Articles
BALANCE TRAINING MENINGKATKAN KESEIMBANGAN DINAMIS PADA ORANG LANJUT USIA DI POSYANDU LANSIA DESA BONGKASA
I Made Sujana Wisnu Prananta;
I Gede Widhiantara;
Indah Pramita
Jurnal Kesehatan Terpadu Vol. 4 No. 1 (2020): JURNAL KESEHATAN TERPADU
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/jkt.v4i1.1186
Perubahan morfologis neuromuscular yang terjadi pada lanjut usia akan menyebabkan perubahan fungsional. Perubahan fungsional yang terjadi diantaranya adalah penuraunan kekuatan dan kontraksi otot, penurunan elastisitas dan fleksibilitas otot, serta kecepatan dan waktu reaksi gerakan yang lambat. Penurunan ini selanjutnya akan menyebabkan adanya perubahan kemampuan dalam mempertahankan suatu posisi termasuk mempertahankan keseimbangan dinamis pada lansia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemberian Balance Trainingdalam meningkatkan keseimbangan dinamis lanjut usia. Jenis penelitian ini adalah penelitian Experimental denganOne Group Pre-test and Post-test Design. Total sampel adalah 30 orang yang diambil dengan teknik Pusposive Sampling berdasarkan kriteria inklusi, eksklusi dan drop out. Pengukuran nilai Keseimbangan dinamis diukur dengan tes Time UP and Go Test. Latihan Balance Training untuk meningkatkan keseimbangan dinamis dilakukan 3 kali seminggu selama 4 minggu. Analisa data dalam penelitian ini menggunakan uji t berpasangan (paired t-test) dengan level signifikansi 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseimbangan dinamis pada lansia mengalami peningkatan dari sebelum dan sesudah perlakuan sebanyak 17%. Peningkatan ini terbukti signifikan yang dinyatakan oleh hasil uji statisktik dengan nilai p=0,001. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Balance Training dapat meningkatkan keseimbangan dinamis pada orang lanjut usia di posyandu lansia Desa Bongkasa
Korelasi Posisi Kerja yang Menyebabkan Neck Pain pada Pekerja Eyelash Extension di Salon Lash and Beauty Denpasar, Bali
Helena I Gusti Ayu Putu Lady Landiana;
Indah Pramita;
I Made Yoga Parwata
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 2 No. 2 (2023): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v2i2.2597
Eyelash extension merupakan trand atau gaya kosmetik yang digunakan untuk meningkatkan volume bulu mata seseorang yang bisa disebut dengan metode sambung bulu mata menggunakan bulu mata sintetis. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan di Salon Lash And Beauty Denpasar, Bali, posisi kerja pada pekerja eyelash extension yang gerakannya monoton dan tidak ergonomis dapat menyebabkan keluhan nyeri leher (neck pain). Posisi kerja adalah postur tubuh yang secara alami dibentuk oleh tubuh pekerja, dan postur yang berinteraksi dengan kebiasaan kerja dan peralatan yang digunakan dalam bekerja. Dalam penelitian ini dilakukan dua metode pengukuran. Pengukuran yang digunakan yaitu VAS dan RULA. Tujuan pengukuran VAS adalah untuk mengetahui nilai / skor nyeri yg dirasakan oleh pekerja eyelash extension yang didapatkan hasil VAS 4 orang dengan skor 3, 4 orang dengan skor 4 dan 4 orang dengan skor 5. Sedangkan tujuan pemeriksaan RULA adalah untuk mengetahui beban kerja tubuh bagian atas yang didapatkan hasil pengukuran RULA 3 orang dengan skor 4, 4 orang dengan skor 5, dan 5 orang dengan skor 6. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahi hubungan posisi kerja yang menyebabkan keluhan neck pain pada pekerja eyelash extension. Penelitian ini menggunakan metode korelasi yang menggunakan 12 sampel penelitian. Data dari ke 12 sampel ini akan dilakuan dengan menggunakan Uji SPSS dengan pengukuran Uji Linearitas Regresi dan Uji Hipotesis menggunakan metode pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai signifikan yaitu P<0,005 yang berarti terdapat korelasi yang kuat dan terdapat hubungan yang positif pada posisi kerja pekerja eyelash extension dengan keluhan neck pain pada sampel penelitian.
Hubungan antara Forward Head Posture dengan Keseimbangan Dinamis pada Mahasiswi Universitas Dhyana Pura
Edeltrudis Erlina Halyo;
I Made Yoga Parwata;
Indah Pramita
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 2 No. 2 (2023): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v2i2.2601
Forward Head Posture adalah salah satu jenis kelainan pada postural paling umum, dan umumnya digambarkan posisi anterior dari kepala dalam kaitannya dengan garis vertikal dari pusat gravitasi tubuh. Keseimbangan dinamis merupakan kemampuan dalam mempertahankan posisi tubuh dimana COG (center of gravity) terus berubah atau kemampuan untuk mempertahankan keseimbangan ketika bergerak pada landasan yang bergerak (dinamic standing) yang menempatkan tubuh ke dalam kondisi yang tidak stabil. Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian korelasi dengan pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik sampling purposive dengan kriteria insklusi mahasiswi perempuan usia 20-24 tahun, mempunyai forward head posture. Selanjutnya dari hasil penelitian dilakukan analisis deskrptif dengan uji linearitas menggunakan anova, didapatkan dari kedua variabel berdistribusi normal dengan nilai signifikan sebesar 0,000 dan koefisien korelasi sebesar 0.899. Hal ini terdapat korelasi negatif yang sangat kuat antara forward head posture dan keseimbangan dinamis pada mahasiswi Universitas Dhyana Pura. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai forward head test maka nilai maka nilai four square step test semakin rendah.
The Effectiveness of Physical Exercise on Level of Symptom and Quality of Life in Primary Dysmenorrhea in Adolescent in Denpasar
Ni Luh Nopi Andayani;
Ari Wibawa;
Indah Pramita;
Suhita Apsari Pradnyandewi;
Govinda Vittala
Gaster Vol 22 No 1 (2024): FEBRUARI
Publisher : P3M Universitas 'Aisyiyah Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30787/gaster.v22i1.1171
Background: young women often experience various problems including pain during menstruation. Menstrual pain which is called dysmenorrhea is pain in the stomach or uterus, pain that occurs together with the onset of menstruation which occurs several hours to days. The incidence of primary dysmenorrhea will influence and have a major impact on the quality of life of these adolescents. Purpose: This study aims to prove the effectiveness of physical exercises in the form of abdominal stretching and core strengthening in reducing the degree of complaints and the quality of life of young women with primary dysmenorrhea in Denpasar Method: Research method with one pre-test design and post-test group design. The research was conducted at a private physiotherapist in Denpasar, Bali from September to August 2022. The sample consisted of 30 people who received physical exercises in the form of abdominal stretching and core strengthening. Results: The Wilcoxon Test showed different results before and after the intervention obtained a value (p <0.05) which means that there was a significant difference before and after the intervention in the degree of complaints and quality of life. Conclusion: Physical exercise is effective on the degree of complaints and quality of life in adolescents with primary dysmenorrhea in Denpasar
HUBUNGAN KEKUATAN OTOT QUADRICEPS DENGAN STABILITAS FUNGSIONAL PADA PASIEN PASCA REKONSTRUKSI ANTERIOR CRUCIATE LIGAMENT
Gede Wahyu Pratama Wijaya;
I Putu Gde Surya Adhitya;
Anak Agung Gede Angga Puspa Negara;
Indah Pramita
Masker Medika Vol 12 No 1 (2024): Masker Medika
Publisher : IKesT Muhammadiyah Palembang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.52523/maskermedika.v12i1.616
Introduction: Assessing the importance of muscle strength and functional stability in post-ACL reconstruction (ACLR) patients demands an in-depth understanding of how physical factors correlate with knee functional stability. Therefore, this study aims to determine the relationship between quadriceps muscle strength and functional stability in ACLR patients in the Indonesian ACL Community. Methods: This research design is observational analytic with a cross-sectional approach. The research subjects were 26 ACLR patients from the Indonesian ACL Community in Bali. This study used a hand-held dynamometer to measure quadriceps muscle strength and a single hop test to measure functional stability. Results: In the results of the Spearman Rho analysis, it was found that there was a significant relationship between quadriceps muscle strength and functional stability, as evidenced by the p-value = 0.000 (p <0.05) and the correlation coefficient value of 0.644 and positive. In addition, the multivariate results showed that subjects with poor quadriceps muscle strength were consistently associated with poor functional stability scores with odds 13.5 times higher than subjects with good quadriceps muscle strength p=0.013 (p<0.05). Discussion: It can be concluded that there is a significant relationship between quadriceps muscle strength and functional stability in ACLR patients at ACL Community Indonesia.
Hubungan antara Panjang Tungkai dengan Tinggi Lompatan pada Pemain Basket di Club Oldschool Basketball Denpasar
Christin Desry Manoe Lado;
Indah Pramita;
Daryono Daryono
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v1i1.1926
AbstrakOlahraga basket adalah salah satu olahraga populer yang dimainkan secara berkelompok. Permainan bola basket terdiri dari dua tim yang saling bertanding dan masing-masing tim beranggotakan lima pemain. Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan panjang tungkai mempengaruhi tinggi lompatan, dilihat dari adanya hasil pengukuran tinggi lompatan vertikal yang berbeda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan panjang tungkai terhadap tinggi lompatan pada pemain basket di Club Oldschool Basketball Denpasar. Penelitian ini menggunakan metode korelasi yang menggunakan 35 sampel penelitian. Panjang tungkai diukur menggunakan metline, sedangkan nilai tinggi lompatan didapatkan dari pengukuran vertical jump. Data dilakukan uji linearitas regresi serta uji hipotesis menggunakan metode pearson product moment. Hasil penelitian menunjukkan nilai 0,521 yang berarti terdapat korelasi yang kuat dan terdapat hubungan yang positif antara panjang tungkai dengan tingginya vertical jump pada sampel penelitian. Dapat disimpulkan semakin tinggi nilai panjang tungkai maka semakin tinggi lompatan pada pemain basket di club Oldshool Basketball Denpasar.AbstractBasketball as popular sport is played in groups, consists five poeples for competition. Based on the results preliminary study which have been done length leg affects to height jump seen on difference measuring result in height the vertical jump. The Purpose this study was to determine the relationship between length of leg and height jump in basketball players. This study correlation method with 35 samples. Length of leg was measured using metline, while heigh of jump value was obtained from vertical jump measurements. Data analyzed using Linearity Regression Test and Hypothesis Testing were carried out using Pearson Product Moment Method. Research results showed value of 0.521 means there is strong correlation and positive relationship between length the leg and the height of the vertical jump in the research sample. It can be concluded higher the length value, the higher the jump for basketball players at the Oldschool Basketball Denpasar club.
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) terhadap Daya Tahan Kardiorespirasi pada Penari Barong Bangkung di Sekaa Demen Barong Bale Agung, Banjar Bale Agung, Cemagi
Luh Putu Trisna Maharani;
Indah Pramita;
Daryono Daryono
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v1i1.1946
AbstrakBarong bangkung merupakan barong dengan bentuk seperti induk babi yang pemujaannya berupa ngelawang (datang ke depan pintu gerbang atau lawang rumah-rumah penduduk). Saat menari barong bangkung, penari membutuhkan daya tahan kardiorespirasi yang baik agar lincah dalam menari dengan membawa beban kostum barong bangkung serta gerakan yang dinamis. Indeks Massa Tubuh (IMT) merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi Daya Tahan Kardiorespirasi (VO2maks). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Daya Tahan Kardiorespirasi (VO2maks) pada penari barong bangkung di Sekaa Demen Barong Bale Agung, Banjar Bale Agung, Cemagi. Penelitian ini menggunakan teknik simple random sampling dengan kriteria inklusi dan ekslusi dengan sampel berjumlah 17 orang. Daya Tahan Kardiorespirasi didapat dengan Tes Lari 2,4 Km dan Indeks Massa Tubuh didapatkan dengan mengukur berat badan (kg) serta tinggi badan (m2). Hasil penelitian menggunakan uji korelasi pearson product moment dengan nilai signifikan sebesar 0.000 dan koefisien korelasi sebesar -0.952. hal ini menunjukkan terdapat korelasi negatif yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh dengan Daya Tahan Kardiorespirasi pada penari barong bangkung di Sekaa Demen Barong Bale Agung. Dapat disimpulkan bahwa semakin meningkat nilai IMT maka nilai Daya Tahan Kardiorespirasi akan menurunAbstractBarong bangkung is a barong with a shape like a sow whose worship is in the form of ngelawang (coming to the front of the gate of people's houses). When dancing barong bangkung, dancers need good cardiorespiratory endurance to be agile in dancing by carrying the weight of the barong bangkung costume and dynamic movements. Body Mass Index (BMI) is one of the factors affecting Cardiorespiratory Endurance (VO2max). The purpose of this study was to determine the relationship between Body Mass Index and Cardiorespiratory Endurance (VO2max) in barong bangkung dancers at Sekaa Demen Barong Bale Agung, Banjar Bale Agung, Cemagi. This study uses a simple random sampling technique with inclusion and exclusion criteria with a sample of 17 people. Cardiorespiratory endurance was obtained by 2.4 km running test and body mass index was obtained by measuring body weight (kg) and height (m2). The results of the study used the Pearson product moment correlation test with a significant value of 0.000 and a correlation coefficient of -0.952. This shows that there is a significant negative correlation between Body Mass Index and Cardiorespiratory Endurance in barong bangkung dancers at Sekaa Demen Barong Bale Agung. It can be concluded that the higher the BMI value, the Cardiorespiratory Endurance will decrease.
Perbandingan Kemampuan Pengembangan Sangkar Toraks pada Lansia yang Melakukan Aktivitas Fisik Olahraga dan Tidak Olahraga di Br. Wangaya Kaja, Dauh Puri Kaja, Denpasar Utara
Kadek Diah Wulandari;
Indah Pramita;
Luh Putu Ayu Vitalistyawati
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 1 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v1i1.1947
AbstrakPenuaan menyebabkan menurunnya kemampuan pengembangan dinding dada. Penurunan yang terjadi pada lansia dapat disebabkan oleh kurangnya melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Dengan olahraga dapat memperbaiki fungsi otot pernapasan sehingga pernapasan menjadi lebih efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan kemampuan pengembangan sangkar toraks pada lansia yang berolahraga dengan yang tidak berolahraga. Penelitian ini menggunakan metode komparatif yang membandingkan 2 kelompok dengan jumlah sampel 10 orang tiap kelompok. Pengembangan sangkar toraks diukur menggunakan midline. Hasil data diuji menggunakan uji normalitas shapiro-wilk test serta uji hipotesis independent sampel t-test. Hasil uji hipotesis yaitu 0,000 yang menunjukkan adanya perbedaan antara kedua kelompok dengan nilai p<0,05. Dapat disimpulkan bahwa kemampuan pengembangan sangkar toraks pada lansia yang melakukan aktivitas fisik olahraga lebih baik dibandingkan dengan yang tidak melakukan aktvitas fisik olahraga. AbstractAging causes a decrease of thoracic cage’s expandability. The substraction appears in the elderly can be caused by a lack of physical activity or sports. Exercise will improve the function of the chest wall muscles which will increase thoracic cage’s expandability so that breathing becomes more efficient. This study’s purpose was to compare the thorax cage’s expandability in the elderly engage in sports activities and do not. This study uses a comparative method by comparing 2 groups with 10 samples of each. The thoracic cage expansion was measured using the midline. The research datas were tested using the Shapiro-wilk test for normality and independent sample t-test. The hyphotesis test result is 0,000 which shows that there is a difference between the two groups with a p value of <0,05. It can be concluded that the thorax cage’s expandability in the elderly engage in sports activiteis is better than do not.
Penerapan Seated Stretch Untuk Meningkatkan Fleksibilitas Hamstring Pada Pemain Futsal Talun Fc Di Tampaksiring
I Made Manik Candra Yudi;
I Made Yoga Parwata;
Indah Pramita
JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI) Vol. 1 No. 2 (2022): JURNAL KESEHATAN, SAINS, DAN TEKNOLOGI (JAKASAKTI)
Publisher : LPPM Universitas Dhyana Pura
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.36002/js.v1i2.2329
Abstrak Salah satu komponen penting dalam cabang olahraga futsal adalah fleksibilitas hamstring. Fleksibilitas hamstring memegang peranan penting dalam permainan futsal mengingat otot hamstring bekerja dalam keadaan konsentrik, yaitu memendek dan terulur sesuai aktivitas yang dilakukan. Berdasarkan hal tersebut penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan fleksibilitas hamstring pada pemain futsal Talun FC di Tampaksiring dengan menerapkan latihan seated stretch. Penelitian ini melibatkan pemain futsal Talun FC dengan rentang umur 18-31 tahun. Metode penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan One Group Pretest and Posttest Desaign dengan jumlah sampel sebanyak 12 orang pemain futsal Talun FC yang dipilih melalui teknik purposive sampling yang menggunakan kriteria inklusi dan eksklusi. Pengukuran fleksibilitas hamstring dilakukan dengan menggunakan v sit and reach test. Pemberian latihan seated stretch dilakukan dalam frekuensi 3 kali dalam seminggu, selama 4 minggu dengan durasi waktu 30 detik peregangan selama 3 pengulangan. Data dianalisis menggunakan uji parametrik dengan uji paired t test. Hasil penelitian didapatkan hasil yaitu p=0,001 yang berarti 0,001 < 0,005 maka hasilnya terdapat perbedaan signifikan. Peningkatan nilai fleksibilitas hamstring dari sebelum tes ke sesudah tes sebesar 14%. Hasil ini menunjukkan bahwa peregangan dengan teknik seated stretch dengan frekuensi yang tinggi berpengaruh terhadap peningkatan fleksibilitas hamstring.Kata kunci: Fleksibilitas, Hamstring, Seated Stretch Abstract One of the important components in futsal is hamstring flexibility. Hamstring flexibility plays an important role in futsal, considering that the hamstring muscles work in a concentric state, which is shortened and stretched according to the activity performed. Based on this, this study aims to increase hamstring flexibility in Talun FC futsal players in Tampaksiring by applying seated stretch exercises. This study involved Talun FC futsal players with an age range of 18-31 years. This research method is an experimental study with One Group Pretest and Posttest Design with a total sample of 12 Talun FC futsal players who were selected through purposive sampling technique using inclusion and exclusion criteria. Measurement of hamstring flexibility was carried out using the v sit and reach test. The provision of seated stretch exercises is carried out in a frequency of 3 times a week, for 4 weeks with a duration of 30 seconds, stretching for 3 repetitions. Data were analyzed using parametric test with paired t test. The results showed that p = 0.001 which means 0.001 < 0.005 then the results are significant differences. The increase in the value of hamstring flexibility from before the test to after the test was 14%. These results indicate that stretching with the seated stretch technique with high frequency has an effect on increasing hamstring flexibility.Keywords: Flexibility, Hamstring, Seated Stretch
PENGARUH AKTIVITAS FISIK TERHADAP PERKEMBANGAN MOTOR SKILL PADA ANAK USIA 3-12 TAHUN: TINJAUAN PUSTAKA: -
Pradnyani, Tjokorda Istri Agung Rosanthi;
Pramita, Indah;
Tianing, Ni Wayan
Kinetic and Physiotherapy Comprehensive Vol 3 No 1 (2024): Volume 3 No. 1 April 2024
Publisher : PT. Kesehatan Gerak Fungsi Tubuh
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.62004/kpc.v3i1.30
Background: Physical activity is vital in growth and development, maturation of motor and physiological functions, and cognitive abilities in the pediatric population. In children, sufficient physical activity is reported to help develop motor skills. This is because to have a good quality of movement, abilities obtained through habits in physical activity are needed. This study aimed to determine the effect of physical activity on the development of motor skills in children aged 3-12 years. Methods: The type of research was a literature review based on the review process of research articles that discuss the effect of physical activity on the development of motor skills in children aged 3-12 years. The search for articles was done from the Google Scholar and PubMed databases. Results: Based on the five selected journals in this literature review, significant positive results were obtained between physical activity and the development of motor skills in children aged 3-12 years old. The specifications of the motor skills that develop in children vary depending on the form, type, and settings of the physical activity. Conclusion: Physical activity seemed to affect the development of children's motor skills. The development of motor skills in children occurs gradually, along with physical development and stimulation of activities that spur better skills.