Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : An-Nida'

The Scientific Authority in Islam from the Perspective of ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr: The Ideal and the Reality of Knowledge Production Mutawakkil, Moch. Ali; Putra, J. Nabiel Aha; Wijaya, Roma
An-Nida' Vol 48, No 2 (2024): December
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v48i2.32863

Abstract

This study aims to explore the tensions that arise in the production of knowledge by Islamic scholarly authorities between idealism and reality. Numerous studies have examined Islamic religious authorities that produce Islamic knowledge in the form of fatwas, rulings, and opinions. However, existing research has yet to highlight how idealism and reality interact in this production process in the contemporary era. The interplay between idealism and reality in knowledge production has not been thoroughly explored. This study employs a qualitative method with a content analysis approach. The findings reveal that the efforts of Islamic scholarly authorities to ideally produce Islamic knowledge, as conceptualized by ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr, face various real-world challenges. These include the minority status of Muslims, threats to personal safety from violent actors, a lack of public trust due to scholars holding executive government positions, and the presence of an undereducated (bromocorah) community at the village level. These conditions force Islamic scholarly authorities to postpone the implementation of the ideal model (an-namūdhaj al-mithālī) and adopt various adaptive strategies. This article implies that while Islamic scholarly authorities continue striving to realize their ideal model, the realities they face compel them to adapt and delay its implementation. This narrative sheds light on an aspect that has not been extensively discussed in previous studies. Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana tarik-ulur yang terjadi pada produksi pengetahuan oleh otoritas ilmiah dalam Islam antara keidealan dan realitasnya. Studi mengenai otoritas agama Islam yang memproduksi pengetahuan keislaman, baik berupa fatwa, keputusan, maupun pendapat, telah banyak dilakukan. Namun, riset yang ada selama ini belum menyoroti bagaimana keidealan dan realitas produksi tersebut di era kekinian. Tarik-ulur antara keidealan dan realitas dalam proses produksi pengetahuan ini belum pernah diungkap secara mendalam. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan content-analysis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya produksi pengetahuan keislaman secara ideal oleh otoritas ilmiah dalam Islam, sebagaimana yang digagas ‘Abd al-Majīd as-Ṣaghīr, menghadapi berbagai kendala dalam realitasnya. Beberapa di antaranya adalah kondisi muslim yang minoritas, ancaman keselamatan jiwa dari aktor kekerasan, kurangnya kepercayaan masyarakat akibat ulama menjabat sebagai pejabat publik di tingkat eksekutif, serta kendala masyarakat kurang terdidik (bromocorah) di tingkat desa. Situasi ini memaksa otoritas ilmiah Islam untuk menunda model ideal (an-namūdhaj al-mithālī) dan melakukan berbagai bentuk adaptasi. Artikel ini memberikan implikasi bahwa meskipun otoritas ilmiah Islam terus berupaya mewujudkan model idealnya, realitas yang dihadapi memaksa mereka untuk menyesuaikan diri dan menunda penerapannya. Narasi ini mengungkap aspek yang selama ini belum banyak dibahas dalam studi terkait. 
Virtual Da'wah Authority in Tafsir Rahmat H. Oemar Bakry: An Analysis of Intertextuality from Julia Kristeva Hidayat, M. Riyan; Wijaya, Roma; el-Feyza, Muhafizah; HS, Muh. Alwi; Akmaluddin, Muhammad; Nazarmanto, Nazarmanto
An-Nida' Vol 47, No 1 (2023): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyrakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/an-nida.v47i1.23022

Abstract

Religious activities in Indonesia suffered such massive turmoil that social media was used as a container. Then, the devotion performed by one individual is an obligation for Indonesian Muslims and the world. The spread of religious content in the virtual world seemed to upset Muslim viewers about the authenticity and validity of the source of the content distributed by an account on social media of various platforms. However, through the Book of Mercy, the author sees that there is an offer of innovation about the virtual authority of prophecy so as not to cause a faulty expansion of science. What's more, the diverse understanding of content creators has the potential to complain to the sheep and spread propaganda to the general public. Through a library-based study using the intertextuality glasses that were designed by Julia Kristeva, the message and substance of H. Oemar Bakry's offer to look at the problem will be depicted. Thus, this paper aims to respond to the new offer by creating an agency under the government's auspices of virtual authority. The aim is to counteract the provocative, tendentious, biased, subjective, and evocative messages that float in the virtual universe. Starting from this research, it will be illustrated that this study has produced a new finding that H. Oemar Bakry offers the meaning of forming a strong, honest, and orderly group of preachers. The function of the jury is to be a source of reference for the treasures of Indonesian Islamic sciences.Abstrak: Kegiatan dakwah di Indonesia mengalami gejolak yang begitu besar, dimana sosial media digunakan sebagai wadahnya. Kemudian, dakwah yang dilakukan dari satu individu merupakan kewajiban muslim Indonesia dan dunia. Penyebaran konten dakwah dalam dunia virtual seakan meresahkan para viewers muslim tentang keaslian dan keotentikan sumber konten yang disebarkan oleh sebuah akun di media sosial dari berbagai flatform.  Namun, melalui Tafsir Rahmat penulis melihat bahwa ada tawaran kebaharuan tentang otoritas dakwah virtual agar tidak terjadinya ekspansi ilmu yang cacat. Terlebih lagi, pemahaman yang beragam dari para content creator berpotensi mengadu domba dan menyebarkan propaganda di khalayak luas. Melalui kajian yang berbasis kepustakaan (library research) dengan menggunakan kacamata intertekstualitas yang dipelopori oleh Julia Kristeva akan tergambar pesan dan substansi tawaran H. Oemar Bakry dalam melihat problematika tersebut. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan merespon tawaran baru dengan membuat sebuah lembaga di bawah nauangan pemerintah tentang otoritas dakwah virtual. Tujuannya untuk menanggulangi pesan-pesan dakwah yang sifatnya provokatif, tendensius, bias, memihak, subjektif, evokatif yang berseliweran di jagad maya. Hasil dari penelitian ini akan tergambar bahwa kajian ini telah menghasilkan temuan baru bahwa H. Oemar Bakry menawarkan makna akan dibentuk kelompok juru dakwah yang kuat, jujur, dan teratur. Fungsi dari juru dakwah yakni menjadi sumber referensi khazanah keilmuan Islam Indonesia.