Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Dampak Kerja Shift terhadap Kesehatan Reproduksi: Kajian Sistematis pada Tenaga Kesehatan Wanita Hapsari, Restiana Kartika Mantasti; Noor, Ihya Hazairin; Nisa, Mufatihatul Aziza; Fakhriyah, Fakhriyah
Jurnal Ilmiah Kesehatan Rustida Vol 12 No 2 (2025): Juli
Publisher : Akademi Kesehatan Rustida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55500/jikr.v12i2.292

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak kerja shift terhadap kesehatan reproduksi tenaga kesehatan wanita, dengan fokus utama pada prevalensi gangguan siklus menstruasi. Tinjauan sistematis dilakukan berdasarkan pedoman PRISMA dengan menelusuri artikel dari database PubMed, CINAHL, Embase, dan Scopus untuk periode 2020–2025. Sebanyak 14 studi observasional dan meta- analisis yang memenuhi kriteria inklusi dianalisis secara kuantitatif. Hasil menunjukkan bahwa prevalensi gangguan menstruasi lebih tinggi pada tenaga kesehatan wanita yang bekerja shift dibandingkan dengan non-shift, yaitu berkisar antara 31,5% hingga 60,2%. Gangguan yang paling sering dilaporkan adalah siklus menstruasi tidak teratur, dismenore, dan menopause dini. Peningkatan prevalensi ini berkaitan erat dengan gangguan ritme sirkadian, stres kerja, dan perubahan hormonal akibat pola kerja yang tidak teratur. Temuan ini menunjukkan bahwa kerja shift merupakan faktor risiko signifikan terhadap gangguan siklus menstruasi pada pekerja wanita, sehingga diperlukan kebijakan dan intervensi preventif di lingkungan kerja.
Peduliloka: Edukasi Pengelolaan Sampah dan Pelatihan Pembuatan Eco-Enzyme di Desa Paku Alam, Kabupaten Banjar Fakhriyah, Fakhriyah; Annisa, Amanda; Fazila, Maudy Siti; Azizah, Nor; Munawaroh, Yuga Dwi; Noor, Ihya Hazairin
Reswara: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/rjpkm.v6i2.6453

Abstract

Permasalahan sampah merupakan isu lingkungan signifikan di Indonesia, termasuk di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), pada 2023 timbulan sampah di daerah ini mencapai 132.335,31 ton, dengan komposisi terbesar berasal dari rumah tangga (53,2%) dan plastik (17,92%). Survei terhadap 40 kepala keluarga menunjukkan 52,5% tidak memiliki tempat sampah di rumah, dan 45% masih menggunakan tempat sampah terbuka. Dari segi pengetahuan, 57,5% tergolong cukup dan 22,5% masih kurang dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Kegiatan pengabdian ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga serta memperkenalkan cara pemanfaatan limbah organik rumah tangga. Metode yang digunakan mencakup edukasi pengelolaan sampah dan pelatihan pembuatan eco-enzyme. Kegiatan dilaksanakan di RT 03 Desa Paku Alam, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, dengan peserta sebanyak 20 orang. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test berbentuk pilihan ganda berskala nominal, dengan materi mencakup pengertian, jenis, sifat, dampak, dan cara pengelolaan sampah, serta prinsip 3R (reduce, reuse, recycle). Selain itu, kuesioner monitoring disebarkan tiga kali selama tiga bulan. Hasil pre-test menunjukkan rata-rata nilai 64,5 yang meningkat menjadi 81,5 pada post-test, menunjukkan peningkatan pengetahuan sebesar 26,35%. Monitoring lanjutan menunjukkan peningkatan dari 84,2% menjadi 97,8% pada bulan ketiga. Dalam pelatihan pembuatan eco-enzyme, 95% peserta berhasil membuat produk berkualitas, 80% berencana terus menggunakannya, dan 55% rutin mengaplikasikannya. Sebanyak 5% gagal karena kesalahan penyimpanan. Kegiatan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat, yang terlihat dari kemampuan peserta dalam memilah sampah dan menggunakan eco-enzyme hasil produksi sendiri untuk kebutuhan sehari-hari.
ANALYSIS OF THE RELATIONSHIP BETWEEN AGE, GENDER, AND LENGTH OF EMPLOYMENT WITH WORK-RELATED STRESS AMONG NURSES Hapsari, Restiana Kartika Mantasti; Noor, Ihya Hazairin; Nisa, Mufatihatul Aziza
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 16 No. 2, Juli 2025
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v16i2.1780

Abstract

Background: Work-related stress is a common issue among nurses and can affect their performance, quality of care, and psychological well-being. This study aimed to analyze the relationship between age, gender, and length of service with work-related stress levels among nurses at a hospital in Banjarbaru City.Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was used. The sample consisted of 120 nurses at a hospital in Banjarbaru City selected through proportional stratified random sampling. Data were collected using a demographic questionnaire and the Perceived Stress Scale (PSS), which has been validated in previous studies with a Cronbach’s alpha of 0.82. Data were analysed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05.Results: The results showed no significant relationship between age (p=0.298), gender (p=0.397), and length of service (p=0.581) and the level of work-related stress. However, descriptive results indicated a higher proportion of stress among nurses who were female, younger, and had longer work experience.Conclusion: It is recommended that hospital management focus more on workload, work environment, and psychosocial support rather than individual demographic factors in managing work stress.
Malaria Prevention Strategies in Kalimantan, Indonesia: A Secondary Analysis of 2018 Basic Health Research Data Ridha, Muhammad Rasyid; Andiarsa, Dicky; Noor, Ihya Hazairin; Wiliyani, Erni; Ramadhani, Tri; Yudhastuti, Ririh
Nurse Media Journal of Nursing Vol 14, No 2 (2024): (August 2024)
Publisher : Department of Nursing, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/nmjn.v14i2.56285

Abstract

Background:  Kalimantan remains malaria-endemic, particularly in rural areas, where prevention efforts face challenges such as insecticide resistance and limited healthcare access. Despite available measures like insecticide-treated nets, gaps in understanding individual and household prevention practices persist, especially in relation to demographics and effectiveness in reducing malaria transmission.Purpose: This study aimed to examine the individual and household-level malaria prevention strategies utilized in rural Kalimantan and evaluate their effectiveness in reducing malaria incidence.Methods: The study was a secondary analysis of the 2018 Indonesian basic health research (Riskesdas). A total of 67,155 respondents in Kalimantan were analyzed including respondent characteristics, memories of malaria infection, and individual and household malaria prevention efforts. The data were collected through the result of the 2018 Riskesdas survey. Bivariate regression and multivariable logistic regression were used in data analysis.Results:  Self-reported malaria rates were higher among older respondents compared to younger ones. Women reported lower malaria rates than men, especially in South Kalimantan. In West Kalimantan, the use of bed nets was associated with higher self-reported malaria rates (OR=1.838, 95%CI 1.147–2.943). Short-term use of insecticide-treated nets (ITNs) showed varying odds across provinces: Central Kalimantan (OR=3.659, 95%CI 1.378–9.717), South Kalimantan (OR=10.811, 95%CI 3.649–32.030), East Kalimantan (OR=2.615, 95%CI 1.041–6.567), and West Kalimantan (OR=2.428, 95%CI 1.446–4.078). In all provinces, preventive measures such as coils or electric mats reduced self-reported malaria cases. The use of mosquito screens was effective in South Kalimantan (OR=0.208, 95%CI 0.027–1.598), Central Kalimantan (OR=0.365, 95%CI 0.120–2.181), and North Kalimantan (OR=0.000, 95%CI 0.000–0.000). The multivariate model highlighted mosquito nets as the most effective household-scale prevention in nearly all Kalimantan provinces except North Kalimantan.Conclusion:  This study showed that individuals aged 25 and over, women, non-farmers, and those using ITNs and other preventive measures, especially in rural areas, were less likely to report malaria, emphasizing the need for targeted interventions from local health authorities.
ANALYSIS OF THE RELATIONSHIP BETWEEN AGE, GENDER, AND LENGTH OF EMPLOYMENT WITHWORK-RELATED STRESS AMONG NURSES Hapsari, Restiana Kartika Mantasti; Noor, Ihya Hazairin; Nisa, Mufatihatul Aziza
Jurnal Kesehatan Kusuma Husada Vol. 16 No. 2, Juli 2025
Publisher : Universitas Kusuma Husada Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34035/jk.v16i2.1780

Abstract

Background: Work-related stress is a common issue among nurses and can affect their performance, quality of care, and psychological well-being. This study aimed to analyze the relationship between age, gender, and length of service with work-related stress levels among nurses at a hospital in Banjarbaru City.Methods: A quantitative approach with a cross-sectional design was used. The sample consisted of 120 nurses at a hospital in Banjarbaru City selected through proportional stratified random sampling. Data were collected using a demographic questionnaire and the Perceived Stress Scale (PSS), which has been validated in previous studies with a Cronbach's alpha of 0.82. Data were analysed using the Chi-Square test with a significance level of 0.05.Results: The results showed no significant relationship between age (p=0.298), gender (p=0.397), and length of service (p=0.581) and the level of work-related stress. However, descriptive results indicated a higher proportion of stress among nurses who were female, younger, and had longer work experience.Conclusion: It is recommended that hospital management focus more on workload, work environment, and psychosocial support rather than individual demographic factors in managing work stress.
BANJAR GEN-Z PERSPECTIVE ON THE BAPIDARA TRADITION Asfa Zahra Maulida; Ihya Hazairin Noor; Salsabella; Qathrun Nada; Annita Nur Rizqia; Pedro Gianthino
Journal of Social and Economics Research Vol 5 No 2 (2023): JSER, December 2023
Publisher : Ikatan Dosen Menulis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/jser.v5i2.180

Abstract

Bapidara is a technique of traditional medicine originating from the Banjar tribe in South Kalimantan, used to treat kapidaraan disease. The Bapidara tradition refers to the medicine of the Dayak Meratus people, which has been influenced by Islam. Bapidara involves the use of turmeric, limewater, and verses of the Qur'an. Kapidaraan is a fever disease believed to be caused by supernatural powers and generally affects children. This research is a qualitative study with a phenomenological design conducted in Tanjung Rema Village, Banjar Regency. Informants consisted of Gen-Z teenagers, Bapidara practitioners, and community representatives. The results show that Gen-Z has varied views towards the Bapidara tradition, some are skeptical, while others try to maintain the tradition and promote it. Bapidara practitioners explained the differences in the processes and ingredients used and highlighted the importance of preserving this tradition through descendants who inherit the knowledge. This research has theoretical and practical value in preserving Banjar Tribe culture and understanding Generation Z's views on the Bapidara tradition. In addition, the results of this study can provide insight into the factors that influence the understanding and appreciation of this tradition, and potentially support efforts to preserve the Bapidara tradition in the modern era.
RISK FACTORS OF ANEMIA IN ADOLESCENT GIRLS IN WETLAND AREAS: A STUDY IN SOUTH KALIMANTAN Yulidasari , Fahrini; Solechah, Siti Aisyah; Setiawan , Muhammad Irwan; Anhar, Vina Yulia; Noor, Ihya Hazairin; Santoso, Izal Puji; Fatimah, Husnul
Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal Vol. 9 No. 4 (2025): Indonesian Midwifery and Health Sciences Journal, October 2025
Publisher : UNIVERSITAS AIRLANGGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/imhsj.v9i4.2025.391-400

Abstract

Background: Anemia in adolescent girls is a global and national public health problem that is receiving increasing attention due to the high nutritional needs during growth and iron loss during menstruation. Preliminary data from wetland areas, particularly in Sungai Alang Village, Banjar Regency, shows a prevalence of anemia of 23.54%. This study aims to analyze risk factors associated with anemia in adolescent girls, including age, education level, nutritional knowledge, dietary behavior, and nutritional status based on Mid-Upper Arm Circumference (MUAC) and Body Mass Index (BMI). Method: This study used an observational analytical design with a cross-sectional approach in 50 adolescent girls aged 12–24 years selected through purposive sampling. Data were obtained through questionnaires and hemoglobin level measurements using an Hb meter. Analysis was performed using Spearman's rho correlation test and multivariate linear regression. Result: The results showed a prevalence of anemia of 34%, exceeding the threshold for a moderate public health problem according to the WHO. Bivariate analysis found a significant negative correlation between age and Hb levels (r=-0.405; p=0.004) and a significant positive correlation between MUAC and Hb levels (r=0.373; p=0.008). Meanwhile, knowledge, BMI, and dietary behavior did not show a significant correlation. Multivariate analysis identified age (β=-0.459; p=0.000), MUAC (β=0.599; p=0.000), and BMI (β=-0.354; p=0.033) as significant independent predictors. Conclusion: The results confirmed that anemia in adolescent girls is influenced by physiological factors and anthropometric status, while knowledge and dietary behavior do not play a direct role. Therefore, preventive interventions need to be carried out holistically through supplementation, targeted nutrition education, and other supporting health programs.
Model Pemberdayaan Gender dalam Budaya Partilinealistik: Implementasi Sekolah GALUH Berbasis Betty Neuman System Model Aridamayanti, Bernadetta Germia; Septiany, Maulidya; Noor, Ihya Hazairin
Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat Vol. 6 No. 2 (2025): Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat
Publisher : Progran Studi Farmasi Universitas Mandala Waluya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35311/jmpm.v6i2.670

Abstract

Budaya partilinealistik yang mengakar kuat di wilayah pedesaan Kalimantan Selatan menyebabkan perempuan terpinggirkan dalam pendidikan, ekonomi, dan pengambilan keputusan. Program Sekolah Perempuan GALUH berbasis Betty Neuman System Model diinisiasi sebagai bentuk intervensi edukatif dan transformatif untuk meningkatkan kesadaran gender, keterampilan kewirausahaan, dan literasi kesehatan perempuan. Program dilaksanakan melalui pendekatan pemberdayaan komunitas dengan 16 sesi pembelajaran teori dan praktik, yang mencakup kesetaraan gender, pengelolaan limbah, kewirausahaan, serta pemasaran digital. Evaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test serta FGD. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan pada enam aspek kompetensi, termasuk pemahaman gender (dari 45% menjadi 85%), hak perempuan (40% menjadi 80%), hingga manajemen keuangan keluarga (32% menjadi 73%). Intervensi ini juga mendorong pembentukan kelompok perempuan produktif dan komunitas alumni sebagai wadah keberlanjutan. Integrasi teknologi tepat guna seperti Mesin Wood Crusher memperkuat aspek ekonomi dan lingkungan. Penerapan Betty Neuman System Model terbukti efektif dalam memperkuat sistem pertahanan perempuan terhadap stresor budaya patriarki. Program ini tidak hanya membentuk personal agency tetapi juga struktur sosial baru yang mendukung transformasi budaya dan kesetaraan berkelanjutan. Model ini berpotensi direplikasi di wilayah serupa dengan pendekatan kontekstual.
MODEL KEPERAWATAN KOMUNITAS UNTUK PEREMPUAN DESA DALAM EKONOMI SIRKULAR GALUH Aridamayanti, Bernadetta Germia; Septiany, Maulidya; Noor, Ihya Hazairin
Jurnal Sinergitas PKM & CSR Vol. 9 No. 3 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/jspc.v9i3.10477

Abstract

Program Sekolah Perempuan GALUH merupakan bentuk pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Desa Antasan Senor Ilir, Kabupaten Banjar, sebagai upaya penguatan kapasitas perempuan desa dalam menghadapi tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan. Permasalahan utama yang ditemukan meliputi rendahnya pengetahuan terkait kesetaraan gender, keterampilan kewirausahaan, serta pemanfaatan potensi lokal berupa limbah kayu dan sekam yang belum bernilai ekonomi. Tujuan kegiatan ini adalah meningkatkan literasi kewirausahaan, memperkuat peran perempuan dalam pembangunan komunitas, serta mendorong penerapan prinsip ekonomi sirkular berbasis keperawatan komunitas. Metode yang digunakan adalah pendekatan partisipatif dengan landasan Health Care System Model Betty Neuman melalui 16 kali pertemuan yang mencakup teori (kesetaraan gender, kewirausahaan dasar, pengelolaan limbah, manajemen keuangan, dan pemasaran digital) serta praktik (pembuatan pupuk organik, kerajinan limbah, dan promosi digital). Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata pengetahuan peserta sebesar 41%, dengan capaian tertinggi pada aspek pemasaran digital (+45%). Produk uji coba berupa pupuk organik dan kerajinan berbasis limbah berhasil dihasilkan, serta terbentuk empat kader perempuan sebagai fasilitator lokal. Program ini terbukti efektif memperkuat kapasitas sosial, ekonomi, dan ekologis perempuan desa, sekaligus berkontribusi pada pencapaian SDGs 1, 4, 5, 8, 12, 13 serta mendukung visi Indonesia Emas 2045. The GALUH Women’s School program represents a form of community service implemented in Antasan Senor Ilir Village, Banjar Regency, aimed at strengthening the capacity of rural women in addressing social, economic, and environmental challenges. The main issues identified include low knowledge of gender equality, limited entrepreneurial skills, and underutilization of local resources such as wood waste and rice husks that hold potential economic value. The objectives of this activity are to enhance entrepreneurial literacy, strengthen women’s roles in community development, and promote the application of circular economy principles grounded in community nursing practice. The method employed was a participatory approach based on Betty Neuman’s Health Care System Model, conducted over 16 sessions comprising both theoretical (gender equality, basic entrepreneurship, waste management, financial management, and digital marketing) and practical components (organic fertilizer production, waste-based crafts, and digital promotion). The results indicated an average increase of 41% in participants’ knowledge, with the highest improvement observed in digital marketing (+45%). Pilot products, including organic fertilizers and waste-based crafts, were successfully developed, and four women facilitators were trained as local cadres. This program has proven effective in enhancing the social, economic, and ecological capacities of rural women while contributing to the achievement of SDGs 1, 4, 5, 8, 12, and 13, and supporting the vision of Golden Indonesia 2045.
Pemanfaatan sampah organik menjadi pupuk kompos dan pembuatan vertical vegetable di desa Tiwingan Lama RT. 02 Maulida, Asfa Zahra; Gianthino, Pedro; Nada, Qathrun; Salsabella, Salsabella; Noor, Ihya Hazairin
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 2 (2024): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i2.23170

Abstract

Abstrak Sampah sekarang menjadi salah satu permasalahan terbesar di Indonesia. Jumlah sampah semakin hari semakin bertambah karena dihasilkan dari sampah rumah tangga, sampah rumah sakit dan sampah-sampah di tempat umum. Menurut data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Provinsi Kalimantan Selatan timbulan sampah pertahun 2022 menghasilkan 795.814 ton sampah dan untuk Kabupaten Banjar sendiri pertahunnya menghasilkan 149.097 ton sampah. Berdasarkan hasil diagnosis komunitas, permasalahan yang muncul di Desa Tiwingan Lama RT. 02, Kecamatan Aranio, Kabupaten Banjar yaitu masyarakat belum melakukan pengelolaan sampah dengan baik dan benar. Alternatif pemecahan masalah untuk menangani permasalahan perihal pengelolaan sampah dengan adanya program pemberdayaan berupa penyuluhan dan praktik pengolahan sampah organik serta sampah anorganik. Kegiatan ini bertujuan agar mengurangi permasalahan kesehatan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Metode yang digunakan adalah ceramah, diskusi, dan praktik. Instrumen yang digunakan berupa kuesioner pre dan post-test, lembar observasi, serta kuesioner sebagai pemandu wawancara kepada 6 responden pada monitoring lanjutan. Hasil pengabdian menunjukkan bahwa ada peningkatan pengetahuan pada masyarakat sebesar 15% pada pre ke post-test I, namun sayangnya terjadi penurunan sebesar 6,67% karena jarak dilaksanakannya post-test II cukup lama setelah kegiatan penyuluhan. Namun meskipun masyarakat mudah lupa tetapi mereka tetap dapat mengimplementasikan apa yang telah disampaikan pada saat edukasi dan pelatihan serta mampu mengelola sampah menjadi pupuk kompos dan vertical vegetable. Hal tersebut dikarenakan mereka lebih mudah mengingat pengalaman praktik pembuatan pupuk kompos dan vertical vegetable dari pada mengingat materi yang diberikan. Kata kunci: penyuluhan; pupuk kompos; vertical vegetable; sampah organik; sampah anorganik Abstract Waste management has emerged as a critical issue in Indonesia, with daily accumulation exacerbating the problem due to contributions from household waste, medical waste, and public area refuse. Data from the National Waste Management Information System (SIPSN) under the Ministry of Environment and Forestry (KLHK) indicates that South Kalimantan Province produced 795,814 tons of waste in 2022, with Banjar Regency accounting for 149,097 tons annually. Community diagnosis in Tiwingan Lama Village RT. 02, Aranio District, Banjar Regency reveals inadequate waste management practices among residents. To address these challenges, a waste management empowerment program incorporating education and practical training for organic and inorganic waste processing was implemented. This initiative aims to mitigate environmental health issues related to waste management. The methodology encompassed lectures, discussions, and hands-on activities, utilizing pre and post-test questionnaires, observation sheets, and interview-guiding questionnaires for six respondents during follow-up monitoring. The intervention results demonstrated a 15% increase in community knowledge from pre-test to the first post-test, although a 6.67% decline was observed due to the extended interval before the second post-test. Despite this decline, residents effectively applied the acquired knowledge, successfully converting waste into compost and vertical vegetable gardens. This retention is attributed to the greater impact of experiential learning during compost and vertical garden creation compared to theoretical instruction. Keywords: extension; compost; vertical vegetable; organic trash; inorganic waste
Co-Authors Agung Waskito Agus Muhammad Ridwan Ahmad Saipullah Akbar, Arief Rahmad Maulana Alya Ismi Mustapa Andini Octaviana Putri, Andini Octaviana Anggun Wulandari Annisa, Amanda Annita Nur Rizqia Arneta Meihua Inaya Asfa Zahra Maulida Assyifa Aulia Rahmini Bernadetta Germia Aridamayanti Chellyadiza, Alfitri Cindana Amalia Paramitha Devi Damayanti Dewi Rahmawati Dhea Vaneza Prilia Dian Rosadi Dian Rosadi, Dian Dicky Andiarsa Dina Khairina Dinda Putria Purnaningrum Dominicha Ernalem Tarigan Fadhilah, Noor Ahda Fahrini Yulidasari Fakhriyah Fakhriyah Fatimah, Husnul Fazila, Maudy Siti Fina Fakhriyah Fitria, Yanti Fitrie Masykuri Gianthino, Pedro Hafiz Akmal Hidayatullah Al-Ayyudi Hartati Hartati Husnul Fatimah Ikrima Medyna Indra Haryanto Ali Istiana Istiana Istiana Laily Khairiyati Lutfhi Hana M Naufal Hibatullah Madinatul Agniya Ilma Maulana Syaputra, Eko Maulida, Asfa Zahra Maurent Carolin Bolang Meitria Syahadatina Noor Meitria Syahadatina Noor Meitria Syahadatina Noor Misna Tazkiah Muddin, Farid Ilham Mufatihatul Aziza Nisa Muhammad Ikrar Fadhillah Muhammad Irwan Setiawan Muhammad Rasyid Ridha Muhammad Rizqi Munawaroh, Yuga Dwi Mutiara Mutiara Nada, Qathrun Neka Erlyani Nella Yaliza Nisa, Mufatihatul Aziza Nita Pujianti Nor Azizah, Nor Nur Qamaliah Nuraida Nuraida Pedro Gianthino Qathrun Nada Rahma, Amelia Rahmi Rahmi Ratna Setyaningrum Ratna Setyaningrum Ratna Setyaningrum Ratna Setyaningrum Ratna Setyaningrum Regista Tri Puspitasari Restiana Kartika Mantasti Hapsari Ririh Yudhastuti Rudi Fakhriadi Salsabella Salsabella, Salsabella Santoso, Izal Puji Septiany, Maulidya Setiawan , Muhammad Irwan Siti Aisyah Solechah Syahrini Dwi Sundari Tia Indriani Tri Ramadhani Ulandari, Anita Vina Yulia Anhar Vina Yulia Anhar Wiliyani, Erni Yeyen Rosalinda Yoga Putra Wibowo Yolanda, Zuhrufa Wanna Yuan Pariasi Yulidasari , Fahrini Zuhrufa Wanna Yolanda Zuhrufa Wanna Yolanda Zuhrufa Wanna Yolanda