Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam antara Tradisi, Modernitas dan Spiritualitas Iyad Suryadi; Rikha Destya Rahmadanti; Rizki Akbar Mubaroq Azhar
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7417

Abstract

Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi telah membawa perubahan yang signifikan terhadap dunia pendidikan, termasuk Pendidikan Agama Islam (PAI). Kondisi tersebut menuntut adanya pembaruan paradigma pendidikan yang mampu mempertahankan nilai-nilai keislaman sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat modern. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji konsep rekonstruksi Pendidikan Agama Islam, menganalisis peran tradisi, modernitas, dan spiritualitas dalam pendidikan Islam, serta merumuskan model rekonstruksi yang sesuai dengan tantangan pendidikan masa kini. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research). Data diperoleh dari berbagai sumber ilmiah yang relevan, seperti buku, artikel jurnal, dan dokumen akademik, kemudian dianalisis melalui teknik analisis isi secara sistematis dan kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi pendidikan Islam yang tercermin dalam turats, pesantren, dan nilai adab masih memiliki peran penting sebagai dasar pembentukan identitas pendidikan Islam. Di sisi lain, modernitas membuka peluang bagi pengembangan pembelajaran melalui pemanfaatan teknologi, inovasi metode, dan penguatan kompetensi peserta didik. Sementara itu, spiritualitas menjadi unsur yang tidak dapat dipisahkan karena berfungsi membentuk karakter, akhlak, dan kesadaran religius. Kajian ini menghasilkan model rekonstruksi Pendidikan Agama Islam yang mengintegrasikan tradisi, modernitas, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling mendukung dalam mewujudkan pendidikan Islam yang relevan, adaptif, dan berorientasi pada pembentukan manusia yang berilmu serta berakhlak mulia.
Rekonstruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam dalam Menyiapkan Generasi Qur’ani Iyad Suryadi; Aziz Mujadilah; Deni Suhendar
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7667

Abstract

Tantangan globalisasi, lompatan teknologi era Society 5.0, serta krisis eksistensial-moralitas kontemporer menuntut adanya reorientasi radikal-paradigmatik dalam sistem Pendidikan Agama Islam (PAI). Selama ini, PAI dinilai masih terjebak dalam lingkaran patologi akademik yang bersifat formalistik, kognitif-teoretis, dikotomis, dan ahistoris (steril darirealitas zaman). Akibatnya, terjadi diskoneksi antara pemahaman teks keagamaan siswa dengan realitas sosial. Artikel ini bertujuan untuk merumuskan cetak biru (blueprint) rekonstruksi pemikiran PAI demi melahirkan generasi Qur’ani—generasi mutamaddun yang mengintegrasikan ketajaman intelektual (fikir) dan kedalaman spiritual (dzikir). Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis berbasis studi kepustakaan (library research), penelitian ini menyimpulkan bahwa rekonstruksi PAI wajib menyentuh empat aspek fundamental secara holistik: rekonstruksi filosofis-epistemologis melalui paradigma integrasi-interkoneksi ilmu, rekonstruksi kurikulum berbasis kontekstualisasi isu-isu kontemporer, rekonstruksi metodologis transformatif-dialogis berbasis hermeneutika emansipatoris, serta reorientasi peran pendidik berbasis tekno-pedagogi kemanusiaan. Implikasi dari rekonstruksi ini adalah reposisi PAI dari sekadar transfer pengetahuan verbal-doktriner (transmission of knowledge) menjadi instrumen pembebasan profetik yang hidup, adaptif, dan solutif terhadap dinamika peradaban.
Rekontruksi Pemikiran Pendidikan Agama Islam Berbasis Nilai, Akhlak, dan Peradaban Iyad Suryadi; Neni Sriyani; Rosalia Ananta
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7681

Abstract

Perkembangan globalisasi dan kemajuan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan masyarakat, termasuk pada bidang pendidikan. Kondisi tersebut memunculkan berbagai persoalan, seperti melemahnya nilai-nilai moral, meningkatnya individualisme, serta tantangan dalam mempertahankan identitas keislaman di tengah arus modernisasi. Di sisi lain, pendidikan Islam masih menghadapi berbagai kendala, antara lain pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, dominasi pendekatan pembelajaran yang bersifat teoritis, serta belum optimalnya penguatan  karakter dalam proses pendidikan. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis rekonstruksi pemikiran pendidikan Islam yang berlandaskan nilai, akhlak, dan peradaban sebagai strategi dalam menjawab tantangan era global. Penelitian menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui kajian terhadap berbagai literatur pendidikan Islam klasik maupun kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan Islam perlu dikembangkan melalui penguatan nilai-nilai spiritual, pembentukan akhlak sebagai inti pendidikan, serta pengembangan wawasan peradaban yang berorientasi pada kemajuan umat. Implementasi gagasan tersebut dapat diwujudkan melalui kurikulum yang integratif, pembelajaran yang holistik, lingkungan pendidikan yang kondusif, serta pemanfaatan teknologi yang berlandaskan etika dan nilai-nilai Islam. Rekonstruksi pendidikan Islam yang demikian diharapkan mampu melahirkan generasi yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan intelektual, kematangan spiritual, kepedulian sosial, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan zaman. Dengan demikian, pendidikan Islam dapat berfungsi sebagai sarana pembentukan insan yang berkarakter sekaligus berkontribusi dalam pembangunan peradaban yang berkelanjutan
Reconstruction of Islamic Religious Education Based On The Values of Rahmatan Lil ‘Alamin Arief Surya Zulkifli; Iskandar Mirza; Iyad Suryadi
International Journal of Science and Environment (IJSE) Vol. 6 No. 2 (2026): May 2026
Publisher : CV. Inara in Colaboration with www.stie-sampit.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51601/ijse.v6i2.551

Abstract

Islamic Religious Education plays a strategic role in shaping students’ character to become religious, humanistic, tolerant, and moderate individuals. This study aims to analyze the concept of reconstructing Islamic Religious Education based on the values of rahmatan lil ‘alamin as a paradigm of humanistic and moderate Islamic education. The study employs a qualitative approach using the library research method. The findings reveal that the reconstruction of Islamic Religious Education grounded in the values of rahmatan lil ‘alamin constitutes a strategic step toward developing a humanistic, moderate, and inclusive Islamic educational system. Values such as compassion, tolerance, moderation, and justice should serve as the primary foundation in curriculum development, learning methods, character education, and the strengthening of teachers’ competencies. The implementation of rahmatan lil ‘alamin values in Islamic Religious Education can provide a solution for addressing the challenges of globalization, radicalism, and the moral crisis among younger generations.
INTEGRASI ILMU AGAMA DAN SAINS DALAM PEMBELAJARAN DI SEKOLAH ISLAM TERPADU: STUDI PERSEPSI SISWA DAN PANDANGAN GURU Asdianur Hadi; Muh. Irfan Ali; Helmawati Helmawati; Iyad Suryadi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11994

Abstract

The integration of religious knowledge and science is an important issue in contemporary Islamic education due to the persistent separation between religious subjects and general sciences in learning practices. This study aims to describe students’ perceptions and teachers’ views on the integration of religious knowledge and science in learning at an Integrated Islamic School. This research employed a simple descriptive quantitative-qualitative approach. Data were collected through a closed-ended Google Form questionnaire for students and written Google Form interviews with a science teacher, an Islamic education teacher, and a homeroom teacher. The questionnaire data were analyzed using mean scores and tendency categories, while the written interview data were analyzed thematically. The findings indicate that students’ perceptions of the integration of religious knowledge and science were in the very good category. Students perceived learning not merely as the acquisition of scientific knowledge, but also as a process connected to Islamic values, the greatness of Allah, and everyday life. Teachers’ views show that integration is understood as an effort to connect learning materials with Qur’anic verses, hadith, Islamic values, awareness of Allah’s creation, and students’ character formation. The main challenges in implementing integration include limited time, references, teachers’ understanding, and the continued separation between religious and general subjects. This study confirms that integrating religious knowledge and science has the potential to strengthen meaningful learning, spiritual awareness, and students’ character. ABSTRAK Integrasi ilmu agama dan sains merupakan isu penting dalam pendidikan Islam kontemporer karena masih kuatnya pemisahan antara pelajaran agama dan pelajaran umum dalam praktik pembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan persepsi siswa dan pandangan guru terhadap integrasi ilmu agama dan sains dalam pembelajaran di Sekolah Islam Terpadu. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif-kualitatif sederhana. Data dikumpulkan melalui angket tertutup berbasis Google Form kepada siswa dan wawancara tertulis berbasis Google Form kepada guru IPA, guru PAI, dan wali kelas. Data angket dianalisis menggunakan skor rata-rata dan kategori kecenderungan, sedangkan data wawancara tertulis dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap integrasi ilmu agama dan sains berada pada kategori sangat baik. Siswa merasakan bahwa pembelajaran tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menghubungkannya dengan nilai Islam, kebesaran Allah, dan kehidupan sehari-hari. Pandangan guru menunjukkan bahwa integrasi dipahami sebagai upaya menghubungkan materi pelajaran dengan ayat Al-Qur’an, hadis, nilai keislaman, kesadaran terhadap ciptaan Allah, dan pembentukan karakter siswa. Kendala utama dalam pelaksanaan integrasi meliputi keterbatasan waktu, referensi, pemahaman guru, dan masih adanya pemisahan antara pelajaran agama dan pelajaran umum. Penelitian ini menegaskan bahwa integrasi ilmu agama dan sains berpotensi memperkuat makna pembelajaran, kesadaran spiritual, dan karakter siswa.
Konsep Pemikiran Ibnu Rusyd dan Relevansinya Dengan Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 2 Cibitung Wafaul Wafa; Mubarok, Arif Husni; Iyad Suryadi; Helmawati, Helmawati; Agus Hendra
An-nida: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2026): Februari
Publisher : Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Islam Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30999/an-nida.v14i2.3371

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan latar belakang biografi, kehidupan, dan pemikiran Ibnu Rusyd mengenai pendidikan, serta menganalisis relevansinya dengan Pendidikan Agama Islam di SMA Negeri 2 Cibitung pada era kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan (library research). Sumber data dihimpun melalui kajian literatur teks yang mencakup buku, jurnal, dan artikel yang relevan dengan fokus pembahasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibnu Rusyd, yang dikenal sebagai seorang filsuf, ahli fikih, pakar kedokteran, dan ahli hukum, memiliki gagasan komprehensif bahwa pendidikan pada hakikatnya bersifat praktis namun harus didukung oleh kerangka teoretis yang tepat. Keselarasan ini bertujuan untuk memberikan landasan pengetahuan yang benar sehingga dapat diimplementasikan ke dalam perbuatan yang benar. Secara deskriptif, pemikiran pendidikan Ibnu Rusyd terorganisasi dalam komponen tujuan, kurikulum, metode pembelajaran, serta peran guru sebagai elemen determinan. Oleh karena itu, kerangka berpikir Ibnu Rusyd dapat dijadikan acuan esensial bagi kemajuan pendidikan saat ini, khususnya dalam implementasi nilai-nilai keagamaan di sekolah.
Character Value Internalization in the Educational Thought of Al-Zarnuji and Al-Ghazali: A Comparative Analysis of Ta'lim al-Muta'allim and Ayyuha al-Walad Haerudin; Iyad Suryadi; Helmawati
Jurnal al-Thullab Vol 11 No 1 (2026): INPRESS-Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal
Publisher : Laboratory of Islamic Religious Education Faculty of Tarbiyah and Teacher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/atthulab.v11i1.54931

Abstract

Character education has become an increasingly urgent issue in response to the moral challenges faced by younger generations in the era of globalization and digitalization. The weakening of ethical values in contemporary education highlights the need to revisit classical Islamic educational thought as a source of guidance for holistic character formation. This study aims to compare the concepts of character education proposed by Imam Al-Zarnuji in Ta'lim al-Muta'allim and Imam Al-Ghazali in Ayyuha al-Walad and to examine their relevance to contemporary student development. The research employed a qualitative approach using a library research design. Primary data were obtained from the two classical texts, while secondary data were drawn from relevant books, journal articles, and other scholarly publications. Data were collected through document analysis and analyzed using qualitative content analysis. The findings reveal that Al-Zarnuji emphasizes character formation through proper learning etiquette, sincere intention, respect for teachers, and love of knowledge, whereas Al-Ghazali highlights spiritual purification through self-reflection (muhasabah), sincerity, and the integration of knowledge with righteous action. Both scholars regard knowledge as a means of cultivating noble character and strengthening one's relationship with Allah. The integration of these complementary perspectives provides a comprehensive framework for developing character education that balances cognitive, moral, spiritual, and social dimensions, offering valuable implications for contemporary Islamic education.
REKONSTRUKSI PEMIKIRAN ISLAM TERHADAP BATASAN DAN KEBEBASAN BEREKSPRESI SENI DI ERA DIGITAL Lelah Nurjamilah; Suci Dwi Kurniasih; Helmawati Helmawati; Iyad Suryadi
ACADEMIA: Jurnal Inovasi Riset Akademik Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/academia.v6i3.11341

Abstract

The dynamics of modern art in the digital era open up broad spaces for freedom of expression, including among students in Islamic higher education. However, artistic expression must remain in harmony with Islamic values and the boundaries of Sharia. This study aims to analyze how students at KH. Cipasung Islamic University (UNIK Cipasung) perceive art from an Islamic perspective, identify the forms of their artistic expression, and examine the reconstruction of Islamic thought that emerges. The research uses a descriptive qualitative approach with data collection techniques including interviews, field observations, and document studies involving ten students. The findings indicate that students understand art as an expression of beauty grounded in Islamic values, as well as a medium for education and da'wah. Their freedom of expression is selective and responsible, not adopting the concept of absolute freedom typical of Western liberalism. There is a reconstruction of Islamic thought that integrates normative religious values with modern artistic practices, resulting in an adaptive, moderate, and contextual understanding. The study concludes that students are able to harmonize artistic creativity with Islamic ethical principles, ensuring that freedom of expression remains within the framework of Islamic values.  ABSTRAK Dinamika seni modern di era digital membuka ruang kebebasan berekspresi yang luas, termasuk di kalangan mahasiswa perguruan tinggi Islam. Namun, ekspresi seni tetap harus selaras dengan nilai-nilai Islam dan batasan syariat. Penelitian ini bertujuan menganalisis bagaimana mahasiswa Universitas Islam KH. Cipasung (UNIK Cipasung) memaknai seni dalam perspektif Islam, mengidentifikasi bentuk-bentuk kebebasan berekspresi mereka, serta menelaah rekonstruksi pemikiran Islam yang berkembang. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data wawancara, observasi lapangan, dan studi dokumen terhadap sepuluh mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memahami seni sebagai ekspresi keindahan yang tetap berpegang pada nilai-nilai Islam, sekaligus sebagai media edukasi dan dakwah. Kebebasan berekspresi mereka bersifat selektif dan bertanggung jawab, tidak mengadopsi konsep kebebasan absolut ala liberal Barat. Terjadi rekonstruksi pemikiran Islam yang mengintegrasikan nilai normatif agama dengan praktik seni modern, menghasilkan pemahaman yang adaptif, moderat, dan kontekstual. Simpulan penelitian ini adalah mahasiswa mampu menyelaraskan kreativitas seni dengan prinsip etika Islam, sehingga kebebasan berekspresi tetap berjalan dalam koridor nilai-nilai keislaman.       
Sacred Science and the Ecological Epistemological Crisis: Revitalizing Sufi Wisdom in Restoring Seyyed Hossein Nasr's Sacred Worldview Iyad Suryadi; Saeful Anwar
International Journal of Nusantara Islam Vol 14 No 2 (2026): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v14i2.52583

Abstract

This study analyzes the concept of Scientia Sacra in Seyyed Hossein Nasr's thought as an epistemological framework for addressing the modern ecological crisis by revitalizing Sufi wisdom. It is based on the assumption that the global environmental crisis is fundamentally an epistemological and spiritual crisis caused by the desacralization of knowledge and nature within secular modernity. The study employs the concepts of Scientia Sacra, Islamic ecotheology, the desacralization of knowledge, and Sufi wisdom, including dhikr, muraqabah, khalwah, wahdat al-wujud, and zuhd, as foundations for ecological consciousness. Using a qualitative philosophical-critical library research approach, the analysis examines Nasr’s major works, particularly Knowledge and the Sacred, Man and Nature, and Religion and the Order of Nature, supported by international literature on ecotheology, environmental philosophy, and ecological Sufism. The findings show that Scientia Sacra provides an epistemological paradigm integrating scientific, spiritual, and ethical dimensions in understanding the relationship between humanity and nature. Sufi wisdom functions as a practical mechanism for transforming ecological consciousness and environmental ethics, while the ecological crisis is traced to a reductionist scientific paradigm separating knowledge from transcendental values. Nevertheless, integrating sacred epistemology with modern scientific methodology remains challenging due to issues of scientific objectivity, cultural plurality, and empirical operationalization. The study recommends spiritually grounded ecological education, stronger dialogue between scientific and religious communities, environmentally oriented public policies incorporating sacred values, and the revitalization of Sufi practices to foster sustainable ecological consciousness and advance Islamic ecotheology and environmental philosophy.
Sacred Science and the Ecological Epistemological Crisis: Revitalizing Sufi Wisdom in Restoring Seyyed Hossein Nasr's Sacred Worldview Iyad Suryadi; Saeful Anwar
International Journal of Nusantara Islam Vol 14 No 2 (2026): International Journal of Nusantara Islam
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ijni.v14i2.52583

Abstract

This study analyzes the concept of Scientia Sacra in Seyyed Hossein Nasr's thought as an epistemological framework for addressing the modern ecological crisis by revitalizing Sufi wisdom. It is based on the assumption that the global environmental crisis is fundamentally an epistemological and spiritual crisis caused by the desacralization of knowledge and nature within secular modernity. The study employs the concepts of Scientia Sacra, Islamic ecotheology, the desacralization of knowledge, and Sufi wisdom, including dhikr, muraqabah, khalwah, wahdat al-wujud, and zuhd, as foundations for ecological consciousness. Using a qualitative philosophical-critical library research approach, the analysis examines Nasr’s major works, particularly Knowledge and the Sacred, Man and Nature, and Religion and the Order of Nature, supported by international literature on ecotheology, environmental philosophy, and ecological Sufism. The findings show that Scientia Sacra provides an epistemological paradigm integrating scientific, spiritual, and ethical dimensions in understanding the relationship between humanity and nature. Sufi wisdom functions as a practical mechanism for transforming ecological consciousness and environmental ethics, while the ecological crisis is traced to a reductionist scientific paradigm separating knowledge from transcendental values. Nevertheless, integrating sacred epistemology with modern scientific methodology remains challenging due to issues of scientific objectivity, cultural plurality, and empirical operationalization. The study recommends spiritually grounded ecological education, stronger dialogue between scientific and religious communities, environmentally oriented public policies incorporating sacred values, and the revitalization of Sufi practices to foster sustainable ecological consciousness and advance Islamic ecotheology and environmental philosophy.