Perkembangan Program Studi Ilmu Hadis di Indonesia mengalami ekspansi yang pesat, namun menunjukkan ketimpangan struktural yang mencolok: dominasi terjadi pada jenjang sarjana, sementara jenjang magister dan doktor masih sangat terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ketimpangan struktural tersebut, mengidentifikasi faktor penyebabnya, serta mengkaji implikasinya terhadap pengembangan keilmuan hadis. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan yang dipadukan dengan analisis data kelembagaan berbasis PDDikti per 1 Mei 2026. Data diklasifikasikan berdasarkan jenjang pendidikan dan jenis perguruan tinggi, kemudian dianalisis secara deskriptif-analitis dengan menggunakan perspektif pendidikan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan adanya ketimpangan signifikan dengan komposisi 81 program S1, 8 program S2, dan 1 program S3, yang mencerminkan orientasi pengembangan yang lebih bersifat teaching oriented. Kondisi ini berdampak pada terbatasnya kapasitas riset, lemahnya regenerasi akademisi, serta minimnya inovasi metodologis. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan jenjang pascasarjana, pengembangan kultur riset, serta penyusunan roadmap nasional untuk mendorong pengembangan Ilmu Hadis yang lebih seimbang dan berkelanjutan.