Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Efektivitas Edukasi Dash Berbasis Keluarga Terhadap Tekanan Darah Lansia Di Puskesmas Kutalimbaru Ginting, Amnita Anda Yanti Br; Saragih, Helinida; Siringo-ringo, Magda; Ginting, Nasipta; Simorangkir, Lindawati; Ginting, Agustaria; Karo, Mestiana Br; Saragih, Ice Septriani
Society Vol 10 No 2 (2022): Society
Publisher : Laboratorium Rekayasa Sosial, Jurusan Sosiologi, FISIP Universitas Bangka Belitung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33019/society.v10i2.457

Abstract

Hypertension cases continue to increase worldwide and are the biggest cause of death. In Medan, North Sumatra, the number of hypertensive patients is 7,174 people, and the cause of death is the 4th cause of death. The study aimed to formulate the effectiveness of family-based Dash education on elderly blood pressure at the Kutalimbaru Health Center. This research is a Quasi-Experimental design with one group pretest and posttest design. The population is hypertensive clients at the Kutalimbaru Health Center with a sample of 31 respondents, taken through a purposive sampling technique with the criteria of elderly hypertensive 2-4 years, blood pressure > 140/90 mmHg, age 55 years to 65 years, living with family, receiving medication the same antihypertensive and willing to be a respondent. The instrument used was a sphygmomanometer, a 24-hour Recall observation sheet, and a booklet—analysis with a Wilcoxon sign rank test. Research shows the average systolic blood pressure before 155.16 mmHg after 147.74 mmHg. The average diastolic blood pressure before 85.81 mmHg after 82.26 mmHg. The results of statistical tests showed an effect of family-based education on the blood pressure of older people at the Kutalimbaru Health Center (p = 0.000). The conclusion of family-based education is effective in reducing blood pressure in older people. Suggestions for families are expected to control eating patterns routinely and for older people to have their blood pressure checked regularly at the public health center.
PELATIHAN PENDAMPINGAN KEPERAWATAN LANSIA SECARA HOLISTIK UNTUK PENGUNGSI UNHCR Simorangkir, Lindawati; Sinaga, Amando; Br Karo, Mestiana; Tondang, Gryttha; Ginting, Agustaria
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 4 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i4.1442-1448

Abstract

Perubahan fisik, psikologis, dan sosial pada lansia berdampak kualitas hidup lansia tidak mampu melakukan aktvitas sehari-hari dan tidak mampu merawat dirinya sendiri, sehingga memerlukan pendampingan keperawatan secara holistik kepada lansia. Pengandian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan ini bertujuan untuk terciptanya lapangan pekerjaaan (caregiver) bagi pengungsi  UNHCR  dan meningkatkan derajat kesehatan lansia. Metode pengandian kepada masyarakat dalam bentuk pelatihan dilakukan dengan curah pendapat, ceramah, diskusi, demonstrasi, redemonstrasi, dan tanya jawab. Media yang digunakan dalam pengabdian ini adalah power point dan modul.  Jumlah peserta yang hadir pada pelatihan sebanyak 7 orang. Hasil pengabdian kepada masayarakat ini menujukkan bahwa mayoritas pengetahuan peserta pelatihan baik sebanyak 6 (85,71%), dan praktek peserta pelatihan menujukkan sebagian besar mandiri sebanyak 5 (71,42%).
EDUKASI KENAKALAN REMAJA PADA REMAJA DI PAROKI PADRE PIO HELVETIA MEDAN Br Karo, Mestiana; Br Sembiring, Friska; Rante Rupang, Ernita; Ginting, Agustaria; Simorangkir, Lindawati; Anda Yanti Ginting, Amnita; Elvina Pakpahan, Rotua; Yolanda Sigalingging, Vina
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 5, No 6 (2022): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v5i6.2228-2233

Abstract

Remaja merupakan generasi masa depan suatu bangsa yang harus di didik dimulai dari lingkungan keluarga, sekolah dan dibekali agama yang baik. Kenakalan remaja merupakan hal yang tidak asing lagi terjadi di lingkungan masyarakat dimana remaja melakukan perbuatan menyimpang dari norma, aturan, hukum yang berlaku. Hal-hal yang menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja di pengaruhi oleh faktor internal dan eksternal dari diri remaja sendiri, oleh karena itu edukasi sangat di perlukan sebagai upaya pencegahan terjadinya kenakalan remaja melalui pendidikan kesehatan dan peningkatan pengetahuan remaja. Program edukasi ini meliputi pemberian materi dan diskusi tanya jawab dengan remaja yang di dampingi oleh guru sekolah sehingga adanya keberlanjutan dalam pemantauan pada remaja di sekolah dengan harapan setelah dilakukan edukasi dan diskusi 80% remaja merasa bahagia dalam kegiatan edukasi, 85% remaja mampu melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri dan 100% remaja melaksanakan sesuai edukasi yang telah diberikan. 
PENDAMPINGAN TERAPI AKTIVITAS KELOMPOK MEWARNAI KEPADA PASIEN HALUSINASI DI RUMAH SAKIT JIWA MEDAN Simorangkir, Lindawati; Br Karo, Mestiana; Tumanggor, Lili; Ginting, Agustaria; Deston Sitanggang, King; Siallagan, Ance; Siringo-ringo, Magda; Khairani, Lenny
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 9 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i9.3427-3431

Abstract

Halusinasi pendengaran yang paling sering terjadi pada pasien gangguan jiwa. Pasien akan mendengar suara orang lain  seperti ejekan, ancaman, dan perintah untuh melukai dirinya sendiri bahkan orang lain. Terapi aktivitas kelompok mewarnai merupakan bentuk komunikasi alam bawah sadar yang dapat mengontrol dan melawan halusinasinya. Tujuan dari kegiatan pengmas ini adalah meningkatkan kemampuan pasien dalam mengontrol halusinasi pendengaran dengan mendampingi pasien melakukan terapi aktivitas kelompok mewarnai di rumah sakit jiwa Medan. Pelaksanaan kegiatan ini tujuankan pada pasien yang mengalami halusinasi pendengaran sebanyak 7 orang. Metode yang digunakan yakni demonstrasi dan diskusi  terkait Strategi pelaksanaan (Sp1 – Sp4) serta menyediakan media gambar dan pensil warna.  Hasil dari terapi aktivitas, pasien mampu mencocokan warna, meningkatkan motorik halus pasien bagus, dan dapat mengotrol halusinasi sesuai dengan strategi pelaksanaan ke 4
Pengaruh Edukasi Selftalk Terhadap Kecemasan Pada Pasien Kanker Yang menjalani Kemoterapi Di Medan Ginting, Agustaria; Ginting, Friska; Ginting, Sri Martini; Naibaho, Stevani Jeqelin Onasis
BEST Journal (Biology Education, Sains and Technology) Vol 8, No 2 (2025): September 2025
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/best.v8i2.12999

Abstract

Latar Belakang : Pasien kemoterapi yang mengalami gangguan psikologis seperti cemas, gelisah dan adanya rasa  takut sering diakibatkan oleh pemikiran negatif yang muncul dari diri sendiri. Edukasi self talk dapat memicu mekanisme koping pada pasien kemoterapi untuk meningkatkan sistem regulator dalam menstimulasi otak, peningkatan transmisi otak, merangsang sistem hormonal, serta meningkatkan perasaan tenang dan nyaman.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh intervensi edukasi self talk terhadap kecemasan pasien kemoterapi di Medan.Metode: Desain penelitian menggunakan pra-eksperimental dengan metode one-group pretest-postest, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel 12 responden. Instrumen yang digunakan yaitu SOP untuk memberikan self talk, leaflet, dan kuesioner untuk mengukur kecemasan. Hasil: Hasil penelitian diperoleh nilai mean kecemasan   pre-test yaitu 41.08 dan nilai mean kecemasan post-test yaitu 36.33. Berdasarkan uji statistik Paired Samples T-Test sebelum dan sesudah intervensi diperoleh nilai p value = 0,004 yang menunjukkan bahwa adanya pengaruh edukasi self talk terhadap kecemasan pada pasien kanker yang menjalani kemoterapi di Medan. Dalam penelitian memberi saran bagi pihak Rumah Sakit khusus Perawat untuk melakukan pendekatan dan memberikan terapi nonfarmakologis untuk membantu mengurangi kecemasan dengan  menggunakan fasilitas yang ada di rumah sakit seperti melalui televisi dan speaker yang ada di ruangan kemoterapi  tersebut dan bagi peneliti selanjutnya  untuk mengembangkan penelitian secara kualitatif terkait untuk mengurangi kecemasan berhubung penelitian ini belum banyak diteliti
Karakteristik Diabetes Melitus Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2019-2023 Sembiring, Friska; Ginting, Agustaria; Berutu, Dewi Safitri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7203

Abstract

Diabetes Melitus Tipe II merupakan penyakit gangguan metabolik menahun yang menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Indonesia menempati urutan ke-7 dunia dengan 8,5 juta penderita diabetes melitus, dengan prevalensi nasional mencapai 1,1% dan DM Tipe 2 menyumbang 85-95% dari total kasus. Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, data menunjukkan sebanyak 1.031 penderita diabetes melitus tercatat selama periode 2019-2023, mengindikasikan beban kesehatan yang signifikan. Diabetes melitus dapat menimbulkan komplikasi serius seperti ulkus diabetikum dengan insiden 2% per tahun dan risiko amputasi yang mencapai satu juta kasus per tahun secara global. Pemahaman karakteristik penderita menjadi penting untuk mengembangkan strategi pencegahan dan penanganan yang efektif serta tepat sasaran di wilayah Medan dan Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2019-2023 berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi pencegahan dan penanganan diabetes melitus yang lebih komprehensif. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan case series. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang dirawat tahun 2019-2023 berjumlah 1.031 orang. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% sehingga diperoleh 91 responden yang dipilih secara proporsional. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi rekam medis pasien. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel karakteristik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas penderita berada pada kelompok usia manula (>65 tahun) sebesar 35,2%, diikuti lansia akhir (56-65 tahun) 34,1%. Perempuan mendominasi dengan persentase 54,9%, tingkat pendidikan terbanyak SMA 40,7%, dan pekerjaan terbanyak wirausaha dan IRT masing-masing 31,9%. Distribusi menunjukkan diabetes melitus erat kaitannya dengan proses penuaan, faktor hormonal, pola makan, dan aktivitas fisik yang kurang. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa karakteristik penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan didominasi lansia perempuan dengan pendidikan SMA dan pekerjaan ibu rumah tangga, sehingga program pencegahan dan edukasi kesehatan perlu difokuskan pada kelompok demografi ini.
Karakteristik Diabetes Melitus Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan Tahun 2019-2023 Sembiring, Friska; Ginting, Agustaria; Berutu, Dewi Safitri
Journal of Innovative and Creativity Vol. 6 No. 1 (2026)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v6i1.7204

Abstract

Diabetes Melitus Tipe II merupakan penyakit gangguan metabolik menahun yang menjadi salah satu prioritas masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat. Indonesia menempati urutan ke-7 dunia dengan 8,5 juta penderita diabetes melitus, dengan prevalensi nasional mencapai 1,1% dan DM Tipe 2 menyumbang 85-95% dari total kasus. Di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan, data menunjukkan sebanyak 1.031 penderita diabetes melitus tercatat selama periode 2019-2023, mengindikasikan beban kesehatan yang signifikan. Diabetes melitus dapat menimbulkan komplikasi serius seperti ulkus diabetikum dengan insiden 2% per tahun dan risiko amputasi yang mencapai satu juta kasus per tahun secara global. Pemahaman karakteristik penderita menjadi penting untuk mengembangkan strategi pencegahan dan penanganan yang efektif serta tepat sasaran di wilayah Medan dan Sumatera Utara. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi karakteristik penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan tahun 2019-2023 berdasarkan usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan untuk memberikan informasi penting bagi pengembangan strategi pencegahan dan penanganan diabetes melitus yang lebih komprehensif. Metode penelitian menggunakan desain deskriptif dengan pendekatan case series. Populasi penelitian adalah seluruh pasien diabetes melitus yang dirawat tahun 2019-2023 berjumlah 1.031 orang. Sampel ditentukan menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan 10% sehingga diperoleh 91 responden yang dipilih secara proporsional. Instrumen penelitian menggunakan lembar observasi rekam medis pasien. Data dianalisis menggunakan analisis univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi dan persentase dari masing-masing variabel karakteristik. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas penderita berada pada kelompok usia manula (>65 tahun) sebesar 35,2%, diikuti lansia akhir (56-65 tahun) 34,1%. Perempuan mendominasi dengan persentase 54,9%, tingkat pendidikan terbanyak SMA 40,7%, dan pekerjaan terbanyak wirausaha dan IRT masing-masing 31,9%. Distribusi menunjukkan diabetes melitus erat kaitannya dengan proses penuaan, faktor hormonal, pola makan, dan aktivitas fisik yang kurang. Kesimpulan penelitian menyimpulkan bahwa karakteristik penderita diabetes melitus di Rumah Sakit Santa Elisabeth Medan didominasi lansia perempuan dengan pendidikan SMA dan pekerjaan ibu rumah tangga, sehingga program pencegahan dan edukasi kesehatan perlu difokuskan pada kelompok demografi ini.
The Relationship Between The Response Time of The Family When Bringing The Patient to Hospital and Stroke Severity Patients Farida Tampubolon, Lindawati; Ginting, Agustaria; Natalia, Natalia
Interest : Jurnal Ilmu Kesehatan INTEREST: Jurnal Ilmu Kesehatan Volume 13 Number 1 May 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37341/interest.v13i1.633

Abstract

Background: Non-infectious diseases, especially strokes, are increasing in Indonesia. The problem that occurs at this time is that there are still many families who do not know or don’t know at all about the early detection of stroke attacks. The study aims to determine the relationship between family response time in bringing stroke patients to the hospital and the severity of stroke patients at H. Adam Malik General Hospital Medan. Methods: This research is an analytic observational study with a cross-sectional design. The research population is unknown with a total sample of 35 people, where the sample is taken based on a purposive sampling technique, and data collection uses the NHISS instrument. Results: The results of the study find that the median response time value was 4.00 and the SD value is 42.33, while the median stroke patient severity is 21.00 and the SD value is 14.248. Based on Spearman's rho test results, the p-value is 0.008 < α = 0.05, meaning that there is a correlation between family response time and the severity of stroke patients. The correlation coefficient value is 0.441, which means that the faster the family's response time in bringing the patient to the hospital, the lighter the stroke patient's severity. Conclusion: It is hoped that the family will be able to carry out an initial stroke assessment at home by looking at a smile that tilts to one side, half of the body is weak and speaks pelo, and immediately takes the patient to the hospital.