Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Edukasi dan Pendampingan Assesment Pra Anestesi Ample Kepada Pasien dan Keluarga Pasien Sebelum Dilakukan Tindakan Anestesi Dd Poli Anestesi RSUD Singaraja Yusniawati, Yustina Ni putu; Lewar, Emanuel Ileatan; Putra, I Gde Agus Shuarsedana; Wijaya, I Nyoman Hendra
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i6.19543

Abstract

ABSTRAK Persiapan operasi dilakukan terhadap pasien dimulai sejak pasien masuk ke ruang perawatan sampai saat pasien berada di kamar operasi sebelum tindakan pembiusan dan operasi dilakukan. Tahap-tahap yang dilakukan sebelum pembedahan adalah persiapan fisik, persiapan mental atau psikis, latihan sebelum operasi (preoperatif exercise), informed consent, dan pemberian obat-obatan premedikasi. Kegiatan ini penting dilaksanakan agar pasien bisa dilakukan tindakan operasi dengan aman tanpa ada komplikasi saat pemberian agen anestesi. Dukungan keluarga dalam mendampingi pasien yang akan operasi juga sangat dibutuhkan. Pengetahuan keluarga dan pasien serta dukungan keluarga tentang penatalaksanaan assesment pra anestesi kurang maka beresiko akan gagalnya kegiatan operasi karena pasien tidak mengikuti syarat dari assesment pra anestesi. Pemberian edukasi dan pendampingan pada keluarga pasien meningkatkan pengetahuan dan kesadaran dari pasien dan keluarga dalam mengikuti assesment pra anestesi dengan baik sebagai persiapan sebelum dilakukan anestesi pada pembedahan elektif. Melakukan edukasi dan pendampingan kepada pasien dan keluarga dalam assesment pra anestesi terkait AMPLE sehingga pasien dan keluarga dapat mengetahui pentingnya assesment AMPLE sebelum tindakan anestesi. Melakukan pendampingan dan edukasi kepada keluarga tentang pentingnya dukungan keluarga dalam mendampingi dan menyiapkan pasien yang akan dilakukan tindakan pembedahan dan anestesi. Setelah dilakukan pemberian edukasi dan pendampingan pada keluarga pasien dan dilakuken evaluasi diperoleh hasil bahwa sebanyak 30 peserta terdapat 2 orang mendapat nilai 100, 15 orang mendapat nilai 90, dan 13 orang mendapat nilai 80. Pemberian edukasi tentang AMPLE ini perlu dilakukan secara terus menerus kepada keluarga pasien yang akan dilakukan tindakan operasi agar dapat memahami pentingnya penatalaksanaan AMPLE untuk mencegah terjadinya kontraindikasi saat dilakukan operasi.  Kata Kunci: Assesment Pra AMPLE, Pasien Dan Keluarga, Edukasi, Pengetahuan dan Dukungan Keluarga ABSTRACT Preparations for surgery are carried out on patients starting from the time the patient enters the treatment room until the time the patient is in the operating room before anesthesia and surgery are carried out. The stages carried out before surgery are physical preparation, mental or psychological preparation, preoperative exercise, informed consent, and administration of premedication drugs. This activity is important to carry out so that patients can undergo surgery safely without any complications when administering anesthetic agents. Family support in accompanying patients undergoing surgery is also very much needed. Family and patient knowledge and family support regarding the management of the pre-anesthesia assessment are lacking, which means there is a risk that the operation will fail because the patient does not follow the requirements of the pre-anesthesia assessment. Objective: to increase knowledge and awareness of patients and families in participating in pre-anesthesia assessments properly as preparation before anesthesia for elective surgery. Providing education and assistance to patient families increases the knowledge and awareness of patients and families in participating in pre-anesthesia assessments properly as preparation before anesthesia is carried out in elective surgery. Provide education and assistance to patients and families in pre-anesthesia assessments related to AMPLE so that patients and families can know the importance of AMPLE assessments before anesthesia procedures. Provide assistance and education to families about the importance of family support in accompanying and preparing patients for surgery and anesthesiXXX. After providing education and assistance to the patient's family and carrying out an evaluation, the results showed that of the 30 participants, 2 people got a score of 100, 15 people got a score of 90, and 13 people got a score of 80. Providing education about AMPLE needs to be carried out continuously to the families of patients who will undergo surgery so that they can understand the importance of managing AMPLE to prevent contraindications during surgery. Keywords: Pre-AMPLE Assessment, Patient And Family, Education, Knowledge and Family Support
Program Edukasi dan Pendampingan Pertolongan Pertama Manajemen Nyeri Pada Trauma Muskuluskeletal Sebagai Upaya Perawatan Jangka Panjang bagi Remaja di Sekolah Yusniawati, Yustina Ni Putu; Putra, I Gde Agus Shuarsedana; Lewar, Emanuel Illeatan; Agustini, Ni Luh Putu Inca Buntari; Wahyunadi, Ni Made Dewi; Sanjana, I Wayan Edi; Harditya, I Kadek Buja
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 8 (2024): Volume 7 No 8 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i8.14916

Abstract

ABSTRAK Cidera akibat kecelakaan lalu lintas menyebabkan kematian 1,2 juta jiwa per tahunnya. Saat terjadi kecelakaan sering kali korban mengalami multiple trauma yang perlu dilakukan tata laksana dengan baik di prehospital. Hal yang menjadi penatalaksanaan awal saat korban mengalami kecelakaan yaitu airway, breathing dan circulation. Penatalaksanaan lanjutan setelah 3 hal penting dilakukan adalah manajemen dalam tatalaksana nyeri berupa penatalaksanaan fraktur, balut tekan, dislokasi, aputasi dan log roll sehingga perlu dilakukan tata laksana yang baik saat di pre hospital. Secara umum keterlambatan atau kurang tepatnya pemberian pertolongan pertama pada fraktur muskuluskeletal sering kali terjadi karena kurangnya pengetahuan dan kepedulian penolong yang menemukan kejadian tersebut. Remaja menjadi target pengabdian masyarakat saat ini dikarenakan remaja merupakan komunitas produktif yang aktif dalam bermasyarkat sehingga merupakan generasi penerus yang perlu di didik untuk dapat menjadi agen perubahan kesehatan. Memberikan edukasi dan pendampingan kepada remaja sekolah dalam melakukan tindakan pertolongan pertama pada trauma muksuluskeletal, kontrol pendarahan, dislokasi, aputasi dan log rolling. Masalah yang ditemukan yaitu remaja belum memahami cara melakukan penatalaksanaan manajemen nyeri pada patah tulang dengan baik, remaja belum mengetahui cara melakukan penatalaksanaan nyeri pada dislokasi sendi, remaja belum mengetahu cara melakukan transportasi pasien trauma. Kegiatan pendekatan yang dilakukan kepada sekolah dan remaja berjalan dengan baik, dimana remaja mau kooperatif dalam kegiatan yang telah dilakukan, hasil post test baik pengetahuan memiliki peningkatan sebanyak 49 responden memiliki pengetahuan yang baik, dan terdapat 49 responden memiliki kemampuan yang baik dalam praktik pertolongan pertama dan transport pasien trauma. Remaja sekolah memahami pertolongan pertama pada kecelakaan lalulintas dan mampu melakukan pertolongan pertama pada fraktur, dislokasi dan melakukan transport pasien dengan benar Kata Kunci: Edukasi, Pendampingan, Remaja, Manajemen Nyeri, Trauma Muskuluskeletal ABSTRACT Injuries resulting from traffic accidents cause 1.2 million deaths per year. When an accident occurs, the victim often experiences multiple trauma which needs to be managed properly at the prehospital. The initial management when a victim experiences an accident is airway, breathing and circulation. Follow-up management after 3 important things have been done is pain management in the form of fracture management, compression dressings, dislocations, aputations and log rolls so that good management needs to be carried out in the pre-hospital setting. In general, delays or inaccurate provision of first aid for musculoskeletal fractures often occur due to a lack of knowledge and concern of the rescuers who discover the incident. Teenagers are currently the target of community service because teenagers are a productive community who are active in society so that they are the next generation who need to be educated to be agents of health change. Objective: to provide education and assistance to school teenagers in carrying out first aid measures for mucosal-keletal trauma, bleeding control, dislocation, amputation and log rolling. Provide education and assistance to school teenagers in carrying out first aid measures for muxuluskeletal trauma, controlling bleeding, dislocations, amputations and log rolling. Problems found are that teenagers do not understand how to properly manage pain in fractures, teenagers do not know how to manage pain in joint dislocations, teenagers do not know how to transport trauma patients. The approach activities carried out for schools and teenagers went well, where teenagers were willing to cooperate in the activities that had been carried out, the results of the post test were good, knowledge had increased as many as 49 respondents had good knowledge, and there were 49 respondents who had good abilities in first aid practices and transport of trauma patients. The approach activities carried out for schools and teenagers went well, where teenagers were willing to cooperate in the activities that had been carried out, the results of the post test were good, knowledge had increased as many as 49 respondents had good knowledge, and there were 49 respondents who had good abilities in first aid practices and transport of trauma patients Keywords: Education, Mentoring, Adolescents, Pain Management, Musculoskeletal Trauma
Pelatihan dan Pendampingan Deteksi Dini Hipertensi, Pemberian Slow Deep Breathing dan Pemeriksaan Kesehatan sebagai Upaya Perawatan Jangka Panjang bagi Lansia di Panti Werda Wana Seraya Yusniawati, Yustina Ni putu; Putra, I Gde Agus Shuarsedana; Harditya, I Kadek Buja; Lewar, Emanuel Ileatan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 6 (2025): Volume 8 No 6 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i6.19599

Abstract

ABSTRAK Hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu menjadi perhatian serius. Meningkatnya usia lansia di Indonesia sejalan dengan meningkatnya insidensi penyakit degeneratif pada lansia. Salah satu penyakit degeneratif yang mempunyai tingkat morbiditas dan mortalitas tinggi adalah hipertensi. Di Provinsi Bali khususnya di Denpasar, kasus hipertensi menduduki posisi ke empat dengan jumlah kasus meningkat sebanyak 61,15%, dibandingkan pada tahun 2020 terdapat kasus sebanyak 54.082 jiwa. Terbentuknya lansia yang memiliki pemahaman yang baik tentang hipertensi dan penatalaksanaan hipertensi dengan makan makanan sehat, minum obat teratur dan produktif melakukan tindakan rileksasi dengan slow deep breathing serta memiliki hasil pemeriksaan tensi yang stabil. Penyuluhan kepada lansia dan penjaga lansia di Panti Werda Wana Seraya tentang deteksi dini hipertensi dan penatalaksanaan hipertensi untuk lansia, pelatihan dan pendampingan terkait tindakan untuk mencegah hipertensi dan meningkatkan rileksasi pada lansia dengan slow deep breathing secara singkat, melakukan pemeriksaan kesehatan kepada lansia untuk deteksi dini kesehatan lansia, dan melakukan evaluasi semua kegiatan PKM yang telah dilaksanakan. Kegiatan perkenalan dari tim PKM kepada pengurus Panti Werdha Wana Seraya dan peserta PKM, kegiatan penjajakan berjalan dengan baik dan lancar dan tim PKM disambut baik oleh Kepala Panti Werdha Wana Seraya. Kegiatan kedua dilanjutkan dengan penyuluhan deteksi dini hipertensi dan mengajarkan slow deep breathing. Pada kegiatan kedua ini, peserta antusias mengikuti kegiatan dengan aktif bertanya. Peserta PKM juga mengikuti kegiatan relaksasi dengan slow deep breathing dengan antusias dan bersemangat. Pada pertemuan ketiga, kegiatan evaluasi penyuluhan deteksi dini hipertensi dan slow deep breathing. Kegiatan penyuluhan deteksi dini kejadian hipertensi perlu ditingkatkan terutama pada lansia perlu dilakukan secara terus menerus.  Kata Kunci: Lansia, Hipertensi, Slow Deep Breathing, Relaksasi  ABSTRACT Hypertension is a health issue that requires serious attention. The increasing elderly population in Indonesia is in line with the rising incidence of degenerative diseases among seniors. One of the degenerative diseases with high morbidity and mortality rates is hypertension. In Bali, specifically in Denpasar, hypertension cases rank fourth, with a 61.15% increase compared to 2020, when there were 54,082 cases. This community service program (PKM) is to foster elderly individuals who have a good understanding of hypertension and its management through healthy eating, regular medication, and productive relaxation practices like slow deep breathing, as well as achieving stable blood pressure readings. Providing education to the elderly and caregivers at the Wana Seraya Nursing Home about early detection of hypertension and its management for seniors, training and support related to hypertension prevention and relaxation techniques using slow deep breathing, conducting health screenings for early detection of health issues among seniors, and evaluating all PKM activities that have been implemented. An introductory session from the PKM team to the management of the Wana Seraya Nursing Home and participants, with a smooth and successful engagement where the team was warmly welcomed by the Head of the Nursing Home. The second activity involved a seminar on early detection of hypertension and teaching slow deep breathing. Participants were enthusiastic and actively asked questions during this session. They also engaged in relaxation activities using slow deep breathing with enthusiasm and eagerness. In the third meeting, the evaluation of the hypertension detection seminar and slow deep breathing was conducted. There is a need to enhance ongoing education about early detection of hypertension, especially among the elderly Keywords: Elderly, Hypertension, Slow Deep Breathing, Relaxation.
Implementasi Interpersonal Edukasi dan Kolaborasi Dalam Rangka Peningkatan Kesehatan Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe II di Club Diamed RS Balimed Denpasar Megayanti, Sri Dewi; Agustini, Ni Luh Putu Inca Buntari; Yusniawati, Yustina Ni Putu; Kamaryati, Ni Putu; Arka, I Gede Widhi; Juliani, Made; Trisna, Made Oktaviani Bulan; Halimah, Nur
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 7 (2025): Volume 8 No 7 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i7.18571

Abstract

ABSTRAK Diabetes melitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan adanya kenaikan gula darah disebabkan oleh terganggunya hormon insulin yang memiliki fungsi untuk menjaga homeostasis tubuh dengan cara menurunkan kadar gula dalam darah. Tujuan dilakukannya pengabdiam masyarakat ini yaitu meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat dan memandirikan masyarakat terkait upaya pencegahan penyakit diabetes mellitus tipe II. Adapun metode yang digunakan yaitu melakukan kerja sama IPE dan IPC oleh beberapa prodi di ITEKES Bali yaitu prodi anestesiologi, prodi farmasi, prodi kebidanan, prodi keperawatan dan prodi akupuntur. Hasil pengabdian masyarakat adanya peningkatakan pengetahuan dengan nilai rata-rata nilai pre test sebesar 64 dan rata-rata nilai post test sebesar 90. Artinya dengan adanya pelaksanaan kolaborasi IPE dan IPC adanya peningkatan pengetahuan terkait upaya pencegahan diabetes mellitus pada pasien dengan diabetes mellitus tipe II. Sehingga kedepannya diharapkan menjadi kegiatan rutin dalam proses pemberian edukasi khususnya pasien dengan diabetes mellitus. Kata Kunci: Diabetes Mellitus Tipe II, Kolaborasi IPE dan IPC, Tatalaksana DM  ABSTRACT Diabetes mellitus is a metabolic disease characterized by an increase in blood sugar caused by disruption of the hormone insulin which has a function to maintain the body's homeostasis by lowering blood sugar levels. The purpose of this community service is to increase public knowledge and awareness and make the community independent related to efforts to prevent type II diabetes mellitus. The method used is to collaborate on IPE and IPC by several study programs at ITEKES Bali, namely the anesthesiology study program, pharmacy study program, midwifery study program, nursing study program and acupuncture study program. The results of community service are an increase in knowledge with an average pre-test score of 64 and an average post test score of 90. This means that with the implementation of IPE and IPC collaboration, there is an increase in knowledge related to efforts to prevent diabetes mellitus in patients with type II diabetes mellitus. So that in the future it is expected to become a routine activity in the process of providing education, especially for patients with diabetes mellitus. Keywords: Type II Diabetes Mellitus, IPE and IPC Collaboration, DM Management
Optimalisasi Manajemen Nyeri melalui Terapi Distraksi Emosional dan Visual bagi Anak dan Keluarga dengan Perawatan Paliatif Care Yusniawati, Yustina Ni Putu; Lewar, Emanuel Ileatan; Putra, I Gde Agus Shuarsedana; Maharyawan, I Wayan Agus; Devi, Ni Luh Putu Lusiana; Dewi, Ni Nyoman Ari Kundari; Parwati, Putu Atika; Tripayana, I Nyoman; Suyasa, Agus Baratha; Putri, I Gusti Ayu Nandita Arta; Sukmawati, Ni Wayan Eni
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.22093

Abstract

ABSTRAK Kanker pada anak adalah pertumbuhan sel abnormal yang dapat menyebar (metastasis) dan membutuhkan perawatan paliatif. Jenis kanker yang umum antara lain leukimia, tumor otak, neuroblastoma, dan osteosarcoma. Penyebab pasti belum diketahui, namun faktor genetik, paparan karsinogen, dan virus Epstein-Barr (EBV) berperan. Gejala meliputi demam menetap, nyeri berat, kelelahan, dan gangguan tumbuh kembang. Program PKM ini bertujuan mengajarkan manajemen nyeri dan pendampingan orang tua melalui terapi distraksi emosional dan visual. Pasien dan keluarga merasakan manfaat positif. Metode menggunakan action research: perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan evaluasi. Kegiatan melibatkan Yayasan Peduli Anak Kanker Bali dan dilaksanakan melalui mewarnai, diskusi, dan pohon harapan. Hasil pretest menunjukkan rata-rata nyeri skala 4, dan posttest menunjukkan penurunan ke skala 1–2.  Kesimpulannya, terapi distraksi efektif mengurangi nyeri secara nonfarmakologis dan perlu diterapkan secara berkelanjutan dalam perawatan paliatif anak. Kata Kunci: Anak, Keluarga, Manajemen Nyeri, Distraksi Emosional dan Visual.  ABSTRACT Childhood cancer is characterized by abnormal cell growth that can metastasize and requires palliative care. Common types include leukaemia, brain tumours, neuroblastoma, and osteosarcoma. Although the exact cause remains unknown, contributing factors include genetics, exposure to carcinogens, and the Epstein-Barr virus (EBV). Symptoms may include persistent fever, severe pain, fatigue, and developmental delays. This community service program aims to educate parents on pain management and provide support through emotional and visual distraction therapy. The method applied is action research, consisting of planning, implementation, observation, and evaluation phases. Activities were conducted in collaboration with the Bali Childhood Cancer Care Foundation and included colouring, discussion, and a hope tree session. Pretest results indicated an average pain score of 4, which decreased to 1–2 in the post-test. Patients and families reported positive outcomes. In conclusion, distraction therapy is effective in reducing pain non-pharmacologically and should be sustainably implemented in pediatric palliative care. Keywords: Children, Family, Pain Management, Emotional and Visual Distraction
Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru: Hubungan Dukungan Keluarga Terhadap Kualitas Hidup Pasien Tuberkulosis Paru yusniawati, Yustina Ni Putu
JURNAL KESEHATAN PRIMER Vol 6 No 2 (2021): JKP (Jurnal Kesehatan Primer)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Kupang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31965/jkp.v6i2.577

Abstract

: Tuberculosis (TB) is a common disease in developing countries with the ratio of male and female patients are between 15 and 59 years old. Pulmonary TB disease is a contagious disease found in developing countries like Indonesia and usually occurs on children and adults. The problem is TB treatment include TB-HIV AIDS, OAT resistance, TB with metabolism, and TB children needs support from various aspect such as the government in controlling TB. Health practitioners should not only wait at the Public Health Centre but also take an action to search in the community. The purpose of this study was to identify the correlation between family supports to quality of life on patients with pulmonary TB in public health center south Denpasar and west Denpasar. This study employed observational analytical study with cross sectional approach. Family support questionnaire was modified from the Medical Outcomes Study (MOS) Social Support Survey (Sherbouren and Stewart, 1991) And life quality was modified from questioner WHOQOL-BREF (2004). Data collection is done by self-administered questionnaire. Univariate analysis was used to determine the demographic data of respondents, the majority of patients are male, with a diagnosis of Positive BTA, with a family type that is the nuclear family. Bivariate test was used spearmen rho to determine the correlation of family support to the quality of life on patients with pulmonary TB in Public Health Centre in South Denpasar and West Denpasar. The result showed that P 0,000 <a = 0.05 and r = 0.959 which meant there was significantly correlation between family support to quality of life on patients with TB in Public Health Centre in South Denpasar and West Denpasar The researcher suggested that health professionals, especially nurses, should be able to approach counselling to families of patients with pulmonary TB in order to motivate pulmonary TB patients to be obedient to taking medication and have a passion for recovery.