Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Komunikasi Antar Etnik di Tengah Keberagaman Budaya di Kota Kendari Yahya, Ismayanti; Bahfiarti, Tuti; Farid, Muhammad
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.329 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v8i3.11539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola komunikasi antar etnis di tengah keberagaman budaya di Kecamatan Kadia, serta bentuk-bentuk komunikasi antar etnis. Teori pokok yang digunakan adalah komunikasi antar budaya dan konsep komunikasi antar etnis. Pengumpulan datanya menggunakan metode wawancara (interview) dan observasi mendalam pada informan penelitian yang dipilih secara Purposive Sampling berdasarkan tujuan penelitian. Hasil penelitian ini menghasilkan kesimpulan bahwa pola komunikasi antar etnis pada masyarakat Kecamatan Kadia Kota Kendari yang meliputi; bahasa sebagai simbol, pengalaman lintas budaya, komunikasi antar pribadi, dan pengalaman komunikasi antar etnis dengan bentuk komunikasi yang ditandai dengan berbagai hal yang lazim terjadi dalam komunikasi antar budaya seperti; komunikasi persuasif, adaptasi budaya dalam komunikasi, serta didukung oleh situasi atau lingkungan tempat mereka berinteraksi yang relatif membaur
Efektivitas Komunikasi Pembelajaran Pelatihan Model Blended Learning Kalatasik, Arniati J.; Bahfiarti, Tuti; Mau, Muliadi
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i7.15802

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis efektivitas komunikasi pembelajaran dalam pelatihan dengan model BL. Penelitian ini menerapkan penelitian kuantitatif metode survei dengan membagikan kuesioner terdiri dari 18 pernyataan sikap dalam bentuk skala likert (Sangat Tidak Setuju, Tidak Setuju, Netral, Setuju, Sangat Setuju) yang akan dipilih oleh responden dan dibagi ke dalam 3 indikator, yakni Kemampuan Komunikasi Tenaga Pelatih, Keaktfian Peserta, dan Interaksi Pembelajaran. Hasil dari penelitian ini bahwa efektivitas komunikasi pembelajaran dalam model BL dianggap sangat tinggi oleh peserta pelatihan. Kemampuan komunikasi tenaga pelatih dinilai tinggi, menunjukkan keterampilan yang efektif dalam menyampaikan materi. Keaktifan peserta juga dinilai tinggi, menunjukkan partisipasi aktif dalam pembelajaran. Interaksi pembelajaran dinilai tinggi, menciptakan lingkungan pembelajaran yang kondusif. Temuan ini relevan untuk mengembangkan program pelatihan di masa depan dan merumuskan kebijakan pendidikan yang mempertimbangkan peran teknologi dalam meningkatkan aksesibilitas dan kualitas pendidikan.
Pemanfaatan Media Sosial Anak Petani Kakao di Kecamatan Wotu Kabupaten Luwu Timur Alghifari Yunus, M Fikri; Bahfiarti, Tuti; Farid , Muhammad
Jurnal sosial dan sains Vol. 4 No. 5 (2024): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v4i5.1406

Abstract

Latar Belakang: Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, khususnya media sosial, yang telah menjadi bagian integral dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan anak petani kakao. Tujuan Penelitian: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemanfaatan media sosial di kalangan anak petani kakao di Kecamatan Wotu, Kabupaten Luwu Timur. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian survei sebagai metode penelitian dan metodologi kuantitatif deskriptif Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak petani kakao di Kecamatan Wotu sudah memanfaatkan media sosial secara intensif, khususnya platform seperti WhatsApp, Instagram, dan Facebook. Mereka menggunakan media sosial untuk berbagai keperluan, seperti berbagi informasi, berkomunikasi dengan teman dan keluarga, hingga hiburan. Meskipun demikian, terdapat juga beberapa kendala dalam pemanfaatan media sosial, seperti kurangnya pemahaman tentang penggunaan media sosial yang bijak dan aman. Kesimpulan: Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemanfaatan media sosial di kalangan anak petani kakao di Kecamatan Wotu cukup intensif, namun perlu adanya upaya untuk meningkatkan literasi digital dan penggunaan media sosial yang lebih bijak di kalangan mereka.
Analisis Semiotika Arsitektur Rumah Adat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba Fajar, Tri Rahmat; Fatimah, Jeanny Maria; Bahfiarti, Tuti
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 1 (2025): Nopember 2025, IJI Publication
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i1.803

Abstract

Penelitian ini berangkat dari perhatian terhadap semakin memudarnya nilai-nilai budaya dalam arsitektur tradisional akibat pengaruh modernisasi, khususnya pada masyarakat adat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba. Studi ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik yang terkandung dalam setiap elemen arsitektur rumah adat Kajang serta menjelaskan keterkaitannya dengan sistem nilai dan prinsip hidup Pasang ri Kajang yang menekankan kesederhanaan, kejujuran, kepasrahan, dan keseimbangan dengan alam. Secara akademis, penelitian ini penting karena memperluas penerapan teori semiotika Charles Sanders Peirce dalam kajian komunikasi budaya dan arsitektur vernakular, sementara secara praktis, hasilnya dapat menjadi dasar pelestarian rumah adat sebagai warisan budaya serta sumber pembelajaran nilai kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi dan wawancara mendalam terhadap tokoh adat, pemerintah desa, dan masyarakat Kajang, kemudian dianalisis menggunakan teori segitiga makna Peirce (tanda, objek, dan interpretant). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian rumah adat memiliki makna simbolik yang mendalam: arah rumah menghadap barat melambangkan kefanaan dan penghambaan kepada Tuhan; material alami mencerminkan kesederhanaan; kolong rumah menandakan keterikatan dengan tanah; tiang tengah menjadi poros spiritual penghubung langit dan bumi; anjong berfungsi sebagai penanda status sosial; dapur merepresentasikan kejujuran; dan kamar menjadi simbol aurat dan kehormatan. Kesimpulannya, arsitektur rumah adat Kajang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai teks budaya yang menyampaikan pesan spiritual, sosial, dan ekologis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengisi kesenjangan literatur semiotika arsitektur tradisional di Indonesia dengan menekankan hubungan antara bentuk fisik dan nilai-nilai budaya lokal. Implikasi praktisnya, hasil studi ini dapat dijadikan acuan dalam upaya pelestarian warisan budaya dan pengembangan desain arsitektur berkelanjutan berbasis kearifan lokal.
Analisis Semiotika Arsitektur Rumah Adat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba Fajar, Tri Rahmat; Fatimah, Jeanny Maria; Bahfiarti, Tuti
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 1 (2025): Nopember 2025, IJI Publication
Publisher : Unit Publikasi Ilmiah Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i1.803

Abstract

Penelitian ini berangkat dari perhatian terhadap semakin memudarnya nilai-nilai budaya dalam arsitektur tradisional akibat pengaruh modernisasi, khususnya pada masyarakat adat Suku Kajang di Kabupaten Bulukumba. Studi ini bertujuan untuk mengungkap makna simbolik yang terkandung dalam setiap elemen arsitektur rumah adat Kajang serta menjelaskan keterkaitannya dengan sistem nilai dan prinsip hidup Pasang ri Kajang yang menekankan kesederhanaan, kejujuran, kepasrahan, dan keseimbangan dengan alam. Secara akademis, penelitian ini penting karena memperluas penerapan teori semiotika Charles Sanders Peirce dalam kajian komunikasi budaya dan arsitektur vernakular, sementara secara praktis, hasilnya dapat menjadi dasar pelestarian rumah adat sebagai warisan budaya serta sumber pembelajaran nilai kearifan lokal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode observasi dan wawancara mendalam terhadap tokoh adat, pemerintah desa, dan masyarakat Kajang, kemudian dianalisis menggunakan teori segitiga makna Peirce (tanda, objek, dan interpretant). Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap bagian rumah adat memiliki makna simbolik yang mendalam: arah rumah menghadap barat melambangkan kefanaan dan penghambaan kepada Tuhan; material alami mencerminkan kesederhanaan; kolong rumah menandakan keterikatan dengan tanah; tiang tengah menjadi poros spiritual penghubung langit dan bumi; anjong berfungsi sebagai penanda status sosial; dapur merepresentasikan kejujuran; dan kamar menjadi simbol aurat dan kehormatan. Kesimpulannya, arsitektur rumah adat Kajang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai teks budaya yang menyampaikan pesan spiritual, sosial, dan ekologis. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam mengisi kesenjangan literatur semiotika arsitektur tradisional di Indonesia dengan menekankan hubungan antara bentuk fisik dan nilai-nilai budaya lokal. Implikasi praktisnya, hasil studi ini dapat dijadikan acuan dalam upaya pelestarian warisan budaya dan pengembangan desain arsitektur berkelanjutan berbasis kearifan lokal.