cover
Contact Name
Anwar Efendi
Contact Email
anwar@uny.ac.id
Phone
+62274550843
Journal Mail Official
litera@uy.ac.id
Editorial Address
Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta Depok, Sleman, Yogyakarta Indonesia 55281 litera@uny.ac.id
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Litera
ISSN : 14122596     EISSN : 24608319     DOI : 10.21831
Core Subject : Education,
LITERA is a high quality open access peer reviewed research journal that is published by Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta. LITERA is providing a platform for the researchers, academicians, professionals, practitioners, and students to impart and share knowledge in the form of high quality empirical original research papers on linguistics, literature, and their teaching.
Articles 512 Documents
The exploration of students and teachers’ view on ecological storybooks Nandy Intan Kurnia; Niken Anggraeni; Cindy Elsa Fitri
LITERA Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i1.39103

Abstract

Environmental issues are on-going crises that have yet found sufficient solutions. Children, as the next generation, must be given the trust to be able to get in touch with environmental issues as form of children’s empowerment and preservation act. This study aims to describe the views of elementary school students and teachers related to children’s ecology-themed storybooks. This research is qualitative, the data collection uses a list and guided interview questions, observation sheets, questionnaire sheets, and expert validation sheets. The results of the study are as follows. First, there is a lack of ecological books in major bookstore in Yogyakarta, Indonesia. The existing children books containing environmental theme only included it as a supporting theme. This may result in most children participant to be not interested in such books.  Second, teachers are mostly in agreement as to how children ecological storybook should appear ideally. This includes realism as the story’s genre, explicit theme, forest settings, picture book form, human characters nature vs human conflict, and happy closed ending for the story. All of these are believed to be able to educate children on the on-going environmental crisis and to encourage the children to face them.Keywords: children’s storybooks, ecology, children’s empowerment, environment, children’s literature
Hybrid learning dalam pembelajaran keterampilan berbicara bahasa Prancis Desi Rahmawati; Dwiyanto Djoko Pranowo
LITERA Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i2.46705

Abstract

Penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan dapat diterapkan dalam pembelajaran bahasa asing khususnya pembelajaran Bahasa Prancis. Teknologi dapat dimanfaatkan pada penerapan model pembelajaran hybrid learning yang berfokus pada penggunaan teknologi. Hybrid Learning sendiri merupakan model pembelajaran yang menekankan proses pemerolehan keterampilan dan pengetahuan yang dikembangkan melalui desain pembelajaran yang mengintegrasikan pembelajaran tradisional dengan model online berbasis teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hasil belajar mahasiswa keterampilan berbicara mahasiswa menggunakan model pembelajaran hybrid learning dan mendeskripsikan langkah-langkah penerapannya dalam proses pembelajaran. Penelitian ini menggunakan mixed-method dengan desain kuasi eksperimen untuk mengukur hasil belajar mahasiswa dan metode deksriptif untuk mendeskripsikan langkah-langkah penerapannya. Keterampilan berbicara merupakan keterampilan berbahasa yang wajib dikuasai untuk bisa berkomunikasi dengan Bahasa Prancis, sayangnya kemampuan berbahasa Prancis mahasiswa masih dinilai kurang. Melalui hybrid learning mahasiswa akan lebih mudah meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Prancis karena mereka berkesempatan untuk menggali informasi seluas-luasnya melalui teknologi dan internet. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode ini cocok digunakan dalam pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Prancis karena dari hasil pengukuran yang dilakukan menunjukkan bahwa ada pengaruh penggunaan model hybrid learning dalam pembelajaran keterampilan berbicara Bahasa Prancis. Kemudian untuk penerapannya terdapat 11 langkah mulai dari pemilihan pembelajaran online, pemilihan media dan teknologi yang digunakan hingga refleksi kegiatan.Kata kunci: hybrid learning, keterampilan berbicara, bahasa Prancis Hybrid learning in learning French speaking skills AbstractThe use of technology in education can be applied in learning foreign languages, especially learning French. Technology can be utilized in the application of a hybrid learning model that focuses on the use of technology. Hybrid Learning is a learning model that emphasizes acquiring skills and knowledge developed through learning designs that integrate traditional learning with technology-based online models. This study aims to see student learning outcomes of student speaking skills using a hybrid learning model and describe the steps of its application in the learning process. This study uses mixed-method with a quasi-experimental design to measure student learning outcomes and descriptive methods to describe the implementation steps. Speaking skills are language skills that must be mastered to be able to communicate in French, unfortunately, students' French language skills are still considered lacking. Through hybrid learning, students will find it easier to improve their French speaking skills because they have the opportunity to explore the widest possible information through technology and the internet. The results showed that this method was suitable for learning French speaking skills because the measurements showed an effect of using a hybrid learning model in learning French speaking skills. Then there are 11 steps for the implementation, from choosing online learning, choosing media and technology used to reflecting on activities.Keywords: hybrid learning, speaking skill, French
Analisis jumlah kata dan frekuensi jenis kata dalam buku elektronik jenjang PAUD terbitan Badan Bahasa 2019 Pangesti Wiedarti; Siti Maslakhah; Ilfat Isroi Nirwani; Tadkiroatun Musfiroh
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.53350

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi, mengidentifikasi, dan merumuskan  jumlah kata dan frekuensi penggunaan jenis kata pada buku siswa jenjang PAUD. Penelitian dilakukan pada tahun 2021 dengan menggunakan desain penelitian deskriptif-kuantitatif dan menggunakan alat bantu korpus linguistik Antconc. Data diambil dari 34 judul buku elektronik cerita anak jenjang PAUD terbitan Badan Bahasa tahun 2019.  Pada aspek perjenjangan, buku elektronik yang dilabeli PAUD ternyata hanya ada sebesar 20,58%, sedangkan sejumlah 79,42% buku lainnya lebih tinggi jenjangnya bagi peruntukan buku PAUD, yaitu bagi sekolah dasar kelas 1 hingga kelas 3. Dalam aspek jenis kata, pada buku elektronik jenjang PAUD ditemukan jenis kata yang paling dominan, yaitu nomina (35,2%), verba (21,2%), adverbia (11,2%), ajektiva (6,48%), preposisi (4,84%), konjungsi (4,38%), pronomina (4,35%), sedangkan jenis kata lainnya (demonstrativa , interjeksi, kategori fatis, interogativa, numeralia, artikula) ditemukan dalam rentangan (2,56% - 0,72%). Kesimpulan: a) jika memungkinkan, hasil penelitian dapat digunakan untuk perbaikan panduan perjenjangan buku yang sudah ada; b) ihwal perjenjangan buku sebagai panduan perlu dimantapkan dengan ujicoba beberapa panduan, apakah merujuk panduan Puskurbuk Kemendikbud, Fountas Pinnele, Lexile, atau lainnya; c) Penelitian ini diharapkan dapat menjadi pembuka bagi penelitian buku berjenjang untuk implementasi Gerakan Literasi Sekolah pada tingkat Pendidikan PAUD, dasar, dan menengah.Kata Kunci: perjenjangan buku, PAUD, materi baca pengayaan, gerakan literasi sekolahAbstractThis study aims to explore, identify, and formulate the number of words and the frequency of use of word types in early childhood education (PAUD) students' books. The research was conducted in 2021 using a descriptive-quantitative research design and using the Antconc linguistic corpus as a tool. The data is taken from 34 titles of electronic books for PAUD level children's stories published by the Language Agency in 2019. In the aspect of grading, there are only 20.58% of electronic books labeled PAUD, while 79.42% of other books have a higher level for PAUD book allocation, namely for elementary school grades 1 to grade 3. In terms of word types, in PAUD level electronic books found the most dominant types of words, namely nouns (35.2%), verbs (21.2%), adverbs (11.2 %), adjectives (6.48%), prepositions (4.84%), conjunctions (4.38%), pronouns (4.35%), while other types of words (demonstrative, interjection, phatic category, interrogative, numeral) , articular) were found in the range (2.56% - 0.72%). Conclusions: a) if possible, research results can be used to improve existing book tiering guidelines; b) the issue of the hierarchy of books as a guide needs to be strengthened by testing several guidelines, whether referring to the Puskurbuk guidelines of the Ministry of Education and Culture, Fountas Pinnele, Lexile, or others; c) This research is expected to be an opening for tiered book research for the implementation of the School Literacy Movement at the PAUD, primary, and secondary education levels.Keywords: book leveling, PAUD (early childhood education program), enrichment reading materials, school literacy movement
Pendidikan karakter jujur melalui metode bercerita di sekolah dasar di Yogyakarta St. Nurbaya; Rukiyati Rukiyati; Sri Agustin Sutrisnowati
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.51226

Abstract

Pendidikan karakter jujur terintegrasi ke dalam tema-tema pelajaran dengan  metode bercerita  penting dilakukan sebagai upaya mendidik siswa agar menjadi orang yang jujur. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan praktik pendidikan karakter jujur melalui metode bercerita bagi siswa kelas 4 pada tujuh sekolah dasar di Yogyakarta. Buku panduan untuk guru dan buku cerita telah dikembangkan pada penelitian sebelumnya dan telah dinyatakan valid serta  layak digunakan, menurut para ahli maupun guru.Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan model interaktif dari Miles, Huberman dan Saldana (2014).Teknik  pengumpulan data yang digunakan adalah observasi, dan diskusi grup terfokus, didukung dengan penggunaan skala Likert untuk mengukur sikap siswa terhadap kejujuran. Teknik analisis data dilakukan secara interaktif meliputi kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Keabsahan data dilakukan dengan triangulasi sumber dan teknik. Hasil penelitian menyimpulkan praktik pendidikan karakter jujur melalui metode bercerita untuk siswa kelas IV sekolah dasar telah berhasil dilaksanakan dengan baik. Guru telah dapat melaksanakan pembelajaran sesuai buku panduan dan siswa telah memahami arti penting kejujuran dalam berbicara dan bertindak. Siswa menyatakan sikap setuju terhadap pernyataan dan tindakan yang jujur. Oleh karena itu, pendidikan karakter jujur melalui metode bercerita dapat digunakan secara luas sebagai upaya menanamkan nilai kejujuran dalam diri siswa sekolah dasar.  Kata kunci:  nilai, karakter, jujur, dan metode bercerita
Perkembangan fiksimini Indonesia 2010 – kini Else Liliani; Kusmarwanti Kusmarwanti; Dwi Budiyanto
LITERA Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i2.45039

Abstract

Fiksimini adalah fenomena kesusastraan yang lahir karena peran media. Penelitian ini bertujuan menjelaskan perkembangan struktur, penulis, dan penerimaan pembaca fiksimini di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian konten terhadap fiksimini yang diambil dari Twitter, Facebook, dan Instagram. Sumber data penelitian berupa kata, frasa, kalimat, atau paragraf dalam fiksimini yang memuat informasi mengenai struktur fiksimini. Selain fiksimini, sumber data sekunder penelitian ini adalah informasi mengenai penulis dan respon pembaca yang diperoleh dari berbagai literatur pendukung, seperti laman berita, media sosial, dan artikel penelitian. Pengambilan data yang berkaitan dengan rumusan masalah dilakukan dengan teknik membaca dan mencatat. Teknik analisis data penelitian ini dilakukan secara deskriptif kualitatif, dengan menggunakan teori resepsi sastra. Adapun langkah-langkahnya, yaitu: (1) mencatat atau merekam fiksimini, penulis, dan respons pembaca terhadap fiksimini dari berbagai media daring maupun luring; (2) melakukan telaah kritis atas struktur fiksimini sehingga memperoleh gambaran perkembangannya; (3) mengumpulkan dan mengategorisasi berdasar rumusan masalah; dan (4) melakukan pembahasan dan inferensi berdasarkan pendekatan resepsi sastra. Penelitian ini menggunakan validitas semantis dan reliabilitas interrater dan intrarater. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  struktur fiksimini sangat dipengaruhi oleh platform media publikasi yang digunakan. Fiksimini di Indonesia berkembang melalui akun Twitter @fiksimini. Media sosial dan komunitas fiksimini berperan dalam perkembangannya. Penerimaan terhadap fiksimini terlihat dalam keterlibatan aktif publik dalam menghasilkan tulisan serta adanya penelitian, penulisan kritik, atau esai sastra.Kata kunci: fiksimini, media sosial, perkembangan The development of fiksimini in Indonesia in 2010 – present AbstractFiksimini is a literary phenomenon that was born due to the role of the media. This research aims to explain the development of the structure, writers, and reader acceptance of fiksimini in Indonesia. This research is content research on fiksimini taken from Twitter, Facebook, and Instagram. The data sources are words, phrases, sentences, or paragraphs in fiksimini that contain information about the structure of fiksimini. In addition to fiksimini, the secondary data source of this research is information about the author and readers' responses obtained from various supporting literature, such as news pages, social media, and research articles. Data collection related to the formulation of the problem is done by reading and recording techniques. The data analysis technique of this research was carried out in a descriptive qualitative way, using literary reception theory. The steps are (1) recording or recording fiksimini, writers, and readers' responses to fiksimini from various online and offline media; (2) conducting a critical review of the structure of fiksimini to obtain an overview of its development; (3) collecting and categorizing based on the formulation of the problem; and (4) conducting discussion and inference based on the literary reception approach. This research uses semantic validity and interrater and intrarater reliability. The results show that the structure of fiksimini is strongly influenced by the publication media platform used. Fiksimini in Indonesia developed through the Twitter account @fiksimini. Social media and the fiksimini community play a role in its development. The acceptance of fiksimini can be seen in the active involvement of the public in producing writing as well as research, writing criticism, or literary essays.Keywords: fiksimini, social media, development
Christine Nöstlinger pada arena sastra anak dan remaja Jerman abad XXI Yati Sugiarti; Lia Malia; Wening Sahayu; Akbar Kuntardi Setiawan
LITERA Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i2.44020

Abstract

Untuk meraih posisi unggul di antara sesama penulis sastra, dalam hal ini sastra anak, seorang pengarang harus melalui beberapa tahapan sulit dalam karir kepengarangannya. Dan arena dalam konsep strukturalisme genetik Bourdieu merupakan perjuangan, adu kekuatan, sebuah medan dominasi dan konflik antar individu, antar kelompok demi mendapatkan posisinya. Posisi itu dapat diraih melalui habitus dan modal. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap arena yang diperjuangkan Christine Nöstlinger dalam bidang sastra anak dan remaja Abad XXI. Penelitian ini menggunakan pendekatan ekspresif. Sumber data penelitian adalah biografi Christine Nöstlinger yang berjudul Glück ist was für Augenblicke, Errinnerungen. Data yang berupa kutipan-kutipan frasa dan kalimat yang ada dalam biografi amatan selanjutnya dianalisis dengan Teori Strukturalisme Genetik Pierre Bourdieu (2010). Hasil penelitian ini menunjukkan, bahwa: (1) habitus Christine Nöstlinger meliputi membaca, berdiskusi, menggambar, dan menulis (2) modal yang dimiliki meliputi modal ekonomi, modal sosial, modal budaya, dan modal simbolik. (3) dengan karya utamanya sebanyak 147 buah dan 38 penghargaan dalam bidang sastra anak dan remaja, Christine Nöstlinger berhasil memperjuangkan arenanya yaitu arena sastra anak dan remaja Abad ke -21. Capaian tersebut mengukuhkan posisi Christine Nöstlinger sebagai pengarang sastra anak dan remaja Jerman Abad ke-21.Kata kunci: Christine Nöstlinger, strukturalisme genetik, habitus, modal, arena Christine Nöstlinger in the 21st century children’s and youth German literature AbstractIn order to gain a prominent position among writers of children’s literature, Christine Nöstlinger had to go through several difficult stages in her writing career. Arena in Bourdieu's concept of genetic structuralism is described as struggle, power struggle, domination, and conflict between individuals, between groups to get their position. This position can be achieved through habitus and capital. This study aims to describe (1) habitus, (2) capital, and (3) the arena of Christine Nöstlinger in the 21st-century children's and youth literature. This research used an expressive approach by utilizing Pierre Bourdieu's Theory of Genetic Structuralism (years). Sources of research data were Nöstlinger, Christine (2013). Glück ist was für Augenblicke, Errinnerungen. Wien: Residenz Verlag. Data were obtained by literature study, reading and note-taking techniques. The data were analyzed using qualitative descriptive analysis techniques. The validity of the data was obtained through semantic validity. The reliability used is intrarater and interrater reliability. The results of this study are as follows: (1) Christine Nöstlinger's habitus in this study includes reading, discussing, drawing, and writing (2) her capital encompasses economic capital, social capital, cultural capital, and symbolic capital, (3) the arena that Christine Nöstlinger is fighting for is the 21st-century children's and youth literature with 147 main works and 38 awards in children's and youth literature. This achievement confirms Christine Nöstlinger's position as a 21st-century German writer of children's and youth literature.Keywords: Christine Nöstlinger, genetic structuralism, habitus, capital, arena
Berharap pada gen-z melalui film komedi "Pourris Gâtés" karya Nicolas Cuche: Naratif pedagogi Yeni Artanti; Otta Orsya; Siti Sumiyati
LITERA Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v22i1.58521

Abstract

Film adalah karya seni yang memiliki peran mendidik, selain juga memberikan hiburan. Penelitian ini bertujuan untuk memaknai film komedi keluarga yang ditayangkan melalui Netflix, Pourris Gâtés (2021) karya Nicolas Cuche melalui paradigma berpikir pedagogi kritis Henry Giroux dan psikologi sosial Erich Fromm. Sebagai penelitian kualitatif, teknik analisis yang digunakan  adalah interpretatif reflektif. Data visual dan lisan dalam bentuk gambar,  percakapan, dan tulisan dalam film Pourris Gâtés (Cuche, 2021) yang produksi  oleh Borsalino Productionspartners  secara tematik diidentifikasi dan diklasifikasikan untuk mendapatkan pesan dan kebermaknannya.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa harapan terhadap generasi-z ditampilkan melalui konflik dalam keluarga Francis Bartek, seorang ayah tunggal yang kaya raya, salah satu pengusaha terbaik di bidang konstruksi di Monako yang mencoba mendidik anak-anaknya, yaitu  Philippe Bartek, Stella Bartek, dan Alexandre Bartek untuk bertanggung jawab  terhadap hidup mereka sendiri dengan bekerja. Harapan Francis Bartek agar anak-anaknya memahami konsep perencanaan, seperti menabung, penganggaran, investasi, dan mengelola keuangan, termasuk mengambil keputusan yang tepat dalam hidup mereka. Konsep dan keterampilan literasi keuangan disajikan melalui adegan dan dialog yang lucu dan akrab saat Stella, Philippe, dan Alexandre Bartek berjuang untuk bertahan hidup dengan bekerja atau berbisnis mulai dari nol. Harapan yang disertai tindakan aktif Francis Bartek terhadap anak-anaknya memunculkan keyakinan, ketabahan, dan kebangkitan dalam memaknai kehidupan mereka sendiri. Dengan berharap seseorang menjadi gigih, mampu kerja keras, bertanggung jawab dengan penuh kesadaran. Jadi, naratif pedagogi Pourris Gâtés (Cuche, 2021) menunjukkan bahwa harapan merupakan aspek psikis manusia untuk terus tumbuh dan mengada.Kata kunci: literasi keluarga, narasi, film, Monako, komedi, harapan, Fromm Pinning hopes on gen-z through Nicolas Cuche's Pourris Gâtés comedy film: Narrative pedagogy AbstractFilms, like novels, plays, poems, music, paintings, and sculptures, are effective mediums for both education and entertainment. This research aims to interpret Nicolas Cuche's family comedy Pourris Gâtés (2021) using Henry Giroux's critical pedagogical thinking paradigm and Erich Fromm's social psychology. The analytical techniques used in qualitative research are reflective and interpretive. To obtain the message and meaning, visual and oral data in the form of images, conversations, and writings in the film Pourris Gâtés (2021), produced by Borsalino Productionspartners and directed by Nicolas Cuche, are thematically identified. The findings indicated that Francis Bartek, a successful businessman in construction and a wealthy single father, experienced family conflict as he attempted to teach his children—Stella  Bartek, Philippe Bartek, and Alexandre Bartek—to be accountable and self-sufficient by means of employment. Francis Bartek hopes her children understand financial concepts like saving, budgeting, investing, managing finances, and making sound decisions. Stella, Philippe, and Alexandre Bartek struggle to survive by working or starting a business from scratch, and financial literacy concepts and skills are presented through hilarious and familiar scenes and dialogues. The hope that was accompanied by Francis Bartek's active actions towards his children gave rise to conviction, fortitude, and awakening in interpreting their own lives. By expecting someone to be persistent, able to work hard, and take responsibility with full awareness. Thus, the pedagogical narrative of Pourris Gâtés (Cuche, 2021) shows that hope is a psychic aspect of the human being to continue to grow and exist.Keywords: finance literacy, narrative pedagogy, film, Monaco, comedy, hope, Fromm
The effectiveness of developing CLIL-based Indonesian language course teaching materials at Bengkulu city universities Wulan Febrina; Sudarwan Danim; Didi Yulistio; Ria Ariesta; Abdul Muktadir; Meiselina Irmayanti
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.54138

Abstract

The development of learning materials for Indonesian courses uses a qualitative and quantitative approach to research and development (R D). This study aims to produce teaching materials for Indonesian language courses based on CLIL that follow the learning needs of college students in Bengkulu City. The research subjects were all students who took Indonesian language courses consisting of Bengkulu University, Bengkulu Muhammadiyah University, and Fatmawati Sukarno Bengkulu State Islamic University. The effectiveness test of the development of teaching materials for Indonesian language courses based on CLIL in universities obtained a significant value. The average value of the results before the use of CLIL-based Indonesian language teaching materials in Bengkulu City universities which was developed was 68.50, and a standard deviation of 13,489 and after using CLIL-based Indonesian teaching materials in universities Bengkulu City which has been developed is 80.19 with a standard deviation of 11,546. This means the average difference in student learning outcomes before and after using the development of teaching materials for Indonesian language courses based on CLIL at Bengkulu City Universities.Keywords: teaching materials, Indonesian, CLIL Efektivitas pengembangan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis CLIL di perguruan tinggi kota BengkuluAbstractPengembangan bahan ajar mata kuliah Bahasa Indonesia ini menggunakan pendekatan penelitian dan pengembangan (R D) dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar mata kuliah bahasa Indonesia berbasis CLIL yang sesuai dengan kebutuhan belajar mahasiswa perguruan tinggi di Kota Bengkulu. Subjek penelitian adalah seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah bahasa Indonesia yang terdiri dari Universitas Bengkulu, Universitas Muhammadiyah Bengkulu, dan Universitas Islam Negeri Fatmawati Soekarno Bengkulu. Uji efektivitas pengembangan bahan ajar mata kuliah bahasa Indonesia berbasis CLIL di perguruan tinggi memperoleh nilai yang signifikan. Nilai rata-rata hasil sebelum penggunaan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis CLIL di perguruan tinggi Kota Bengkulu yang dikembangkan adalah 68,50, dan standar deviasi 13.489 dan setelah menggunakan bahan ajar bahasa Indonesia berbasis CLIL di perguruan tinggi Kota Bengkulu yang telah dikembangkan adalah 80,19 dengan standar deviasi 11.546. Hal ini berarti terdapat perbedaan rata-rata hasil belajar mahasiswa sebelum dan sesudah menggunakan pengembangan bahan ajar mata kuliah bahasa Indonesia berbasis CLIL di Perguruan Tinggi Kota Bengkulu.Kata kunci: ajar, bahasa Indonesia, CLIL
Mediatisasi kearifan lokal Sunda dalam film Ambu Yatun Romdonah Awaliah
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.52145

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan wujud, makna, dan fungsi kearifan lokal dalam film Ambu (2019). Film tersebut merupakan film pertama di Indonesia yang berhasil membuat film tentang suku Baduy. Kanekes atau Baduy dikenal sebagai suku yang masih mempertahankan budaya Sunda dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analisis Hermeneutika Ricoeur. Unit analisis yang dikaji adalah aspek verbal maupun visual film. Terdapat empat hasil penelitian yang didasarkan atas tipologi kearifan lokal sebagai berikut. Pertama, dimensi pengetahuan lokal diwujudkan melalui upacara penyucian. Kedua, dimensi keterampilan lokal meliputi aktivitas menumbuk maupun memasok olahan pangan (leuit-leuit). Ketiga, dimensi sumber daya lokal diperlihatkan dengan kedudukan wewengkon atau aspek ekosentrisme maupun biosentrisme daerah Baduy. Keempat, dimensi solidaritas dan kepemimpinan kultural diproyeksikan melalui kepemimpinan ketua adat dan gotong-rotong masyarakat. Kelima, dimensi tatakrama terdiri atas wilayah personal dan sosial yang direpresentasikan oleh 5W (wiwaha, wibawa, wirasa, wirahma, dan wiraga) yang dalam konteks pendidikan karakter relevan dengan konsep moral knowing, moral feeling, dan moral action. Kata kunci: kearifan lokal, sunda, film ambu, lokalitas, pendidikan karakter AbstractThis study aims to describe the form, meaning, and function of local wisdom in the film Ambu (2019). This film is the first cinema in Indonesia which has made a film about the Baduy tribe. Kanekes or Baduy are a tribe that still maintains a Sundanese culture in their daily lives. This study uses a qualitative method with Ricoeur's Hermeneutic analysis approach. The unit of analysis studied is the verbal and visual aspects of the film. There are four research results based on the typology of local wisdom as follows. First, the dimension of local knowledge is realized through a purification ceremony. Second, local skills include the process and supplying processed food (leuit-leuit). Third, the dimension of local resources is shown by the position of wewengkon or the ecocentrism and biocentrism aspects of the Baduy area. Fourth, the dimensions of solidarity and cultural leadership are projected through the administration of traditional leaders and community mutual assistance. Fifth, the dimensions of etiquette consist of personal and social areas represented by 5W (wiwaha, wibawa, wirasa, wirahma, and wiraga), which in the context of character education are relevant to the concepts of moral knowing, moral feeling, and moral action. Keywords: Local Wisdom, Sundanese, Ambu Film, Locality, Character Education
Indeksikalitas leksikon kekerabatan etnis Sasak masyarakat Rembiga Mataram Wiya Suktiningsih; Wahyu Kamil Syarifaturrahman; Diah Supatmiwati; Billy Sukma Dwiprasetyo
LITERA Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022)
Publisher : Faculty of Languages, Arts, and Culture Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v21i3.47905

Abstract

Perkembangan perekonomian kota Mataram menjadi daya tarik penduduk dari luar kota Mataram untuk pindah dan bertempat tinggal, salah satunya di kelurahan Rembiga. Keadaan tersebut menyebabkan karakteristik masyarakat Rembiga lebih heterogen. Etnis Sasak sebagai masyarakat asli Rembiga dihadapkan pada fenomena tergesernya penggunaan bahasa Sasak dengan bahasa Indonesia. Hal itu mempengaruhi indeksikalitas bahasa Sasak untuk leksikon kekerabatan masyarakat Rembiga. Karena itulah penelitian ini dilakukan, untuk mengidentifikasi berapa banyak leksikon sistem kekerabatan etnis Sasak yang digunakan masyarakat Rembiga dan bagaimana penggunaanya. Metode penelitian deskriptif kualitatif digunakan untuk mendiskripsikan fenomena kebahasaan dan praktik kultural masyarakat Rembiga. Teknik wawancara dilakukan untuk pengumpulan data dan menggali lebih dalam makna dari leksikon kekerabatan, sedangkan langkah observasi digunakan untuk menjamin kebenaran data yang diperoleh. Analisis makna di dalam leksikon diklasifikasikan berdasarkan tataran generasi keturunan. Hasil penelitian menemukan 20 leksikon kekerabatan yang digunakan, yaitu: amaq, inaq, adiq, kakaq, papuq mame, papuq nine, semeton kuni, semeton pendait, amaq kake, inaq kake, tuaq/amaq saiq, inaq saiq, naken, pisaq, sampu, sampu due kali, wai, baloq, mbiq dan kletok-klatek. Namun hanya 18 leksikon yang masih digunakan saat ini, sedangkan leksikon Mbiq dan Kletok-klatek sudah jarang bahkan tidak lagi dipergunakan karena usia penutur bahasa Sasak rata-rata tidak lebih dari 70 tahun.Kata kunci: indeksikalitas, leksikon kekerabatan, etnis Sasak, bahasa Sasak, masyarakat Rembiga Indexicality of the Sasak ethnic kinship lexicon of the Rembiga Mataram community AbstractThe economic development of Mataram has attracted residents from outsider to move and live, one of the destinations is Rembiga. The situation causes the characteristics of the Rembiga community more heterogeneous. The Sasaknese as a native of Rembiga is faced phenomenon of shifting language, Sasak and Indonesia. This cause the indexicality of Sasak language for the Rembiga kinship lexicon. This research was conducted, to identify how many lexicons of the Sasaknese kinship system are used by the Rembiga community and how they are used. Qualitative descriptive research method is used to describe the linguistic phenomena and cultural practices of the Rembiga community. Interview technique was carried out for data collection and to dig deeper the meaning of the kinship lexicon, while the observation step was used to ensure the truth of the data obtained. Analysis of meaning in the lexicon is classified based on the level of generation of descendants. The results of the study found 20 kinship lexicon used, namely: amaq, inaq, adiq, kakaq, papuq mame, papuq nine, semeton kuni, semeton pendait, amaq kake, inaq kake, tuaq/amaq saiq, inaq saiq, naken, pisaq, sampu, sampu due kali, wai, baloq, mbiq and kletok-klatek. However, only 18 lexicons are still used today, while the Mbiq and Kletok-klatek lexicon are rarely or even no longer used because the average age of Sasak speakers is not more than 70 years.Keywords: indexicality, kinship lexicon, Sasaknese, Sasak language, Rembiga community

Filter by Year

2003 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 24 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2025) Vol. 24 No. 2: LITERA (JULY 2025) Vol. 24 No. 1: LITERA (MARCH 2025) Vol. 23 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2024) Vol. 23 No. 2: LITERA (JULY 2024) Vol. 23 No. 1: LITERA (MARCH 2024) Vol. 22 No. 3: LITERA (NOVEMBER 2023) Vol. 22 No. 2: LITERA (JULY 2023) Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) -- IN PRESS Vol 22, No 1: LITERA (MARCH 2023) Vol 21, No 3: LITERA (NOVEMBER 2022) Vol 21, No 2: LITERA (JULY 2022) Vol 21, No 1: LITERA (MARCH 2022) Vol. 20 No. 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 3: LITERA NOVEMBER 2021 Vol 20, No 2: LITERA JULI 2021 Vol 20, No 1: LITERA MARET 2021 Vol 19, No 3: LITERA NOVEMBER 2020 Vol 19, No 2: LITERA JULI 2020 Vol 19, No 1: LITERA MARET 2020 Vol 18, No 3: LITERA NOVEMBER 2019 Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019 Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019 Vol 17, No 3: LITERA NOVEMBER 2018 Vol 17, No 2: LITERA JULI 2018 Vol 17, No 1: LITERA MARET 2018 Vol 16, No 2: LITERA OKTOBER 2017 Vol 16, No 1: LITERA APRIL 2017 Vol 15, No 2: LITERA OKTOBER 2016 Vol 15, No 1: LITERA APRIL 2016 Vol 14, No 2: LITERA OKTOBER 2015 Vol 14, No 1: LITERA APRIL 2015 Vol 13, No 2: LITERA OKTOBER 2014 Vol 13, No 1: LITERA APRIL 2014 Vol 12, No 2: LITERA OKTOBER 2013 Vol 12, No 1: LITERA APRIL 2013 Vol 11, No 2: LITERA OKTOBER 2012 Vol 11, No 1: LITERA APRIL 2012 Vol 10, No 2: LITERA OKTOBER 2011 Vol 10, No 1: LITERA APRIL 2011 Vol 9, No 2: LITERA OKTOBER 2010 Vol 9, No 1: LITERA APRIL 2010 Vol 8, No 2: LITERA OKTOBER 2009 Vol 8, No 1: LITERA APRIL 2009 Vol 7, No 1: LITERA APRIL 2008 Vol 6, No 1: LITERA JANUARI 2007 Vol 5, No 1: LITERA JANUARI 2006 Vol 4, No 2: LITERA JULI 2005 Vol 4, No 1: LITERA JANUARI 2005 Vol 3, No 2: LITERA JULI 2004 Vol 3, No 1: LITERA JANUARI 2004 Vol 2, No 1: LITERA JANUARI 2003 More Issue