p-Index From 2021 - 2026
5.246
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Ritual Rukat’tu sebagai Ruang Liminalitas dalam Perjumpaan Agama Kristen dan Jingitiu di Sabu Barat Lukas, Alma Victoria Anastasia; Lattu, Izak Y. M.; Tampake, Tony; Ludji, Irene
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v6i2.239

Abstract

Interfaith encounters and dialogue in Indonesia have always focused only on official religions recognized by the Indonesian government. The purpose of this research is to further examine the encounter between official religions in Indonesia, specifically Protestant Christianity and the indigenous religion (ancestral religion) in West Sabu. The people of Sabu have an indigenous religion called Jingitiu. The encounter between Christianity and Jingitiu occurs in the rukat'tu ritual as a liminal space and the creation of social recognition of Jingitiu. The research method used is qualitative with a critical ethnographic approach. The theory used with an interdisciplinary approach is liminality according to Victor Turner and social recognition according to Axel Honneth. The findings show that discrimination, differentiation and public rejection are still ongoing to this day, but the rukat'tu ritual becomes a space of acceptance between Christianity and indigenous religions by sitting on one mat together in performing rituals, eating traditional food together and supporting each other in times of sorrow. This can foster a sense of brotherhood, equality, peace and harmonious relationships between religions.
Virtualisasi Toleransi Beragama: Rekognisi Netizen Lintas Agama Atas Patung Yesus Burake di Tanah Toraja Sulawesi Selatan Popang, Kiki Clara; Lattu, Izak Y.M.; Tampake, Tony; Supratikno, Agus
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 6 No 2 (2024): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v6i2.246

Abstract

This study aims to examine the shift in religious tolerance from factual space to virtual space through the Jesus Burake statue. The research subjects are Toraja people and Netizens in virtual space. The research method that will be used is qualitative with the type of digital ethnography research. The author raises the Burake Jesus Statue as one of the religious tourism objects in Toraja that has become a shared space. This phenomenon will be studied using Axel Honneth's theory of Recognising the principles of love, law and solidarity. Izak Lattu's ‘Click Ritual’ theory to analyse how netizen click rituals on social media bring narratives of peace in virtual spaces. The author finds that the statue of Jesus Burake has become a shared space for interfaith people in South Sulawesi. Several interfaith activities were conducted at the statue, such as a joint prayer for world peace, raising the red and white flag during the Indonesian Independence Day and planting 1,000 trees. Documentation of these activities shared on social media gave rise to narratives of tolerance and peace. So that virtual space becomes a creative new space to strengthen attitudes of tolerance between religious communities.
ADAT DAN PERBUDAKAN DALAM MASYARAKAT SUMBA: SEBUAH RITUAL OF HUMILIATION Bolodadi, Paulus Ngongo; Lattu, Izak Y.M.
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2245

Abstract

Tulisan ini mengkaji fenomena perbudakan berbasis adat di masyarakat Sumba, dengan fokus pada hubungan antara kelas sosial Maramba (bangsawan) dan Ata (hamba). Penelitian bertujuan untuk memahami bagaimana adat memperkuat sistem perbudakan serta praktik sehari-hari menjadi bagian dari "ritual of humiliation" terhadap Ata. Menggunakan pendekatan etnografi kritis dan kerangka teori ritual penghinaan dari Sunder John Boopalan dan teori ideologi Antonio Gramsci, tulisan ini mengungkap pola diskriminasi yang dilegitimasi adat sebagai narasi dominan dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa adat berperan signifikan sebagai legitimasi atas logika diskriminatif dalam melanggengkan struktur sosial yang timpang, dengan implikasi dehumanisasi, alienasi, dan eksploitasi terhadap Ata. Bahkan, dapat dikatakan bahwa adat adalah logika diskriminatif itu sendiri.
ANOMALI-KOLONIAL DI PAPUA SEBAGAI LEGITIMASI IDENTITAS DAN NASIONALISME PAPUA Apituley, Yohanes Obed; Lattu, Izak Y.M.
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2248

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh dari Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua serta menemukan dimensi baru. Dalam konteks Papua, orang-orang Papua selalu menjadi sang liyan di NKRI. Papua hanya mengacu pada kekayaan alam yang ada. Hal ini tercermin dalam eksistensi Freeport pasca-New York Agreement pada tahun 1962. Bahkan dalam berbagai catatan historis, dapat dilihat bahwa Sumber Daya Alam di Papua selalu lebih menjadi sorotan ketimbang Sumber Daya Manusianya. Bahkan stigma separatis, perilaku rasialis dan diskriminatif terhadap orang Papua masih eksis hingga saat ini. Melalui metode penelitian literatur dan meminjam perspektif poskolonial dari Frantz Fanon, orientalisme Edward Said, konsep identitas hibrid dan mimikri Homi Bhabha, teori identitas Manuel Castells, dan konsep mitos Karen Armstrong, penelitian ini menemukan dua pokok penting dalam pembahasan mengenai pengaruh Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua. Pertama, orang Papua telah terjebak dalam kepentingan politik global. Kedua, kolonialisme barat di Papua memiliki karakteristik tersendiri. Berdasarkan penggunaan teori dan konsep-konsep tersebut, tulisan ini telah menunjukkan temuan yang baru. Konsep “Anomali-Kolonial di Papua” merupakan temuan utama dalam tulisan ini yang belum pernah dibahas pada tulisan-tulisan lain. Konsep ini juga dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami korelasi antara Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua.
MENGGALI FENOMENA MAJORITARIANISME DALAM LAYANAN PENDIDIKAN MENENGAH ATAS DI KABUPATEN BEKASI Sihombing, Benni Hasiholan; Lattu, Izak Y.M.
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2249

Abstract

ulisan ini membahas tentang fenomena majority turn dalam pelayanan pendidikan agama di SMA Negeri TS, kabupaten Bekasi. Fenomena majoritarian tidak hanya menguat dalam konteks politik dan demokrasi saja, tetapi juga telah mengakar dalam Lembaga pendidikan menegah atas di Indonesia, khususnya di kabupaten Bekasi. Fenomena ini terlihat dalam pelayanan pendidikan agama di SMA Negeri TS yang mengutamakan kepentingan agama mayoritas. Dalam tulisan ini, penulis menilai bahwa kebijakan pelayanan pendidikan harus diletakan kembali pada Pancasila sebagai kesepakatan bersama penyelenggaraan negara Indonesia. Oleh karenanya, dengan meminjam teori ruang sipil Jeffrey Alexander penulis akan menegaskan bahwa ruang pendidikan adalah ruang sipil berbasis Pancasila yang menjamin hak-hak setiap warga negara tanpa memandang identitasnya. Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi wahana yang memperkuat keberagaman dan toleransi antar umat beragama dalam masyarakat setempat.
UKIRAN ‘PASSURA’ TORAJA SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS KOMUNITAS KRISTEN DI BUNTAO KABUPATEN TORAJA UTARA: PERSPEKTIF CLIFFORD GEERTZ Harlin Palanta; Irene Ludji; Izak Y.M. Lattu
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 6 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v6i2.277

Abstract

Ukiran passura’ bagi suku Toraja menunjukkan simbol identitas, tidak hanya menjadi simbol ciri khas sampai masa kini. Namun, ukiran passura’ merupakan simbol yang menggambarkan kisah kehidupan sehari- hari berwujud pada aktivitas nyata, melalui pemahaman, pengalaman dan kepercayaan yang bersifat trasenden, kemudian dimuat dalam nilai-nilai budaya dan ritus dalam masyarakat Toraja. Selain itu, ukiran passura’ menyangkut benda, atau peristiwa para leluhur disebut dengan istilah kepercayaan Aluk Todolo, diteruskan secara historis dalam wujud simbol melalui, mitos, dan upacara keagamaan sebagai alat untuk memahami setiap tindakan sosial masyarakat. Clifford Geertz menekankan bahwa, simbol adalah suatu hal yang bersifat faktual sebab, terdapat pola makna- makna yang kemudian akan diinterpretasikan untuk mewujudkan pada suatu tindakan sosial.  Penulisan ini, fokus menganalisis makna- makna ukiran passura’ yang menjadi simbol identitas komunitas Kristen masyarakat Buntao Toraja Utara. Jenis dan model ukiran pada konteks Toraja ada 150 jenis ukiran passura’. Oleh karena itu, penulis hanya mengkaji dasar- dasar ukiran passura antara lain: ukiran passura’ pa’Barre Alllo, Pa’ Manuk Londong, Pa’ Tedong dan Pasusuk.  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.  Dengan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka untuk membantu penulis melihat makna ukiran passura’ sebagai simbol identitas dalam komunitas Kristen. Pada hasil penelitian, penulis menemukan makna dan nilai melalui dasar- dasar ukiran passura’ merupakan simbol mengisahkan hubungan manusia dengan Tuhan, dapat dilihat dari eksistensi manusia, menyadari sumber kehidupan berasal dari Tuhan. Kedua, hubungan manusia dengan hewan sebagai pemenuhan hidup dan sebagai penyembahan dewa bagi masyarakat Toraja. Ketiga, hubungan manusia dengan tumbuhan untuk bisa bertahan hidup.
SOLIDARITAS PERLAWANAN KOMUNITAS PUNK TARING BABI JAKARTA SELATAN DALAM MELAWAN STIGMATISASI KULTUR DOMINAN Kongkoli, Geraldi Dwi Rizandi; Lattu, Izak Y.M.; Tampake, Tony
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.582

Abstract

Tujuan artikel ini menganalisis solidaritas perlawanan komunitas Punk (Public United Not Kingdom) Taring Babi Jakarta Selatan atas ketidakadilan kultur dominan seperti agamaisasi dan ideologi kapitalisme. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan analitis-deskriptif untuk menganalisis secara mendalam gerakan komunitas Punk. Komunitas Punk selama ini mengalami stigma negatif oleh masyarakat agamis karena dianggap menyimpang dari masyarakat pada umumnya. Kekerasan terhadap komunitas Punk Taring Babi Jakarta Selatan telah mengakibatkan komunitas termarjinalisasi. Kultur dominan misalnya, budaya agamaisasi, ideologi kapitalisme dan kekerasan atas nama negara. Hasil temuan pertama menjelaskan tentang komunitas Punk telah mengalami marjinalisasi oleh kultur dominan ‘agama dunia’ dan ideologi kapiatalisme. Kedua, solidaritas komunitas Punk Taring Babi memproduksi ruang kebebasan melalui simbol-simbol komunitas seperti taring babi, industri pakaian dan panggung konser. Tahap akhir merupakan kesimpulan yang mengintegrasikan hasil temuan dan analisis.
Civil Sphere untuk Harmoni Sosial Islam-Kristen di Desa Inklusi Bah Sulung Sumatera Utara Sihombing, Helpin Maryand; Tampake, Tony; Lattu, Izak
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 1 (2025): JIREH: Januari-Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i1.240

Abstract

This article aims to argue about the Inclusion Village Program as a shared space or civil sphere in Bah Sulung Village, with the aim of building social harmony between religious communities. The main focus of this problem is the lack of involvement and acceptance between religious communities in the Bah Sulung community. The Inclusion Village Program was held as an effort to accommodate diversity and build harmonious social relations. In analyzing this research, Jefri Alexander's thinking, namely the civil sphere, is used as a scalpel for analyzing this research. This research uses a qualitative research method with a realist ethnographic approach, involving structured interview techniques with key informants, observations in Bah Sulung village and literature study. The research results show that interactions between religious communities appear in daily life relationships and in the customary system also play a role in creating social solidarity through the Inclusive Village program. In conclusion, the Bah Sulung community has the potential to build a social life of solidarity and harmony
Eksplorasi Dimensi-Dimensi Lived Religion Dalam Nyanyian Osong Rambu solo’ di Kabupaten Luwu Ghiland, Ghiland; Lattu, Izak Yohan Matriks; Tampake, Tony Robert Christian
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 1 (2025): JIREH: Januari-Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i1.244

Abstract

Religious practices in society are often understood in a limited sense within formal spaces, doctrines, or specific institutions, which can lead to stigmatization and intervention in local cultural expressions and beliefs. This study aims to demonstrate that Osong functions not only as part of a cultural tradition but also embodies religious practices that transcend the boundaries of formal and institutionalized religion. This research employs ethnographic methods to gain an in-depth understanding of social and religious practices in daily life, particularly in the context of Osong. The findings reveal that the Osong song in the Rambu solo’ ritual contains various dimensions of lived religion, such as spirituality, embodiment, materiality, aesthetics, emotion, morality, and narrative. Each of these dimensions not only highlights the community’s relationship with the transcendent but also strengthens social solidarity and the cultural identity of the Toraja people in facing the realities of death and social changes in their environment. These findings affirm that religious practices lived by the community are not always dependent on formal institutions but can manifest in local cultural spaces that are alive and evolving within the community.
Respon Gereja Terhadap Isu Etnisitas dan Agama dalam masyarakat Multikultural Julliard, Devrinho; Lattu, Izak; Tampake, Tony
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 2 (2025): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i2.380

Abstract

Rejection of leaders of different religions, ethnicities and so on is the main in the 2017 DKI Jakarta Governor Election, especially narratives of indigenous and non-indigenous sentiment. The church should take a role in responding to this problem. The research method that the author will use in this paper is the qualitative method of descriptive analysis. The author will also analyze the problem of why ethnicity is used as a political tool and will explore how the issue of ethnicity occurs in Indonesia and the functional role of the church in seeing this. This research uses theories about identity politics, religion in the public sphere by Habermas, Talcott Parsons' structural functionalism and Hendropuspito's religious functionalism. In a social society, of course religion as a social institution has a role and function in responding to situations that occur around it. The church does not mean being silent but has a prophetic voice to respond to this. This shows an important transformative role, namely instilling the value of renewing understanding in church members and the surrounding community about the importance of living together in a multiethnic society.
Co-Authors Adriaansz, Sofia Liana Agastya Rama Listya Agus Supratikno Ambakaraeng, Eliazer Anggi Toabnani Apituley, Yohanes Obed Ariyanto, Dani Arthik Davianti Bale, Abraham Malubaya Balla Nggiku, Emanuel Bartalis, Kata-Szilvia Berlian Rambu Pesi Kondi Binsar Ariel Natanael Tambun Bolodadi, Paulus Ngongo Chris Stevany Lombu Clara Monica Anakotta Claudy Yohana Debora Emor Cleta V. K Maitimu Darwin Herlis Manurung David Samiyono Dylan Azarya Radja Hedo Ebenhaizer I. Nuban Timo Erika Tataung Evi Maria Ferdinand Ludji Ghiland, Ghiland Gratciadeo Tumbelaka Gunawan Yuli Agung Suprabowo Harlin Palanta Hendrika, Yovania Karubaba Hun Johanis A. Pinatik Hutasoit, Resmi Imanuel Teguh Harisantoso Imelda Baransano Irene Ludji Jacob Daan Engel Jobert Tupan Joberth Tupan Julliard, Devrinho Justine Saudale Kenneth Garland Numa Jermy Kongkoli, Geraldi Dwi Rizandi Kumowal, Joshua Frans Kusmawanto, Dodi Lamerkabel, David Timothi Latuheru, Angel Christy Lina Sinatra Wijaya Listyani Listyani Lukas, Alma Victoria Anastasia Lukmono, Lobby M.A Therik, Wilson Mahoklory, Novian Hendrik Mariska Lauterboom Melfa F. Sufmera Merwald Tua Philip Simanjuntak Mick Mordekhai Sopacoly Molewe, Adlan Christember Nathalia Debby Makaruku Ngabalin, Marthinus Pandie, Daud Pattiasina, Sharon Michelle O Pinatik, Hun Johanis Alfrits Popang, Kiki Clara Pramono, Muhamad Sidik Prayitno, Iky Sumarthina P. Priskila Ferawati Riwu Purwanto Purwanto Rama Tulus Rama Tulus Pilakoannu Rama Tulus Pilakoanu Rama Tulus Pillakoannu Revaldo Pravasta Julian Mb Salakory Rini Kartika Hudiono Roland Van Ratu Elo Rudolfo Jacob Manusiwa Rupiassa, Dominggus Alexander Agusto Sihombing, Benni Hasiholan Sihombing, Helpin Maryand Simarmata, Rikky Fransiskus Simri R. Runesi Sopacoly, Mick Mordekhai Sri Suwartiningsih Stepanus Stepanus Stepanus Stepanus Stevanus Oita Sumanto Al Qurtuby Suwarto Suwarto Adi Suwarto Suwarto Tamawiwi, Rio Sario Tampake, Tony R. C. Tampake, Tony Robert Christian Therik, Wilson M A. Tjaja, Broery Doro Pater Tony Robert C. Tampake Tony Robert Christian Tampake Tony Tampake Uktolseja, Frans Widhipangreksa, Raharjo