Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Phytochemical Screening Mango Bacang Leaf Extract (Mangifera foetida L) and Salam Leaf Extract (Syzygium polyanthum) Kony Putriani; Syahral Ramadhani; Melanie Amalia Fitry; Suyefri Sony; Amelia Wulansari
JURNAL PROTEKSI KESEHATAN Vol 10 No 1 (2021): JPK: Jurnal Proteksi Kesehatan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Poltekkes Kemenkes Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36929/jpk.v10i1.346

Abstract

Bacang mango leaves and bay leaves are plants that have been used for a long time, even bay leaves themselves are often used as cooking ingredients. Mango Bacang leaves and bay leaves contain alkaloids, phenols, tannins, flavonoids, steroids, saponins, triterpenes, polyphenols as well as essential oils. So this research was conducted to develop the use of mango Bacang leaves and bay leaves as natural medicine. The sample was determined and identified in the laboratory of the Faculty of Mathematics and Natural Sciences, Riau University. Furthermore, the mango Bacang and bay leaves were macerated using 96% ethanol and extracted until a thick extract was obtained which would then be tested for phytochemical screening on the Bacang mango leaf extract and bay leaf extract. The results obtained that the extract of mango Bacang leaf and bay leaf extract were positive for containing flavonoid compounds, saponins and tannins so that they could be developed to be used as natural remedies.
PERBANDINGAN KADAR VITAMIN C PADA NANAS SEGAR DAN KERIPIK NENAS DENGAN METODE SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Azlaini Yus Nasution; Dini Mardhiyani; Kony Putriani; Dhea Ananda; Virgiawan Saputro
JURNAL FARMASI DAN MAKANAN Vol 3 No 1 (2019): Journal Of Pharmacy and Science
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36341/jops.v3i1.1067

Abstract

Nanas merupakan salah satu buah yang mengandung vitamin C. Vitamin C merupakan senyawa kompleks yang sangat dibutuhkan oleh tubuh yang berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses metabolisme tubuh. Di Desa Kualu Nanas, Kampar, nanas diolah menjadi keripik nanas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kadar vitamin C yang ada pada nanas segar dan keripik nanas dengan menggunakan spketrofotometri Uv-Vis dengan panjang gelombang 265 nm. Hasil penelitian ini adalah pada uji linearitas didapatkan persamaan regresi linear yaitu y = 0,0809x – 0,1239. Dari persamaan regresi tersebut didapatkan kadar rata-rata nanas segar yaitu 4,274 ppm dan keripik nanas mendapatkan kadar rata-rata yaitu 2,760 ppm.
Pembuatan Keripik Singkong Sehat Non Msg Dengan Penambahan Kunyit Sebagai Antioksidan Goldha Faroliu; Kony Putriani; Lovera Anggraini; Dian Mayasari; Eva Oktarani
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 2 No 6 (2022): JPMI - Desember 2022
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.811

Abstract

Singkong merupakan tanaman ini bisa ditemukan di seluruh Indonesia. Namun di zaman serba canggih seperti sekarang makanan ubi ini bisa dibilang tidak semua orang yang suka mengkonsumsinya. Masyarakat sekarang paling lebih suka memakan cemilan makanan buatan luar negeri seperti pizza, burger dan makanan junkfood lainnya. Padahal ubi atau singkong ini punya banyak manfaat kandungan yang bagus untuk tubuh, bahkan sekarang sudah banyak orang yang sudah mengolahnya menjadi makanan yang bisa di inovasikan dalam bentuk lain, seperti keripik ubi. Namun keripik ubi yang di temukan sekarang banyak para penjual yang menggunakan bahan MSG atau monosodium glutamat sebagai bahan campuran bumbu agar lebih enak rasanya, seperti yang diketahui makanan yang mengandung MSG tidak boleh terlalu sering dikonsumsi karena berbahaya bagi kesehatan tubuh. Kegiatan pengabdian ini diharapkan bisa membuat olahan ubi / singkong menjadi keripik singkong aneka rasa dengan bumbu rempah yang alami dan kandungan rasa yang tidak mengandung MSG serta penambahan cita rasa keju yang mengandung kalsium yang bagus buat tubuh, serta meningkatkan kemandirian masyarakat secara ekonomi sebagai mata pencaharian atau membuka peluang kerja sebagai usaha pembuatan keripik singkong.
IDENTIFIKASI KANDUNGAN FORMALIN PADA BAKSO DAN MIE KUNING YANG BEREDAR DI JALAN SOEBRANTAS KOTA PEKANBARU SECARA KUALITATIF Kony Putriani; Denia Pratiwi; Nadya Putri Auliya Serawaidi; Novitalia Nur Abdiani
FORTE JOURNAL Vol 3 No 1 (2023): Edisi Januari 2023
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/fj.v3i1.449

Abstract

Bakso adalah produk pangan yang terbuat dari bahan utama daging yang dilumatkan, baik daging ayam, babi ataupun sapi serta berbagai produk makanan laut seperti ikan, udang, dan kepiting, lalu dicampur dengan tepung kanji serta berbagai macam bumbu, lalu di bentuk bulatan-bulatan dan kemudian direbus. Mie adalah makanan yang lazim dan digemari oleh masyarakat, mulai dari usia muda sampai tua karena mie harganya yang ekonomis dan cara pengolahannya juga mudah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kandungan formalin pada bakso dan mie kuning yang diperjualbelikan di sekitar Jalan Soebrantas Panam Kota Pekanbaru dengan menggunakan metode kualitatif yaitu pereaksi warna. Penelitian ini dilakukan di laboratorium analisa makanan dan minuman universitas abdurrab pada bulan januari 2022. Hasil pengujian dengan pereaksi Schiff diperoleh empat sampel bakso positif dan dua sampel mie kuning positif mengandung formalin, dengan pereaksi FeCl3 diperoleh empat sampel bakso positif dan dua sampel mie kuning positif mengandung formalin. Bakso dan mie kuning yang positif mengandung formalin tidak memenuhi persyaratan yang diatur dalam permenkes RI No. 033 tahun 2012, sehingga tidak aman untuk dikonsumsi.
AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK METANOL DAUN COCOR BEBEK (Kalanchoe Pinnata (Lam.) Pers.) TERHADAP Propionibacterium acnes DAN Staphylococcus aureus Kony Putriani -
Jurnal Biogenerasi Vol. 8 No. 1 (2023): Volume 8 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/biogenerasi.v8i1.2245

Abstract

Infeksi pada kulit atau jerawat adalah masalah yang disebabkan oleh bakteri, salah satu bakteri penyebab jerawat adalah bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus. Terapi untuk mengatasi jerawat ini dapat dilakukan dengan menggunakan obat herbal. Kini banyak masyarakat yang menggunakan obat herbal karena relative lebih aman dibandingkan dengan obat-obatan kimia sehingga mudah diperoleh, murah, tidak terjadi resistance, dan tidak berbahaya terhadap lingkungan sekitarnya. Salah satu tanaman herbal yang dapat dijadikan obat penyakit kulit yaitu daun cocor bebek, dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa tananaman ini memiliki potensi untuk menghambat bakteri. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak metanol daun cocor bebek terhadap Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus pada konsentrasi 20%, 40%, dan 60%. Penelitian ini menggunakan metode difusi agar dan difusi chakram pada media Mueller Hinton Agar (MHA) dengan beberapa konsentrasi ekstrak metanol dari daun cocor bebek yaitu 20%, 40%, 60% serta kontrol positive clindamycin untuk bakteri Propionibacterium acnes dan Ciprofloxacin untuk bakteri Staphylococcus aureus, dan DMSO sebagai kontrol negatif. Diameter hambat yang dihasilkan pada pengujian ekstrak metanol daun cocor bebek terhadap bakteri Propionibacterium acnes adalah konsentrasi 20% (9,77 mm), 40% (11,25 mm), 60% (11,61 mm). Sedangkan pada bakteri Staphylococcus aureus, konsentrasi 20% (11,58), 40% (14,75) dan 60% (17,08) mm. Hasil penelitian menunjukkan ekstrak metanol daun cocor bebek memiliki aktivitas menghambat pertumbuhan bakteri Propionibacterium acnes dan Staphylococcus aureus.
Pengujian Gel Antiseptik Infusa Daun Kelor Terhadap Jumlah Angka Kuman Serta Evaluasi Fisik Sediaannya Asiska Permata Dewi; Kony Putriani; Yulia Yesti
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 6 Nomor 2 (2023)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.301 KB) | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v6i2.151

Abstract

Moringa leaves (Moringa oleifera L.) is a plant which has benefit as anti-bacteria, anti-inflammation, and virus infection. Moringa leaves contain secondary metabolic compounds such as flavonoids, phenol, tannin, saponin, alkaloids, and triterpenoids. This research aimed to find out the effectiveness of the antiseptic gel of moringa leaves infusion on the number of germs, and its physical preparation and evaluation. The research method carried out on testing the number of germs was by counting the number of bacteria colonies which still grow in Nutrient Agar media after smeared with antiseptic gel of moringa leaves infusion, then evaluated for its physics gel trait covering organoleptic, pH, homogeneity, spreadability, and consistency. The testing result showed that in the germ count test at F1, F2, and F3, the average bacteria colony which still grew after incubation was in the amount of 137, 113, and 49 colonies. Testing in the positive control (Nuvo®) and negative control (gel basis), the average bacteria colony which still grew were in the amount of 17 and 173 colonies. The organoleptic test showed the gel form as semi-solid, greenish in colour, and the typical smell of moringa leaves, pH was in the range of 4,5 – 6,5, not seen coarse grain in gel preparations (homogeneous), spreadability around 5,1 cm – 5,5 cm and phase separation did occur in consistency test. Thereby, the higher the infusion concentration of moringa leaves in antiseptic gel, then the better its antiseptic effectiveness.
Uji Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Daun Seledri (Apium Graveolens L.) Terhadap Staphylococcus Aureus Kony Putriani; Nadya Putri Auliya Serawaidi; Asiska Permata Dewi; Maya Radista
Jurnal Ilmu Kesehatan Abdurrab Vol. 1 No. 2 (2023): Volume 1 Nomor 2 Juni 2023
Publisher : LPPM Universitas Abdurrab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of celery leaves in this study is because celery leaves contain antibacterial compounds such as saponins, tannins, and flavonoids. The aim of this study was to determine the antibacterial activity of the ethanol extract of celery leaves against Staphylococcus Aureus at concentrations of 10%, 30%, and 50% using the agar diffusion method, with chloramphenicol as a positive control and Aquadest as a negative control. The extraction method was carried out by maceration method using 96% ethanol solvent. Inhibition test results with concentrations of 10%, 30%, and 50% of celery leaf ethanol extract could inhibit the growth of Staphylococcus Aureus with an average diameter of the inhibition zone of 0 mm, 0.6 mm, and 10.6 mm. From the above results, the ethanol extract of celery leaves has antibacterial activity with weak activity against Staphylococcus Aureus.
Uji Aktivitas Antibakteri Daging Buah Alpukat Dan Ekstrak Etanol Daging Buah Alpukat (Persea Americana Mill) Terhadap Escherichia coli Kony Putriani; Asiska Permata Dewi; Rini Lestari; Nurlaily Ade Syamsuri
JIFS: JURNAL ILMIAH FARMASI SIMPLISIA Vol. 2 No. 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Jurusan Farmasi, Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanaman alpukat (Persea americana Mill) merupakan tanaman yang dapat tumbuh subur didaerah tropis seperti Indonesia dan merupakan salah satu jenis buah yang digemari oleh masyarakat karena rasanya yang enak. Penggunaan daging buah alpukat pada penelitian ini dikarenakan daging buah alpukat memiliki kandungan senyawa antibakteri seperti saponin, tanin, alkaloid, flavanoid, steroid, dan fenol. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri daging buah alpukat dan ekstrak etanol daging buah alpukat terhadap Escherichia coli pada konsentrasi 30%, 50%, dan 70% menggunakan metode difusi agar, siprofloksasin sebagai kontrol positif dan DMSO sebagai kontrol negatif. Metode ekstraksi dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, buah alpukat yang berwarna hijau. Hasil uji daya hambat dengan konsentrasi ekstrak etanol daging buah alpukat 30%, 50%, dan 70% dapat menghambat pertumbuhan Escherichia coli dengan rata-rata diameter zona hambat 11,45 mm, 12,42 mm, dan 13,95 mm, dan kontrol positif siprofloksasin adalah 25,94 mm. Zona hambat rata-rata pada daging buah alpukat 8,9 mm, 7,73 mm, dan 6,66 mm pada konsentrasi 30%, 50%, dan 70% dan kontrol positif siprofloksasin adalah 28,56 mm. Dari hasil diatas dapat diambil kesimpulan bahwa daging buah alpukat dan ekstrak etanol daging buah alpukat (Persea americana Mill) memiliki aktivitas antibakteri terhadap Escherichia coli.
Utilization Of Secondary Metabolite Compounds from 96% Ethanol Extract of Pidada Leaves (Sonneratia caseolaris L) as an Antibacterial against Bacillus subtilis and Pseudomonas aeruginosa Bacteria Putriani, Kony; Serawaidi, Nadya Putri Aulya; Roswatidi, Eva; Andini, Febria
JURNAL PROTEKSI KESEHATAN Vol 13 No 1 (2024): JPK: Jurnal Proteksi Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36929/jpk.v13i1.877

Abstract

Infectious diseases are still a serious problem, and it is important to increase other sources of antimicrobial drugs from natural ingredients, one of which is the pidada plant. This research aims to determine the content of secondary metabolite compounds found in pidada leaves and determine the inhibitory power of pidada leaf extract against the bacteria Bacillus subtilis and Pseudomonas aeruginosa. This type of research is a real experimental laboratory with a maceration extraction method using 96% ethanol solvent and antibacterial testing using the well diffusion method with variations in extract concentration of 80%, 60%, 40% and 20%. The research results show that the extract contains flavonoids, phenolic compounds, saponins, tannins and steroids. The results of the antibacterial activity test showed that there was an inhibitory power at a concentration of 80%, namely Bacillus subtilis bacteria of 19.13 mm in the intermediate category and Pseudomonas aeruginosa bacteria of 17.18 mm in the intermediate category. The results showed that the ethanol extract of pidada leaves can inhibit the growth of Bacillus subtilis and Pseudomonas aeruginosa bacteria.
Pendidikan Kesehatan dan Pemberian Makanan Tambahan untuk Penanganan Diare pada Balita dengan Formula Bubur Tempe di Wilayah Puskesmas Sei Jang Sari, Komala; Nirnasari, Meily; Putriani, Kony
SEGANTANG LADA : JURNAL PENGABDIAN KESEHATAN Vol. 2 No. 1 (2024): SEGANTANG LADA : JURNAL PENGABDIAN KESEHATAN
Publisher : Poltekes Kemenkes Tanjungpinang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53579/segantang.v2i1.149

Abstract

Diare dapat terjadi akibat dari konsumsi makanan maupun minuman yang terkontaminasi oleh bakteri, virus, atau parasit. Mayoritas penderita diare adalah anak berusia dibawah lima tahun (balita) dengan prevalensi sebesar 12,2%. Penyakit diare dapat berakibat fatal apabila penderita diare mengalami dehidrasi berat. Pemberian bubur tempe kepada penderita diare ini dapat mempersingkat durasi diare akut serta mempercepat pertambahan berat badan setelah menderita diare akut. Diare masih menjadi salah satu masalah kesehatan anak khususnya didaerah pesisir dan dapat menimbulkan kejadian luar biasa. Tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pendidikan kesehatan pada masyarakat dalam menanganani kasus kejadian diare pada balita serta pembuatan makanan tambahan berbahan tempe yang mengandung tinggi protein, asam amino serta prebiotik dan probiotik. Metode yang digunakan dikemas dalam bentuk pendidikan kesehatan beserta cara pembuatan pembuatan bubur tempe sebagai makan tambahan dalam penanganan diare. Hasil didapatkan setelah dilakukan Pemberian pendidikan kesehatan tentang penanganan diare dengan pemberian bubur tempe telah membuktikan bahwa pengetahuan dan keterampilan masyarakat meningkat.