cover
Contact Name
Yuda Turana
Contact Email
damianus.jom@gmail.com
Phone
+628129163309
Journal Mail Official
damianusjmed@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan - Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Gedung Lukas, L-401 Jl. Pluit Raya no. 2, Jakarta Utara 14440
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Damianus Journal of Medicine
ISSN : 20864256     EISSN : 26564971     DOI : https://doi.org/10.25170/djm.v
Core Subject : Health,
Damianus Journal of Medicine (DJM) merupakan jurnal ilmiah kedokteran yang memuat informasi di bidang kedokteran dan kesehatan terkini. DJM diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Damianus Journal of Medicine terbit sejak tahun 2002 dan diterbitkan 2 kali per tahun, setiap bulan Mei dan November.
Articles 162 Documents
Potensi laktoferin susu sapi sebagai antibiotik tunggal dan kombinasi dengan sefepim terhadap Pseudomonas aeruginosa secara in vitro Prasetya, Alver; Surja, Sem Samuel; Arieselia, Zita
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.3824

Abstract

Pendahuluan: Pseudomonas aeruginosa merupakan salah satu bakteri yang paling sering resistan terhadap berbagai macam antibiotik, sehingga diperlukannya perkembangan antibiotik terbaru. Sefepim merupakan salah satu antibiotik yang sering digunakan dalam pengobatan terhadap bakteri resistan dengan menghambat pembentukan peptidoglikan. Laktoferin susu sapi merupakan glikoprotein pada susu yang memiliki potensi antimikroba dengan mengikat zat besi dan merusak dinding sel. Dengan demikian, terdapat potensi interaksi sinergisme antara sefepim dan laktoferin dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Dengan demikian, tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui potensi antimikroba laktoferin susu sapi dan potensi interaksinya dengan sefepim dalam menghambat Pseudomonas aeruginosa. Metode: Sampel bakteri yang digunakan adalah Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Uji suseptibilitas dilakukan menggunakan uji difusi cakram dan mikrodilusi secara in vitro berdasarkan pedoman Clinical and Laboratory Standards Institute. Sefepim dan cakram kosong digunakan sebagai kontrol. Untuk mengetahui interaksi antara laktoferin susu sapi dengan sefepim dilakukannya uji metode checkerboard. Hasil: Pada uji difusi cakram dan mikrodilusi, laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853. Hal ini sudah dilakukan dengan berbagai macam konsentrasi sampai dengan 0,5 g/ml. Pada uji checkerboard tidak ditemukan interaksi antara sefepim dan laktoferin susu sapi. Simpulan: Laktoferin susu sapi tidak dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853 secara in vitro.
Vaksin Tungau Debu Rumah: Terobosan Baru untuk Mengatasi Tantangan Dermatitis Atopik Adji, Aryani; Niode, Nurdjannah J.; Wijaya, Lorettha; Putri, Devita
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.3830

Abstract

Pendahuluan: Dermatitis atopik (DA) adalah penyakit inflamasi kronis yang sering dikaitkan dengan alergen tungau debu rumah (TDR), terutama Dermatophagoides pteronyssinus. Penatalaksanaan saat ini belum memadai untuk memberikan perlindungan jangka panjang. Tujuan: Tinjauan ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi vaksin TDR sebagai terobosan baru dalam pengelolaan DA. Metode: Artikel ini disusun melalui telaah literatur dari jurnal, buku, dan dokumen relevan lainnya yang membahas DA, imunoterapi, dan vaksinasi terkait. Data dianalisis secara komprehensif untuk mendukung kesimpulan. Diskusi: Disfungsi sawar kulit dan respons imun yang dimediasi IgE adalah faktor utama dalam pathogenesis DA. Vaksinasi berbasis epitope TDR menawarkan peluang untuk pencegahan dengan efektivitas tinggi. Studi in sillico menunjukkan hasil menjanjikan, namun validasi lebih lanjut secara in vitro dan in vivo diperlukan. Pengembangan vaksin TDR multi-epitop dapat menjadi alternatif jangka panjang untuk DA. Simpulan: Vaksinasi TDR memiliki potensi besar sebagai strategi pencegahan primer untuk DA, namun penelitian lebih lanjut masih dibutuhkan untuk penerapan klinis.
terhadap, dengan Pengaruh Ekstrak Etanol Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia) terhadap Pertumbuhan Escherichia coli dengan Metode Difusi Cakram Indayang, Willyanto Kurniawan; Octavia, Mora; Handayani, Maria Dara Novi
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.3934

Abstract

Latar Belakang: Bawang dayak merupakan salah satu tanaman yang dinyatakan berfungsi sebagai obat herbal. Beberapa  penelitian  telah  membuktikan  bahwa  bawang dayak berfungsi sebagai aktivittas antimikroba. Saat ini bawang dayak dalam bentuk serbuk banyak beredar di pasaran dan mudah terjangkau. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas antimikroba ekstrak serbuk bawang dayak yang beredar di pasaran terhadap pertumbuhan Escherichia coli dengan metode difusi cakram menggunakan media Mueller Hinton Agar. Metode: Serbuk bawang dayak yang beredar di pasaran diekstrak dengan metode maserasi menggunakan etanol 96%. Ekstrak diuji terhadap pertumbuhan Escherichia coli ATCC 25922 menggunakan metode difusi cakram dengan media Mueller Hinton Agar dengan pengulangan lima kali kemudian diukur zona hambat yang terbentuk. Hasil: Pada pengujian tampak efek antimikroba dari ekstrak serbuk bawang dayak konsentrasi 10, 50, dan 100 mg/ml air terhadap Escherichia coli ATCC 25922, tidak membentuk zona hambat. Simpulan: Ekstrak serbuk bawang dayak yang beredar yang digunakan dalam penelitian ini tidak memiliki efek antimikroba terhadap Escherichia coli.
Neuromyelitis Optica Spectrum Disorder (NMOSD): Challenges and Updates Iskandar, Ferdy; Priscilia, Florentina; Casey, Anthea; Sidik, Mohamad
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.3973

Abstract

Pendahuluan: Neuromyelitis optica spectrum disorder (NMOSD) merupakan kondisi autoimun yang ditandai dengan inflamasi pada nervus optikus, saraf spinal, dan sistem saraf pusat. Meskipun NMOSD memiliki angka prevalensi yang relatif rendah, prognosis visual penyakit ini cukup buruk dan laju relapsnya tinggi. Tinjauan pustaka ini diharapkan dapat mendorong pembaca untuk bisa mendiagnosis secara lebih dini untuk menentukan tatalaksana serangan akut dan mencegah serangan berikutnya sesuai dengan kompetensi kedokteran. Metode: Artikel ini disusun berdasarkan kepustakaan yang diperoleh dari database Google Scholar, PubMed, dan ProQuest, menggunakan kata kunci “neuromyelitis optica spectrum disorder” dari publikasi tahun 2012 sampai dengan tahun 2022. Hasil: Penyebab NMOSD hingga saat ini masih tidak diketahui dengan pasti, namun diduga disebabkan oleh kondisi sistem imun humoral di dalam tubuh menyerang astrosit. Kriteria diagnosis NMOSD didasarkan pada konsensus yang dikeluarkan oleh International Panel for Neuromyelitis Optica Diagnosis. Myelitis akut, neuritis optik yang berat, muntah dan cegukan berulang merupakan gejala khas pada NMOSD. Lesi myelitis transversal ekstensif longitudinal merupakan penemuan khas pada magnetic resonance imaging (MRI). Tatalaksana NMOSD pada fase akut berupa kortikosteroid dosis tinggi, sedangkan pada fase pemeliharaan berupa imunosupresan. Kejadian relaps ditemukan pada 90% pasien dan komplikasi yang terjadi dapat berupa disabilitas visual, disabilitas motorik, hingga kematian. Simpulan: Diagnosis NMOSD ditegakkan berdasarkan penemuan klinis, pencitraan, dan laboratorium. Tatalaksana yang tepat dan adekuat berguna untuk mencegah disabilitas dan morbiditas di kemudian hari.
Gangguan Fungsi Kognitif Sebagai Faktor Risiko Utama Kejadian Depresi Pada Lansia Latasya, Chelsea Destania; Turana, Yuda; Handajani, Yvonne Suzy; Barus, Jimmy Fransisco Abadinta
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.4356

Abstract

Latar Belakang: Peningkatan prevalensi depresi pada lansia dapat berdampak pada tingginya angka morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini secara spesifik dilakukan untuk mengetahui persentase depresi beserta hubungannya dengan usia, jenis kelamin, pendidikan, sarkopenia, dan gangguan fungsi kognitif pada lansia yang memiliki latar belakang homogen di lingkungan perkotaan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik yang menggunakan metode cross-sectional. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus 2022 s.d. Oktober 2022 di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat dengan subjek penelitian 203 lansia (≥60 tahun). Depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; sarkopenia diukur menggunakan Bio-Impedance Analysis, handgrip dynamometer, dan stopwatch; fungsi kognitif dinilai menggunakan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuisioner.  Hasil: Terdapat hubungan yang bermakna antara gangguan fungsi kognitif dengan kejadian depresi pada lansia (p≤0,05; OR=2,523). Responden yang mengalami gangguan fungsi kognitif memiliki persentase depresi yang lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang tidak mengalami gangguan fungsi kognitif. Akan tetapi, tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara usia, jenis kelamin, lama pendidikan, dan sarkopenia dengan kejadian depresi pada lansia. Simpulan: Lansia dengan gangguan fungsi kognitif 2,5 kali lipat lebih berisiko mengalami depresi. Oleh karena itu, peningkatan layanan kesehatan penting untuk mendeteksi dini kejadian depresi, terutama pada lansia dengan gangguan fungsi kognitif. Terlepas dari kenyataan saat ini, bahwa gangguan fungsi kognitif tidak dapat diobati, masih banyak gaya hidup dan faktor lingkungan yang dapat dimodifikasi untuk menurunkan risiko.
Hubungan Penggunaan Pantyliner dengan Kejadian Fluor Albus pada Mahasiswi Preklinik Universitas Atma Jaya Jakarta Lakaoni, Clarissa; Gunawan, Danny
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.4501

Abstract

Pendahuluan: Keputihan (fluor albus) merupakan sekret yang berwarna jernih hingga putih, dan keluar dari rongga uterus atau vagina. Kasus keputihan di Indonesia mengalami peningkatan setiap tahun sebanyak 10% pada tahun 2010 hingga 2013. Kejadian keputihan sering dikaitkan dengan penggunaan pantyliner dikarenakan dapat memengaruhi suhu dan kelembaban kulit. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian keputihan pada mahasiswi preklinik Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya (FKIK UAJ). Metode: Penelitian ini dilakukan menggunaakan studi observasional analitik dengan metode potong-lintang. Sampel diambil dari mahasiswi preklinik FKIK UAJ angkatan 2020-2022. Penggunaan pantyliner diukur dengan kuesioner yang berisi pertanyaan untuk mengetahui perilaku penggunaan pantyliner. Kejadian keputihan diukur dengan kuesioner untuk mengetahui kejadian dan karakteristik keputihan yang dialami. Analisis data akan dilakukan dengan uji chi-square. Hasil: Data dari 107 responden menunjukkan bahwa 27 mahasiswi (25,2%) menggunakan pantyliner dengan tidak baik, dan sebanyak 14 mahasiswi mengalami keputihan patologis, sedangkan 13 mahasiswi lainnya tidak mengalami keputihan patologis. Analisis data menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara penggunaaan pantyliner dengan kejadian keputihan (p=0,006). Simpulan: Terdapat hubungan penggunaan pantyliner dengan kejadian keputihan pada mahasiswi preklinik FKIK UAJ.
Hospital Electronic Medical Record: Satisfaction, Use And Perceived Benefit With Computer Literacy As Mediator in Sumba Pambudi, Yohanes Niko Santoso; Luh Putu Mahyuni
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.4646

Abstract

Pendahuluan: Penggunaan rekam medis elektronik (RME) yang diwajibkan oleh Kementerian Kesehatan pada akhir tahun 2023 memberikan tantangan bagi perumahsakitan di Indonesia. Masih ada beberapa daerah yang memiliki sumber daya minimal namun “suka atau tidak suka” harus menjalankan RME dalam semua pelayanan. Faktor-faktor yang memengaruhi penggunaan RME tersebut perlu dikaji secara seksama, di antaranya adalah faktor literasi komputer. Metodologi: Lokasi penelitian dilakukan di RS Karitas Weetabula, Kabupaten Sumba Barat Daya, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia dengan jumlah populasi pengguna RME 249 orang dengan tingkat pendidikan dari SMA-S3 dengan menggunakan Google Form yang disebarkan melalui pesan singkat. Terhimpun sampel sejumlah 185 orang yang kemudian diolah dengan SEM PLS 3.0. Hasil: Ditemukan adanya hubungan positif dan signifikan antara kualitas sistem, kualitas layanan dengan kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96) begitu juga dengan hubungan antara penggunaan RME serta kepuasan pengguna terhadap manfaat RME baik individu maupun organisasi (P<0,05; T>1,96). Literasi komputer tidak memiliki hubungan moderasi yang bermakna namun memiliki hubungan mediasi terhadap kepuasan pengguna RME (P<0,05; T>1,96). Simpulan: Perlu adanya penelitian lanjutan untuk mencari hubungan literasi komputer dalam memediasi kepuasan pengguna RME.
Long term side effects of methylphenidate hydrochloride in childhood ADHD in primary care: An evidence-based case report Andoko, Dewanto; Lumbuun, Nicolaski; Cipta, Darien
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.4743

Abstract

Background: Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) often emerges in childhood and can persist into adolescence and adulthood. Methylphenidate is the primary medication for managing ADHD in youth, but its long-term effects remain uncertain. Evaluating the evidence on the long-term effects of methylphenidate in children with ADHD is crucial. Case: A 7-year-old with school difficulties, hyperactivity, and distractibility (Conner's score 22) was diagnosed with ADHD and treated with methylphenidate. Significant behavioral improvement was observed (Conner's score 8), but parental concerns regarding long-term medication use persisted. Metode: We conducted a structured search in PubMed, EBSCOhost, Cochrane, and SAGE databases, focusing on the past 5 years of English-language human studies with full-text availability. We selected randomized control trials (RCTs), meta-analyses, and systematic reviews and screened them based on relevance to our clinical question. The search yielded results from PubMed (43 articles), EBSCOhost (46 articles), Cochrane (41 articles), and SAGE (125 articles). After rigorous screening, some articles were identified as relevant. Conclusion: Our case analysis based on evidence revealed that methylphenidate treatment is associated with serious and non-serious side effects, irrespective of treatment duration. Primary care clinicians should exercise caution when prescribing methylphenidate for ADHD management in childhood.
Sebuah Sebuah Laporan Kasus: Berbagai Faktor yang Berkontribusi Terhadap Kejadian Statin-Associated Muscle Symptoms ¬Imbas Atorvastatin Marzuki HY, Jefman Efendi; Muliono, Ari Christy
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.4817

Abstract

Pendahuluan: Adverse drug reaction (ADR) merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat menyebabkan pasien mengalami perawatan rumah sakit dan memperpanjang masa rawat. Statin berpotensi untuk menyebabkan efek samping yang berkaitan dengan gangguan otot. Atorvastatin merupakan salah satu obat golongan statin yang banyak digunakan saat ini. Kasus: Seorang wanita 78 tahun, masuk rumah sakit dengan nyeri pada seluruh badan termasuk kedua tungkai. Pasien rutin menggunakan atorvastatin untuk menurunkan kolesterol. Pasien memiliki riwayat gangguan hati dan penggunaan Syzygium polyanthum. Pasien didiagnosis dengan rabdomiolisis akibat atorvastatin. Pasien diberikan Coenzym Q10 kemudian berangsur membaik setelah atorvastatin dihentikan. Diskusi: Perubahan faktor fisiologis yang dapat memengaruhi farmakokinetik obat. Selain itu, interaksi bersama herbal juga dapat menyebabkan perubahan paparan atorvastatin. Hal ini dapat berkontribusi terhadap kejadian rabdomiolisis. Diagnosis Statin-Associated Muscle Symptom (SAMS) dapat diidentifikasi dengan SAMS Clinical Index. Simpulan: Kejadian efek samping obat dapat disebabkan oleh beberapa faktor yang mendasari. Upaya deteksi dini melalui monitoring aktif dalam pelayanan kesehatan merupakan salah satu upaya peningkatan patient safety di rumah sakit.
Hubungan Hipertensi dan Depresi dengan Kualitas Hidup Pralansia dengan HIV Loviana, Bernadetta Belvania; Astri Parawita Ayu; Rensa; Alius Cahyadi
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.5064

Abstract

Latar Belakang: Efektivitas pengobatan ARV membuat angka harapan hidup pada orang dengan HIV bertambah, sehingga populasi lansia dengan HIV akan terus meningkat. Inflamasi kronis HIV dapat merusak jaringan tubuh sehingga meningkatkan risiko penyakit fisik seperti hipertensi. Paparan HIV juga meningkatkan risiko terjadinya gangguan kesehatan mental seperti depresi. Penelitian ini mengevaluasi hubungan hipertensi dan depresi dengan kualitas hidup khususnya pada pralansia dengan HIV untuk menjadi bahan pertimbangan dalam merekomendasikan penaganan peningkatan kualitas hidup saat memasuki fase lansia. Metode: Penelitian ini merupakan studi crossectional terhadap 161 pralansia dengan HIV yang didampingi oleh beberapa yayasan ODHIV di DKI-Jakarta. Kriteria inklusi ialah ODHIV yang telah terdiagnosis dokter, menjalani ARV, berusia 45-59 tahun, dan menyetujui lembar informed consent. Kriteria eksklusi ialah dalam kondisi AIDS dan buta huruf. Alat ukur yang digunakan adalah sphygmomanometer, PHQ-9 dan WHOQOL-HIV BREF. Analisis data dilakukan dengan uji Mann-Whitney U dan uji Kruskal-Wallis. Hasil: Sebagian besar partisipan mengalami hipertensi (52,5%) dan depresi (51,6%). Tidak ditemukan hubungan yang bermakna antara hipertensi dengan keseluruhan domain kualitas hidup (p>0,05). Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi dengan keseluruhan domain kualitas hidup antara lain domain hubungan sosial (p=0,028),  lingkungan (p=0,006), kesehatan fisik, kesehatan psikologis, tingkat kemandirian dan spiritual (p<0,001). Simpulan: Proporsi hipertensi dan depresi pada pralansia dengan HIV cukup banyak ditemukan. Hipertensi tidak berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV, sedangkan depresi berhubungan dengan kualitas hidup pralansia dengan HIV.