Risnandya Primanagara
Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati

Published : 27 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

AKTIFITAS FISIK PADA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI INDONESIA ( Literature Review ) Ervaldi Ilham Widagdyo; Risnandya Primanagara; Ismi Cahyadi
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 8, No 2 (2022): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Diabetes Mellitus (DM) merupakan ancaman serius bagi kesehatan dan pertumbuhan ekonomi nasional, karena itu pengendaliannya perlu dilakukan dengan sungguh-sungguh, dengan memberikan perhatian melalui pengendalian penyakit tidak menular yaitu no tobacco, healthy diet and healthy activity yang dimulai sejak janin sampai dewasa tua. Metode: Penelitian desain literature review yang dilakukan di situs http://garuda.ristekdikti.go.id/. Pengambilan data dilakukan dengan seleksi inklusi dan ekslusi pada search query dan didapatkan sebanyak 18 jurnal. Data dianalisis menggunakan uji komputer dengan Spearman. Hasil: Dari 18 jurnal yang didapatkan dari hasil search query terdapat 11 jurnal yang menyatakan terdapat hubungan aktifitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus dan terdapat 7 jurnal yang menyatakan tidak memiliki hubungan antara aktifitas fisik dengan kejadian diabetes mellitus tipe 2. Dan dari 18 jurnal terdapat 451 responden yang melakukan aktifitas fisik baik dan 576 responden yang melakukan aktifitas fisik kurang baik dari total 1027 responden. Hasil analisis menunjukan terdapat perbedaan yang signifikan ( p = 0,023 ) aktifitas fisik antara jurnal yang memiliki hubungan dengan yang tidak memiliki hubungan. Kesimpulan: Terdapat perbedaan yang signifikan antara aktifitas fisik dengan jurnal yang memiliki hubungan dengan diabetes mellitus tipe 2 dan yang tidak memiliki hubungan diabetes mellitus tipe 2.Kata Kunci: diabetes mellitus tipe 2; aktifitas fisik; literature reviewABSTRACTBackground: Diabetes Mellitus (DM) is a serious threat to health development and national economic growth, therefore the control needs to be carried out seriously, comprehensively and integrated by giving attention through controlling non-communicable diseases namely no tobacco, healthy diet and healthy activity that starts from the fetus to old adulthood. Method: Literature review design research conducted on the site http://garuda.ristekdikti.go.id/. Data was collected by inclusion and exclusion selection in the search query and obtained as many as 18 journals. Data were analyzed using a computer test with Spearman.Results: From 18 journals obtained from the search process results there were 11 journals that stated there was a relationship between physical activity and the incidence of diabetes mellitus and there were 7 journals which stated that there was no relationship between physical activity and the incidence of type 2 diabetes mellitus. And from 18 journals there were 451 respondents those who did good physical activities and 576 respondents who did physical activities less than the total of 1027 respondents. The results of the analysis show that there is a significant difference (p = 0,023) of physical activity between journals that have a relationship with those who have no relationship.Conclusion: There is a significant difference between physical activity and journals that have a relationship with type 2 diabetes mellitus and those who have no type 2 diabetes mellitus relationship.Keywords: type 2 diabetes mellitus; physical activity; literature review 
INTENSITAS MENONTON VIDEO PENDEK DAN SELF-EFFICACY SEBAGAI FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PROKRASTINASI AKADEMIK MAHASISWA KEDOKTERAN UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI Hidayati, Annisa; Primanagara, Risnandya; Octaviara, Tissa
Jambura Journal of Health Sciences and Research Vol 7, No 4 (2025): OKTOBER: JAMBURA JOURNAL OF HEALTH SCIENCES AND RESEARCH
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35971/jjhsr.v7i4.34230

Abstract

Mahasiswa kedokteran menghadapi tuntutan akademik yang tinggi yang berpotensi menimbulkan prokrastinasi akademik. Perkembangan teknologi digital, khususnya popularitas video pendek seperti TikTok, YouTube Shorts, dan Instagram Reels, sering kali menjadi distraksi yang memperkuat kecenderungan tersebut. Sebaliknya, faktor internal seperti self-efficacy diyakini berperan dalam menekan perilaku prokrastinasi. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara intensitas menonton video pendek dan self-efficacy dengan prokrastinasi akademik mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Swadaya Gunung Jati. Desain penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional, melibatkan 266 mahasiswa yang dipilih melalui stratified random sampling. Instrumen penelitian berupa kuesioner intensitas menonton video pendek, kuesioner self-efficacy, dan kuesioner prokrastinasi akademik, dengan analisis data menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil menunjukkan 63,91% mahasiswa memiliki intensitas menonton video pendek tinggi, 75,56% tingkat self-efficacy tinggi, dan 56,77% prokrastinasi akademik sedang. Terdapat hubungan signifikan antara intensitas menonton video pendek dan prokrastinasi akademik (p = 0,001; r = 0,403), namun tidak terdapat hubungan signifikan antara self-efficacy dan prokrastinasi akademik (p = 0,345; r = 0,058). Penelitian ini menunjukkan bahwa distraksi digital berperan lebih besar dibandingkan faktor psikologis internal dalam mempengaruhi prokrastinasi akademik mahasiswa kedokteran. Kebaruan penelitian terletak pada fokus terhadap video pendek sebagai distraksi digital spesifik serta pengujian simultan faktor eksternal dan internal, dengan temuan bahwa self-efficacy tidak berhubungan signifikan, berbeda dari mayoritas literatur sebelumnya.
Correlation between Self-compassion and Academic Procrastination with Learning Achievement among the Medical Students at Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon, Indonesia Septiawati, Ayu Dwi; Sulistiyana, Catur Setiya; Primanagara, Risnandya
GHMJ (Global Health Management Journal) Vol. 7 No. 3s (2024)
Publisher : Yayasan Aliansi Cendekiawan Indonesia Thailand (Indonesian Scholars' Alliance)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35898/ghmj-741083

Abstract

Background: Learning achievement is primarily measured by GPA. A positive self-concept, nurtured by self-compassion, is essential for achieving academic excellence. Self-compassion helps students cope with stress and boost motivation. On the other hand, procrastination is a common obstacle to academic success. Ineffective time management and organizational skills are hallmarks of procrastination. Aims: To describe the levels of self-compassion and procrastination among medical students and to examine how these factors relate to academic performance. Methods: This study employed a cross-sectional design involving 266 active medical students at UGJ, selected through stratified random sampling. Data was collected using an online questionnaire, including the Self-Compassion Scale and the Academic Procrastination Scale. Univariate and bivariate analyses were conducted, with a Spearman correlation test used to assess the correlation between variables due to the non-normal distribution of self-compassion and academic achievement. Results: The majority of participants exhibited moderate levels of self-compassion (56%). Similarly, the majority (38.7%) demonstrated moderate levels of academic procrastination. In terms of learning achievement, the majority of participants achieved a GPA between 3.01 and 3.50 (32.3%). A significant positive correlation was found between self-compassion and learning achievement (p-value<0.001, r=0.339). Conversely, a significant negative correlation was observed between academic procrastination and learning achievement (p-value<0.001, r=-0.234). Conclusion: This research shows that higher self-compassion is associated with better learning outcomes whereas higher academic procrastination is associated with worse learning outcomes.   Received: 25 September 2024  |  Reviewed: 17 October 2024  |  Revised: 17 November 2024  |  Accepted: 30 November 2024.
Evaluation of Optimum Temperature and Soaking Time for Reduction of Nitrite Levels in Cirebon Typical Salted Fish Satrianugraha, M. Duddy; Primanagara, Risnandya; Amanah
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 10 No 2 (2024): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/tumed.v10i2.9565

Abstract

biolibium@gmail.com Abstract. Salted fish is one of Indonesia most common side dish. Processing salted fish into ready-to-eat usually done by immersing salted fish in the water. Else of reducing the saltines and soaking can also reduce harmful compounds like nitrite, which can disrupt the blood's oxygen-binding process. Nitrite can build up methemoglobin compounds which disrupt oxygen supply. The study aims to determine which temperature and length of time to soak salted fish effectively reduce nitrite levels. This experimental laboratory study uses a Pre-Posttest Control Group Design. The samples chosen were jambal roti, peda and gubaran salted fish. Five grams of the sample were immersed in a temperature of 400C, 500C, 600C, 700C with immersion time of 10, 15, 20, 25 minutes respectively with a completely randomized design (CRD). The immersion was repeated three times, and the average nitrite levels in the water were compared between temperature, immersion time, and type of fish. Statistically, the most effective temperature to reduce nitrite is 700C with a soaking time of 20 minutes. The fish's size influences the effectiveness, wherein gubaran salted fish is a thin sheet so that it has more surface area. In conclusion, the most effective soaking time is 20 minutes at 700C
HUBUNGAN SINDROM METABOLIK DENGAN PREEKLAMPSIA DI PUSKESMAS MAJASEM Husnaa, Farah Syaufika; Suroso, Triono Adi; Ahmad, Zulkifli; Syah, Pangeran Akbar; Nopita, Ineu; Herwindo, Taufan; Primanagara, Risnandya
Tunas Medika Jurnal Kedokteran & Kesehatan Vol 11 No 2 (2025): TUNAS MEDIKA JURNAL KEDOKTERAN & KESEHATAN
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

LATAR BELAKANG: Preeklampsia merupakan hipertensi kehamilan yang terjadi disertai dengan adanya proteinuria atau gangguan sistem organ lainnya. Insiden preeklampsia di Indonesia adalah 128.273/tahun atau sekitar 5,3% dimana tidak tampak adanya penurunan kasus dalam dua dekade terakhir. Terdapat beberapa faktor risiko yang dapat menimbulkan preeklampsia, salah satunya adalah obesitas yang merupakan gangguan metabolisme pada tubuh sebagai salah satu manifestasi klinis dari sindrom metabolik METODE: Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Data yang digunakan merupakan data rekam medis ibu post partum pada tahun 2022 di Puskesmas Majasem. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dan didapatkan sebanyak 40 sampel penelitian. Analisis bivariat yang digunakan adalah uji korelasi Spearman. HASIL: Didapatkan jumlah ibu post partum yang mengalami sindrom metabolik sebanyak 16 orang. Jumlah total kasus preeklampsia di Puskesmas Majasem adalah 40 kasus. Hasil uji spearman menunjukana adanya hubungan antara sindrom metabolik dengan preeklampsia. SIMPULAN: Terdapat hubungan antara sindrom metabolik dengan preeklampsia di Puskesmas Majasem dengan p-value 0,018 < 0,05. Kata kunci: sindrom metabolik, obesitas, preeklampsia ABSTRACT BACKGROUND: Preeclampsia is a gestasional hypertension that present with proteinuria or others organ damages. Every year in Indonesia, the incident of preeclampsia is 128.273 cases or approximately 5,3% which had not shown a decrement from the number of the cases for two decades. There are some risk factors that can cause preeclampsia, one of it is obesity which is the component of metabolic disorders as a clinical manifestation of metabolic syndrome. METHOD: This study is an analytical observational study with a cross-sectional approach. The data that used in this study is a secondary data that achieved from Majasem Community Health Centre medical records in 2022. The sampling method used in this study is a total sampling method and as much 40 sample were included to this study. The bivariate analysis that used in this study is the Spearman correlation test RESULT: the incidence of metabolic syndrome in post partum woman in Majasem Community Health Centre is 16 cases. The incidence of preeclampsia in in Majasem Community Health Centre at 2022 is 40 cases. The Spearman analytical test shows a correlation between metabolic syndrome and preeclampsia in Majasem Community Health Centre. CONCLUSION: the Spearman test showed a p-value of 0,018 < 0,05 which means there is a correlation between metabolic syndrome and preeclampsia at Majasem Community Health Centre. Keywords: metabolic syndrome, obesity, preeclampsia
PERBEDAAN PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK SELEDRI (Apium graveolens L) DAN EKSTRAK JAHE GAJAH (Zingiber officinale Roscoe) TERHADAP KADAR PROFIL LIPID TIKUS PUTIH JANTAN HIPERKOLESTEROLEMIA Ayudithiya, Vhirna Fitri; Brajawikalpa, Rama Samara; Primanagara, Risnandya
InaBHS (Indonesian Journal of Biomedicine and Health Science) Vol 1 No 1 (2022)
Publisher : Fakultas Kedokteran UGJ Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/inabhs.v1i1.7386

Abstract

Latar Belakang: Hiperlipidemia disebabkan oleh peningkatan kadar profil lipid. Untuk menurunkan kadar kolesterol dalam darah digunakan obat golongan statin yang mempunyai efek jika dikonsumsi jangka panjang. Tanaman seledri dan jahe gajah dapat  digunakan sebagai alternatif pengobatan hiperkolesterolemia.Tujuan: Mengetahui perbedaan pengaruh pemberian ES, EJG, dan ESJ terhadap kadar profil lipid tikus putih jantan yang hiperkolesterolemia. Metode: Penelitian eksperimental menggunakan rancangan Pre and Post Test with Control Group Design dengan tikus putih jantan sebanyak 30 ekor dibagi menjadi 6 kelompok. KN (kontrol normal), K-, K+, kelompok dengan perlakuan ES (ekstrak seledri 200mg/kgbb), EJG (ekstrak jahe gajah 200mg/kgbb) dan ESJ (kombinasi seledri dan jahe 200mg/kgbb). Pengambilan sampel dilakukan secara simple random sampling. Hasil: Rerata penurunan kadar kolesterol total sebesar 84,97mg/dl (ES), 78,48mg/dl (EJG) dan 84,29 mg/dl (ESJ) dengan nilai (P<0,05). Penurunan kadar LDL sebesar 38,43mg/dl (ES), 28,01mg/dl (EJG), dan 32,84mg/dl (ESJ) dengan nilai (P<0,05). Penurunan kadar trigliserida sebesar 30,68mg/dl (ES), 20,99mg/dl (EJG) dan 21,20mg/dl (ESJ) dengan nilai (P<0,05). Peningkatan kadar HDL sebesar 38,17mg/dl (ES), 29,31mg/dl (EJG), 32,04mg/dl (ESJ) dengan nilai (P<0,05). Simpulan: Ekstrak seledri lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak jahe gajah dan kombinasi keduanya pada tikus putih jantan yang hiperkolesterolemia.Keywords: hiperkolesterolemia, seledri, jahe gajah.ABSTRACTBackground: Hyperlipidemia is caused by an increase in lipid profile levels. To reduce cholesterol levels in the blood used statin drugs that have an effect if consumed long term. Celery and ginger can be used as an alternative treatment for hypercholesterolemia. Aim: Knowing the difference in the effect of ES, EJG, and ESJ administration on the lipid profile level of hypercholesterolemic white male rats. Method: The experimental study used the Pre and Post Test with Control Group Design with 30 male white rats divided into 6 groups. KN (normal control), K-, K +, groups treated with ES (celery extract 200mg / kgbb), EJG (ginger extract 200mg / kgbb) and ESJ (combination of celery and ginger 200mg / kgbb). Sampling by simple random sampling. Results: The mean reduction in total cholesterol levels was 84.97 mg / dl (ES), 78.48 mg / dl (EJG) and 84.29 mg / dl (ESJ) with values (P <0.05). Reduction in LDL levels by 38.43 mg / dl (ES), 28.01 mg / dl (EJG), and 32.84 mg / dl (ESJ) with values (P <0.05). Decreased triglyceride levels by 30.68 mg / dl (ES), 20.99 mg / dl (EJG) and 21.20 mg / dl (ESJ) with values (P <0.05). Increased HDL levels of 38.17 mg / dl (ES), 29.31 mg / dl (EJG), 32.04 mg / dl (ESJ) with values (P <0.05). Conclusions: Celery extract was more effective than ginger extract and a combination of both in male white hypercholesterolemia rats.Keywords: hypercholesterolemia, celery, ginger.
GAMBARAN POLA GANGGUAN TAJAM PENGLIHATAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN 1 KARYAMULYA KOTA CIREBON PADA TAHUN 2025 Dewi, Rista Nur Akmalia; Sisprihattono, Boyke; Primanagara, Risnandya
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 3 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i3.51568

Abstract

International Agency for the Prevention of Blindness (IAPB) mencatat lebih dari 90 juta anak mengalami gangguan penglihatan, seiring dengan meningkatnya paparan teknologi dan digitalisasi. Faktor predisposisi seperti perilaku visual yang tidak ergonomis, jarak membaca yang terlalu dekat, pencahayaan yang tidak memadai, ketidaksesuaian sarana pendidikan, serta penggunaan perangkat digital berkontribusi terhadap tingginya angka gangguan tajam penglihatan pada anak usia sekolah. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran pola gangguan tajam penglihatan pada siswa Sekolah Dasar di SDN 1 Karyamulya Kota Cirebon Tahun 2025. Penelitian kuantitatif dengan metode deskriptif observasional ini menggunakan data primer melalui pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan snellen chart dan pinhole serta penilaian faktor risiko melalui kuesioner pada 58 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden adalah laki-laki (55,2%) dan 81% mengalami gangguan penglihatan pada kedua mata, dengan gangguan refraksi sebesar 74,1% pada mata kanan dan 70,7% pada mata kiri. Sebanyak 74,1% siswa terpapar penggunaan gadget yang dipinjamkan oleh orang tua dengan durasi 1–2 jam (32,8%), dan 44,8% memiliki riwayat keluarga dengan mata minus. Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan refraksi merupakan masalah utama pada tajam penglihatan anak usia sekolah, dipengaruhi oleh penggunaan gadget dan faktor genetik. Upaya pencegahan melalui edukasi, pengaturan waktu layar, serta pemeriksaan mata rutin diperlukan untuk meminimalkan dampak negatif terhadap perkembangan penglihatan anak.