Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS POTENSI EKSTRAK DAUN CENGKEH (Syzygium aromaticum) SEBAGAI REPELEN NYAMUK Oktari, Femi; Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 2 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v16i2.3490

Abstract

Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit infeksi yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti dan Ae. albopictus yang terinfeksi. Kasus DBD meningkat 30 kali lipat dengan peningkatan ekspansi geografis ke negara-negara baru dan dalam dekade ini, dari kota ke lokasi pedesaan. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya pencegahan penularan, salah satunya dengan repellent anti nyamuk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) sebagai repellent semprot nyamuk Aedes aegypti. Eksperimen menggunakan 100 ekor nyamuk Ae. aegypti dewasas (usia 2-5 hari) yang dikembangkan di Laboratorium Entomologi Lokalitbang Kementerian Kesehatan Baturaja. Pengujian dilakukan terhadap lima orang probandus (relawan berusia 18-25 tahun) yang dipaparkan dengan ekstrak daun cengkeh pada lima konsentrasi (3%, 5%, 7%, 9%, dan 12%), selama enam jam. Pengumpulan data dilakukan setiap jam, selanjutnya dianalisis dengan ANOVA. Penelitian mendapatkan bahwa ekstrak daun cengkeh mampu menolak nyamuk hinggap secara signifikan (p-value=0,010). Rerata terendah nyamuk hinggap pada konsentrasi 12% (1,5 ekor), dengan trend selama enam jam sebanyak 2,5 ekor. Namun, hasil perhitungan daya proteksi baru mencapai 43,7%., sehingga belum masuk kategori efektif (80%). Penelitian telah membuktikan bahwa ekstrak daun cengkeh (Syzygium aromaticum) dengan aplikasi spray, dapat menjadi alternatif repellent nyamuk Ae.aegypti. Perlu penelitian lanjutan untuk mendapatkan konsentrasi yang efektif.
KOMBINASI EKSTRAK DAUN TAPAK DARA (Catharanthus roseus) DAN DAUN SIRSAK (Annona muricata) SEBAGAI BIO-LARVASIDA Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v16i3.3611

Abstract

Saat ini, pengendalian penyakit DBD masih mengutamakan cara kimia. Selain resistensi, pestisida kimia berdampak negatif terhadap kesehatan manusia, serangga non-target, dan lingkungan. Penelitian bertujuan mengembangkan larvasida dari ekstrak daun tapak dara (Catharanthus roseus) dan daun sirsak (Annona muricata). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap faktorial, dengan dua kali ulangan. Ekstraksi ekstrak daun tapak dara (DTD) dan daun sirsak (DS) dilakukan dengan maserasi menggunakan pelarut ethanol, selanjutnya dilakukan analisis kandungan flavonoid. Total 1.000 ekor larva Aedes aegypti instar-III digunakan selama percobaan, untuk menilai pengaruh formula (5 level), dosis (5 level), dan waktu paparan selama 48 jam. Keseluruhan data (total 250 data) dianalisis dengan Two-way ANOVA pada alpha=5%. Penelitian mendapatkan kandungan flavonoid tertinggi pada ekstrak DS (11,85 Mg QE/g eks). Analisis statistik menunjukkan ketiga variabel penelitian berpengaruh signifikan terhadap mortalitas larva Ae. aegypti (p-value
KUALITAS MIKROBIOLOGI DAN PENGOLAHAN AIR MINUM ISI ULANG DI WILAYAH KECAMATAN METRO PUSAT, KOTA METRO Yushananta, Prayudhy; Markus, Meiliyana; Barus, Linda
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v16i3.3626

Abstract

Penggunaan air minum isi ulang terus meningkat sebagai sumber air minum utama keluarga, dari 19,00% (2013) menjadi 29,1% (2020). Peningkatan ini dapat memperbesar risiko gangguan kesehatan jika tidak dilakukan pengawasan secara kontinyu. Penelitian bertujuan mengetahui kualitas mikrobiologi air minum isi ulang serta pengolahannya. Penelitian menggunakan metode observational, dilaksanakan di Kecamatan Metro Pusat, Kota Metro. Sampel diambil dari sembilan Depot Air Minum (DAM) dari total 11 DAM. Pemeriksaan mikrobiologi menggunakan Most Probable Number (MPN) pada air baku dan air hasil olahan, sedangkan metode Angka Lempeng Total untuk kebersihan galon. Penilaian proses filtrasi dan desinfeksi dilakukan dengan observasi. Selanjutnya keseluruhan data diolah dan dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian mendapatkan seluruh air baku tercemar bakteri, dan hanya satu dari sembilan sampel yang memenuhi persyaratan mikrobiologi. Sementara, hasil pemeriksaan galon menemukan delapan dari sembilan galon tidak memenuhi syarat kebersihan. Walaupun seluruh DAM melakukan filtrasi tiga tahap, namun filter telah melampaui waktu pakai. Pada proses desinfeksi, hanya satu DAM yang memenuhi persyaratan kesehatan (lama paparan sinar UV, kebersihan dan umur lampu UV). Hasil penelitian menunjukkan tingginya risiko kesehatan bagi konsumen air minum isi ulang. Perbaikan alat dan proses pengolahan harus segera dilakukan, selain pembinaan dan pengawasan secara ketat oleh pihak-pihak terkait.
ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN FISIK DAN KEJADIAN TUBERKULOSIS DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG Sari, Mona Linda Novita; Fikri, Ahmad; Murwanto, Bambang; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 16 No. 3 (2022)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v16i3.3629

Abstract

Saat ini Indonesia menempati posisi kedua kasus terbanyak Tuberculosis (TB) (845.000 kasus) setelah India. Faktor lingkungan rumah berhubungan erat dengan penyebaran kasus, selain faktor lain seperti gizi, imunisasi, kemiskinan, dan pelayanan kesehatan. Penelitian bertujuan untuk mengidentifikasi faktor risiko lingkungan fisik rumah terhadap kejadian TB di wilayah kerja Puskesmas Kedaton Kota Bandar Lampung. Penelitian menggunakan rancangan kasus-kontrol, dilaksanakan pada bulan Maret hingga Mei 2022. Total 279 rumah tangga (93 kasus dan 186 kontrol) diikutkan selama penelitian. Kasus adalah penderita TB dengan hasil pemeriksaan BTA+ dan tercatat pada buku register TB. Kelompok kontrol dipilih dari tetangga terdekat tanpa riwayat TB. Pengumpulan data dilakukan dengan alat ukur untuk variabel suhu, kelembaban, pencahayaan, dan luas ventilasi. Sedangkan kepadatan hunian dengan wawancara. Analisis data dilakukan dengan Chi-square dan Logistic Regression. Penelitian telah mengidentifikasi empat faktor risiko lingkungan fisik rumah terhadap kejadian TB. Pencahayaan yang tidak memenuhi syarat menjadi faktor risiko terbesar terhadap TB (AOR 70.19; 95% CI 17.08 - 288.44). Tiga faktor risiko lainnya adalah kepadatan hunian (AOR 21.77; 95% CI 5.80 - 81.70), suhu (AOR 16.38; 95% CI 5.38 - 49.92), dan ventilasi (AOR 13.05; 95% CI 4.80 - 35.52). Empat faktor lingkungan fisik rumah tinggal secara signifikan telah teridentifikasi sebagai faktor risiko TB, yaitu pencahayaan, kepadatan hunian, suhu dan ventilasi. Perbaikan kondisi fisik rumah menjadi langkah intervensi yang harus diterapkan, selain peningkatan kampanye perilaku sehat.
KINERJA BEBERAPA VARIAN KULIT PISANG JENIS LOKAL TERHADAP REDUKSI BESI (Fe) DALAM AIR Manurung, Melin Nekawati; Fikri, Ahmad; Murwanto, Bambang; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v17i1.3707

Abstract

Beberapa penelitian telah melaporkan kemampuan kulit pisang untuk mereduksi ion logam, karena kandungan selulosa dan asam galacturonic. Penelitian bertujuan mengeksplorasi kinerja kulit pisang dari empat varian tanaman lokal untuk mereduksi kandungan besi (Fe) dalam air. Penelitian menggunakan rancang acak lengkap faktorial, dengan dua kali ulangan. Kulit pisang dari empat varian lokal (muli, kepok, tanduk, dan janten), selanjutnya dibuat bubuk. Percobaan dilakukan pada tiga level dosis (10%, 20%, dan 30%) dan tiga level waktu kontak (2 jam, 4 jam, dan 6 jam). Kandungan Fe diukur sebelum dan sesudah perlakuan dengan metode spectrophotometry. Keseluruhan data dianalisis dengan Two-way ANOVA dan Tukey-test pada Alpha=5%. Penelitian mendapatkan keempat varian kulit pisang mampu mereduksi Fe dalam air sampel, Reduksi Fe dipengaruhi oleh varian pisang, dosis, waktu kontak, dan interaksi antara varian dengan dosis dan waktu. Kinerja reduksi terbaik diperoleh pada penggunaan kulit pisang kepok, dosis 30%, dan waktu kontak selama 6 jam, sebesar 69,23%. Penelitian telah berhasil mengeksplorasi empat kulit pisang lokal sebagai bahan baku adsorben Fe. Dari keempatnya, kulit pisang kepok menunjukkan kinerja terbaik. Penelitian lebih lanjut diharapkan untuk meningkatkan afinitas kulit pisang terhadap ion logam, termasuk sebagai adsorben logam berat.
KANDUNGAN SAPONIN DAN FLAVONOID PADA TANAMAN PEKARANGAN SERTA POTENSINYA SEBAGAI BIOINSEKTISIDA LALAT RUMAH (Musca domestica) Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v17i1.3763

Abstract

Beberapa studi telah melaporkan efektifitas tanaman sebagai bioinsektisida, namun tidak menjelaskan hubungannya dengan kandungan kimiawi bahan. Penelitian bertujuan menganalisis kandungan saponin dan flavonoid dari 14 jenis tanaman yang dilaporkan berpotensi sebagai bioinsektisida, serta mengaplikasikannya pada lalat rumah (Musca domestica). Ekstraksi dengan maserasi menggunakan etanol 96% selama 24 jam. Analisis kandungan saponin dan flavonoid dengan metode Thin Layer Chromatography (TLC) scanner dan spektrofotometri. Ekstrak diencerkan dengan aquades untuk mendapatkan dosis uji (25, 30, 35, 40, 45%). Sebanyak 5.600 ekor lalat rumah (usia 4-5 hari) dari kolonisasi generasi pertama (F-1) digunakan untuk uji mortalitas. Percobaan dengan metode semprot dilakukan pada dua replikasi untuk setiap dosis dan empat variasi waktu kontak (15, 30, 60, 120 menit). Uji Two way-ANOVA (alpha=5%) diterapkan untuk mengetahui perbedaan mortalitas lalat berdasarkan dosis dan waktu kontak. Keseluruhan tanaman (n=14) memiliki kandungan saponin dan flavonoid yang bervariasi. Saponin tertinggi ada pada daun sirsak (0,96%), terendah daun salam (0,38%). Flavonoid tertinggi pada daun sirsak (0,47%), terendah daun labu siam, sirih hijau, delima dan asam jawa (0,01%). Hasil bioassay-test mendapatkan mortalitas tertinggi pada daun cengkeh (100%), terendah daun delima (63,3%). Analisis statistik menunjukkan perbedaan mortalitas yang signifikan berdasarkan jenis tanaman dan waktu kontak (p
Efek Kombinasi Tanaman Dengan Variasi Konsentrasi Terhadap Mortalitas Larva Culexsp. (Diptera: Culicidae) Ahyanti, Mei; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v18i1.4455

Abstract

Insektisida nabati menjadi pilihan terbaik untuk mengendalikan nyamuk vektor penyakit, setelah pemahaman dampak negatif dari penggunaan insektisida kimia sintetis jangka panjang. Penelitian bertujuan mengevaluasi efek larvasida dari kombinasi empat jenis tanaman terhadap Culex sp. Penelitian menggunakan rancang acak lengkap faktorial (dengan dua ulangan), dilakukan selama bulan Maret – Juli 2023. Empat jenis tanaman (Catharanthus roseus, Annona muricata, Psidium guajava, dan Averrhoa bilimbi) dikombinasikan berpasangan dengan variasi konsentrasi campuran bertingkat, dan diamati selama 24 jam. Ekstraksi tanaman dengan maserasi menggunakan Ethanol (24jam), dievaporasi hingga pekat, dan diencerkan dengan akuades untuk konsentrasi diinginkan. Larva Culex sp. dipelihara dari fase telur hingga turunan pertama (F1). Dua puluh larva instar-III digunakan pada setiap pengujian, dengan kontrol. Data dianalisis dengan ANOVA two-way (Confidence Level= 95%). Hasil penelitian mendapatkan bahwa tiga dari empat tanaman memberikan efek mortalitas (5-20%) sejak satu jam setelah paparan, yaitu A. muricata, P. guajava, dan C. roseus. Setelah enam jam paparan, A. muricata dan P. guajava memberikan efek mortalitas tertinggi (70%). Setelah 24 jam paparan, seluruh larva mengalami kematian pada semua perlakuan. Hasil analisis statistik menunjukkan perbedaan mortalitas larva berdasarkan waktu paparan (P = 0,0001), namun tidak signifikan berdasarkan jenis tanaman (P = 0,084) dan konsentrasi campuran (P = 0,858). Dari empat yang diperiksa, dua jenis tumbuhan menunjukkan efek larvasida terbaik terhadap Culex sp., yaitu A. muricata dan P. guajava. Walaupun menunjukkan hasil yang menjanjikan, penggunaan konsentrasi tinggi masih menjadi kendala untuk diaplikasikan secara luas. Rekayasa senyawa bioaktif disarankan untuk meningkatkan aktivitas dan menurunkan konsentrasi larvasida.
Effects of Frangipani Flower Extract (Plumeria acuminata L.) Against the Mortality of Aedes aegypti Larvae Lidya, Eka; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 18 No. 1 (2024)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v18i1.4513

Abstract

Bioinsecticide development has become a demand after the adverse effects of long-term use of synthetic chemical insecticides, including vector resistance and environmental pollution. In particular, this study investigated the ability of Frangipani flower extract (Plumeria acuminata L.) as larvacidal against Aedes aegypti instar III. The study used a Factorial Completely Randomized Design (two replications), conducted on March-May 2023. Plant extraction by maceration using 96% ethanol solvent. Bioassay tests were carried out at three concentration levels (5%, 7%, 10%) and four levels of contact time (6, 12, 18, 24 hours), with 25 larvae in each treatment. Spectrophotometry methods measured flavonoid and saponin content. The two-way ANOVA test analyzed data, the Tukey test, and the probit test to obtain LC50 and LC90. The study found flavonoid and saponin content of 4.43 Mg QE/g and 2.45%, respectively. The lowest total mortality (24 hours after exposure) of Aedes aegypti larvae was at a concentration of 5% (MR= 58%) and highest at concentrations of 7% and 10% (MR= 100%). The 7% concentration is the best performance as a larvicide. Statistical analysis showed differences in mortality based on concentration (P = 0.0001) and contact time (P = 0.0001). Mortality of larvae was caused by damage to the respiratory and digestive systems, as seen from the lateral hair, siphon, and abdomen condition. The results of the probit test obtained LC50 and LC90 of 4.85% (4.36–5.10%) and 5.86% (5.49-7.20%), respectively. The study has proven that Plumeria acuminata L. flower extract has the potential as a biolarvaside against Aedes aegypti, with a mortality effect reaching 100% after 24 hours of exposure.
Specific Determinants of Stunting Toddlers in Lampung Province: Spatial Data Analysis Yushananta, Prayudhy; Muslim, Azhari; Rusli, Yenni
Jurnal Kesehatan Vol 14 No 3 (2023): Jurnal Kesehatan
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/jk.v14i3.4182

Abstract

The prevalence of stunting still varies between districts, even though it shows a decreasing trend nationally. Variations in the correlation of specific determinants are characteristic of each region that must be considered when designing stunting control strategies, considering the significant future impacts. The study aims to identify specific determinants of stunting among toddlers between districts in Lampung Province. With an ecological design, the study uses aggregate data from the Indonesian Nutrition Status Study Report 2022 and Welfare Statistics of Lampung Province 2022. The analysis was carried out in stages with the Moran's Index and Local Moran's Index (LISA), using ArcMap and GeoDa software. Based on the analysis results, there are three districts with stunting prevalence above the national average and ten districts above the provincial average. Comparison year over year (YoY) shows that the two districts have increased from low to high or very high. We also found six variables specifically correlated with the prevalence of stunting: access to safe drinking water and sanitation, poverty, birth attendant, age at pregnancy, and length of breastfeeding. Increasing and improving specific determinants is an essential step in designing control strategies.
Spatial Temporal Analysis of Groundwater Fluoride Concentration and Its Implication to Human Health in Jakarta, Indonesia Wacano, Dhandhun; Yoneda, Minoru; Yushananta, Prayudhy
Ruwa Jurai: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol. 19 No. 1 (2025)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26630/rj.v19i1.4565

Abstract

Groundwater serves as the primary source of potable water globally, including in Indonesia. Unfortunately, the presence of fluoride concentrations in groundwater, whether in ideal, insufficient, or excessive quantities, can have either beneficial or detrimental effects. Presently, the inhabitants of Jakarta persist in relying on groundwater as their primary source of clean water, which presents an escalating peril to public well-being as a result of increased domestic activities. Regarding the situation, this research aims to analyze the temporal trends and spatial distribution of fluoride concentration in groundwater and its potential consequences for public health risks in Jakarta. A total of 1,418 fluoride and temperature data from the Jakarta Environmental Agency was used for spatial-temporal analysis of 2016–2019 trends. We applied Microsoft Excel 2021 and ArcGIS Pro 3.2 for statistical and spatial data analysis. The result indicated that the fluoride concentration in groundwater was 72.14% below the minimum recommended value of 0.5 mg/L, mostly in the southern part of Jakarta. However, the average fluoride concentration for all seasons per year is consistently increasing, specifically in the northern part of Jakarta. Based on this research's findings, we concluded that the deficiency of fluoride concentration in groundwater is the majority problem in Southern Jakarta and could potentially cause dental caries if the groundwater is used as the daily source of clean water. This information is very useful for the government and public health authorities to further mitigate and protect people in Jakarta who still rely on groundwater as the source of clean water.