Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

Survei Kebutuhan untuk Cek dan Edukasi Cara Menjaga Kesehatan Mata pada Masa Online Learning di Universitas Ciputra Surabaya Hadi, F. Siusanto; Effendy, Lyndia; Pribadi, Florence; Posuma, Anastasia Ellena; Budi, Stephanie Laurensia; Sampe, Jonah Alberto; Laning, Joseph Christian
Jurnal Leverage, Engagement, Empowerment of Community (LeECOM) Vol. 5 No. 2 (2023): Jurnal Leverage, Engagement, Empowerment of Community (LeECOM)
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/leecom.v5i2.4095

Abstract

Setelah munculnya pandemi COVID-19, perubahan metode pembelajaran dari pembelajaran luring menjadi daring tentu mengubah kebiasaan sehari-hari dan berpengaruh terhadap kesehatan mata para pelajar. Kegiatan ini bertujuan untuk menilai kesehatan mata pelajar di sekitar Universitas Ciputra dan pemahaman pengetahuan pelajar dalam menjaga kesehatan mata. Kegiatan ini diselenggarakan di Corepreneur Universitas Ciputra yang diikuti sebanyak 45 peserta. Ditemukan hasil bahwa dari 27 pelajar yang menggunakan kacamata miopia, ada dua orang yang tidak mengeluhkan digital eye strain atau computer eye syndrome. Selain itu, didapatkan 46% mengeluhkan adanya sering pusing dan keluhan computer vision syndrome lainnya setelah membaca lebih dari 2 jam dan bermain gadget lebih dari dua jam. Sedangkan 17 pelajar lainnya dengan mata sehat tidak berkacamata mempunyai keluhan tersering yaitu sering mengucek mata 53%, namun jarang dari mereka yang mengeluhkan pusing bila membaca atau bermain gadget lebih dari dua jam. Hanya 6 % yang mengeluhkan pusing setelah membaca atau bermain gadget lebih dari dua jam dan mereka mendapatkan pelayanan cek kesehatan mata dan konsultasi lebih lanjut. Hasil konsultasi ada beberapa dari mereka yang setelah dicek menggunakan Snellen chart dan refraktometer, membutuhkan kacamata untuk mengatasinya, dan dilanjutkan dengan pemberian edukasi cara menjaga kesehatan mata yang tepat di masa transformasi digital ini.
Clinical Benefits of Ketorolac in Postoperative Pain Control Management: A Comprehensive Review Noer, Tjandrakirana M Sjaifullah; Pribadi, Florence; Dion, Aldy
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Vol.10 No.1 Mei 2024
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/averrous.v10i1.14909

Abstract

Pain accounts for about 70% of visits to emergency rooms, approximately 80% of surgical patients experience acute postoperative pain, more than 38% of patients are readmitted following surgery due to severe pain. Up to 77% of post surgical patients received insufficient pain treatment, following treatment 71% of patients reported continuing to experience pain and 80% said they were still experiencing moderate to severe pain. Previous studies conducted both domestically and internationally have demonstrated the benefits of ketorolac and its usefulness in managing postoperative pain. This article's goal is to provide a comprehensive understanding of the potential of ketorolac as a pharmacological agent in the management of post-operative pain. A narrative review method was employed, utilizing research articles and international guidelines to gather literature. Around 230 libraries were found to meet the criteria and studied, 27 libraries were used in order to create this article. Ketorolac has a good safety profile and there are a few contraindications in patients that clinicians must be aware. Studies suggest that administering ketorolac within two hours after surgery for a treatment duration of two to five days. Numerous studies have demonstrated the potential of ketorolac in the therapy of postoperative pain.
Tracing Mumps in Rural Area: A Clinical Profile of Infected Children and Adolescents in Bulu, Tuban Dion, Aldy; Pribadi, Florence; Dewi, Karina
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Volume 11 No.1 Mei 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mumps, also known as epidemic parotitis, is a viral infection that affects the salivary glands. This disease commonly occurs among school-aged children and adolescents. According to data from the World Health Organization (WHO), the incidence of mumps in Southeast Asia (excluding Indonesia) reached 8,985 cases in 2022. In Indonesia, the Ministry of Health reported 6,593 cases in 2024. Given these challenges and the high number of cases found in the community, researchers aimed to study the clinical profile of mumps in school-aged children and adolescents in Bulu, Tuban. This research was observational in nature, using a descriptive cross-sectional study design. The findings revealed that male children are at higher risk of contracting mumps, with the highest infection rate observed in the 8-10 year age group. Areas characterized by close-knit living conditions and low immunization coverage reported a higher incidence of mumps. The most common complaint that led patients to seek medical care was cheek pain. Additionally, a significant number of mumps patients were found to be underweight. The most frequently administered treatment involved a combination of analgesic and vitamin.
THE The Relationship Between Knowledge and Attitude on Hba1c Levels in Type 2 Diabetes Mellitus Patients in The Working Area of Made Health Center Surabaya Mohamad, Fawaid; Imam Santosa, Rahajoe; Pribadi, Florence
Bahasa Indonesia Vol 6 No 1 (2025): Prominentia Medical Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/pmj.v6i1.5365

Abstract

Non-communicable diseases (NCDs) have become the focus of world leaders, especially diabetes mellitus. (DM). Through inflammatory processes such as the formation of free fatty acids and adipokine imbalance, adipose tissue contributes to increased insulin resistance. The city of Surabaya has the highest number of DM patients in East Java, with 102,599 DM patients in 2017 and 115,460 DM patients in 2018. The objective of this study is to determine the relationship between knowledge and attitudes towards the prevention of the progression of type 2 diabetes mellitus in the working area of the Made Health Center in Surabaya. This research uses a cross-sectional approach with the chi-square statistical test method. The results of this study indicate that there is a relationship between knowledge and HbA1c levels (p = 0.035) and for the relationship between attitude and HbA1c levels (p = 0.888). This study can be concluded that there is a relationship between knowledge and HbA1c levels and there is no relationship between attitude and HbA1c levels.
Formulasi dan Evaluasi Pengaruh Sediaan Krim Pelembap Dengan Gliserol Terhadap Kadar Hidrasi Kulit Tikus Putih Yang Dipapar Aseton Sudargo, Iie; Nurhadi, Stefani; Pramita, Desy Hinda; Pribadi, Florence; Sayogo, Wiliam; Adrianto, Hebert; Wirya, Stephen Akihiro
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 11 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i11.3048

Abstract

Kulit kering atau xerosis, ditandai dengan hilangnya fungsi barier kulit dan berkurangnya hidrasi kulit. Gliserol, suatu humektan, dapat meningkatkan hidrasi kulit dengan karena memiliki kemampuan untuk menarik molekul air dengan membentuk ikatan hidrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian krim pelembap dengan berbagai konsentrasi gliserol terhadap kadar hidrasi kulit tikus putih yang dipapar aseton. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan Sampel penelitian dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus. Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Dari hasil analisis deskriptif didapatkan bahwa rata-rata kadar hidrasi kulit tertinggi dihasilkan oleh krim pelembap formula III yang mengandung 20% gliserol. Hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa sediaan krim pelembap kontrol tanpa gliserol tidak meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Sediaan krim pelembap formula I, II, dan III yang masing-masing mengandung 5%, 10%, dan 20% gliserol dapat meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Dari hasil uji t dua sampel bebas ditemukan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara efek hidrasi kulit krim pelembap kontrol dengan krim pelembap formula I, II, dan III. Hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan efek hidrasi kulit yang signifikan antara sediaan krim pelembap formula I, II, dan III (p<0,05). Penelitian ini menegaskan efikasi gliserol sebagai humektan dalam meningkatkan hidrasi kulit. Temuan ini mendukung pengembangan krim pelembap berbasis gliserol untuk mengatasi kulit kering.
Pemeliharaan Kesehatan Mata Siswa Kelas 1 SD Kr. Baptis Surabaya Saat Proses Belajar dari Rumah Tandean, Victor; Winarso, Hudi; Pribadi, Florence; Sofyan, Permata Ayu; Gondo, Casey Clarissa; Setiawan, Adinda Zharifah Putri
Aksiologiya: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7 No 4 (2023): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/aks.v7i4.9457

Abstract

Pelaksanaan belajar dari rumah meningkatkan paparan anak pada gawai. Penggunaan gawai oleh anak usia sekolah, perlu dibarengi dengan pendampingan orang tua agar dapat mengendalikan durasi dan konten yang diakses. Penggunaan gawai berlebihan berpotensi menimbulkan gangguan tajam penglihatan (miopia). Anak dengan gangguan tajam penglihatan perlu terapi kacamata agar dapat berfungsi dengan baik di lingkungannya dan mencegah perburukan penyakit. Pada umumnya anak tidak mengeluhkan tentang gangguan penglihatan, tetapi ada tanda yang dapat diperhatikan oleh orang tua atau guru yaitu sering menyipitkan/mengusap mata, melihat dengan jarak sangat dekat atau sering mengeluh pusing atau mual. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah pemeliharaan kesehatan mata siswa kelas 1 di SD Kr. Baptis Surabaya. Metode yang digunakan adalah dengan diskusi kelompok terfokus, webinar tentang kesehatan mata, cara menjaga dan mencegah perburukan gangguan penglihatan pada guru dan wali murid, pemeriksaan tajam penglihatan dan koreksi kacamata untuk murid. Prevalensi gangguan tajam penglihatan pada murid sebesar 81.25% dan 50% diantaranya menderita astigmatisma miopia simpleks. Miopia pada anak perlu diterapi dengan kacamata untuk mencegah terjadinya miopia berat saat anak bertumbuh dewasa dan meningkatkan prestasi akademik serta membuka peluang karier masa depan anak. Program skrining tajam penglihatan mata anak di sekolah adalah langkah mudah deteksi dini gangguan tajam penglihatan untuk optimalisasi perkembangan anak bangsa.
Identifikasi faktor resiko utama pada kanker paru non-smoker Effendy, Lyndia; Pribadi, Florence; Kusumah, Irwin Priyatna; Manurung, Riska Enjelica
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 7 (2025): Volume 19 Nomor 7
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i7.1308

Abstract

Background: Lung cancer in non-smokers represents a distinct clinical and biological entity from smoking-associated lung cancer, characterized by different risk factors, molecular profiles, and prognosis. Understanding the predominant risk factors in this population is critical for early detection, prevention, and personalized treatment. Purpose: To identify and elucidate the most common risk factor for lung cancer in non-smokers through an integrative review of epidemiological, genetic, and environmental research, highlighting their clinical relevance. Method: The literature review and article search were conducted using the PCC framework (Population, Concept, Context) with sources extracted from three databases: Google Scholar, PubMed, and Scopus. The keywords used included "psychological stress" AND "lung cancer" AND "non-smoker". Inclusion criteria for articles were as follows: published between 2000–2025, full-text available, open-access, published in scientific journals, written in English or Indonesian, original research studies. Results: Among the identified risk factors secondhand smoke exposure, genetic predispositions, environmental pollutants, oncogenic viruses, and pre-existing lung diseases exposure to secondhand smoke (environmental tobacco smoke) emerges as the most common and well-supported risk factor for lung cancer in non-smokers. Meta-analyses report a 15-27% increased risk associated with spousal or occupational exposure, underscoring its epidemiological significance. Genetic mutations such as EGFR and ALK rearrangements are prevalent in non-smoker lung cancer patients but represent somatic changes rather than primary risk factors. Other contributors like radon exposure, cooking fumes (particularly in developing countries), and infections have variable and less consistent evidence. Screening guidelines currently do not extend to non-smokers due to insufficient risk stratification. Conclusion: The predominant risk factor for lung cancer in non-smokers is exposure to secondhand tobacco smoke. This highlights the critical public health need to reduce environmental tobacco exposure. Suggestion: Further research is needed to clarify the pathogenic contribution of other factors and to develop tailored screening criteria for non-smoking populations.   Keywords: Lung Cancer; Non-Smoker; Risk Factors Identification.   Pendahuluan: Kanker paru pada non-perokok merupakan entitas klinis dan biologis yang berbeda dari kanker paru terkait merokok, ditandai dengan faktor risiko, profil molekuler, dan prognosis yang berbeda. Memahami faktor risiko utama pada populasi ini sangat penting untuk deteksi dini, pencegahan, dan pengobatan yang dipersonalisasi. Tujuan: Untuk mengidentifikasi dan menjelaskan faktor risiko paling umum untuk kanker paru pada non-perokok melalui tinjauan integratif penelitian epidemiologi, genetik, dan lingkungan, dengan menekankan relevansi klinisnya. Metode: Penelitian review literature sistemik dilakukan dengan kerangka PCC (Population, Concept, Context) menggunakan sumber literature yang diambil dari tiga basis data: Google Scholar, PubMed, Scopus. Kata kunci yang digunakan meliputi sudi hubungan AND stress AND kanker paru AND non-smoker. Kriteria inklusi artikel antara lain artikel yang dipublikasi tahun 2000-2025, full text, akses terbuka, jurnal ilmiah, ditulis dalam Bahasa Inggris dan Indonesia serta penelitian asli. Hasil: Diantara faktor risiko yang teridentifikasi - paparan asap rokok orang lain (secondhand smoke), predisposisi genetik, polutan lingkungan, virus onkogenik, dan penyakit paru yang sudah ada sebelumnya, paparan asap rokok orang lain (environmental tobacco smoke) muncul sebagai faktor risiko yang paling umum dan didukung bukti kuat untuk kanker paru pada non-perokok. Meta-analisis melaporkan peningkatan risiko sebesar 15-27% terkait paparan dari pasangan atau lingkungan kerja, yang menegaskan signifikansi epidemiologisnya. Mutasi genetik seperti penyusunan ulang EGFR dan ALK memang prevalen pada pasien kanker paru non-perokok, tetapi lebih merupakan perubahan somatik daripada faktor risiko primer. Kontributor lain seperti paparan radon, asap memasak (terutama di negara berkembang), dan infeksi memiliki bukti yang bervariasi dan kurang konsisten. Pedoman skrining saat ini belum mencakup non-perokok karena stratifikasi risiko yang belum memadai. Simpulan: Faktor risiko utama kanker paru pada non-perokok adalah paparan asap rokok orang lain. Hal ini menyoroti kebutuhan mendesak dalam kesehatan masyarakat untuk mengurangi paparan tembakau di lingkungan. Saran: Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memperjelas kontribusi patogenik dari faktor-faktor lain dan mengembangkan kriteria skrining yang disesuaikan untuk populasi non-perokok.   Kata Kunci: Faktor Resiko Utama; Kanker Paru; Non-Smoker.
Formulasi dan Evaluasi Pengaruh Sediaan Krim Pelembap Dengan Gliserol Terhadap Kadar Hidrasi Kulit Tikus Putih Yang Dipapar Aseton Sudargo, Iie; Nurhadi, Stefani; Pramita, Desy Hinda; Pribadi, Florence; Sayogo, Wiliam; Adrianto, Hebert; Wirya, Stephen Akihiro
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 11 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i11.3048

Abstract

Kulit kering atau xerosis, ditandai dengan hilangnya fungsi barier kulit dan berkurangnya hidrasi kulit. Gliserol, suatu humektan, dapat meningkatkan hidrasi kulit dengan karena memiliki kemampuan untuk menarik molekul air dengan membentuk ikatan hidrogen. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pemberian krim pelembap dengan berbagai konsentrasi gliserol terhadap kadar hidrasi kulit tikus putih yang dipapar aseton. Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimental menggunakan tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar jantan Sampel penelitian dibagi menjadi 4 kelompok, masing-masing terdiri dari 7 ekor tikus. Analisis data dilakukan dengan menggunakan software SPSS. Dari hasil analisis deskriptif didapatkan bahwa rata-rata kadar hidrasi kulit tertinggi dihasilkan oleh krim pelembap formula III yang mengandung 20% gliserol. Hasil uji t berpasangan menunjukkan bahwa sediaan krim pelembap kontrol tanpa gliserol tidak meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Sediaan krim pelembap formula I, II, dan III yang masing-masing mengandung 5%, 10%, dan 20% gliserol dapat meningkatkan kadar hidrasi kulit pada hari pertama, kedua, dan ketiga sesudah pengolesan. Dari hasil uji t dua sampel bebas ditemukan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05) antara efek hidrasi kulit krim pelembap kontrol dengan krim pelembap formula I, II, dan III. Hasil uji ANOVA satu arah menunjukkan adanya perbedaan efek hidrasi kulit yang signifikan antara sediaan krim pelembap formula I, II, dan III (p<0,05). Penelitian ini menegaskan efikasi gliserol sebagai humektan dalam meningkatkan hidrasi kulit. Temuan ini mendukung pengembangan krim pelembap berbasis gliserol untuk mengatasi kulit kering.
Modification of qSOFA Increases Mortality Prediction Accuracy in Sepsis Patients Gunawan, Erik Jaya; Siahaan, Salmon Charles Pardoman Tua; Idarto, Areta; Pribadi, Florence; Handayani, Lidya
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol. 33 No. 1 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jkb.2024.033.01.3

Abstract

The Quick Sequential Organ Failure Assessment (qSOFA) is a simple parameter, however, its sensitivity as a mortality predictor is low. This study aimed to improve the predictor performance of qSOFA for in-hospital mortality. This study was a retrospective single-centered cohort using medical record data. This study included 150 patients aged 18-80 years old, who experienced sepsis and received ICU care between September 2021 and August 2022. qSOFA and modified ROX index (mROX) were calculated based on the most severe condition recorded in the emergency department (ED). Each variable's area under the receiver operating characteristic (AUROC) curve, sensitivity, and specificity were compared to predict in-hospital mortality. qSOFA scores ≥2 and mROX values ≤3.20 were independent factors that increased the risk of in-hospital mortality (OR 3.69 and 21.50; p 0.004 and 0.005, respectively). The combination of qSOFA scores ≥2 and mROX value ≤3.20 as in-hospital mortality predictors resulted in AUROC 0.791 with a sensitivity of 71.7% and specificity of 75.7%. The AUROC, sensitivity, and specificity of the combination of qSOFA and mROX were higher than qSOFA (0.766, 70.8%, 70.3%) or mROX (0.760, 68.1%, 67.6%) alone. In conclusion, the combination of qSOFA scores ≥2 and mROX values ≤3.20 increase the sensitivity and specificity for predicting in-hospital mortality in sepsis patients.
PROMOSI KESEHATAN DAN SKRINING PENCEGAHAN SINDROM METABOLIK PADA MASYARAKAT JEMAAT GEREJA DI KECAMATAN LAKARSANTRI, SURABAYA Alim, Denys Putra; Suisan, Yohan Christian; Pribadi, Florence; Arisanti, Raden Roro Shinta; Adam, Kamila
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 No. 2 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i2.26357

Abstract

Masyarakat lanjut usia erat kaitannya dengan banyak komorbiditas salah satunya sindrom metabolik. Gereja Katolik turut berperan serta mengembangkan jemaat lansia melalui komisi lansia yang bertujuan untuk mewujudkan karakter kristiani dan peningkatan kualitas hidup umat lansia agar sehat secara fisik, mental dan rohani baik sebagai individu, anggota dalam keluarga maupun komunitas. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan taraf hidup kesehatan masyarakat, membantu meringankan beban saudara yang membutuhkan, serta membantu pemerintah dalam mewujudkan program pelayanan kesehatan, khususnya kedokteran pencegahan dari penyakit-penyakit terkait sindrom metabolik melalui kegiatan promosi kesehatan dan skrining pencegahan sindrom metabolik. Kegiatan yang dilakukan mencakup pengukuran antropometri tinggi dan berat badan, lingkar pinggang-panggul, kadar lemak, tekanan darah, kadar gula darah dan kolesterol menggunakan alat medis yang sesuai. Kegiatan edukasi pencegahan untuk setiap masing-masing individu masyarakat turut dilakukan melalui konsultasi dengan dokter setelah melalui pemeriksaan kesehatan. Terdapat 233 masyarakat yang dilayani dengan hasil didapatkan usia 44,64 tahun dimana proporsi perempuan 65,6%, obesitas 41,63%, hipertensi 48,5%, hiperglikemia 2,15%, dan dislipidemia 75,54%. Tingkat pengetahuan masyarakat jemaat terhadap sindrom metabolik sebesar 86,78 poin dengan skor domain gejala sindrom metabolik paling tinggi skornya (92,7 poin). Masyarakat perlu meningkatkan kesehatan diri dengan menghindari risiko sindrom metabolik dan mencegah komplikasinya.
Co-Authors Achmad Basori, Achmad Adam, Kamila Adinda Zharifah Putri Setiawan Agnes Atmadjaja Almer Fathoni Syahda Amadea Arum Natasha Angelarita Djami Raga Areta Idarto Arini Dyah Saputri Arisanti, Shinta Atalya Riawani Iring Azyvati Karensa Putera Azyvati Karesna Putera Bachtiar Rizki Nardiansyah Bella Meylani Lifindra Bella Meylani Lifindra Bella Meylani Lifindra Berlian Ester Wakas Berlian Ester Wakas Budi, Stephanie Laurensia Bueya, Eirene Putri Febriani Pratama Casey Clarissa Gondo Casey Clarissa Gondo Cassey Clarissa Gondo Citra Videla, Ardelia Darmanto, Arief Gunawan Denys Putra Alim Desy Natalia F. Maskim Dion, Aldy Dyaniko Prio Basudewo Ellysia Yuvena Maheswari Eric Dino Tandoyo Erik Jaya Gunawan Eva M. Anigomang Gede T.W. Suara Glenn Gilang Manyering Glory Ta’bi Palloan Gondo, Casey Clarissa Harijanto, Cyrena Theophania Hebert Adrianto Helen Octavia Djoenaydy Hudi Winarso Imam Santosa Imam Santosa, Rahajoe Imanuel D. K. Aji Intan Murni Arifah Irwin Prijatna Kusumah Irwin Priyatna Kusumah Karina Dewi, Karina Karmila A. Wardani Kencanawati, Nathania Dwi Kevin Luke Kevin Luke Kharisma A. Perdana Kusumah, Irwin Priyatna Laning, Joseph Christian Lidya Anin Lidya Handayani Lifindra, Bella Meylani Lola Adriani Lorent P. Ridfan Luke, Kevin Lyndia Effendy Manurung, Riska Enjelica Mardhika, Della Maria K. A. Klau Mega Nilam Sari Mitha A. P. Handojo Mohamad, Fawaid Mufti Yuana, Hindri Muhammad Fadhil Ihsan Pratama Muliasari Kartikawati Natalia Yuwono Nathania Dwi Kencanawati Nendra Ateja, Kerta Ni Luh Shalia Eka Pratiwi Njoto, Juli Karijati Noer, Tjandrakirana M Sjaifullah Novia Yolanda Nur Aini Nur, Farah Shania Olivia Tantana Permata Ayu Sofyan Posuma, Anastasia Ellena Pramita, Desy Hinda Raden Roro Shinta Arisanti Rafa Daniel Walukow Rahajoe Imam Santoso Raniar Nasyira Reynaldi Hardianto Saputra Ridzal Wahid Ronald Torang Marsahala Panggabean Salmon Charles Pardomuan Tua Siahaan Sampe, Jonah Alberto Santosa, Rahajoe Imam Santoso, Rahajoe Imam Sari, Nurul Illahi Kusuma Sayogo, Wiliam Setiawan, Adinda Setiawan, Adinda Zharifah Putri Siahaan, Salmon Charles Siahaan, Salmon Charles Pardoman Tua Siusanto Hadi Sofyan, Permata Ayu Stefani Nurhadi Suameitria, Desak Nyoman Surya Sucahyo, Yoselyn Sudargo, Iie Suhartati Suhartati Syahida, Nawira Tambuang, Christ Tandean, Victor Ummu Habibah, Ummu Ummul Fadika Victor Tandean Wahid, Ridzal William Tandio Putra Wiraputri, Arini Wirya, Stephen Akihiro Yasmine P. Fadhilah Yoewono, Jessica Renata Yohan Christian Suisan Zefanja Andera Gondo