Articles
Analisis Isi Kuantitatif Tindak Rasisme dalam Film BlacKkKlansman
Prasetyo, Ridho Iza;
Mutahir, Arizal
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Interaksi Volume 2 Nomor 2 April 2023
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAK Film merupakan salah satu dari sekian bentuk media massa yang mampu memberikan nilai hiburan pada masyarakat disaat kepenatan aktifitas masyarakat dalam menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari. Perkembangan film itu sendiri juga tidak lepas dari perkembangan budaya masyarakat yang berlaku dibelakangnya. Salah satu film yang menggambarkan salah satu realitas sosial yaitu rasisme adalah film BlacKkKlansman. Isu rasisme menjadi tema yang paling sering diproduksi oleh industri film terbesar dunia yaitu Hollywood. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis isi. Dalam penelitian ini peneliti meneliti secara syntactical units terdiri dari simbol-simbol yang muncul, dalam penelitian ini adalah simbol kekerasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana perilaku kaum kulit putih di dalam Film BlacKkKlansman yang melakukan tindakan diskriminasi dan pembedaan baik secara verbal dan nonverbal berdasarkan ciri – ciri fisik yang berbeda antara kaum kulit putih dan kaum kulit hitam. Hasilnya kategori rasisme verbal menjadi kategori dengan frekuensi terbanyak. Penyumbang terbanyak tindakan rasisme dari dua kategori adalah tokoh laki – laki yang dalam film ini karena mendapatkan screen time lebih banyak dari tokoh perempuan. Kata Kunci: Analisis Isi, Film BlacKkKlansman, Rasisme ABSTRACT Film is one of the many forms of mass media that can provide entertainment value to the community when people are tired of their activities in carrying out their daily life routines. The movie's development is also inseparable from the development of the prevailing culture of the society behind it. One of the movies that depicts one of the social realities, namely racism, is the movie BlacKkKlansman. The issue of racism is the theme most often produced by the world's largest film industry, Hollywood. This research uses quantitative methods with content analysis techniques. In this study researchers examined syntactical units consisting of symbols that appear, in this study are symbols of violence. The results of this study show how the behavior of white people in the BlacKkKlansman film who commit acts of discrimination and distinction both verbally and nonverbally based on different physical characteristics between white people and black people. The result is that the category of verbal racism is the category with the highest frequency. The biggest contributor to racism from two categories is the male character in this movie because he gets more screen time than the female character. Keywords: Content Analysis, Film BlacKkKlansman, Racism
Dampak Lingkungan dan Keterlibatan Pemerintah Lokal Pada Konflik Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Handika, Pamungkas;
Muslihudin, Muslihudin;
Mutahir, Arizal
Vox Populi Vol 8 No 2 (2025): VOX POPULI
Publisher : ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/vp.v8i2.58465
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terhadap lingkungan, serta menganalisis peran pemerintah dalam merespons konflik yang muncul akibat pembangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah telaah pustaka dengan cara mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber, baik artikel ilmiah maupun buku, guna mengungkap permasalahan yang telah dibahas dalam studi-studi terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan PLTU di Indonesia masih belum menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Hal ini tercermin dari berbagai permasalahan sosial dan lingkungan yang terus terjadi di sekitar wilayah pembangunan PLTU. Pemerintah yang seharusnya menjadi penengah justru kerap kali memperkeruh keadaan dan turut andil dalam memunculkan konflik, baik secara horizontal maupun vertikal antara masyarakat dengan pihak pemerintah dan perusahaan.
Program Kelas Mengenal Difabel (KMD) Upaya Komunitas GPAD dalam Mewujudkan Masyarakat Inklusi di Pekalongan
Kholis, Ahmad Nur KHolis;
Arizal Mutahir;
Muslihudin
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.5079
The main problem faced is the low level of understanding and social inclusion of people with disabilities in Pekalongan. The Recognizing Disability Class (KMD) program carried out by the GPAD Pekalongan Community aims to overcome this problem through inclusive and interactive education. This program seeks to change negative stigma, develop empathy and deep understanding, and increase active community participation in supporting people with disabilities. The research method is a qualitative method. The data collection method is through interviews, observation and documentation. The results of the analysis show that KMD increases public awareness and understanding. KMD uses an inclusive approach involving interactive learning methods and relevant contextual materials.
Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas dendam dalam film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" [2017])
Nur Azizah, Adinda Farah;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12785
Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas kejahatan, balas dendam kekerasan bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif.
PEREMPUAN URBAN DAN SOCIAL SMOKERS: ROKOK SEBAGAI ALAT BERSOSIALISASI DALAM KEHIDUPAN PEREMPUAN PURWOKERTO
Firstyandini, Divka;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri;
Wuryaningsih, Tri
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 11, No 10 (2024): NUSANTARA : JURNAL ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/jips.v11i10.2024.4317-4328
Penelitian ini membahas tentang perilaku merokok seorang social smokers atau perokok sosial perempuan di Purwokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perilaku merokok para social smokers dan juga melihat bagaimana mereka memaknai rokok. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan subjek penelitian sebanyak enam orang social smokers perempuan yang didapatkan dengan teknik snowball. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwasannya perempuan perokok merupakan suatu fenomena yang sudah wajar sehingga mereka berani untuk merokok di ruang publik. Sebagian dari mereka merupakan seorang social smokers yang perilaku merokoknya didasari oleh motivasi sosial. Seorang social smokers memiliki perbedaan perilaku dengan perokok reguler. Jumlah rokok yang mereka konsumsi cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan perokok reguler. Mereka juga hanya merokok ketika bersama dengan perokok lainnya. Social smokers kerap ditemukan di ruang-ruang publik seperti coffee shop, rumah makan, dan kampus. Rokok yang merupakan segulung tembakau nyatanya memiliki makna yang berarti bagi seorang social smokers. Sebuah interaksi dapat tercipta karena adanya sebuah rokok yang dimaknai sebagai simbol kesamaan perilaku. Oleh karena itu, seorang social smokers menggunakan rokok untuk memperlancar sebuah interaksi yang ingin ia bangun dengan perokok lainnya.
Nyantri Jaman Now :Manifestation of Indonesian Santri Identity in the Digital Era
Nursetiyawati, Puri Septiana;
Mutahir, Arizal;
Sabrina, Laila
Jurnal Studi Agama Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Studi Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.19109/jsa.v9i1.27426
This article examines the phenomenon of nyantri (studying at pesantren) in the digital era as a manifestation of cultural and religious identity in the context of rapid social change. The purpose of this research is to understand the function of nyantri as a means of preserving and shaping personal and social identity amidst the currents of globalization and the development of digital technology. This research also aims to identify and analyze the personal and social identities of students in the digital era. The method used in this research is descriptive qualitative with in-depth interview techniques and participatory observation at Pondok Pesantren Al Ikhsan Beji, Banyumas, Central Java. The research results show that although the pesantren have adapted to technological developments, traditional values remain the main foundation in the process of education and character formation of the students. Students utilize social media and technology to broaden their religious horizons, while still maintaining conventional religious practices. The digital era brings challenges for students in managing change, but it also opens up space for innovation in showcasing their identity. In the digital era, being a student remains relevant as a means of forming a strong identity, despite shifts in the methods and practices used
Representasi Praktik Dehumanisasi dalam Anime Attack On Titan (2013-2023)
Fajri, Ahsani Taqwiim;
Mutahir, Arizal;
Hariyadi
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 3: Desember (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.57250/ajsh.v5i3.1734
Anime sebagai budaya populer dapat menjangkau seluruh kalangan dan dapat menjadi wadah diskusi untuk membahas isu-isu sosial. Salah satu isu yang menonjol dalam anime adalah isu dehumanisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji representasi praktik dehumanisasi dalam anime Attack On Titan (2013-2023). Penelitian ini dilakukan dengan observasi mendalam terkait adegan yang terdapat dalam anime Attack On Titan musim 4 bagian 1 (2020-2021). Penelitian ini menggunakan semiotika Roland Barthes sebagai alat analisis. Penelitian ini memiliki temuan bahwa anime Attack On Titan (2013-2023) menggambarkan dehumanisasi. Dalam anime tersebut terdapat dua bentuk dehumanisasi, yaitu dehumanisasi kebinatangan dan dehumanisasi mekanistik. Dehumanisasi kebinatangan merupakan mekanisme kontrol satu ras terhadap ras lain. Dehumanisasi mekanistik merupakan mekanisme eksploitasi satu ras terhadap ras lain. Melalui anime Attack On Titan (2013-2023) dapat terbaca bahwa anime sebagai budaya populer dapat menjadi media penyadaran untuk memerangi dehumanisasi yang terjadi di kehidupan nyata.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa
Ramadhan, Fajrianan Lutfi;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri;
Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359
Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
Digitalisasi Pendidikan di Indonesia: Studi Penggunaan Moodle Elsmansa di SMAN 1 Purbalingga Jawa Tengah
Ihda Agustio Devanda Nurico Kamala;
Hariyadi;
Arizal Mutahir
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 7 No. 6 (2025): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47467/reslaj.v7i6.7494
The main problem faced is the desire to use Moodle Elsmansa after the Covid-19 pandemic at SMAN 1 Purbalingga, especially related to technology adaptation and technical constraints. The pandemic accelerated the implementation of digital-based learning, including through a digital learning system using an e-learning platform. This study aims to explore the use of this e-learning platform in learning. This effort was made to overcome the obstacles and the success of the integration of Moodle Elsmansa as part of the digital education transformation. The research method used is a qualitative method. Data collection methods through observation, interviews and documentation. The results of the study show that Moodle Elsmansa is a platform that supports the convenience of digital-based learning that is relevant to date.
Socio Cultural Dynamics and Double Precarity from the DIY Music Scene in Purwokerto, Indonesia
Rizkidarajat, Wiman;
Mutahir, Arizal;
Chusna, Aidatul;
Saadah, Kholifatus
Humaniora: Journal of Indonesia Culture and Society Vol. 16 No. 2 (2025): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.21512/humaniora.v16i2.13351
The research explores the socio-cultural dynamics and double precarity faced by Voicehell, a do-it-yourself (DIY) music scene based in Purwokerto. It provides an in-depth examination of the intersecting forms of precarity experienced by a collective of young people, conceptualized as an intermediate generation navigating their life choices within the broader context of the global risk generation. Using a qualitative method combined with a biographical approach, the research presents a reflective biography of the youth involved with Voicehell. The findings reveal that the collective negotiates various manifestations of capital, which may undermine their authenticity and authority as a DIY music scene. Notably, the research does not present a simplistic account of Voicehell's challenges. Instead, it demonstrates that their distinctive position within both a provincial city and the broader Indonesian context exposes them to double precarity. The research further illustrates how such conditions may also affect other Indonesian youth groups, as well as those in the Global North, where collectives frequently contend with spatial inadequacies rooted in underdeveloped socio-economic contexts. These structural limitations sustain their position within the global risk generation. By analyzing the case of Voicehell, the research contributes to a deeper understanding of youth cultures and their negotiation of authenticity, authority, and precarity in a globalized world.