Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Gambaran Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus di Desa Adow Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan Kolintama, Tahsya V. S.; Pongoh, Lucyana L.; Tengker, Anita C. C.; Sudirham, Sudirham; Manoppo, Jonesius E.; Makadada, Fredrik A.
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MANADO Vol. 4 No. 3 (2025): JURNAL ILMIAH KESEHATAN MANADO (JIKMA)
Publisher : Yayasan Syalom Cipta Sumikolah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus is a chronic disease that affects various aspects of patients' lives, including physical, psychological, social, and environmental aspects. Health center data show an increase in Diabetes Mellitus cases from 21 patients in 2023 to 60 patients in 2024. This increase indicates the importance of understanding the quality of life of patients in order to support prevention and disease management efforts.This study aimed to describe the quality of life of patients with Diabetes Mellitus based on physical, psychological, social relationship, and environmental aspects, as well as satisfaction and concerns related to the disease. This study used a quantitative descriptive method with a total sampling technique involving 60 patients with Diabetes Mellitus. Data were collected using the WHOQOL-BREF questionnaire and the Diabetes Quality of Life (DQOL) questionnaire. Data analysis was carried out using univariate analysis in the form of frequency distribution and percentages. The results showed that the quality of life of patients with Diabetes Mellitus in various aspects was mostly in the poor category. In the physical health aspect, the majority of respondents were in the poor category with 43 people (71.7%). In the psychological aspect, most respondents were in the moderate category with 41 people (68.3%). In the social relationship aspect, the majority of respondents were in the poor category with 37 people (61.7%), while in the environmental aspect most respondents were in the moderate category with 36 people (60%). However, based on the DQOL questionnaire, the diabetes-specific quality of life was in the high category (100%), indicating that respondents had good self-efficacy and high satisfaction in managing their disease.
Gambaran Riwayat Kontak dan Kebiasaan Merokok dengan Kejadian Tuberkulosis Paru di Wilayah Kerja Puskesmas Maelang Tahun 2024 Yuni Safitri Mokoagow; Jonesius Eden Manoppo; Syafriani Syafriani; Bintang Sri Rezeki Panjaitan; Theo WE Mautang; Maxie Moleong
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4724

Abstract

Tuberkulosis (TB) paru masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk dan perilaku berisiko yang tinggi. Penularan TB paru sangat dipengaruhi oleh riwayat kontak erat dengan penderita TB aktif serta kebiasaan merokok yang dapat menurunkan daya tahan paru-paru. Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan riwayat kontak dan kebiasaan merokok pada penderita TB paru di wilayah kerja Puskesmas Maelang. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juli 2025 dengan jumlah responden sebanyak 92 orang, yang terdiri dari 27 responden positif TB paru dan 65 responden negatif TB paru. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner terstruktur serta data sekunder dari Puskesmas Maelang, kemudian dianalisis secara deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok usia 46–55 tahun (37%), berjenis kelamin laki-laki (72,8%), dan memiliki tingkat pendidikan terakhir SMP (33,7%). Sebanyak 27,2% responden memiliki riwayat kontak dengan penderita TB paru, seperti tinggal serumah, berbagi alat makan atau minum, serta berada dalam satu ruangan tertutup, sedangkan 18,5% responden memiliki kebiasaan merokok sebelum didiagnosis TB paru. Kejadian TB paru lebih banyak ditemukan pada responden yang memiliki riwayat kontak dan kebiasaan merokok dibandingkan dengan responden yang tidak memiliki kedua faktor tersebut. Kesimpulannya riwayat kontak erat dengan penderita TB paru dan kebiasaan merokok berperan penting terhadap kejadian TB paru di wilayah kerja Puskesmas Maelang, sehingga diperlukan upaya pencegahan melalui edukasi, pengendalian faktor risiko, serta penguatan promosi kesehatan masyarakat.
Hubungan Kualitas Lingkungan Fisik Rumah dengan Risiko Penyakit ISPA pada Masyarakat di Desa Adow Selatan Mokodompit, Marsya Nabila Putri; Moleong, Maxi M.; Weken, Merdekawati E.; Sudirham, Sudirham; Manoppo, Jonesius E.; Langitan, Fentje
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 1 (2026): Februari - April
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i1.7105

Abstract

Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia, terutama di wilayah pedesaan. Faktor lingkungan fisik rumah seperti ventilasi, jenis lantai, kepadatan hunian, dan jenis dinding berperan penting dalam meningkatkan atau menurunkan risiko terjadinya ISPA. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kualitas fisik rumah dengan risiko ISPA pada masyarakat di Desa Adow Selatan. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan cross-sectional pada 73 rumah  tangga yang ditentukan dengan Teknik simple random sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung dan wawancara menggunakan kuesioner dan lembar checklist, kemudian dianalisis menggunakan uji Chi-Square dengan tingkat signifikansi (α = 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar rumah responden memiliki kualitas fisik rumah yang belum memenuhi standar kesehatan lingkungan, yaitu ventilasi tidak memenuhi syarat (59,1%), jenis lantai tidak memenuhi syarat (24,7%), kepadatan hunian tidak memenuhi syarat (63%), dan jenis dinding tidak memenuhi syarat (57,8%). Selain itu,  ISPA juga tercatat cukup tinggi, yaitu 129 orang (83,8%). Hasil uji Chi-Square menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara seluruh variabel fisik rumah dengan risiko ISPA, yaitu ventilasi rumah (p = 0,045), jenis lantai (p = 0,003), kepadatan hunian (p = 0,009), dan jenis dinding (p = 0,004). Temuan ini menunjukkan bahwa semakin buruk kualitas fisik rumah, semakin tinggi risiko terjadinya ISPA pada penghuni rumah. Rumah dengan ventilasi tidak memenuhi syarat, lantai yang lembap dan sulit dibersihkan, hunian padat, serta dinding tidak permanen terbukti memiliki proporsi ISPA yang jauh lebih tinggi dibandingkan rumah yang memenuhi syarat kesehatan.
Gambaran Hasil Screening Diabetes Melitus pada Keluarga Anggota Prolanis Maleosan Anggie Margaretha Kubalang; Vera D. Tombokan; Jonesius Eden Manoppo
Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF) Vol. 3 No. 4 (2025): Oktober : Jurnal Riset Ilmu Kesehatan Umum dan Farmasi (JRIKUF)
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/jrikuf.v3i4.878

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) remains a major global health issue with increasing prevalence, including in Indonesia. Early detection through family-based screening plays an important role in preventing complications and improving quality of life. The Prolanis program aims to control chronic diseases such as DM through community-based preventive efforts. Objective: This study aimed to describe the results of DM screening among families of Prolanis Maleosan members. Methods: A descriptive quantitative design with a cross-sectional approach was used. The study involved 125 respondents, with data collected using questionnaires on demographic characteristics, health history, and DM screening results. Data were analyzed univariately and presented in frequency and percentage. Results: Most respondents were 15–45 years old (71.2%), female (68.0%), and had senior high school education (84.0%). A total of 90.4% were diagnosed with DM, while 96.0% had low-risk health conditions. The most common comorbidity was hypertension (10.4%), followed by coronary heart disease (4.0%). Conclusion: DM prevalence among Prolanis Maleosan families is high, yet most maintain stable health. Strengthening regular screening, family health education, and community-based preventive actions is recommended.