Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Sahabat Menopause: Pemberdayaan Perempuan Dalam Menghadapi Perubahan Fisiologis Dengan Bijak Dan Sehat Lumastari Ajeng Wijayanti; Cakrawati R Cakrawati R
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Menopause is a natural physiological process experienced by women, marking the end of the reproductive period. Hormonal changes during menopause often lead to physical, psychological, and social symptoms that may reduce women's quality of life. Limited knowledge and persistent misconceptions regarding menopause frequently result in anxiety and inadequate preparation among women. Therefore, community-based health education is essential to empower women in understanding menopausal changes and adopting healthy lifestyles. Objective: To improve women's knowledge, attitudes, and preparedness in facing menopause through health education, mentoring, and healthy lifestyle promotion. Methods: This community service program was conducted at Posyandu Mawar, Antang Village, Manggala District, Makassar City, in September 2026 involving 35 women aged 40–60 years. Activities included health education sessions, interactive discussions, healthy diet counseling, relaxation exercises, physical activity demonstrations, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively. Results: Participants' average knowledge score increased from 61.8 before the intervention to 89.4 after the program. Approximately 91.4% of participants were able to identify physiological changes during menopause, 88.6% understood non-pharmacological approaches to managing menopausal symptoms, and 94.3% reported feeling more prepared to face menopause. Participants showed high enthusiasm and active involvement throughout the activities. Conclusion: The Menopause Companion Program effectively improved women's knowledge, preparedness, and awareness regarding healthy menopause management. Community-based educational interventions can serve as an effective health promotion strategy to improve the quality of life among middle-aged and older women. Keywords: Menopause, Women Empowerment, Health Education, Health Promotion, Community Service ABSTRAK Latar Belakang: Menopause merupakan proses fisiologis alami yang dialami setiap perempuan sebagai tanda berakhirnya masa reproduksi. Perubahan hormonal yang terjadi selama masa menopause sering menimbulkan berbagai keluhan fisik, psikologis, maupun sosial yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan. Kurangnya pengetahuan serta masih adanya berbagai mitos mengenai menopause menyebabkan banyak perempuan mengalami kecemasan dan kurang siap menghadapi perubahan tersebut. Oleh karena itu, diperlukan kegiatan pemberdayaan melalui edukasi kesehatan agar perempuan mampu memahami perubahan fisiologis yang terjadi dan menerapkan gaya hidup sehat dalam menghadapi masa menopause. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan, sikap, dan kesiapan perempuan dalam menghadapi menopause melalui program edukasi kesehatan, pendampingan, dan praktik hidup sehat. Metode: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di Posyandu Mawar, Kelurahan Antang, Kecamatan Manggala, Kota Makassar pada bulan September 2026. Sasaran kegiatan adalah 35 perempuan usia 40–60 tahun. Program dilaksanakan melalui penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, demonstrasi aktivitas fisik sederhana, edukasi gizi, latihan relaksasi, konsultasi kesehatan, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Data dianalisis secara deskriptif. Hasil: Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 61,8 sebelum edukasi menjadi 89,4 setelah edukasi. Sebanyak 91,4% peserta mampu menjelaskan perubahan fisiologis selama menopause, 88,6% memahami cara mengatasi keluhan menopause secara nonfarmakologis, dan 94,3% menyatakan lebih siap menghadapi masa menopause. Seluruh peserta mengikuti kegiatan dengan antusias dan berpartisipasi aktif selama diskusi maupun praktik. Kesimpulan: Program Sahabat Menopause efektif meningkatkan pengetahuan, kesiapan, dan kesadaran perempuan dalam menghadapi menopause secara sehat. Edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat menjadi salah satu strategi promotif dan preventif dalam meningkatkan kualitas hidup perempuan usia premenopause dan menopause. Kata Kunci: Menopause, Pemberdayaan Perempuan, Edukasi Kesehatan, Promosi Kesehatan, Pengabdian Kepada Masyarakat
Penguatan Peran Tenaga Kesehatan Sebagai Care Provider Pada Masa Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Dan Neonatus Cakrawati R Cakrawati R; Maria Septiana
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Maternal and neonatal health services remain a national priority in reducing maternal and neonatal mortality. High-quality healthcare requires competent healthcare providers who are able to deliver comprehensive and continuous care from the preconception period through pregnancy, childbirth, postpartum, and neonatal care. Strengthening healthcare workers' competencies is essential to improve the quality of maternal and neonatal healthcare services. To improve healthcare providers' knowledge, skills, and competencies regarding their role as care providers in delivering comprehensive maternal and neonatal healthcare based on the continuum of care approach. This community service program was conducted at a primary healthcare center in Indonesia in September 2026 involving 35 healthcare workers, including midwives, nurses, nutritionists, health promotion officers, and other healthcare professionals. Activities included health education, interactive discussions, case studies, simulation-based learning, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Data were analyzed descriptively. The participants' average knowledge score increased from 68.4 before the intervention to 91.8 after the program. Approximately 94.3% of participants understood the continuum of care concept, 91.4% identified maternal risk factors appropriately, 94.3% understood safe childbirth services, 97.1% mastered essential postpartum and neonatal care, and 94.3% reported greater confidence in providing comprehensive maternal healthcare.Strengthening the role of healthcare workers as care providers effectively improved participants' competencies in delivering integrated maternal and neonatal healthcare services. Continuous professional education is recommended to enhance the quality of maternal and child healthcare services. Keywords: Care Provider, Healthcare Workers, Preconception, Pregnancy, Childbirth, Postpartum, Neonate. ABSTRAK Pelayanan kesehatan ibu dan bayi merupakan salah satu prioritas pembangunan kesehatan nasional dalam upaya menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Pelayanan yang berkualitas memerlukan tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi sebagai care provider dalam memberikan pelayanan secara komprehensif dan berkesinambungan sejak masa pra-konsepsi, kehamilan, persalinan, nifas, hingga perawatan neonatus. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan melalui edukasi dan peningkatan kompetensi menjadi salah satu strategi untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal. Meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman tenaga kesehatan mengenai peran care provider dalam pelayanan kesehatan maternal dan neonatal berbasis continuum of care. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan di salah satu puskesmas di wilayah Indonesia pada bulan September 2026 dengan melibatkan 35 tenaga kesehatan yang terdiri atas bidan, perawat, tenaga gizi, promotor kesehatan, dan tenaga kesehatan lainnya. Kegiatan dilakukan melalui penyuluhan, diskusi interaktif, studi kasus, simulasi pelayanan maternal-neonatal, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Analisis data dilakukan secara deskriptif berdasarkan distribusi frekuensi, persentase, dan perubahan skor pengetahuan peserta. Nilai rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari 68,4 sebelum kegiatan menjadi 91,8 setelah kegiatan. Sebanyak 94,3% peserta memahami konsep continuum of care, 91,4% mampu mengidentifikasi faktor risiko pada masa pra-konsepsi dan kehamilan, 94,3% memahami pelayanan persalinan aman, 97,1% memahami pelayanan nifas dan neonatus esensial, serta 94,3% menyatakan lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan kesehatan secara komprehensif. Penguatan kapasitas tenaga kesehatan sebagai care provider terbukti meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan peserta dalam memberikan pelayanan kesehatan ibu dan bayi secara berkesinambungan. Kegiatan ini diharapkan menjadi bagian dari upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan maternal dan neonatal di fasilitas pelayanan kesehatan primer. Kata Kunci: Care Provider, Tenaga Kesehatan, Pra-Konsepsi, Kehamilan, Persalinan, Nifas, Neonatus
Edukasi Senam Hamil Dalam Meningkatkan Kesiapan Fisik Dan Mental Menghadapi Persalinan Cakrawati R Cakrawati R; Nur Fatimah; Rezqiqah Aulia Rahmat; Wulan Citra Sari
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Pregnancy is a physiological process accompanied by various physical and psychological changes that may affect maternal well-being and readiness for childbirth. Many pregnant women experience anxiety, lower back pain, fatigue, and lack of confidence before delivery. Pregnancy exercise is a safe, non-pharmacological intervention that can improve physical fitness, reduce discomfort, and enhance psychological preparedness. Community-based health education is therefore essential to increase maternal awareness and encourage regular participation in pregnancy exercise. This community service program aimed to improve the physical and psychological readiness of pregnant women for childbirth through health education and practical pregnancy exercise sessions. The program was conducted at a primary healthcare facility in Indonesia in September 2026 involving 30 pregnant women in the second and third trimesters. Activities included health education, interactive discussions, demonstrations, guided pregnancy exercise practice, breathing and relaxation techniques, individual consultations, and evaluation using pre-test and post-test questionnaires. Participants' practical skills and satisfaction were also assessed. Data were analyzed descriptively using frequencies, percentages, and mean score comparisons.: The program demonstrated positive outcomes in improving participants' knowledge and preparedness. The mean knowledge score increased from 66.8 before the intervention to 90.7 after the educational session. Participants also showed significant improvement in performing stretching exercises, pelvic floor exercises, breathing techniques, relaxation exercises, and appropriate labor positions. Psychological readiness improved as reflected by increased self-confidence, reduced anxiety, and greater motivation to perform pregnancy exercise regularly. Most participants expressed high satisfaction with the educational materials, practical sessions, and overall implementation of the program.: Health education combined with practical pregnancy exercise effectively improved the knowledge, physical preparedness, and psychological readiness of pregnant women for childbirth. Integrating pregnancy exercise education into routine antenatal care is recommended to promote maternal health, increase confidence during labor, and support safe and positive childbirth experiences.  Keywords: Pregnancy Exercise; Health Education; Maternal Health; Physical Readiness; Psychological Readiness; Childbirth Preparation; Community Service.   ABSTRAK Kehamilan merupakan proses fisiologis yang disertai berbagai perubahan fisik, psikologis, hormonal, dan sosial yang memerlukan adaptasi dari ibu hamil. Kurangnya aktivitas fisik yang sesuai selama kehamilan dapat menyebabkan penurunan kebugaran, meningkatnya keluhan muskuloskeletal, serta kecemasan menjelang persalinan. Salah satu upaya nonfarmakologis yang direkomendasikan untuk meningkatkan kesiapan ibu menghadapi persalinan adalah senam hamil. Senam hamil berperan dalam meningkatkan kekuatan otot, fleksibilitas, teknik pernapasan, relaksasi, serta kesiapan mental sehingga ibu lebih percaya diri menghadapi proses persalinan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, keterampilan, serta kesiapan fisik dan mental ibu hamil melalui edukasi dan praktik senam hamil. Kegiatan dilaksanakan pada salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 30 ibu hamil trimester II dan III. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, demonstrasi, praktik senam hamil, diskusi interaktif, pendampingan peserta, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai manfaat senam hamil, perubahan fisiologis selama kehamilan, teknik pernapasan, posisi persalinan, dan latihan relaksasi. Nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 66,8 menjadi 90,7 setelah kegiatan. Selain itu, sebagian besar peserta menyatakan lebih percaya diri, lebih rileks, memahami teknik mengurangi nyeri selama persalinan, serta memiliki motivasi untuk melakukan senam hamil secara rutin. Antusiasme peserta selama kegiatan juga menunjukkan bahwa metode edukasi yang dipadukan dengan praktik langsung mampu meningkatkan pemahaman dan keterampilan ibu hamil. Kegiatan ini membuktikan bahwa edukasi dan praktik senam hamil merupakan salah satu bentuk promosi kesehatan yang efektif dalam meningkatkan kesiapan fisik dan mental ibu hamil menghadapi persalinan. Program serupa diharapkan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai bagian dari pelayanan antenatal untuk mendukung persalinan yang aman, nyaman, dan berkualitas. Kata Kunci: Edukasi Kesehatan, Ibu Hamil, Kesiapan Persalinan, Kesehatan Maternal, Senam Hamil.
Implementasi Pendidikan Kesehatan Maternal Tentang Faktor Risiko Dan Pencegahan Atonia Uteri Pada Ibu Hamil Cakrawati R Cakrawati R; Ana Sapitri
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (September)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Uterine atony is the leading cause of postpartum hemorrhage and remains a major contributor to maternal mortality in developing countries, including Indonesia. Most cases can be prevented through early identification of risk factors, high-quality antenatal care, and maternal health education. However, many pregnant women still have limited knowledge regarding the risk factors, warning signs, and preventive measures for uterine atony. This community service program aimed to improve pregnant women's knowledge of the risk factors, warning signs, and prevention of uterine atony through maternal health education. The program was conducted in September 2026 at a primary healthcare facility in Indonesia and involved 35 pregnant women. Educational methods included health counseling, interactive discussions, educational video presentations, leaflet distribution, and question-and-answer sessions. Participants' knowledge was assessed using pre-test and post-test questionnaires, and the data were analyzed descriptively using frequency distributions, percentages, and mean scores. All participants completed the program with a high level of participation. The mean knowledge score increased from 64.9 before the intervention to 89.8 after the educational session. Most participants were able to explain the definition of uterine atony, identify major risk factors such as anemia, multiple pregnancy, prolonged labor, and fetal macrosomia, and recognize the importance of routine antenatal care, adequate nutrition, delivery at healthcare facilities, and prompt management of postpartum hemorrhage. Furthermore, 94.3% of participants reported greater confidence in preparing for pregnancy and childbirth after attending the program. Maternal health education effectively improved pregnant women's knowledge and awareness regarding the prevention of uterine atony. Continuous educational interventions should be integrated into routine antenatal care to support efforts to reduce maternal mortality associated with postpartum hemorrhage. . Keywords: Antenatal Care; Maternal Health Education; Postpartum Hemorrhage; Pregnant Women; Uterine Atony. ABSTRAK Atonia uteri merupakan penyebab utama perdarahan postpartum dan masih menjadi kontributor terbesar kematian ibu di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia. Sebagian besar kasus sebenarnya dapat dicegah melalui deteksi dini faktor risiko, pelayanan antenatal yang berkualitas, serta pendidikan kesehatan kepada ibu hamil. Namun, pengetahuan ibu hamil mengenai faktor risiko, tanda bahaya, dan upaya pencegahan atonia uteri masih terbatas. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan ibu hamil tentang faktor risiko, tanda bahaya, dan pencegahan atonia uteri melalui pendidikan kesehatan maternal. Kegiatan dilaksanakan pada September 2026 di salah satu fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia dengan melibatkan 35 ibu hamil. Metode yang digunakan meliputi penyuluhan kesehatan, diskusi interaktif, pemutaran media edukasi, pembagian leaflet, serta sesi tanya jawab. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk mengukur perubahan pengetahuan peserta, sedangkan data dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Seluruh peserta mengikuti kegiatan hingga selesai dengan tingkat partisipasi yang tinggi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan dari 64,9 sebelum edukasi menjadi 89,8 setelah kegiatan. Sebagian besar peserta mampu menjelaskan pengertian atonia uteri, mengenali faktor risiko seperti anemia, kehamilan ganda, persalinan lama, dan bayi besar, serta memahami pentingnya pemeriksaan kehamilan rutin, pemenuhan gizi, persalinan di fasilitas kesehatan, dan penanganan segera apabila terjadi perdarahan pascapersalinan. Sebanyak 94,3% peserta menyatakan lebih percaya diri dalam mempersiapkan kehamilan dan persalinan. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pendidikan kesehatan maternal efektif meningkatkan pengetahuan dan kesadaran ibu hamil mengenai pencegahan atonia uteri serta perlu diintegrasikan secara berkelanjutan dalam pelayanan antenatal untuk mendukung penurunan angka kematian ibu akibat perdarahan postpartum. Kata Kunci: Atonia Uteri; Ibu Hamil; Pendidikan Kesehatan; Kesehatan Maternal; Pencegahan Perdarahan Postpartum.
Kajian Konsep Continuity Of Care Dalam Asuhan Kebidanan Berkelanjutan Kiki Uniatri Thalib; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1388

Abstract

Upaya penurunan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) memerlukan pelayanan kebidanan yang berkualitas, komprehensif, dan berkesinambungan. Salah satu pendekatan yang telah banyak diterapkan dalam pelayanan maternal adalah Continuity of Care (CoC), yaitu model pelayanan yang menjamin kesinambungan asuhan sejak masa prakonsepsi atau kehamilan, persalinan, nifas, perawatan bayi baru lahir, hingga pelayanan keluarga berencana. Pendekatan ini menempatkan bidan sebagai pemberi asuhan utama yang membangun hubungan terapeutik secara berkelanjutan dengan perempuan dan keluarganya. Mengkaji konsep Continuity of Care dalam asuhan kebidanan berkelanjutan berdasarkan perkembangan teori, prinsip, komponen, manfaat, serta implementasinya dalam praktik pelayanan kebidanan. Artikel ini merupakan kajian konseptual (conceptual review) yang disusun melalui telaah literatur dari buku teks, pedoman organisasi kesehatan, serta artikel ilmiah nasional dan internasional mengenai Continuity of Care dalam pelayanan kebidanan. Literatur dipilih berdasarkan relevansi terhadap konsep pelayanan kebidanan berkelanjutan, kemudian dianalisis secara deskriptif dan disintesis untuk memperoleh pemahaman yang komprehensif. Kajian menunjukkan bahwa Continuity of Care merupakan model pelayanan yang menekankan kesinambungan hubungan antara bidan dan perempuan sepanjang siklus reproduksi. Implementasi CoC meningkatkan kualitas pelayanan, memperkuat deteksi dini komplikasi, meningkatkan kepuasan ibu, mengurangi intervensi yang tidak diperlukan, serta berkontribusi terhadap perbaikan luaran maternal dan neonatal. Keberhasilan implementasi dipengaruhi oleh kompetensi bidan, sistem rujukan, kolaborasi antarprofesi, dukungan kebijakan, dan keterlibatan keluarga. Continuity of Care merupakan konsep fundamental dalam praktik kebidanan modern yang mendukung pelayanan komprehensif, berpusat pada perempuan (woman-centered care), dan berorientasi pada peningkatan kualitas kesehatan ibu dan bayi. Implementasi yang optimal memerlukan dukungan sistem pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, serta kebijakan yang mendukung kesinambungan pelayanan.
Dampak Positif Program Makan Bergizi Gratis Terhadap Kesehatan Dan Produktivitas Belajar Anak Sri Sukmawaty Syahrir; Kasmiati Kasmiati; Cakrawati R Cakrawati R; Islamiyah Islamiyah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1389

Abstract

Masalah gizi pada anak usia sekolah masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Kekurangan asupan gizi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan, penurunan daya tahan tubuh, gangguan perkembangan kognitif, serta menurunkan kemampuan belajar. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan meningkatkan status gizi peserta didik melalui penyediaan makanan bergizi seimbang di sekolah. Program ini diharapkan tidak hanya memperbaiki kondisi kesehatan anak, tetapi juga meningkatkan konsentrasi, kehadiran, dan produktivitas belajar. Artikel ini bertujuan menganalisis dampak Program Makan Bergizi Gratis terhadap status kesehatan dan produktivitas belajar anak berdasarkan hasil penelitian dan publikasi ilmiah terkini. Penelitian ini menggunakan metode narrative literature review. Literatur diperoleh melalui penelusuran pada PubMed, Scopus, ScienceDirect, Google Scholar, dan Garuda. Artikel yang diterbitkan pada tahun 2020–2025 serta membahas program pemberian makan di sekolah, status gizi, kesehatan anak, perkembangan kognitif, dan prestasi belajar dianalisis menggunakan pendekatan sintesis naratif. Hasil kajian menunjukkan bahwa program makan bergizi di sekolah berkontribusi terhadap peningkatan asupan energi, protein, vitamin, dan mineral; perbaikan status gizi; penurunan risiko anemia; peningkatan daya tahan tubuh; serta penurunan angka ketidakhadiran akibat sakit. Selain itu, program tersebut berhubungan dengan peningkatan konsentrasi, fungsi kognitif, motivasi belajar, partisipasi di kelas, dan prestasi akademik. Keberhasilan program dipengaruhi oleh kualitas menu, keamanan pangan, keteraturan pelaksanaan, kecukupan pendanaan, serta keterlibatan keluarga dan sekolah. Program Makan Bergizi Gratis memiliki potensi besar dalam meningkatkan kesehatan dan produktivitas belajar anak apabila dilaksanakan secara berkelanjutan, memenuhi prinsip gizi seimbang, serta didukung oleh pemantauan dan evaluasi yang sistematis.
Analisis Faktor Risiko Gangguan Pembekuan Darah Pada Ibu Postpartum Susi Rabuana; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1401

Abstract

Masa postpartum merupakan periode kritis yang berlangsung hingga 42 hari setelah persalinan. Pada periode ini ibu berisiko mengalami berbagai komplikasi, termasuk gangguan pembekuan darah (koagulasi) yang dapat menyebabkan perdarahan postpartum maupun tromboemboli. Perubahan fisiologis sistem hemostasis selama kehamilan dan setelah persalinan meningkatkan risiko terjadinya gangguan koagulasi, terutama pada ibu dengan faktor risiko tertentu seperti usia maternal tinggi, obesitas, preeklampsia, persalinan seksio sesarea, infeksi, dan riwayat gangguan pembekuan darah. Identifikasi faktor-faktor risiko tersebut penting untuk mendukung deteksi dini dan pencegahan komplikasi yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian ibu. Menganalisis faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 180 ibu postpartum dipilih menggunakan teknik consecutive sampling dari ruang nifas rumah sakit dan puskesmas. Data dikumpulkan melalui rekam medis dan wawancara menggunakan kuesioner terstruktur. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji Chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Gangguan pembekuan darah ditemukan pada 26,1% responden. Faktor yang berhubungan secara signifikan adalah usia ≥35 tahun (p=0,021), preeklampsia (p<0,001), persalinan seksio sesarea (p=0,014), obesitas (p=0,008), dan perdarahan postpartum (p<0,001). Analisis multivariat menunjukkan bahwa preeklampsia merupakan faktor yang paling dominan (AOR=4,28; 95% CI=2,01–9,12). Preeklampsia, obesitas, usia maternal ≥35 tahun, persalinan seksio sesarea, dan perdarahan postpartum merupakan faktor risiko utama gangguan pembekuan darah pada ibu postpartum. Skrining faktor risiko sejak masa antenatal hingga postpartum diperlukan untuk mencegah komplikasi serius.
Hubungan Kebiasaan Merokok Dengan Penurunan Berat Badan Pada Orang Dewasa Nurhasanah Syaharuddin; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1405

Abstract

Latar Belakang: Merokok merupakan salah satu faktor risiko utama berbagai penyakit tidak menular dan menjadi penyebab kematian yang dapat dicegah di seluruh dunia. Meskipun demikian, beberapa penelitian menunjukkan bahwa perokok cenderung memiliki indeks massa tubuh (IMT) yang lebih rendah dibandingkan bukan perokok. Efek nikotin terhadap penekanan nafsu makan, peningkatan metabolisme basal, dan perubahan regulasi energi diduga berkontribusi terhadap penurunan berat badan pada perokok. Namun, hubungan tersebut masih dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, pola makan, dan lama kebiasaan merokok. Tujuan: Menganalisis hubungan kebiasaan merokok dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Metode: Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 240 responden berusia 18–60 tahun dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Data kebiasaan merokok diperoleh melalui kuesioner terstruktur, sedangkan berat badan dan tinggi badan diukur secara langsung untuk menghitung indeks massa tubuh (IMT). Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square dan regresi logistik dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 42,5% responden merupakan perokok aktif. Penurunan berat badan atau status berat badan di bawah normal ditemukan pada 28,3% responden. Analisis bivariat menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara kebiasaan merokok dan penurunan berat badan (p = 0,003). Analisis multivariat menunjukkan bahwa perokok aktif memiliki peluang 2,76 kali lebih besar mengalami penurunan berat badan dibandingkan bukan perokok (AOR = 2,76; 95% CI = 1,48–5,14). Kesimpulan: Kebiasaan merokok berhubungan signifikan dengan penurunan berat badan pada orang dewasa. Meskipun demikian, merokok tidak dapat dijadikan sebagai metode pengendalian berat badan karena dampak buruknya terhadap kesehatan jauh lebih besar dibandingkan manfaat yang dipersepsikan.
Efektivitas Simulasi Obstetric Emergency Terhadap Peningkatan Keterampilan Bidan Dalam Penanganan Perdarahan Pasca Persalinan Delimayani Delimayani; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1411

Abstract

Latar Belakang: Perdarahan pasca persalinan (postpartum hemorrhage/PPH) merupakan penyebab utama kematian ibu di dunia. Penanganan yang cepat, tepat, dan sesuai standar sangat bergantung pada kompetensi tenaga kesehatan, terutama bidan sebagai pemberi pelayanan obstetri lini pertama. Salah satu metode yang terbukti meningkatkan kompetensi klinis adalah pelatihan berbasis simulasi (obstetric emergency simulation), yang memungkinkan peserta berlatih keterampilan teknis maupun nonteknis dalam situasi yang menyerupai kondisi nyata tanpa membahayakan pasien. Tujuan: Menganalisis efektivitas simulasi obstetric emergency terhadap peningkatan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan rancangan one group pretest-posttest. Sebanyak 60 bidan dipilih menggunakan teknik total sampling. Intervensi berupa pelatihan simulasi obstetric emergency selama dua hari yang meliputi penanganan aktif kala III, identifikasi penyebab perdarahan, resusitasi, manajemen syok, komunikasi tim, dan sistem rujukan. Keterampilan bidan dinilai menggunakan lembar Objective Structured Clinical Examination (OSCE) sebelum dan sesudah pelatihan. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank atau Paired t-test sesuai distribusi data dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Rata-rata skor keterampilan sebelum pelatihan adalah 68,4 ± 8,7, meningkat menjadi 87,9 ± 6,2 setelah pelatihan. Terdapat peningkatan keterampilan yang bermakna secara statistik (p < 0,001). Kesimpulan: Simulasi obstetric emergency efektif meningkatkan keterampilan bidan dalam penanganan perdarahan pasca persalinan. Pelatihan berbasis simulasi direkomendasikan sebagai bagian dari pendidikan berkelanjutan untuk meningkatkan mutu pelayanan kebidanan dan keselamatan ibu.
Pengembangan Pendidikan Seksualitas Komprehensif Berbasis Biologis, Psikososial, Dan Moral Untuk Meningkatkan Ketahanan Remaja Terhadap Perilaku Seks Berisiko Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat; Natalia Debi Subani
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 2 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1479

Abstract

Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai oleh perubahan biologis, psikologis, sosial, dan moral yang dapat memengaruhi sikap seksual serta kemampuan mengambil keputusan. Keterbatasan akses terhadap pendidikan seksualitas yang komprehensif dan berbasis informasi ilmiah dapat menyebabkan kesalahpahaman, sikap yang kurang tepat, dan kerentanan terhadap perilaku seksual berisiko. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengetahuan dan sikap seksual remaja sebagai dasar pengembangan pendidikan seksualitas komprehensif yang mengintegrasikan aspek biologis, psikososial, dan moral. Penelitian menggunakan desain survei kuantitatif potong lintang. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mencakup pengetahuan biologis, aspek psikososial, nilai moral, serta sikap terhadap seksualitas dan perilaku seksual berisiko. Penelitian melibatkan kurang dari 100 responden remaja; atau sebanyak 80 responden. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan bahwa 38,8% responden memiliki pengetahuan tinggi, 43,7% memiliki pengetahuan sedang, dan 17,5% memiliki pengetahuan rendah. Pada variabel sikap, sebanyak 62,5% responden menunjukkan sikap positif terhadap perilaku seksual yang bertanggung jawab, sedangkan 37,5% menunjukkan sikap kurang positif. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan positif antara pengetahuan dan sikap terhadap seksualitas yang bertanggung jawab (p < 0,05). Temuan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas komprehensif tidak seharusnya hanya berfokus pada aspek biologis, tetapi juga perlu mengintegrasikan keterampilan psikososial, nilai moral, pengambilan keputusan, komunikasi, dan penghargaan terhadap batasan diri. Pendekatan tersebut berpotensi meningkatkan kemampuan remaja dalam mengambil keputusan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada kesehatan.