Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Journal of Islamic Civilization

Al-qur`an dan Relasi Umat Beragama; Prinsip Dasar Harmoni Antar Umat Beragama Perspektif Al-qur’an Dzulfikar, Ahmad; Romdloni, Muhammad Afwan
Journal of Islamic Civilization Vol 1 No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v1i01

Abstract

Al-Qur`an dan Relasi Umat Beragama Membangun Relasi Harmonis Antarumat Beragama. Berangkat dari perbedaan penafsiran Al-Qur’an terkait bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi umat beragama, maka tulisan ini menyajikan bukti-bukti historis bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi umat beragama. Dengan metode penelitian sejarah, maka runtutan waktu menjadi penting untuk melihat bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi tersebut. Selain itu, secara tematik diketengahkan pula sikap-sikap yang bagaimanakah, menurut perspektif Al-Qur’an, dalam membangun relasi umat beragama. Dari paparan tulisan dapat disimpulkan dalam sejarah relasi umat beragama, Al-Qur’an mengedapankan sisi toleransi yang sangat besar. Akan tetapi, itu bukan berarti Al-Qur’an mendiamkan setiap kezaliman dan pengkhianatan. Al-Qur’an justru subur dengan seruan terhadap nilai-nilai universal: keadilan, kesetaraan, persaudaraan dan dialog. Nilai-nilai iniah yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan dalam rangka membina relasi umat beragama yang lebih harmonis.
Kiai dan Lingkungan Hidup; Revitalisasi Krisis Ekologis Berbasis Nilai Keagamaan di Indonesia Romdloni, Muhammad Afwan; Sukron Djazilan, Muhammad
Journal of Islamic Civilization Vol 1 No 2 (2019): Journal of Islamic Civilization (October 2019)
Publisher : UNUSA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v1i2

Abstract

Lingkungan hidup menjadi bagian penting dalam kehidupan manusia, tanpanya manusia tidak akan bisa bertahan hidup di dunia. Akan tetapi dengan sifat serakah serta libido ekonominya membuat manusia lupa dan lalai akan resiko yang akan dialami. Hal ini terjadi karena kesadaran manusia akan tanggungjawabnya sebagai kholifah yang bertugas dalam menyeimbangakn keadaan bumi ini telah sirna. Kesadaran ekologi ini berasal dari keyakinan setiap individu. Sehingga fungsi agama diharapkan menjadi role of view dalam kehidupan manusia guna melestarikan lingkungan sebagai wujud ijtihad untuk bumi. Lebih-lebih bisa menitegrasikan ajaran tauhid, dan tasawuf harus disenyawakan dengan ajaran fiqih sehingga muncul konsep lingkungan yang holistic-integral. Dalam hal ini seorang tokoh agama memiliki peran yang sangat penting sebagai agent of change, sekaligus mampu memberikan keyakinan, motivasi serta solusi dalam mengembalikan krisis ekologi yang melanda Indonesia bahkan dunia. Meskipun tidak semua kiai memeliki peran yang sama, paling tidak sudah memberikan angin segar dalam masalah lingkungan perspektif agama.
Kiai dan Lingkungan Hidup; Revitalisasi Krisis Ekologis Berbasis Nilai Keagamaan di Indonesia Muhammad Afwan Romdloni; Muhammad Sukron Djazilan
Journal of Islamic Civilization Vol 1 No 2 (2019): History and Social Change
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v1i2.1322

Abstract

The environment becomes an important part of human life, without which humans would not be able to survive in the world. However, with the greedy nature and economic libido makes people forget and neglect the risks that will be experienced. This happens because human awareness of their responsibilities as kholifah in charge of balancing the condition of the earth has vanished. This ecological awareness comes from the beliefs of every individual. So that the function of religion is expected to be a role of view in human life in order to preserve the environment as a form of ijtihad for the earth. The more so it can integrate the teachings of monotheism, and Sufism should be compounded with the teachings of fiqh so that the concept of an holistic-integral environment appears. In this case a religious leader has a very important role as an agent of change, as well as being able to provide confidence, motivation and solutions in restoring the ecological crisis that has plagued Indonesia and even the world. Although not all kiai have the same role, at least they have a breath of fresh air in an environmental problem with a religious perspective.
Al-qur`an dan Relasi Umat Beragama; Prinsip Dasar Harmoni Antar Umat Beragama Perspektif Al-qur’an Ahmad Dzulfikar; Muhammad Afwan Romdloni
Journal of Islamic Civilization Vol 1 No 1 (2019): Maret 2019
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v1i1.874

Abstract

Al-Qur`an dan Relasi Umat Beragama Membangun Relasi Harmonis Antarumat Beragama. Berangkat dari perbedaan penafsiran Al-Qur’an terkait bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi umat beragama, maka tulisan ini menyajikan bukti-bukti historis bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi umat beragama. Dengan metode penelitian sejarah, maka runtutan waktu menjadi penting untuk melihat bagaimana Al-Qur’an menyikapi relasi tersebut. Selain itu, secara tematik diketengahkan pula sikap-sikap yang bagaimanakah, menurut perspektif Al-Qur’an, dalam membangun relasi umat beragama. Dari paparan tulisan dapat disimpulkan dalam sejarah relasi umat beragama, Al-Qur’an mengedapankan sisi toleransi yang sangat besar. Akan tetapi, itu bukan berarti Al-Qur’an mendiamkan setiap kezaliman dan pengkhianatan. Al-Qur’an justru subur dengan seruan terhadap nilai-nilai universal: keadilan, kesetaraan, persaudaraan dan dialog. Nilai-nilai iniah yang seharusnya dipupuk dan dikembangkan dalam rangka membina relasi umat beragama yang lebih harmonis.
A New Approach to Counseling Relations in Islamic Boarding Schools Based on the Ta'limul Muta'alim Book: An Emansipatory Hermeneutical Study Fitriyah, Fifi Khoirul; Chuma, Mohamed; Sodikin, Mokhamad; Muhammad Afwan Romdloni; Asma’ul Lutfauziah
Journal of Islamic Civilization Vol 4 No 2 (2022): Journal of Islamic Civilization
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v4i2.3634

Abstract

Living in an Islamic boarding school has its challenges, especially for students. Various studies on indigenous counseling, but no one has examined the culture of Islamic boarding schools. This study aimed to analyze and create the construct of counseling relationships in Islamic boarding schools to support a part of the indigenous counseling construction in the Islamic field. The research method used was a hermeneutic study using an emancipatory approach. Data analysis used the stages compiled by Paul Ricoeur. The primary data was a book of Ta'limul Muta'alim by Az-Zarnuji. The study results found elements of counseling relationships between counselors and students in Islamic boarding schools. It is not only counselors who have to manage attitudes in counseling relationships but also students. This finding was different from the previous concept of counseling relationships through a humanistic approach that the counselor must accept students unconditionally. On the other hand, empathy is an essential key in counseling relationships, so it aligns with the concept of humanistic counseling. The contribution of this research is to provide new insights into the form of counseling relationships in indigenous counseling at Islamic boarding schools. This finding is a series of constructions to create an indigenous counseling model and determine the counselor criteria in Islamic boarding schools. The structure is beneficial for counseling practice in Indonesia through the counselor’s role in Islamic boarding schools. Tinggal di pondok pesantren memiliki tantangan tersendiri, terutama bagi para santri. Berbagai kajian tentang konseling indigenous, namun belum ada yang meneliti tentang budaya pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan membuat konstruk hubungan konseling di pondok pesantren untuk mendukung bagian dari konstruksi konseling indigenous di bidang keislaman. Metode penelitian yang digunakan adalah studi hermeneutik dengan pendekatan emansipatoris. Analisis data menggunakan tahapan yang disusun oleh Paul Ricoeur. Data primer berupa kitab Ta'limul Muta'alim karya Az-Zarnuji. Hasil penelitian menemukan unsur-unsur hubungan konseling antara konselor dan santri di pondok pesantren. Bukan hanya konselor yang harus mengelola sikap dalam hubungan konseling tetapi juga santri. Temuan ini berbeda dengan konsep sebelumnya tentang hubungan konseling melalui pendekatan humanistik bahwa konselor harus menerima santri tanpa syarat. Di sisi lain, empati merupakan kunci penting dalam hubungan konseling, sehingga sejalan dengan konsep konseling humanistik. Kontribusi penelitian ini adalah untuk memberikan wawasan baru tentang bentuk hubungan konseling dalam konseling adat di pondok pesantren. Temuan ini merupakan rangkaian konstruksi untuk membuat model konseling indigenous dan menentukan kriteria konselor di pesantren. Struktur tersebut bermanfaat bagi praktik konseling di Indonesia melalui peran konselor di pesantren.
ASWAJA Education as an Alternative Healing Drug Addiction Romdloni, Muhammad Afwan; Yauwan Tobing Lukiyono; Muhammad Sukron Djazilan; Akhwani
Journal of Islamic Civilization Vol 6 No 2 (2024): Journal of Islamic Civilizatioan
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33086/jic.v6i2.6111

Abstract

The purpose of this article is to explore the potential interconnections between spirituality, health, and recovery through Islamic spiritual approaches that can help overcome inner urges in drug-dependent patients. An Islamic approach, particularly ASWAJA, can play a significant role in shaping a person's behavior and attitude, especially by promoting the attitudes and behaviors exemplified by the Prophet Muhammad and his role models. This can foster the development of positive character traits that the individual may not have previously possessed. This research employs a qualitative method with a phenomenological approach, featuring descriptive-analytical data presentation. To provide a comprehensive analysis, the study applies Islamic psycho-spiritual theory using an interpretive approach to explain and describe phenomena as expressed by participants. The consistent practice of ASWAJA by these drug-dependent individuals has demonstrated positive effects, particularly in their daily behavior, whether in social interactions within the community or in their worship of Allah SWT. Therefore, the ASWAJA approach shows potential as a method that can be further developed to address the challenges faced by dependent patients. Contextualizing the healing process with a spiritual approach offers an alternative treatment alongside medical interventions for drug-dependent individuals.