Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

HUBUNGAN DUKUNGAN KELUARGA DENGAN KEPATUHAN DIET PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 I Kadek Jodi; Gusti Ayu Ary Antari; I Made Suindrayasa; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 6 (2024): Desember 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i06.p03

Abstract

Diabetes melitus tipe 2 sering disebut silent killer disease, karena seringkali pasien tidak menyadari dirinya mengalami diabetes hingga muncul komplikasi. Salah satu pilar pengelolaan diabetes melitus yang penting adalah pengaturan diet. Pada penderita diabetes melitus tipe 2, diet merupakan dasar penatalaksanaan yaitu pengaturan makan dengan memberikan dan memperhatikan unsur makanan esensial sesuai dengan kebutuhan energi. Dukungan keluarga adalah salah satu faktor yang berkontribusi kuat untuk mempengaruhi akan kepatuhan diet pada pasien diabetes tipe 2. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet diabetes pada pasien diabetes melitus tipe 2 di wilayah kerja Puskesmas 1 Denpasar Timur. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional study yang dilaksanakan pada Bulan April-Juni 2024. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini adalah purposive sampling dan didapatkan 31 responden yang telah memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Alat ukur yang digunakan adalah Hensarling Diabetes Family Support scale untuk mengukur dukungan keluarga dan Perceived Dietary Adherence Questionnaire untuk mengukur kepatuhan diet. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa dukungan keluarga pada pasien diabetes melitus tipe 2 sebagian besar baik, yaitu sebanyak 28 orang (53,7%). Kepatuhan diet pada pasien diabetes melitus tipe 2 tertinggi sebanyak 19 orang (61,3%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif kuat yang signifikan antara dukungan keluarga dengan kepatuhan diet (p-value = 0,000 ; rₛ = 0,634). Dari penelitian ini, diharapkan bagi penelitian selanjutnya dapat menambahkan faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi dukungan keluarga terhadap kepatuhan diet.
HUBUNGAN PERSEPSI PENYAKIT DENGAN KEPATUHAN PENGOBATAN PADA LANJUT USIA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS TABANAN III Ni Putu Aprilia Olga Pania; Gusti Ayu Ary Antari; Ni Kadek Ayu Suarningsih; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 3 (2025): Juni 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i03.p09

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan serius karena prevalensi yang terus meningkat dan risiko komplikasi penyakit yang tinggi. Untuk meningkatkan outcome klinis, pasien hipertensi harus patuh dalam mengonsumsi obat anti hipertensi. Studi yang ada menunjukkan tingkat kepatuhan pasien masih bervariasi, dimana masalah kepatuhan ini paling sering ditemukan pada kelompok lanjut usia. Salah satu faktor yang berkaitan dengan kepatuhan adalah persepsi penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan pengobatan pada lanjut usia hipertensi. Penelitian kuantitatif menggunakan desain deskriptif  korelatif dengan rancangan cross-sectional. Sebanyak 94 sampel terlibat dalam penelitian ini yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Alat ukur yang digunakan pada penelitian ini yaitu kuesioner HBM untuk mengukur persepsi penyakit dan kuesioner MMAS untuk mengukur kepatuhan pengobatan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi penyakit pada lansia hipertensi sebagian besar dalam kategori sedang yaitu sebanyak 49 orang (52,1%) sedangkan kepatuhan pengobatan pada lansia hipertensi mayoritas dalam kategori tinggi yaitu sebanyak 52 orang (55,3%). Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi penyakit dengan kepatuhan pengobatan (p-value = 0,001; rs= 0,332). Dari penelitian ini, diharapkan perawat dapat mendukung dan mengembangkan persepsi positif bagi pasien sehingga dapat meningkatkan kepatuhan pengobatan.
HUBUNGAN RESILIENSI DENGAN MANAJEMEN DIRI PADA PENDERITA HIPERTENSI DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS II DENPASAR UTARA Ni Luh Gede Pasek Puspayani; Ni Kadek Ayu Suarningsih; Gusti Ayu Ary Antari; Nyoman Agus Jagat Raya
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i04.p05

Abstract

Hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang dan manajemen diri yang konsisten. Salah satu faktor psikologis yang berperan penting dalam perilaku manajemen diri adalah resiliensi, yakni kemampuan individu untuk beradaptasi dan bangkit dari tekanan atau kesulitan. Resiliensi yang tinggi dapat memperkuat kemampuan penderita hipertensi dalam mengelola penyakitnya secara mandiri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara resiliensi dan manajemen diri pada penderita hipertensi di wilayah kerja Puskesmas II Denpasar Utara. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif yang menggunakan pendekatan cross sectional. Sebanyak 84 penderita hipertensi terlibat dalam penelitian yang dipilih melalui teknik consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan kuesioner The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) dan kuesioner Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire (HSMBQ). Hasil penelitian menunjukan rata-rata responden berusia 61,63 tahun, rata-rata mengalami hipertensi selama 5,69 tahun, berjenis kelamin perempuan 52 orang (61,9%), pendidikan SMA 32 orang (38,7%), mayoritas memiliki resiliensi sedang 49 orang (58,3%) dan memiliki manajemen diri sedang 50 orang (59,3%). Hasil analisis enunjukkan ada hubungan yang signifikan antara resiliensi dengan manajemen diri (p= 0,000; r=0,887). Simpulan penelitian ini adalah semakin tinggi resiliensi, maka semakin baik perilaku manajemen diri pada penderita hipertensi. Oleh karena itu, penderita hipertensi disarankan untuk terus mencari informasi mengenai penyakitnya, menjaga kesehatan mental, meningkatkan efikasi diri, mencari dukungan sosial yang positif, serta meningkatkan optimisme untuk meningkatkan resiliensi sehingga dapat mendukung perilaku manajemen diri secara optimal.  
GAMBARAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA NELAYAN DI DESA KUSAMBA Komang Alit Try Saputra; Ni Ketut Guru Prapti; Gusti Ayu Ary Antari; Ni Kadek Ayu Suarningsih
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p03

Abstract

Kasus keluhan muskuloskeletal menempati urutan kedua dengan prevalensi sebanyak 469.000 kasus atau 34,54% selama 3 tahun terakhir dari semua kasus penyakit akibat kerja yang ada. Nelayan merupakan salah satu pekerjaan yang memerlukan tenaga yang cukup besar. Aktivitas yang sering dilakukan nelayan seperti memikul, mendorong, mengangkat, menarik, dan memindahkan peralatan nelayan serta dilakukan dengan gerakan yang sama secara berulang kali. Kegiatan tersebut akan dapat menimbulkan terjadinya cidera atau keluhan muskuloskeletal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran keluhan muskuloskeletal pada nelayan di Desa Kusamba. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Teknik sampling yang digunakan yaitu simple random sampling dengan jumlah sampel 64 nelayan. Data dianalisis menggunakan uji univariat menunjukkan hasil bahwa mayoritas nelayan di Desa Kusamba berusia >35 tahun (64,1%), berdasarkan masa kerja paling banyak bekerja selama >10 tahun (70,3%) dan berdasarkan keluhan muskuloskeletal paling banyak mengalami keluhan pada tingkat risiko sedang (54,7%) terutama di bagian punggung, pinggang, lengan atas dan lengan bawah. Hasil penelitian yang dilakukan di Desa Kusamba menemukan bahwa nelayan berisiko mengalami keluhan muskuloskeletal pada tingkat risiko sedang sehingga diharapkan para pekerja nelayan melakukan peregangan atau pemanasan baik sebelum dan sesudah melakukan perkerjaan dan dapat memberikan edukasi mengenai pengetahuan nelayan terkait postur kerja yang ergonomis agar mengurangi ketegangan otot dan menghindari terjadinya cedera pada sistem muskuloskeletal.
HUBUNGAN POSTURAL STRESS DENGAN KELUHAN MUSKULOSKELETAL PADA BURUH SUUN DI PASAR BADUNG Yunda Syahlaila Enasanaj; Desak Made Widyanthari; Gusti Ayu Ary Antari; Putu Oka Yuli Nurhesti
Community of Publishing in Nursing Vol. 12 No. 5 (2024): Oktober 2024
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2024.v12.i05.p08

Abstract

Keluhan muskuloskeletal dapat menyebabkan beberapa gejala berupa kelelahan, nyeri dan pegal yang berdampak pada penurunan aktivitas sehari-hari. Keluhan muskuloskeletal dapat disebabkan oleh postural stress. Postural stress merupakan beban tubuh terhadap proses biomekanik yang terjadi ketika tubuh bekerja dengan gerakan dan postur yang tidak selaras dengan posisi integritas tubuh. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan postural stress dengan keluhan muskuloskeletal pada Buruh Suun di Pasar Badung. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan studi deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel yang digunakan pada penelitian ini adalah 73 orang buruh suun di Pasar Badung dengan menggunakan teknik sampling yaitu purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner Nordic Body Map (NBM) dan Ovako Work Analisys System (OWAS). Hasil analisis univariat sebanyak 91,8% buruh suun berusia diatas 30 tahun, 98,6%, berjenis kelamin perempuan, 78,1% mengalami overweight, 68,5% buruh bekerja >15 tahun, dan 87,7% buruh suun mengangkat barang >20 kg, 37% buruh suun mengalami postural stress pada kategori 2 (perlu perbaikan dimasa depan), dan 95,9 % keluhan muskuloskeletal buruh suun berada pada kategori rendah. Hasil penelitian menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara postural stress dengan keluhan muskulsokeletal dengan p value 0,028 dan r 0,258 dengan kekuatan hubungan lemah dan arah positif. Buruh suun diharapkan dapat menurunkan risiko postural stress dengan menggunakan alat bantu saat bekerja seperti troli sehingga dapat menurunkan keluhan muskuloskeletal.
HUBUNGAN MOTIVASI DENGAN MANAJEMEN DIRI PADA PASIEN HIPERTENSI Ni Made Karina Wirapradnyani; Gusti Ayu Ary Antari; Desak Made Widyanthari
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p05

Abstract

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis yang dapat meningkatkan risiko penyakit lainnya, seperti penyakit kardiovaskuler dan serebrovaskuler. Salah satu kunci keberhasilan kontrol hipertensi adalah melakukan manajemen diri. Pelaksanaan manajemen diri yang optimal memerlukan adanya motivasi diri untuk mempertahankan perilaku patuh sehingga dapat meningkatkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan motivasi diri dengan manajemen diri hipertensi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelatif dengan desain cross sectional pada 75 pasien hipertensi yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu Hypertension Self-Care ProfileHBP-SCP) Motivation Scaledan Hypertension Self-Management Behavior Questionnaire(HSMBQ). Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata skor motivasi diri adalah 60,32 (SD = 60,32) dengan mayoritas responden memiliki motivasi diri tinggi (52%). Rata-rata skor manajemen diri adalah 95,32 (SD=10,053) dengan mayoritas responden memiliki manajemen diri baik (56%). Berdasarkan hasil analisis, didapatkan hubungan positif lemah antara motivasi diri dengan manajemen diri pada pasien hipertensi (p-value = 0,005; r = 0,320; α = 0,05). Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi data dasar dalam pengembangan program inovasi untuk meningkatkan motivasi diri pada pasien hipertensi dalam menerapkan perilaku manajemen diri hipertensi.  
GAMBARAN TINGKAT STRES PADA SISWI YANG MENGALAMI DISMINOREA DI SMA SANTA MADALENA DE CANOSSA HAS-LARAN COMORO DILI Marilia Francisca Soares; Gusti Ayu Ary Antari; Ida Arimurti Sanjiwani
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 4 (2025): Agustus 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i04.p03

Abstract

Disminorea adalah keluhan yang kerap dilaporkan oleh remaja putri ketika mengalami menstruasi. Disminorea ini seringkali mengganggu dan dapat memicu terjadinya stres pada remaja putri. Tujuan penelitian ini ialah untuk mendeskripsikan tingkat stres remaja putri SMA yang mengalami disminorea. Penelitian ini memakai metode deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sejumlah 180 siswi SMA terlibat dalam penelitian yang dipilih secara proportionate stratified random sampling. Depression Anxiety and Stress Scale dipakai untuk mengukur tingkat stres responden. Hasil penelitian menunjukkan tingkat stres responden, yaitu normal sejumlah 10 orang (5,6%), ringan sejumlah 6 orang (3,3%), sedang sejumlah 12 orang (6,7%), parah sejumlah 45 orang (25%) dan sangat parah 107 orang (59,4%). Ini menunjukkan bahwa ketika mengalami disminorea, siswa perempuan merasa stres tinggi. Implikasi keperawatan yang dapat dilakukan yaitu, pengembangan program edukasi kesehatan, pencegahan dan deteksi dini, serta kolaborasi dengan tenaga pengajar dan orang tua.
GAMBARAN PENGETAHUAN, SIKAP, DAN PERILAKU TENTANG PENCEGAHAN HIV-AIDS PADA SISWA SMK KESEHATAN I Made Agus Jaya Wardana; Nyoman Agus Jagat Raya; Gusti Ayu Ary Antari; Ni Putu Emy Darma Yanti
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i05.p14

Abstract

Siswa Sekolah Menengah Kejuruan adalah salah satu kelompok remaja akhir dengan usia 15 hingga 18 tahun yang berisiko tertular HIV-AIDS. Remaja yang kurang mengetahui pengetahuan, sikap, dan perilaku tentang pencegahan HIV-AIDS berisiko terjangkit HIV-AIDS. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku pada siswa di salah satu SMK Kesehatan mengenai pencegahan HIV-AIDS. Pengambilan data primer dilakukan dengan teknik analisis data univariat. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dan menggunakan teknik total sampling, dengan total responden adalah 50 orang. Hasil penelitian didapatkan mayoritas siswa SMK Kesehatan dengan jenis kelamin perempuan sebanyak 49 orang (98%) dengan median usia 16 tahun. Siswa kelas XI berjumlah lebih banyak, yakni 32 orang (64%). Sebagian besar siswa memiliki pengetahuan yang rendah dengan jumlah 32 orang (64%), sebanyak 25 orang (50%) mempunyai sikap yang baik, 25 orang (50%) lagi mempunyai sikap yang kurang baik, dan terdapat 48 orang (96%) siswa memiliki perilaku yang tidak berisiko HIV-AIDS. Maka dari itu, dapat disimpulkan pengetahuan siswa tentang pencegahan HIV-AIDS masih kategori rendah. Sangat penting adanya sosialisasi rutin tentang HIV-AIDS siswa SMK Kesehatan guna meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan HIV-AIDS.
Optimalisasi perilaku perawatan kesehatan diri melalui penguatan literasi dan skrining kesehatan untuk mencegah penyakit tidak menular Gusti Ayu Ary Antari; Ni Luh Putu Shinta Devi; Desak Made Widyanthari
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35196

Abstract

Abstrak Prevalensi penyakit tidak menular terus meningkat dengan determinan utamanya adalah perilaku yang tidak sehat. Meskipun studi menunjukkan berbagai manfaat dari perilaku perawatan kesehatan, penerapannya masih kurang di level masyarakat. Rendahnya literasi, motivasi dan kepatuhan menjadi faktor yang turut berkonstribusi terhadap situasi tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan literasi kesehatan melalui edukasi promotif-preventif dan skrining kesehatan dasar. Kegiatan dilaksanakan pada 58 masyarakat Desa Tunjuk, Kabupaten Tabanan, tanggal 18-23 Agustus 2025, dengan metode edukasi dan pemeriksaan kesehatan. Hasil kegiatan yang diperoleh berdasarkan diskusi dan tanggapan peserta menunjukkan bahwa edukasi dinilai mampu meningkatkan pemahaman peserta mengenai perawatan kesehatan diri, Rata-rata indeks massa tubuh 24,41 kg/m2, tekanan darah sistolik 132,29 mmHg, kadar asam urat 5,54 mg/dl, kadar kolesterol 258,92 mg/dl dan kadar gula darah sewaktu 126,63 mg/dl. Peserta telah teredukasi mengenai perawatan kesehatan dan tindak lanjut terhadap hasil skrining kesehatan tersebut. Hasil pengabdian menunjukkan perlunya program edukasi yang dilakukan secara berkelanjutan untuk mendorong internalisasi perilaku perawatan kesehatan diri secara konsisten. Implikasi dari kegiatan ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah desa, puskesmas dan masyarakat untuk mengembangkan program perawatan kesehatan diri yang berkelanjutan. Kata kunci: literasi kesehatan; penyakit tidak menular; perawatan kesehatan diri; skrining. AbstractThe prevalence of non-communicable diseases has shown a persistent upward trend, predominantly driven by unhealthy lifestyle behaviors. Although prior research has consistently highlighted the benefits of health-promoting practices, their adoption at the community level remains suboptimal. Contributing factors include limited health literacy, low intrinsic motivation, and inadequate adherence to recommended behaviors. This community engagement initiative was designed to strengthen health literacy through promotive–preventive education and basic health screening. The program was implemented among 58 residents of Tunjuk Village, Tabanan Regency, dated 18-23 August 2025, utilizing structured educational sessions and comprehensive health assessments. Based on participants’ discussions and feedback, the educational activities were considered effective in improving their understanding of self-care, alongside clinical outcomes indicating a mean body mass index of 24.41 kg/m², mean systolic blood pressure of 132.29 mmHg, mean uric acid level of 5.54 mg/dl, mean cholesterol level of 258.92 mg/dl, and mean blood glucose level of 126.63 mg/dl. Participants received targeted education on self-care practices as well as recommendations for appropriate follow-up based on their screening results. The outcomes highlight the critical need for sustained, community-based educational interventions to foster the long-term internalization and consistent practice of health-promoting behaviors. Furthermore, the findings emphasize the importance of collaborative efforts among local authorities, primary healthcare services, and the community to ensure the continuity and sustainability of community-based self-care programs. Keywords: health literacy; non-communicable disease; self-care management; screening