Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Situational Judgement Test (SJT): Alternatif Metode Seleksi Mahasiswa Baru di Fakultas Kedokteran Dwita Oktaria; Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 3 (2017): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i3.1727

Abstract

Saat ini, metode seleksi masuk Fakultas Kedokteran hanya mengandalkan penilaian kemampuan kognitif. Situational judgement test (SJT) bertujuan untuk melakukan penilaian mengenai apa yang akan pelamar lakukan bila diberikan situasi tertentu, selain menilai apakah pelamar dapat mendiskusikan situasi tertentu, mereka juga dituntut untuk menunjukkan bahwa mereka dapat mendemonstrasikan kompetensi aktual yang dicari oleh institusi yang akan merekrut mereka. Situational judgement test (SJT) adalah penilaian yang dirancang untuk mengukur penilaian kandidat dalam setting peran yang relevan atau setting kerja. Dalam beberapa tahun terakhir, penggunaan SJT pada proses seleksi dan penilaian di Fakultas Kedokteran telah digunakan secara luas. Bukti penelitian secara konsisten telah menunjukkan bahwa SJT sebagaialat seleksi, ketika didesain secara tepat, memiliki reliabilitas dan validitas yang baik. Penggunaan SJT dalam proses seleksi mahasiswa kedokteran umum dapat menjadi prediktor kinerja yang lebih baik dibandingkan tes pengetahuan, wawancara terstruktur, tes IQ, kuesioner kepribadian dan pertanyaan pada formulir aplikasi.SJT dengan menggunakan video dilaporkan memiliki validitas lebih tinggi dibandingkan SJT tertulis. SJT dapat menilai berbagai atribut, termasuk mengukur berbagai keterampilan dan sifat, tergantung materi spesifik dari tes. SJT merupakan salah satu metode seleksi terbaik dan tervalidjika dirancang secara tepat, namun metode ini relatif baru, mungkin dapat kurang diterima secara internasional serta dapat menimbulkan bias kultural.Kata kunci: metode seleksi, SJT, situational judgement test,
Studi Kualitatif Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Karier pada Mahasiswa Kedokteran dan Dokter Internship di Bandar Lampung Idzni Mardhiyah; Oktadoni Saputra; TA Larasati; Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 1, No 2 (2016): JK UNILA
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v1i2.1627

Abstract

Pemilihan karier merupakan hal penting dan krusial bagi seorang dokter. Pemilihan karier menjadi hal yang sangat menentukan masa depan seorang dokter ketika terjun di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui faktorfaktor yang mempengaruhi pemilihan karier mahasiswa kedokteran tahun pertama, ketiga dan dokter internship Fakultas Kedokteran Universitas Lampung (FK Unila) di Bandar Lampung. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan desain penelitian kualitatif. Studi pendahuluan dilakukan dengan melakukan survei gambaran pilihan karier pada mahasiswa kedokteran tahun pertama dan ketiga FK Unila. Dari gambaran pilihan karir yang didapatkan, dilakukan wawancara mendalam pada mahasiswa tahun pertama (n=4), tahun ketiga (n=6) dan dokter internship (n=8). Data kemudian ditranskripsi, dikoding, dan dianalisis konten untuk mendapatkan tema-tema yang muncul. Gambaran pilihan karier mahasiswa masih didominasi oleh dokter fungsional khususnya dokter spesialis baik pada mahasiswa tahun pertama (67%;85 dari 127 responden) maupun pada mahasiswa tahun ke tiga (54%; 70 dari 130 responden). Faktor yang mempengaruhi pemilihan karier terdiri dari faktor pendorong dan faktor penghambat. Terdapat delapan kategori utama faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan karier yaitu; karakteristik pribadi, karakteristik profesi, kondisi lapangan pekerjaan, perankeluarga, kehiduoan pribadi, tuntutan pendidikan lanjut, fase preklinik, dan fase rotasi klinik. Dari kedelapan kategori tersebut, kategori fase preklinik tidak didapatkan sebagai kategori pada faktor penghambat tetapi terdapat dua kategori lainnya yaitu beban kerja dan keterbatasan informasi. Simpulan. Pemilihan karier mahasiswa kedokteran dan dokterinternship bervariasi sesuai dengan tahapan pendidikan yang dilalui.Semakin tinggi tahapan pendidikan yang dilalui, semakin kompleks hal-hal yang dipertimbangkan dalam pemilihan kariernya. [JK Unila. 2016; 1(2)]Kata Kunci: dokter internship, mahasiswa kedokteran, pemilihan karier
Peranan Dosen Pendidikan Kedokteran : Dari Perspektif Ilmu Pendidikan Kedokteran Rika Lisiswanti
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 3, No 1 (2019): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v3i1.2225

Abstract

Pendidikan kedokteran bertujuan untuk menghasilkan dokter dan dokter gigi berbudi luhur, bermatabat, bermutu, kompeten, berbudaya menolong, beretika, berdedikasi tinggi, profesional, berorientasi pada keselamatan pasien, bertanggungjawab, bermoral, humanistis, menyadari kebutuhan masyarakat, mampu berdaptasi dengan lingkungan sosial dan berjiwa sosial tinggi. Pendidikan kedokteran merupakan pendidikan dinamis dan terus berkembang. Untuk mewujudkan tujuan tersebut peranan dosen sangat penting. Peranan dosen utama adalah tri darma perguruan tinggi yaitu pendidikan, pengajaran dan pengabdian. Peranan dosen pendidikan kedokteran dari pandangan ilmu pendidikan kedokteran terbagi dalam dua belas yaitu sebagai pemberi informasi di kelas dan di pendidikan klinik, sebagai role model di pendidikan pre klinik dan klinik, sebagai fasilitator dalam kegiatan belajar mengajar dan sebagi mentor, sebagai perencana kurikulum dan perencana proses pembelajaran, sebagai asesor kurikulum dan assesor mahasiswa, sebagai kreator lingkungan belajar dan sebagai pembuat panduan belajar. Selain itu dosen juga harus ahli dibidangnya yaitu dosen yang memiliki kekampuan metakognisi dan mempunyai intuisi dalam kedokteran. Bagian pendidikan kedokteran berperan dalam pengembangan peranan dosen pendidikan kedokteran untuk merespon perkembangan pendidikan dan kedokteran serta sebagai pusat inovasi dan penelitian dalam bidang pendidikan kedokteran.Kata Kunci: departemen pendidikan kedokteran, dosen, pendidikan kedokteran
Active Learning di Pendidikan Kedokteran Rika Lisiswanti; Drisnaf Swastyardi
Jurnal Kedokteran Universitas Lampung Vol 5, No 1 (2021): JK Unila
Publisher : Fakultas Kedokteran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jk unila.v5i1.2934

Abstract

Pendahuluan. Active learning merupakan konsep pembelajaran yang sudah ada sejak lama. Active learning adalah pembelajaran secara aktif oleh mahasiswa. Berbagai metode active leraning yang terdapat dalam literatur. Penerapan active learning pada pendidikan kedokteran masih terbatas pada pembelajaran problem-based-learning.Pembahasan. Berbagai metode active learning sudah ada dalam literatur diantarannya bersifat kolaboratif atau small group learning dan dalam kelas besar. Active learning kolaboratif diantaranya problem-based learning, tema-based learning, case-based learning, diskusi kelompok kecil, clinical skill laboratorium dan masih banyak lagi. Sedangkan active learning dalam kelas besar yaitu modifikasi perkuliahan, flipped classroom, jigsaw dan lainnya. Dosen bereran sebagai fasilitator, mendorong mahasiswa dan memberikan umpan balik kepada mahasiswa. Institusi berperan dalam menyediakan dana, melatih dosen, menyediakan fasilitas dan meningkatkan SDL mahaaiswa. Mahasiswa bertanggungjawa terhadap pembelajarannya, berinisitaif dan mempunyai keterampilan SDL yang baik untuk mendukung pembelajaran active learning. Penerapan active learning juga menemui hambatan diantaranya dari segi waktu, dana, sumber daya dan karakteristik mahasiswa.Simpulan. Terdapat banyak metode active learning yang bisa diterapkan, diperlukan peran semua pihak untuk mengembangkan active learning di suatu institusi. Kata kunci: dosen, mahasiswa kedokteran, pembelajaran aktif, pendidikan kedokteran.
PENGARUH ALGAE MERAH (EUCHEUMA SPINOSUM) TERHADAP INFEKSI ESCHERICHIA COLI Putu Urvasi Ari Utami; Ety Apriliana; Rika Lisiswanti; Liana Sidharti
Medula Vol 13 No 3 (2023): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v13i3.651

Abstract

Bacteria can contribute to the development of diarrheal disease through direct contact with those who have the condition, consumption of food and drink contaminated with feces, or both. In addition, water, food sanitation, family latrines are the main causes of diarrheal disease. Among the causative bacteria, Escherichia coli is the most common pathogen for diarrhea in children in developing countries and an associated entero-pathogen of emerging antimicrobial resistance in developed countries. Reports of increased antibacterial resistance have become a challenge in handling diarrhea cases. Eucheuma spinosum is a species of red algae which is a marine organism that has been screened for phytochemicals and found to contain active substances such as flavonoids, triterpenoids, alkaloids, and ascorbic acid. Phenol compounds and their derivatives (flavonoids) are predicted to be compounds in E. spinosum that have the potential to inhibit E. coli bacteria by damaging the bacterial cytoplasmic wall.
Efektivitas Vaksin Human Papillomavirus Pada Anak Perempuan dalam Upaya Pencegahan Kanker Serviks Sono, Rafa Habiba; Ratna Dewi Puspita Sari; Rika Lisiswanti; Ari Irawan Romulya
Medula Vol 14 No 3 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i2.994

Abstract

With high mortality rates worldwide, cervical cancer is a major threat to women's health. The World Health Organization (WHO) has set a global strategy for elimination through HPV vaccination. Indonesia has implemented the HPV Immunization Introduction Program, including its implementation in the School Children Immunization Month, aimed at grade 5 and 6 elementary schools. The prevalence of cervical lesions has been reduced by HPV vaccination, but screening and adapting to changing epidemiology remain challenging. The influence of socioeconomic factors on risk highlights the need for prevention strategies that address social disparities. Successful vaccination not only protects individuals but also contributes to overall public health. Therefore, it requires adaptation and collaboration across sectors to address cervical cancer globally.
Dysmenorrhea Primer: Tinjauan Pustaka Ananda Felicia Aziza; Dian Isti Angraini; Ramadhana Komala; Rika Lisiswanti
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1330

Abstract

Dysmenorrhea is a common gynecological complaint among adolescent girls and young women, characterized by disruptive menstrual pain. This condition can affect health, social relationships, as well as school and work activities. The WHO in 2017 stated that 90% of women of reproductive age worldwide experience dysmenorrhea, while in the Southeast Asia region, the prevalence reaches 50.9% in Malaysia and 64.25% in Indonesia. Dysmenorrhea can be classified into primary dysmenorrhea, which occurs without any underlying pelvic pathology, and secondary dysmenorrhea, which occurs due to pelvic pathology such as endometriosis. The severity of primary dysmenorrhea can be classified as mild, moderate, and severe using the WaLIDD Score, a tool that helps measure the intensity and impact of pain. Management of dysmenorrhea can include NSAID medications, hormonal therapy, and alternative therapies such as exercise, although their effectiveness has not been consistently proven. Most teenage girls often consider dysmenorrhea to be a normal part of a menstrual cycle. However, dysmenorrhea that does not receive proper treatment will later impact cases of endometriosis in the future. With a better understanding of the causes and management of dysmenorrhea, it is hoped that patient awareness can be increased and they can be encouraged to seek appropriate medical treatment.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Self-esteem pada Mahasiswa: Tinjauan Pustaka ANGGITA DERIZKY VIRGINIA; Rika Lisiswanti; Sutarto; Ari Wahyuni
Medula Vol 14 No 11 (2024): Medula
Publisher : CV. Jasa Sukses Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53089/medula.v14i11.1412

Abstract

Self-esteem is a concept that everyone needs in life that includes an individual's subjective evaluation of their worth. Selfesteem can be defined as a person's perception of themselves, both positive and negative. Studies have shown that selfesteem has a tremendous impact on many important aspects of life, including relationships and job satisfaction, employment status, physical and mental health. In the condition of students with low self-esteem, it can affect their academic life, social life, and mental state which can cause stress to severe depression. Based on previous research, it can be seen that there are still many students who have low self-esteem. Therefore, this study aims to analyze the various factors that influence self-esteem in college students. In this study, researchers used the literature study method by compiling and analyzing fourteen articles. The results of the articles that have been reviewed, concluded that there are several factors that can affect the level of self-esteem of college students. High or low levels of self-esteem in students can be caused by a combination of family factors such as parental attention and education, academic factors such as the student's cumulative grade point average and other academic achievements, then social factors such as support from friends and their college environment, and psychological factors such as stress and depression.
Kesesuaian Peresepan Penyakit Faringitis Akut terhadap Standar Pengobatan di Puskesmas Rawat Inap Simpur Bandar Lampung Tahun 2013 Liana Sidharti; Giok Pemula; Rika Lisiswanti; Tri Umiana Soleha
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 2 No. 3 (2015): JURNAL AGROMEDICINE
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faringitis akut adalah infeksi faring yang disebabkan oleh virus atau bakteri. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, kasus faringitis akut masuk dalam urutan penyakit sepuluh besar terbanyak dan menduduki urutan ke lima pasien rawat jalan di Puskesmas Simpur Kota Bandar Lampung periode Januari-Desember 2013. Peresepan obatrasional merupakan peresepan obat yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan pasien. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat kesesuaian peresepan penyakit faringitis akut dengan Standar Pengobatan Dasar di Puskesmas tahun 2007. Penelitian ini merupakan penelitian retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Simpur Bandar Lampung dan subjek penelitian ini adalah seluruh data peresepan penyakit faringitis akut dengan teknik pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling (non probability sampling) dengan jumlah sampel sebanyak 96 peresepan dan dilaksanakan pada bulan Oktober-November tahun 2014.Hasil penelitian terdapat kesesuaian jenis obat antibiotik dan simptomatik 100%, kesesuaian dosis obat antibiotik 66,7%, kesesuaian dosis obat simptomatik 67,1%, serta kesesuaian lama pemberian obat antibiotik 0% dan kesesuaian lama pemberian obat simptomatik 100%. Simpulan, didapatkan ketidaksesuaian dosis obat antibiotik dan simptomatik, sertaketidaksesuaian lama pemberian obat antibiotik dan kesesuaian lama pemberian obat simptomatik. [J Agromed Unila 2015;2(3):196-202]Kata kunci: faringitis akut, peresepan obat, standar pengobatan
Penilaian Kemampuan Clinical Reasoning Mahasiswa Kedokteran Menggunakan Clinical Performance Examination dan Objective Structured Clinical Examination Rika Lisiswanti; Topaz Kautsar Tritama
Jurnal Agromedicine Unila: Jurnal Kesehatan dan Agromedicine Vol. 4 No. 1 (2017): Jurnal Agromedicine
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemampuan penalaran klinis/clinical reasoning dalam pendidikan kedokteran adalah kemampuan mahasiswa untuk mengintegrasikan pengetahuan teoritis dan pengetahuan klinisnya pada pasien untuk membentuk representasi masalah dari suatu kasus secara analitis dan kemudian memberikan solusi terhadap masalah tersebut. Kemampuan ini sangat penting bagi mahasiswa kedokteran yang merupakan salah satu kemampuan yang harus dipunyai sebagai seorang dokter. Kemampuan penalaran ini dalam pendidikan dapat dinilai dengan berbagai macam cara penilaian yang disesuaikan dengan institusi pendidikan kedokteran. Artikel ini membahas tentang cara penilaian kemampuan penalaran klinis mahasiswa kedokteran melalui ujian pemeriksaan klinis dalam bentuk Clinical Performance Examination (CPX) dan Objective Structured Clinical Examination (OSCE), merupakan bentuk pemeriksaan kinerja klinis yang dapat digunakan untuk mengevaluasi penalaran klinis. Dengan pendekatan menggunakan metode ujian pemeriksaan klinis, dapat dilakukan evaluasi terhadap kemampuan penalaran klinis mahasiswa kedokteran, dengan melakukan pendekatan sistematik terhadap tanda dan gejala yang didapatkan dari pasien.Kata kunci: clinical performance examination, mahasiswa kedokteran, objective structured clinical examination, penalaranklinis