Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Efektivitas Kompres Hangat Terhadap Penurunan Nyeri Dismenore Pada Remaja Putri Kurnia Mariatul Qiftih; Cakrawati R Cakrawati R; Hijrah Hijrah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1499

Abstract

Latar Belakang: Dismenore merupakan salah satu gangguan menstruasi yang paling sering dialami oleh remaja putri dan dapat mengganggu aktivitas belajar, konsentrasi, serta kualitas hidup. Nyeri haid umumnya disebabkan oleh peningkatan produksi prostaglandin yang memicu kontraksi uterus berlebihan sehingga menimbulkan iskemia dan rasa nyeri. Selain terapi farmakologis, penggunaan kompres hangat merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang sederhana, aman, mudah dilakukan, dan memiliki biaya rendah untuk mengurangi intensitas nyeri. Tujuan: Menganalisis efektivitas kompres hangat terhadap penurunan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri. Metode: Penelitian menggunakan desain quasi-experimental dengan pendekatan pretest–posttest control group design. Sampel terdiri atas 60 remaja putri yang mengalami dismenore primer dan dibagi menjadi kelompok intervensi (n=30) serta kelompok kontrol (n=30). Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS) sebelum dan sesudah intervensi. Kelompok intervensi diberikan kompres hangat bersuhu 38–40°C selama 20 menit pada bagian abdomen bawah, sedangkan kelompok kontrol memperoleh edukasi kesehatan tanpa pemberian kompres hangat. Analisis data menggunakan uji paired t-test, independent t-test, dan ANCOVA dengan tingkat kemaknaan p<0,05. Hasil: Rerata skor nyeri pada kelompok intervensi menurun secara bermakna dari 6,83±1,12 menjadi 2,97±1,08 (p<0,001), sedangkan kelompok kontrol hanya mengalami penurunan kecil dari 6,67±1,20 menjadi 5,83±1,15 (p=0,084). Analisis antar kelompok menunjukkan perbedaan yang signifikan setelah intervensi (p<0,001). Kesimpulan: Pemberian kompres hangat efektif menurunkan intensitas nyeri dismenore pada remaja putri dan dapat direkomendasikan sebagai intervensi nonfarmakologis yang mudah diterapkan di rumah maupun di lingkungan sekolah.
Model Komunikasi Terapeutik Perawat Dalam Meningkatkan Recovery Pasien Skizofrenia: Studi Cross-Sectional Rahmat Pannyiwi; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat; Maelia Unayah
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1504

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis yang memengaruhi fungsi kognitif, emosional, sosial, dan okupasional pasien. Proses pemulihan (recovery) tidak hanya ditentukan oleh pengobatan farmakologis, tetapi juga oleh kualitas hubungan terapeutik antara pasien dan tenaga kesehatan, khususnya perawat. Komunikasi terapeutik merupakan salah satu intervensi keperawatan yang berperan dalam membangun kepercayaan, meningkatkan kepatuhan terhadap terapi, memperkuat harapan, dan mendukung kemandirian pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara model komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat recovery pasien skizofrenia. Penelitian menggunakan desain kuantitatif observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian terdiri atas 80 pasien skizofrenia yang menjalani perawatan di rumah sakit jiwa. Data komunikasi terapeutik perawat dikumpulkan menggunakan kuesioner persepsi pasien, sedangkan recovery diukur menggunakan instrumen pemulihan psikososial. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien menilai komunikasi terapeutik perawat berada pada kategori baik (67,5%). Pasien yang menerima komunikasi terapeutik kategori baik lebih banyak menunjukkan tingkat recovery tinggi dibandingkan pasien yang menilai komunikasi terapeutik kurang baik. Hasil uji statistik menunjukkan terdapat hubungan yang bermakna antara komunikasi terapeutik perawat dan recovery pasien skizofrenia (p<0,05). Komunikasi terapeutik yang efektif dapat memperkuat hubungan saling percaya, meningkatkan partisipasi pasien dalam perawatan, dan mendukung proses pemulihan. Oleh karena itu, peningkatan kompetensi komunikasi terapeutik perlu menjadi bagian penting dalam pelayanan keperawatan jiwa.
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Fear Of Childbirth Pada Ibu Hamil Primigravida Ayu Bella Fauziah; Rezqiqah Aulia Rahmat; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1524

Abstract

Latar Belakang: Fear of childbirth (FOC) atau ketakutan menghadapi persalinan merupakan kondisi psikologis yang dapat dialami ibu selama kehamilan, terutama ibu primigravida yang belum memiliki pengalaman melahirkan sebelumnya. Ketakutan menghadapi persalinan dapat dipengaruhi oleh pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam pendidikan kehamilan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor yang berhubungan dengan fear of childbirth pada ibu hamil primigravida. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian sebanyak 80 ibu hamil primigravida yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pengetahuan tentang persalinan, kecemasan, stres, dukungan suami, keikutsertaan kelas ibu hamil, dan fear of childbirth. Ketakutan menghadapi persalinan diukur menggunakan Wijma Delivery Expectancy/Experience Questionnaire version A (W-DEQ-A). Analisis data menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 26 responden (32,5%) mengalami fear of childbirth tinggi dan 54 responden (67,5%) mengalami fear of childbirth rendah sampai sedang. Terdapat hubungan yang bermakna antara pengetahuan tentang persalinan (p=0,008), tingkat kecemasan (p=0,001), tingkat stres (p=0,004), dukungan suami (p=0,006), dan keikutsertaan kelas ibu hamil (p=0,021) dengan fear of childbirth. Kesimpulan: Pengetahuan, kecemasan, stres, dukungan suami, dan keikutsertaan dalam kelas ibu hamil berhubungan secara signifikan dengan fear of childbirth pada ibu hamil primigravida. Edukasi antenatal yang komprehensif dan dukungan psikologis diperlukan untuk membantu mengurangi ketakutan menghadapi persalinan.
Penguatan Literasi Kesehatan Reproduksi Untuk Membentuk Perilaku Seksual Berisiko Rendah Di Kalangan Remaja Yarnita Yarnita; Rezqiqah Aulia Rahmat; Natalia Debi; Cakrawati R Cakrawati R
Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2026): Sahabat Sosial: Jurnal Pengabdian Masyarakat (Maret)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/sosisabdimas.v4i2.1482

Abstract

Masa remaja merupakan periode perkembangan yang ditandai dengan perubahan biologis, psikologis, dan sosial yang dapat memengaruhi perilaku kesehatan, termasuk perilaku terkait kesehatan reproduksi. Rendahnya literasi kesehatan reproduksi dapat menyebabkan remaja memperoleh informasi yang tidak tepat, kurang mampu mengenali risiko perilaku seksual, serta mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan yang sehat dan bertanggung jawab. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat dilaksanakan pada remaja usia 15–19 tahun di lingkungan sekolah/komunitas dengan melibatkan 30 peserta. Kegiatan menggunakan metode edukasi interaktif, diskusi kelompok, studi kasus, permainan edukatif, dan pendampingan. Materi meliputi konsep kesehatan reproduksi remaja, perubahan pubertas, kebersihan dan perawatan organ reproduksi, batasan diri, hubungan yang sehat, pengambilan keputusan, risiko perilaku seksual, pencegahan infeksi menular seksual, pencegahan kehamilan tidak direncanakan, serta pemanfaatan layanan kesehatan ramah remaja. Evaluasi dilakukan menggunakan pretest dan posttest. Kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta mengenai kesehatan reproduksi. Rerata skor pengetahuan meningkat dari 60,7 sebelum edukasi menjadi 86,3 setelah edukasi. Peningkatan terutama terlihat pada pemahaman mengenai faktor risiko perilaku seksual, kemampuan mengenali situasi berisiko, batasan diri, pencegahan infeksi menular seksual, dan akses terhadap sumber informasi serta pelayanan kesehatan yang tepat. Peserta juga menunjukkan peningkatan kemampuan dalam menganalisis kasus dan menentukan pilihan perilaku yang lebih aman dan bertanggung jawab. Penguatan literasi kesehatan reproduksi melalui edukasi interaktif, diskusi, studi kasus, dan pendampingan dapat meningkatkan pengetahuan serta kemampuan pengambilan keputusan kesehatan pada remaja. Kegiatan edukasi kesehatan reproduksi perlu dilakukan secara berkelanjutan dengan melibatkan sekolah, keluarga, tenaga kesehatan, dan lingkungan sosial remaja.
Hubungan Dukungan Suami Dan Self-Efficacy Dengan Kesiapan Persalinan Pada Ibu Hamil Trimester III Cakrawati R Cakrawati R; Uswatun Insani
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1562

Abstract

Latar Belakang: Kehamilan trimester III merupakan periode penting untuk mempersiapkan ibu secara fisik dan psikologis menghadapi persalinan. Dukungan suami dan self-efficacy ibu dapat memengaruhi kemampuan ibu dalam mempersiapkan persalinan serta menghadapi berbagai tantangan selama proses persalinan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan dukungan suami dan self-efficacy dengan kesiapan persalinan pada ibu hamil trimester III. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif analitik dengan desain cross-sectional. Sampel penelitian terdiri dari 92 ibu hamil trimester III yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Variabel independen adalah dukungan suami dan self-efficacy, sedangkan variabel dependen adalah kesiapan persalinan. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa 57 responden (62,0%) memiliki kesiapan persalinan baik, sedangkan 35 responden (38,0%) memiliki kesiapan kurang baik. Terdapat hubungan yang bermakna antara dukungan suami dengan kesiapan persalinan (p=0,002). Self-efficacy juga menunjukkan hubungan yang bermakna dengan kesiapan persalinan (p=0,001). Kesimpulan: Dukungan suami dan self-efficacy berhubungan secara signifikan dengan kesiapan persalinan pada ibu hamil trimester III. Peningkatan keterlibatan suami dan kepercayaan diri ibu perlu menjadi bagian dari pelayanan antenatal dan program persiapan persalinan.
Pemberdayaan Pasien Diabetes Melitus Dalam Pencegahan Ulkus Diabetikum Dan Risiko Infeksi Berulang: Empowerment of Patients with Diabetes Mellitus in the Prevention of Diabetic Ulcers and the Risk of Recurrent Infection Rahmat Pannyiwi; Rezqiqah Aulia Rahmat; Cakrawati R Cakrawati R; Kiki Rizki Dasaryandi; Nurhafizah Nasution
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1586

Abstract

Latar Belakang: Ulkus diabetikum merupakan salah satu komplikasi serius diabetes melitus yang dapat menyebabkan infeksi, rawat inap, amputasi, dan penurunan kualitas hidup. Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur dan perawatan kaki mandiri penting dilakukan untuk mencegah komplikasi kaki diabetik.Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberdayaan pasien terhadap pengetahuan, perilaku perawatan kaki mandiri, dan risiko infeksi berulang pada pasien diabetes melitus.Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif quasi-experimental dengan pendekatan one-group pretest-posttest. Responden berjumlah 64 pasien diabetes melitus yang memiliki faktor risiko komplikasi kaki diabetik. Intervensi berupa edukasi terstruktur mengenai pemeriksaan kaki, kebersihan kaki, penggunaan alas kaki yang tepat, pengendalian glukosa darah, pencegahan luka, dan pengenalan tanda awal infeksi. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon Signed-Rank.Hasil: Sebelum intervensi, sebanyak 20 responden (31,3%) memiliki pengetahuan baik dan 44 responden (68,7%) memiliki pengetahuan cukup atau kurang. Setelah intervensi, sebanyak 51 responden (79,7%) memiliki pengetahuan baik. Perilaku perawatan kaki yang baik meningkat dari 37,5% sebelum intervensi menjadi 76,6% setelah intervensi. Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan bermakna pada pengetahuan dan perilaku perawatan kaki sebelum dan sesudah pemberdayaan (p<0,001). Kesimpulan: Pemberdayaan pasien melalui edukasi terstruktur berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan perilaku perawatan kaki mandiri serta berpotensi menurunkan risiko ulkus diabetikum dan infeksi berulang.
Hubungan Literasi Kesehatan Reproduksi Dengan Pemilihan Metode Kontrasepsi: The Relationship Between Reproductive Health Literacy and the Choice of Contraceptive Method Halimatussakdiyah Lubis; Cakrawati R Cakrawati R
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1600

Abstract

Latar Belakang: Literasi kesehatan reproduksi berperan penting dalam membantu individu memahami informasi mengenai kesehatan reproduksi dan mengambil keputusan yang tepat terkait metode kontrasepsi. Literasi yang baik dapat mendukung pemilihan kontrasepsi secara sadar dan berdasarkan informasi yang memadai. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan literasi kesehatan reproduksi dengan pemilihan metode kontrasepsi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden berjumlah 82 perempuan usia reproduktif yang menggunakan atau berencana menggunakan kontrasepsi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur literasi kesehatan reproduksi dan pemilihan metode kontrasepsi. Analisis data menggunakan uji Chi-square dengan tingkat kemaknaan 0,05. Hasil: Sebagian besar responden memiliki literasi kesehatan reproduksi yang baik, yaitu 53 responden (64,6%). Pemilihan metode kontrasepsi yang sesuai ditemukan pada 58 responden (70,7%). Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara literasi kesehatan reproduksi dengan pemilihan metode kontrasepsi (p<0,001). Kesimpulan: Literasi kesehatan reproduksi berhubungan secara signifikan dengan pemilihan metode kontrasepsi. Peningkatan literasi kesehatan reproduksi dapat mendukung perempuan dalam menentukan metode kontrasepsi secara tepat dan berdasarkan informasi yang memadai.  
Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kesadaran Perlindungan Terhadap Kekerasan Berbasis Gender Dalam Kesehatan Reproduksi: Analysis of Factors Associated with Awareness of Protection Against Gender-Based Violence in Reproductive Health Astin Nur Hanifah; Cakrawati R Cakrawati R; Rezqiqah Aulia Rahmat
Barongko: Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 5 No 1 (2026): Barongko : Jurnal Ilmu Kesehatan (November)
Publisher : Asosiasi Guru dan Dosen Seluruh Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59585/bajik.v5i1.1653

Abstract

Latar Belakang: Kekerasan berbasis gender merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dapat memberikan dampak luas terhadap kesehatan fisik, psikologis, seksual, dan reproduksi. Rendahnya kesadaran mengenai bentuk kekerasan, hak kesehatan reproduksi, mekanisme perlindungan, serta akses terhadap layanan dapat meningkatkan kerentanan perempuan terhadap kekerasan. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran perlindungan menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan kekerasan berbasis gender. Tujuan: Menganalisis faktor yang berhubungan dengan kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender dalam kesehatan reproduksi pada perempuan usia reproduksi. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Penelitian melibatkan 60 perempuan usia reproduksi yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel independen meliputi pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender, sikap terhadap kesetaraan gender, akses informasi kesehatan reproduksi, dukungan sosial, dan paparan edukasi kesehatan reproduksi. Variabel dependen adalah kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat kemaknaan 95%. Hasil: Sebanyak 38 responden (63,3%) memiliki kesadaran perlindungan yang baik dan 22 responden (36,7%) memiliki kesadaran kurang baik. Kesadaran perlindungan berhubungan dengan pengetahuan tentang kekerasan berbasis gender (p=0,003), sikap terhadap kesetaraan gender (p=0,008), akses informasi kesehatan reproduksi (p=0,017), dukungan sosial (p=0,026), dan paparan edukasi kesehatan reproduksi (p=0,011). Kesimpulan: Pengetahuan, sikap terhadap kesetaraan gender, akses informasi, dukungan sosial, dan paparan edukasi berhubungan dengan kesadaran perlindungan terhadap kekerasan berbasis gender dalam kesehatan reproduksi. Penguatan edukasi kesehatan reproduksi yang sensitif gender dan peningkatan akses terhadap informasi serta layanan perlindungan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan perempuan dalam mengenali dan mencegah kekerasan.