Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Prevalensi Penyakit Skabies di Puskesmas Tamangapa, Puskesmas M, Rasmah; W, Nurelly; Hamriani, Indah; Abdi, Dian Amelia; Roem, Nurul Rumila
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 8 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v8i1.14368

Abstract

Skabies adalah masalah kesehatan masyarakat umum yang mempengaruhi sekitar 300 juta orang di seluruh dunia. Kejadian skabies di negara berkembang termasuk Indonesia terkait dengan kontak fisik antar individu, kepadatan hunian, kemiskinan dengan tingkat kebersihan yang rendah dan keterbatasan akses air bersih memudahkan transmisi dan infentasi tungau skabies. Tujuan penelitian ini Untuk mengetahui prevalensi skabies di Puskesmas Tamangapa, Puskesmas Antang dan Puskesmas Antang Perumnas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif retrospektif study. Penelitian dilakukan dengan cara pengumpulan data berdasarkan data rekam medik penyakit skabies di Puskesmas Tamangapa, Puskesmas Antang dan Puskesmas Antang Perumnas Tahun 2020-2022 di Makassar Sulawesi Selatan. dilaksanakan pada Agustus 2023, pengambilan sampel dilakukan secara total sampling dengan kriteria eksklusi yaitu data rekam medik yang tidak lengkap, diagnosis skabies disertai diagnosis lain dan rujukan. Jumlah pasien skabies Tahun 2020-2020 terbanyak di Puskemas Tamangapa 49 orang. Distribusi berdasarkan usia di Puskesmas Tamangapa yaitu terbanyak usia anak-anak (5-11 Tahun), Puskesmas Antang dan Puskesmas Antang Perumnas terbanyak usia remaja awal (12-17 Tahun). Distribusi berdasarkan Jenis kelamin Puskesmas Tamangapa terbanyak adalah perempuan, sedangkan Puskesmas Antang dan Puskesmas Antang Perumnas terbanyak adalah laki-laki. Distribusi berdasarkan tingkat pendidikan Puskemas Tamangapa dan Puskesmas Antang Perumnas tertinggi yaitu SD sedangkan Puskesmas Antang tertinggi yaitu SD dan SMA. Distribusi berdasarkan terapi yang diberikan Puskesmas Tamangapa dan Puskesmas Antang yaitu antiskabies dan Puskesmas Antang Perumnas yaitu kombinasi antiskabies, antihistamin dan antibiotik.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEJADIAN MELASMA PADA PENYAPU JALAN WANITA USIA 20-50 TAHUN DI MAKASSAR Wana, Nirwana; Abdi, Dian Amelia; Surdam, Zulfiyah; Yuniati, Lisa; Nasaruddin, Hermiaty
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i1.25599

Abstract

Melasma berasal dari bahasa Yunani “melas” yaitu “bintik hitam” yang merupakan penampakan klinis dari melasma. Melasma biasanya ditemukan pada ras kulit gelap tetapi dapat pula ditemukan di berbagai ras pada warga yang tinggal di daerah yang menerima radiasi ultraviolet yang tinggi, yaitu penduduk yang tinggal di wilayah tropis dan paling sering ditemukan pada perempuan dibandingkan laki-laki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian  melasma pada penyapu jalan wanita usia 20-50 tahun di Makassar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni observasional analitik dengan desain studi cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah penyapu jalan wanita usia 20-50 tahun sebanyak 50 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner. Hasil dari penelitin didapatkan bahwa dari 50 penyapu jalan didapatkan 16 orang (32%) menderita melasma, paling banyak pada usia 41-50 (41,7%). Faktor risiko pada sampel didapatkan 27 orang (54%) yang terpapar sinar matahari, 13 orang (26%) yang menggunakan kosmetik, 23 orang (46%) yang menggunakan kontrasepsi hormonal, 2 orang (4%) hamil, dan 6 orang (12%) mengonsumsi obat-obatan. Berdasarkan hasil uji chi-square didapatkan paparan sinar matahari dan penggunaan kosmetik adalah <0.001, kontrasepsi hormonal 0.535, kehamilan 0.542 dan penggunaan obat-obatan 0.365. Kesimpulan dari penelitian ini yakni ada hubungan yang signifikan antara paparan sinar matahari dan kosmetik dengan kejadian melasma sedangkan penggunaan kontrasepsi hormonal, kehamilan, dan penggunaan obat-obatan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian melasma pada penyapu jalan wanita usia 20-50 tahun di Makassar.
Disease Profile of Skin Infection due to Virus toward Children Abdi, Dian Amelia; Muhtar, Muftiar; Anastasia, Rizka; Yuniati, Lisa; Maulani, Destya
Poltekita : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 17 No. 4 (2024): February
Publisher : Poltekkes Kemenkes Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33860/jik.v17i4.3751

Abstract

Skin is a special organ in humans. The skin functions as a defense that is continuously affected by the external environment and always adapts to environmental changes. Infectious skin diseases can be caused by viruses. This study aims to determine the profile of viral skin diseases in children at the Ibnu Sina Teaching Hospital (RSP) Makassar and its network. Descriptive retrospective study using medical records of patients at RSP Ibnu Sina Makassar and its network, namely RSUD Makassar City, RSUD Haji South Sulawesi Province for the period January 2017–December 2022. The reseach results show that there were 113 cases of skin disease caused by viral infections in children who received treatment at RSP Ibnu Sina Makassar and its network with the number of cases being morbilli disease (33.6%), followed by varicella (27.4%), verruca vulgaris (21.2%), HZ (7.1%), HFMD (7.1%), and molluscum kotagiosum (3.5%). Most ages were 12–18 years (35.4%), 6–11 years (32.7%), 2–5 years (14.2%), 13 months–2 years (10.6%), 28 days–12 months (7.1%), and 0–27 days not found. Gender is male (47.8%) and female (52.2%). The length of stay for morbilli is 1-6 days, varicella 3-7 days, HFMD 3 days, molluscum contagiosum 3 days, HZ and verruca vulgaris each not hospitalized. Antiviral therapy was given as much as (38.9%) and antiviral therapy was not given (61.1%). The conclusion is viral skin infections were the most prevalent in children in 2017, dominant in early adolescence and female. The most Morbili were found, with female gender and middle childhood age. Varicella with a maximum length of stay of 7 days. Most were not given antiviral therapy.
Hubungan Foundation (Alas Bedak) Dengan Kejadian Acne Vulgaris Pada Mahasiswi Angkatan 2021 & 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Fadilah, Nur; Wahab, Iswan; L Basri, Resky Pratiwi; Waspodo, Nurelly; Abdi, Dian Amelia
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 1 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Acne vulgaris merupakan kondisi terjadinya inflamasi umum pada unit polisebaseus yang ditandai denga komedo , papul , pustul , nodul. Acne vulgaris biasanya dimulai ketika masa pubertas dan sering terjadi pada remaja hingga dewasa muda. Foundation atau lebih dikenal dengan alas bedak merupakan fondasi bagi keseluruhan tata rias wajah, yang merupakan salah satu bagian terpenting dari make-up. Kandungan yang terdapat dalam foundation seperti bahan lanolin, cetyl alkohol, pewarna, pengawet dan sejenisnya, merupakan bahan bersifat aknegenik dan komedogenik unsur minyak yang terdapat pada lanolin yang terkandung dalam foundation bertindak sebagai minyak alami mengakibatkan produksi sebum sedangkan bahan kimia yang terdapat dalam foundation dapat menyumbat pori-pori dan berakibat timbulnya acne vulgaris.  Tujuan : Untuk mengetahui pengaruh Foundation terhadap kejadian Acne vulgaris pada Mahasiswi Angkatan 2021 &  2022 Fakultas Kedokteran UMI. Metode : Sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling, dimana sampel diambil adalah Mahasiswi Angkatan 2021 & 2022 Fakultas Kedokteran UMI , yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Besar sampel untuk pengambilan sampel dengan metode purposive sampling, dengan rumus slovin. Hasil : Dari jumlah responden sebanyak 221 orang diperoleh hasil terdapat hubungan yang signifikan penggunaan foundation dengan kejadian acne vulgaris Mahasiswi Angkatan 2021 & 2022 Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Kesimpulan : Terdapat hubungan antara penggunaan foundation dengan kejadian acne vulgaris pada mahasiswi angkatan 2021 &  2022 fakultas kedokteran UMI.
Hubungan Kualitas Tidur Dengan Derajat Acne Vulgaris Pada Mahasiswa Preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia Marfia, Marfia; Arfah, Arni Isnaini; Rasfayanah, Rasfayanah; Abdi, Dian Amelia; Mulyadi, Farah Ekawati
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 2 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i2.9976

Abstract

Latar Belakang: Acne vulgaris  merupakan penyakit kulit peradangan kronis dengan pathogenesis kopleks, melibatkan kelenjar sebasea, hiperkeratinisasi folikuler, kolonisasi bakteri propinibacterium acnes pada kulit dan terjadinya penyumbatan folikel. Salah satu faktor yang berperan terhadap terjadinya acne vulgaris adanya meningkat sekresi sebum. Sebum sendiri diproduksi oleh kelenjar sebasea. Sekresi sebum meningkat akibat adanya sekresi hormon androgen yang tinggi. Sintesis hormon androgen dapat ditekan dengan adanya hormone melatonin. Hormon melatonin berfungsi untuk menginduksi tidur dan dapat meningkatkan kualitas tidur. Tujuan: Mengetahui hubungan kualitas tidur dengan acne vulgaris pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia. Metode: Data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah data primer, yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Dari 141 responden yang mengisi kuesioner didapatkan sebagian besar sampel berjenis kelamin perempuan yaitu 106 sampel (75,2%) dan laki-laki sebanyak 35 sampel (24,8%). Dengan kelompok usia terbanyak yaitu usia 18 tahun (37%), dimana sebagian besar sampel memiliki acne ringan yaitu sebanyak 103 sampel (72,5%). Sebanyak 64 responden (45,4%) memiliki kulit berminyak yang sesekali mencuci kulit wajahnya sebanyak 74 responden (52,4%) dan 126 responden (89,3%) sering mengonsumsi makanan berminyak. Sebagian besar sampel memiliki kadar tidur poor sleep yaitu 123 sampel (87,2%). Berdasarkan hasil uji chi square, dimana didapatkan nilai-p sebesar 0,732 (>0,005) yang artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara derajat acne dengan kualitas tidur. Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kualitas tidur dengan kejadian acne vulgaris pada mahasiswa preklinik Fakultas Kedokteran Universitas Muslim Indonesia.
Karakteristik Pasien Dermatitis Kontak (Iritan dan Alergi) di Puskesmas Tarowang Kabupaten Jeneponto Provinsi Sulawesi Selatan Tahun 2022-2023 Angraeni, Andi Gita Sentini; Waspodo, Nurelly N.; Arifin, Arina Fathiyyah; Abdi, Dian Amelia; Yuniati, Lisa
Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi Vol 24, No 3 (2024): Oktober
Publisher : Universitas Batanghari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/jiubj.v24i3.5551

Abstract

Contact dermatitis is a general term for an acute or chronic inflammatory reaction to a substance that stimulates the skin. This disease can cause work discomfort and reduce worker productivity. Women, babies, the elderly, and those with atopic tendencies are more susceptible to irritant contact dermatitis, while allergic contact dermatitis has risks including age, occupation, and a history of atopic dermatitis. The aim of this study was to determine the characteristics of contact dermatitis patients (irritants and allergies) at the Tarowang Community Health Center, Jeneponto Regency in 2022-2023. This research is a quantitative descriptive study with a research sample of all patients diagnosed with contact dermatitis (irritant and allergic) at the Tarowang Community Health Center and 455 samples were obtained from medical record data. The results of this study show that the incidence of DKA is greater than DKI at the Tarowang Community Health Center in 2022-2023 with the general occupational characteristics of DKI patients being housewives while DKA are fishermen in the 26-45 year age category with the highest number of lesion locations on the hands of this type. The most common gender is female and the therapy used in DKI patients is an antihistamine type cetrizine while in DKA it is an antihistamine type mebihydroline napadisylate.
Pelatihan Bantuan Hidup Dasar Bagi Siswa SMA 4 Makassar Gayatri, Sri Wahyuni; Iskandar, Darariani; Safitri, Asrini; Abdi, Dian Amelia; Razak, Kaisar
Jurnal BALIRESO Vol 9, No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33096/balireso.v9i2.334

Abstract

KARAKTERISTIK PASIEN PSORIASIS VULGARIS DI RUMAH SAKIT IBNU SINA PERIODE TAHUN 2022-2024 Ameliah, Nabila; Vitayani, Sri; Adharia, Adharia; Abdi, Dian Amelia; Latief, Rachmat
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54205

Abstract

Psoriasis vulgaris merupakan penyakit inflamasi kronis pada kulit yang ditandai dengan plak eritematosa bersisik dan dapat berlangsung seumur hidup. Penyakit ini tidak hanya menimbulkan keluhan fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup dan kondisi psikososial pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar periode tahun 2022–2024. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh pasien yang terdiagnosis psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar tahun 2022–2024 dengan teknik total sampling. Data diperoleh dari rekam medis pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, status pernikahan, lama perawatan, serta tingkat keparahan atau rekurensi penyakit. Analisis data dilakukan secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 pasien psoriasis vulgaris, sebagian besar berada pada kelompok usia 45–64 tahun (46,7%), berjenis kelamin laki-laki (53,3%), dan berstatus menikah (83,3%). Mayoritas pasien menjalani perawatan kurang dari enam bulan (80%) dan memiliki tingkat keparahan sedang (50%), diikuti oleh kategori berat (40%). Simpulan penelitian ini menunjukkan bahwa pasien psoriasis vulgaris di RS Ibnu Sina Makassar didominasi oleh usia dewasa akhir dengan derajat penyakit sedang hingga berat, sehingga diperlukan deteksi dini dan penatalaksanaan yang komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Karakteristik Pasien Systemic Lupus Erythematosus di Rumah Sakit Ibnu Sina Makassar 2020–2023 Anugrah, Muh. Arya; Nasaruddin, Hermiaty; Gayatri, Sri Wahyuni; Abdi, Dian Amelia; Yunita, Lisa
Borneo Journal of Medical Laboratory Technology Vol. 8 No. 2 (2026): Borneo Journal of Medical Laboratory Technology
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/bjmlt.v8i2.12388

Abstract

Systemic Lupus Erythematosus (SLE) merupakan penyakit autoimun kronis dengan manifestasi klinis dan komplikasi yang beragam, sehingga pemetaan karakteristik pasien diperlukan untuk mendukung deteksi dini dan penatalaksanaan. Penelitian ini bertujuan mengetahui karakteristik pasien SLE di Rumah Sakit Ibnu Sina YW-UMI Makassar periode 2020–2023. Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan data sekunder rekam medis dan teknik total sampling. Sampel penelitian berjumlah 18 pasien yang memenuhi kriteria. Variabel yang dianalisis meliputi jenis kelamin, usia, manifestasi klinis, komplikasi, riwayat terapi, dan riwayat keluarga SLE. Hasil penelitian menunjukkan seluruh pasien berjenis kelamin perempuan (100,00%); kelompok usia terbanyak >40 tahun (66,66%); manifestasi klinis tersering adalah muskuloskeletal (50,0%); komplikasi tersering adalah nefritis lupus (27,77%); terapi yang paling banyak digunakan adalah kombinasi imunosupresan dan kortikosteroid (55,56%); dan mayoritas pasien tidak memiliki riwayat keluarga SLE (66,66%). Disimpulkan bahwa pasien SLE pada periode penelitian didominasi perempuan usia >40 tahun dengan manifestasi muskuloskeletal, komplikasi nefritis lupus, serta penggunaan terapi kombinasi imunosupresan-kortikosteroid.