p-Index From 2021 - 2026
5.109
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

ANOMALI-KOLONIAL DI PAPUA SEBAGAI LEGITIMASI IDENTITAS DAN NASIONALISME PAPUA Apituley, Yohanes Obed; Lattu, Izak Y.M.
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2248

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menunjukkan pengaruh dari Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua serta menemukan dimensi baru. Dalam konteks Papua, orang-orang Papua selalu menjadi sang liyan di NKRI. Papua hanya mengacu pada kekayaan alam yang ada. Hal ini tercermin dalam eksistensi Freeport pasca-New York Agreement pada tahun 1962. Bahkan dalam berbagai catatan historis, dapat dilihat bahwa Sumber Daya Alam di Papua selalu lebih menjadi sorotan ketimbang Sumber Daya Manusianya. Bahkan stigma separatis, perilaku rasialis dan diskriminatif terhadap orang Papua masih eksis hingga saat ini. Melalui metode penelitian literatur dan meminjam perspektif poskolonial dari Frantz Fanon, orientalisme Edward Said, konsep identitas hibrid dan mimikri Homi Bhabha, teori identitas Manuel Castells, dan konsep mitos Karen Armstrong, penelitian ini menemukan dua pokok penting dalam pembahasan mengenai pengaruh Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua. Pertama, orang Papua telah terjebak dalam kepentingan politik global. Kedua, kolonialisme barat di Papua memiliki karakteristik tersendiri. Berdasarkan penggunaan teori dan konsep-konsep tersebut, tulisan ini telah menunjukkan temuan yang baru. Konsep “Anomali-Kolonial di Papua” merupakan temuan utama dalam tulisan ini yang belum pernah dibahas pada tulisan-tulisan lain. Konsep ini juga dapat digunakan sebagai perspektif untuk memahami korelasi antara Kekristenan terhadap legitimasi identitas dan Nasionalisme Papua.
MENGGALI FENOMENA MAJORITARIANISME DALAM LAYANAN PENDIDIKAN MENENGAH ATAS DI KABUPATEN BEKASI Sihombing, Benni Hasiholan; Lattu, Izak Y.M.
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 5 No. 2 (2024): DESEMBER
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v5i2.2249

Abstract

ulisan ini membahas tentang fenomena majority turn dalam pelayanan pendidikan agama di SMA Negeri TS, kabupaten Bekasi. Fenomena majoritarian tidak hanya menguat dalam konteks politik dan demokrasi saja, tetapi juga telah mengakar dalam Lembaga pendidikan menegah atas di Indonesia, khususnya di kabupaten Bekasi. Fenomena ini terlihat dalam pelayanan pendidikan agama di SMA Negeri TS yang mengutamakan kepentingan agama mayoritas. Dalam tulisan ini, penulis menilai bahwa kebijakan pelayanan pendidikan harus diletakan kembali pada Pancasila sebagai kesepakatan bersama penyelenggaraan negara Indonesia. Oleh karenanya, dengan meminjam teori ruang sipil Jeffrey Alexander penulis akan menegaskan bahwa ruang pendidikan adalah ruang sipil berbasis Pancasila yang menjamin hak-hak setiap warga negara tanpa memandang identitasnya. Dengan demikian, pendidikan agama dapat menjadi wahana yang memperkuat keberagaman dan toleransi antar umat beragama dalam masyarakat setempat.
UKIRAN ‘PASSURA’ TORAJA SEBAGAI SIMBOL IDENTITAS KOMUNITAS KRISTEN DI BUNTAO KABUPATEN TORAJA UTARA: PERSPEKTIF CLIFFORD GEERTZ Harlin Palanta; Irene Ludji; Izak Y.M. Lattu
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 6 No. 2 (2023): Desember 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v6i2.277

Abstract

Ukiran passura’ bagi suku Toraja menunjukkan simbol identitas, tidak hanya menjadi simbol ciri khas sampai masa kini. Namun, ukiran passura’ merupakan simbol yang menggambarkan kisah kehidupan sehari- hari berwujud pada aktivitas nyata, melalui pemahaman, pengalaman dan kepercayaan yang bersifat trasenden, kemudian dimuat dalam nilai-nilai budaya dan ritus dalam masyarakat Toraja. Selain itu, ukiran passura’ menyangkut benda, atau peristiwa para leluhur disebut dengan istilah kepercayaan Aluk Todolo, diteruskan secara historis dalam wujud simbol melalui, mitos, dan upacara keagamaan sebagai alat untuk memahami setiap tindakan sosial masyarakat. Clifford Geertz menekankan bahwa, simbol adalah suatu hal yang bersifat faktual sebab, terdapat pola makna- makna yang kemudian akan diinterpretasikan untuk mewujudkan pada suatu tindakan sosial.  Penulisan ini, fokus menganalisis makna- makna ukiran passura’ yang menjadi simbol identitas komunitas Kristen masyarakat Buntao Toraja Utara. Jenis dan model ukiran pada konteks Toraja ada 150 jenis ukiran passura’. Oleh karena itu, penulis hanya mengkaji dasar- dasar ukiran passura antara lain: ukiran passura’ pa’Barre Alllo, Pa’ Manuk Londong, Pa’ Tedong dan Pasusuk.  Dalam penelitian ini, penulis menggunakan model penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.  Dengan teknik observasi, wawancara dan studi pustaka untuk membantu penulis melihat makna ukiran passura’ sebagai simbol identitas dalam komunitas Kristen. Pada hasil penelitian, penulis menemukan makna dan nilai melalui dasar- dasar ukiran passura’ merupakan simbol mengisahkan hubungan manusia dengan Tuhan, dapat dilihat dari eksistensi manusia, menyadari sumber kehidupan berasal dari Tuhan. Kedua, hubungan manusia dengan hewan sebagai pemenuhan hidup dan sebagai penyembahan dewa bagi masyarakat Toraja. Ketiga, hubungan manusia dengan tumbuhan untuk bisa bertahan hidup.
Civil Sphere untuk Harmoni Sosial Islam-Kristen di Desa Inklusi Bah Sulung Sumatera Utara Sihombing, Helpin Maryand; Tampake, Tony; Lattu, Izak
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 1 (2025): JIREH: Januari-Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i1.240

Abstract

This article aims to argue about the Inclusion Village Program as a shared space or civil sphere in Bah Sulung Village, with the aim of building social harmony between religious communities. The main focus of this problem is the lack of involvement and acceptance between religious communities in the Bah Sulung community. The Inclusion Village Program was held as an effort to accommodate diversity and build harmonious social relations. In analyzing this research, Jefri Alexander's thinking, namely the civil sphere, is used as a scalpel for analyzing this research. This research uses a qualitative research method with a realist ethnographic approach, involving structured interview techniques with key informants, observations in Bah Sulung village and literature study. The research results show that interactions between religious communities appear in daily life relationships and in the customary system also play a role in creating social solidarity through the Inclusive Village program. In conclusion, the Bah Sulung community has the potential to build a social life of solidarity and harmony
Eksplorasi Dimensi-Dimensi Lived Religion Dalam Nyanyian Osong Rambu solo’ di Kabupaten Luwu Ghiland, Ghiland; Lattu, Izak Yohan Matriks; Tampake, Tony Robert Christian
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 1 (2025): JIREH: Januari-Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i1.244

Abstract

Religious practices in society are often understood in a limited sense within formal spaces, doctrines, or specific institutions, which can lead to stigmatization and intervention in local cultural expressions and beliefs. This study aims to demonstrate that Osong functions not only as part of a cultural tradition but also embodies religious practices that transcend the boundaries of formal and institutionalized religion. This research employs ethnographic methods to gain an in-depth understanding of social and religious practices in daily life, particularly in the context of Osong. The findings reveal that the Osong song in the Rambu solo’ ritual contains various dimensions of lived religion, such as spirituality, embodiment, materiality, aesthetics, emotion, morality, and narrative. Each of these dimensions not only highlights the community’s relationship with the transcendent but also strengthens social solidarity and the cultural identity of the Toraja people in facing the realities of death and social changes in their environment. These findings affirm that religious practices lived by the community are not always dependent on formal institutions but can manifest in local cultural spaces that are alive and evolving within the community.
Respon Gereja Terhadap Isu Etnisitas dan Agama dalam masyarakat Multikultural Julliard, Devrinho; Lattu, Izak; Tampake, Tony
Jurnal Ilmiah Religiosity Entity Humanity (JIREH) Vol 7 No 2 (2025): JIREH: Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili dan Kejuruan (STTIK) Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37364/jireh.v7i2.380

Abstract

Rejection of leaders of different religions, ethnicities and so on is the main in the 2017 DKI Jakarta Governor Election, especially narratives of indigenous and non-indigenous sentiment. The church should take a role in responding to this problem. The research method that the author will use in this paper is the qualitative method of descriptive analysis. The author will also analyze the problem of why ethnicity is used as a political tool and will explore how the issue of ethnicity occurs in Indonesia and the functional role of the church in seeing this. This research uses theories about identity politics, religion in the public sphere by Habermas, Talcott Parsons' structural functionalism and Hendropuspito's religious functionalism. In a social society, of course religion as a social institution has a role and function in responding to situations that occur around it. The church does not mean being silent but has a prophetic voice to respond to this. This shows an important transformative role, namely instilling the value of renewing understanding in church members and the surrounding community about the importance of living together in a multiethnic society.
Tombor maghi as an interfaith ritual: lived religion among Muslims and Christians in West Papua, Indonesia Ngabalin, Marthinus; Lattu, Izak Y. M; Qurtuby, Sumanto Al; Tampake, Tony
IJORESH Indonesian Journal of Religion Spirituality and Humanity Vol. 4 No. 1 (2025): Indonesian Journal of Religion, Spirituality, and Humanity
Publisher : Postgraduate Program of State Islamic University (UIN) Salatiga Jl. Lingkar Salatiga Km. 02 Salatiga, Indonesia https://pps.uinsalatiga.ac.id/

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/ijoresh.v4i1.55-84

Abstract

This article explores the Tombor Maghi ritual among the Fakfak community in West Papua Province, Indonesia, which strengthens interfaith relations, particularly between Muslims and Christians. Originally part of a traditional marriage custom, the ritual has developed into a broader form of community solidarity involving cross-religious cooperation. While scholars in anthropology and sociology have extensively studied rituals, research that focuses explicitly on rituals within the context of inter-religious relations remains relatively underdeveloped. This study addresses three main research questions: how the Tombor Maghi ritual is practiced and interpreted by the Fakfak community across religious affiliations; what role the ritual plays in fostering interfaith cooperation and reinforcing communal solidarity; and what symbolic and social significance the ritual holds within the broader framework of lived religion and indigenous approaches to peacebuilding. This study employs a qualitative methodology, utilising a realist ethnographic approach. Data were collected through interviews and field observations conducted in Fakfak Regency. The findings indicate that Tombor Maghi continues to be preserved as a form of cultural dialogue that weaves together interfaith relations. The ritual reflects cultural knowledge that is created, transmitted, and practised in daily life. It provides a space for Muslims and Christians to collaborate through community-based initiatives, such as at mosques and churches. In light of these findings, further research related to this topic is suggested because there are still many interesting issues to discuss in connection with rituals that have become a philosophy in social life.
Adat in the Discourse of “Lived Religion”: Local Wisdom as a Model of Indigenous Religion Recognition in Indonesia Balla Nggiku, Emanuel; Lattu, Izak Yohan Matriks; Bartalis, Kata-Szilvia
Religió Jurnal Studi Agama-agama Vol. 14 No. 2 (2024): September
Publisher : Department of Religious Studies, Faculty of Ushuluddin and Philosophy, Sunan Ampel State Islamic University Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15642/religio.v14i2.3078

Abstract

This research examines local wisdom as a model for recognizing indigenous religions within the context of interfaith encounters through adat practices. While Indonesia’s diversity of beliefs is a significant cultural asset, it can also become a source of conflict if not properly managed, particularly concerning the recognition of indigenous religions. Indigenous religions serve as guardians of local wisdom and play a crucial role in fostering social cohesion. Therefore, the application of local wisdom through adat practices is vital for facilitating interfaith encounters in everyday life, aligning with the concept of lived religion. The interpretation of local wisdom and the practice of traditional ceremonies—comprising rituals, symbols, and oral narratives—play a pivotal role in acknowledging the existence and value of indigenous religions. By focusing on the case of Marapu, indigenous religion in Sumba, this research highlights the importance of recognizing indigenous religions within the broader Indonesian context. The study employs a qualitative methodology with a critical ethnographic approach, utilizing data collected through observation, in-depth interviews, and literature review. The findings reveal that adat, as a lived religious practice among the people of Sumba, serves as a “womb” capable of providing social recognition for Marapu. Within the Christian-Marapu encounter, significant interpenetration occurs during the implementation of adat, emphasizing the deep entwinement of cultural practices and belief systems in sustaining mutual respect and coexistence.
Lagu Hip-Hop Rohani Saykoji sebagai Ruang Religiusitas Pemuda Kristiani Kontemporer di Indonesia Bale, Abraham Malubaya; Lattu, Izak Y. M.; Listya, Agastya Rama
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i9.16407

Abstract

Penelitian ini meninjau lagu rohani bergenre hip hop yang dibuat oleh Saykoji sebagai religiusitas pemuda Kristen kontemporer di Indonesia, irisan religiusitas dan lagu rohani hip hop saykoji terdapat pada lagu Saykoji, seperti lagu Laskar Kristus. Berangkat dari realitas minat pemuda terhadap lagu-lagu gerejawi yang semakin mundur, maka tulisan ini menelaah minat lagu rohani bergenre musik seperti apa yang diminati oleh pemuda. Pengambilan data dilakukan dengan memakai metode kualitatif serta teknik pengumpulan data melalui observasi, studi pustaka, dan dokumen digital. Hasil penelitian ini mencakup: Pertama, lagu rohani hip hop Saykoji adalah lagu rohani Kristen kontemporer yang tumbuh dan berkembang dikalangan pemuda Kristen Indonesia. Kedua, alasan Saykoji membuat lagu rohani Kristen bergenre hip hop. Penelitian ini kemudian menyimpulkan bahwasannya lagu-lagu rohani Kristen yang dibuat oleh Saykoji bergenre hip hop merupakan sebuah lagu rohani kekinian dan berdampak pada pengembangan iman pemuda Kristen Indonesia.
Toleransi Antaragama dalam Perspektif Civil Sphere : Membangun Keberagaman Harmonis di Kota Kupang Justine Saudale; Izak Y.M. Lattu; Irene Ludji
Maharsi: Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi Vol. 7 No. 1 (2025): Maharsi : Jurnal Pendidikan Sejarah dan Sosiologi
Publisher : UNIVERSITAS INSAN BUDI UTOMO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33503/maharsi.v7i1.1587

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis kontribusi toleransi antar-agama dalam menjaga harmoni sosial serta dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Kota Kupang dalam perspektif Civil Sphere. Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif dan pendekatan fenomenologi, data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik toleransi di Kota Kupang terwujud melalui dialog antar-agama, keterlibatan aktif komunitas dalam perayaan keagamaan, serta tindakan simbolik yang mencerminkan solidaritas sosial. Dalam perspektif Jeffrey Alexander, Kota Kupang mencerminkan ruang sipil yang memungkinkan integrasi sosial melalui simbol-simbol yang membangun narasi kebersamaan. Sementara itu, dalam pandangan George Herbert Mead, makna toleransi terbentuk melalui interaksi sosial yang memungkinkan individu dari berbagai latar belakang agama menginternalisasi nilai-nilai kebersamaan. Praktik seperti keterlibatan pemuda Kristen dalam membantu perayaan Idul Fitri dan partisipasi umat Muslim dalam menghias pohon Natal menjadi contoh nyata bagaimana simbol dan interaksi sosial memperkuat kohesi masyarakat. Temuan ini menegaskan bahwa harmoni dalam keberagaman tidak terjadi secara alami, melainkan merupakan hasil dari upaya kolektif berbagai pihak dalam membangun ruang publik yang inklusif dan toleran. Kata Kunci: Toleransi Antar-agama, Civil Sphere, Interaksi Simbolik, Simbol Keagamaan.
Co-Authors Adriaansz, Sofia Liana Agastya Rama Listya Agus Supratikno Ambakaraeng, Eliazer Anggi Toabnani Apituley, Yohanes Obed Ariyanto, Dani Arthik Davianti Bale, Abraham Malubaya Balla Nggiku, Emanuel Bartalis, Kata-Szilvia Berlian Rambu Pesi Kondi Binsar Ariel Natanael Tambun Bolodadi, Paulus Ngongo Chris Stevany Lombu Clara Monica Anakotta Claudy Yohana Debora Emor Cleta V. K Maitimu Darwin Herlis Manurung David Samiyono Dylan Azarya Radja Hedo Ebenhaizer I. Nuban Timo Erika Tataung Evi Maria Ferdinand Ludji Geraldi Dwi Rizandi Kongkoli Ghiland, Ghiland Gratciadeo Tumbelaka Gunawan Yuli Agung Suprabowo Harlin Palanta Hendrika, Yovania Karubaba Hun Johanis A. Pinatik Hutasoit, Resmi Imanuel Teguh Harisantoso Imelda Baransano Irene Ludji Jacob Daan Engel Joberth Tupan Julliard, Devrinho Justine Saudale Kenneth Garland Numa Jermy Kumowal, Joshua Frans Kusmawanto, Dodi Lamerkabel, David Timothi Latuheru, Angel Christy Lina Sinatra Wijaya Listyani Listyani Lukas, Alma Victoria Anastasia Lukmono, Lobby M.A Therik, Wilson Mahoklory, Novian Hendrik Mariska Lauterboom Melfa F. Sufmera Merwald Tua Philip Simanjuntak Molewe, Adlan Christember Nathalia Debby Makaruku Ngabalin, Marthinus Pandie, Daud Pattiasina, Sharon Michelle O Pinatik, Hun Johanis Alfrits Popang, Kiki Clara Pramono, Muhamad Sidik Prayitno, Iky Sumarthina P. Priskila Ferawati Riwu Purwanto Purwanto Rama Tulus Rama Tulus Pilakoannu Rama Tulus Pilakoanu Rama Tulus Pillakoannu Revaldo Pravasta Julian Mb Salakory Rini Kartika Hudiono Roland Van Ratu Elo Rudolfo Jacob Manusiwa Rupiassa, Dominggus Alexander Agusto Sihombing, Benni Hasiholan Sihombing, Helpin Maryand Simarmata, Rikky Fransiskus Simri R. Runesi Sopacoly, Mick Mordekhai Sri Suwartiningsih Stepanus Stepanus Stepanus Stepanus Sumanto Al Qurtuby Suwarto Suwarto Adi Suwarto Suwarto Tamawiwi, Rio Sario Tampake, Tony R. C. Tampake, Tony Robert Christian Therik, Wilson M A. Tjaja, Broery Doro Pater Tony Robert C. Tampake Tony Robert Christian Tampake Tony Tampake Uktolseja, Frans Widhipangreksa, Raharjo