Claim Missing Document
Check
Articles

Pengaruh Dosis Pupuk Kandang Ayam dan Jarak Tanam pada Pertumbuhan Kumis Kucing (Orthosiphon aristatus Bl. Miq.) Maulana, Riskan Servira; Sunaryo, Sunaryo; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 9 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/915

Abstract

Kumis kucing adalah tanaman terna tahunan yang dapat dimanfaatkan daun dan batangnya sebagai obat herbal seperti mengobati infeksi kandung kemih, radang ginjal, diuretik, dan lainnya. Permintaan kumis kucing dalam negeri cukup tinggi mencapai 20 ton tahun 2005. Akar yang tumbuh dari stek batang adalah akar serabut yang membutuhkan media tanam gembur. Pupuk kandang ayam mampu memperbaiki sifat fisik tanah dan memiliki kandungan hara N dan P yang tinggi. Pemanenan kumis kucing secara pangkas menyebabkan percabangan, pelebaran tajuk serta shading. Penelitian ini dilakukan untuk mempelajari pengaruh jarak tanam dan dosis pupuk kandang ayam pada pertumbuhan dan hasil kumis kucing. Penelitian dilaksanakan bulan Maret – Mei 2017 di Dadaprejo, Junrejo, Batu. Alat dan bahan yang digunakan meliputi alsintan, kamera, meteran, timbangan dan stek batang kumis kucing serta pupuk kandang ayam. Penelitian dirancang acak kelompok secara faktorial dengan 4 kali pengulangan. Faktor pertama adalah jarak tanam terdiri 2 taraf (J1 : 30 cm x 30 cm); (J2: 40 cm x 40 cm). Faktor kedua adalah dosis pupuk kandang ayam terdiri 4 taraf (D1: 5 t ha­-1); (D2: 10 t ha­-1); (D3: 15 t ha­-1); dan (D4: 20 t ha­-1). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan kumis kucing optimal pada jarak tanam 30 cm x 30 cm dengan dosis pukan ayam 15 t ha-1 sedangkan pada jarak tanam 40 cm x 40 cm dengan dosis pukan ayam 10 t ha-1. Hal ini dikarenakan pada jarak tanam rapat memiliki populasi tinggi sehingga membutuhkan pasokan nutrisi lebih tinggi dibandingkan pada jarak tanam renggang.
Pengaruh Dosis Pupuk NPK pada Pertumbuhan dan Hasil Tiga Varietas Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) Rosi, Akhmad; Roviq, Mochammad; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 6, No 10 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/927

Abstract

Produksi kedelai di Indonesia belum memenuhi kebutuhan dalam negeri, Sehingga pemerintah berupaya meningkatkan produksi kedelai dengan swasembada yang semula ditargetkan tahun 2014 ditunda tahun 2017. Produktivitas kedelai dapat ditingkatkan dengan perbaikan teknik budidaya melalui pemupukan dan penggunaan varietas unggul. Kedelai membutuhkan unsur hara makro seperti N, P, dan K dalam jumlah besar dan dibutuhkan dalam waktu cepat. Jenis pupuk yang sesuai untuk memenuhi kebutuhan hara tersebut adalah pupuk NPK. Pupuk NPK merupakan pupuk majemuk yang mengandung unsur N 16%, P 16% dan K 16%. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mempelajari peningkatan dosis pemupukan NPK terhadap pertumbuhan dan hasil tiga varietas kedelai. Bahan yang digunakan ialah varietas Grobogan, Anjasmoro, Wilis, pupuk NPK (16:16:16), Furadan dan Decis 25 EC. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret sampai Juni 2017 di Agro Techno Park Universitas Brawijaya, Desa Jatikerto Kecamatan Kromengan Malang. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji F taraf 5%. Jika terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjut BNT 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Penambahan dosis pupuk NPK 300 kg.ha-1 pada ketiga varietas kedelai menunjukkan nilai tertinggi pada parameter jumlah buku subur, bobot kering berangkasan, jumlah polong total, polong isi, bobot biji pertanaman, bobot 100 biji, dan hasil panen. Berdasarkan persentase peningkatan hasil panen pada tiap-tiap penambahan dosis pupuk NPK, varietas Anjasmoro menunjukkan respon terbaik dibandingkan varietas Grobogan dan Wilis. Persentase peningkatan hasil panen varietas Anjasmoro memiliki nilai tertinggi senilai 21,78% sedangkan varietas Grobogan dan Wilis hanya meningkat senilai 12,68% dan 14,23%.
Pengaruh Dosis Nitrogen dan Interval Pemberian Air terhadap Pertumbuhan dan Hasil tanaman Sambiloto (Andrographis paniculata Ness.) Larasati, One Grahita Dinar; Armita, Deffi; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 8, No 12 (2020)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1507

Abstract

Sambiloto ialah tumbuhan liar berkhasiat obat. Penggunaan sambiloto sebagai obat tradisional semakin diminati, akan tetapi, hingga sekarang sebagian besar sambiloto masih belum banyak dibudidayakan dan mengandalkan pasokan dari alam. Tanaman obat yang masih mengandalkan pasokan dari alam memerlukan teknik budidaya yang dapat menunjang pertumbuhan tanaman. Teknik budidaya yang perlu diperhatikan diantaranya ialah pemberian pupuk dan air pada tanaman. Kedua hal tersebut sangat penting karena pupuk digunakan sebagai tambahan hara dari luar selain dari media tanam, sedangkan air dapat mempengaruhi fotosintesis dan reaksi kimia pada organ tanaman. Sambiloto merupakan tanaman yang dipanen pada masa vegetatif, sehingga kebutuhan nitrogen harus terpenuhi. Oleh karena itu, dosis nitrogen dan interval pemberian air yang tepat diperlukan untuk mencapai produksi tanaman sambiloto yang optimal. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK), disusun secara faktorial yang terdiri dari 2 faktor. Faktor pertama adalah dosis pupuk N yang terdiri dari 4 taraf yaitu 0 kg N.ha-1 (N0), 46 kg N.ha-1 (N1), 92 kg N.ha-1 (N2) dan 138 kg N.ha-1 (N3). Sedangkan faktor kedua, interval pemberian air yang terdiri dari 3 taraf yaitu P1 = 1 hari sekali; P2 = 2 hari sekali; P3 = 3 hari sekali.  Hasil yang diperoleh menunjukkan interaksi pemupukan Nitrogen 92 kg.ha-1 dengan penyiraman 2 hari sekali dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, bobot segar dan bobot kering tanaman sambiloto. Semakin tinggi dosis pemupukan N dan semakin jarang interval penyiraman maka semakin tinggi kandungan flavonoid dalam tanaman sambiloto. Perlakuan Nitrogen 92 kg.ha-1 dapat meningkatkan kandungan nitrogen dan klorofil dalam tanaman sambiloto.
Perbandingan Pemberian Larutan Nutrisi Gula Pasir, Air Cucian Beras dan Air Kelapa Tua pada Pertumbuhan dan Hasil Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostreatus) Irvania, Widha; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 9, No 7 (2021)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1570

Abstract

Jamur tiram putih (Pleurotus ostreatus) merupakan salah satu jenis jamur pangan yang saat ini cukup populer dan banyak digemari masyarakat karena rasanya yang lezat dan juga penuh kandungan nutrisi, tinggi protein, dan rendah lemak. Kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi jamur berpengaruh positif terhadap permintaan pasokan yang meningkat. Semakin meningkat dalam mengkonsumsi jamur tiram putih, maka perlu adanya upaya untuk meningkatkan produksi dari jamur tiram putih. Peningkatan hasil produksi jamur tiram ialah dengan memberikan senyawa organik tambahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan perbandingan jenis dan komposisi larutan gula pasir, air cucian beras dan air kelapa yang terbaik pada pertumbuhan dan hasil jamur tiram putih. Penelitian dilaksanakan pada bulan September 2018 sampai dengan bulan Januari 2019 di Desa Junggo, Kecamatan Bumiaji, Kabupaten Batu. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri 8 perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Parameter pengamatan adalah pertumbuhan dan hasil. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terhadap perlakuan pemberian larutan nutrisi pada parameter pertumbuhan dan hasil. Penggunaan larutan nutrisi campuran gula pasir dan air kelapa tua (L5) dengan perbandingan komposisi 1:1 atau masing-masing 20 ml/baglog memberikan hasil terbaik pada parameter percepatan panjang miselium jamur tiram putih, pertumbuhan miselium memenuhi baglog, umur muncul pinhead, umur saat panen jamur tiram putih, bobot segar, jumlah tudung jamur tiram putih, dan potensi panen jamur tiram putih.
Pengaruh Jarak Tanam dan Dosis Pemupukan NPK Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Kedelai (Glycine Max (L.) Merrill.) Audina, Diana; Nihayati, Ellis
Jurnal Produksi Tanaman Vol 10, No 3 (2022)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/1631

Abstract

Kedelai merupakan komoditas pertanian penting di Indonesia, karena dapat digunakan sebagai pangan, pakan maupun bahan baku industri. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari dan mendapatkan pengaruh berbagai dosis pupuk NPK dan jarak tanam terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni – September 2021 di Desa Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal, Kota Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini merupakan percobaan faktorial yang dirancang dengan Rancangan Acak Kelompok. Faktor pertama yaitu jarak tanam yang terdiri dari 3 taraf, yaitu J1: 40 x 15 cm, J2: 40 x 25 cm, dan J3: 40 x 35 cm. Faktor kedua yaitu dosis pemupukan NPK yang terdiri atas 4 taraf, yaitu P1: 200 kg ha-1, P2: 250 kg ha-1, P3: 300 kg ha-1, dan P4: 350 kg ha-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi interaksi antara jarak tanam dan pupuk NPK terhadap bobot 100 biji tanaman kedelai. Tidak terdapat pengaruh interaksi yang nyata dari pemberian jarak tanam dan dosis pupuk NPK terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah cabang produktif, jumlah polong total, jumlah polong isi, jumlah polong hampa, bobot 100 biji kering, bobot biji per tanaman, hasil panen per petak, dan hasil panen per hektar. Pada jarak tanam 40 x 35 cm  dan 40 x 25 cm memberikan pengaruh sama terhadap parameter jumlah polong hampa tanaman kedelai. Jarak tanam 40 x 35 cm memberikan hasil paling tinggi pada parameter bobot biji per tanaman, jumlah cabang produktif, jumlah polong total, jumlah polong isi per tanaman dan bobot biji per tanaman.
Studi Potensi Alelopati Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) pada Rumput Teki (Cyperus rotundus) dan Perkecambahan Kedelai (Glycine max) Ellis Nihayati; Anna Satyana Karyawati; Latifah Diah Puspasari; Nur Azizah
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/891

Abstract

Ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) memiliki sifat alelopati yang berasal dari senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit tersebut menghambat pertumbuhan tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Rumput teki ialah gulma yang sering tumbuh pada lahan budidaya tanaman kedelai, sehingga perlu dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi ekstrak rimpang temulawak pada rumput teki dan mendapatkan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak yang dapat menekan pertumbuhan rumput teki tetapi tidak menghambat perkecambahan kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2015 yang terbagi dalam tiga tahap penelitian. Penelitian pertama dilaksanakan di Laboratorium Sumberdaya Lingkungan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Penelitian kedua dan ketiga bertempat di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, masing - masing menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian ini terdiri atas 6 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (konsentrasi 20%), P2 (konsentrasi 40%), P3 (konsentrasi 60%), P4 (konsentrasi 80%), P5 (konsentrasi 100%) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi 20% ekstrak rimpang temulawak mampu menekan pertumbuhan tunas rumput teki. Peningkatan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak hingga 60% mengakibatkan pertumbuhan tanaman rumput teki tertekan. Pengaruh ekstrak rimpang temulawak pada penghambatan perkecambahan terlihat pada perlakuan konsentrasi 60%. Rhizome extract of temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) has residue properties derived from secondary metabolites. The metabolites inhibit the growth of plants, and it can be used as bioherbicide. Cyperus rotundus is a common weed that grows in soybean cultivation and it needs to be controlled. This research aimed to study the potential of temulawak rhizome extract on Cyperus rotundus and get temulawak rhizome extract concentration that can suppress the growth of Cyperus rotundus without inhibiting the germination of soybeans. The experiment was conducted on March to April 2015 and divided into three experiments. The first experiment was conducted in the Laboratory of Environmental Resource using completely randomized design. The second experiment and third experiments placed in Greenhouse UB Faculty of Agriculture, each using completely randomized block design and randomized block design. This study consisted of six treatments that were P0 (control), P1 (20% concentration), P2 (40% concentration), P3 (60% concentration), P4 (80% concentration), P5 (100% concentration) and four replications. The results showed that 20% concentration of temulawak rhizome extract can suppress Cyperus rotundus. Increasing concentration of temulawak rhizome extract up to 60% suppress growth of Cyperus rotundus. Temulawak rhizome extract significantly inhibited germination of soybeans at concentration of 60%.
Inovasi teknologi budidaya bawang dayak (Eleutherine palmifolia Merr) untuk meningkatkan produktivitas dan analisis kelayakan ekonomi Titin Apung Atikah; Tatik Wardiyati; Ellis Nihayati; Saputera Saputera; Doppy Roy Nendissa

Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Yudharta Pasuruan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.678 KB) | DOI: 10.35891/agx.v12i1.2331

Abstract

Dayak onions (Eleutherine palmifolia Merr) are a potential commodity that has many health benefits, so it has a high economic value. However, this Dayak onion plant has not received much attention in cultiva¬tion technology, especially fertilization. So far, this onion has grown relying on nature, while the land has diminished its fertility. This study tested a combination of chicken manure and NPK fertilizer to obtain the optimal composition to increase the productivity of Dayak onions. This study used a factorial randomized block design with 3 replications. The first factor consists of the treatment of chicken manure(O1 = control, O2 = 10 ton.ha-1 and O3 = 20 ton.ha-1). The second factor consists of NPK fertilizer(K1 = control, K2 = 100 kg.ha-1 Urea + 150 kg.ha-1 SP 36 + 200 kg.ha-1 KCl, K3 = 200 kg.ha-1Urea + 150 kg.ha-1 SP 36 + 200 kg.ha-1 KCl, and K4 = 300 kg.ha-1 Urea + 150 kg.ha-1 SP 36 + 200 kg.ha-1 KCl). The results showed that there was an interaction effect between the composition of chicken manure and NPK on the number of leaves, fresh weight of tubers, and dry weight of tubers per clump but did not affect the growth of plant height. The yield of Dayak bulbs of 62.60 g / clump was obtained in the composition of chicken manure of 20 tonnes.ha-1 with an NPK of 200 kg.ha-1 Urea + 150 kg.ha-1SP 36 + 200 kg.ha-1 KCl. From an economic perspective, the composition is very efficient and feasible, which is indicated by R / C> 1, namely 5.75, which means that with a certain unit cost, it can get 5.75 times the revenue.
Nitrogen Sources Take Roles on Different Growth Balance of Red Beet (Beta vulgaris) Mochammad Roviq; Ellis Nihayati; Sitawati Sitawati; Soemarno Soemarno
AGRIVITA, Journal of Agricultural Science Vol 44, No 3 (2022)
Publisher : Faculty of Agriculture University of Brawijaya in collaboration with PERAGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17503/agrivita.v41i0.3870

Abstract

One aim of productivity improvement on red beet was to restrain over-reducing the betacyanin as a secondary metabolite.  Different nitrogen (N) sources were projected to affect growth, yield, and both primary and secondary plant metabolites.  The research was carried out to find the effect of different sources and dosages of N on the production improvement and betacyanin.  The N sources consisted of 5Ca(NO3)2NH4NO310H2O, NH4NO3NH4H2P04KCI, NO3H2P04KCI, CO(NH2)2, and (NH4)2SO4 with the N dosages of 75, 150, 225 kg N/ha and without N treatment as a control.  The results showed that the enhancement of N dosages increased higher beet root fresh weight (BRFW) for about 42-50% than control.  The 5Ca(NO3)2NH4NO310H2O and CO(NH2)2 increased BRFW and were higher than other N sources.  The said N sources also contributed to 36% and 25% higher total betacyanin (BT) than those of (NH4)2SO4 and control, respectively.  BRFW had the similar with BT, yet opposite patterns with betacyanin content (BC). The increase N dosages from any source diminish 20-33% BC, which was correlated with the increase of BRFW and BT following the sigmoidal pattern based on the logistics model during the growing period.
Pengaruh Pemberian Berbagai Konsentrasi Garam dan Frekuensi Penyiraman terhadap Pertumbuhan, Hasil, dan Kadar Flavonoid pada Tanaman Sweet Basil (Ocimum basilicum) Agusti Ardiansyah Saputro; Deffi Armita; Ellis Nihayati
Agrotechnology Research Journal Vol 6, No 2 (2022): Agrotechnology Research Journal
Publisher : Perkumpulan Agroteknologi/Agroekoteknologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.993 KB) | DOI: 10.20961/agrotechresj.v6i2.65083

Abstract

Salt stress and infrequent watering application obstruct sweet basil growth and yield. But both condition can increase flavonoid production. The aim of this research is to get tolerant level of sweet basil plant on various salt concentration and watering frequency with several parameters consists of growth, yields, and flavonoid contents. The research was conducted from October 2021-January 2022 at the greenhouse of Petahunan Village, Pasuruan City. The method used was a factorial of randomized block design with various watering frequency consisist of once a day (W0), once on two days (W1), and once on three days (W2). Various salt concentration consists of 0 ppm (N0), 1000 ppm (N1), 2000 ppm (N2), 3000 ppm (N3), and 4000 ppm (N4). There is an interaction between saline medium and infrequence watering, whenever with more watering can decrease saline effect on plant primary metabolism. Interaction betweet saline medium and infrequence watering inhibit plant vegetative growth. But saline that interaction can improve sweet basil yields such us flowers, seeds, and also flavonoid contents on leaves. The research conclusion is that interaction between saline medium and infrequence watering obstructed vegetative growth, but increase  yields and flavonoid contents.
Yield and Its Components of Shallot (Allium ascalonicum L.) Influenced by the Application of Amino Acid Fertilizer And Triacontanol Putra, Anggara Ista; Waluyo, Budi; Nihayati, Ellis
Research Journal of Life Science Vol 9, No 1 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.rjls.2022.009.01.5

Abstract

Shallot are one of the agricultural products with a relatively high demand for the consumer market in Indonesia, but the productivity figure is relatively low compared to other countries (FAO, 2021). This study seeks to explore the effectiveness of the application of amino acid fertilizer and triacontanol in increasing the yield and yield components of shallot. The study was conducted in Karangploso District, Malang, from April to August 2021. In a randomized block design, this study used two factors: amino acid fertilizers (A1: 1 g plot-1; A2: g plot-1; A3: 5 g plot-1) and triacontanol (T0: 0 ppm; T1: 5ppm; T2: 10 ppm). Each combination was repeated three times. As a result, amino acid fertilizers can significantly affect the number of shallot bulbs, yields per hectare, economic weight, and economical weight loss. A significant effect was seen in the application of triacontanol on shallot yields per hectare and economic weight. The interaction of characters of bulb length was shown in the combination of 5-10 ppm triacontanol with amino acid fertilizer. The best response ranged from 10.64% to 11.67% in fertilizer with 5 g plot-1 of an amino acid fertilizer. As the doses of amino acid fertilizer in combination with triacontanol increased, the total bulb fresh weight grew as well, in which 5 g plot-1 of amino acid fertilizer could increase the weight by 45,23-45,43 g clump-1, which was greater than the response of the 1 g plot-1 amino acid fertilizer combination.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Agnestika, Intan Kartika Agnestika, Intan Kartika Agusti Ardiansyah Saputro Agwi, Szatayu Nabila Agwi, Szatayu Nabila Alwan, Nur Ibnu Andi Kurniawan Andini, Irmalia Mirza Andini, Irmalia Mirza Anna Satyana Karyawati Ariffin, Arifin ARIS BUDI UTOMO, ARIS BUDI Armita, Deffi Armita, Deffi Arry Supriyanto Audina, Diana Azizah, Nur Azizah, Nur Barunawati, Nunun Budi Waluyo Cahyo Prayogo, Cahyo Derantika, Clarista Diah Latifah DJUMALI DJUMALI, DJUMALI Djumali, Djumali Doppy Roy Nendissa Eko Widaryanto Hariadi, Nurul Hazrinah, Novia Dwi Hazrinah, Novia Dwi Hendardi, Bramantyo Hendardi, Bramantyo Iman Sudrajat Irvania, Widha Kalsumy, Umi Kalsumy, Umi Kartikasari, Asti Kartikasari, Asti Karyawati, Anna Satyana  Koesriharti Koesriharti Larasati, One Grahita Dinar Latifah Diah Puspasari Lestari, Aryani Trie Lestari, Aryani Trie Lilik Setyobudi Lintang, Cempaka Widyas Lintang, Cempaka Widyas Lydianthy, Holanda Lydianthy, Holanda M. Dawam Maghfoer, M. Dawam M. Roviq, M. Roviq Maghfirah Maghfirah Maghfirah, Maghfirah Maghfoer, Moch Dawam Maulana, Riskan Servira Maulana, Riskan Servira Melati, Agatha Indah Moch. Dawam Maghfoer Mochammad Roviq Mudji Santoso Murdiono, Wisnu Eko Murdiono, Wisnu Eko Mutma'inin, Nikmatul Neilla Nurilla Nunun Barunawati, Nunun Nur Azizah Nur Azizah Nuria, Grace Ajeng Nuria, Grace Ajeng Nurilla, Neilla Nurtalitha, Saviera Hayu Nurtalitha, Saviera Hayu Nurul Hariadi Nurul Jannah, Risda Felia Nurul Jannah, Risda Felia Octavina, Dwita Risti Octavina, Dwita Risti Parastaka, Ghanousha Parastaka, Ghanousha Pratama, Faris Fikardian Pratama, Faris Fikardian Purnamaningrum, Aisyah Purnamaningrum, Aisyah Puspasari, Latifah Diah Putra, Anggara Ista Rahayu, Aldila Putri Ramadhan, Roni Ratri, Yonita Cahya Ratri, Yonita Cahya Rezyawaty, Mariana Rezyawaty, Mariana Rizal, Syamsi Rizal, Syamsi Rizqullah, Dellia Rezha Bayu Rosi, Akhmad Rosi, Akhmad Rosida, Anisa Roviq, Muhammad Rulliyah, Binti Rulliyah, Binti Rurini Retnowati Sabrina, Aulia Ilma Mirza Sabrina, Aulia Ilma Mirza Saitama, Akbar Salsabila, Shofa Santoso, Mudji Saputera Sari, Enggis Purwita Sari, Enggis Purwita Setyobudi, Lilik Sholihah, Puri Kholifatush Sholihah, Puri Kholifatush Simorangkir, Christina Anzelia Simorangkir, Christina Anzelia Sitawati Sitawati Soemarno Soemarno Sudrajat, Iman Sumarno . Sunaryo Sunaryo Sunaryo, Sunaryo Supriyanto, Arry Suryaatmaja, Bagas Heri Sutikno, Handy Budiman Swasono, Fris Guinnea Swasono, Fris Guinnea Syukur Makmur Sitompul, Syukur Makmur Taihuttu, Hermina Neltje Tatik Wardiyati Tatik Wardiyati Titiek Islami Titin Apung, Atikah Tristinandi, Putri Yunia Rahma Utami, Christa Dyah Utami, Desy Fitri Fajar Utami, Desy Fitri Fajar Utami, Erinda Patmawati Putri Utami, Erinda Patmawati Putri Yogi Sugito Yuniarachma, Alifia Yuniarachma, Alifia Zaenal Kusuma