Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Pengelolaan Limbah B3 Medis Padat COVID-19 Di RSD Dr. A Dadi Tjorodipo Kota Bandar Lampung Prayudhy Yushananta; Mei Ahyanti; Nidia Hilda
SINAR SANG SURYA Vol 6, No 1 (2022): Februari 2022
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v6i1.1883

Abstract

ABSTRAK Pengelolaan limbah B3 medis padat COVID-19 yang kurang baik, berdampak pada penyebaran virus ke lingkungan dan risiko infeksi pada petugas kesehatan, terutama tenaga pengelola limbah medis. Pengabdian bertujuan memberikan edukasi tentang pengelolaan limbah B3 medis padat COVID-19, perlindungan terhadap risiko infeksi, dan membuat SOP. Pengabdian dilakukan dalam empat tahap, yaitu analisis situasi, persamaan persepsi, aksi dan evaluasi. Observasi dan FGD dilakukan untuk mengetahui permasalahan dalam pengelolaan limbah B3 medis padat COVID-19. Edukasi petugas menggunakan metode pembelajaran experiential, karenat telah memiliki pengalaman sebelumnya. Penyusunan SOP dilakukan bersama mitra sebagai panduan kerja. Pada akhir kegiatan dilakukan evaluasi dengan cara observasi cara kerja petugas pada setiap tahapan pengelolaan limbah padat B3 COVID-19. Hasil pengabdian menunjukkan perbaikan pengelolaan limbah B3 medis padat COVID-19 pada setiap tahap pengelolaan limbah padat (sumber, pengumpulan, pengangkutan, dan penyimpanan), serta kepatuhan dalam penggunaan alat pelindung diri secara lengkap. Metode pembelajaran experiential mampu meningkatkan kemampuan petugas. Selain sebagai media pendidikan, SOP menjadi acuan dalam pelaksanaan pekerjaan. Kata kunci: COVID-19, limbah B3 medis padat, SOP, metode experiential ABSTRACTThe poor management of COVID-19 solid waste impacts the spread of the virus to the environment and the risk of infection for health workers, especially medical waste management personnel. This service aims to provide education about the management of COVID-19 solid waste, protection against the risk of infection, and making SOPs. Observations and FGDs were carried out to find out problems in the management of COVID-19 solid waste. Education uses experiential learning methods because they have previous experience. The preparation of SOPs is carried out with partners as a working guide. At the end of the activity, an evaluation was conducted by observing how the officers worked at each COVID-19 B3 solid waste management stage. The results of the service show improvements in the management of COVID-19 solid waste at every stage of solid waste management (source, collection, transportation, and storage), as well as compliance with the use of complete personal protective equipment. The experiential learning method can improve the ability of officers. Apart from being an educational medium, SOPs are a reference in carrying out work.Keywords: COVID-19, hazardous solid waste, SOP, experiential methods
EDUKASI DAN PENDAMPINGAN PENDERITA DIABETES MELITUS DI DESA MARGOTOTO KABUPATEN LAMPUNG TIMUR Febri Sukiyanti Putri; Tina Agustina; Haifa Rizqi Nada; Prayudhy Yushananta
SINAR SANG SURYA Vol 5, No 2 (2021): Agustus 2021
Publisher : UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/sss.v5i2.1650

Abstract

ABSTRAK  Diabetes Mellitus (DM) merupakan keadaan hiperglikemi kronik yang dapat menimbulkan berbagai komplikasi kronik seperti menyebabkan retinopathies, hipertensi, penyakit jantung koroner, nefropati, dan neuropati. Faktor risiko DM terutama karena pola hidup yang tidak sehat, prokok aktif, dan jarang berolahraga. Kegiatan pengabdian masyarakat bertujuan memberikan edukasi kepada masyarakat dan pendampingan kepada penderita DM. Pengabdian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu analisis situasi, pelaksanaan intervensi dan evaluasi. Penyuluhan dan pemeriksaan kadar gula darah telah dilakukan terhadap 80 orang, dan 12,5% masuk dalam kategori prediabetes mellitus. Pendampingan penderita dilakukan dengan pendekatan DSME, berupa pemeriksaan kadar gula darah, pelatihan perawatan luka, serta edukasi kepada penderita dan keluarga penderita. Pengabdian diharapkan dapat meningkatkan perilaku hidup sehat masyarakat, serta meningkatkan kemandirian penderita sehingga berdampak pada peningkatan kualitas hidupnya. Kata kunci: Diabetes mellitus, DSME, gula darah, penyuluhan ABSTRACT Diabetes Mellitus (DM) is a chronic hyperglycemic condition that can cause various chronic complications, such as causing retinopathies, hypertension, coronary heart disease, nephropathy, and neuropathy. DM's risk factors are mainly due to an unhealthy lifestyle, active smoker, and rarely exercising. Community service activities aim to provide education to the community and assistance to DM patient. The service was carried out in three stages, situation analysis, implementation of an intervention, and evaluation. Education and examination of blood sugar levels were carried out on 80 people, and 12.5% were categorized as Prediabetes Mellitus. Patient mentoring is carried out using the DSME approach, in the form of checking blood sugar levels, training in wound care, and educating sufferers and their families. Community service is expected to improve people's healthy lifestyles and increase the independence of sufferers so that it has an impact on improving their quality of life. Keywords: Diabetes mellitus, DSME, blood sugar, counseling
Peningkatan Partisipasi Masyarakat Dalam Mencapai Wilayah Sanitasi Total Berbasis Masyarakat Di Kecamatan Tanjungkarang Barat Kota Bandar Lampung Mei Ahyanti; Prayudhy Yushananta; Ahmad Fikri; Sarip Usman; Novita Rudiyanti; M Ridwan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 3 (2022): Volume 5 No 3 Maret 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i3.5566

Abstract

ABSTRAK Indonesia saat ini tengah giat melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sebagai upaya promotif dan preventif dalam penanggulangan penyakit. Salah satu pilar kunci adalah pengelolaan sampah di rumah tangga. Pilar ini dilaksanakan untuk membebaskan masyarakat Indonesia dari penyakit infeksi, khususnya berbasis lingkungan. Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan yang kerap mengancam masyarakat. Dalam menghadapi permasalahan yang ada di Kelurahan Suka Danaham Kecamatan Tanjungkarang Barat Kota Bandar Lampung, solusi yang diberikan adalah melakukan pemeriksaan kualitas air bersih secara mikrobiologi, melaksanakan penyuluhan kesehatan tentang pencegahan penyakit diare, pemberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik dan pemberdayakan masyarakat dalam memanfaatkan potensi sampah yang ada untuk dimanfaatkan kembali. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pegabdian ini adalah pemeriksaan terhadap 30 sampel air bersih, peningkatan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan dengan terbentuknya 1 kelompok pengrajin sampah, hingga terverifikasinya Kelurahan Suka Danaham sebagai Kelurahan STBM. Kata Kunci: pengelolaan, sampah, STBM ABSTRACTIndonesia is currently actively implementing Community-Based Total Sanitation (STBM) as a promotive and preventive effort in disease control. One of the key pillars is household waste management. This pillar is implemented to free the Indonesian people from infectious diseases, especially those based on the environment. Diarrhea is an environment-based disease that often threatens the community. In dealing with the problems that exist in Suka Danaham Village, Tanjungkarang Barat District, Bandar Lampung City, the solutions given are to check the quality of clean water microbiologically, carry out health education about diarrhea prevention, empower the community in organic waste management and empower the community in utilizing the potential of waste generated by the community. exists to be reused. The results obtained from this community service activity were the examination of 30 samples of clean water, increased community independence in the health sector by the formation of 1 group of garbage craftsmen, until the verification of Suka Danaham Villages as STBM Villages. Key word: management, waste, STBM
Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pencegahan Penyakit Diare di Kelurahan Sukajawa Baru Kecamatan Tanjungkarang Barat Kota Bandar Lampung Mei Ahyanti; Prayuhdy Yushananta; Ahmad Fikri; Sarip Usman; Novita Rudiyanti; Yusrizal Yusrizal
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 2 (2022): Volume 5 No 2 Februari 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i2.4708

Abstract

ABSTRAK Penelitian di Kota Bandar Lampung menyimpulkan bahwa komponen sarana sanitasi dari pemukiman yaitu jamban keluarga berhubungan secara signifikan dengan kejadian penyakit diare. Penelitian lain mengungkapkan bahwa air bersih yang tercemar juga berkontribusi terhadap kejadian diare. Kasus diare tahun 2015-2019 di Wilayah Kerja Puskesmas Gedong Air cenderung mengalami peningkatan. Angka ini masih menjadi urgensi mengingat target penanganan diare di Kota Bandar Lampung pada tahun 2019 seharusnya adalah 100%. Kegiatan pengabdian masyarakat berupa pemeriksaan kualitas air bersih secara mikrobiologi dan penyuluhan tentang pencegahan diare serta pemberdayaan masyarakat dalam pembuatan jamban sederhana sehat diawali dengan penyamaan persepsi, pemeriksaan air bersih, penyuluhan dan pembangunan sarana sanitasi. Waktu Pelaksanaan Bulan Agustus sampai Desember 2020. Sasaran kegiatan adalah keluarga di Kelurahan Sukajawa Baru. Hasil yang diperoleh dari kegiatan pegabdian ini adalah pemeriksaan terhadap 30 sampel air bersih, peningkatan kemandirian masyarakat dalam bidang kesehatan dengan terbangunnya 30 sarana jamban sederhana sehat, hingga terverifikasinya Kelurahan Sukajawa Baru sebagai Kelurahan ODF. Kata kunci Keywords: Diare, Pemberdayaan Masyarakat, Jamban sederhana  ABSTRACT Research in the city of Bandar Lampung concluded that the sanitation component of the settlement, namely the family toilet, has a significant relationship with the incidence of diarrhea. Other studies reveal that contaminated clean water also contributes to the incidence of diarrhea. Diarrhea cases in 2015-2019 in the working area of Gedong Air Health Center tend to increase. This figure is still urgent considering that the target for handling diarrhea in Bandar Lampung City in 2019 should be 100%. Community service activities in the form of checking the quality of clean water by microbiology and counseling on the prevention of diarrhea and community empowerment in making simple healthy latrines begin with common perceptions, clean water inspection, counseling and construction of sanitation facilities. Implementation time from August to December 2020. The target of the activity is families in Sukajawa Baru Village. The results obtained from this community service activity were examining 30 clean water samples, increasing community independence in the health sector by constructing 30 simple healthy latrines, and verifying Sukajawa Baru Village as ODF Village. Keywords: Diarrhea, Community Empowerment, Simple Healthy Latrines 
Keselamatan Kesehatan Kerja Menggunakan Pestisida bagi Petani Hortikultura Kabupaten Lampung Barat Mei Ahyanti; Prayudhy Yushananta; Yetti Angraini; Iwan Sariyanto; Enro Sujito; Dina Dwi Nuryani
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 8 (2022): Volume 5 No 8 Agustus 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i8.6582

Abstract

ABSTRAK Pemeriksaan kesehatan dilakukan terhadap 155 wanita usia subur (WUS) petani hortikultura di Kabupaten Lampung Barat berkaitan dengan aktivitas enzim cholinesterase, Hb, status gizi, lamanya paparan, dan penggunaan pelindung. Sebanyak 13 petani dinyatakan keracunan dan 35 orang menderita anemia. Hasil statistik menunjukkan risiko paparan pestisida terhadap anemia sebesar 6,12 kali (95%CI=1,81 - 20,73), dan penggunaan alat pelindung sebesar 3,17 kali (95%CI=1,12 - 8,98). Paparan pestisida akan meningkatkan risiko anemia pada WUS yang bekerja pada pertanian hortikultura. Penggunaan pestisida secara sembarangan harus dinilai secara berkala dan petani harus dilatih dalam penggunaan pestisida yang aman. kegiatan pengabdian ini dikemas untuk memberikan pemahaman dan meningkatkan keterampilan petani, tata nilai kesehatan masyarakat akan meningkat. pelaksanaan kegiatan di Kecamatan Belalau, Balik Bukit dan Sukau Kabupaten Lampung Barat pada bulan September – November 2020. Sasaran kegiatan adalah wanita usia subur petani hortikultura. penyuluhan dan pelatihan menunjukkan meningkatnya pengetahuan dan keterampilan petani terhadap penggunaan pestisida yang aman.masyarakat memiliki kemandirian dalam bidang kesehatan yaitu perubahan mindset perilaku pengelolaan pestisida melalui kegiatan penyuluhan dan pelatihan. Kata kunci: Hortikultura, Pestisida, Petani, Risiko anemia, WUS  ABSTRACT Health checks were carried out on 155 WUS horticultural farmers in West Lampung Regency related to cholinesterase enzyme activity, Hb, nutritional status, duration of exposure, and use of protectors. A total of 13 farmers were declared poisoned and 35 people suffered from anemia. Statistical results showed the risk of pesticide exposure to anemia was 6.12 times (95%CI=1.81 - 20.73), and the use of protective equipment was 3.17 times (95%CI=1.12 - 8.98). Exposure to pesticides will increase the risk of anemia in WUS who work in horticultural agriculture. Indiscriminate use of pesticides should be assessed periodically and farm workers should be trained on the safe use of pesticides. this service activity is packaged to provide the understanding and improve farmer skills, and public health values will increase. Implementation of activities in Belalau, Balik Bukit, and Sukau sub-districts, West Lampung regency in September – November 2020. The target of the activity is women of childbearing age horticultural farmers.extension and training showed increased knowledge and skills of farmers on the safe use of pesticides. the community has independence in the health sector, namely changing the mindset of pesticide management behavior through counseling and training activities. Key Word : Horticulture, risk of anemia, pesticide, farmer, WUS
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DALAM PERUBAHAN PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN Prayudhy Yushananta; Mei Ahyanti; Bambang Murwanto; Enro Sujito
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2021): Mei
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.215 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v4i2.2644

Abstract

Penyakit diare masih menjadi masalah kesehatan yang penting, karena menyumbang sekitar 4.800 kematian anak-anak balita di seluruh dunia. Dengan incidence 11%, diare menjadi penyebab kematian kedua pada anak balita di Indonesia. Pencegahan dan pengendalian diare utamanya melalui intervensi air minum dan jamban sehat. Pengabdian masyarakat bertujuan melakukan perubahan perilaku BABS, dengan empat tahap: membangun kesepahaman, persamaan persepsi, penyuluhan, dan pendampingan rumah tangga sasaran. Pada akhir tahapan, dilakukan evaluasi untuk menilai keberhasilan, hambatan, dan rencana tindak lanjut. Dikembangkan juga konsep ”berbagi peran” terhadap seluruh mitra pengabdian. Kegiatan pengabdian masyarakat menghasilkan jamban sehat sebanyak 16 buah, dan diakses 21 rumah tangga. Hasil ini menandakan bahwa seluruh rumah tangga di Kelurahan Segala Mider telah terakses jamban sehat. Penerapan konsep “berbagi peran” mampu menghasilkan luaran sesuai target, membentuk sistem kerja gotong royong pada penerima manfaat, dan perbaikan tata nilai. Diperlukan komitmen bersama dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat, dan pelibatan pihak-pihak lain secara luas.
Anemia and its Associated Factors Among Women of Reproductive Age in Horticulture Area Yushananta, Prayudhy; Anggraini, Yetti; Ahyanti, Mei; Sariyanto, Iwan
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 2: June 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1402.425 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i2.498

Abstract

Anemia continues to be an important and widespread public health problem, so it must be addressed. About 1.74 (1.72-1.76) billion people worldwide suffer from anemia, especially children under five, women of reproductive age (WRA), and pregnant women. As many as 500 million WRA suffer from anemia; this will impact the loss of productivity due to decreased work capacity, cognitive impairment, susceptibility to infections, and increased risk of complications in pregnancy and childbirth. This study analyzes the risk factors for anemia in women of reproductive age (15-59) who work in horticultural agriculture. The study was conducted with a cross-sectional design involving 160 participants from three main centers of horticultural agriculture in West Lampung Regency. SPSS was used for Chi-square analysis, Odds Ratio, and Logistic Regression (alpha = 0.05). The results showed that the prevalence of anemia in women of reproductive age who worked in horticultural agriculture was 27.5%. The study also identified three risk factors for anemia: poor nutritional status (AOR = 24.53; 95% CI 5.59-107.70), lack of protein intake (AOR = 28.01; 95% CI 6.97- 112.52), and less intake of high iron vegetables (AOR = 6.13; 95% CI 1.79-21.01). Nutritional interventions should emphasize increasing protein, iron, and vitamins through improved diet, fortification efforts, and iron supplementation.Abstrak: Anemia masih terus menjadi masalah kesehatan masyarakat yang penting dan meluas, sehingga harus ditangani. Sekitar 1,74 (1,72-1,76) miliar penduduk dunia menderita anemia, terutama anak balita, wanita usia subur (WUS) dan wanita hamil. Sebanyak 500 juta WUS menderita anemia, iniakanberdampak pada hilangnya produktivitas karena penurunan kapasitas kerja, gangguan kognitif, dan kerentanan terhadap infeksi, serta meningkatkan risiko komplikasi kehamilan dan persalinan. Penelitian bertujuan menganalisis faktor risiko anemia pada wanita usia subur (15-59) yang bekerja pada pertanian hortikultura. Penelitian dilakukan dengan rancangan cross sectional, melibatkan 160 orang partisipan dari tiga sentra utama pertanian hortikultura di Kabupaten Lampung Barat. SPSS digunakan untuk analisis Chi-square, Odds Ratio, dan Logistic Regression (alpha=0,05). Hasil penelitian mendapatkan prevalensi anemia pada wanita usia subur yang bekerja pada pertanian hortikultura sebesar 27,5%. Penelitian juga mendapatkan tiga faktor risiko untuk anemia: status gizi yang kurang baik (AOR=24,53; 95%CI 5,59-107,70), kurang asupan protein (AOR=28,01; 95%CI 6,97-112,52), dan kurang asupan sayuran tinggi zat besi (AOR=6,13; 95%CI 1,79-21,01). Intervensi gizi harus menekankan pada peningkatan asupan protein, zat besi dan vitamin, baik melalui perbaikan menu makanan, upaya fortifikasi dan suplementasi tablet Fe.
Dengue Hemorrhagic Fever and Its Correlation with The Weather Factor In Bandar Lampung City: Study From 2009-2018 Yushananta, Prayudhy
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 6, No 1: March 2021
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (310.27 KB) | DOI: 10.30604/jika.v6i1.452

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is the most serious vector-borne disease in Bandar Lampung. Dengue virus and its vector Aedes Aegypti are sensitive to weather changes, especially rainfall, temperature and humidity. This research objective was to determine the correlation between weather factors and dengue cases using the period 2009-2018. Data obtained from reports on the number of monthly cases of the in Health Office of Bandar Lampung City and daily climate reports from the Meteorology, Climatology and Geophysics Agency, which are converted into monthly averages. We found that the highest DHF cases were in January, February and March. Rainfall has a positive correlation with the number of dengue cases in 2011 (p-value = 0.012) and 2015 (p-value = 0.020). Each year, the rainy period precedes the start of the increase in dengue cases. Temperature has a negative correlation in 2014 (p-value = 0.036). Humidity has a positive correlation in 2014 (p-value = 0.024) and 2015 (p-value = 0.018). Rainfall has the greatest influence in relation to DHF cases in Bandar Lampung City (36.9%). These findings provide empirical evidence regarding the correlation between weather factors and DHF transmission and are expected to provide a scientific basis for the prevention and control of DHF. Abstrak: DBD adalah penyakit tular vektor yang paling serius di Kota Bandar Lampung. Virus dengue dan vektornya Aedes aegypti sensitif terhadap perubahan cuaca, khususnya curah hujan, temperatur dan kelembaban. Penelitian bertujuan mengetahui hubungan faktor cuaca dengan kasus DBD menggunakan periode tahun 2009-2018. Data diperoleh dari laporan jumlah kasus bulanan Dinas Kesehatan Kota Bandar Lampung, dan iklim harian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika yang dikonversi menjadi rata-rata bulanan. Kami menemukan, kasus DBD tertinggi pada bulan Januari, Februari, dan Maret. Curah hujan berkorelasi positif dengan jumlah kasus DBD pada tahun 2011 (p-value=0,012), dan 2015 (p-value=0,020). Setiap tahunnya, periode hujan mendahului dimulainya waktu peningkatan kasus DBD. Temperatur berkorelasi negatif pada tahun 2014 (p-value=0,036). Kelembaban berkorelasi positif pada tahun 2014 (p-value=0,024), dan 2015 (p-value=0,018). Curah hujan memberikan pengaruh terbesar dalam hubungan dengan kasus DBD di Kota Bandar Lampung (36,9%). Temuan ini memberikan bukti empirik mengenai hubungan faktor cuaca dengan penularan DBD, dan diharapkan dapat memberikan landasan ilmiah untuk pencegahan dan penanggulangan DBD.
The Effectiveness of the 'Create' Trigger Model to Improve Open Defecation Free Behavior Heru Subaris Kasjono; Khambali Khambali; Krisdiyanta Krisdiyanta; Agus Kharmayana Rubaya; Prayudhy Yushananta
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 7, No 3: September 2022
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.933 KB) | DOI: 10.30604/jika.v7i3.961

Abstract

Although strongly associated with child mortality, many households still do not have safe sanitation facilities. Community-Based Total Sanitation (CLTS) promotes the construction of latrines to eradicate open defecation. However, several factors have been reported to hinder the process of effective behavior change and sustainability. This study analyzes the effectiveness of the CREATE model in improving ODF behavior compared to the classical. The trial was conducted in three villages in three districts. Sixty households were involved from each village (N=180), divided into the CREATE group and the classical model as a control. Data were analyzed with a Chi-square test followed by Crude OR. The results showed that most CREATE groups' education was a maximum of elementary school graduates (48.9%) and worked as own-account workers (56.7%). The classical group dominantly graduated from junior high school (52.2%), and 31.1% did not work. Overall (N=180), the application of the CREATE model showed a significant effect on changes in ODF behavior (p-value less than 0.01), with a probability 4.7 (2.5 - 8.9) times greater. Research has proven that the CREATE model can change ODF behavior better than the classical model. Investigation of the psychosocial determinants of CLTS in both models was suggested in a longitudinal design. Abstrak: Meskipun sangat terkait dengan kematian anak, banyak rumah tangga yang masih belum memiliki fasilitas sanitasi yang aman. Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (CLTS) mempromosikan pembangunan jamban untuk memberantas buang air besar sembarangan (ODF). Namun, beberapa faktor telah dilaporkan menghambat proses perubahan perilaku yang efektif dan keberlanjutannya. Penelitian ini menganalisa efektivitas model CREATE untuk meningkatkan perilaku ODF dibandingkan dengan model klasik. Uji coba dilakukan di tiga desa dari tiga kecamatan. Enam puluh rumah tangga yang terlibat dari setiap desa (N=180), dibagi menjadi kelompok CREATE dan model klasik sebagai kontrol. Data dianalisis dengan uji Chi-square dilanjutkan dengan Crude OR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pendidikan kelompok CREATE maksimal lulusan SD (48,9%) dan bekerja sebagai wiraswasta (56,7%). Kelompok klasik dominan tamat SMP (52,2%), dan 31,1% ditemukan tidak bekerja. Secara keseluruhan (N=180), penerapan model CREATE menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap perubahan perilaku ODF (p-value kurang dari 0,01), dengan probabilitas 4,7 (2,5 - 8,9) kali lebih besar. Penelitian telah membuktikan bahwa model CREATE dapat mengubah perilaku ODF lebih baik daripada model klasik. Investigasi determinan psikososial CLTS pada kedua model disarankan dalam desain longitudinal.
Very Low-Cost, Internet of Things (IoT) Air Quality Monitoring Platform Prayudhy Yushananta
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 8, No 2: June 2023
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1282.411 KB) | DOI: 10.30604/jika.v8i2.1919

Abstract

Every year millions of people die prematurely due to air pollution. Many deaths occurred in cities, where fumes from vehicles, factories, and power plants filled the air with noxious particles and gases. The COVID-19 pandemic has also created a new awareness about the importance of monitoring air quality in the atmosphere and indoors. However, the available data are not widely accessible to the general public and are explicitly restricted for organizational use due to high costs. The research aims to develop a low-cost air quality monitoring device with parameters NOx, SOx, CO, O3, PM2.5, temperature, and humidity. The Air Quality Monitoring Prototype (AQMP) prototype was developed using an Internet of Things (IoT) solution based on low-cost sensors with a low-cost, low-energy, open-source Arduino system. Data is recorded every minute and stored in a database for parameters NOx, SOx, CO, O3, PM2.5, temperature, and humidity. Data communication is carried out via the cloud and displayed on smartphones and the web. The stages of work are carried out by designing systems, determining and constructing hardware, installing software, and testing. The test results show that the AQMP can operate and detect all parameters. Comparisons were made with data from the Environment Service of Bandar Lampung City, and the results showed an accuracy rate above 95%. This research has proven that low-cost air quality monitoring device can be developed with IoT. This research simultaneously supports the concept of "Going Green" to maintain a healthy and clean environment for present and future generations. Abstrak: Setiap tahunnya jutaan orang meninggal sebelum waktunya akibat pencemaran udara, terutama ini terjadi di perkotaan. Pandemi COVID-19 juga telah memunculkan kesadaran baru tentang pentingnya pemantauan kualitas udara di atmosfer maupun dalam ruangan. Namun, data yang tersedia tidak dapat diakses secara luas untuk masyarakat umum dan dibatasi secara khusus untuk penggunaan organisasi karena biaya tinggi. Penelitian bertujuan mengembangkan alat pemantau kualitas udara berbiaya rendah, dengan parameter NOx, SOx, CO, O3, PM2.5, suhu dan kelembaban. Prototipe perangkat pemantau kualitas udara (Air Quality Monitoring Prototype/AQMP) dikembangkan menggunakan Internet of Things (IoT), berdasarkan sensor berbiaya rendah, dengan sistem Arduino yang berbiaya rendah, minim energi, dan bersifat terbuka. Perekaman data dilakukan setiap menit dan tersimpan dalam database untuk semua parameter. Komunikasi data dilakukan melalui cloud, dan ditampilkan pada smartphone maupun web. Tahapan pekerjaan dilakukan dengan perancangan sistem, penentuan dan konstruksi hardware, penanaman software, dan pengujian. Hasil uji coba didapatkan bahwa AQMP dapat beroperasi dan mampu mendeteksi keseluruhan parameter. Perbandingan dilakukan dengan data Dinas Lingkungan Hidup Kota Bandar Lampung, hasilnya menunjukkan tingkat akurasi di atas 95%, sehingga layak untuk digunakan. Penelitian ini telah membuktikan bahwa alat pemantau kualitas udara berbiaya rendah dapat dikembangkan dengan IoT, dan memberikan hasil yang akurat. Penelitian ini sekaligus mendukung konsep “Going Green” untuk mempertahankan lingkungan yang sehat dan bersih untuk generasi sekarang dan mendatang.