Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search

EFIKASI DIRI, TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI, DAN INTERAKSI PERAWAT-PASIEN DALAM MERAWAT PASIEN STROKE: ANALISA DESKRIPTIF [SELF-EFFICACY, CONFIDENCE LEVEL, AND NURSE-PATIENT INTERACTIONS IN STROKE CARE: A DESCRIPTIVE ANALYSIS] Taneo, Merfis; Widyantari, Puspita Ajeng; Huwae, Yonita Cristianti; Juhdeliena, Juhdeliena; Yulia, Yulia
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol 12, No 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8468

Abstract

 Stroke patients require comprehensive nursing care, therefore, nurses must have strong self-efficacy. In providing nursing care, nurses also need high self-confidence and effective communication skills when interacting with patients and their families. This study aims to identify nurses' self-efficacy, self-confidence, and interaction patterns in providing care to stroke patients. The research method was descriptive-analytic with a cross-sectional approach involving a sample of 111 respondents selected through purposive sampling. The instruments used were the General Self-Efficacy (GSE), Self-Confidence Scale (SCS), and Caring Nurse-Patient Interaction Scale: 23 Item Version Nurse (CNPI-23N). Cronbach’s alpha results of 0,828 for GSE, 0,966 for SCS, and 0,974 for CNPI-23N. The results showed moderate self-efficacy, self-confidence, and nurse interaction levels, with percentages of 70.07%, 70.27%, and 55.85%, respectively. The findings could be used to develop strategies to enhance self-efficacy and self-confidence in nurses at the early stages of their careers, such as through additional training, mentoring, or simulation-based education. BAHASA INDONESIA Pasien stroke membutuhkan asuhan keperawatan yang komprehensif oleh karena itu perawat membutuhkan efikasi diri yang baik. Dalam pemberian asuhan keperawatan, perawat juga membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan kemampuan komunikasi yang efektif ketika berinteraksi dengan pasien maupun keluarga. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi gambaran efikasi diri, kepercayaan diri, serta interaksi perawat-pasien ditinjau dari karakteristik perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke. Metode penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan sampel berjumlah 111 responden dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu General Self-Efficacy (GSE), Self-Confidence Scale (SCS), dan Caring Nurse-Patient Interaction Scale: 23 Item Version Nurse (CNPI-23N) dengan hasil alpha Cronbach GSE 0,828, SCS 0,966 dan CNPI-23N 0,974. Hasil  yang didapatkan gambaran efikasi diri, tingkat kepercayaan diri, dan interaksi perawat dalam kategori sedang secara berurutan yaitu 70,07%; 70,27%; dan 55,85%. Hasil penelitian dapat dipakai untuk mengembangkan strategi guna meningkatkan efikasi diri, kepercayaan diri perawat ditahap awal karir dapat berupa pelatihan tambahan, bimbingan atau pendidikan berbasis simulasi.
PELAKSANAAN DAN TINGKAT PENGETAHUAN PERAWAT TERHADAP VENTILATOR ASSOCIATED PNEUMONIA (VAP) BUNDLE DI RUANG PERAWATAN INTENSIF: LITERATUR REVIEW Kafolamau, Almalona F. Sc; Robot, Anjeli Heydi Kesya; Mananggil, Elisabeth Glorya; Juhdeliena, Juhdeliena; Pangkey, Ballsy C.A
Jurnal 'Aisyiyah Medika Vol 9, No 1: Februari 2024 Jurnal 'Aisyiyah Medika
Publisher : stikes 'aisyiyah palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36729/jam.v9i1.1175

Abstract

Latar Belakang: Ventilator Associated Pneumonia (VAP) merupakan penyakit infeksi pneumonia terkait pelayanan kesehatan yang paling umum ditemukan di ruang intensive care unit (ICU). Kejadian VAP di dunia mencapai 86%. Di Indonesia kejadian infeksi nosokomial termasuk VAP mencapai 9,8%. Tingkat kejadian VAP di salah satu Rumah Sakit di Indonesia Barat dari tahun 2018 sampai awal tahun 2020 belum terdapat kejadian VAP, namun banyaknya jumlah penggunaan ventilator mekanik dapat meningkatkan resiko terjadinya VAP.Tujuan: mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan pelaksanaan VAP Bundle diruang perawatan intesif. Metode: penelitian ini menggunakan metode kajian literatur. Database yang digunakan ialah EBSCO, Pubmed, Perpusnas dan Google Scolar dengan kata kunci VAP Bundle, VAP Bundle Knowledge, VAP Bundle Implementation dengan kriteria inklusi ialah rentang waktu sepuluh tahun terakhir (2010-2020), bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, full text, dan penelitian kuantitatif. Metode analisis data yang digunakan berupa simplifield approach dengan lembar critical appraisal JBI dan diagram PRISMA. Hasil: dari 14 artikel yang dikaji peneliti mendapatkan bahwa tingkat pengetahuan perawat mengenai VAP Bundle dalam kategori baik dan cukup, serta pelaksanaan VAP Bundle didapati selalu dilakukan diruang perawatan intensif. Saran : untuk mengadakan pelatihan dan seminar bagi para tenaga medis di ruang perawatan intensif maksimal dalam kurun waktu tiga bulan sekali dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan pemahaman VAP bundel.Kata Kunci: Pelaksanaan, Pengetahuan, Perawat, VAP Bundle
Ibu Bahagia Generasi Sehat: Pijat Oksitoksin Cathryne, Joice; Pangemanan, Alice; Nova, Fiorentina; Juhdeliena, Juhdeliena; Adolina, Masrida
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 6 (2023): INOVASI PERGURUAN TINGGI & PERAN DUNIA INDUSTRI DALAM PENGUATAN EKOSISTEM DIGITAL & EK
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v6i0.1963

Abstract

Semua ibu yang memiliki bayi dengan usia 0-6 bulan wajib memberikan ASI eksklusif, karena hanya ASI yang sesuai dengan kondisi saluran pencernaan bayi yang baru lahir sampai usianya 6 bulan. ASI adalah nutrisi utama untuk bayi yang banyak mengandung antibodi, dan zat-zat penting yang diperlukan oleh bayi untuk bertumbuh dan berkembang, namun banyak ibu yang tidak menyusui bayinya secara eksklusif dengan alasan jumlah produksi ASI sangat sedikit bahkan tidak keluar, kurang terpapar informasi dan tidak mendapat dukungan ketika menyusui, hal ini akhirnya membuat ibu berinisiatif tidak memberikan ASI eksklusif tetapi memberikan bayinya susu formula atau makanan padat agar bayinya kenyang. Ketika menyusui ibu memerlukan informasi, dukungan dan juga persiapan diri baik secara fisik, pikiran dan jiwa. Ibu yang bahagia akan memiliki ASI yang melimpah. Kegiatan penyuluhan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan ibu hamil mengenai pijat oksitoksin yang dapat meningkatkan produksi ASI, kegiatan ini dihadiri oleh 24 ibu hamil beserta suaminya. Kegiatan ini dilakukan secara interaktif, terdiri dari pretest, posttest, pemaparan materi, demonstrasi pijat oksitoksin dan tanya jawab. Melalui kegiatan ini didapati adanya peningkatan rerata pengetahuan 39.2 poin. Pengetahuan yang meningkat diharapkan dapat mendorong para ibu untuk selalu memberikan ASI eksklusif kepada bayinya.
PROFIL PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT INAP DI SATU RS X: STUDI DOKUMENTASI [PROFILE OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS HOSPITALIZED IN HOSPITAL X: A DOCUMENTATION STUDY] Saununu, Angel T. I; Lenggu, Erland N; Ndaparoka, Kacie R. G; Juhdeliena, Juhdeliena; Yulia, Yulia
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8457

Abstract

Complications in patients with type 2 diabetes mellitus can increase the number of hospitalizations and even worsen the patient's condition even to death if not handled properly. Based on data from type 2 DM patients who underwent hospitalization at Hospital X in October-November 2021, 145 patients increased to 192 patients the following year. The purpose of this study is to identify the profile of patients hospitalized with type 2 diabetes. This research employed a quantitative descriptive study with a retrospective approach. The instrument in this study used a fill-in sheet. A total of 141 medical record records were included in the sample. The data were analysed using univariate analysis. The findings indicated that the majority of hospitalized patients with type 2 DM presented with complaints of weakness, accounting for 42.55% of cases. Patients with hyperglycaemic conditions were predominantly in the pre-elderly age category, comprising 24.10% of cases, with a higher representation of females at 27.7%. Additionally, a significant proportion of patients had a normal body mass index (17%), while a considerable number did not have their HbA1c levels checked (26.20%). Furthermore, 22.7% of patients had uncontrolled HbA1c levels (>7%), and 35.50% had one to three comorbidities. Several factors require additional investigation, specifically the hormonal history and gestational diabetes in women. Furthermore, there is a need for further research on visceral fat in the body, stress levels in hospitalized Type 2 DM patients, and the types of comorbid diseases commonly found in Type 2 DM patients. Additionally, routine HbA1c checks are necessary.BAHASA INDONESIA Komplikasi pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dapat meningkatkan peningkatan angka rawat inap bahkan dapat memperburuk kondisi penderita bahkan sampai dengan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Berdasarkan data rawat inap pasienDMtipe2di satu RS X pada bulan Oktober-November 2021 sebanyak 145 pasien  meningkat menjadi 192 pasien ditahun berikutnya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasikarakteristik pasien DMtipe2 yang menjalani rawat inap. Metode penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar isian. Sampel yang digunakan berjumlah 141 dokumen rekam medis. Teknik analisis data yaitu analisis univariat. Hasil menunjukkan bahwakarakteristik pasien DM tipe 2 rawatinap mayoritas datang dengan keluhan lemas sebanyak 42,55%, pasien dengan kondisi hiperglikemi mayoritas dalam kategori usia pra lanjut usia sebanyak 24,10%, dengan jenis kelamin perempuansebanyak 27,7%,indeks massa tubuh normal sebanyak 17%,Kadar HbA1c tidak diperiksa sebanyak 26,20%, dan dengan kondisi kadar HbA1c tidak terkendali (>7%) sebanyak 22,7%, serta memiliki satu sampai tiga komorbid sebanyak 35,50%. Ada banyak faktor yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu riwayat hormonal dan diabetes gestasional pada perempuan, selain itu diperlukan penelitian lebih lanjut terkait lemak viseral dalam tubuh, tingkat stres pada pasien rawat inap DM Tipe 2 dan jenis-jenis penyakit komorbid yang sering terjadi pasien DM Tipe 2, dilanjutkan dengan diperlukannya pemeriksaan rutin HbA1c.  
EFIKASI DIRI, TINGKAT KEPERCAYAAN DIRI, DAN INTERAKSI PERAWAT-PASIEN DALAM MERAWAT PASIEN STROKE: ANALISA DESKRIPTIF [SELF-EFFICACY, CONFIDENCE LEVEL, AND NURSE-PATIENT INTERACTIONS IN STROKE CARE: A DESCRIPTIVE ANALYSIS] Taneo, Merfis; Widyantari, Puspita Ajeng; Huwae, Yonita Cristianti; Juhdeliena, Juhdeliena; Yulia, Yulia
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8468

Abstract

 Stroke patients require comprehensive nursing care, therefore, nurses must have strong self-efficacy. In providing nursing care, nurses also need high self-confidence and effective communication skills when interacting with patients and their families. This study aims to identify nurses' self-efficacy, self-confidence, and interaction patterns in providing care to stroke patients. The research method was descriptive-analytic with a cross-sectional approach involving a sample of 111 respondents selected through purposive sampling. The instruments used were the General Self-Efficacy (GSE), Self-Confidence Scale (SCS), and Caring Nurse-Patient Interaction Scale: 23 Item Version Nurse (CNPI-23N). Cronbach’s alpha results of 0,828 for GSE, 0,966 for SCS, and 0,974 for CNPI-23N. The results showed moderate self-efficacy, self-confidence, and nurse interaction levels, with percentages of 70.07%, 70.27%, and 55.85%, respectively. The findings could be used to develop strategies to enhance self-efficacy and self-confidence in nurses at the early stages of their careers, such as through additional training, mentoring, or simulation-based education. BAHASA INDONESIA Pasien stroke membutuhkan asuhan keperawatan yang komprehensif oleh karena itu perawat membutuhkan efikasi diri yang baik. Dalam pemberian asuhan keperawatan, perawat juga membutuhkan tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan kemampuan komunikasi yang efektif ketika berinteraksi dengan pasien maupun keluarga. Tujuan penelitian untuk mengidentifikasi gambaran efikasi diri, kepercayaan diri, serta interaksi perawat-pasien ditinjau dari karakteristik perawat dalam memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke. Metode penelitian adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dengan sampel berjumlah 111 responden dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan yaitu General Self-Efficacy (GSE), Self-Confidence Scale (SCS), dan Caring Nurse-Patient Interaction Scale: 23 Item Version Nurse (CNPI-23N) dengan hasil alpha Cronbach GSE 0,828, SCS 0,966 dan CNPI-23N 0,974. Hasil”¯ yang didapatkan gambaran efikasi diri, tingkat kepercayaan diri, dan interaksi perawat dalam kategori sedang secara berurutan yaitu 70,07%; 70,27%; dan 55,85%. Hasil penelitian dapat dipakai untuk mengembangkan strategi guna meningkatkan efikasi diri, kepercayaan diri perawat ditahap awal karir”¯dapat berupa pelatihan tambahan, bimbingan atau pendidikan berbasis simulasi.
TERAPI TRANSPERSONAL TEKAN KECEMASAN ORANG DENGAN TERINFEKSI HIV/AIDS (ODHA) DI KABUPATEN KARO SINULINGGA, ELYSABETH BR; S, Yulia; Juhdeliena, Juhdeliena; Manihuruk, Gracia Aktri Margareth; Harefa, Lenny Angelina
Prosiding Konferensi Nasional Pengabdian Kepada Masyarakat dan Corporate Social Responsibility (PKM-CSR) Vol 7 (2024): PKMCSR2024: Kolaborasi Hexahelix dalam Optimalisasi Potensi Pariwisata di Indonesia: A
Publisher : Asosiasi Sinergi Pengabdi dan Pemberdaya Indonesia (ASPPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37695/pkmcsr.v7i0.2273

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat berbentuk kegiatan edukasi tentang terapi transpersonal tekan kecemasan orang dengan HIV/AIDS (ODHA) yang terjangkau sesuai target kelompok yakni mengurangi rasa cemas yang mereka miliki karena stigma dan status sebagai ODHA. ODHA sering mengalami stigma dan diskriminasi di masyarakat sehingga ODHA sering merahasiakan status HIV dan mengalami penolakan baik itu oleh keluarga maupun masyarakat sekitar. Orang yang terinfeksi dengan HIV/AIDS (ODHA) berisiko mengalami cemas atau stress akibat perubahan kesehatan terkait penurunan daya tahan tubuh dan komplikasi terkait dengan hal tersebut selain dari pengelolaan efek samping akibat pengobatan (ARV). Pelatihan terapi transpersonal yang diberikan berdasarkan peka budaya Karo dan spiritual Nasrani diharapkan dapat meningkatkan kemampuan pengelolaan kesehatan ODHA, khususnya kecemasan ODHA dengan model SABETH. Tujuan utama dari PKM ini adalah peningkatan pengetahuan, religiusitas, mengurangi stress dan stigma pada ODHA sehingga untuk evaluasi akan dilakukan sebelum dan sesudah materi diberikan dalam bentuk pre-post quiz. Hasil pretest didapatkan rerata 60,4 dan posttest rerata 75.6 sedangkan peningkatan nilai setelah edukasi adalah sekitar 15,2 poin. Berdasarkan hasil yang didapat, disimpulkan bahwa seminar ini meningkatkan pengetahuan dan pemahaman ODHA tentang terapi transpersonal tekanan kecemasan orang dengan HIV/AIDS di Kabupaten Karo.
Webinar Sosialisasi dan Edukasi Penggunaan Aplikasi SDKI, SLKI, SIKI dan SOP PPNI Sinulingga, Elysabeth; Patrisia, Ineke; Juhdeliena, Juhdeliena; Surbakti, Juwita Fransiska Br; Sampepadang, Mega
Jurnal Medika: Medika Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/z08vc040

Abstract

Peraturan Menteri Kesehatan (KMK) Republik Indonesia Nomor HK.01.07/MENKES/425/2020 tentang Standar Profesi Perawat menyatakan bahwa diagnosa keperawatan yang terkait dengan Indonesia juga dimasukkan ke dalam daftar diagnosa keperawatan. Standar Kinerja Keperawatan Indonesia (SLKI) dan Standar Kinerja Keperawatan Indonesia (SIKI) mengacu pada standar intervensi, dan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (SDKI) dan Katalog Kompetensi mencakup standar intervensi. Tujuannya untuk memperdalam pengetahuan, memahamidan membuat diagnosa keperawatan serta mengetahui hasil asuhan dan intervensi yang dilakukan sesuai dengan 4S PPNI. Metode yang digunakan adalah metode sosialisasi yang terdiri dari ceramah dan diskusi disertai tanya jawab. Pre-test dilaksanakan sebelum webinar dan diakhiri dengan post-test setelah webinar. Pada hasil pre-test dan post-test webinar 4S Education Growth diperoleh mean pre-test sebesar 60,2 dan mean post-test sebesar 76,0. Nilai tambah setelah pelatihan adalah sekitar atau 15,8 poin untuk seminar. Artinya peningkatan skor pasca pengajaran selama seminar pada 4 S yang diperiksa adalah sekitar 15,8 poin per peningkatan. Berdasarkan hasil yang diperoleh, disimpulkan bahwa seminar ini menambah pengetahuan dan pemahaman tentang 4S.
Karakteristik & Diagnosis Keperawatan Pasien Covid-19: Studi Dokumentasi Juhdeliena, Juhdeliena; Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina; Hutasoit, Elissa Oktoviani; Hutasoit, Exadina Romaito
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 7 (2023): Volume 3 Nomor 7 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.548 KB) | DOI: 10.33024/mahesa.v3i7.10723

Abstract

ABSTRACT Health workers are at the forefront of health services needed for suspected and confirmed COVID-19 patients. Nurses have considerable control over conducting initial examinations of patients. The initial examination is carried out by nurses as part of the nursing process. Knowing the characteristics of COVID-19 patients who are treated will help nurses formulate nursing diagnoses, intervene, and evaluate.  Analyze patient characteristics and nursing diagnoses of COVID-19 patients. The research design was descriptive-quantitative with a retrospective documentation study approach. The sample amounted to 40 medical record documents. The results of this study found that cough (75%) was the main symptom complained of by COVID-19 patients, with the average age of COVID-19 patients treated being 48.13 years, the mean systolic blood pressure being 132.25 mmHg, the mean diastolic blood pressure being 81.03 mmHg, the mean temperature at initial admission being 36.6 oC, and the mean length of stay being 13.1 days. The nursing diagnosis most often raised in patients with COVID-19 is airway clearance ineffectiveness (45%). There were 18 characteristics of COVID-19 patients obtained during the initial assessment, and seven nursing diagnoses were raised when the patient was hospitalized. Keywords: Nursing Diagnosis, COVID-19 Patient Characteristics, COVID-19 Pandemic  ABSTRAK Tenaga Kesehatan menjadi lini garis terdepan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan pada pasien suspek maupun terkonfirmasi COVID-19. Perawat memegang kendali yang cukup besar dalam melakukan pemeriksaan awal pada pasien. Pemeriksaan awal yang dilakukan oleh perawat sebagai bagian dari proses keperawatan. Dengan mengetahui karakteristik pasien COVID-19 yang dirawat maka akan membantu perawat untuk merumuskan diagnosis keperawatan, melakukan intervensi dan evaluasi. Menganalisis karakteristik pasien dan diagnosis keperawatan pasien COVID-19. Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan studi dokumentasi retrospektif. Sampel berjumlah 40 dokumen rekam medis. Hasil penelitian ini didapatkan batuk (75%) menjadi gejala utama yang dikeluhkan oleh pasien COVID-19, dengan rerata usia pasien Covid- 19 yang dirawat adalah 48,13 tahun, rerata tekanan darah sistolik 132,25 mmHg, rerata tekanan darah diastolic 81,03 mmHg, rerata suhu saat awal masuk 36,6oC, rerata lama rawat 13,1 hari. Untuk diagnosis keperawatan yang paling sering diangkat pada pasien dengan COVID-19 adalah ketidakefektifan bersihan jalan napas (45%). Terdapat 18 karakteristik pasien COVID-19 yang didapatkan saat pengkajian awal, dan tujuh diagnosis keperawatan yang diangkat saat pasien menjalani rawat inap. Kata Kunci: Diagnosis Keperawatan, Karakteristik Pasien COVID-19, Pandemi COVID-19
Kajian Literatur: Gambaran Tingkat Risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada Perawat Pangkey, Ballsy Cicilia Albertina; Hutasoit, Exadina Romaito; Nenohaifeto, Felix Irianto; Juhdeliena, Juhdeliena; Sari, Elizabeth Christina Yunita
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 3, No 8 (2023): Volume 3 Nomor 8 (2023)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v3i8.10731

Abstract

ABSTRACT Musculoskeletal Disorders (MSDs) are disorders of pain, discomfort, and or even injury to bones, joints, ligaments, and other soft tissues, such as nerves and blood vessels due to prolonged and excessive use (Kim, 2014). From the Occupational Safety and Health Administration (OSHA) data in 2010, nurses have the highest MSDs of 27,020 cases. MSDs complaints if left untreated can cause dislocation of the spine which causes pain and can be persistent (Suma'mur, 2014). The purpose of this study was to identify the level of risk of MSDs in nurses and the body parts of nurses who often experience MSDs. This research uses the literature review method. The databases used are Google Scholar, EBSCO, Garuda, and Science Direct with the keywords used are the risk level of Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses, Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses, Musculoskeletal Disorders (MSDs) and nurses. Inclusion criteria for articles within the last ten years, Indonesian or English, full text, using quantitative methods, and Musculoskeletal Disorders (MSDs) in nurses. The exclusion criteria for this study were the results of research using the literature review method and articles with a qualitative research design. The data analysis method used was the PRISMA diagram method. From 12 articles, researchers found that the risk level of MSDs in nurses is high and higher than other health workers. MSDs in nurses often occur in the lower back, neck, right shoulder and knee. The level of risk of MSDs in nurses is high so intervention is needed by providing tools for transferring patients and providing programs for nurses to maintain the correct ergonomic position during work. Keywords: Musculoskeletal Disorders, Nurses  ABSTRAK Musculoskeletal Disorders (MSDs) merupakan gangguan rasa sakit, ketidaknyamanan, dan atau bahkan cedera pada tulang, sendi, ligamen, dan jaringan lunak lainnya, seperti saraf dan pembuluh darah akibat penggunaan yang terlalu lama dan berlebihan (Kim, 2014). Dari data Occupational Safety and Health Administration (OSHA) tahun 2010, perawat memiliki MSDs tertinggi yaitu 27.020 kasus. Keluhan MSDs jika terus dibiarkan dapat menyebabkan dislokasi pada tulang punggung yang menimbulkan rasa nyeri dan dapat bersifat menetap (Suma’mur, 2014). Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi gambaran tingkat risiko MSDs pada perawat serta bagian tubuh perawat yang sering mengalami MSDs. Penelitian ini menggunakan metode kajian literatur. Database yang digunakan adalah Google Scholar, EBSCO, Garuda, dan Science Direct dengan kata kunci yang digunakan yaitu tingkat risiko Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat, Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat, Musculoskeletal Disorders (MSDs) dan perawat. Kriteria inklusi artikel dalam rentang sepuluh tahun terakhir, Bahasa Indonesia atau bahasa Inggris, full text, menggunakan metode kuantitatif, dan Musculoskeletal Disorders (MSDs) pada perawat. Kriteria eksklusi penelitian ini adalah hasil penelitian dengan metode kajian literatur dan artikel dengan desain penelitian kualitatif. Metode analsisi data yang digunakan adalah metode diagram PRISMA. Dari 12 artikel peneliti mendapatkan tingkat risiko MSDs pada perawat tinggi dan lebih tinggi dibandingkan tenaga kesehatan lainnya. MSDs pada perawat sering terjadi pada bagian punggung bawah, leher, bahu kanan dan lutut. Tingkat risiko MSDs pada perawat tinggi sehingga diperlukan intervensi dengan menyediakan alat untuk transferring pasien dan memberikan program untuk perawat agar menjaga posisi ergonomis yang benar selama bekerja. Kata Kunci: Musculoskeletal Disorders, Perawat
PROFIL PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 RAWAT INAP DI SATU RS X: STUDI DOKUMENTASI [PROFILE OF TYPE 2 DIABETES MELLITUS PATIENTS HOSPITALIZED IN HOSPITAL X: A DOCUMENTATION STUDY] Angel T. I Saununu; Erland N Lenggu; Kacie R. G Ndaparoka; Juhdeliena Juhdeliena; Yulia Yulia
Nursing Current: Jurnal Keperawatan Vol. 12 No. 1 (2024): June
Publisher : Universitas Pelita Harapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19166/nc.v12i1.8457

Abstract

Complications in patients with type 2 diabetes mellitus can increase the number of hospitalizations and even worsen the patient's condition even to death if not handled properly. Based on data from type 2 DM patients who underwent hospitalization at Hospital X in October-November 2021, 145 patients increased to 192 patients the following year. The purpose of this study is to identify the profile of patients hospitalized with type 2 diabetes. This research employed a quantitative descriptive study with a retrospective approach. The instrument in this study used a fill-in sheet. A total of 141 medical record records were included in the sample. The data were analysed using univariate analysis. The findings indicated that the majority of hospitalized patients with type 2 DM presented with complaints of weakness, accounting for 42.55% of cases. Patients with hyperglycaemic conditions were predominantly in the pre-elderly age category, comprising 24.10% of cases, with a higher representation of females at 27.7%. Additionally, a significant proportion of patients had a normal body mass index (17%), while a considerable number did not have their HbA1c levels checked (26.20%). Furthermore, 22.7% of patients had uncontrolled HbA1c levels (>7%), and 35.50% had one to three comorbidities. Several factors require additional investigation, specifically the hormonal history and gestational diabetes in women. Furthermore, there is a need for further research on visceral fat in the body, stress levels in hospitalized Type 2 DM patients, and the types of comorbid diseases commonly found in Type 2 DM patients. Additionally, routine HbA1c checks are necessary.BAHASA INDONESIA Komplikasi pada pasien diabetes melitus (DM) tipe 2 dapat meningkatkan peningkatan angka rawat inap bahkan dapat memperburuk kondisi penderita bahkan sampai dengan kematian jika tidak ditangani dengan baik. Berdasarkan data rawat inap pasienDMtipe2di satu RS X pada bulan Oktober-November 2021 sebanyak 145 pasien  meningkat menjadi 192 pasien ditahun berikutnya. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasikarakteristik pasien DMtipe2 yang menjalani rawat inap. Metode penelitian ini deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Instrumen dalam penelitian ini menggunakan lembar isian. Sampel yang digunakan berjumlah 141 dokumen rekam medis. Teknik analisis data yaitu analisis univariat. Hasil menunjukkan bahwakarakteristik pasien DM tipe 2 rawatinap mayoritas datang dengan keluhan lemas sebanyak 42,55%, pasien dengan kondisi hiperglikemi mayoritas dalam kategori usia pra lanjut usia sebanyak 24,10%, dengan jenis kelamin perempuansebanyak 27,7%,indeks massa tubuh normal sebanyak 17%,Kadar HbA1c tidak diperiksa sebanyak 26,20%, dan dengan kondisi kadar HbA1c tidak terkendali (>7%) sebanyak 22,7%, serta memiliki satu sampai tiga komorbid sebanyak 35,50%. Ada banyak faktor yang perlu dilakukan penelitian lebih lanjut yaitu riwayat hormonal dan diabetes gestasional pada perempuan, selain itu diperlukan penelitian lebih lanjut terkait lemak viseral dalam tubuh, tingkat stres pada pasien rawat inap DM Tipe 2 dan jenis-jenis penyakit komorbid yang sering terjadi pasien DM Tipe 2, dilanjutkan dengan diperlukannya pemeriksaan rutin HbA1c.