Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

FORMULASI SEDIAAN GEL EKSTRAK RIMPANG TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) SEBAGAI PEWARNA RAMBUT ALAMI Astryna, Syarifah Yanti; Kesumawati, Kesumawati; Rahmi, Cut
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.4201

Abstract

Latar Belakang : Era zaman modern banyak produk yang digunakan untuk pewarna rambut. Sediaan pewarna rambut digunakan dalam tata rias untuk mewarnai rambut agar terlihat menarik. Tumbuhan yang memiliki zat warna salah satunya rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) zat warna yang terkandung adalah kurkumoid. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui zat warna pada temulawak dapat diformulasikan sebagai gel pewarna rambut dan zat warna pada temulawak dapat menghasilkan warna terbaik pada konsentrasi tertentu. Metode Penelitian : adalah maserasi, pembuatan formulasi dengan penambahan ekstrak temulawak sebagai zat pewarna dengan 4 variasi konsentrasi 0%, 5%, 15% dan 25%, pirogalol sebagai pembangkit warna, xanthan gum sebagai pengental dan aquades sebagai pelarut. Evaluasi sediaan pewarna rambut meliputi pengujian : organoleptik, pH, iritasi, stabilitas warna yang dihasilkan, stabilitas terhadap pencucian, stabilitas terhadap matahari dan kesukaan. Hasil Penelitian : Hasil penelitian evaluasi sediaan untuk uji organoleptik menunjukan bahwa semakin besar konsentrasi yang ditambahkan maka semakin pekat warna yang dihasilkan. pH terbaik yaitu menunjukan pada F3. Uji iritasi sediaan pewarna rambut menyatakan bahwa tidak ada reaksi pada semua formula yang telah diuji. uji stabilitas warna yang dihasilkan semakin besar konsentrasi ekstrak, maka semakin gelap warna yang dihasilkan. uji stabilitas warna terhadap pencucian menunjukan formula terbaik pada F4. Uji stabilitas terhadap matahari warna rambut tidak mengalami perubahan. Uji kesukaan yang terbaik adalah F4. Zat warna pada rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) dapat diformulasikan sebagai gel pewarna rambut. Kesimpulan : Formulasi yang menghasilkan warna terbaik yaitu pada konsentrasi ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) 25% menghasilkan warna kuning perang kecoklatan.Kata Kunci : Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Rambut, Gel Pewarna Rambut.Background : In modern era, there are many products used as hair dye. Hair dye preparation is used in hair make up to color it so that it looks appealing. One of the plants with pigments is temulawak rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), the pigment contained is called curcumoid. The objectives : The objectives of this study is to determine if the pigment in temulawak can be formulated into hair dye and if the pigment can produce the best color at a spesific concentration. Research method : The research method is maceration, the formulation making was done by adding temulawak extract as a dye with 4 variant concentration at 0%, 5%, 15% and 25%. Pirogalol as color stimulator, xanthan gum as thickener and aquades as solvent. The ovaluation of hair dye preparations are included testing: organoleptic, pH, irritation, stability of the resulting color, stability to washing, stability to the sun and preference. Results : The study results to the evaluation of organolepctic test shows that the higher the concentration added, the stronger the color produced, the best pH was found in F3. Irritation test on hair dye showed no reaction to all the formulations tested, the color stability produced stated that the higher the extract concentration, the darker the color produced at the end. The best formulation is F4 due to the color stability test to washing. Stability test to the sun shows no changes. The most preferred formulation is F4. The pigment found in temulawak rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) can be formulated into hair dye gel. Conclusion : The formulation that produces the best color is at 25% concentration of temulawak rhizome extract (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) that gives brownish yellow color.Keywords : Temulawak Rhizome (Curcuma xanthorrhiza Roxb.), Hair, Hai dye gel.
Formulasi Sediaan Lulur Whitening Dari Ekstrak Ampas Wortel (Daucus carota L.) Kesumawati, Kesumawati; Fadlia, Fitri; Astryna, Syarifah Yanti; Fitriliana, Fitriliana
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.4092

Abstract

 Kulit merupakan bagian tubuh yang penting dan perlu diperhatikan. Kulit yang indah identik dengan kulit yang tidak kusam dan warna kulit yang cerah. Menjaga kesehatan kulit tidak hanya dilakukan dengan makanan kaya akan nutrisi, tetapi dapat dilakukan dengan memberi nutrisi dari luar. Lulur merupakan salah satu sediaan yang dapat membuka pori-pori, mengangkat sel kulit mati, kotoran, sehingga kulit menjadi lebih bersih dan cerah. Kandungan flavonoid dari ekstrak ampas wortel mempunyai kemampuan untuk mencerahkan kulit. Penelitian ini bertujuan mengetahui formulasi sediaan lulur ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening, mengetahui efektifitas sediaan lulur dari ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening dan mengetahui konsentrasi yang efektif dihasilkan oleh lulur dari ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) sebagai whitening. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental Laboratorium. Hasil yang diperoleh adalah sediaan F3 memiliki tingkat kecerahan kulit yang sama dengan sediaan pembanding yaitu lulur whitening Sumber Ayu, hal ini disebabkan oleh pengaruh konsentrasi ekstrak ampas wortel sebanyak 5% yang mengandung senyawa flavonoid. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) dapat diformulasikan dalam bentuk sediaan lulur, ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) memiliki efek sebagai whitening, dan semakin tinggi konsentrasi Ekstrak ampas wortel (Daucus carota L.) maka akan semakin efektif sebagai whitening.Kata kunci : Ampas Wortel, Lulur, WhiteningThe skin is an important part of the body and needs attention. Beautiful skin is synonymous with skin that is not dull and skin is bright. Maintaining healthy skin is not only done with foods rich in nutrients, but can be done by providing nutrients from the outside. Scrub is a preparation that can open pores, remove dead skin cells and dirt, so that the skin becomes cleaner and brighter. The flavonoid content of dregs carrot extract has the ability to brighten the skin. This study aims to determine the formulation of dregs carrot (Daucus carota L.) scrub as whitening, determine the effectiveness of dregs carrot (Daucus carota L.) scrub as a whitening and determine the effective concentration produced by carrot pulp extract (Daucus carota). L.) as a whitening. The method used in this research is experimental laboratory. The results obtained were that the F3 preparation had the same skin brightness level as the comparison preparation, namely Sumber Ayu's whitening scrub, this was due to the effect of the concentration of dregs carrot extract as much as 5% which contained flavonoids. The conclusion of this study is that the dregs carrot extract (Daucus carota L.) can be formulated in the form of a scrub, the dregs carrot extract (Daucus carota L.) has a whitening effect, and the higher the concentration of dregs carrot extract (Daucus carota L.), the higher the concentration of dregs carrot extract (Daucus carota L.). the more effective as a whitening. Keywords : Dregs Carrot, Scrub, Whitening
Formulasi dan Efektivitas Sediaan Spray Ekstrak Etanol Daun Mint (Mentha Piperita L.) Sebagai Anti Nyamuk Meilina, Rulia; Dewi, Revina; Kesumawati, Kesumawati; Husna, Asmaul; Willis, Ratna
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 1 (2024): April 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i1.3783

Abstract

ABSTRACTDampak dari gigitan nyamuk sangat merugikan bagi manusia, yang paling ringan diantaranya dapat menyebabkan gatal-gatal dan segala dampak yang ditimbulkannya juga sangat mengganggu aktifitas. Tujuan penelitian Mengetahui efektivitas sediaan spray ekstrak etanol daun mint (Mentha piperita L.) sebagai anti nyamuk alami serta mengetahui evaluasi sediaan spray ekstrak etanol daun mint (Mentha piperita L.). Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboraturium. Spray diformulasikan dengan F0 tidak ada penambahan ekstrak, sedangkan pada F1 (5%), F2 (10%), F3 (15%) ada penambahan ekstrak etanol daun mint, kemudian tahap evaluasi formulasi spray dan data uji efektivitas formulasi spray anti nyamuk dianalisis menggunakan metode statistik berupa uji One Way Anova. Hasil penelitian dari uji pH (5,5 – 4,5), daya sebar baik, tidak menimbulkan iritasi kulit, nilai uji hedonic (uji kesukaan) keterangan rata-rata suka dan efektifitas formulasi spray anti nyamuk untuk F0 terdapat 11 nyamuk yang hinggap dikarenakan tanpa kandungan ekstrak sedangkan F1, F2, F3 tidak terdapat nyamuk yang hinggap dikarenakan penambahan ekstrak etanol daun mint pada masing-masing formula. Kesimpulan penelitian adalah spray ekstrak etanol daun mint (Mentha piperita L.) sangat efektif untuk digunakan sebagai anti nyamuk alami dan hasil evaluasi formulasi spray meliputi uji pH, uji daya sebar, uji iritasi dan uji hedonic (uji kesukaan) dari Ekstrak daun mint (Mentha piperita L.) dapat digunakan sebagai anti nyamuk alami.Kata Kunci: Daun mint, spray, ekstrak, anti nyamukThe impact of mosquito bites is very detrimental to humans, the mildest of which can cause itching and all the effects it causes are also very disturbing to activities. To determine the effectiveness of ethanol extract of mint leaves (Mentha piperita L.) spray preparation as a natural mosquito repellent and to determine the evaluation of ethanol extract of mint leaves (Mentha piperita L.) spray preparation. The research method used is laboratory experimental. The spray is formulated with F0 without the addition of extract, while in F1 (5%), F2 (10%), F3 (15%) there is the addition of ethanol extract of mint leaves, then the stage of evaluating the spray formulation and mosquito repellent spray formulation test data are analyzed using statistical methods in the form of One Way Anova test. The results of the pH test (5.5 - 4.5), good spreadability, no skin irritation, hedonic test value (preference test) average description of likes and mosquito repellent spray formulation effectiveness for F0 there are 11 mosquitoes that perch because it does not contain extract while F1, F2, F3 there are no mosquitoes that perch due to the addition of ethanol extract of mint leaves in each formula. Conclusion of the spray formulation of ethanol extract from mint leaves (Mentha piperita L.) has shown high effectiveness as a natural mosquito repellent. The evaluation of the formulation includes pH testing, spreadability testing, irritation testing, and a hedonic test (preference test) to determine the suitability of mint leaf extract (Mentha piperita L.) as a natural mosquito repellent.Keyword: Mint leaf, spray, extract, mosquito repellent
FORMULASI DAN EVALUASI SEDIAAN BLUSH ON COMPACT EKSTRAK BUAH NAGA MERAH (Hylocereus polyrhizus) Rahmi, Putri; Meilina, Rulia; Kesumawati, Kesumawati; Husna, Asmaul; Yunika, Ficha Sopia
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 8, No 1 (2022): APRIL 2022
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v8i1.4207

Abstract

Latar Belakang : Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) merupakan jenis buah yang kaya akan zat antosianin yang memberikan warna merah dan memiliki berbagai manfaat, salah satunya yaitu sebagai pewarna alami yang dapat menggantikan pewarna sintetik. Buah naga merah mengandung komponen bioaktif lainnya yaitu asam askorbat, betakaroten dan flavonoid yang termasuk golongan senyawa antioksidan untuk menetralisir, mencegah atau memperlambat kerusakan sel akibat radikal bebas yang menyerang sel-sel tubuh. Tujuan Penelitian : Untuk memformulasikan ekstrak buah naga merah dan mengetahui sediaan blush on compact ekstrak buah naga merah memenuhi uji evaluasi sediaan. Metode penelitian : Penelitian dilakukan secara eksperimental, meliputi: penyiapan sampel, pembuatan ekstrak, pembuatan sediaan dan uji evaluasi sediaan. Ektrak diperoleh menggunakan metode maserasi dengan pelarut etanol 96%. Talkum, kaolin, zink oksida, parafin cair dan nipagin adalah bahan-bahan untuk pembuatan blush on compact. Sediaan Blush on ekstrak buah naga merah dibagi menjadi tiga formula yaitu formula yang mengandung ekstrak buah naga merah sebanyak 7,5 gram, 10 gram dan 12,5 gram. Hasil penelitian : Dari hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak buah naga merah dapat diformulasikan sebagai sediaan blush on compact dan memenuhi persyaratan uji evauasi sediaan, diantaranya uji organoleptik memberikan warna peach dan pink peach, bersifat homogen, menghasilkan pH sediaan sekitaran 6,3-6,7, mempunyai uji poles yang baik, tidak mengiritasi kulit dan berdasarkan uji hedonik blush on yang paling disukai adalah formula 3 yang mengandung ekstrak buah naga merah sebanyak 12,5 gram dengan warna pink peach. Kesimpulan : Pada penelitian ini dapat disimpulkan ekstrak buah naga merah dapat diformulasikan sebagai sediaan blush on. Variasi konsentrasi pewarna ekstrak buah naga merah yang digunakan dalam formulasi menghasilkan perbedaan intensitas warna pada sediaan blush on dan seluruh sediaan blush on memenuhi persyaratan uji evaluasi sediaan.Kata kunci : Blush on, Buah naga merah (Hylocereus polyrhizus)Background : Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) is a type of fruit that is rich in anthocyanin substances that gives a red color and has various benefits, one of which is as a natural dye that can replace synthetic dyes. Red dragon fruit contains other bioactive components, namely ascorbic acid, beta-carotene and flavonoids which are included in the class of antioxidant compounds to neutralize, prevent or delay cell damage caused by free radicals that attack body cells. Research objectives : To formulate red dragon fruit extract and find out the blush on compact preparation of red dragon fruit extract that meets the preparation evaluation test. Research method : The research was carried out experimentally, including: sample preparation, extract making, preparations making and preparation evaluation tests. The extract was obtained by using the maceration method with 96% ethanol as solvent. Talcum, kaolin, zinc oxide, liquid paraffin and nipagin are ingredients for making blush compacts. The blush on red dragon fruit extract was divided into three formulas, namely a formula containing 7.5 grams of red dragon fruit extract, 10 grams and 12.5 grams. Results : The results showed that the red dragon fruit extract could be formulated as a blush on compact preparation and met the requirements for the evaluation of the preparation, including the organoleptic test giving peach and pink peach colors, being homogeneous, producing a pH of about 6.3-6.7, having a pH test of 6.3-6.7. good polish, does not irritate the skin and based on the hedonic test the most preferred blush is Formula 3 with a formula that contains red dragon fruit extract as much as 12,5 grams with a pink peach color. Conclusion and Suggestion : In this study, it can be concluded that red dragon fruit extract can be formulated as a blush on preparation. Variations in the concentration of red dragon fruit extract dye used in the formulation resulted in differences in color intensity in the blush preparation and all blush on preparations met the requirements of the preparation evaluation test.Keywords : Blush on, Red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus)
Efektivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Daun Delima (Punica Granatum L.) pada Mencit (Mus Musculus L.) Meilina, Rulia; Izzah, Nuril; Kesumawati, Kesumawati; Safitri, Faradilla; Rezeki, Sahbainur; Kulla, Periskila Dina Kali
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.2870

Abstract

Daun delima (Punica granatum L.) secara tradisional telah banyak digunakan untuk berbagai penyakit salah satunya untuk demam. Berbagai senyawa terdapat dalam daun delima yaitu flavonoid, tanin dan saponin, dimana senyawa flavonoid berfungsi sebagai antipiretik. Metode penelitian ini Eksperimental Laboratorium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas antipiretik dan dosis efektif ekstrak etanol daun delima pada penurunan suhu mencit. Metode penelitian yang digunakan adalah eksperimental laboratorium. Sebanyak 25 ekor dengan berat badan 20- 30 gram dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yang terdiri dari kelompok perlakuan kontrol negatif diberikan na-CMC 0,5%, perlakuan positif diberikan paracetamol dan 3 kelompok perlakuan dengan pemberian ekstrak daun delima dosis bertingkat yaitu 100 mg/g BB, 150 mg/g BB, 200 mg/g BB. Untuk menaikkan suhu rektal, mencit diberikan suspensi pepton 5% secara oral kemudian diukur dengan menggunakan termometer digital setiap 30 menit hingga menit ke 120. Data hasil penelitian dianalisis dengan program SPSS yang dianalisis menggunakan uji ANOVA (Analysis Of Varian) dengan hasil penelitian menunjukkan bahwa daun delima memiliki efektivitas antipiretik. Data yang dihasilkan berdistribusi normal (p>0,05). ekstrak etanol daun delima yang paling efektif sebagai antipiretik yaitu pada dosis 150 mg dan 200 mg/g BB. Kesimpulan penelitian daun delima memiliki aktivitas antipiretik.Kata kunci : Daun Delima, Antipiretik, PeptonPunica granatum L. have traditionally been used for various diseases, one of which is fever. Various compounds are found in pomegranate leaves, namely flavonoids, tannins and saponins, where flavonoid compounds function as antipyretics. This research method is Experimental Laboratory. This study aims to determine the effectiveness of antipyretics and effective doses of ethanol extract of pomegranate leaves in reducing the temperature of mice. The research method used is laboratory experimental. This study aims to determine the effectiveness of antipyretics and effective doses of ethanol extract of pomegranate leaves in reducing the temperature of mice. The research method used is laboratory experimental. Twenty five individuals weighing 20-30 grams were divided into 5 treatment groups consisting of a negative control group given 0.5% na-CMC, positive treatment given paracetamol and 3 treatment groups with graded doses of pomegranate leaf extract, namely 100 mg/day. g BW, 150 mg/g BW, 200 mg/g BW. To raise the rectal temperature, the mice were given orally 5% peptone suspension and then measured using a digital thermometer every 30 minutes until the 120th minute. Pomegranate has antipyretic effectiveness. The resulting data is normally distributed (p>0.05). The most effective ethanol extract of pomegranate leaves as an antipyretic is at doses of 150 mg and 200 mg/g BW. The conclusion of this study is that pomegranate leaves have antipyretic activity.Keywords : Punica granatum, Antipyretic, Pepton
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMILIHAN MAKANAN PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA) Ismiati, Ismiati; Asyura, Syarifah; Fitriana, Nanda; Kesumawati, Kesumawati
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 10, No 2 (2024): OKTOBER 2024
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v10i2.5876

Abstract

Makanan yang sehat adalah makanan yang mengandung nilai gizi seimbang yang di dalamnya mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral dan serat dalam memenuhi kebutuhan harian tanpa bahan yang berbahaya. Namun, masih banyak para remaja yang suka mengkonsumsi makanan yang berisiko terhadap Kesehatan seperti makanan cepat saji yang tinggi kalori, lemak, gula, dan garam. Salah satu penyebab pemilihan makanan pada remaja adalah pengetahuan tentang gizi seimbang dan citra tubuh atau keputusan dalam memilih makanan yang akan dikonsumsi. Tujuan: mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan pada remaja pada Sekolah Menengah Atas (SMA). mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan jajanan. Metode : Jenis penelitian kuantitatif dengan metode observasional analitik pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Responden dalam penelitian ini sebanyak 140 siswa. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan wawancara. Analisis data menggunakan uji chi square. Hasil: berdasarkan jenis kelamin sebagian besar perempuan sebanyak 120 (85,18%), Sebagian besar siswa memiliki pengetahuan gizi seimbang yang baik yaitu sebanyak 85 (60,72%), 80 (57,14%) siswa menunjukkan citra tubuh positif dan pemilihan makanan yang baik sebanyak 78 (55,71%). Berdasarkan hasil analisis chi square, jenis kelamin dengan perilaku pemilihan makanan jajanan (p-value=0,726), pengetahuan gizi seimbang dengan pemilihan makanan (p-value = 0,000) dan hasil analisis antara citra tubuh dengan pemilihan makanan (p-value = 0,000). Kesimpulan : faktor yang mempengaruhi pemilihan makanan jajan pada remaja yaitu pengetahuan gizi seimbang,dan citra tubuh. Kata kunci : Remaja, Faktor determinan, pemilihan makanan
KUALITAS GIZI MAKANAN SIAP SAJI YANG DIKONSUMSI REMAJA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS Ismiati, Ismiati; Asyura, Syarifah; Fitriana, Nanda; Kesumawati, Kesumawati
JOURNAL OF HEALTHCARE TECHNOLOGY AND MEDICINE Vol 9, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Universitas Ubudiyah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33143/jhtm.v9i1.5875

Abstract

Makanan cepat saji memiliki kandungan tinggi kalori, lemak, kolesterol, garam dan rendah vitamin, mineral serta serat. Semakin sering dikonsumsi, maka semakin tinggi risiko terhadap kejadian gizi lebih dan obesitas. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas gizi makanan siap saji yang dikonsumsi remaja di sekolah menengah atas. Metode penelitian ini yaitu cross sectional dengan melibatkan responden yang berjumlah 204 subjek di kota Banda Aceh yang diambil dengan metode multistage random sampling. Data konsumsi makanan cepat saji diperoleh dari formulir FFQ (Food Frequency Questionnaire) 1 bulan terakhir. Data status gizi remaja diperoleh dari pengukuran tinggi badan menggunakan stadiometer dan berat badan dengan timbangan injak, kemudian dilakukan analisis menggunakan aplikasi WHO Anthroplus. Uji statistik untuk analisis data menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian ini didapatkan rata-rata responden mengonsumsi dengan frekuensi 7 kali dalam 1 bulan. Responden yang sering mengonsumsi makanan cepat saji memiliki status gizi lebih dengan persentase sebesar 22,3% dan status gizi obesitas sebesar 13,6%. Kata Kunci: Kualitas Gizi, Makanan Siap Saji, Remaja