Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH KETINGGIAN TEMPAT DAN APLIKASI BORON TERHADAP FERTILITAS POLEN DAN HASIL GANDUM (Triticum aestivum L.) Pratama, Faris Fikardian; Nihayati, Ellis; Barunawati, Nunun
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 2 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Suhu merupakan satu dari syarat tumbuh yang mempengaruhi produksi biji gandum di Indonesia tidak terkecuali galur gandum Maros 7 (M7). Galur M7 memiliki umur panen yang pendek dan viabilitas biji yang tinggi. Produksi biji yang optimal diperoleh dengan menanam gandum di dataran tinggi lebih dari 1000 mdpl khususnya di Indonesia. sementara itu, penambahan unsur hara mikro seperti boron berfungsi meningkatkan produksi biji gandum dengan mempengaruhi perkecambahan tabung polen. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan hasil biji yang optimal pada ketinggian tempat dan aplikkasi boron yang tepat. Penelitian dilaksanakan mulai bulan Desember 2014 sampai April 2015 di dua lokasi, pertama di kebun Percobaan FP-UB Cangar dan kedua di Desa Dadaprejo, Kecamatan Junrejo Kota Batu. Penelitian menggunakan rancangan tersarang (Nested Design) dengan 2 faktor yang diulang 4 kali. Faktor pertama terdiri dari 2 level ketinggian tempat meliputi dataran tinggi 1.650 mdpl dan dataran medium 700 mdpl. Faktor kedua terdiri dari 4 taraf yang meliputi tanpa aplikasi boron, 0,23 mM, 0,49 mM dan 1 mM. Hasil penelitian menunjukkan adanya interaksi nyata antara perlakuan ketinggian tempat dengan aplikasi boron terhadap pengamatan hasil yaitu pada parameter bobot 100. Selain itu, aplikasi boron di dataran tinggi 1.650 mdpl dan dataran medium 700 mdpl menunjukkan pengaruh nyata terhadap pengamatan fase generatif dan hasil  pada taraf konsentrasi 0,49 mM dan 1 mM.
PEMBERIAN PUPUK URIN KELINCI (Leporidae) DAN KNO3 PADA PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN STROBERI (Fragaria sp.) Simorangkir, Christina Anzelia; Supriyanto, Arry; Murdiono, Wisnu Eko; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 5 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu yang mengakibatkan hasil produksi rendah adalah kurang tersedia unsur hara N bagi tanaman stroberi. Untuk menambah ketersediaan N tanaman stroberi, maka perlu ditambahkan unsur N. N organik pada urin kelinci memiliki  N dan mukosa yang tinggi dibanding dengan hewan lain dapat mengikat unsur hara tersedia. Oleh karena itu N organik tidak langsung tersedia bagi tanaman, maka perlu ditambah pupuk N anorganik yaitu pupuk KNO3, dimana KNO3 memiliki N anorganik yang tersedia dalam bentuk NO3- dan K yang lebih cepat tersedia dalam bentuk K2O. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial  (RAKF) yang terdiri dari 12 perlakuan, dan diulang 3 kali sehingga jumlah tanaman diperoleh 432 tanaman. Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Percobaan Sumber Brantas, Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika  Kota Batu. Ketinggian tempat penelitian 1350-1400 meter di atas permukaaan laut. Penelitian dimulai dari bulan Februari 2015 - Mei 2015. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk urin kelinci dan KNO3 memberikan respon pertumbuhan dan hasil yang terhadap jumlah daun, total bunga, jumlah buah, panjang buah, diameter buah, kadar gula buah, dan hasil buah.
PENGARUH PERBEDAAN POLA TANAM TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TEMULAWAK (Curcuma xanthorizha Roxb.) PADA POLA TANAM TUMPANGSARI DENGAN UBI JALAR (Ipomoea batatas L.) Agwi, Szatayu Nabila; Barunawati, Nunun; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 7 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya minat petani untuk menanam temulawak disebabkan temulawak memiliki umur panen yang panjang dan jarak tanam yang lebar sehingga temulawak tidak ditanam sebagai tanaman utama. Bagi petani lebih menguntungkan menanam tanaman pangan seperti ubi jalar  sehingga penerapan pola tanam tumpangsari temulawak dengan ubi jalar dapat dijadikan solusi untuk masalah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan pola tanam yang terbaik dan paling menguntungkan dalam sistem tumpangsari antara temulawak dengan ubi jalar. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari hingga September 2015 di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Desa Jatikerto Kabupaten Malang, menggunakan Rancangan Acak Kelompok dengan menggunakan 6 perlakuan pola tanam, yaitu: P1= row cropping temulawak - ubi jalar, P2= strip cropping temulawak - ubi jalar, P3= row relay cropping temulawak - ubi jalar, P4= strip relay cropping temulawak - ubi jalar, P5 = row relay cropping ubi jalar - temulawak dan P6= strip relay cropping ubi jalar-temulawak dan diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan pola tanam pada sistem tumpangsari temulawak dan ubi jalar memberikan pengaruh pertumbuhan dan hasil temulawak dan ubi jalar. Perlakuan pola tanam row relay dan strip relay (T-UJ) lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya pada seluruh parameter pengamatan temulawak. Perlakuan pola tanam strip relay (T-UJ) meningkatkan hasil temulawak sebesar 13.7% dibandingkan pola tanam row relay (T-UJ). Nilai R/C rasio pola tanam strip relay (T-UJ) memiliki pendapatan tertinggi pada temulawak dengan nilai 2.92.
SIMULASI PANJANG GELOMBANG CAHAYA TERHADAP KUALITAS TANAMAN KRISAN (Chrysanthemum morifolium) POTONG Agnestika, Intan Kartika; Nihayati, Ellis; Sitawati, Sitawati
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 7 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring dengan meningkatnya permintaan krisan potong tiap tahun, diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan kualitas krisan. Penambahan cahaya dengan kualitas yang berbeda akan mempengaruhi kualitas krisan potong karena memiliki panjang gelombang tertentu yang dapat diserap oleh tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh berbagai panjang gelombang cahaya terhadap kualitas krisan potong dan mengetahui panjang gelombang cahaya yang sesuai untuk meningkatkan kualitas krisan potong. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juli 2015 di Ds. Punten, Kec. Bumiaji, Kota Batu (112̊17’10,90’’-122̊57’11’’ BT dan 7̊44’55,11’’-8̊26’35,45 LS). Penelitian menggunakan Rancangan Tersarang dengan 2 faktor dan 3 kali ulangan. Faktor pertama adalah simulasi panjang gelombang cahaya yang diaplikasikan dengan warna yang berbeda cahaya, dan faktor kedua adalah varietas krisan potong. Pemberian panjang gelombang cahaya yang berbeda pada tiga varietas krisan potong memberikan interaksi terhadap tinggi tanaman dan diameter bunga. Pemberian panjang gelombang cahaya yang berbeda pada tiga varietas krisan potong memberikan interaksi terhadap tinggi tanaman dan diameter bunga. Pemberian cahaya merah menghasilkan panjang tangkai lebih panjang (78.79 cm) dan lama kesegaran bunga lebih lama (15.50 hsp), sedangkan pemberian cahaya biru menghasilkan waktu inisiasi bunga (47,08 hst) dan waktu coloring (83,42 hst) lebih cepat. Varietas Fiji putih memiliki kesegaran bunga yang lebih lama dibandingkan varietas Fiji kuning dan Fiji pink. Varietas Fiji putih, Fiji kuning, dan Fiji pink menghasilkan kualitas bunga dengan kelas mutu AA apabila ditanam pada lingkungan yang diberi lampu dengan plastik merah dengan panjang gelombang 503.15-638.60 nm.
PENGARUH PEMBERIAN BEBERAPA KONSENTRASI KINETIN TERHADAP INDUKSI TUNAS AKSILAR TANAMAN KAKAO (Theobroma cacao L.) SECARA IN VITRO Rizal, Syamsi; Murdiono, Wisnu Eko; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 9 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Usaha paling  tepat dalam penyediaan bibit kakao yang berkualitas dan dapat diproduksi dalam jangka waktu dekat adalah dengan perbanyakan bahan tanam bibit kakao menggunakan bagian tanaman yang paling muda dengan teknologi kultur jaringan dengan penambahan hormon kinetin. Tujuan penelitian ini ialah Mempelajari pengaruh pemberian beberapa konsentrasi zat pengatur tumbuh kinetin terhadap pertumbuhan tunas aksilar kakao (Theobroma cacao L.). Rancangan percobaan ialah Rancangan Acak Lengkap yang terdiri dari 7 macam perlakuan dan diulang 6 kali sehingga didapat 42 satuan percobaan. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang pada bulan Mei-September 2015. Perlakuan 2 ppm memberikan hasil terbaik pada parameter jumlah eksplan bertunas dengan rata rata sebesar 0,833 serta memberikan hasil terbaik juga pada parameter bobot basah dan bobot kering dengan rata rata sebesar 0,609 gram dan 0,3348 gram. Namun pada parameter pengamatan jumlah eksplan berkalus, perlakuan penambahan kinetin 1.5 ppm memberikan hasil terbaik yaitu sebesar 0,625. Daya tumbuh tunas terbanyak dihasilkan pada perlakuan dengan penambahan kinetin 2 ppm.
IDENTIFIKASI KERAGAMAN BUAH HASIL PERSILANGAN MANGGA ARUMANIS 143 DENGAN PODANG URANG Sudrajat, Iman; Nihayati, Ellis; Wardiyati, Tatik
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 10 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mangga Arumanis 143 berasal dari daerah Probolinggo, Jawa Timur. Mangga arumanis 143 merupakan salah satu kultivar yang cukup potensial untuk dikembangkan sebagai mangga unggulan, karena rasa yang disukai konsumen (Rebin et al., 2001). Mangga Podang Urang merupakan salah satu produk buah unggulan lokal dari Kabupaten Kediri, Jawa Timur. Kekhasan yang dimiliki oleh mangga Podang Urang terutama adalah pada penampilan warna kulit buah merah jingga menarik, daging buah jingga, bentuk buah cantik. (Baswarsiati dan Yuniarti, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk Mempelajari buah hasil persilangan mangga varietas Arumanis-143 dengan varietas Podang Urang adalah untuk  mengetahui  keragaman morfologi dan organoleptik. Penelitian dilaksanakan di Unit Pelaksanaan Teknis (UPT) Pengembangan Benih Hortikultura yang beralamat di jalan Urip Sumoharjo no. 33, Pohjentrek, Kota Pasuruan,  Provinsi Jawa Timur, dan di laboratorium fisiologi tumbuhan fakultas pertanian universitas Brawijaya. Penelitian dilakukan pada bulan Agusutus 2013 sampai  Februari 2014. Bahan yang digunakan dalam penelitian adalah pohon mangga berusia tujuh tahun yang telah dipanen dari hasil persilangan varietas Arumanis-143 x Podang urang dan Podang Urang x Arumanis-143. Jumlah pohon sebanyak 70 pohon dengan rincian persilangan Podang Urang x Arumanis-143 berjumlah 25 pohon, persilangan Arumanis-143 x Podang Urang berjumlah 43 pohon, pohon induk varietas Arumanis-143 berjumlah satu pohon, dan pohon induk mangga varietas Podang Urang berjumlah satu pohon. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode observasi dengan pengumpulan data pada pengamatan langsung melalui karakterisasi, dan uji organoleptik dengan pengumpulan data yang didapat dari beberapa panelis.
PENGARUH KONSENTRASI NAA (Naphthaleneacetic Acid) DAN BAP (6-Benzyl Amino Purine) PADA PEMBENTUKAN PLANLET ANTHURIUM GELOMBANG CINTA (Anthurium plowmanii) SECARA IN VITRO Lestari, Aryani Trie; Islami, Titiek; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 5 No. 12 (2017)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Anthurium gelombang cinta (Anthurium plowmanii) merupakan salah satu tanaman yang pernah menjadi primadona dan bernilai tinggi pada masanya dalam dunia tanaman hias. Ekspor tanaman Anthurium di Indonesia mengalami peningkatan mencapai 1.112.724 ton pada tahun 2004 dan meningkat menjadi 2.615.999 ton pada tahun 2005, sedangkan perbanyakan anthurium gelombang cinta masih secara konvensional dengan menggunakan biji dan pemisahan anakan. Perbanyakan secara in vitro menggunakan eksplan tunas hasil induksi dari biji Anthurium gelombang cinta diharapkan dapat mempersingkat waktu perbanyakan tanaman. Zat Pengatur Tumbuh yang diberikan diharapkan dapat menumbuhkan eksplan tunas Anthurium gelombang cinta menjadi planlet. Tujuan penelitian ini ialah untuk mempelajari dan mendapatkan  konsentrasi NAA dan BAP secara tunggal atau kombinasi pada pembentukan plantlet Anthurium gelombang cinta secara in vitro. Penelitian dilaksanakaan di UPT Kultur Jaringan Gedung Budidaya Pertanian, Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya pada bulan Agustus-Desember 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 16 perlakuan NAA dan BAP. Setiap perlakuan diulang sebanyak tiga kali sehingga diperoleh 48 satuan percobaan. Setiap perlakuan/ulangan terdiri dari dua botol kultur sehingga totalnya ialah 96 botol. Data pengamatan yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Analisis of variance (Anova). Apabila hasil pengujian diperoleh hasil yang perbedaan nyata antar perlakuan maka dilanjutkan dengan uji BNT 5%. Hasil penelitian dapat diketahui bahwa perlakuan dengan pemberian 0,5 ppm NAA (naphtalene acetic acid) menunjukkan hasil terbaik untuk pembentukan planlet Anthurium gelombang cinta yang ditunjukkan dengan adanya 2,00 daun; 2,00 tunas; 2,17 cm panjang akar; 20,17 jumlah akar dan 5,03 cm panjang planlet pada akhir pengamatan.
PERTUMBUHAN TEMULAWAK (Curcuma xanthorizha Roxb.) UB 2 DI MUSIM KEMARAU PADA BERBAGAI KOMBINASI PUPUK EGC (ENRICHED GRANULAR COMPOST ) DAN N K Kartikasari, Asti; Azizah, Nur; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 1 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temulawak merupakan tanaman asli Indonesia yang banyak digunkan sebagai bahan baku obat tradisonal. Salah satu varietas yang telah teruji ialah temulawak UB 2. Pertumbuhan temulawak dipengaruhi musim sehingga ketersediannya sebagai bahan baku obat tergantung pada musim. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan tanaman telawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) yang ditanam di musim kemarau melalui penambahan beberapa dosis pupuk organik dan anorganik. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April - Agustus 2015 di kebun percobaan Universitas Brawijaya Jatikerto, Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Kelompok dengan 6 perlakuan beberapa dosis pupuk EGC dan NK, yaitu: P1= EGC 0 + N dan K 100% (15 g.tan-1;5 g.tan-1;), P2= EGC 20% (60 g.tan-1;) + N dan K 80% (12 g.tan-1;4 g.tan-1;), P3= EGC 40% (120 g.tan-1) + N dan K 60% (9 g.tan-1; 3 g.tan-1), P4= EGC 60% (180 g.tan-1) + N dan K 40% (6 g.tan-1;2 g.tan-1), P5 = EGC 80% (240 g.tan-1) + N dan K(3 g.tan-1;1 g.tan-1) dan P6= EGC 100% (300 g.tan-1) + N dan K 0 diulang sebanyak 4 kali. Hasil penelitian menunjukkan pemberian beberapa dosis pupuk EGC dan NK memberikan pengaruh nyata secara positif terhadap pertumbuhan panjang tanaman, jumlah daun, luas daun, kandungan klorofil, bobot segar total tanaman dan bobot kering total tanaman. Perlakuan pupuk EGC dan NK dengan penambahan 20% EGC + 80% NK memiliki panjang tanaman dan luas daun tanaman lebih tinggi daripada perlakuan lain, sedangkan perlakuan 100% NK dan tanpa penambahan EGC  memiliki jumlah daun, bobot segar dan bobot kering total tanaman.
PENGARUH PERBEDAAN POLA TANAM SISTEM TUMPANGSARI PADA PERTUMBUHAN KEDELAI (Glycine max (L.) Merrill) Rulliyah, Binti; Armita, Deffi; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 3 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) merrill) ialah komoditas pangan ketiga setelah padi dan jagung. Tanaman kedelai memiliki jarak tanam sempit yaitu 20 x 30 cm, 30 x 30 cm atau 40 x 10 cm serta memiliki umur yang relatif pendek yaitu 85 – 95 hari setelah tanam (HST). Disamping itu, pada akar tanaman kedelai terdapat bintil akar yang merupakan simbiosis antara akar dengan bakteri Rhizobium japanicum yang mampu menyumbangkan N dalam bentuk asam amino. Bintil akar berfungsi untuk meningkatkan pertumbuhan dan hasil tanaman kedelai, selain itu juga dapat menyuburkan tanah karena penyediaan unsur nitrogen ke tanah dan meningkatkan N tanaman (%) yang ditanam bersamaan dengan tanaman kedelai. Sebaliknya, temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) ialah tanaman yang memiliki jarak tanam lebar serta memiliki umur panjang yaitu 10 – 12 bulan. Kelebihan pada tanaman kedelai serta kekurangan pada tanaman temulawak merupakan peluang untuk membudidayakan keduanya secara tumpangsari, sehingga mampu meningkatkan efisiensi lahan dan meningkatkan keuntungan petani. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2015 sampai Juni 2016 di Kebun Percobaan, Jatikerto, Kromengan, Malang. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok dan data dianalisis menggunakan analisis ragam (ANOVA), apabila terdapat pengaruh nyata dilanjutkan dengan uji lanjut BNT (Beda Nyata Terkecil) pada taraf nyata 5%. Hasil penelitian menunjukkan, tanaman kedelai dengan pola tanam T6 (strip relay (K–T)) memiliki tinggi tanaman, luas daun dan berat brangkasan yang lebih tinggi dari pola tanam sistem tumpangsari yang lain.
PENGARUH KONSENTRASI ASAM 2,4-DIKLOROFENOKSIASETAT TERHADAP PERTUMBUHAN DUA KLON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SECARA IN VITRO Ratri, Yonita Cahya; Roviq, Mochammad; Nihayati, Ellis
Produksi Tanaman Vol. 6 No. 6 (2018)
Publisher : Jurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Temulawak adalah tanaman obat berimpang asli Indonesia yang memiliki khasiat sebagai obat terutama terhadap penyakit liverkarenatemulawak memiliki kandungan kurkumin dan xanthorrizol. Temulawak klon Jember (UB2) dan Temulawak klon Pasuruan (UB3) merupakan dua klon unggul yang memiliki keunggulan dari segi bobot rimpang. Asam 2,4-Diklorofenoksiasetat (2,4-D)merupakan golongan auksin sintetik yang dapat digunakan dalam perbanyakan in vitro namun juga memiliki fungsi sebagai herbisida. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh berbagai taraf konsentrasi 2,4-D terhadap pertumbuhan dua klon temulawak. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan November 2015 hingga Desember 2016 di Laboratorium Kultur JaringanJurusan Budidaya Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 2,4-D dengan konsentrasi yang tinggi terbukti memberikan pengaruh dalam menghambat pertumbuhan kedua klon temulawak.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Agnestika, Intan Kartika Agnestika, Intan Kartika Agusti Ardiansyah Saputro Agwi, Szatayu Nabila Agwi, Szatayu Nabila Alwan, Nur Ibnu Andi Kurniawan Andini, Irmalia Mirza Andini, Irmalia Mirza Anna Satyana Karyawati Ariffin, Arifin ARIS BUDI UTOMO, ARIS BUDI Armita, Deffi Armita, Deffi Arry Supriyanto Audina, Diana Azizah, Nur Azizah, Nur Barunawati, Nunun Budi Waluyo Cahyo Prayogo, Cahyo Derantika, Clarista Diah Latifah DJUMALI DJUMALI, DJUMALI Djumali, Djumali Doppy Roy Nendissa Eko Widaryanto Hariadi, Nurul Hazrinah, Novia Dwi Hazrinah, Novia Dwi Hendardi, Bramantyo Hendardi, Bramantyo Iman Sudrajat Irvania, Widha Kalsumy, Umi Kalsumy, Umi Kartikasari, Asti Kartikasari, Asti Karyawati, Anna Satyana  Koesriharti Koesriharti Larasati, One Grahita Dinar Latifah Diah Puspasari Lestari, Aryani Trie Lestari, Aryani Trie Lilik Setyobudi Lintang, Cempaka Widyas Lintang, Cempaka Widyas Lydianthy, Holanda Lydianthy, Holanda M. Dawam Maghfoer, M. Dawam M. Roviq, M. Roviq Maghfirah Maghfirah Maghfirah, Maghfirah Maghfoer, Moch Dawam Maulana, Riskan Servira Maulana, Riskan Servira Melati, Agatha Indah Moch. Dawam Maghfoer Mochammad Roviq Mudji Santoso Murdiono, Wisnu Eko Murdiono, Wisnu Eko Neilla Nurilla Nunun Barunawati, Nunun Nur Azizah Nur Azizah Nuria, Grace Ajeng Nuria, Grace Ajeng Nurilla, Neilla Nurtalitha, Saviera Hayu Nurtalitha, Saviera Hayu Nurul Hariadi Nurul Jannah, Risda Felia Nurul Jannah, Risda Felia Octavina, Dwita Risti Octavina, Dwita Risti Parastaka, Ghanousha Parastaka, Ghanousha Pratama, Faris Fikardian Pratama, Faris Fikardian Purnamaningrum, Aisyah Purnamaningrum, Aisyah Puspasari, Latifah Diah Putra, Anggara Ista Rahayu, Aldila Putri Ramadhan, Roni Ratri, Yonita Cahya Ratri, Yonita Cahya Rezyawaty, Mariana Rezyawaty, Mariana Rizal, Syamsi Rizal, Syamsi Rizqullah, Dellia Rezha Bayu Rosi, Akhmad Rosi, Akhmad Rosida, Anisa Roviq, Muhammad Rulliyah, Binti Rulliyah, Binti Rurini Retnowati Sabrina, Aulia Ilma Mirza Sabrina, Aulia Ilma Mirza Saitama, Akbar Salsabila, Shofa Santoso, Mudji Saputera Sari, Enggis Purwita Sari, Enggis Purwita Setyobudi, Lilik Sholihah, Puri Kholifatush Sholihah, Puri Kholifatush Simorangkir, Christina Anzelia Simorangkir, Christina Anzelia Sitawati Sitawati Soemarno Soemarno Sudrajat, Iman Sumarno . Sunaryo Sunaryo Sunaryo, Sunaryo Supriyanto, Arry Suryaatmaja, Bagas Heri Sutikno, Handy Budiman Swasono, Fris Guinnea Swasono, Fris Guinnea Syukur Makmur Sitompul, Syukur Makmur Taihuttu, Hermina Neltje Tatik Wardiyati Tatik Wardiyati Titiek Islami Titin Apung, Atikah Tristinandi, Putri Yunia Rahma Utami, Christa Dyah Utami, Desy Fitri Fajar Utami, Desy Fitri Fajar Utami, Erinda Patmawati Putri Utami, Erinda Patmawati Putri Yogi Sugito Yuniarachma, Alifia Yuniarachma, Alifia Zaenal Kusuma