cover
Contact Name
Dr. Istiadah, MA
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
egalita@uin-malang.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
EGALITA
ISSN : 19073641     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
EGALITA merupakan Jurnal Kesetaraan dan Keadilan Gender yang menyajikan sejumlah hasil penelitian, pemahaman dan perenungan mendalam tentang problematika gender, baik dalam bangunan intelektual maupun konstruksi sosial yang ada pada masyarakat.
Arjuna Subject : -
Articles 193 Documents
STRATEGI MENGATASI PERILAKU MALADAPTIF ANAK MELALUI IMPLEMENTASI NILAI MODERASI BERAGAMA DALAM PENGASUHAN POSITIF Rosdiana, Aprilia Mega
EGALITA Vol 19, No 2 (2024): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v19i2.30113

Abstract

Abstract Children have shown maladaptive behavior in the post-pandemic, such as bullying, decreased interest in learning, choosing to play with gadgets rather than socializing, and becoming abusers of their peers. Violence is usually motivated by differences of opinion, ethnic background, culture, and education. This is a serious concern, applying religious moderation values in parenting can help children grow optimally with more adaptive, tolerant, and respectful behavior. This study aims to solve the problem of children's maladaptive behavior by involving the role of parents through positive parenting by implementing the value of religious moderation. This research method uses a Participatory Action Research (PAR) approach, with the value of religious moderation as a framework, including the pillars of national commitment, tolerance, non-violence, and accommodating local traditions. The results showed that children's maladaptive behavior is caused by low parental supervision and lack of activities. The community realizes the need for knowledge about positive parenting that contains the values of religious moderation, the implementation of parenting practice activities, and the evaluation of activities that impact a peaceful and safe life in the community. This research shows the importance of the role of citizens in encouraging the creation of positive parenting and the importance of religious moderation values in instilling the value of diversity and tolerance in children. . Keywords: Child Maladaptive Behavior; Positive Parenting; Religious Moderation And Participatory Action Research (PAR)Abstrak Anak-anak menunjukkan perilaku maladaptif pasca pandemi, seperti perundungan, menurunnya minat belajar, memilih bermain gawai daripada bersosialisasi, dan menjadi pelaku kekerasan terhadap teman sebayanya. Kekerasan biasanya dilatarbelakangi oleh perbedaan pendapat, latar belakang etnis, budaya, dan pendidikan. Hal ini menjadi perhatian serius, penerapan nilai-nilai moderasi beragama dalam pengasuhan anak dapat membantu anak tumbuh optimal dengan perilaku yang lebih adaptif, toleran, dan saling menghargai. Penelitian ini bertujuan untuk menyelesaikan masalah perilaku maladaptif anak dengan melibatkan peran orang tua melalui pola asuh positif dengan menerapkan nilai moderasi beragama. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), dengan nilai moderasi beragama sebagai kerangka kerja, meliputi pilar komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan, dan mengakomodasi tradisi lokal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku maladaptif anak disebabkan oleh rendahnya pengawasan orang tua dan kurangnya kegiatan. Masyarakat menyadari perlunya pengetahuan tentang pengasuhan positif yang mengandung nilai-nilai moderasi beragama, pelaksanaan kegiatan praktik pengasuhan anak, dan evaluasi kegiatan yang berdampak pada kehidupan yang damai dan aman di masyarakat. Penelitian ini menunjukkan pentingnya peran warga dalam mendorong terciptanya pola asuh positif dan pentingnya nilai-nilai moderasi beragama dalam menanamkan nilai keberagaman dan toleransi pada anak. Kata Kunci: Perilaku Maladaptif Anak; Pengasuh Positif; Moderasi Beragama dan Participatory Action Research (PAR)
MODEL PERCEIVED SOCIAL SUPPORT PEREMPUAN KADER SURABAYA HEBAT DALAM PENURUNAN PREVALENSI STUNTING Puspitasari, Sendy Krisna; Andriyanto, Andriyanto
EGALITA Vol 19, No 2 (2024): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v19i2.27771

Abstract

Abstract Stunting is a health problem in children due to chronic malnutrition that has a negative impact. Reducing the prevalence of stunting is a commitment of Kader Surabaya Hebat (KSH) women by prioritizing perceived social support. The role of KSH women as the leading sector in reducing the prevalence of stunting is evident in this study. This study aims to explore the model and process of perceived social support in the role of KSH women in the community. KSH women are also the main focus of the research and how the model becomes a modality of character building in Surabaya City. This research uses descriptive qualitative methods through observation and interviews. The results showed that the perceived social support model applied by KSH women is emotional support, instrumental support, information support, appreciation support, and social network support. The process of perceived social support starts from face-to-face dialogue, building trust, commitment to the process, sharing understanding, and temporary results that are carried out have gone well and are effective in reducing the prevalence of stunting in Surabaya City. . Keywords: Kader Surabaya Hebat Women; Stunting; Perceived Social SupportAbstrak Stunting merupakan permasalahan kesehatan pada anak akibat malnutrisi kronis yang berdampak buruk. Penurunan prevalensi stunting menjadi komitmen perempuan Kader Surabaya Hebat (KSH) dengan mengutamakan perceived social support. Peran perempuan KSH menjadi leading sector dalam penurunan prevalensi stunting terbukti pada penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi model dan proses perceived social support dalam peran perempuan KSH di masyarakat. Perempuan KSH juga menjadi fokus utama penelitian serta bagaimana model tersebut menjadi satu modalitas pembangunan karakter di Kota Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif melalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model perceived social support yang diterapkan perempuan KSH adalah dukungan emosional, dukungan instrumental, dukungan informasi, dukungan apresiasi, dan dukungan jaringan sosial. Proses perceived social support dimulai dari dialog tatap muka, membangun kepercayaan, komitmen terhadap proses, berbagi pemahaman, dan hasil sementara yang dilakukan sudah berjalan baik dan efektif dalam penurunan prevalensi stunting di Kota Surabaya.  Kata Kunci: Perempuan Kader Surabaya Hebat; Stunting; Perceived Social Support
PENCEGAHAN KEKERASAN SEKSUAL BERBASIS MASJID DALAM MEWUJUDKAN MASJID RAMAH PEREMPUAN DAN ANAK Ch, Mufidah; Rouf, Abd.
EGALITA Vol 19, No 2 (2024): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v19i2.29464

Abstract

Abstract Cases of sexual violence have recently occurred frequently in the public sector, such as workplaces, public services, educational institutions, and even places of worship like mosques. The Indonesian Mosque Council (DMI), as an authoritative institution, aims to create mosques that are friendly to women and children to address this issue. This hope is carried out by the leadership of the Indonesian Mosque Council from the central level to the regions. This research aims to examine the responses and prevention models of sexual violence that will be implemented by the Regional Leadership of the Indonesian Mosque Council (PD DMI) in Malang Regency in realizing mosques that are friendly to women and children. This research is a field study with a phenomenological qualitative approach. Primary data sources include the PD DMI of Malang Regency, the Expert Council of PD DMI of Malang Regency, the management of the Great Mosque and the Grand Mosque, as well as the Department of Empowerment of Muslimah, Children, and Families (PPMAK) at PD DMI of Malang Regency. Meanwhile, the secondary data consists of literature books, journals, laws, and related regulations obtained from interviews and documentation. The results obtained indicate that realizing a mosque that is friendly to women and children is not only achieved through the provision of information and education on the prevention of sexual violence but also includes the establishment of regulations, integration of themes in Friday sermons, education through study circles, infrastructure improvements, the establishment of family corners, and collaboration with relevant institutions Keywords: Indonesian Mosque Council; Sexual Violence; Women and Children Friendly MosqueAbstrak Kasus kekerasan seksual belakangan sering terjadi di sektor publik seperti tempat kerja, layanan publik, lembaga pendidikan, bahkan terpat peribadatan seperti masjid. Dewan Masjid Indonesia (DMI) sebagai lembaga berwenang ingin mewujudkan masjid ramah perempuan dan anak untuk mengatasi kasus tersebut. Harapan ini dilakukan oleh pimpinan Dewan Masjid Indonesia di tingkat pusat sampi daerah. Penelitian ini bertujuan untuk melihat respons dan model pencegahan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Pimpinan Daerah Dewan Masjid Indonesia (PD DMI) Kabupaten Malang dalam mewujudkan masjid ramah perempuan dan anak. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan dengan pendekatan kualitatif fenomenologis. Sumber data primer meliputi PD DMI Kabupaten Malang, Dewan Pakar PD DMI Kabupaten Malang, Takmir Masjid Besar dan Masjid Agung, serta Departemen Pemberdayaan Potensi Muslimah, Anak dan Keluarga (PPMAK) pada PD DMI Kab. Malang. Sedangkan data skunder berupa buku literatur, jurnal, undang-undang, dan peraturan terkait yang diperoleh dari wawancara dan dokumentasi. Hasil yang diperoleh yaitu dalam mewujudkan masjid ramah perempuan dan anak tidak hanya dilakukan melalui pemberian informasi dan edukasi mengenai pencegahan kekerasan seksual, tetapi juga mencakup pembentukan regulasi, integrasi tema dalam khutbah Jum'at, pendidikan melalui pengajian, perbaikan infrastruktur, pendirian family corner, serta kolaborasi dengan lembaga-lembaga terkait. Kata Kunci: Dewan Masjid Indonesia; Kekerasan Seksual; Masjid Ramah Perempuan dan Anak
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN DIBAWAH UMUR AKIBAT PERKAWINAN DINI PERSPEKTIF MAQASHID SYARIAH Sukadi, Imam; Rudolf Banoet, Charles Gustaf; Amilia, Zakia
EGALITA Vol 19, No 2 (2024): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v19i2.29726

Abstract

Abstract This study aims to evaluate the legal protection for underage girls vulnerable to early marriage in Indonesia, analyzed from the perspective of maqashid syariah. Early marriage has shown adverse impacts on health, education, and psychological well-being, raising concerns about the sufficiency of existing legal protections. This normative study employs a conceptual approach by examining Indonesian regulations, including Law No. 16 of 2019, which amends Law No. 1 of 1974 on Marriage, assessing its alignment with maqashid syariah principles that emphasize the protection of religion (hifz al-din), life (hifz al-nafs), intellect (hifz al-aql), progeny (hifz al-nasl), and wealth (hifz al-mal). Although the legal age for marriage is set at 19, the provision for marriage dispensations with court approval presents a gap that facilitates child marriages. The findings reveal that dispensations are frequently granted without considering the long-term physical and mental health consequences for young girls. This study underscores the need for stricter regulation on marriage dispensations and advocates for community education programs involving religious and educational leaders to raise awareness about the negative effects of early marriage. The recommendations align with broader efforts to protect girls through enhanced community engagement, rigorous oversight, and legal enforcement based on maqashid. Keywords: Early Marriage; Legal Protection; Women’s RightAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perlindungan hukum bagi anak perempuan di bawah umur yang rentan terhadap perkawinan dini di Indonesia dalam perspektif maqashid syariah. Perkawinan dini terbukti berdampak buruk terhadap kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan psikologis, sehingga menimbulkan kekhawatiran akan kecukupan perlindungan hukum yang ada. Penelitian normatif ini menggunakan pendekatan konseptual dengan mengkaji regulasi di Indonesia, termasuk UU No. 16 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, menilai kesesuaiannya dengan prinsip maqashid syariah yang menekankan perlindungan terhadap agama (hifz al-din), jiwa (hifz al-nafs), akal (hifz al-aql), keturunan (hifz al-nasl), dan harta (hifz al-mal). Meskipun usia minimal pernikahan ditetapkan pada 19 tahun, adanya dispensasi pernikahan dengan persetujuan pengadilan membuka celah yang memungkinkan terjadinya perkawinan anak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dispensasi ini sering diberikan tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjang pada kesehatan fisik dan mental anak perempuan. Penelitian ini menekankan perlunya pengawasan lebih ketat dalam pemberian dispensasi dan menyarankan adanya program edukasi masyarakat yang melibatkan tokoh agama dan pendidik untuk meningkatkan kesadaran akan efek negatif perkawinan dini. Rekomendasi penelitian ini mendukung upaya yang lebih luas dalam melindungi anak perempuan melalui keterlibatan masyarakat, peningkatan pengawasan, dan penegakan hukum yang lebih ketat sesuai dengan prinsip maqashid syariah, guna mencegah perkawinan dini di Indonesia. Kata Kunci: Perkawinan Dini; Perlindunhan Hukum; Maqashid Syariah; Hak Perempuan
WOMEN EMPOWERMENT AND GENDER EQUALITY IN THE SALE OF BORAN RICE IN LAMONGAN INDONESIA Yuniar, Dea Hernawati; Riyanto, Edi Dwi; Afdholy, Nadya
EGALITA Vol 19, No 2 (2024): December
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v19i2.27389

Abstract

Abstract Women's empowerment and equality in the economic sector have become widespread due to the successful implementation of the feminist movement. In socialist feminism, the oppression of women in the world of work was rampant, and this has slowly diminished with the empowerment of women in the social and economic sectors. The selling of boran rice by women only in Lamongan, East Java, Indonesia, has a uniqueness because it is one of Lamongan's traditional foods. This research aims to discuss women's empowerment and gender equality in the production and selling practice of boran rice in Lamongan. This research uses descriptive qualitative methods and a phenomenological approach. The data taken in this study is from interviews with boran rice sellers in Lamongan. The results of this research suggest that boran rice sellers do not mind being supporters of the family economy. The women empowerment act is found in the association that houses boran rice sellers in the west of the Lamongan plaza. The gender equality found in the opportunity for women to have a job. This reflects that women and men have their own roles, and their skills are equally useful.. Keywords: Boran Rice; Gender Equality; Women EmpowermentAbstrak Pemberdayaan dan kesetaraan perempuan di sektor ekonomi berkembang pesat karena adanya Gerakan feminisme. Dalam Gerakan feminisme sosialis, penindasan terhadap perempuan di dunia kerja merajalela perlahan-lahan berkurang dengan adanya pemberdayaan perempuan di sektor sosial dan ekonomi. Nasi boran merupakan makanan tradisional Lamongan, Jawa Timur, yang telah menjadi sebuah komoditas. Keunikan dari komoditas ini ialah penjualan nasi boran hanya dilakukan oleh perempuan di Lamongan, Jawa Timur yang tidak dapat ditemukan di daerah lain. Penelitian ini bertujuan untuk mendiskusikan pemberdayaan perempuan dan aspek kesetaraan gender dalam penjualan nasi boran di Lamongan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan pendekatan fenomenologi. Data yang diambil dalam penelitian ini berasal dari hasil wawancara dengan penjual nasi boran di Lamongan. Hasil wawancara penelitian ini menunjukkan bahwa penjual nasi boran tidak keberatan menjadi salah satu pendukung ekonomi keluarga. Upaya pemberdayaan perempuan ini terdapat pada paguyuban yang menaungi para penjual nasi boran di Lamongan, dan penyerahan tanggung jawab penjualan nasi boran sepenuhnya kepada perempuan. Hal ini mencerminkan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki perannya masing-masing, dan keterampilan yang dimiliki masing-masing memiliki manfaat yang sama. Kata Kunci: Nasi Boran; Kesetaraan Gender; Pemberdayaan Perempuan
BRIDGING GENDER GAPS IN EDUCATION THROUGH ISLAMIC VALUES AND TECHNOLOGY AT PPTQ AL-HASAN Syahrudin, Syahrudin; Aisi, Okta Khusna; Susanto, Roni; Isa, Khairunesa
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.30589

Abstract

Abstract Achieving gender equality in education remains a pressing global challenge and a core component of the Sustainable Development Goals (SDGs), particularly in regions where religious values deeply influence social structures. This study explores an integrative approach that combines Islamic principles with educational technology to address gender disparities in education, with a focus on Madrasah Riyadlatusy Syubban, part of Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hasan in Ponorogo, East Java. Utilizing a qualitative case study design, the research investigates how Islamic values that uphold gender justice can be harmonized with technological innovations to expand access to education and enhance learning outcomes. Data were gathered through in-depth interviews, participant observation, and institutional document analysis. The findings reveal that aligning Islamic teachings on gender justice with the use of digital platforms and online applications significantly improves educational access for female students, while also fostering their intellectual and technical growth. This synergy not only narrows the gender gap in religious education but also supports broader efforts toward women's empowerment in a culturally resonant manner. The study contributes to both theoretical and practical discourses by proposing a sustainable and inclusive educational model that integrates faith-based values with digital innovation. It offers a contextual framework for promoting gender equality in Islamic educational settings, and highlights the potential of religious institutions to play a transformative role in achieving the SDGs, especially in advancing quality education and empowering women.  Keywords: Gender Equality; Inclusive Education; Educational Technology; Islamic Values; SDGs; Madrasah; Women's Empowerment; Value Integration.Abstrak Mewujudkan kesetaraan gender dalam pendidikan tetap menjadi tantangan global yang mendesak serta merupakan salah satu komponen utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya di wilayah yang struktur sosialnya sangat dipengaruhi oleh nilai-nilai keagamaan. Studi ini mengeksplorasi pendekatan integratif yang menggabungkan prinsip-prinsip Islam dengan teknologi pendidikan untuk mengatasi kesenjangan gender dalam sektor pendidikan, dengan fokus pada Madrasah Riyadlatusy Syubban yang merupakan bagian dari Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Al-Hasan di Ponorogo, Jawa Timur. Menggunakan desain studi kasus kualitatif, penelitian ini menelaah bagaimana nilai-nilai Islam yang menjunjung keadilan gender dapat diselaraskan dengan inovasi teknologi untuk memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen institusional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyelarasan antara ajaran Islam tentang keadilan gender dan pemanfaatan platform digital serta aplikasi daring secara signifikan meningkatkan akses pendidikan bagi santri perempuan, sekaligus mendorong pertumbuhan intelektual dan keterampilan teknis mereka. Sinergi ini tidak hanya mempersempit kesenjangan gender dalam pendidikan keagamaan, tetapi juga mendukung pemberdayaan perempuan secara lebih luas dalam konteks budaya yang relevan. Studi ini memberikan kontribusi terhadap wacana teoritis dan praktis dengan mengusulkan model pendidikan berkelanjutan dan inklusif yang mengintegrasikan nilai-nilai keagamaan dengan inovasi digital. Penelitian ini juga menawarkan kerangka kontekstual dalam mendorong kesetaraan gender di lingkungan pendidikan Islam, serta menyoroti potensi lembaga keagamaan untuk memainkan peran transformatif dalam pencapaian SDGs, khususnya dalam meningkatkan mutu pendidikan dan pemberdayaan perempuan.  Kata Kunci: Kesetaraan Gender; Pendidikan Inklusif; Teknologi Pendidikan; Nilai Islam; SDGs; Madrasah; Pemberdayaan Perempuan; Integrasi Nilai
REPRESENTATION OF INHERITANCE RIGHTS IN PATRIARCHAL CULTURE IN BALI BASED ON GENDER EQUALITY THEORY Dewi, Frisca Putriana; Valentina, Tience Debora
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32337

Abstract

Abstract Gender equality is a concept of balance put forward to equalize the position between women and men. In implementing this concept, Balinese people experience challenges in realizing it, this is due to the influence of patriarchal culture. One aspect that is difficult to implement gender equality is inheritance rights in Bali, due to the concept of patriarchal culture that is intertwined with Hindu religious beliefs. The research method used in this research is a literature review with a narrative literature-overview article approach. This research aims to understand a more specific picture of how patriarchal culture influences inheritance rights and how the transformation that occurs to obtain gender equality can be pursued in a complex cultural context such as in Bali. The results of this study show that the patriarchal culture in Bali is influenced by Hinduism and adat, where men are the main heirs through a major inheritance system, while women often experience marginalization and subordination. The results of this study are expected to provide new insights and encourage changes in a more equitable inheritance system. Keywords: Patriarchal Culture; Inheritance Rights; Gender Equality; Balinese Society.Abstrak Kesetaraan gender merupakan suatu konsep keseimbangan yang dikemukakan untuk menyetarakan posisi antara perempuan dan laki-laki. Dalam penerapannya, masyarakat Bali menghadapi tantangan dalam mewujudkan konsep tersebut, yang disebabkan oleh pengaruh budaya patriarki. Salah satu aspek yang sulit diterapkan dalam konteks kesetaraan gender adalah hak waris di Bali, karena konsep budaya patriarki yang melekat erat dengan ajaran agama Hindu. Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah tinjauan pustaka dengan pendekatan artikel naratif-literatur. Penelitian ini bertujuan untuk memahami gambaran yang lebih spesifik mengenai bagaimana budaya patriarki memengaruhi hak waris serta bagaimana transformasi menuju kesetaraan gender dapat diupayakan dalam konteks budaya yang kompleks seperti di Bali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya patriarki di Bali dipengaruhi oleh ajaran Hindu dan adat istiadat, di mana laki-laki merupakan ahli waris utama melalui sistem waris utama, sementara perempuan kerap mengalami marginalisasi dan subordinasi. Temuan ini diharapkan dapat memberikan wawasan baru serta mendorong perubahan menuju sistem pewarisan yang lebih adil dan setara. Kata Kunci: Budaya Patriarki; Hak Waris; Kesetaraan Gender; Masyarakat Bali.
THE ROLE OF FATHER INVOLVEMENT IN BUILDING ADOLESCENT MENTAL HEALTH Sari, Putri Puspita; Hanifah, Rulia; Dewi, Rini Liana; Riady, Muhammad Antos
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32914

Abstract

Abstract Fathers' involvement is often overlooked in the parenting discourse, despite its important role in shaping adolescents' mental health. However, related studies are scattered and have not been systematically reviewed. This review aims to examine fathers' involvement in parenting, the dimensions of involvement, its impact on adolescents' mental health, and factors that may moderate the relationship. This study is a Systematic literature review that follows the PRISMA 2020 guidelines. Articles were searched through PsycINFO, PubMed, Springer, Ebsco, Google Scholar, and Scopus databases using keywords such as "father involvement", "adolescent mental health", "parenting style", "father absence", "psychological well-being", "emotional regulation", "self-esteem", dan "behavioral problems. Of the 1,238 articles identified, 17 articles met the inclusion criteria and were analyzed further. Selection was done through identification, screening, and eligibility assessment. Data were analyzed using a thematic approach. Analysis of 17 studies showed that father involvement, including involvement including physical presence, emotional support, cognitive involvement, open communication, and role as a role model with various positive indicators in adolescents, such as increased self-esteem, decreased symptoms of depression and anxiety, and better emotional regulation skills. Factors such as child gender, family economic status, quality of father-mother relationship, and cultural background function as moderators in the relationship. Father involvement has a significant influence on shaping adolescent mental health and behavior. These findings highlight the importance of a more holistic and participatory parenting approach, as well as the need for family-based interventions that strengthen the role of fathers. Keywords: Father Involvement; Mental Health; Adolescents.Abstrak Keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih sering diabaikan dalam pengasuhan anak, padahal memiliki peran penting dalam pembentukan kesehatan mental remaja. Namun, studi terkait masih tersebar dan belum dikaji secara sistematis. Tinjauan ini bertujuan untuk mengkaji keterlibatan ayah dalam pengasuhan, dimensi keterlibatan, dampaknya terhadap kesehatan mental remaja, serta faktor-faktor yang dapat memoderasi hubungan tersebut. Studi ini merupakan tinjauan pustaka sistematis yang mengikuti pedoman PRISMA 2020. Pencarian artikel dilakukan melalui database PsycINFO, PubMed, Springer, Ebsco, Google Scholar, dan Scopus menggunakan kata kunci seperti "father involvement", "adolescent mental health", "parenting style", "father absence", "psychological well-being", "emotional regulation", "self-esteem", dan "behavioral problems". Dari 1.238 artikel yang diidentifikasi, sebanyak 17 artikel memenuhi kriteria inklusi dan dianalisis lebih lanjut. Seleksi dilakukan melalui tahap identifikasi, penyaringan, dan penilaian kelayakan. Data dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Analisis terhadap 17 studi menunjukkan keterlibatan ayah yang mencakup beberapa dimensi antara lain interaksi emosional dan afeksi, kehadiran fisik, pendidik, pelindung, dan dukungan finansial. Hal ini berkorelasi dengan berbagai indikator positif pada remaja, seperti peningkatan harga diri, penurunan gejala depresi dan kecemasan, serta kemampuan regulasi emosi yang lebih baik. Faktor-faktor yang memoderasi seperti jenis sosial budaya, ekonomi dan pekerjaan, faktor psikologis dan emosional, faktor relasi keluarga dan dukungan sosial. Keterlibatan ayah memiliki pengaruh signifikan dalam membentuk kesehatan mental dan perilaku remaja. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pengasuhan yang lebih holistik dan partisipatif, serta perlunya intervensi berbasis keluarga yang memperkuat peran ayah. Kata Kunci: Keterlibatan Ayah; Kesehatan Mental; Remaja.
IBN KATHIR'S INTERPRETATION OF FEMALE DESIRE: A CRITICAL ANALYSIS OF SURAH YUSUF VERSE 31 Manggala, Kayan; Istiadah, Istiadah; Hamidah, Tutik; Barizi, Ahmad; Arifin, Syamsul
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.30010

Abstract

Abstract This study critically examines the representation of female desire in Surah Yusuf, verse 31, through the lens of Ibn Kathir’s classical tafsir. Despite growing scholarly attention to gender and sexuality in Islamic texts, focused analyses of female desire within Qur’anic exegesis remain limited. Addressing this gap, the present research offers a pioneering contribution by employing a qualitative descriptive method to analyze both linguistic and interpretative dimensions of the verse. The study pursues three main objectives: (1) to investigate the linguistic nuances and variations across major English translations of the verse; (2) to explore Ibn Kathir’s interpretive framing of the narrative involving the women of Egypt; and (3) to analyze how the concept of female desire is constructed within his tafsir. The findings reveal significant disparities in how translations convey the intensity and consequences of the women’s attraction to Prophet Yusuf. Ibn Kathir’s exegesis characterizes their behavior as influenced by both individual and collective longing, catalyzed by Yusuf’s extraordinary beauty. Notably, the tafsir identifies elements such as physical attraction, emotional overwhelm, and even metaphorical “drunkenness” as markers of female desire. This study contributes to the broader discourse on gender in Islamic thought by highlighting how classical interpretations engaged with complex emotional and psychological dimensions of female figures in the Qur’an. By revisiting these exegetical traditions, the research fosters a more nuanced and historically grounded understanding of female desire, offering critical insights for contemporary debates on gender, sexuality, and the interpretation of sacred texts. Keywords: Female Desire; Surah Yusuf; Ibn Kathir’s Interpretation.Abstrak Penelitian ini secara kritis mengkaji representasi hasrat perempuan dalam Surah Yusuf ayat 31 melalui tafsir klasik Ibn Kathir. Meskipun kajian akademik mengenai gender dan seksualitas dalam teks-teks Islam semakin berkembang, analisis yang secara khusus membahas hasrat perempuan dalam konteks tafsir Al-Qur’an masih sangat terbatas. Untuk menjembatani kekosongan ini, penelitian ini menawarkan kontribusi awal dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif guna menganalisis dimensi linguistik dan interpretatif dari ayat tersebut. Penelitian ini memiliki tiga tujuan utama: (1) menyelidiki nuansa kebahasaan dan variasi dalam sejumlah terjemahan bahasa Inggris utama terhadap ayat tersebut; (2) mengeksplorasi cara Ibn Kathir membingkai narasi tentang para perempuan Mesir; dan (3) menganalisis bagaimana konsep hasrat perempuan dikonstruksikan dalam tafsirnya. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam cara terjemahan menggambarkan intensitas dan konsekuensi dari ketertarikan para perempuan terhadap Nabi Yusuf. Tafsir Ibn Kathir menggambarkan perilaku mereka sebagai hasil dari hasrat individu maupun kolektif, yang dipicu oleh pesona luar biasa Yusuf. Menariknya, tafsir ini mengidentifikasi unsur daya tarik fisik, gejolak emosi, hingga “mabuk” secara metaforis sebagai penanda dari hasrat perempuan. Studi ini memberikan kontribusi penting bagi diskursus gender dalam pemikiran Islam dengan menyoroti bagaimana tafsir klasik merespons dimensi emosional dan psikologis tokoh-tokoh perempuan dalam Al-Qur’an. Dengan meninjau kembali tradisi tafsir tersebut, penelitian ini menghadirkan pemahaman yang lebih mendalam dan historis tentang hasrat perempuan, sekaligus menawarkan wawasan kritis bagi perdebatan kontemporer mengenai gender, seksualitas, dan penafsiran teks suci. Kata Kunci: Syahwat Wanita; Surat Yusuf; Tafsir Ibnu Katsir.
A CRITICAL STUDY OF THE DOMINANT PARADIGM OF ENTREPRENEURSHIP IN THE EMPOWERMENT PROGRAM FOR FORMER WOMEN MIGRANTS Susanti, Lina Rintis; Sinaga, Hariati
EGALITA Vol 20, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Gender UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/egalita.v20i1.32992

Abstract

AbstractThis study attempts to answer the question of why the programs provided by the government for post-migrant women after they have completed migration (post-migration) seem to be lip service. Rather than empowering and providing protection from various vulnerabilities, the empowerment framework with such characteristics actually burdens women. This study uses a qualitative method with a feminist perspective. The case study approach was chosen in this study in order to illustrate the problem. The case study was taken from the experience in Krasak Village, Indramayu Regency. In looking at the problem of the reduction of empowerment programs for women-returnee, this paper uses the capability perspective of Martha Nussbaum and the intersectionality framework of Patricia Hill Collins. Based on the perspective of capability theory, empowerment should also aim to achieve equality, including targeting the gap in opportunities that are rooted deep in their life cycle in the past. The absence of social support and an enabling environment for a person's growth and development is also recognized as the issue of social inequality that needs to be targeted, in order to achieve equality of conditions for returnee. Meanwhile, based on the intersectionality framework, this study reveals the incompleteness of the approach used in the entrepreneurship program. It has ignored the various vulnerabilities experienced by returnee, which occur as a result of the interaction of several intertwined power systems (gender, class, and development inequality in the areas of origin of returnees) Keywords: Emancipatory empowerment; Women-migrant-returnees; Post-migration vulnerability; Women’s capability gap.AbstrakPenelitian ini berupaya menjawab persoalan mengapa program yang disediakan pemerintah bagi perempuan purna migran setelah mereka selesai bermigrasi (pasca-migrasi) seolah nampak bagai lip service. Alih-alih memberdayakan dan memberikan perlindungan dari berbagai kerentanan, kerangka pemberdayaan yang berkarakterisitik demikian justru membebani perempuan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perspektif feminis. Pendekatan studi kasus dipilih dalam studi ini dalam rangka untuk mengilustrasikan permasalahan. Studi kasus diambil dari pengalaman di desa Krasak, Kabupaten Indramayu. Dalam melihat persoalan direduksinya program perlindungan dan pemberdayaan perempuan pasca-migrasi, tulisan ini menggunakan perspektif kapabilitas dari Martha Nussbaum dan kerangka interseksionalitas Patricia Hill Collins. Berdasarkan perspektif teori kapabilitas, dalam melakukan pemberdayaan seharusnya juga bertujuan untuk mencapai kesetaraan, termasuk juga menyasar kesenjangan kesempatan yang berakar jauh sejak dari siklus hidup mereka di masa lalu. Absennya dukungan sosial serta enabling environment bagi tumbuh kembang seseorang, juga termasuk dalam persoalan ketimpangan sosial yang penting disasar dalam rangka mencapai kesetaraan kondisi perempuan purna migran. Sementara berdasarkan kerangka interseksionalitas, studi ini mengungkap ketidaklengkapan pendekatan yang digunakan dalam program kewirausahaan karena telah mengabaikan berbagai kerentanan yang dialami perempuan purna migran, yang terjadi sebagai hasil interaksi dari beberapa sistem kuasa yang saling berkelindan (gender, kelas, dan ketimpangan pembangunan di daerah asal purna migran). Kata Kunci: Pemberdayaan emansipatif; Perempuan-purna-migran; Kerentanan pasca-migrasi; Kesenjangan kapabilitas perempuan.