Claim Missing Document
Check
Articles

Analisis Pengaruh Tingkat Pengetahuan Terhadap Pola Swamedikasi Pada Masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah Mahda Annisa; Aris Fadillah; Juwita Ramadhani
Sinergi : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 2 No. 6 (2026): Sinergi: Jurnal Ilmiah Multidisiplin
Publisher : PT. AHLAL PUBLISHER NUSANTARA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66914/4wgcpt34

Abstract

Background: Self-medication is the selection and use of medicines to treat self-recognized symptoms without professional medical advice. South Kalimantan ranks second nationally in self-medication prevalence (±35%). Objective: To analyze the influence of knowledge level on self-medication patterns in Palampitan Hilir Village, Amuntai Tengah District. Methods: A descriptive non-experimental study using Simple Random Sampling with 100 respondents. Data were collected via a validated questionnaire (Cronbach's α = 0.821) and analyzed by Chi-square test (SPSS 25). Results: Most respondents had adequate knowledge (48%), followed by good (40%) and poor (12%). Eighty percent had inappropriate self-medication patterns. A significant relationship was found between knowledge level and self-medication pattern (p = 0.002). Age (p = 0.000) and education (p = 0.000) were significantly associated with knowledge, while gender (p = 0.280) and occupation (p = 0.132) were not. Conclusion: Knowledge level significantly influences self-medication patterns. Higher education and younger age are associated with better medication knowledge. Pharmacists should intensify community education on responsible self-medication. Keywords: self-medication, knowledge level, self-medication patterns, community pharmacy Abstrak Latar Belakang: Swamedikasi merupakan pemilihan dan penggunaan obat untuk mengatasi keluhan tanpa saran tenaga kesehatan. Kalimantan Selatan menempati peringkat kedua prevalensi swamedikasi nasional (±35%). Tujuan: Menganalisis pengaruh tingkat pengetahuan terhadap pola swamedikasi masyarakat Desa Palampitan Hilir Kecamatan Amuntai Tengah. Metode: Penelitian deskriptif non-eksperimental dengan Simple Random Sampling pada 100 responden menggunakan kuesioner tervalidasi (Cronbach's α = 0,821), dianalisis dengan uji Chi-square (SPSS 25). Hasil: Sebagian besar responden berpengetahuan cukup (48%), baik (40%), dan kurang (12%). Sebanyak 80% memiliki pola swamedikasi tidak tepat. Terdapat hubungan bermakna antara tingkat pengetahuan dan pola swamedikasi (p = 0,002). Usia (p = 0,000) dan pendidikan (p = 0,000) berpengaruh signifikan terhadap pengetahuan, sedangkan jenis kelamin (p = 0,280) dan pekerjaan (p = 0,132) tidak. Kesimpulan: Tingkat pengetahuan berpengaruh signifikan terhadap pola swamedikasi. Pendidikan lebih tinggi dan usia lebih muda berkaitan dengan pengetahuan swamedikasi yang lebih baik. Tenaga kesehatan perlu meningkatkan edukasi swamedikasi yang bertanggung jawab. Kata kunci: swamedikasi, tingkat pengetahuan, pola swamedikasi, farmasi komunitas
UJI AKTIVITAS ANTI DEPRESSANT DAN ANXIOLYTIC PADA EKSTRAK AKAR KUNING (Arcangelisia flava L) DENGAN METODE IN VIVO Noor Khalida; Nily Su'aida; Aris Fadillah
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 3, No 1 (2026): Eksplorasi Strategi Terapeutik: Dari Potensi Bahan Alam hingga Evaluasi Pengguna
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v3i1.24606

Abstract

Gangguan depresi dan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada berbagai kelompok usia dan menjadi salah satu isu prioritas kesehatan di Indonesia. Penggunaan obat antidepresan sintetis seperti golongan SSRI dan TCA seringkali menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif pengobatan dari bahan alam. Salah satu tanaman yang berpotensi adalah akar kuning (Arcangelisia flava L), yang salah satunya mengandung alkaloid berberin, flavonoid, saponin, tanin, dan terpenoid yang memiliki aktivitas farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antidepresan dan anxiolytic ekstrak etanol 70% akar kuning secara in vivo serta menentukan dosis yang paling efektif. Sebanyak 60 ekor mencit jantan galur Swiss Webster dibagi dalam lima kelompok: kontrol negatif (NaCl 0,9%), kontrol positif (amitriptyline 25 mg/kgBB), serta tiga kelompok perlakuan dengan dosis ekstrak akar kuning 50 mg/kgBB, 75 mg/kgBB, dan 100 mg/kgBB.Uji aktivitas antidepresan dilakukan menggunakan metode Forced Swimming Test (FST) dan Tail Suspension Test (TST), sedangkan uji aktivitas anxiolytic menggunakan metode Elevated Plus Maze (EPM). Hasil pengujian menunjukkan bahwa ekstrak etanol 70% akar kuning memiliki efek antidepresan signifikan pada dosis 100 mg/kgBB dengan nilai p<0,021 pada FST, dan p<0,001 pada TST, sedangkan kelompok kontrol positif memberikan hasil imobilitas terendah. Namun, pengujian dengan metode EPM tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p>0,05), sehingga efek anxiolytic ekstrak tidak terbukti secara statistik.Kata Kunci: Arcangelisia flava L., antidepresan, anxiolytic, Forced Swimming Test (FST), Tail Suspension Test (TST), Elevated Plus Maze (EPM).
EVALUASI TOKSISITAS SENYAWA FITOKIMIA TANAMAN: ANALISIS LITERATUR TERHADAP DAMPAK DOSIS DAN ORGAN PADA HEWAN UJI Apriliany Asriany Putri; Juwita Ramadhani; Aris Fadillah
JFM (Jurnal Farmasi Malahayati) Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Jurnal Farmasi Malahayati (JFM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jfm.v9i1.21505

Abstract

Tanaman obat mengandung berbagai senyawa fitokimia seperti flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, dan terpenoid yang dikenal memiliki aktivitas biologis seperti antioksidan, antiinflamasi, antidiabetes, dan antikanker. Namun, penggunaan senyawa-senyawa ini dalam dosis tinggi atau jangka panjang dapat menimbulkan efek toksik terhadap organ vital seperti hati, ginjal, jantung, dan sistem darah. Artikel ini bertujuan untuk meninjau sejumlah studi ilmiah terkini (2020–2025) yang mengevaluasi toksisitas akut dan subkronis dari senyawa fitokimia tanaman menggunakan berbagai media uji, termasuk tikus Wistar, tikus Sprague-Dawley, dan Artemia salina. Berdasarkan hasil review terhadap sepuluh artikel, ditemukan bahwa beberapa tanaman seperti Camelina sativa, Ridolfia segetum, dan Arbutus unedo menunjukkan toksisitas rendah dan aman pada dosis tertentu. Sebaliknya, ekstrak tanaman seperti Persea americana, Ziziphus spina-christi, dan Rhubarb menunjukkan efek toksik yang signifikan terhadap organ-organ penting, terutama pada dosis tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya evaluasi toksikologi yang menyeluruh untuk memastikan keamanan penggunaan senyawa fitokimia sebelum diaplikasikan secara luas dalam bidang farmasi maupun pengobatan tradisional.
ANALISIS COST OF ILLNESS PASIEN DM TIPE 2 DENGAN METFORMIN DAN GLIMEPIRIDE DI RAWAT INAP RSUD JARAGA SASAMEH KOTA BUNTOK Hasniah Hasniah; Andryanto M Hasan; Erlianti Karina; Fadillah Aris; Fauzi Muhammad; Soemarie Yulistia Budianti; Ramadhani Juwita; Noriandani Riska Ayu
Pharmacoscript Vol. 9 No. 1 (2026): Pharmacoscript
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Universitas Perjuangan Tasikmalaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36423/pharmacoscript.v9i1.2397

Abstract

Diabetes mellitus (DM) tipe 2 merupakan penyakit metabolik kronis yang disebabkan oleh resistensi insulin dan penurunan produksi insulin oleh pankreas. Prevalensi yang tinggi serta risiko komplikasi jangka panjang menimbulkan kebutuhan terapi berkelanjutan yang berdampak pada peningkatan biaya pengobatan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis farmakoekonomi dengan pendekatan cost of illness (COI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui COI pasien DM tipe 2 dengan metformin dan glimepiride peserta BPJS kesehatan di rawat inap RSUD Jaraga Sasameh Kota Buntok tahun 2023. Desain penelitian bersifat observasional deskriptif retrospektif dengan pendekatan cost of illness dari perspektif Rumah Sakit. Data sekunder diperoleh dari Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS), rekam medis pasien, serta bagian keuangan Rumah Sakit. Sampel penelitian ini adalah pasien DM tipe 2 yang menjalani rawat inap dengan terapi metformin atau glimepiride peserta BPJS kesehatan di RSUD Jaraga Sasameh Buntok tahun 2023 yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis data menggunakan cost of illness yaitu membandingkan seluruh komponen rata-rata dengan lama rawat inap di Rumah Sakit. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 113 pasien yang menggunakan metformin dan 70 pasien yang menggunakan glimepiride, dengan perspektif Rumah Sakit meliputi biaya langsung medis yaitu biaya obat antidiabetes (ADO) oral, obat penyerta lainnya, biaya perawatan, terapi komorbiditas, dan biaya rawat inap. Komponen biaya yang paling dominan pada kedua kelompok terapi adalah biaya perawatan, yang berkontribusi sebesar 67,09% pada terapi metformin dan 68,68% pada terapi glimepiride, diikuti oleh biaya rawat inap. Cost of illness (COI) dari perspektif Rumah Sakit pada pasien dengan terapi metformin sebesar Rp 1.367.043, sedangkan pada terapi glimepiride sebesar Rp 1.427.007. Kesimpulan pada penelitian ini adalah rata-rata biaya COI pasien yang menggunakan terapi glimepiride lebih besar dibandingkan terapi metformin.
GREEN EXTRACTION PADA DAUN MURBEI DENGAN TWEEN 20, TWEEN 80, SPAN 20, DAN SPAN 80 SERTA PENGUJIAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN DAN INHIBISI ENZIM TIROSINASE Hasniah Hasniah; Atikah Isma Rahmi; Karina Erlianti; Juwita Ramadhani; Muhammad Fauzi; Aris Fadillah
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 1 No 1 (2024): Eksplorasi Kefarmasian Komprehensif: Pendekatan In Silico, Teknologi Sediaan Alam
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v1i1.15395

Abstract

Murbei (Morus alba L.) mengandung senyawa aktif yang meliputi golongan fenolik, flavonoid seperti rutin, kuersetin, asam galat dan asam klorogenik sebagai antioksidan yang dapat mengantisipasi oksidasi kulit oleh radiasi sinar UV dan sebagai penghambat tirosinase. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan Green Extraction pada daun murbei menggunakan alternatif pelarut pengganti pelarut organik dengan metode Microwave Assisted Extraction (MAE) serta uji daya peredaman radikal bebas DPPH dan inhibisi enzim tirosinase. Alternatif pelarut pengganti pelarut organik yang digunakan memiliki kepolaran yang berbeda-beda yaitu tween 20, tween 80, span 20, dan span 80. Hasil penelitian menunjukkan nilai IC50 rata-rata yang diperoleh dari daya peredaman radikal bebas DPPH ekstrak daun murbei menggunakan tween 20, tween 80, span 20 dan span 80 beturut-turut adalah 9874, 12797, 23131, dan 41844 bpj. Sedangkan aktivitas inhibisi enzim tirosinase ekstrak daun murbei hasil ekstraksi menggunakan alternatif pelarut tween 20, tween 80, span 20 dan span 80 dimana pada konsentrasi 45000 bpj masing-masing ekstrak memberikan % inhibisi sebesar 19,62, 17,26, 15,84, dan 14,18 %. Dengan demikian, dalam penlitian ini alternatif pelarut yang paling baik digunakan untuk penerapan green extraction pada daun murbei adalah tween 20.
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI BIAYA TERAPI PENYAKIT HIPERTENSI PADA PASIEN RAWAT INAP RUMAH SAKIT X Aris Fadillah
Jurnal Farmasi Islam Kalimantan Vol 1 No 1 (2024): Eksplorasi Kefarmasian Komprehensif: Pendekatan In Silico, Teknologi Sediaan Alam
Publisher : Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31602/jfik.v1i1.15398

Abstract

Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi dimana penyakit ini termasuk dalam 10 penyakit terbanyak di Indonesia. Penyakit ini mengakibatkan beban ekonomi yang signifikan pada Masyarakat sehingga perlu adanya analisis ekonomi pada biaya medisnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor apa saja yang dapat mempengaruhi biaya terapi pada pasien hipertensi. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode statistic untuk mengetahui signifikasi hubungan antara variabel dengan biaya medis pasien hipertensi. Variabel yang diteliti pada penelitian ini meliputi keparahan hipertensi, adanya penyakit penyerta, adanya penyakit penyulit serta kelas perawatan. Pada penelitian ini didapatkan nilai signifikasi pada variabel keparahan hipertensi (0.598), penyakit penyerta (0.857), penyakit penyulit (0.890) dan kelas perawatan (0.471). Semua variabel tidak berbeda secara signifikan. Dapat disimpulkan bahwa keparahan hipertensi, adanya penyakit penyerta, adanya penyakit penyulit serta kelas perawatan tidak berpengaruh secara signifikan terhadap biaya medis pasien.
Formulasi Dan Uji Aktivitas Face Wash Gel Anti Acne Ekstrak Daun Kalakai (Stenochlaena palustris) Khas Kalimantan Selatan Putri Amelia; Aris Fadillah; Nily Suaida
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 3 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i3.3380

Abstract

Latar belakang: Jerawat (Acne vulgaris) adalah masalah kulit yang umum terjadi dan umumnya disebabkan oleh bakteri Propionibacterium acnes, yang memicu terjadinya peradangan pada area wajah. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuat formulasi gel pembersih wajah berbasis ekstrak daun Kalakai dan menilai aktivitas antibakteri terhadap P. acnes sekaligus mengevaluasi kualitas fisik dari sediaan yang dihasilkan. Metode: Proses ekstraksi daun Kalakai dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Gel pembersih wajah dikembangkan dalam tiga konsentrasi ekstrak, yaitu 25% (F1), 50% (F2), dan 75% (F3). Pengujian mutu fisik meliputi aspek organoleptik (warna, aroma, bentuk, dan tekstur), pH, viskositas, daya sebar, daya lekat, serta kemampuan membentuk busa. Pengujian aktivitas antibakteri dilakukan dengan metode difusi cakram dengan mengukur diameter zona hambat pertumbuhan bakteri P. acnes. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga formulasi gel pembersih wajah memenuhi kriteria fisik yang baik, dengan tekstur semi solid, pH yang sesuai dengan standar kulit wajah, dan viskositas stabil. Pada uji antibakteri, formula F3 dengan konsentrasi ekstrak 75% menghasilkan diameter zona hambat paling besar, yaitu 12,13mm, dibandingkan F1 dan F2. Makin tinggi konsentrasi ekstrak yang digunakan, semakin besar pula kemampuan menghambat pertumbuhan P. acnes. Kesimpulan: Formulasi face wash gel ekstrak daun Kalakai dengan konsentrasi 25%, 50%, dan 75% memiliki karakteristik fisik yang sesuai standar mutu, seperti bentuk semi-solid, pH yang aman untuk kulit, viskositas, daya sebar, daya lekat, busa, serta stabilitas sediaan yang masih dapat diterima.
Analisis Efektivitas Biaya Metformin dan Glimepirid pada Pasien BPJS Diabetes Melitus Tipe 2 di RSUD Buntok Muhammad Fauzi; Riska Ayu Noriandani; Hasniah Hasniah; Karina Erlianti; Aris Fadillah; M. Hasan Andryanto
Jurnal Ilmiah Farmako Bahari Vol 17 No 1 (2026): Jurnal Ilmiah Farmako Bahari
Publisher : Faculty of Mathematic and Natural Science, Garut University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/jifb.v17i1.43243

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis akibat resistensi insulin dan/atau gangguan sekresi insulin yang menimbulkan beban ekonomi signifikan pada sistem pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas biaya terapi metformin dan glimepirid pada pasien BPJS diabetes melitus tipe 2 di RSUD Jaraga Sasameh Buntok tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain retrospektif dari perspektif rumah sakit, melibatkan 183 pasien. Efektivitas klinis didefinisikan sebagai tercapainya target Gula Darah Sewaktu (GDS) <200 mg/dL. Analisis data dilakukan menggunakan Cost-Effectiveness Analysis (CEA) dengan parameter Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) dan Incremental Cost-Effectiveness Ratio (ICER), berdasarkan biaya terapi efektivitas pengendalian gula darah, rawat inap, dan komorbiditas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metformin lebih cost-effective pada pasien kelas I dengan nilai ACER sebesar Rp 750.594,00 dan ICER sebesar Rp 274.309,39, pada pasien kelas II dan III glimepirid menunjukkan efisiensi biaya yang lebih baik dengan nilai ACER masing-masing Rp 174.680,00 dan Rp 351.093,00. Nilai ICER metformin pada kelas II dan III lebih tinggi dibandingkan glimepirid. Kesimpulannya, metformin direkomendasikan sebagai pilihan terapi yang lebih cost-effective pada pasien BPJS kelas I, sedangkan glimepirid lebih tepat digunakan pada pasien kelas II dan III
PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI PELATIHAN PEMBUATAN JAMU ANTIHIPERTENSI HALAL Karina Erlianti; Hasniah Hasniah; Aris Fadillah; Muliyani Muliyani; Juwita Ramadhani; Muhammad Hasan Andryanto
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34716

Abstract

Abstrak: Hipertensi adalah penyakit tidak menular yang memiliki prevalensi tinggi di Indonesia dan menjadi faktor risiko utama berbagai komplikasi serius. Masyarakat Desa tempat pelaksanaan kegiatan diketahui memiliki angka kejadian hipertensi yang cukup tinggi, namun masih memiliki tingkat pengetahuan yang rendah terkait pemanfaatan tanaman herbal sebagai terapi alternatif, terutama dalam bentuk jamu aman, berkhasiat, dan halal. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan hardskill yaitu keterampilan dalam pembuatan jamu antihipertensi sesuai prinsip kehalalan. Metode kegiatan terdiri atas tahap persiapan, pelaksanaan kegiatan dengan metode ceramah dan praktik langsung, serta proses evaluasi. Edukasi dan pelatihan diberikan kepada 21 peserta yang merupakan anggota PKK setempat. Evaluasi dilakukan dengan mekanisme pre-test dan post-test, serta observasi keterampilan. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta, ditunjukkan oleh peningkatan skor rata-rata pretest sebesar 2,4 menjadi 9,5 pada posttest. Pelatihan ini menumbuhkan keterampilan masyarakat dalam pembuatan jamu serta meningkatkan kesadaran pentingnya aspek kehalalan dalam pengolahan produk herbal. Sehingga berkontribusi pada bidang kesehatan dan membuka peluang usaha jamu.Abstract: Hypertension is a leading non-communicable disease in Indonesia and a major risk factor for serious health complications. The target community demonstrated a relatively high prevalence of hypertension yet possessed limited knowledge about the use of herbal plants as alternative therapy, particularly in the form of jamu (traditional herbal medicine) that is safe, effective, and halal. This community engagement program aimed to empower local residents by enhancing both knowledge and practical skills in preparing antihypertensive jamu in accordance with Islamic principles. The program was conducted in three phases: preparation, implementation, and evaluation. A total of 21 participants, all members of the local Family Welfare Movement (PKK), took part in education and training sessions. Evaluation involved pre-test and post-test assessments, complemented by skill observations. The results showed a substantial improvement in knowledge, with mean scores rising from 2.4 to 9.5. Moreover, participants gained practical competencies in jamu preparation and increased awareness of halal considerations in herbal product processing. This initiative contributes to public health promotion while opening opportunities for small-scale jamu entrepreneurship.
PEMANFAATAN GULMA TANAMAN BUNDUNG SEBAGAI BAHAN SABUN PADA SISWA MADRASAH TSANAWIYAH Aris Fadillah; Lia Mardiana; Yuniarti Falya; Juwita Ramadhani; Muliyani Muliyani; Muhammad Fauzi; Muhammad Hasan Andryanto; Yulistia Budianti Soemarie
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 5 (2025): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i5.34556

Abstract

Abstrak: Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menggunakan sabun pasca COVID-19 mendorong peningkatan penggunaannya. Ekstrak daun tanaman Bundung (Scirpus grossus), yang mudah ditemukan di persawahan, terbukti efektif mempercepat penyembuhan luka dan cocok digunakan sebagai bahan aktif dalam sabun. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan hardskill peserta dalam memahami tanaman bundung serta cara pembuatan sabun dengan memanfaatkan daun bundung. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi ceramah, diskusi bersama, serta praktik langsung. Kegiatan diikuti oleh 30 siswa kelas IX. Evaluasi pengetahuan siswa dilakukan dengan metode pre-post test menggunakan angket. Hasil pengukuran menunjukkan peningkatan skor dengan nilai rata-rata kenaikan sebesar 15,17%. Hasil evaluasi ini mengindikasikan bahwa peserta dapat menangkap materi yang disampaikan dengan baik.Abstract: The increase of public awareness on the importance in the use of soap post-COVID-19 has led to an increase in its use. The extract of Bundung (Scirpus grossus), which is commonly found in rice fields, has been proven to be effective in promoting wound healing and suitable for use as an active ingredient in soap. This program aims to improve the participants' hard skills in understanding the Bundung plant and utilize it as the active ingredient in soap-making process. The methods used in this activity include lectures, group discussions, and direct practice. The participant in this program were 30 of ninth-grade students. The evaluation of the participants' knowledge was conducted with the pre-post test method using a questionnaire. The results showed an increase in the average score by 15.17%. These results indicated that the participants were able to comprehend the material presented properly.