cover
Contact Name
Yuda Turana
Contact Email
damianus.jom@gmail.com
Phone
+628129163309
Journal Mail Official
damianusjmed@atmajaya.ac.id
Editorial Address
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan - Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Gedung Lukas, L-401 Jl. Pluit Raya no. 2, Jakarta Utara 14440
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
Damianus Journal of Medicine
ISSN : 20864256     EISSN : 26564971     DOI : https://doi.org/10.25170/djm.v
Core Subject : Health,
Damianus Journal of Medicine (DJM) merupakan jurnal ilmiah kedokteran yang memuat informasi di bidang kedokteran dan kesehatan terkini. DJM diterbitkan oleh Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya. Damianus Journal of Medicine terbit sejak tahun 2002 dan diterbitkan 2 kali per tahun, setiap bulan Mei dan November.
Articles 162 Documents
KONTRIBUSI HIPERTENSI DAN DIABETES MELLITUS TIPE 2 ATAU KEDUANYA TERHADAP STROKE BERULANG Thomas, Novita Silvana; Susanto, Matilda; Sasmita, Poppy Kristina; Wiraharja, AP Regina Satya
Bahasa Indonesia Vol 13 No 2 (2014): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Stroke berulang merupakan penyebab utama kecacatan hingga kematian di dunia. Hipertensi, diabetes mellitus tipe 2, atau gabungan keduanya dikenal sebagai faktor risiko yang dapat menyebabkan kejadian stroke berulang, namun belum terlalu jelas faktor risiko mana yang paling berperan. Tujuan: Pada penelitian ini akan dibahas dan dievaluasi faktor risiko yang paling memengaruhi kejadian stroke berulang. Metode: Penelitian ini merupakan studi deskriptif analitik yang dilakukan di salah satu rumah sakit swasta di Jakarta Utara tahun 2009-2010. Data diambil dari rekam medis responden stroke menggunakan check list yang terdiri dari identitas responden, riwayat serangan stroke pertama dan terakhir, riwayat faktor risiko, tingkat kesadaran saat pertama kali datang, dan gangguan motorik atau sensorik yang ditimbulkan oleh stroke berulang. Hasil: Dari 152 rekam medis, diperoleh 59 rekam medis responden stroke berulang (38,8%). Analisis menunjukkan pengaruh hipertensi, diabetes mellitus, maupun gabungan keduanya, terhadap kejadian stroke berulang sama (p=0,077). Hasil tersebut terlihat juga pada analisis faktor risiko gabungan atau diabetes mellitus (p=0,714) dan faktor risiko hipertensi atau diabetes mellitus (p=0,157) yang menunjukkan pengaruh yang sama terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,714). Namun, perbandingan antara faktor risiko hipertensi dengan faktor risiko gabungan (gabungan hipertensi dan diabetes mellitus) menunjukkan faktor risiko gabungan lebih berpengaruh terhadap terjadinya stroke berulang (p=0,026). Kesimpulan: Faktor risiko hipertensi tunggal kurang berpengaruh, namun dengan adanya kombinasi faktor risiko hipertensi dan diabetes mellitus akan meningkatkan risiko terjadinya stroke berulang.
KADAR 2,3-DINOR-6-KETO-PROSTAGLANDIN-F1 DALAM URIN WANITA PASCAMENOPAUSE ALAMI DAN PRAMENOPAUSE YANG MINUM ASPIRIN 100 MG Arieselia, Zita; Setiawati, Arini; Setiabudy, Rianto; Baziad, Ali
Bahasa Indonesia Vol 10 No 2 (2011): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: The prevalence of cardiovascular diseases in women increases sharply after menopause. In postmenopausal women, thromboxane production increases while prostacyclin production decreases. Low dose aspirin (75- 150 mg) has long been known as an antiplatelet aggregator. Aspirin reduces the production of both thromboxane (potent thrombocyte aggregator and vasoconstrictor) and prostacyclin (anti thrombocyte aggregator and potent vasodilator).Methods: The present study was an open-label clinical trial with 2 parallel groups. One group consisted of 15 premenopausal women (age > 40 years) while the other group 15 postmenopausal women (for 3 - 5 years). Twenty-four hours urine was collected from each subject before and after aspirin 100 mg daily for 7 days. The concentration of prostacyclin was measured as its metabolite (2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1) in urine using EIA (Enzyme Immunoassay). Thromboxane as its urinary metabolites (11-dehidrotromboksan-B2) was also measured in these same urine samples in the previous study.Results: Previous study showed that aspirin significantly reduced thromboxane in both groups, with significantly larger percentage reduction in postmenopausal women compared to premenopausal women. Results of the present study showed that aspirin reduced prostacyclin significantly in both premenopausal women (mean difference = 78.44 ng/g creatinine; p = 0.001) and postmenopausal women (mean difference = 35.71 ng/g creatinine; p <0.001), but the percentage reduction between the groups was not significantly different (46,26% vs. 40,94%; p = 0,574). The decrease in thromboxane and prostacyclin should be compared (as the decrease in the ratio of 11-dehidrotromboksan-B2 / 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1) to assess aspirin efficacy as an antithrombotic. Calculation of the ratio of 11-dehidro-tromboksanB2 / 2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1 before aspirin consumption was much higher in postmenopausal women compared to that in premenopausal women (4.09 vs. 1.13; p = 0.001). The decrease in 11-dehidro-tromboksan-B2 / 2,3- dinor-6-keto-prostaglandin-F1? ratio by aspirin was found much larger in postmenopausal women compared to that in premenopausal women (1.91 vs.0.17; p = 0.022).Conclusions: It was concluded that aspirin reduced prostacyclin significantly in each group with nonsignificant percentage reduction between groups, but reduced the 11-dehidro-tromboksan-B2/2,3-dinor-6-keto-prostaglandin-F1? ratio much larger in post-menopausal women compared to that in premenopausal women.
Depresi dan Pendidikan Sebagai Determinan Utama Kualitas Hidup Pada Lansia Elsiandi, Caroline Alvina; Turana, Yuda; Handajani, Yvonne Suzy; Barus, Jimmy Fransisco Abadinta
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.4822

Abstract

Pendahuluan: Kualitas hidup mencerminkan status kesehatan dan kesejahteraan lansia, namun kualitas hidup cenderung menurun seiring dengan bertambahnya usia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor (faktor sosiodemografi, depresi, dan fungsi kognitif)  yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup lansia.  Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan studi potong lintang yang dilakukan pada 205 responden berusia ≥60 tahun di Pusat Santunan Keluarga (PUSAKA) Jelambar dan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Kualitas hidup dinilai dengan kuesioner World Health Organization Quality of Life – BREF (WHOQOL-BREF); depresi dinilai dengan Geriatric Depression Scale-15; fungsi kognitif dinilai dengan Montreal Cognitive Assessment versi Indonesia; variabel lainnya menggunakan kuesioner. Regresi logistik multivariat digunakan untuk menganalisis hubungan antara kualitas hidup dan faktor-faktor yang mempengaruhinya.  Hasil: Berdasarkan karakteristik sosiodemografi, sebagian besar responden adalah wanita (72,2%), dengan usia lebih dari sama dengan 70 tahun (57,1%), berpendidikan kurang dari sama dengan 12 tahun (56,1%), dan bertatus menikah (55,6%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan signifikan antara depresi dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p=0,014; OR=2,566), kepuasan terhadap kesehatan (p=0,007; OR=2,869), domain fisik (p=0,003; OR=3,049), domain psikologis (p=0,000; OR=4,458), domain hubungan sosial (p=0,000; OR=3,967), dan domain lingkungan (p=0,001; OR=3,407). Pendidikan memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,002), kepuasan terhadap kesehatan (p= 0,016), domain fisik (p= 0,004), domain psikologis (p= 0,012), dan domain lingkungan (p= 0,008). Selain itu, usia hanya memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas hidup secara keseluruhan (p= 0,004). Simpulan: Pendidikan rendah berpengaruh terhadap kualitas hidup secara keseluruhan, kepuasan terhadap kesehatan, domain fisik, domain psikologis, dan domain lingkungan, sedangkan depresi menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kualitas hidup dan keempat domainnya serta lansia yang mengalami depresi lebih berisiko memiliki kualitas hidup yang buruk.
HUBUNGAN DERAJAT MIOPISASI DENGAN KATARAK SENILIS TIPE NUKLEAR PADA PASIEN POLI KLINIK MATA RUMAH SAKIT ATMA JAYA JAKARTA TAHUN 2018-2023 Tjan, Vania Nirmala; Amita, Angela Shinta Dewi; Kuswidyati, Cisca; Margareta, Evi Ulina; Dewi, Rita
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.5048

Abstract

Pendahuluan: Katarak adalah penyebab utama gangguan penglihatan, memengaruhi jutaan orang di seluruh dunia, termasuk 81% kasus kebutaan di Indonesia, terutama katarak senilis. Miopia, yang sering dikaitkan dengan katarak nuklear, terjadi akibat perubahan indeks bias pada lensa mata yang mengakibatkan "myopic shift" atau miopisasi. Miopisasi dapat memberikan ilusi perbaikan penglihatan dekat ("second-sight"), yang sering menunda diagnosis dan perawatan katarak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui insidensi dan derajat miopisasi pada pasien katarak senilis di klinik mata Rumah Sakit Atma Jaya (RSAJ), Jakarta. Metode: Penelitian analitik dengan metode potong lintang retrospektif pada 92 sampel mata pasien di klinik mata RSAJ. Pengumpulan data dilakukan melalui rekam medis pasien yang terdiagnosis katarak senilis tipe nuklear dan mengalami miopisasi. Pengambilan data rekam medis dilakukan di RSAJ pada bulan April 2023 – Juli 2023 kemudian dilanjutkan pengolahan data dengan uji Chi-square. Hasil: Penelitian ini menunjukkan insidensi miopisasi pada katarak senilis berjenis nuklear dengan derajat NO3-NO6 sebesar 39,1% dengan derajat miopia ringan terbanyak yaitu 88,1% dan terdapat hubungan bermakna antara derajat miopisasi ringan dengan katarak senilis tipe nuklear (p=<0,001). Hasil analisis data juga menunjukkan tidak terdapat hubungan antara derajat miopisasi sedang dengan katarak senilis tipe nuklear (p=0,056). Simpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara derajat miopisasi ringan dan sedang dengan katarak senilis tipe nuklear pada pasien di klinik mata RSAJ.  
Gambaran Histopatologi Spesimen Gaster post Laparoscopic Sleeve Gastrectomy di Rumah Sakit Sumber Waras Jakarta Barat Sartono, Stefanny; Sugiharto, Sony
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.5488

Abstract

Pendahuluan: Obesitas seringkali menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Laparoscopic Sleeve Gastrectomy (LSG) merupakan pilihan terapi bagi pasien obesitas berat yang gagal dengan perubahan gaya hidup atau terapi obat. Publikasi perubahan histopatologi spesimen gaster pasca LSG masih sedikit. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari data demografi dan gambaran histopatologi pasien yang telah menjalani LSG. Metode: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif potong lintang dengan jumlah sampel sebanyak 140 pasien dan berlokasi di RS Sumber Waras, Jakarta Barat, Indonesia. Variabel penelitian adalah jenis kelamin, umur, dan gambaran histopatologi. Data pasien yang menjalani LSG antara bulan Desember 2018 – Desember 2023 dikumpulkan secara purposive sampling. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan 140 pasien telah menjalani LSG dan diperiksa gambaran histopatologinya, perempuan 114 orang (81,4%) dan laki-laki 26 orang (18,6%). Usia penderita berkisar antara 13 hingga 67 tahun, dan sebagian besar pada kelompok usia 31-40 tahun. Histopatologi spesimen terbanyak adalah gastritis kronik sebanyak 37,2%, disusul gambaran gaster normal sebanyak 31,4%, agregat limfoid (18,6%), polip kelenjar fundus (4,3%), gastropati kongestif (2,7%), gastritis atrofik (1,6%), leiomioma (1,6%), hiperplasia kelenjar fundus (1,1%), polip inflamatorik (0,5%), divertikel (0,5%), dan neurofibroma (0,5%). Simpulan: Gambaran histopatologi yang didapatkan pada spesimen gaster pasca LSG bervariasi dari gaster normal, lesi non neoplasma, dan neoplasma jinak yaitu leiomioma dan neurofibroma. Hasil temuan penelitian ini menunjukkan perlunya pemeriksaan histopatologi rutin pada spesimen LSG.
Analisis in silico pasangan miRNA-mRNA pada sindrom metabolik dan Parkinson: Hubungan molekuler dan potensi biomarker Milas Siswanto, Ferbian; Handayani, Maria Dara Novi; Dewi, Rita; Novelya , Novelya; Wijaya, Ferdian Manuel; Finnegan, Meisy
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.5606

Abstract

Introduction: Parkinson's disease (PD) is the second most common neurodegenerative disease. Identification of PD biomarkers is critical for early diagnosis and development of therapeutic targets. There are many factors that are associated with PD, including metabolic syndrome (MetS). However, molecular links between MetS and PD for biomarkers is still a challenge. This study aims to determine the molecular links between MetS and PD using an in silico approach. Methods: Data were obtained from Gene Expression Omnibus to identify differentially expressed genes (DEGs) and microRNA (DEMs) in PD and MetS. DEGs were mapped to protein-protein interaction (PPI) networks using the STRING platform. Then, gene ontology (GO) and pathway analysis was performed with EnrichR to reveal specific and overlapped biological processes. Finally, microRNA (miRNA) and mRNA pairs were predicted using TargetScan. Results: A total of 25 DEGs were identified in both MetS and PD. GO and pathway analysis for MetS-PD revealed that these DEGs mainly related to metabolic and cytokine pathways. Examination of miRNA showed that hsa-miR-631 was down-regulated in both MetS and PD. GO and pathway analysis on predicted targets of hsa-miR-631 showed major changes in metabolic pathways. Hsa-miR-631 can target the 3' UTR of ATP2B4 at poorly conserved site, indicating a specific miRNA-mRNA pairing in humans. Conclusion: In patients with MetS and PD, hsa-miR-631 and ATP2B4 are depleted and elevated, respectively. Bioinformatic analysis indicates that ATP2B4 is a target of hsa-miR-631. We demonstrate for the first time that hsa-miR-631/ ATP2B4 pair is potential biomarker for PD due to MetS.
Corticophobia pada Pasien Psoriasis di Indonesia: Studi Berbasis TOPICOP Halim, Kenley; Gunawan, Shirly
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.5639

Abstract

Pendahuluan: Corticophobia adalah kekakutan atau kekhawatiran terhadap kortikosteroid topikal (topical corticosteroids, TCS), terutama terhadap efek sampingnya, seperti penipisan kulit. Dampak yang paling dikhawatirkan dengan corticophobia adalah ketidakpatuhan terhadap pengobatan TCS. Penelitian ini bertujuan untuk mencari gambaran corticophobia di Indonesia yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Metode: Sebuah kuesioner disebar pada story Instagram pada akun Instagram dari organisasi Psoriasis Indonesia @psoriasis_id. Kuesionernya berisi identitas pasien, diagnosis kualitatif corticophobia, riwayat penggunaan TCS, dan kuesioner TOPICOP yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Kriteria inklusi adalah pasien atau orang tua pasien psoriasis. Hasil: Sebanyak 204 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi diminta untuk mengisi kuesioner. Prevalensi corticophobia adalah 76% dengan nilai rerata TOPICOP 68,3%, keduanya relatif tinggi dibanding negara lainnya. Domain dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah domain kekhawatiran, sedangkan item dengan nilai TOPICOP tertinggi adalah “Saya memerlukan kepastian keamanan penggunaan TCS.” Pada penelitian ini, perempuan juga secara konsisten memiliki prevalensi corticophobia dan nilai TOPICOP lebih tinggi pada setiap populasi. Simpulan: Intervensi yang sesuai terdiri dari edukasi yang tepat dan menjaga hubungan dokter-pasien harus dilakukan pada pasien dengan atau berisiko mengalami corticophobia, dan penelitian corticophobia di Indonesia yang lebih luas dengan jumlah sampel lebih besar dan pada populasi lain masih dibutuhkan. Kata Kunci: corticophobia, kortikosteroid topikal, TOPICOP
Hubungan antara Sukungan Sosial, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan dengan Depresi dan Fungsi Kognitif Lanjut Suia dalam Komunitas Keagamaan Jayadi, Tejo; The, Maria Meiwati Widagdo; Sooai, Christiane Marlene; Indonesia, Bunga Matahari; Agustina, Maria; Waskitaningtyas, Bernadeta Amaya
Bahasa Indonesia Vol 23 No 3 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i3.6002

Abstract

Introduction: Elderly individuals often experience psychosocial vulnerabilities that increase their risk for psychological disorders and are linked to cognitive impairments. This study explored how social support and demographic variables relate to the incidence of depression and cognitive decline among devout older adults. Methods: This cross-sectional observational study involved 125 senior participants from the Javanese Christian Church in Ambarrukma District of Yogyakarta. The research utilized demographic questionnaires, social support evaluations, surveys on religious attitudes, the Geriatric Depression Scale, and the MOCA-Ina tests. Data will undergo univariate and bivariate analyses and binary linear regression to evaluate odds ratios (OR), 95% confidence intervals (CI), and Pearson correlations between variables. Results: Elderly devout respondents (99.2%) who received good social support were more likely to experience no depression (47.9%) than those with poor social support (40.3%) (p=0.025; OR 0.182; 95% CI 0.038-0.873). The female gender suffered more from mild depression (p=0.021; OR 0.176; 95% CI 0.037-0.841) compared to men. Older adults with an education level of 7 years or more showed less mild cognitive impairment (p=0.044; OR 4.500; 95% CI 0.929-21.802). Conclusion: This study revealed that social support plays a role in modifying the incidence of depression in devout elderly individuals. The female gender suffered more from mild depression. Additionally, lower education levels were correlated with mild cognitive impairment. Further research with a more robust analysis with a larger sample size and consideration of other factors is necessary to confirm the causal relationships between social support and gender and depression.  
Analysis of Teenagers as Voluntary and Potential Blood Donors at the Blood Donation Unit PMI Bojonegoro Qosiani, Elfa Jiril; Muflikhah, Nina Difla; Nuraini, Fatia Rizki
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.3462

Abstract

Pendahuluan: Donor darah merupakan kegiatan yang berhubungan langsung dengan keselamatan, kesehatan, dan nyawa, baik bagi pendonor sendiri maupun resipien, Pemenuhan kebutuhan darah sesuai jumlah yang dibutuhkan sangat diperlukan untuk mendukung sistem Kesehatan, terutama selama pandemi COVID-19 karena dipercaya bahwa produk plasmafesesis merupakan salah satu tindakan yang mampu menurunkan gejala pada pasien. Tingginya minat donor darah pada usia remaja di dasari oleh jiwa sosial dan motivasi yang tinggi untuk saling tolong menolong sehingga remaja dikategorikan sebagai pendonor darah potensial dan berkelanjutan. Metode : Penelitian ini dilakukan di UDD PMI Kabupaten Bojonegoro pada Februari  hingga Maret 2022. Desain penelitian yang digunakan yaitu penelitian deskriptif kuantitatif. Pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dan diperoleh 668 responden, yang terdiri dari 449 donor laki-laki dan 179 donor perempuan. Hasil: Total pendonor darah yang terkumpul selama periode Februari – Maret 2022 sebanyak 668 donor (449 laki-laki dan 179 perempuan). Menurut WHO, batas usia pendonor adalah usia remaja hingga lansia (sebelum 65 tahun). Analisis data menunjukkan 181 donor (27%) termasuk kategori remaja (17-25 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa awal (26-35 tahun), 167 donor (25%) kategori dewasa akhir (36-45 tahun), 124 donor (19%) kategori lansia awal (46-55 tahun), dan 29 donor (4%) kategori lansia akhir (56-65 tahun). Beberapa karakteristik yang memengaruhi keberhasilan donor darah pada kelompok usia remaja antara lain kadar hemoglobin, tekanan darah, dan konsumsi makanan <2 jam sebelum donor. Simpulan: Penelitian ini disimpulkan bahwa presentasi keberhasilan terbanyak adalah pada remaja akhir sebanyak 181 (27%). Proses seleksi donor pada kelompok usia remaja dipengaruhi oleh kadar hemoglobin, tekanan darah, dan waktu terakhir makan.
Determinan Diabetes Melitus pada Pasien Tuberkulosis: Case Control Study Wati, Desy Dwi Ambar; Ariyanto, Yunus; Prasetyowati, Irma
Bahasa Indonesia Vol 23 No 2 (2024): Damianus Journal of Medicine
Publisher : Atma Jaya Catholic University of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/djm.v23i2.3726

Abstract

Pendahuluan: Penderita TB dengan komorbid DM memiliki risiko sebesar 1,88 kali untuk mengalami kematian dan sebesar 1,64 kali mengalami kekambuhan sehingga menimbulkan peningkatan angka kecacatan, kematian dini, dan timbulnya kasus multi drug resisten baru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang memengaruhi kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis di RSUD Dr.Soeroto Kabupaten Ngawi. Metode: Penelitian ini menggunakan metode analitik observasional dengan pendekatan case-control yang dilaksanakan pada April - Agustus 2022. Subjek penelitian adalah penderita TB-DM dan TB sebanyak 82 orang dengan teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling dan simple random sampling. Analisis data dilakukan dengan uji regresi logistik. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh usia (p=0,001), jenis kelamin (p=0,048), status merokok (p=0,027), riwayat diabetes (p=0,001), dan jenis tuberkulosis (p=0,003) terhadap kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis. Simpulan: Faktor yang memengaruhi kejadian diabetes melitus pada penderita tuberkulosis adalah usia, jenis kelamin, status merokok, riwayat diabetes pada keluarga, dan jenis tuberkulosis. Perlu adanya pemeriksaan kadar gula darah secara teratur, berhenti merokok, meningkatkan gaya hidup sehat dan menjaga daya tahan tubuh untuk menghindari tejadinya DM khususnya pada pasien tuberkulosis.