Claim Missing Document
Check
Articles

Improving Health Independence with a Family-Based Complementary Therapy Approach: Peningkatan Kemandirian Kesehatan dengan Pendekatan Terapi Komplementer Berbasis Keluarga Widaryanti, Rahayu; Muflih, Muflih; Dian Rhesa Rahmayanti
Dinamisia : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 4 (2024): Dinamisia: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Lancang Kuning

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/dinamisia.v8i4.15591

Abstract

Purwomartani has local wisdom regarding the use of complementary therapies, but skills in using complementary therapies are obtained from generation to generation and are still not based on evidence-based so it can be at risk of injury. The purpose of this activity is to increase the ability and skills to use complementary therapy at the family level. This community service activity was carried out in June-July 2023 and was attended by 32 participants. The method used is health screening, health education, and utilization of herbs. The results of the health screening were 3 toddlers who had irregularities, 15 people who had blood pressure above normal, 10 people who had blood sugar levels above normal, and 8 people who had uric acid levels above normal. There is an increase in knowledge about the use of complementary therapy at the family level before and after the activity as much as 20.45 points.
Pencegahan Wasting pada Anak Balita untuk Menghindari Stunting melalui Family Center Model Listia Dwi Febriati; Tri Mei Khasana; Muflih Muflih; Rahayu Widaryanti; Anggi Indri Wulandary; Hayah Husnun Salsabillah
I-Com: Indonesian Community Journal Vol 5 No 3 (2025): I-Com: Indonesian Community Journal (September 2025)
Publisher : Fakultas Sains Dan Teknologi, Universitas Raden Rahmat Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70609/i-com.v5i3.7939

Abstract

Wasting merupakan masalah gizi akut yang berisiko tiga kali lipat meningkatkan kejadian stunting apabila tidak ditangani dengan baik. Pemerintah menargetkan penurunan prevalensi wasting menjadi 7%, namun angka nasional masih di atas target. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan keluarga dalam mencegah wasting melalui pendekatan Family Center Model. Sasaran program adalah 29 ibu atau ayah yang memiliki anak balita dengan wasting di Kelurahan Purwomartani. Metode pelaksanaan meliputi koordinasi, sosialisasi, edukasi tentang deteksi dini wasting dengan pita LILA, praktik pemberian makan bayi dan anak, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta sebesar 26,55 poin setelah edukasi, serta adanya kesadaran keluarga untuk melakukan deteksi dini dan praktik gizi seimbang. Kegiatan ini membuktikan bahwa pemberdayaan keluarga berperan penting dalam menurunkan risiko wasting dan mencegah terjadinya stunting pada anak.
Pelatihan Responsive Feeding Berbasis Parent-Child Interaction Therapy untuk Kader Pendamping Keluarga Anak Stunting Muflih Muflih; Delima Citra Dewi Gunawan; Listia Dwi Febriati; Rahayu Widaryanti; Sherly Marliana; Enggar Liliandari
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 9, No 8 (2026): Volume 9 Nomor 8 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v9i8.26836

Abstract

ABSTRAK Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memerlukan pendekatan multidimensi, tidak hanya melalui penyediaan makanan bergizi, tetapi juga melalui penguatan praktik pengasuhan dan interaksi makan anak. Data di Kelurahan Purwomartani terdapat 61 balita stunting, termasuk 23 kasus baru. Pengkajian lapangan menunjukkan bahwa sebagian anak stunting masih memiliki asupan yang tidak adekuat dan mengalami kesulitan makan, seperti memilih makanan tertentu, menolak protein hewani, serta memiliki variasi makanan yang terbatas.Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan tentang responsive feeding berbasis prinsip Parent–Child Interaction Therapy (PCIT) sebagai strategi pendampingan keluarga anak stunting dengan masalah makan. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Purwomartani, Kalasan, Sleman, Yogyakarta pada Mei 2026 dengan melibatkan 47 kader kesehatan. Pelatihan dilakukan melalui koordinasi dengan mitra, penyampaian materi, diskusi, contoh kasus, serta evaluasi pretest dan posttest menggunakan instrumen pengetahuan sebanyak 10 butir. Analisis dilakukan secara deskriptif dengan membandingkan skor pengetahuan sebelum dan sesudah pelatihan. Skor rerata pengetahuan kader meningkat dari 7,72 menjadi 9,79 pada skala 0–10. Median meningkat dari 8,00 menjadi 10,00. Jawaban benar meningkat dari 363/470 respons atau 77,2% menjadi 460/470 respons atau 97,9%, dengan penurunan kesalahan agregat sebesar 90,7%. Seluruh domain pengetahuan meningkat, terutama domain menciptakan suasana makan yang menyenangkan, melibatkan anak saat makan, mengenali tanda lapar, dan merespons penolakan makan. Pelatihan responsive feeding berbasis prinsip PCIT layak digunakan sebagai strategi awal untuk memperkuat kapasitas kader dalam program stunting. Namun, evaluasi lanjutan tetap diperlukan untuk menilai keterampilan konseling kader, perubahan praktik pemberian makan pada ibu, penerimaan makanan anak, keberagaman diet, dan indikator pertumbuhan.Kata Kunci: Responsive Feeding, Parent–Child Interaction Therapy, Stunting, Masalah Makan.  ABSTRACT Stunting remains a public health problem that requires multidimensional intervention, not only through the provision of nutritious food but also through strengthened caregiving practices and feeding interaction. In the program data from Purwomartani Village, 61 children under five were recorded as stunted, including 23 new cases. Field assessment indicated that some children with stunting still had inadequate intake and feeding problems, including selective eating, limited acceptance of animal-source foods, and low dietary variety. This community service activity aimed to improve health cadres’ knowledge of responsive feeding based on Parent–Child Interaction Therapy (PCIT) principles as a family support strategy for children with stunting and feeding difficulties. The activity was conducted in Purwomartani Village, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, in May 2026 and involved 47 health cadres. The training consisted of partner coordination, material delivery, discussion, case-based learning, and pretest–posttest evaluation using a 10-item knowledge instrument. Data were analyzed descriptively by comparing knowledge scores before and after training. The mean knowledge score increased from 7.72 to 9.79 on a 0–10 scale. The median score increased from 8.00 to 10.00. Correct responses increased from 363/470 responses, or 77.2%, to 460/470 responses, or 97.9%, with a 90.7% reduction in aggregate errors. All knowledge domains improved, particularly creating a pleasant mealtime atmosphere, involving children during meals, recognizing hunger cues, and responding to food refusal. Responsive feeding training based on PCIT principles is a feasible initial strategy to strengthen cadres’ capacity within stunting programs. Further evaluation is needed to assess cadres’ counseling skills, maternal feeding practices, child food acceptance, dietary diversity, and growth indicators. Keywords: Responsive Feeding, Parent–Child Interaction Therapy, Stunting, Feeding Difficulties.