Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Determinan Terjadinya Infeksi Saluran Kemih pada Pasien Dewasa di RSUD Kota Bekasi Herlina, Santi; Yanah, Anggara Kasih Mehita
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 1 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 1, Februari 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (615.314 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i1.15

Abstract

Latar Belakang: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang sering ditemukan di masyarakat dan Rumah Sakit. Juga biasanya dialami paling banyak pada wanita di bandingkan dengan laki-laki. Infeksi saluran kemih adalah infeksi yang terjadi di sepanjang saluran kemih, termasuk ginjal itu sendiri, akibat proliferasi suatu mikroorganisme. Faktor-faktor predisposisi dalam perkembangan infeksi saluran kemih dan pielonefritis kronik yaitu obstruksi saluran kemih, jenis kelamin, umur kehamilan, reflik vesikuler, peralatan kedokteran, kandung kemih neurogenik, penyalahgunaan analgesik secara kronik, penyakit ginjal, penyakit metabolik (diabetes,gout, batu). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi saluran kemih di RSUD Bekasi pada pasien dewasa.Metode: Penelitian ini dilaksanakan di RSUD Bekasi. Jenis penelitian yang digunakan adalah uji kohort Retrospektif. Sampel yang digunakan adalah Random Sampling 96 Responden. Data yang terkumpul memenuhi kriteria dianalisa secara univariat, bivariat menggunakan Chi Square, dan Multivatiat dengan regresi logistik.Hasil: Hasil Penelitian ini menunjukan bahwa dari analisis multivariat ternyata variabel yang berhubungan bermakna dengan infeksi saluran kemih adalah jenis klamin, riwayat keluarga, penyakit urologi. Sedangkan variabel usia, dan penyakit metabolik sebagai perancu, namun hasil yang didapat dari odd ratio (OR) adalah penyakit metabolik yang paling besar dengan nilai 2,53, dan artinya pasien yang mengalami penyakit metabolik akan mengalami lebih besar dengan 2,5 lebih tinggi dibandingkan dengan pasien yang tidak mengalami penyakit metabolik.Kesimpulan: Penyakit metabolik merupakan faktor yang paling mempengaruhi penyakit ISK Background: Urinary tract infections (UTI) is a disease that is often found in community and hospital. Also usually experienced most common in females compared with males. Urinary tract infection is an infection that occurs in the urinary tract, including the kidney itself, due to the proliferation of a microorganism. Predisposing factors in the development of urinary tract infection and chronic pyelonephritis, urinary tract obstruction, sex, gestational age, reflik vesicular, medical equipment, neurogenic bladder, in chronic analgesic abuse, kidney disease, metabolic disease (diabetes, gout , stone). This study aims to determine the factors that influence the occurrence of urinary tract infections in hospitals Bekasi in adult patients.Method: This study was conducted at Hospital Bekasi. Type of study is a retrospective cohort trial. The sample used was random sampling 96 respondents. The collected data meet the criteria analyzed in univariate, bivariate using Chi Square, and Multivatiat with logistic regression.Result: The results of this study show that. From the multivariate analysis turns significant variables associated with urinary tract infection is a type of klamin, family history, urologic diseases. While the variables of age, and metabolic diseases as confounders, but the results obtained from the odds ratio (OR) is a metabolic disease with the greatest value of 2.53, and that means patients with metabolic disease will experience greater with 2.5 higher than with patients who did not experience disease metabolic.Conclusion: Metabolic disease are the factors that most influence UTI
Dukungan Keluarga dengan Kepatuhan Pembatasan Cairan pada Pasien Gagal Ginjal Kronik yangMenjalani Hemodialisis Fitriana, Erdila; Herlina, Santi
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 2 (2019): JIKM Vol. 11, Edisi 2, Mei 2019
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.046 KB) | DOI: 10.52022/jikm.v11i2.31

Abstract

Latar belakang: Gagal ginjal kronik adalah sindrom klinis yang umum pada stadium lanjut dari semua penyakit ginjal kronik yang ditandai oleh uremia. Perawatan yang dilakukan pada pasien gagal ginjal kronik adalah hemodialisis. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.Metode: Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian cross sectional menggunakan teknik non probability sampling yaitu total sampling. Sampel penelitian ini sebanyak 48 pasien dan dianalisis menggunakan uji chi square. Waktu penelitian dilakukan tahun 2014 di RS Zahirah Jakarta dengan variable penelitiannya adalah dukungan keluarga dan kepetuhan pembatasan cairan.Hasil: Rata rata usia diatas 35 tahun 56.3%, Jenis kelamin laki laki 68.8%, Pendidikan rendah 56.3% dan rata rata tidak bekerja 52.1%. Terdapat hubungan dukungan emosional. penilaian, informasi dan instrumental dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien yang menjalani hemodialisa denan nilai P value 0.026 & ;0,020;0.006;0.004Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara hubungan dukungan keluarga dengan kepatuhan pembatasan cairan pada pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis dengan. Hasil penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan masukan bagi keperawatan, keluarga, khususnya klien dengan gagal ginjal kronik. Background: Chronic kidney failure is a common clinical syndrome at an advanced stage of all chronic kidney disease characterized by uremia. The treatment carried out in patients with chronic renal failure is hemodialysis. This study aimed to determine the relationship of family support with fluid restriction compliance in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. Method: This type of research is a quantitative study using cross-sectional research design using a non-probability sampling technique that is total sampling. The sample of this study was 48 patients and analyzed using the chi square test. When the study was conducted in 2014 at Zahirah Hospital, Jakarta, the research variables were family support and the need for fluid restrictions. Results: The average age above 35 years 56.3%, male sex 68.8%, low education 56.3% and the average does not work 52.1%. There is a relationship of emotional support. assessment, information and instrumentals with fluid restriction compliance in patients undergoing hemodialysis with a P value of 0.026 & 0.020; 0.006; 0.004 Conclusion: There is a significant relationship between the relationship of family support with fluid restriction compliance in patients with chronic renal failure who undergo hemodialysis with. The results of this study are expected to be useful as input material for nursing, families, especially those with mental health problems.
Pelatihan dan Pendampingan Kader Posyandu dalam Pemantauan Pertumbuhan Balita untuk Pencegahan Stunting di Depok Rokhaidah, Rokhaidah; Jansen, Susiana; Herlina, Santi; Florensia, Lima
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.20389

Abstract

ABSTRAK Prevalensi stunting di Kota Depok pada tahun 2023 mencapai 25,4%, menunjukkan perlunya intervensi berkelanjutan untuk menurunkan angka tersebut. Salah satu upaya penting adalah penguatan peran kader Posyandu dalam pencegahan stunting. Kader Posyandu, sebagai motivator dan edukator, memiliki peran strategis dalam meningkatkan status gizi balita melalui pelatihan yang memadai, motivasi, dan dukungan dari berbagai pihak. Posyandu Markisa di Kelurahan Pangkalan Jati menghadapi kendala berupa kurangnya pendidikan dan pelatihan kader serta keterbatasan sumber daya edukasi. Namun, kader di Posyandu Markisa memiliki potensi besar dalam penerapan pengetahuan lokal, penyuluhan kesehatan, serta pencegahan dan deteksi dini masalah kesehatan. Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk memaksimalkan potensi kader melalui pelatihan dan pendampingan yang meliputi pendidikan kesehatan, pelatihan pemantauan pertumbuhan balita. Sasaran kegiatan ini adalah 12 kader Posyandu Markisa. Metode pelaksanaan pelatihan berupa ceramah dan demontrasi. Kader diberikan materi mengenai pencegahan stunting serta demontrasi dan redemontrasi pertolongan pengukuran pertumbuhan anak. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan kader sangat baik dan mampu melakukan pengukuran pertumbuhan anak dengan benar. Kesimpulan: Pelatihan kader posyandu mampu meningkatkan pengetahuan kader dalam pencegahan stunting dan menambah ketrampilan kader dalam pengukuran pertumbuhan anak. Kata Kunci: Anak, Kader Posyandu, Pelatihan, Stunting  ABSTRACT The prevalence of stunting in Depok City in 2023 reached 25.4%, indicating the need for sustainable interventions to reduce the rate. One important effort is to strengthen the role of Posyandu cadres in stunting prevention. Posyandu cadres, as motivators and educators, have a strategic role in improving the nutritional status of children under five through adequate training, motivation, and support from various parties. Posyandu Markisa in Pangkalan Jati Village faces constraints such as a lack of cadre education and training and limited educational resources. However, cadres at Posyandu Markisa have great potential in the application of local knowledge, health counseling, and prevention and early detection of health problems. This Community Service Activity (CSA) aims to maximize the potential of cadres through training and mentoring which includes health education, toddler growth monitoring training. The targets of this activity were 12 cadres of Posyandu Markisa. The method of implementing training is in the form of lectures and demonstrations. Cadres were given material on stunting prevention as well as demonstrations and redemonstrations of child growth measurement assistance. The results of the training showed a very good increase in cadre knowledge and were able to measure children's growth correctly. Conclusion: Posyandu cadre training can increase cadre knowledge in stunting prevention and increase cadre skills in measuring child growth. Keywords: Children, Posyandu cadres, training, stunting
Pendampingan Siswa Kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) melalui Kegiatan Edukasi Peran Remaja dalam Pencegahan Stunting Dan Pelatihan P3K di Sekolah Dasar Rokhaidah, Rokhaidah; Marcelina, Lina Ayu; Herlina, Santi; Jansen, Susiana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 11 (2024): Volume 7 No 11 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i11.17442

Abstract

ABSTRAK Pelatihan kader Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) sangat penting untuk membantu kader UKS memahami lebih baik tentang berbagai aspek kesehatan, seperti pencegahan stunting, dan pertolongan pertama. Dengan pengetahuan ini, siswa dapat memberikan edukasi kepada komunitas sekolah. Pelatihan kader UKS sangat penting untuk memastikan bahwa program kesehatan di sekolah berjalan efektif dan berkelanjutan. Dengan pelatihan, kader UKS menjadi lebih kompeten, mampu memberikan layanan kesehatan yang berkualitas, mendidik siswa dan komunitas sekolah, serta mencegah masalah kesehatan seperti stunting dengan lebih baik. Pelatihan ini juga membantu membentuk kader UKS sebagai pemimpin dan teladan dalam mempromosikan kesehatan di lingkungan sekolah. Pelatihan ini dilakukan pada siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 6 dengan total jumlah peserta 29 siswa. Tujuan pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, perilaku serta keterampilan praktis siswa berperan mencegah stunting dan memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan. Metode pelaksanaan pelatihan berupa ceramah dan demontrasi. Siswa diberikan materi mengenai peran remaja dalam pencegahan stunting serta demontrasi dan redemontrasi pertolongan pertama pada kecelakaan. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan pengetahuan siswa cukup baik dan penilaian praktik pertolongan pertama pada kecelakaan semua siswa memiliki kemampuan yang baik. Kesimpulan: Pelatihan siswa kader UKS mampu meningkatkan pengetahuan siswa dalam pencegahan stunting dan menambah ketrampilan siswa dalam pertolongan pertama pada kecelakaan. Kata Kunci: Anak, Pelatihan, P3K, Siswa, Stunting, UKS   ABSTRACT Training for School Health Unit (UKS) cadres is very important to help UKS cadres understand better about various aspects of health, such as stunting prevention and first aid. With this knowledge, students can provide education to the school community. UKS cadre training is very important to ensure that health programs in schools are effective and sustainable. With training, UKS cadres become more competent, able to provide quality health services, educate students and the school community, and better prevent health problems such as stunting. This training also helps shape UKS cadres into leaders and role models in promoting health in the school environment. This training was carried out on grade 6 elementary school (SD) students with a total of 29 students. The aim of this training is to improve students' knowledge, attitudes, behavior and practical skills to play a role in preventing stunting and providing first aid in accidents. The training implementation method is in the form of lectures and demonstrations. Students were given material regarding the role of teenagers in preventing stunting as well as demonstrations and re-demonstrations of first aid in accidents. The results of the training showed that the increase in students' knowledge was quite good and the assessment of first aid practices in accidents was that all students had good abilities. Conclusion: Training of UKS cadre students is able to increase students' knowledge in stunting prevention and increase students' skills in first aid for accidents. Keywords: Children, First Aid, Students, Stunting, Training, UKS
HUBUNGAN CARING PERAWAT DENGAN TINGKAT KECEMASAN PADA PASIEN HEMODIALISA DENGAN COVID-19 DI RSUD KOJA JAKARTA Sanli, Peren Dita; Herlina, Santi
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52020/jkwgi.v6i2.3272

Abstract

ABSTRAKLatar belakang: hemodialisa adalah salah satu wujud dari dialisis yang melakukan fungsi dialisis secara langsung melalui aliran darah. Proses hemodialisa yang lama menimbulkan efek psikologis seperti kecemasan, begitu pula dengan pasien positif Covid-19 yang harus melakukan hemodialisa, tentu akan menambah kecemasan yang dirasakan karena merasa terancam. Kecemasan yang berlebihan akan mengakibatkan terhambatnya proses penyembuhan penyakit. Asuhan keperawtan sangat diperlukan oleh pasien yang menjalani hemodialisa, salah satunya adalah Caring Perawat. Caring Perawat yang membuat suasana tenang, kontak mata yang terjalin, perhatian terhadap kekhawatiran pasien, dan kedekatan fisik sangat baik untuk menjadi lebih dekat dengan pasien dan lebih mudah menghibur pasien. Tujuan: penelitian ini dilakukan dengan tujuan menganalisa hubungan Caring Perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Hemodialisa dengan Covid-19 di RSUD Koja Jakarta Utara.. Metode: desain penelitian cross-sectional yang dilakukan kepada 39 pasien hemodialisa dengan Covid-19 dengan metode total sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan dua kuesioner yaitu kuesioner Caring dengan Caring Professional Scale (CPS) dan kuesioner tingkat kecemasan dengan Zung Self Anxiety Scale (ZSAS). Hasil: berdasarkan analisis menggunakan uji  Mann Whitney didapatkan nilai P=0,932 yang memiliki arti tidak ada hubungan Caring perawat dengan Tingkat Kecemasan Pada Pasien Hemodialisa dengan Covid-19. Kesimpulan: tidak ada hubungan Caring perawat dengan tingkat Kecemasan pada pasien hemodialisa dengan Covid-19. Kata kunci: Caring Perawat , Tingkat Kecemasan, Hemodialisa, Covid-19.
PREVELENSI COVID 19 PADA PASIEN HEMODIALISIS Herlina, Santi; Khotimah, Mastika Chusnul
Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Vol 7 No 2 (2023): JURNAL KEPERAWATAN WIDYA GANTARI INDONESIA (JKWGI)
Publisher : Nursing Department, Faculty of Health, Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52020/jkwgi.v7i1.5521

Abstract

Dampak Covid 19 yang terjadi pada akhir tahun 2019 dan masuk ke Indonesia pada awal tahun 2020 menjadi ancaman global yang merubah segala aspek kehidupan manusia diseluruh dunia.  Bagi pasien yang memiliki cormobid akan memperberat gejala fisiknya jika terkena penyakit covid 19. Salah satu pasien yang memiliki resiko terinfeksi penyakit ini adalah pasien gagal ginjal yang menjalani hemodialisis. Pasien tersebut rutin melakukan hemodialisis per minggunya di rumah sakit dan rata-rata pasien tersebut memiliki penyakit komorbid. Prevelensi atau angka kejadian pasien hemodialisis yang terinfeksi Covid-19 belum banyak dilaporkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prevalensi pasien hemodialisa yang terinfeksi Covid-19 diwilayah Jakarta Utara yang diwakili oleh RS Islam Jakarta Sukapura dan RSUD Koja. Desian Penelitian adalah deskriptif dengan jenis penelitian survei analitik dan pendekatan retrospektif. Hasil penelitian yang didapatkan dari 90 responden pasien hemodialisis rata-rata berusia 50,5 tahun, yang memiliki penyakit komorbid diabetes melitus sebanyak 35 responden , penyakit jantung (hipertensi) 65 responden, penyakit hepatitis 5 responden, dan penyakit lainnya sebanyak 3 responden. Rata – rata gejala yang muncul pada responden adalah sesak napas  (15,5%), lemas (12,6%), batuk (11,7%), mual (11,2%), dan demam (8,0%). Prevelensi kasus yang cukup tinggi ini membutuhkan strategi untuk tindakan preventif dalam penyebaran kasus covid ini pada pasien hemodialisis yang merupakan populasi rentan terinfeksi.
Aksi “Gulali”(Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan Peer Health Coaching Program : Menuju Desa Siaga Dm Rosaline, Mareta Dea; anggraeni, Diah Tika; Tobing, Duma Lumban; Herlina, Santi; Jadmiko, Arief Wahyudi; Adyani, Sang Ayu Made; Gamal, Lalu Ahmad; Dilaga, Marisa Syavitri; Togatorop, Lina Berliana; Cahyani, Clara Oktalia; Putri, Syakia Retno Aditya Dwi
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 3 (2026): Volume 9 Nomor 3 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i3.25239

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) merupakan ancaman kesehatan global dengan prevalensi yang meningkat signifikan, termasuk di Desa Kuta, Lombok Tengah. Literasi kesehatan dan efikasi diri menjadi hambatan utama dalam manajemen penyakit dan pencegahan komplikasi DM. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat melalui Aksi GULALI (Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus) dengan pendekatan Peer Health Coaching. Peserta berjumlah 55 orang dari Desa Kuta. Intervensi meliputi pelatihan Peer Health Coaching bagi kader dan keluarga yang mencakup tanda gejala DM, komplikasi, aktivitas fisik, pemantauan glukosa darah, kepatuhan terapi farmakologis, serta deteksi dini kaki diabetik menggunakan monofilament test. Selain itu, dilakukan skrining kadar gula darah yang berkolaborasi dengan Puskesmas Kuta. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test yang dianalisis dengan uji Wilcoxon Signed-Rank. Mayoritas responden adalah perempuan (72,7%) dengan rata-rata usia 45,2 tahun. Hasil analisis menunjukkan peningkatan signifikan pada rata-rata skor pengetahuan dari 2,89 (48,15%) menjadi 4,32 (72%) dengan nilai p = 0,001. Proporsi peserta berpengetahuan tinggi meningkat dari 28,3% menjadi 68,3%. Program GULALI efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai pengendalian DM dan perawatan kaki diabetik. Sinergi antara kader, keluarga, dan tenaga kesehatan setempat menjadi kunci keberhasilan program menuju Desa Siaga DM. Kata Kunci: Diabetes Melitus,GULALI, Gerakan Pengendalian Diabetes Melitus,Peer Health Coaching Program.  ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) is a global health threat with significantly increasing prevalence, including in Kuta Village, Central Lombok. Low health literacy and self-efficacy are major barriers to disease management and complication prevention. This community service activity aims to increase public knowledge through the GULALI Program (Diabetes Mellitus Control Movement) using a Peer Health Coaching approach. The participants consisted of 55 individuals from Kuta Village. The intervention included Peer Health Coaching training for cadres and families covering DM symptoms, complications, physical activity, blood glucose monitoring, pharmacological therapy adherence, and early detection of diabetic foot using the monofilament test. Additionally, capillary blood glucose screening was conducted in collaboration with the Kuta Health Center. Evaluation was performed using pre-test and post-test, analyzed with the Wilcoxon Signed-Rank test.The majority of respondents were female (72.7%) with an average age of 45.2 years. The analysis results showed a significant increase in the average knowledge score from 2.89 (48.15%) to 4.32 (72%) with a p-value = 0.001. The proportion of participants with high knowledge increased from 28.3% to 68.3%. The GULALI Program is effective in increasing community knowledge regarding DM control and diabetic foot care. Synergy between cadres, families, and local health workers is the key to the success of the program towards a DM Alert Village. Keywords: Diabetes Mellitus, Family, GULALI (Diabetes Mellitus Control Movement), Health Cadres, Family, Peer Health Coaching.
HUBUNGAN KOMORBIDITAS DENGAN KUALITAS HIDUP & EFIKASI DIRI PADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS Lulu Bastareina; Santi Herlina
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 12 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jikeperawatan.v12i1.2092

Abstract

The majority of patients with chronic renal failure prefer hemodialysis as a replacement therapy for their kidney function. However, hemodialysis therapy can affect aspects of life such as physical and psychological, where one of the factors that can complicate their condition is the presence of comorbidities, namely hypertension and diabetes mellitus. In the end, these comorbidities will affect the quality of life and self-efficacy of chronic renal failure patients. The purpose of this study was to analyze the relationship between comorbidities with quality of life and self-efficacy in patients with chronic renal failure undergoing hemodialysis. The research method used was cross sectional and involved 108 chronic renal failure patients at the Pandaoni Medika Hemodialysis Clinic Jakarta. The sample determination was determined through non-probability sampling technique in the form of purposive sampling. The instruments used in this study were KDQOL-36 to measure quality of life and CKD-SE to measure self-efficacy of chronic renal failure patients. The results showed that there was a significant relationship between comorbidities with quality of life (p-value = 0.003) and self-efficacy (p-value = <0.001). The results of this study are expected to help emphasize the importance of comorbidity management to maintain good quality of life and self-efficacy.
STUDY COMPARATIF KUALITAS HIDUP ANTARA PASIEN HEMODIALISIS DENGAN PASIEN CONTINUOUS AMBULATORY PERITONEAL DIALYSIS (CAPD) Jamila, Ismi Nur; Herlina, Santi
Journal of Islamic Nursing Vol 4 No 2 (2019): Journal Of Islamic Nursing
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (132.083 KB) | DOI: 10.24252/join.v4i2.10025

Abstract

Hemodialisis (HD) dan Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) adalah terapi pengganti ginjal yang perannya sangat penting untuk kelangsungan hidup pasien dengan penyakit ginjal kronis. Kualitas hidup dapat dianggap sebagai indikator keberhasilan suatu terapi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui studi perbandingan kualitas hidup antara pasien yang diberikan hemodialisis dan CAPD. Penelitian ini menggunakan metode cross sectional. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah purposive sampling dengan menghasilkan sampel 25 pasien hemodialisis dan 25 pasien CAPD. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisis dengan pasien yang menjalani terapi CAPD dengan nilai P=0,000. Ditinjau dari kesehatan fisik, kesehatan psikologis, hubungan sosial, perbedaan lingkungan antara pasien hemodialisis dengan CAPD (P=0,000; 0,008; 0,000;0,002). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien CAPD memiliki kualitas hidup yang secara signifikan lebih baik bila dibandingkan dengan pasien hemodialisis.Kata Kunci : Kualitas hidup; Gagal ginjal kronik; Hemodialisis; Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD)