Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

ANALISIS COST OF ILLNESS PASIEN DM TIPE 2 DENGAN METFORMIN DAN GLIMEPIRIDE DI RAWAT INAP RSUD JARAGA SASAMEH KOTA BUNTOK Hasniah, Hasniah; M Hasan, Andryanto; Karina, Erlianti; Aris, Fadillah; Muhammad, Fauzi; Yulistia Budianti, Soemarie; Juwita, Ramadhani; Riska Ayu, Noriandani
Pharmacoscript Vol. 9 No. 1 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i1.2397

Abstract

Diabetes mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang disebabkan oleh resistensi insulin dan penurunan produksi insulin oleh pankreas. Prevalensi yang tinggi serta risiko komplikasi jangka panjang menimbulkan kebutuhan terapi berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan biaya pengobatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis farmakoekonomi dengan pendekatan cost of illness (COI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui COI pasien DM tipe 2 dengan metformin dan glimepiride peserta BPJS kesehatan di rawat inap RSUD Jaraga Sasameh Kota Buntok tahun 2023. Desain penelitian bersifat observasional deskriptif retrospektif dengan pendekatan cost of illness dari perspektif Rumah Sakit. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), rekam medis pasien, serta bagian keuangan Rumah Sakit. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat inap dengan terapi metformin atau glimepiride peserta BPJS kesehatan di RSUD Jaraga Sasameh Buntok tahun 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan cost of illness yaitu membandingkan seluruh komponen rata-rata dengan lama rawat inap di Rumah Sakit. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 113 pasien yang menggunakan metformin dan 70 pasien yang menggunakan glimepiride, dengan perspektif Rumah Sakit meliputi biaya langsung medis yaitu biaya obat antidiabetes (ADO) oral, obat penyerta lainnya, biaya perawatan, terapi komorbiditas, dan biaya rawat inap. Komponen biaya yang paling dominan pada kedua kelompok terapi adalah biaya perawatan, yang berkontribusi sebesar 67,09% pada terapi metformin dan 68,68% pada terapi glimepiride, diikuti oleh biaya rawat inap. Cost of illness (COI) dari perspektif Rumah Sakit pada pasien dengan terapi metformin sebesar Rp 1.367.043, sedangkan pada terapi glimepiride sebesar Rp 1.427.007. Kesimpulan pada penelitian ini adalah rata-rata biaya COI pasien yang menggunakan terapi glimepiride lebih besar dibandingkan terapi metformin.
EVALUASI RASIONALITAS PENGGUNAAN ANTIBIOTIK PADA PASIEN PNEUMONIA RAWAT INAP DI RSUD ULIN BANJARMASIN PERIODE JANUARI-JUNI 2024 Fadila, Ananda; Ramadhani, Juwita; Fadillah, Aris
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v7i1.53426

Abstract

Penggunaan rasional antibiotik merupakan langkah penting dalam pencegahan peningkatan resistensi terhadap antibiotik, khususnya di kalangan pasien pneumonia yang sedang rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau rasionalitas dalam penerapan antibiotik, yang diharapkan mampu memberikan wawasan terkait tingkat ketaatan pada pedoman penggunaan antibiotik. Metode penelitian ini bersifat deskriptif observasional dikerjakan melalui pendekatan retrospektif, dimana pengambilan data dilakukan dari rekama medis pasien pneumonia yang mengalami rawat inap pada bulan Januari-Juni tahun 2024 dan dievaluasi dengan menggunakan metode Gyssens. Teknik analisis data dideskripsikan menggunakan excel. Penelitian ini merupakan studi deskriptif observasional dengan pendekatan retrospektif melalui penelusuran data rekam medis pasien pneumonia yang memenuhi kriteria inklusi. Evaluasi rasionalitas dilakukan berdasarkan kategori Gyssens yang meliputi ketepatan indikasi, pemilihan obat, dosis, interval, rute pemberian, serta durasi terapi. Data dianalisis secara deskriptif menggunakan Microsoft Excel. Hasil diperolah Secara umum penggunaan antibiotik yang digunakan dinilai rasional sebanyak 81 (85,26%). Temuan ini menunjukkan bahwa sebagian besar penggunaan antibiotik telah sesuai dengan pedoman terapi yang berlaku, namun tetap diperlukan upaya monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan mencegah resistensi antibiotik di masa mendatang.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Face Wash Gel Anti Acne Ekstrak Daun Kalakai (Stenochlaena palustris) Khas Kalimantan Selatan Amelia, Putri; Fadillah, Aris; Suaida, Nily
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.3380

Abstract

Latar belakang: Jerawat (Acne vulgaris) adalah masalah kulit yang umum terjadi dan umumnya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes, yang memicu terjadinya peradangan pada area wajah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi gel pembersih wajah berbasis ekstrak daun Kalakai dan menilai aktivitas antibakteri terhadap P. acnes sekaligus mengevaluasi kualitas fisik dari sediaan yang dihasilkan. Metode: Proses ekstraksi daun Kalakai dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Gel pembersih wajah dikembangkan dalam tiga konsentrasi ekstrak, yaitu 25% (F1), 50% (F2), dan 75% (F3). Pengujian mutu fisik meliputi aspek organoleptik (warna, aroma, bentuk, dan tekstur), pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta kemampuan membentuk busa. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram dengan mengukur diameter zona hambat pertumbuhan bakteri P. acnes. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga formulasi gel pembersih wajah memenuhi kriteria fisik yang baik, dengan tekstur semi solid, pH yang sesuai dengan standar kulit wajah, dan viskositas stabil. Pada uji antibakteri, formula F3 dengan konsentrasi ekstrak 75% menghasilkan diameter zona hambat paling besar, yaitu 12,13mm, dibandingkan F1 dan F2. Makin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar pula kemampuan menghambat pertumbuhan P. acnes. Kesimpulan: Formulasi face wash gel ekstrak daun Kalakai dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki karakteristik fisik yang sesuai standar mutu, seperti bentuk semi-solid, pH yang aman untuk kulit, viskositas, daya sebar, daya lekat, busa, serta stabilitas sediaan yang masih dapat diterima.