Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

GAMBARAN PENEGAKAN DIAGNOSIS DAN TATALAKSANA BERDASARKAN TINGKAT KEJADIAN TUMOR PARU DI RSUD DR. H. ABDUL MOELOEK PROVINSI LAMPUNG TAHUN 2018-2021 Vega Edelweis Veilana; Fransisca Tarida Yuniar Sinaga; Jordy Oktobiannobel; Retno Ariza Soeprihatini Soemarwoto
Medula Vol 12 No 2 (2022): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v12i2.365

Abstract

Tumors that occur in the lungs can be divided into several types, namely benign tumors, malignant tumors, primary tumors and tumors caused by metastases from malignancies originating from other organs. There are about 1 million deaths in the population each year, which are caused by lung cancer malignancies. The case of lung tumor malignancy is ranked 4th, from the total number of cancers that occur in Indonesia. The increase in mortality due to malignant lung tumors is most likely due to delays in diagnosis. According to the Ministry of Health of the Republic of Indonesia, lung tumors are the main cause of death in men with a percentage (21.8%) and in women with a percentage (9.1%). This research uses descriptive observational method with retrospective observation using purposive sampling technique. The data used in the form of medical records. There were 159 lung tumor patients studied, consisting of 77.4% of men, 44.0% of 41-60 years of age, 95.0% of no family history, 67.9% of shortness of breath, and 67.9% of smoking history. 79.2%, using FNAB as much as 37.7%, stage IVA as much as 25.8%, squamosa cell carcinoma as much as 50.3% and chemotherapy as much as 47.8%. Lung tumor patients were mostly found in men, with an age range of 41-60 years, tended to suffer from patients who did not have a family history, the most had symptoms of shortness of breath, were active smokers, the most were stage IVA, with the type of squamous cell carcinoma. FNAB samples were 50.3% and underwent chemotherapy.
PERBEDAAN KADAR KARBON MONOKSIDA (CO) PADA SISWA KELAS 6 SD PEROKOK AKTIF, PEROKOK PASIF DAN BUKAN PEROKOK DI KABUPATEN PRINGSEWU Retno Ariza S. Soemarwoto; Fransisca Sinaga; Jordy Oktobiannobel; Linda Wahyu Sekar Arum
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 7 (2023): Volume 10 Nomor 7
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i7.10435

Abstract

Abstrak : Perbedaan Kadar Karbon Monoksida (Co) Pada Siswa Kelas 6 Sd Perokok Aktif, Perokok Pasif Dan Bukan Perokok Di Kabupaten Pringsewu. Merokok adalah salah satu faktor resiko yang menyebabkan banyak peradangan pada sistem respirasi, dari beberapa jenis kandungan bahan kimia yang terdapat pada rokok salah satu yang berbahaya bagi tubuh adalah karbon monoksida (CO). Karbon monoksida (CO) dengan mudah mengikat hemoglobin dari pada oksigen, karbon monoksida menggantikan oksigen dalam darah ketika dihirup menyebabkan kemampuan darah untuk mentransport oksigen kejaringan tubuh berkurang menyebabkan hipoksia. Mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata antara kadar karbon monoksida (CO) pada siswa kelas 6 SD perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok di Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini menggunakan metode observasi analitik dengan pendekatan cross-sectional. Parameter yang digunakan adalah kuisioner dan pemeriksaan menggunakan alat untuk mengukur kadar karbon monoksida (CO) yaitu Smokerlyzer. Pengambilan sampel dilakukan di 9 sekolah dasar yang mewakili 9 kecamatan di Kabupaten Pringsewu. Didapatkan 379 sampel yang memenuhi kriteria inklusi yaitu kelas 6 SD, siswa perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok. Terdapat perbedaan rata-rata kadar karbon monoksida (CO)  pada perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok dengan hasil rata-rata CO pada perokok aktif adalah 1,60 %, perokok pasif 1,42 % dan kadar karbon monoksida (CO) pada bukan perokok 1,56 %. Terdapat perbedaan rata-rata antara kadar karbon monoksida (CO) pada perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok.
PERBEDAAN ARUS PUNCAK EKSPIRASI PADA SISWA KELAS 6 SD PEROKOK AKTIF, PEROKOK PASIF, DAN BUKAN PEROKOK DI KABUPATEN PRINGSEWU Soemarwoto, Retno Ariza S.; Yuniar, Fransisca Tarida; Oktobiannobel, Jordy; Nurrohmah, Syifa
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 8 (2023): Volume 10 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i8.11461

Abstract

Abstrak: Perbedaan Arus Puncak Ekspirasi Pada Siswa Kelas 6 SDPerokok Aktif, Perokok Pasif, dan Bukan Perokok di KabupatenPringsewu. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa70% perokok memulai kebiasaan tersebut sebelum berusia 19 tahun karenaterbiasa melihat anggota keluarganya merokok. Provinsi Lampung salah satuprovinsi di Indonesia dengan jumlah kasus perokok yang cukup tinggi. Arus puncakekspirasi merupakan salah satu pemeriksaan untuk mendeteksi adanya PenyakitParu Obstruksi Kronik (PPOK) yang diakibatkan karena terganggunya jalan napaspada paru. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan nilai aruspuncak ekspirasi (APE) pada siswa kelas 6 SD perokok aktif, perokok pasif danbukan perokok pada siswa kelas 6 SD di Kabupaten Pringsewu. Penelitian yangdilakukan ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode penelitianobservasi analitik. Populasi penelitian ini siswa kelas 6 SD di Kabupaten Pringsewusejumlah 7.222 siswa. Sampel pada penelitian ini sebanyak 379 orang siswa. Alatpengumpulan data menggunakan metode pemeriksaan alat peak flow meter untukmengukur kadar arus puncak ekspirasi pada siswa SD. Analisis data menggunakan One-Way Anova. Distribusi frekuensi responden yang merupakan perokok aktif sebanyak 75 responden (19.8%), Rata-rata Arus puncak ekspirasi yaitu 97,39% dengan standar devisi 16,727%. Pada nilai rata-rata APE bukan perokok mempunyai nilai yang lebih baik dari yang terpapar rokok, sehingga pada perokok aktif mempunyai nilai lebih rendah dari bukan perokok dan perokok pasif yang menyebabkan penurunan fungsi paru. Kesimpulan ada perbedaan arus puncak ekspirasi pada perokok aktif, perokok pasif dan bukan perokok pada Siswa Kelas 6 SD di Kabupaten Pringsewu. 
Gambaran Faktor Saturasi Oksigen Pada Pekerja Batu Bata Di Kabupaten Pringsewu Lampung Asri, Ella Purlia Maya; Oktobiannobel, Jordy; Damhuri, Fajriani; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 8 (2024): Volume 11 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i8.15055

Abstract

Saturasi oksigen adalah kemampuan hemoglobin mengikat oksigen. Ditujukan sebagai derajat kejenuhan atau saturasi oksigen (SpO2). Salah satu parameter untuk mengukur saturasi oksigen yaitu menggunakan pulse oximetry. Tingkat saturasi oksigen dipengaruhi oleh tekanan oksigen (PO2), tekanan karbon dioksida (PCO2), pH, suhu, hemoglobin, merokok, aktivitas fisik, kadar karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), kebiasaan merokok dengan SO2, Usia dengan SO2 dan riwayat penyakit paru dengan SO2, latihan fisik akut, penggunaan APD, masa bekerja, jenis kelamin, dan status gizi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi saturasi oksigen pada pekerja batu bata di Desa Saribumi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Rancangan dalam penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah pekerja pabrik batu bata yang berada di Desa Saribumi, Pekon Saribumi Selatan, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sampel pada penelitian ini berjumlah 30 prang dengan menggunakan tekhnik total sampling. Dimana pekerja yang memiliki riwayat PPOK, asma dan TB, yang tidak dapat dilakukan pemeriksaan saturasi oksigen, memakai cat kuku, diekslusi dari penelitian. Data yang diperoleh dianalisa menggunakan Kruskal Wallis dan Mann Whitney.
Gambaran Faktor Yang Berhubungan Dengan Fungsi Paru Pada Pekerja Batu Bata Di Kabupaten Pringsewu Lampung Nurputri, Hasya Syifa; Oktobiannobel, Jordy; Ulfa, Zaleha; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 9 (2024): Volume 11 Nomor 9
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i9.15059

Abstract

Menurut BPS, Kabupaten Pringsewu merupakan salah satu daerah penghasil batu bata terbesar. Berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan, pada tahun 2020 di Indonesia terdapat 225.000 kecelakaan kerja dan 53 penyakit akibat kerja. Faktor kimia yang umum terdapat di tempat kerja adalah debu, asap pembakaran batu bata juga dapat mencemari udara. Arus Puncak Ekspirasi adalah laju aliran udara maksimal yang dapat dicapai saat ekspirasi paksa dalam waktu tertentu. Fungsi paru dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu usia, jenis kelamin, status gizi, riwayat penyakit, kebiasaan merokok, aktivitas olahraga, penggunaan APD, masa bekerja dan kadar debu. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui gambaran faktor yang berhubungan dengan fungsi paru pada pekerja batu bata di Kabupaten Pringsewu. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode penelitian observasi analitik. Populasi dan sampel pada penelitian ini adalah 30 orang pekerja batu bata di Kabupaten Pringsewu. Alat pengumpulan data menggunakan metode kuesioner dan pemeriksaan alat peak flow meter untuk mengukur kadar APE pada pekerja. Analisis data menggunakan uji univariat. Hasil penelitian didapatkan kadar APE responden Sebagian berada pada kategori sedang (90%), serta faktor dominan yang mempengaruhi fungsi paru diantaranya usia lansia (63.3%), jenis kelamin laki-laki (83.3%), status gizi normoweight (50%), perokok sedang (50%), tidak pernah olahraga (53.3%), tidak menggunakan APD (masker) (90%), masa bekerja >10 tahun (70%).
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kadar Karbon Monoksida (CO) Pada Pekerja Batu Bata Di Desa Saribumi Kabupaten Pringsewu Azizah, Soffa Lifatul; Oktobiannobel, Jordy; Wulandari, Mardheni; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 10 (2024): Volume 11 Nomor 10
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i10.15066

Abstract

Karbon monoksida (CO) adalah gas yang dapat ditemukan di udara luar dan dalam ruangan dan tidak memiliki warna, bau, rasa, atau toksisitas yang jelas. Gas karbon monoksida (CO) dalam konsentrasi tinggi dalam darah dapat menyebabkan gangguan pernapasan dan kematian dalam hitungan menit. Pekerja Industri batu bata berisiko terpapar karbon monoksida selama proses pembakaran bahan bakar. Untuk menganalisis perbedaan hubungan  faktor-faktor yang mempengaruhi kadar karbon monoksida (CO) pada pekerja batu bata di Desa Saribumi, Pekon Wates Selatan, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung Tahun 2024. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif yang dipadukan dengan observasi analitis. Parameternya terdiri dari kuesioner dan penilaian menggunakan smokerlyzer, alat yang dirancang untuk mengukur kadar karbon monoksida (CO). Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan usia paling banyak 46-65 tahun sebanyak 19 orang (63,3%), jenis kelamin paling banyak laki-laki 25 orang (83,3%), status gizi paling banyak normoweight sebanyak 15 orang (50,0%), kebiasaan merokok paling banyak pada perokok sedang sebanyak 15 orang (50%), aktivitas olahraga paling banyak tidak dilakukan oleh 16 orang (53,3%), penggunaan APD paling banyak tidak digunakan oleh 27 orang (90%) dan masa bekerja banyak > 10 tahun yaitu 21 orang (70%). Terdapat perbedaan faktor-faktor yang mempengaruhi kadar karbon monoksida (CO) pada pekerja batu bata di Desa Saribumi, Pekon Wates Selatan, Kecamatan Gading Rejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung Tahun 2024.
EFFECTIVENESS OF TRIPLE THERAPY WITH SINGLE AND MULTIPLE INHALERS IN CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE Soemarwoto, Retno Ariza; Putri, Maharani; Meirissa, Tria; Yunus, Faisal; Aryana, Wayan Ferly; Wibowo, Adityo; Oktobiannobel, Jordy
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 10, No 1 (2025): March
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v10i1.3050

Abstract

Introduction: Exacerbations of chronic obstructive pulmonary disease (COPD) contribute to 3 million annual deaths worldwide. Triple therapy (ICS + LABA + LAMA) helps reduce symptoms and exacerbation risk.Objective: To assess the effectiveness and clinical response of single versus multiple inhaler therapy in managing COPD.Methods: A pre-post study was conducted on two groups of COPD patients over 8 weeks. Group 1 (n=47) used a single inhaler, while Group 2 (n=45) used multiple inhalers. Outcomes were measured using the mMRC scale, blood eosinophil levels, and spirometry at weeks 2 and 8.Results: The single-inhaler group significantly reduced mMRC scores, with a median decrease from 4.00 to 2.00 (p0.05). Eosinophil levels also decreased significantly in both groups, with a larger reduction in the single-inhaler group (p0.05). Lung function improved in both groups, but no significant differences were found (p0.05) in terms of time or between-group comparisons.Conclusion: Single-inhaler therapy reduced dyspnea and eosinophil levels more effectively than multiple inhalers. The effectiveness of single inhalers may be attributed to higher adherence due to ease of use. 
Gambaran Keadaan Differential Counting (Sel Neutrofil) pada Pekerja Batu Bata Janah, Arfah Miftahul; Oktobiannobel, Jordy; Pratama, Sandhy Arya; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 7 No 1 (2025): Februari 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i1.4191

Abstract

Industri batu bata adalah sektor industri informal yang banyak digeluti oleh masyarakat Indonesia. Badan Pusat Statistik Indonesia 2018 menyatakan di Indonesia, sektor informal masih tertinggi dengan tenaga kerja sebanyak 73,98 juta orang (58,22%). Provinsi Lampung salah satu provinsi di Indonesia dengan jumlah industri batu bata yang cukup tinggi. Sel neutrofil adalah sistem kekebalan pertama yang berfungsi untuk melawan patogen yang masuk ke dalam tubuh, dari semua sel darah putih neutrofil merupakan sel yang paling sering diidentifikasi dalam pemeriksaan differential counting. Tujuan penelitian untuk mengetahui bagaimana keadaan differential counting (sel neutrofil) pada pekerja batu bata di Kabupaten Pringsewu Lampung Tahun 2024. Penelitian yang dilakukan ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan metode penelitian observasi analitik. Populasi penelitian ini terdiri dari 30 pekerja batu bata yang berada di industri batu bata Desa Saribumi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 orang pekerja batu bata di industri batu bata Desa Saribumi, Kecamatan Gadingrejo, Kabupaten Pringsewu, Provinsi Lampung. Alat pengumpulan data menggunakan metode pemeriksaan differential counting untuk mengetahui bagaimana jumlah sel neutrofil pada pekerja batu bata. Berdasarkan hasil pada penelitian ini didapatkan paling banyak responden distribusi frekuensi 20 responden (66,7%) dengan jumlah sel neutrofil >70%. Jumlah responden usia 46-65 tahun sebanyak 19 orang (63,3%). Terdapat 25 responden (83,3%) jenis kelamin laki-laki, 11 responden (36,7%) dengan status gizi overweight, 15 responden (50%) perokok sedang, 16 responden (53,3%) yang tidak melakukan aktivitas olahraga, 27 responden (90%) yang tidak menggunakan APD dan terdapat 21 responden (70%) masa kerja >10 tahun.
Gambaran Kadar Vitamin D Dengan Kejadian Eksaserbasi Pasien PPOK Di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu .Fitriyaturrohmah, Fitriyaturrohmah; Oktobiannobel, Jordy; Alfarisi, Ringgo; Hidayat, Hidayat; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 4 (2025): Volume 9 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i4.20662

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) merupakan penyakit pernapasan progresif yang ditandai dengan hambatan aliran udara dan eksaserbasi akut, dengan defisiensi vitamin D yang meningkatkan resiko eksaserbasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan kadar vitamin D dengan kejadian eksaserbasi pasien PPOK di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu. Rancangan observasional analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Jumlah sampel 35 orang pasien PPOK di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu. Data pasien PPOK diperoleh melalui rekam medis dan data vitamin D diperoleh melalui pemeriksaan POCT yang dilakukan di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Analisis statistik menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara kadar vitamin D dengan kejadian eksaserbasi pasien PPOK. Sebagian besar pasien PPOK dalam kondisi stabil sebanyak 31 orang (33,6%), dan tidak stabil sebanyak 4 orang (11,4%). Kadar vitamin D pada pasien mayoritas berada pada kategori rendah sebanyak 19 orang (54,3%).
Gambaran Kadar Vitamin D Dengan Kejadian Eksaserbasi Pasien Asma Stabil Di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu Ayu Mawarni, Ni Wayan Demika; Oktobiannobel, Jordy; Hadiarto, Rinto; Hidayat, Hidayat; Soemarwoto, Retno Ariza Soeprihatini
Jurnal Medika Malahayati Vol 9, No 4 (2025): Volume 9 Nomor 4
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jmm.v9i4.20661

Abstract

Asma merupakan penyakit yang bersifat heterogen, umumnya ditandai oleh peradangan kronis pada saluran napas. Pada kondisi dimana jika seorang penderita asma yang memiliki kadar vitamin D rendah dalam tubuh dapat memicu terjadinya peningkatan sitokin kemudian memperparah peradangan saluran napas. Penderita asma dapat mengalami eksaserbasi yang berpotensi mengancam jiwa. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan kadar vitamin D dengan kejadian eksaserbasi pasien asma stabil di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu. Rancangan observasi analitik dengan pendekatan Cross-sectional. Jumlah sampel 35 orang pasien asma di Klinik Harum Melati Kabupaten Pringsewu pada tahun 2025. Data pasien asma didapatkan dari rekam medis serta wawancara, dan data vitamin D diperoleh melalui sebuah pemeriksaan POCT. Analisis statistik dilakukan menggunakan Fisher’s Exact Test untuk menilai hubungan antara kadar vitamin D dan kejadian eksaserbasi pada pasien asma stabil. Hasil analisis menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kadar vitamin D dan kejadian eksaserbasi (p = 0.132). Sebanyak 25 orang (71,4%) termasuk ke dalam kategori asma tidak stabil, dan sebanyak 10 orang (28.6%) termasuk kategori stabil. Mayoritas responden mempunyai kadar vitamin D dalam kategori normal, yaitu sebanyak 19 orang (54.3%).