cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 512 Documents
Metafora binatang dalam ungkapan idiomatik bahasa Aceh Muhammad Iqbal; Mulyadi Mulyadi
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.50346

Abstract

Masyarakat Aceh sering menggunakan simbol-simbol verbal  yang ditamsilkan pada binatang ketika berkomunikasi atau menyampaikan pesan. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan dan mendeskripsikan karakter dan tindakan seseorang yang dipandang positif yang harus dianut, atau yang dipandang negatif yang harus dijauhkan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif. data penelitian ini berupa data tulis dan data lisan. Data tulis diperoleh dari cerita rakyat Aceh dan Peribahasa Aceh yang diterbitkan oleh Proyek Penelitian dan Pencatatan Kebudayaan Daerah. Data lisan diperoleh dari informan melalui teknik wawancara, pegamatan tidak berperan serta, dan pengamatan berperan serta. Di samping itu, penulis juga  menggunakan data buatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga metafora binatang yang digunakan oleh masyarakat Aceh ketika menyampaikan pesan kepada lawan tuturnya, yaitu metafora binatang piaraan (asèe ‘anjing’ dan mie ‘kucing’), metafora binatang ternak  (kamèng ‘kambing’, aneuk iték ‘anak itik’, iték ‘itik/bebek’, manok ‘ayam’, keubeue ‘kerbau’, dan leumo ‘lembu’), dan metafora binatang liar (gajah ‘gajah’, bue ‘monyet’, abô ‘siput’, buya ‘buaya’, rimueng ‘harimau’, bui ‘babi’, cangguek ‘kodok’, dan tupè ‘tupai’). Penggunaan metafora binatang tersebut dapat dikatakan berkonotasi positif. Makna dan maksud yang ditamsilkan pada binatang tersebut bertujuan untuk membimbing, menasihati, dan memberi motivasi.   Kata Kunci: metafora binatang, ungkapan, bahasa Aceh AbstractThe people of Aceh often use verbal symbols that are displayed on animals when communicating or conveying messages. This study aims to classify and describe the character and actions of a person who are seen as positive ones that should be imitated, or those that are seen as negative ones that should be avoided. This study used qualitative research methods. Data in the form of written data and oral data. The written data was obtained from Acehnese folklore and Acehnese proverbs published by the Regional Cultural Research and Recording Project. Oral data were obtained from informants through interview techniques, non-participating observations, and participating observations. In addition, the author also uses artificial data. The results show that there are three animal metaphors used by the Acehnese people when conveying messages to their interlocutors, consisting of metaphor of pets (asèe 'dog' and mie 'cat'), metaphor of livestock (kamèng 'goat', aneuk iték 'duck child'. ', iték 'duck/duck', manok 'chicken', keubeue 'buffalo', and leumo 'lembu'), and wild animal metaphors (elephant 'elephant', bue 'monkey', abô 'snail', buya 'crocodile' , rimueng 'tiger', bui 'pig', cangguek 'toad', and tupè 'squirrel'). The use of the animal metaphor can be said to have a positive connotation. The meaning and intent that is displayed on the animal aims to guide, advise, and motivate.Keywords: animal metaphors, expressions, Acehnese language
Ideological perspective on guideline “merdeka belajar – kampus merdeka” through systemic functional linguistics Prayudisti Shinta Pandanwangi; Pratomo Widodo
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.51277

Abstract

This research exists to ignite the awareness and critical thinking from stakeholders and parties related to MBKM policies that have a long ideological impact on the life of higher education in Indonesia so that the implementers do not necessarily carry out policies without conducting assessments in depth first. Therefore, this study aims to explore and find the ideological and socio-political aspects behind the use of the lexicon in the Merdeka Learning guidebook – Merdeka Campus (MBKM) using textual metafunction and interpersonal metafunction approach model within Halliday's SFL framework (2004 2013). These textual and interpersonal approaches were chosen due to the scarcity of studies that apply this approach to analyze the discourse of this independent curriculum compared to studies of other disciplines. The data used in this study are in the form of lexicons used in the MBKM manual book as words or clauses within the chosen chapters. The result obtained is that the MBKM practical guidebook has a strong capitalist economic perspective. This is evidenced using lexicons that indicate the direction of higher education to be achieved tends to follow the circulation of the free market and higher education and all stakeholders involved are regulated to follow this globalization trend. “Independent Campus – Merdeka Learning” requires students to be able to equip themselves to survive life's challenges. In contrast, the campus as an “intellectual factory” is always billed for the needs of the industrial sector, not a place for “true intellectuals”.Keywords: SFL, CDA, independent learning – independent campus, capitalization of higher education Perspektif ideologis tentang pedoman "merdeka belajar – kampus merdeka" melalui linguistik sistemik fungsionalAbstrakPenelitian ini hadir untuk memantik kesadaran dan nalar berpikir kritis dari para pemangku kepentingan serta pihak-pihak yang terkait dengan kebijakan MBKM yang dipandang memiliki dampak ideologis jangka Panjang terhadap hidup dari Pendidikan tinggi di Indonesia, dan agar para pelaksana tidak serta merta menjalankan kebijakan tanpa melakukan pengkajian secara mendalam terlebih dahulu. Maka dari itu kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menemukan aspek ideologis dan sosio-politis di balik penggunaan leksikon dalam buku panduan Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM) dengan menggunakan model pendekatan textual metafunction dan interpersonal metafunction dalam kerangka SFL milik Halliday (2004 2013). Pendekatan tekstual dan interpersonal ini dipilih dikarenakan masih langkanya kajian yang mengaplikasikan pendekatan ini untuk menganalisis diskursus kurikulum merdeka ini dibandingkan dengan kajian disiplin ilmu yang lain. Data yang digunakan dalam kajian ini berbentuk leksikon-leksikon yang digunakan dalam buku panduan MBKM baik berupa kata atau klausa pada bab yang dipilih. Hasil yang diperoleh adalah buku panduan praktis MBKM tersebut memiliki perspektif ekonomi kapitalis yang cukup kuat. Hal ini dibuktikan adanya penggunaan leksikon-leksikon yang menunjukkan arah pendidikan tinggi yang hendak diraih cenderung mengikuti sirkulasi pasar bebas dan pendidikan tinggi beserta seluruh stakeholder yang terlibat diregulasi agar mengikuti tren globalisasi ini. “Kampus Merdeka – Merdeka Belajar” menuntut mahasiswa untuk dapat membekali diri agar mampu bertahan menghadapi tantangan hidup, sedangkan kampus sebagai “pabrik intelektual” selalu ditagih untuk kebutuhan sektor industri bukan tempat untuk “ intelektual sejati".Kata kunci: SFL, CDA, merdeka belajar – kampus merdeka, kapitalisasi pendidikan tinggi
Community attitude to the news of pandemic Covid-19 Rohali Rohali; Siti Perdi Rahayu; Herman Herman; Yeni Artanti; Dwiyanto Djoko Pranowo
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.53338

Abstract

This study aims to describe the themes and attitudes of the community towards news about the Covid-19 pandemic on WhatsApp. By conducting critical discourse analysis, it is hoped that an understanding will be formed that can enlighten the public on how to interpret and understand the information about the COVID-19 pandemic that they receive through the WhatsApp application and be selective in sending this information to others. The results of the study show the following. Fisrt, the attitude of affection contains 4 themes, namely religious, health, education, and economic themes. There are two functions of a religious theme, namely a request to God and an expression of gratitude. The health theme has three functions, namely an invitation to maintain progress, vaccination recommendations, and health humour. The theme of education is represented in the form of public attitudes regarding the readiness of universities for offline learning. The function of the economic theme is related to expressions of concern and ironism towards the deteriorating Indonesian economy. Second, the attitude of the community's cognition is realized with the theme of health which has the function of protest, fake news, and health humour. Thirth, dehavioral attitudes carry three themes, namely health, education, and economy. The function of the health theme is behaviour in responding to the funeral process for Covid-19 victims and vaccination. The function of the educational theme is related to the behaviour of the community towards the preparation of offline learning. The economic theme is represented by behavioural deviations from health protocols during the implementation of PPKM.Keywords: discourse analysis, attitude, covid-19, WA SIKAP MASYARAKAT TERHADAP BERITA PANDEMI COVID-19 ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mendeskipsikan tema dan sikap masyarakat terhadap berita tentang pandemi Covid-19 di WhatsApp. Dengan melakukan analisis wacana kritis, diharapkan akan terbentuk pemahaman yang dapat mencerahkan masyarakat bagaimana memaknai dan memahami informasi tentang pandemi covid-19 yang mereka terima melalui aplikasi WhatsApp dan selektif dalam mengirimkan informasi tersebut ke orang lain. Hasil penelitian menunjukkan hal-hal sebagai berikut. Pertama, sikap afeksi memuat 4 tema yaitu tema religius, kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Ada dua fungsi tema religius yaitu permohonan kepada Tuhan dan ungkapan syukur. Tema kesehatan memiliki tiga fungsi yaitu ajakan menjaga prokes, anjuran vaksinasi, dan humor kesehatan. Tema pendidikan direpresentasikan dalam bentuk sikap masyarakat terkait kesiapan perguruan tinggi dalam pembelajaran luring. Fungsi tema ekonomi berkaitan dengan ungkapan kekhawatiran dan ironisme terhadap ekonomi indonesia yang semakin memburuk. Kedua, sikap kognisi masyarakat diwujudkan dengan tema kesehatan yang memiliki fungsi protes, berita bohong, dan humor kesehatan. Ketiga, sikap perilaku mengusung tiga tema yaitu kesehatan, pendidikan, dan ekonomi. Fungsi tema kesehatan adalah perilaku menyikapi proses pemakaman korban Covid-19, dan vaksinasi. Fungsi tema pendidikan berkaitan dengan perilaku masyarakat terhadap persiapan pembelajaran luring. Tema ekonomi direpresentasikan dengan penyimpangan perilaku terhadap protokol kesehatan di tengah pemberlakuan PPKM.Kata kunci : analisis wacana, sikap, covid-19, WA 
Persepsi guru bahasa Indonesia SMA terhadap penilaian literasi membaca berbasis keterampilan aras tinggi Diki Wahyudi; Widya Ristanti; Sarwiji Suwandi
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.47975

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi wacana diberlakukannya kurikulum prototipe di semua jenjang, baik jenjang sekolah dasar maupun sekolah menengah. Ciri khas pembelajaran dan penilaian pada kurikulum tersebut ialah pembelajaran berbasis literasi. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi Guru Bahasa Indonesia SMA terhadap penilaian literasi membaca berbasis keterampilan berpikir aras tinggi (higher order thinking skill/ HOTS). Metode penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus eksploratif. Fokus penelitian terhadap penilaian literasi membaca berbasis keterampilan berfikir aras tinggi. Teknik pengumpulan data menggunakan angket semi terbuka dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Guru Bahasa Indonesia SMA di Kota Surakarta sudah menyadari pentingnya literasi membaca untuk dibelajarkan, guru juga sudah mengintegrasikan literasi membaca dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, guru sudah menerapkan pembelajaran berbasis keterampilan aras tinggi, dan dalam hal penilaian guru sudah menerapkan penilaian literasi membaca berbasis keterampilan aras tinggi. Dengan demikian, penilaian literasi membaca berbasis keterampilan berpikir aras tinggi sudah diimplementasikan dalam pembelajaran, khususnya pembelajaran Bahasa Indonesia SMA di Kota Surakarta.Kata kunci: persepsi guru, penilaian, literasi membaca, keterampilan berpikir aras tinggi, HOTS PERCEPTIONS OF HIGH SCHOOL INDONESIAN TEACHERS TOWARDS READING LITERACY ASSESSMENT BASED ON HIGHER ORDER THINKING SKILLAbstractThis research is motivated by the discourse of the implementation of the prototype curriculum at all levels, both elementary and high school levels. The hallmark of learning and assessment in the curriculum is literacy-based learning. This study aims to analyze the perception of Indonesian high school teachers on reading literacy assessments based on higher order thinking skills (HOTS). This research method uses descriptive qualitative analysis with an exploratory case study approach. The focus of the research is on the assessment of reading literacy based on high-level thinking skills. Data collection techniques used semi-open questionnaires and interviews. The results of the study show that Indonesian high school teachers in Surakarta City have realized the importance of reading literacy to be taught, teachers have also integrated reading literacy in Indonesian language learning, teachers have implemented high-level skills-based learning, and in terms of teacher assessments have implemented reading literacy assessments based on high level skills. Thus, an assessment of reading literacy based on high-level thinking skills has been implemented in learning, especially learning Indonesian in SMA in Surakarta City.Keywords: teacher perception, assessment, reading literacy, high order thinking skills, HOTS
Depicting Indonesian values in Arifin C. Noer’s The Bottomless Well for ILFS learning Maria Vicentia Eka Mulatsih; Bonifasius Widharyanto
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.39396

Abstract

Learning language is not merely about its structure or words, it deals with certain values as a representative of the culture. Arifin C Noer’s play entitled The Bottomless Well portrays some Indonesian values that can be taught for learning Indonesian language for foreign speakers (ILFS). Focusing on some Indonesian values portrayed in the play and some ILFS learning practices, this article closely analyzes its content using document analysis method and describes the teaching practices qualitatively. Some Indonesian values found in the play are mutual help, social solidarity, persistency, work ethic, frugality, spirituality and independency. These Indonesian values portrayed in the play are useful as  a material for reading, writing, speaking, listening lessons. Specifically, in a drama class, various ILFS learning activities using this play are 1) reading aloud, 2) having monologue, 3) dramatic reading in groups, 4) conducting mini role play, and 5) completing the reflection process. Keywords: Indonesian values, ILFS learning, The Bottomless WellPenggambaran nilai-nilai Indonesia dalam karya Arifin C. Noer Sumur Tanpa Dasar untuk pembelajaran BIPA AbstrakPembelajaran Bahasa tidak hanya mengenai struktur ataupun kata, hal ini berhubungan dengan nilai-nilai tertentu sebagai representasi dari budaya. Drama Arifin C. Noer berjudul Sumur Tanpa Dasar menggambarkan beberapa nilai bangsa Indonesia yang dapat diajarkan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). Berfokus pada beberapa nilai budaya Indonesia dan praktek pengajaran BIPA, artikel ini menganalisis isi drama secara lebih dekat menggunakan analisis dokumen dan mendeskripsikan praktek-praktek pengajaran secara kualitatif. Beberapa nilai budaya Indonesia yang ditemukan dalam drama tersebut adalah gotong royong, solidaritas sosial, ketekunan, daya juang, hemat, spiritualitas dan kemandirian. Nilai Indonesia ini yang tergambar dalam drama berguna sebagai materi pembelajaran membaca, menulis,  berbicara dan mendengarkan. Secara spesifik di kelas drama, beragam aktifitas pembelajaran BIPA menggunakan drama ini adalah 1) pembacaan lantang, 2) monolog, 3) pembacaan drama dalam grup, 4) mini drama, dan 5) refleksi.Kata kunci: nilai-nilai Indonesia, praktek pengajaran BIPA, “Sumur Tanpa Dasar”
Metafora bentuk manusia dalam sastra lisan mantra Sinding Badan masyarakat Melayu Sambas Ahadi Sulissusiawan; Dedy Ari Asfar; Mariyadi Mariyadi; Agus Syahrani
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.55509

Abstract

Mantra sebagai bentuk puisi tradisional merupakan warisan dari kehidupan primitif  zaman purba atau prasejarah yang berkembang sampai hari ini. Selain itu, mantra mengandung bahasa sugestif dan magis bagi para pengamalnya. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penggunaan metafora bentuk manusia (human) pada  mantra Sinding Badan masyarakat Melayu Sambas. Metode dipahami dengan sudut pandang pendekatan linguistik fungsional sistemik dan kajian semiotik sosial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dengan metode wawancara. Sumber data penelitian  delapan judul mantra Penyinding Badan yang didapatkan dari narasumber yang berasal dari masyarakat Melayu Sambas. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa pada mantra Sinding Badan ditemukan bentuk-bentuk manusia yang direalisasikan dengan sapaan manusia, pronomina persona pertama tunggal dan pronomina persona kedua tunggal, pronomina posesif pertama tunggal dan pronomina posesif kedua tunggal, dan substitusi nama manusia. Penggunaan bentuk manusia yang dominan dalam mantra adalah metafora bentuk manusia dengan realisasi pronomina posesif “-ku” dan beberapa penggunaan “-mu”. Hal ini menandakan bahwa tingkat “keakuan” atau tujuan mantra digunakan sesuai untuk memberikan pengaruh kepada pemantra sebagai “aku” dalam mantra. Di samping itu,  banyak juga digunakan metafora bentuk manusia yang direalisasikan dengan nama manusia, yakni manusia-manusia yang telah dipercaya oleh Allah SWT untuk memimpin dan terkenal mempunyai kekuatan tertentu. Kata kunci: metafora, manusia, mantra, semiotik sosialThe metaphor of the human form in the oral literature of the Sinding Badan mantra of theSambas Malay community AbstractMantra, as a form of traditional poetry, is a legacy from ancient or prehistoric primitive life that has developed to this day. In addition, mantras contain suggestive and magical language for practitioners. This study aims to describe the use of the metaphor of the human form in the Sinding Badan mantra of the Sambas Malay community. The method is understood from a systemic functional linguistic approach and social semiotic studies standpoint. This study uses a qualitative descriptive research method with the interview method. The research data source for the eight titles of the Penyinding Badan mantra was obtained from informants from the Sambas Malay community. This study revealed that in the Sinding Badan mantra, human forms are found which are realized with human greetings, the first singular personal pronoun, and the second single personal pronoun, the first single possessive pronoun and the second singular possessive pronoun, and the substitution of human names. The predominant use of the human form in mantras is the metaphor of the human form with the realization of the possessive pronoun "-ku" and some uses of "-mu." This indicates that the level of "I" or the purpose of the mantra is used accordingly to give effect to the caster as the "I" in the mantra. In addition, many human-form metaphors are also used, which are realized by the name of humans, namely humans who have been trusted by Allah SWT to lead and are known to have certain powers. Keywords: metaphor, human, mantra, social semiotics
“Osob Kiwalan Ngalaman”: Mengulik penggunaan bahasa slang sebagai identitas lokal masyarakat Malang, Jawa Timur Wildhan Ichzha Maulana; Farida Dwitya Aninda; Sudrajat Sudrajat; Amirul Syafiq
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v22i1.56310

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sisi historis, pemetaan, serta penetapan osob kiwalan ngalaman sebagai identitas lokal masyarakat Malang. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan model etnolinguistik. Mengenai pengumpulan data seputar osob kiwalan ngalaman dilakukan dengan menyimak dan mencatat percakapan sehari-hari antar anggota masyarakat Malang, menggali berbagai contoh dialog percakapan pada platform digital online, serta berbagai literatur yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) osob kiwalan ngalaman awalnya merupakan strategi kode sandi yang dicetuskan tokoh GRK Suyudi Raharno saat terjadi agresi militer Belanda I II di Malang. (2) Terdapat 8 pemetaan osob kiwalan ngalaman meliputi pembalikan fonem langsung, pembalikan fonem yang disertai pelepasan, pembalikan fonem tanpa disertai perubahan posisi dua konsonan bergandengan, pembalikan yang disertai penambahan fonem, pembalikan fonem disertai modifikasi purposif, pembalikan fonem disertai perubahan bunyi, pemendekan kata, serta adopsi kata asing. (3) Slang osob kiwalan ngalaman menjadi identitas lokal masyarakat Malang yang ditandai dengan penggunaannya sebagai identitas diri, bahasa dalam media massa, serta simbol pemersatu masyarakat.Kata kunci: Osob Kiwalan Ngalaman, slang, identitas lokal, Malang “Osob Kiwalan Ngalaman”: Unraveling the use of slang as the local identityof the Malang community, East Java AbstractThis research study aims to determine the historical side, mapping, and determination of osob kiwalan ngalaman as the local identity of the people of Malang. The research method used is descriptive qualitative with an ethnolinguistic model. Data collection around osob kiwalan ngalaman was carried out by listening to and recording daily conversations between members of the Malang community, exploring various examples of conversational dialogue on online digital platforms, as well as various literature relevant to the research topic. While the results of this study indicate that (1) experienced person initially was a coding strategy initiated by GRK figure Suyudi Raharno during the Dutch military aggression I II in Malang. (2) There are 8 mappings osob kiwalan ngalaman including direct phoneme reversal, phoneme reversal accompanied by release, phoneme reversal without a change in the position of two consonant pairs, reversal accompanied by the addition of a phoneme, phoneme reversal accompanied by purposive modification, phoneme reversal accompanied by sound changes, shortening of words, and adoption of foreign words. (3) Slang osob kiwalan ngalaman become the local identity of the people of Malang which is marked by its use as self-identity, language in the mass media, as well as a unifying symbol of society.Keywords: Osob Kiwalan Ngalaman, slang, local identity, Malang
Combining instruction and immersion to improve pronunciation: The case of Chinese students learning bahasa Indonesia Suroso Suroso; Emi Nursanti; Nan Wang
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v22i1.52995

Abstract

In pronunciation classes, most teachers over-emphasize the accuracy part and ignore the fluency aspects (Elliot, 1995; Yoshida, 2016). To enhance both accuracy and fluency for Chinese students’ pronunciation in Bahasa Indonesia (BI), this study investigates the effects of combining instruction and immersion. This was classroom action research conducted for one semester at Qujing Normal University (QJNU), Yunnan Sheng, China. Audiolingual Method (ALM) with drilling technique was the instruction procedure while the outdoor project was the technique in the immersion. The research subjects were nine first-semester students in the Indonesian Language Department of QJNU. Their score improvements from the pre- to post-assessments indicate that combining these two methods is effective in enhancing students’ pronunciation in BI. The instruction conducted through explicit phonetic teaching and drilling is appropriate for habituating them with accurate pronunciation. Meanwhile, the fun and enjoyable immersion in contextual settings boosts their fluency and gives them opportunities to explore and practice using the words they have learned in real contexts. Along with pronunciation improvement, enhancement in students’ learning attitude and engagement in the learning activities are the other benefits that may contribute to their success in gaining full fluency in the second language. Keywords: drilling, immersion, pronunciation, Chinese students, BIPA 
A semiotic study on lipstick L’oreal Paris product poster advertisement Eva Listiani; Muhammad Hafiz Kurniawan; Dadang Sudana
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v22i1.51715

Abstract

Beauty products advertisements concern the scholars because they use the term women empowerment only to increase their profit without caring what happen to women struggle to defend their own rights in society. The third-wave feminism which more closely to define the beauty in diversity make scholars worried that this will misinterpret to prioritize male gaze rather than women empowerment. For this reason, this research aims to investigate the stereotype of women and how women empowerment were presented in L’Oreal Paris lipstick products advertised instagram. This research applies socio-pragmatic approach to semiotics because this study use social semiotics from Kress and van Leeuwen and pragmatism perspective from Peirce. The data of this research were collected from @lorealparis instagram posts which were related only on lipstick products. The data chosen purposively were collected and analyzed using four steps from Bezemer and Jewitt: collecting and logging, viewing, sampling, transcribing and analyzing. The result of this study shows that icon, index and symbol in the data represent women stereotypically as professional women, sexually powerful, and object of beauty which makes them looks equal and confidence regardless of their skin color and body size. This research also shows that @lorealparis lipstick product advertisement has empowered women to use their attractiveness as the power to conquer obstacles and injustice. Keywords:  semiotic, advertisement poster, L'Oreal Paris lipstick products, women empowerment Studi semiotik tentang iklan poster produk lipstik L'Oreal Paris AbstrakIklan produk kecantikan menjadi perhatian para sarjana karena mereka menggunakan istilah pemberdayaan wanita hanya untuk meningkatkan keuntungan mereka tanpa peduli apa yang terjadi pada perjuangan wanita dalam membela hak-hak mereka dalam masyarakat. Feminisme gelombang ketiga yang lebih dekat dengan menentukan kecantikan dalam keragaman membuat para sarjana khawatir bahwa ini akan salah diartikan untuk mengutamakan pandangan laki-laki daripada pemberdayaan wanita. Untuk alasan ini, penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki stereotip wanita dan bagaimana pemberdayaan wanita disajikan dalam iklan produk lipstik L'Oreal Paris yang dipasarkan di Instagram. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosio-pragmatik terhadap semiotika karena penelitian ini menggunakan semiotika sosial dari Kress dan van Leeuwen serta perspektif pragmatisme dari Peirce. Data penelitian ini dikumpulkan dari postingan Instagram @lorealparis yang hanya berhubungan dengan produk lipstik. Data yang dipilih dengan sengaja dikumpulkan dan dianalisis menggunakan empat langkah dari Bezemer dan Jewitt: pengumpulan dan pencatatan, melihat, pengambilan sampel, transkripsi, dan analisis. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa ikon, indeks, dan simbol dalam data secara stereotip merepresentasikan wanita sebagai wanita profesional, berkekuatan seksual, dan objek kecantikan yang membuat mereka terlihat setara dan percaya diri tanpa memperhatikan warna kulit dan ukuran tubuh mereka. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa iklan produk lipstik @lorealparis telah memberdayakan wanita untuk menggunakan daya tarik mereka sebagai kekuatan untuk mengatasi hambatan dan ketidakadilan. Kata kunci: semiotik, iklan poster, produk lipstik L'Oreal Paris, pemberdayaan wanita
Praktik diskursif penanaman nilai moral dalam buku teks Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing Yuni Pratiwi; Amirullah Abduh; Kusubakti Andajani; Asri Ismail; Roekhan Roekhan; Bambang Prastio
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.51719

Abstract

Bukti empiris menunjukkan bahwa beberapa buku teks yang digunakan dalam pembelajaran bahasa kedua melakukan praktik diskursif dengan mengajarkan nilai-nilai moral, baik secara implisit maupun eksplisit. Dengan tujuan untuk memvalidasi hal tersebut, penelitian ini mengkaji nilai-nilai moral yang terdapat dalam buku teks BIPA level 1 hingga 7 dengan berfokus pada piranti linguistik, gambar, dan teks-teks tertentu yang mewakili sikap dari penulis dengan berfokus pada teks naratif dan gambar. Penelitian ini dilakukan dalam konteks buku teks Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA), dan program pembelajaran bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Penelitian menggunakan teori Critical Discourse Analysis (CDA) yang mengadopsi Appraisal Theory (AT), dan Visual Grammar Theory (VGT). Data bersumber dari buku BIPA Sahabatku Indonesia, yang diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia pada tahun 2019. Hasil analisis teks naratif menunjukkan bahwa nilai moral berupa kesopanan dan peduli terhadap lingkungan menjadi yang paling dominanan ditemukan. Sementata itu, hasil item leksikal dan visual menunjukkan bahwa mayoritas mengajarkan untuk menjaga hubungan yang baik sesama manusia dan penciptanya, melalui empat jenis teks. Berdasarkan bukti empiris, baik perancang kurikulum dan buku teks perlu sepenuhnya menyadari nilai-nilai moral dan kepekaan moral sehingga mereka dapat menghadirkan nilai-nilai moral yang seimbang dalam buku-buku teks bahasa. Kata kunci: BIPA, nilai moral, praktik diskursif, buku teks, CDA

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue