Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search
Journal : Amerta Nutrition

Hubungan Aktifitas Fisik dengan Kadar Gula Darah Puasa Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Laila Nurayati; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (726.687 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.80-87

Abstract

 Background: Diabetes Mellitus is one of the degenerative diseases which is the highest morbidity by increasing 30,2 % from 2012 to 2013 in Surabaya. Low physical activity is suspected to be one factor of uncontrolled fasting blood sugar level of Diabetes Melitus patients. Objectives: Based on the problem, this study was conducted to analyze the relationship of physical activity with fasting blood sugar level of type 2 Diabetes Mellitus patient in MulyorejoPublic Health Center Surabaya. Methods: This research used cross sectional design with a sample of 62 people. Data were collected using structured interview guide and IPAQ. Blood sampling using spectrophotometer method performed by medical analyst of laboratory of Mulyorejo Public Health Center. Analysis used was Spearman's Rho statistical test. Results: The results showed as many as 62.9% of respondents had low physical activity and as much as 58.0% of respondents had fasting blood sugar levels in the high category. The results showed there was a correlation between physical activity with fasting blood sugar level of type 2 Diabetes Mellitus patient. Conclusion: Theconclusion of this research there was relationship between physical activity with fasting blood glucose level of type 2 Diabetes Mellitus patient. We recommend that people with type 2 Diabetes Mellitus apply good physical activity such as cycling  or walking routinely 3-4 days a week for 20 minutes each day and reduce sitting activity so that fasting blood sugar levels can be controlled.ABSTRAK Latar belakang: Diabetes Mellitus merupakan salah satu penyakit degeneratif yang masih tinggi di kota Surabaya dengan peningkatan kasus dari tahun 2012 ke tahun 2013 sebesar 30,2 %. Aktivitas fisik rendah merupakan salah satu faktor resiko tidak terkontrolnya kadar gula darah penderita Diabetes Melitus. Tujuan: Berdasarkan masalah tersebut, dilakukan penelitian untuk menganalisis ada tidaknya hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa penderita Diabetes Melitus tipe 2 di Puskesmas Mulyorejo Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan sampel penelitian sebanyak 62 orang. Pengumpulan data dengan panduan wawancara terstruktur dan IPAQ. Pengambilan sampel darah dengan metode spektrofotometer yang dilakukan oleh analis medis laboratorium Puskesmas Mulyorejo. Analisis dilakukan dengan uji statistik Spearman’s Rho. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 62,9 % responden memiliki aktivitas fisik rendah dan sebanyak 58,0 % responden memiliki kadar gula darah puasa dalam kategori tinggi. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa penderita Diabetes Melitus tipe 2 (p=0,000). Kesimpulan: Kesimpulan dari penelitian ini adalah ada hubungan antara aktivitas fisik dengan kadar gula darah puasa penderita Diabetes Melitus tipe 2. Sebaiknya bagi penderita Diabetes Melitus tipe 2 dapat menerapkan aktivitas fisik yang baik seperti rutin bersepeda atau jalan kaki 3-4 hari dalam seminggu selama 20 menit setiap harinya dan mengurangi aktivitas duduk supaya kadar gula darah puasa terkontrol.
Perbedaan Kadar Hemoglobin, Asupan Zat Besi, dan Zinc pada Balita Stunting dan Non Stunting Nathania Helsa F. Losong; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.293 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.117-123

Abstract

  Background: Stunting is a chronic nutritional problem in children cause growth retardation which caused by poor parenting and inadequate intake. Low intake of macro nutrient and micro nutrient can affect to stunting in toddler. Intake of iron and zinc affect the incidence of stunting because iron and zinc affect growth hormone. In addition, low iron intake can affect hemoglobin levels in the body Objectives: The purpose of this study was to analyze the differences of hemoglobin level, iron and zinc intake in stunting and non stunting toddler. Methods: The research was an observational analytic with cross sectional design. The sample of this study were 42 toddler12-24 months in Tambak Wedi Public Health Center, Kenjeran  Sub-district, Surabaya, 21 toddler each stunting and non stunting. The data were collected by measuring height, food recall 2x24 hours, and blood sampling for hemoglobin measurement with cyanmethemoglobin method. The data were analyzed using chi square test and fisher test. Results: The result of this study showed there was difference of hemoglobin level (p=0.009), iron intake (p=0.004), and zinc intake (p=0.000) Conclusion: Stunting toddler have a lower hemoglobin level, iron and zinc intake more than non stunting toddler. Mother of toddler should have to increase the variant food source iron and zinc to prevent stunting in the future. ABSTRAK Latar belakang: Stunting merupakan masalah gizi kronis pada anak-anak yang menyebabkan terganggunya pertumbuhan linear anak dan diakibatkan oleh pola asuh dan asupan yang rendah.Rendahnya asupan zat gizi makro maupun mikro dapat mempengaruhi kejadian stunting pada balita. Asupan zat besi dan zinc dapat mempengaruhi kejadian stunting karena zat besi dan zinc mempengaruhi hormon pertumbuhan. Selain itu, asupan zat besi yang rendah dapat mempengaruhi kadar hemoglobin dalam tubuh. Tujuan: Menganalisis perbedaan kadar hemoglobin dan asupan zat besi serta zinc dari makanan pada balita stunting dan non stunting.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 42 balita berusia 12-24 bulan di wilayah Kerja Puskesmas Tambak Wedi Kecamatan kenjeran Surabaya, balitastunting dannonstunting masing-masing sebesar 21 sampel.Pengumpulan data menggunakan pengukuran tinggi badan, food recall 2x24 jam, dan pengambilan sampel darah untuk pengukuran kadar hemoglobin menggunakan metode cyanmethemoglobin. Data dianalisis menggunakan chi square test dan fisher test.Hasil: Hasil dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan kadar hemoglobin (p=0,009), asupan zat besi (p=0,004), dan zinc (p=0,000) pada anak stunting dan non stunting.Kesimpulan: Balita stunting memiliki kadar hemoglobin dan asupan zat besi dan zinc yang lebih rendah daripada balita non stunting. Ibu balita sebaiknya meningkatkan variasi asupan sumber zat besi dan zinc agar dapat mencegah terjadinya stunting di masa yang akan datang.
Perbedaan Kadar Zinc Rambut pada Anak Stunting dan Non Stunting Usia 12-24 Bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya Brigita Rainy Oktiva; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 2 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (733.879 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i2.2017.133-142

Abstract

  Background: Stunted is still a health problem in Indonesia. The prevalence of stunted in Surabaya has continued to increase for 3 years, while the prevalence of stunted in Tambak Wedi Kenjeran in 2017 shows high percentage (43.8%). Stunted are associated with zinc levels of the body due to zinc as a role in synthesis of growth hormone. Measurement of zinc levels can be done through the hair in describing chronic stunted incident. Measurement of zinc levels through the hair is easier to implement than other measurements of zinc levels, such as blood serum.Objectives: The purpose of this study was to analyze the difference of hair zinc level in children of stunted and non stunted age 12-24 months in Tambak Wedi village, Kenjeran district, Surabaya. Methods: This research was an observational analytic with cross sectional design. The population of this study were all children aged 12-24 months in Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya in the amount of 267 children. The samples of this study were 36 children that divided into 18 children stunted and 18 children non-stunted, taken by simple random sampling. Data were collected by measuring height, questionnaire interview, food recall 2x24 hour, and hair zinc level measurement using Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS). Data were analyzed using Mann-Whitney Test to find the difference in two variables with data not distributed normally. Results: The results of this study showed no differences of hair zinc levels in stunted and non stunted children (p = 0.517). Conclusion: Hair zinc levels in stunted and non stunted children aged 12-24 months in Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya showed no differences. Required continue research by measuring the body's zinc levels simultaneously through blood serum and hair to get more accurate results. ABSTRAK Latar Belakang: Permasalahan stunting masih menjadi permasalahan kesehatan di Indonesia. Prevalensi stunting di Surabaya terus mengalami peningkatan selama 3 tahun, sedangkan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran prevalensi stunting pada tahun 2017 masih sangat tinggi (43,8%). Kejadian stunting berkaitan dengan kadar zinc tubuh dikarenakan zinc berperan dalam sintesis hormon pertumbuhan. Pengukuran kadar zinc dapat dilakukan melalui rambut dalam menggambarkan kejadian stunting secara kronis. Pengukuran kadar zinc melalui rambut lebih mudah dilaksanakan dibandingkan pengukuran kadar zinc lainnya karena pengukuran kadar zinc rambut lebih sensitif dan stabil.Tujuan: Mengetahui perbedaan kadar zinc rambut pada balita stunting dan non stunting usia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kecamatan Kenjeran Surabaya.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah seluruh balita berusia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya dengan jumlah 267 balita. Sampel penelitian ini sebesar 36 orang dengan 18 orang mengalami stunting dan 18 orang tidak stunting, diambil secara acak menggunakan teknik simple random sampling. Penentuan sampel menggunakan uji hipotesis dua proporsi. Pengumpulan data meliputi pengukuran tinggi badan, wawancara kuesioner, food recall 2x24 jam, dan pengambilan sampel rambut untuk pengukuran kadar zinc rambut dengan alat Spektofotometer Serapan Atom (SSA). Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney untuk mengetahui perbedaan pada dua variabel dengan data tidak berdistribusi normal.Hasil: Tidak terdapat perbedaan kadar zinc rambut pada balita stunting dan non stunting (p=0,517).Kesimpulan: Kadar zinc rambut pada anak stunting dan non stunting dengan usia 12-24 bulan di Kelurahan Tambak Wedi Kenjeran, Surabaya tidak berbeda. Diperlukan penelitian lanjutan dengan mengukur kadar zinc tubuh secara bersamaan melalui serum darah dan rambut untuk mendapatkan hasil lebih akurat.
Hubungan Usia Gestasi dan Kadar Hemoglobin Trimester 3 Kehamilan dengan Berat Lahir Bayi Denna Rahinda Yulia Fanni; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (748.653 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.162-171

Abstract

Background: The incidence of LBW is one of the health issues in Indonesia that still needs to be handled properly. This can be happen because of several factors which are gestational age and the 3rd trimester Hb level of pregnancy that the mother had during pregnancy. LBW may cause some health issues for infants such as infectious diseases, respiratory disorders, and central nervous system disorders. Objectives: This research has purpose to analyze relationship between gestational age and 3rd trimester Hb level of pregnancy with infant birth weight in working area of Tambak Wedi Surabaya Community Health Center. Method: This study used cross sectional design with 60 respondents as sample of research where chosen by simple random sampling system. The instruments that used were mother and baby characteristic questionnaire sheets and FFQ sheets for interviewing pregnancy consumption patterns. Data analysed using chi square statistic test. Results: There was a relationship between gestational age (p-value = 0.002) and 3rd trimester hemoglobin levels of pregnancy (p-value = 0.044) with infant birth weight. Conclusion: The variable of gestational age and the 3rd trimester Hb level of pregnancy has a relationship with the birth weight of infants in the working area of Tambak Wedi Surabaya Community Health Center. Gestational age which isn’t considered risky to give birth to LBW infants are gestational age >38 weeks while the 3rd trimester Hb level of pregnancy that isn’t classified risky to give birth to LBW baby is >11g / dl.ABSTRAK Latabelakang: Kejadian BBLR merupakan salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia yang masih harus ditangani dengan baik. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor salah satunya adalah usia gestasi dan kadar Hb trimester 3 kehamilan yang dimiliki ibu saat kehamilan. BBLR dapat menimbulkan beberapa masalah kesehatan pada bayi seperti penyakit infeksi, gangguan pernafasan, dan gangguan sistem saraf pusat.Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk menganalisis hubungan usia gestasi dan kadar Hb trimester 3 kehamilan dengan berat lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Tambak Wedi Surabaya. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan besar sampel sebanyak 60 responden dimana dipilih dengan sistem simple random sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar kuisioner karakteristik ibu dan bayi serta lembar FFQ untuk wawancara pola konsumsi kehamilan. Analisis data menggunakan uji statistik chi square.Hasil: Terdapat hubungan antara usia gestasi (p-value = 0,002) dan kadar hemoglobin trimester 3 kehamilan (p-value = 0,044) dengan berat lahir bayi.Kesimpulan: Variabel usia gestasi dan kadar Hb trimester 3 kehamilan memiliki hubungan dengan berat lahir bayi di wilayah kerja Puskesmas Tambak Wedi Surabaya.Usia gestasi yang tergolong tidak berisiko untuk melahirkan bayi BBLR adalah usia gestasi >38 minggu sedangkan kadar Hb trimester 3 kehamilan yang tergolong tidak berisiko untuk melahirkan bayi BBLR adalah > 11g/dl. 
Hubungan Depresi, Asupan, dan Penampilan Makanan dengan Sisa Makan Pagi Pasien Rawat Inap (Studi di Rumah Sakit Islam Jemursari Surabaya) Rizka Amalia Habiba; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (801.238 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.198-208

Abstract

Background: Food waste problem in some hospitals in Indonesia is still quite high at >20%. The proportion of residual high enough lies in the morning meal. This results in inadequate nutrition intake so that it affects the length of stay and increases patient morbidity and mortality. Food waste can be due to individual factors, dietary habits, food intake, and food quality.Objectives: This study aims to analyze the relationship of depression, intake, and appearance of food with the waste of the morning meal in hospitalized patients.Methods: This was a cross sectional study involving 47 respondents that was chosen using a simple random sampling technique at the RSI Jemursari Surabaya. Morning food waste was collected for measurement using food scale; patient’s psychological condition, food intake and appearance of food were measured using questionnaires. Statistical analysis used was Spearman and Chi Square test. Results: Most of the respondents did not experience anxiety and depression disorder. Most respondents have less energy and protein intake. There was a relationship between depression (p=0.02) and energy intake (p=0.035) with the waste of the morning meal. There is a relationship of protein intake in the morning with the rest of the animal side (p = 0.002). However, there was no correlation between appearance (p = 0.64), large portion (p = 0.4), and presentation method (p=0.83) with waste of the morning meal.Conclusion: Food waste can be affected by a person's depression and food intake. Feeding the patient not only comes from hospital food alone, but from outside the hospital as well. However, food outside the hospital does not affect the intake so that the higher the patient leaves the food, the lower the intake of energy and protein. Communication and education should be done to patients to try to spend the food and pay attention to the intake.ABSTRAK Latar Belakang: Permasalahan sisa makanan di beberapa rumah sakit di Indonesia masih cukup tinggi  yaitu >20%. Proporsi sisa yang cukup tinggi terletak pada makan pagi. Hal ini mengakibatkan asupan gizi tidak adekuat sehingga berdampak pada lamanya rawat inap dan meningkatkan morbiditas serta mortalitas pasien. Sisa makanan bisa disebabkan dari faktor individu, kebiasaan pola makan, asupan makan, dan mutu makanan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan depresi, asupan, dan penampilan makanan dengan sisa makanan pagi pada pasien rawat inap.Metode: Merupakan penelitian observasional analitik studi cross sectional dengan sampel penelitian sebesar 47 pasien terpilih secara simple random sampling berada di RSI Jemursari Surabaya. Pengumpulan data meliputi penimbangan sisa makan pagi, wawancara keadaan psikis, asupan makan, dan penampilan makan pagi. Analisis data menggunakan uji spearman dan chi square.Hasil: Diketahui sebagian besar responden tidak mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Sebagian besar responden memiliki asupan energi dan protein yang kurang. Terdapat hubungan yang bermakna antara depresi (p=0,02) dan asupan energi (p=0,035) dengan sisa makanan pagi. Terdapat hubungan asupan protein pagi dengan sisa lauk hewani (p=0,002). Namun tidak terdapat hubungan antara penampilan yaitu warna (p=0,64), besar porsi (p=0,4), dan cara penyajian (p=0,83) dengan sisa makan pagi.Kesimpulan: Sisa makanan dapat dipengaruhi dari depresi seseorang dan asupan makannya. Asupan makan pasien tidak hanya berasal dari makanan rumah sakit saja, melainkan dari luar rumah sakit juga. Namun, makanan luar rumah sakit tidak mempengaruhi asupan sehingga semakin tinggi pasien menyisakan makanannya, maka semakin rendah asupan energi dan protein. Sebaiknya perlu dilakukan komunikasi dan edukasi kepada pasien supaya berusaha menghabiskan makanannya dan memperhatikan asupannya.
Perbedaan Kepuasaan Pasien Terhadap Makanan Dengan Sistem Penyelenggaraan Outsourcing Dan Swakelola Di RS Islam Jemursari Surabaya Susila Rusdiana Dewi; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (771.641 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.209-219

Abstract

Background : Patient satisfaction is one of expected outputs of food provision. Food service system selection, especially in the hospital, will influence food and foodservice quality, which can influence patient’s acceptance and food intake. Objectives: The Purpose of this study was to analyze the difference between food satisfaction on foodservice as outsouching and self operated based on food quality and foodservice quality which had been held in RS Islam Jemursari Surabaya. Method : The study was a description research with cross sectional design. The study used two kinds of data, which were secondary data (to know the patient satisfaction of food by outsourcing system) and primaly data (to know the patient satisfaction of food by self operated system). Measures of food and foodservice quality by outsourcing system was same by self operated system. Population of the study were all of patient which in 2 and 3 class at Azzahra 1’room, Azzahra 2’room, and Mawar’room so that sampels of the study in each food service system were 43 patients. Analysis test used was Mann Whitney test.Results : The result of the statistical analysis showed that there was no significant difference in food quality (p<0.100) and total food satisfaction (p>0.100), but there was significant difference in foodservice quality (p<0.100).Conclusion : Patient satisfaction of food by outsourcing system was no difference from the patient satisfaction of food by self operated system.ABSTRAK Latar belakang : Kepuasan makan pasien merupakan salah satu output yang diharapkan oleh suatu penyelenggara makanan. Pemilihan dalam sistem penyelenggaraan makanan khususnya di rumah sakit akan mempengaruhi kualitas dan pelayanan makanan yang nantinya juga akan berpengaruh pada daya terima dan asupan makan pasien.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk melihat perbedaan kepuasan makanan pasien pada penyelenggaraan makanan secara outsourcing dan swakelola berdasarkan kualitas makanan dan kualitas pelayanan makanan yang telah dilaksanakan di RS Islam Jemursari Surabaya.Metode : Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Penelitian ini menggunakan dua jenis data yakni data sekunder (untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap makanan pada saat sistem outsourcing) dan data primer (untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap makanan pada sistem swakelola). Ukuran kualitas makanan dan kualitas pelayanan makanan yang digunakan pada saat survey outsourcing sama dengan yang digunakan saat swakelola. Populasi pada penelitian ini adalah semua pasien kelas 2 dan 3 yang ada di Ruang Azzahra 1, Azzahra 2, dan Mawar dengan sampel penelitian masing-masing sistem penyelenggaraan sebanyak 43 pasien. Uji analisis yang digunakan adalah uji Mann Whitney.Hasil : Hasil analisis statistik dari penelitian ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan bermakna pada kualitas makanan (p>0,100) dan kepuasan makanna total (p>0,100), namun ada perbedaan bermakna pada kualitas pelayanan makanan (p<0,100).Kesimpulan : Kepuasan makan pasien pada penyelenggaraan makanan sistem outsourcing tidak berbeda dengan kepuasan makan pada penyelenggaraan sistem swakelola.
Pengaruh Substitusi Susu Kedelai dan Mocaf (Modified Cassava Flour) Terhadap Daya Terima, Kandungan Serat dan Nilai Ekonomi Produk Es Krim Naga Merah Santi Kusumastuti; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 3 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.504 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i3.2017.252-260

Abstract

Background: Ice cream is one of the favourite desserts made from a mixture of milk. Commercial ice cream contains energy, carbohydrates, protein, fat and fiber. The fiber content in it is usually 1 gram per 50 grams serving. The fiber content is relatively low because food categorized as high fiber if it has 5 grams per 100 gram products. Therefore, a new innovation to improve its fiber content is required. Soymilk and Mocaf Flour are type of food with high fiber content that possible to be added in ice cream. Objective: The purpose of this research was to determine the acceptability, fiber content and food cost in ice cream. Methods: This was true experimental research with Complete Random Design (CRD) and there are 7 formulas to be tested to 3 limited panelists and 3 best formulas to 30 non trained panelists. Fiber content was calculated using Indonesia Food Composition Database and also analyzed by proximate test in laboratory. Results: The result showed that formula 4 had the highest score than other formulas. Laboratory result showed fiber content in formula 4 was 18.2 grams per 50 grams ice cream.  Conclusion: The ice cream with proportion of soymilk and Mocaf flour has a good acceptability and higher fiber content compared to commercial ice cream.ABSTRAK Latar Belakang: Es krim merupakan salah satu makanan selingan favorit masyarakat yang terbuat dari campuran susu. Es krim yang terdapat di pasaran (komersil) umumnya mengandung energi, karbohidrat, protein, lemak dan serat. Kandungan serat pada es krim rata-rata hanya 1 gram per kemasan. Suatu produk dikatakan mengandung serat yang tinggi jika mengandung 5 gram per 100 gram bahan padat sehingga diperlukan inovasi baru pada produk es krim untuk meningkatkan kandungan gizinya terutama serat. Susu kedelai dan tepung Mocaf (Modified Cassava Flour) merupakan bahan pangan yang kaya serat. Substitusi susu kedelai dan dan tepung Mocaf diharapkan dapat meningkatkan kandungan serat yang ada dalam formula es krim dibandingkan dengan es krim di pasaran.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya terima, kandungan serat dan nilai ekonomi es krim naga merah dengan proporsi susu kedelai dan dan tepung Mocaf.Metode: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimental dengan rancangan penelitian Rancangan Acak Lengkap (RAL dan terdapat 7 formula yang akan diuji organoleptik kepada 3 panelis terbatas dan 3 formula terbaik kepada 30 panelis tidak terlatih. Kadar serat diperoleh dari hasil perhitungan DKBM dan uji laboratorium dengan menggunakan uji proximat.Hasil: Berdasarkan hasil uji organoleptik, formula es krim terbaik (F4) memiliki daya terima panelis yang lebih tinggi dibandingkan formula es krim lainnya. Hasil uji laboratorium menunjukkan kandungan serat pada formula es krim F4 sebesar 18,2 gram/50 gram es krim.Kesimpulan: Es krim dengan proporsi susu kedelai dan tepung mocaf memiliki daya terima yang baik dan memiliki kandungan serat lebih tinggi bila dibandingkan dengan es krim komersil.
Perbedaan Tingkat Konsumsi dan Aktivitas Fisik pada Wanita (20-54 Tahun) Obesitas Sentral dan Non Sentral Ajeng Putri Rahmandita; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (772.767 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.266-274

Abstract

Background: Central obesity cases in Indonesia gradually increase time to time. Central obesity is a situation when there is excess fat in abdomen. It can be triggered by over consumption of high calories food, less consumption of fiber, and lack of physical activities. Objective: This study aimed to analyze the differences of intake level and physical activity on women (20-54 years) with central and non central obesity. Methods: This study was an observational analytic comparative using cross sectional design, 58 women (29 women with central obesity and 29 women with non-central obesity) 20-54 years were selected using simple random sampling technique. Data were collected by measuring weight, height, abdominal circumference, 2x24 hours recall for intake level, and interview using the International Physical Activity Questionnaire (IPAQ). Results: the results showed that there was differences in intake level of energy (p=0.000), intake level of carbohydrate (p=0.001), intake level of protein (0.000), intake level of fat (p=0.000), and physical activity (0.041) between women with central obesity and non central. Meanwhile, there was no difference in intake level of fiber (p=0.076) between women with central and non central obesity. Conclusion: Women with central obesity had higher intake of energy, carbohydrate, protein, and fat compared to women with non central obesity. Meanwhile, fiber intake and physical activity were low in women with central obesity. So, women with central obesity were needed to improve energy, carbohydrate, protein, and fat intake as recommended in the AKG and increased physical activity at least three times a week to reduce abdominal fat.ABSTRAKLatar Belakang: Kejadian obesitas sentral di Indonesia terus mengalami peningkatan. Obesitas sentral merupakan kondisi kelebihan lemak pada daerah perut. Gaya hidup seperti mengonsumsi makanan tinggi lemak, rendahnya konsumsi serat, dan rendahnya aktivitas fisik dapat menyebabkan obesitas sentral.Tujuan: tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan tingkat konsumsi dan aktivitas fisik pada wanita (20-54 tahun) obesitas sentral dan non sentral.Metode: penelitian ini dilaksanakan dengan metode observasional analitik komparasi menggunakan desain penelitian cross sectional pada 58 wanita (29 obesitas sentral dan 29 obesitas non sentral) berusia 20-54 tahun dan dipilih menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data terdiri dari pengukuran berat badan, pengukuran tinggi badan, pengukuran lingkar perut, recall 2x24 jam untuk mengetahui tingkat konsumsi, dan wawancara dengan kuesioner International Physical Activity Questionnaire (IPAQ).Hasil: penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat konsumsi energi (p=0,000), tingkat konsumsi karbohidrat (p=0,001), tingkat konsumsi protein (p=0,000), tingkat konsumsi lemak (p=0,000), dan aktivitas fisik (p=0,041) pada wanita obesitas sentral dan non sentral. Akan tetapi, tidak ada Xperbedaan tingkat konsumsi serat (p=0,076) pada wanita obesitas sentral dan non sentral. Kesimpulan: wanita obesitas sentral memiliki asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak yang lebih tinggi dibandingkan wanita obesitas non sentral. Namun, asupan serat dan aktivitas fisik masih rendah pada wanita obesitas sentral. Dengan demikian maka wanita obesitas sentral diharapkan dapat memperbaiki asupan energi, karbohidrat, protein, dan lemak sesuai anjuran pada AKG dan meningkatkan aktivitas fisik minimal tiga kali seminggu untuk mencegah penumpukan lemak dalam perut.
Perbedaan Status Gizi dan Penyakit Infeksi pada Anak Baduta yang Diberi ASI Eksklusif dan Non ASI Eksklusif Lury Novita Yustianingrum; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 1 No. 4 (2017): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (779.316 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v1i4.2017.415-423

Abstract

Background: The coverage of exclusive breastfeed in East Java has not reached the target has decreased in 2015. Working mother and the failed breast crawl implementation is factor that can inhibit exclusive breastfeed. Non exclusive breastfeed in infant will increase the risk of malnutrition and infectious disease.Objectives: The purpose of this study is to analyze the difference of nutritional status and infectious disease in exclusive breastfeed dan non exclusive breastfeed toodler age 12-24 months in Randegan village, Tanggulangin, Sidoarjo. Methods: The research was an observational analytic with cross sectional design. The sampel of this study was 44 toddlers in Randegan Village, Tanggulangin, Sidoarjo. Consists of 22 each exclusive breastfeed dan non breastfeed toddlers. The data were collected by questionnaires and weight measurement. Data were analyzed using chi square.Result: Normal nutritional status of exclusive breastfeed toddlers was 95.5% and of non exclusive breastfeed was 59.1%. The incidence of infection disease of exclusive breastfeed was 27.3% and of non exclusive breastfeed was 81.8%. The result of this study in both group showed of exclusive breastfeed and non exclusive breastfeed toodlers were significant (p<0.05) in nutritional status and incidence of infectious disease. Conclusion: Exclusive breastfeed toodlers has a better nutritional status and lower incedence of infectious disease than non exclusive breastfeed toddlers. Mother of toddlers should pay more attention to monitoring of growth and development in children, hygiene and sanitation, and giving nutritious and balanced food intake.ABSTRAK Latar belakang: Cakupan ASI eksklusif di Jawa Timur belum mencapai target dan mengalami penurunan pada tahun 2015. Ibu yang bekerja dan kegagalan pelaksanaan IMD merupakan faktor yang dapat menghambat pemberian ASI eksklusif. Pemberian non ASI eksklusif pada bayi akan meningkatkan risiko malnutrisi dan kejadian penyakit infeksi.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa perbedaan status gizi dan kejadin penyakit infeksi pada anak baduta ASI esklusif dan non ASI eksklusif usia 12-24 bulan di Desa Randegan, Tanggulangin, Sidoarjo. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan menggunakan desain cross sectional. Sampel terdiri dari 44 anak baduta di Desa Randegan Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Dimana terdiri dari anak baduta ASI eksklusif dan non ASI eksklusif masing-masing berjumlah 22 anak baduta. Pengumpulan data menggunakan kuesioner dan penimbangan berat badan. Data dianalisis menggunakan chi square.Hasil: Status gizi baik anak baduta ASI eksklusif yaitu 95,5% dan non ASI eksklusif yaitu 59,1%. Kejadian penyakit infeksi pada anak baduta ASI eksklusif yaitu 27,3% dan non ASI eksklusif yaitu 81,8%. Hasil dari penelitian pada kedua kelompok menunjukkan ada perbedaan signifikan (p<0,05) pada status gizi dan kejadian penyakit infeksi.Kesimpulan: Anak baduta ASI eksklusif memiliki status gizi baik yang lebih tinggi dan kejadian penyakit infeksi yang lebih rendah dari pada anak baduta non ASI eksklusif. Ibu anak baduta harus lebih memperhatikan higieni sanitasi lingkungan dan memberikan asupan makanan yang bergizi serta berimbang.
Hubungan Antara Asupan Zat Gizi Makro dan Status Gizi dengan Kebugaran Jasmani Mahasiswa UKM Taekwondo Intan Galih Cornia; Merryana Adriani
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 1 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (710.463 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i1.2018.90-96

Abstract

Background: Taekwondo is a physical activity or body movement that is conducted repeatedly with muscles as the most active organ. The problems that occurs to the athletes is the poor-organized consumption pattern, thus they lack of nutritional intake. The good nutritional intake is obtained from the sufficient nutritional intake so that the physical fitness becomes better. Meanwhile, young adults require sufficient nutritional intake so that their physical fitness can be better.Objective: This research aimed to analyze the relationship between the nutritional intake and nutrition status with the physical fitness of the university students joining the student activity unit of taekwondo in Universitas Airlangga Surabaya.Methods: This research was the analytical research with the cross-sectional design. The sample of the research was as many as 52 people who were acquired by utilizing the simple random sampling. The data collection included nutritional status by measuring the weight and height to figure out the Body Mass Index (BMI) and 2x24 hours food recall to understand the food intake.Results: The result demonstrated that there was a relationship between the nutritional status (p=0.014) and the intake of energy, protein, carbohydrate, and fat (p=0.05) had no relationship with the physical fitness.Conclusions: It could that the nutritional status was related to the physical fitness. The respondents who had normal nutrition status obtained the good physical fitness. There should be the addition of information regarding the nutrients to obtain the good nutritional status.ABSTRAKLatar Belakang: Taekwondo merupakan aktivitas fisik atau gerakan anggota tubuh yang dilakukan secara berulang dan organ yang paling aktif yaitu otot. Permasalah yang sering terjadi pada olahragawan yaitu suka konsumsi makanan yang tidak teratur sehingga asupan gizinya kurang tercukupi. Asupan gizi yang baik diperoleh dari asupan gizi yang cukup sehingga kebugaran jasmaninya baik.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis hubungan antara asupan zat gizi makro dan status gizi dengan kebugaran jasmani mahasiswa UKM taekwondo.Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan jumlah sampel 52 orang, diambil secara acak sederhana menggunakan simple random sampling. Pengumpulan data meliputi status gizi dengan cara penimbangan berat dan pengukuran tinggi badan untuk mengetahui Indeks Massa Tubuh (IMT), food recall 2x24 untuk mengetahui asupan makannya dan tes balke untuk kebugaran jasmani. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan kolerasi pearson.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara status gizi (p=0,014) dengan kebugaran jasmani sedangkan asupan energi, protein, karbohidrat dan lemak (P=0,05) tidak terdapat hubungan dengan kebugaran jasmani.Kesimpulan: Status gizi berhubungan dengan kebugaran jasmani. Responden yang memiliki status gizi normal cenderung memiliki kebugaran jasmani yang baik. Perlu dilakukan penambahan informasi terkait zat gizi agar tercipta status gizi yang baik.
Co-Authors Abdillah, Bagus Ahmad Nur Abu Bakar Achmad Ali Basri Ade Saputra Nasution Aditia Rida Purnamasari Agus Sulistyono Ajeng Putri Rahmandita Amanda Nurqisthy Anindya Mar’atus Sholikhah Anisatun Azizah Annis Catur Adi Annisa Rachma Firdausi Darmawan Aprilia Nurcahyaning Rahayu Arinda Lironika Suryana Arwati, Niluh Arwati, Niluh Arya Ulilalbab Astuti, Nanik Dwi Aulia, Kharina B Wirjatmadi Bambang Purwanto Bambang Purwanto Bambang Purwanto Bambang Wiratmadi Bambang Wirjadmadi Bambang Wirjatmadi BAMBANG WIRJATMADI Bambang Wirjatmadi Bambang Wirjatmadi Bambang Wirjatmadi Bambang Wirjatmadi Bambang Wirjatmadi Bambang Wirjatmadi Brigita Rainy Oktiva Candra Panji Asmoro, Candra Panji Cici Damayanti D.A. Liona Dewi Denna Rahinda Yulia Fanni Desy Prasetya Desy Prasetya, Desy Dewi Retno Suminar Dini Ririn Andrias Dini Setiarsih Dwi Putra, Kartika Wahyu Dwi Winarni Elida Ulfiana Fajar Afrindo Fara Disa Durry Farapti Farapti Fatifa Asmarani Fatifa Asmarani, Fatifa Fika Mayrlina Anggrayni Haryana, Nila Reswari Hermadani, Candraningtyas Ika Nur Pratiwi Ikhram Hardi S Indarwati , Retno Intan Galih Cornia Jayanthi Petronela Janggu Jayanthi Petronela Janggu Jujuk Proboningsih, Jujuk Junaida Astina Kartika Wahyu Dwi Putra Kharina Aulia Kuntoro Kuntoro Kuntoro Kuntoro Kusnanto Kusnanto Kusnanto Kusnanto Laila Nurayati Lailatul Muniroh Lailatun Ni&#039;mah Laily Hidayati Lestari, Annisa Arifiana Lury Novita Yustianingrum M. Dodi F Priaminda M., Soenarnatalina Mahmud Aditya Rifqi Maria Widijanti Sugeng Meirna Dewita Sari Muhammad Dimas Bimantara Mustika Putri Kustiyoasih Nanik Dwi Astuti Nathania Helsa F. Losong Ni Putu Wahyuningsih Nina Agustina Novera Herdiani, Novera Nur Nashriana Jufri Nursalam Nursalam Nursalam, Nursalam Oktovina Rizky Oktovina Rizky, Oktovina Pei-Lun Hsieh Priaminda, M Dodi F Pudji Astutik Pudji Astutik, Pudji Puspita Ayu Ramadhani Rachmah, Qonita Rachmat Hargono Raharja, Kristian Triatmaja Rahayu, Aprilia Nurcahyaning Rahmi Syarifatun Abidah Rahmi Syarifatun Abidah, Rahmi Syarifatun Ratna Sari Rumakey Reineldis Trisnawati Rifka Laily Mafaza Rina Wasesa Aprilia Lazulfa Rista Fauziningtyas, Rista Rivan Virlando Suryadinata Rivan Virlando Suryadinata Rivan Virlando Suryadinata Rizka Amalia Habiba Rosita Andriani Santi Kusumastuti Setho Hadisuyatmana Setiarsih, Dini Sheila Monica Kelly Amalia Sheryll Deby Regyna Sholikhah, Anindya Maratus` Sholikhah, Desty Muzarofatus Shrimarti Rukmini Devy Silviana Putri Siti Nur Qomariah Siti Rahayu Nadhiroh Soenarnatalina M. Soenarnatalina Meilanani Soenarnatalina Meilanani, Soenarnatalina Sri Hartiningsih Sri Hartiningsih Sri Hartiningsih Stefani Cornelia Sardjono Susanti, Yuyun Erlina Susanti, Yuyun Erlina Susila Rusdiana Dewi Tia Eka Novianti Tri Martiana Tri Ratna Ariestini Triharini, Mira Triska Susila Nindya Wijatmadi, Bambang Windhu Purnomo Wiratmadi, Bambang Yayuk Estuningsih Yeni Susanti