukung performa pemain sepak bola, terutama pada usia remaja yang sedang berada dalam fase perkembangan fisik dan keterampilan. Rendahnya power otot tungkai dapat memengaruhi kemampuan sprint, lompatan, dan tendangan, sehingga diperlukan latihan yang efektif untuk meningkatkannya. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan pengaruh Nordic Hamstring Curl dan Lying Leg Curl terhadap peningkatan power otot tungkai pada pemain sepak bola. Metode : Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi experimental pretest and posttest two group design. Sampel penelitian adalah pemain sepak bola usia 12–14 tahun di SSB MAS yang dipilih menggunakan purposive sampling dan dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Nordic Hamstring Curl dan kelompok Lying Leg Curl. Instrumen yang digunakan untuk mengukur power otot tungkai adalah vertical jump test. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua intervensi sama-sama memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan power otot tungkai, dengan nilai p 0,000 pada masing-masing kelompok. Namun, pada uji perbedaan antar kelompok diperoleh nilai p 0,347, yang berarti tidak terdapat perbedaan pengaruh yang signifikan antara Nordic Hamstring Curl dan Lying Leg Curl. Kesimpulan : kedua latihan sama efektif dalam meningkatkan power otot tungkai pada pemain sepak bola, sehingga keduanya dapat dijadikan alternatif latihan untuk mendukung performa atlet.
Pengaruh Terapi Reiki Terhadap Perubahan Kadar Glukosa Darah Sewaktu (GDS) Pada Lansia Penderita DM Di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga Julitha Pristian Neno; Rona Febriyona; Nur Uyuun I. Biahimo
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.941

Abstract

Diabetes Melitus (DM) pada lansia dipicu oleh penurunan fungsi fisiologis tubuh yang berdampak pada sensitivitasinsulin. Terapi reiki merupakan intervensi non-farmakologis yang memanfaatkan energi vital untuk menstabilkanmetabolisme glukosa tubuh. Mengetahui pengaruh terapi reiki terhadap perubahan kadar Glukosa Darah Sewaktupada lansia penderita DM di Wilayah Kerja Puskesmas Telaga. Penelitian kuantitatif eksperimen (pre-post testdesign) dengan melibatkan 20 responden lansia penderita DM. Data dianalisis menggunakan Wilcoxon Signed RankTest. Sebelum intervensi, rata-rata GDS responden sebesar 192.70 mg/dL dan setelah intervensi, rata-rata GDSmenurun sebesar 45.55 mg/dL menjadi 147.15 mg/dL dengan nilai p-value = 0,000 (&lt;0.05). Sebanyak 10 respondentetap berada di rentang pradiabetes (140–199 mg/dL) karena ketidakpatuhan dalam mengontrol pola makan dan beratbadan. Terapi reiki secara signifikan efektif menurunkan kadar GDS pada lansia penderita DM. Intervensi inidirekomendasikan sebagai terapi komplementer di Puskesmas, namun pelaksanaannya harus tetap diimbangi denganedukasi manajemen diet dan kontrol berat badan pada pasien.
Gambaran Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan Tentang Pemeriksaan LEMON Di Universitas Harapan Bangsa Ratu Islami Meiana Putri; Magenda Bisma Yudha; Surtiningsih Surtiningsih
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.947

Abstract

Pemeriksaan LEMON merupakan metode penilaian jalan napas sulit pada pra anestesi untuk memprediksi kesulitan intubasi. Pengetahuan mengenai pemeriksaan LEMON penting dimiliki oleh mahasiswa keperawatan anestesiologi sebagai bekal praktik klinis. Namun, tingkat pengetahuan mahasiswa tentang pemeriksaan LEMON masih bervariasi. Mengetahui gambaran tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan tentang pemeriksaan LEMON di Universitas Harapan Bangsa. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif. Populasi penelitian sebanyak 205 mahasiswa semester V Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan Universitas Harapan Bangsa. Sampel penelitian sebanyak 136 responden menggunakan teknik stratified random sampling. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner 22 pertanyaan. Analisis data menggunakan analisis univariat berupa distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata usia responden adalah 20,18 tahun dengan mayoritas berjenis kelamin perempuan sebanyak 85 responden (62,5%). Tingkat pengetahuan mahasiswa tentang pemeriksaan LEMON sebagian besar berada pada kategori baik sebanyak 68 responden (50,0%), cukup 66 responden (48,5%), dan kurang 2 responden (1,5%). Berdasarkan usia, tingkat pengetahuan baik paling banyak pada usia 21 tahun sebanyak 20 responden (51,3%). Berdasarkan jenis kelamin, responden perempuan sebagian besar memiliki tingkat pengetahuan baik sebanyak 46 responden (54,1%). Tingkat pengetahuan mahasiswa Program Studi Keperawatan Anestesiologi Program Sarjana Terapan di Universitas Harapan Bangsa tentang pemeriksaan LEMON sebagian besar berada dalam kategori baik.
Perbedaan Daya Tahan Kardiorespirasi Berdasarkan Tingkat Aktivitas Fisik Di Panti Lansia Dan Komunitas Windriya Drasthyarenni Sumawinata; Suci Muqodimatul Jannah; Fitri Yani
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.948

Abstract

Penurunan daya tahan kardiorespirasi pada lansia dapat berdampak pada menurunnya kemampuan fungsionaldan aktivitas sehari-hari. Kondisi ini dapat dipengaruhi oleh tingkat aktivitas fisik, di mana lansia denganaktivitas fisik rendah cenderung mengalami penurunan kapasitas fisik yang lebih cepat. Perbedaan tingkataktivitas fisik antara lansia yang tinggal di panti dan komunitas juga berpotensi memengaruhi daya tahankardiorespirasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan daya tahan kardiorespirasi berdasarkantingkat aktivitas fisik pada lansia di panti dan komunitas. Penelitian ini menggunakan desain analitik denganpendekatan cross sectional study. Subjek penelitian adalah lansia berusia &gt;60 tahun, bersedia menjadiresponden, tidak menggunakan alat bantu jalan, serta memiliki skor aktivitas fisik &lt;600 MET-menit/minggu dan≥600 MET-menit/minggu. Tingkat aktivitas fisik diukur menggunakan International Physical ActivityQuestionnaire-Short Form (IPAQ-SF), sedangkan daya tahan kardiorespirasi diukur menggunakan Six MinuteWalk Test (6MWT) dengan lintasan 15 meter. Data dianalisis menggunakan analisis univariat dan IndependentSample t-test. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada daya tahan kardiorespirasiberdasarkan tingkat aktivitas fisik pada lansia dengan nilai p=0,000 (p&lt;0,05). Lansia dengan tingkat aktivitasfisik yang lebih tinggi (rerata 1964,09 MET-menit/minggu) memiliki daya tahan kardiorespirasi yang lebih baikdibandingkan lansia dengan tingkat aktivitas fisik yang lebih rendah (rerata 309,49 MET-menit/minggu), yangditunjukkan oleh rerata jarak tempuh Six Minute Walk Test (6MWT) pada kelompok aktif yang lebih tinggidibandingkan kelompok kurang aktif, yaitu sebesar 206,60±18,36 meter dan 113,61±36,12 meter di BPSTWAbiyoso serta 470,04±131,64 meter dan 165,07±15,03 meter di Komunitas Si Mbah Bugar. Kesimpulannya,terdapat perbedaan daya tahan kardiorespirasi berdasarkan tingkat aktivitas fisik pada lansia, di mana lansia yangaktif secara fisik memiliki daya tahan kardiorespirasi yang lebih baik dibandingkan lansia yang kurang aktif.

Page 85 of 107 | Total Record : 1062