Articles
Representasi Sifat Pemimpin Perempuan dalam Film A Man Called Otto (2022)
Putra Indriadi, Agheng;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri;
Wulan, Tyas Retno
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 5 No 2: Agustus (2025)
Publisher : Arden Jaya Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.57250/ajsh.v5i2.1233
Kajian pemimpin perempuan dalam film relatif masih jarang dikaji. Padahal banyak cerita sukses tentang pemimpin perempuan. Kajian ini menelaah film A Man Called Otto yang menampilkan sosok perempuan bernama Marisol. Tokoh Marisol dalam film digambarkan sebagai tokoh yang berperan penting dalam mengubah kehidupan Otto. Otto merupakan pria paruh baya yang kehilangan semangat hidup. Kajian ini bertujuan mengidentifikasi, mendeskripsikan, dan menganalisis representasi sifat pemimpin yang dimiliki oleh perempuan dalam film A Man Called Otto. Penelitian ini menggunakan metode semiotik Roland Barthes yang mencakup analisis pada tingkat denotasi, konotasi, dan mitos. Hasil penelitian menemukan representasi sifat pemimpin perempuan yang digambarkan dalam film A Man Called Otto yaitu kemampuan perempuan menyelesaikan masalah, mempunyai keberanian dalam membela hal yang benar, dan kemampuan pantang menyerah. Representasi sifat pemimpin yang dimiliki perempuan dalam film A Man Called Otto secara tidak langsung melawan konstruksi sosial. Stereotipe dalam dunia patriarki cenderung memiliki keraguan atas kemampuan perempuan menjadi pemimpin. Penelitian ini diharapkan mampu membantu mengubah pandangan bahwa perempuan tidak mampu menjadi memimpin.
Analisis Isi Kuantitatif Tindak Rasisme dalam Film BlacKkKlansman
Prasetyo, Ridho Iza;
Mutahir, Arizal
Jurnal Interaksi Sosiologi Vol 2 No 2 (2023): Jurnal Interaksi Volume 2 Nomor 2 April 2023
Publisher : Laborataorium Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
ABSTRAK Film merupakan salah satu dari sekian bentuk media massa yang mampu memberikan nilai hiburan pada masyarakat disaat kepenatan aktifitas masyarakat dalam menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari. Perkembangan film itu sendiri juga tidak lepas dari perkembangan budaya masyarakat yang berlaku dibelakangnya. Salah satu film yang menggambarkan salah satu realitas sosial yaitu rasisme adalah film BlacKkKlansman. Isu rasisme menjadi tema yang paling sering diproduksi oleh industri film terbesar dunia yaitu Hollywood. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan teknik analisis isi. Dalam penelitian ini peneliti meneliti secara syntactical units terdiri dari simbol-simbol yang muncul, dalam penelitian ini adalah simbol kekerasan. Hasil penelitian ini menunjukkan bagaimana perilaku kaum kulit putih di dalam Film BlacKkKlansman yang melakukan tindakan diskriminasi dan pembedaan baik secara verbal dan nonverbal berdasarkan ciri – ciri fisik yang berbeda antara kaum kulit putih dan kaum kulit hitam. Hasilnya kategori rasisme verbal menjadi kategori dengan frekuensi terbanyak. Penyumbang terbanyak tindakan rasisme dari dua kategori adalah tokoh laki – laki yang dalam film ini karena mendapatkan screen time lebih banyak dari tokoh perempuan. Kata Kunci: Analisis Isi, Film BlacKkKlansman, Rasisme ABSTRACT Film is one of the many forms of mass media that can provide entertainment value to the community when people are tired of their activities in carrying out their daily life routines. The movie's development is also inseparable from the development of the prevailing culture of the society behind it. One of the movies that depicts one of the social realities, namely racism, is the movie BlacKkKlansman. The issue of racism is the theme most often produced by the world's largest film industry, Hollywood. This research uses quantitative methods with content analysis techniques. In this study researchers examined syntactical units consisting of symbols that appear, in this study are symbols of violence. The results of this study show how the behavior of white people in the BlacKkKlansman film who commit acts of discrimination and distinction both verbally and nonverbally based on different physical characteristics between white people and black people. The result is that the category of verbal racism is the category with the highest frequency. The biggest contributor to racism from two categories is the male character in this movie because he gets more screen time than the female character. Keywords: Content Analysis, Film BlacKkKlansman, Racism
Dampak Lingkungan dan Keterlibatan Pemerintah Lokal Pada Konflik Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap
Handika, Pamungkas;
Muslihudin, Muslihudin;
Mutahir, Arizal
Vox Populi Vol 8 No 2 (2025): VOX POPULI
Publisher : ILMU POLITIK UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) ALAUDDIN MAKASSAR
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24252/vp.v8i2.58465
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan berbagai dampak yang ditimbulkan oleh pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) terhadap lingkungan, serta menganalisis peran pemerintah dalam merespons konflik yang muncul akibat pembangunan tersebut. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah telaah pustaka dengan cara mengumpulkan dan menganalisis berbagai sumber, baik artikel ilmiah maupun buku, guna mengungkap permasalahan yang telah dibahas dalam studi-studi terdahulu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembangunan PLTU di Indonesia masih belum menerapkan prinsip pembangunan berkelanjutan. Hal ini tercermin dari berbagai permasalahan sosial dan lingkungan yang terus terjadi di sekitar wilayah pembangunan PLTU. Pemerintah yang seharusnya menjadi penengah justru kerap kali memperkeruh keadaan dan turut andil dalam memunculkan konflik, baik secara horizontal maupun vertikal antara masyarakat dengan pihak pemerintah dan perusahaan.
Analisis Ketidakadilan Perempuan pada Film Dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey
Amirah, Praya Ariffa;
Mutahir, Arizal;
Dadan, Sulyana;
Rizkidarajat, Wiman
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.7975
Penelitian ini memfokuskan kajiannya pada bentuk objektifikasi perempuan yang belum terungkap melalui film dokumenter Keep Sweet, Pray and Obey. Tujuan penelitian ini untuk menjelaskan bentuk objektifikasi perempuan dalam film Keep Sweet Pray and Obey.Berdasarkan paradigmanya, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif-interpretatif Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika. Hal ini dikarenakan semiotika merupakan studi terkait tanda. Teknik analisis data yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah semiotika model Roland Barthes. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini digunakan untuk memperoleh data-data dokumentatif yang dibutuhkan oleh peneliti. Terdapat berbagai bentuk objektifikasi perempuan mulai dari rambut, pakaian, pandangan laki-laki yang melihat perempuan abu-abu sehingga perempuan tidak memiliki batasan pasti tentang hak dan kewajiban mereka sebagai manusia. Penindasan terhadap perempuan adalah sasaran empuk dengan mengedepankan narasi agama yang dogmatis. Faktor pendukung bentuk objektifikasi perempuan dimulai dari adanya pengaruh media, hubungan personal, dan hubungan sosial. Terdapat berbagai cara manipulasi perempuan yang terlihat pada film ini.
Program Kelas Mengenal Difabel (KMD) Upaya Komunitas GPAD dalam Mewujudkan Masyarakat Inklusi di Pekalongan
Kholis, Ahmad Nur KHolis;
Arizal Mutahir;
Muslihudin
Reslaj: Religion Education Social Laa Roiba Journal Vol. 6 No. 12 (2024): RESLAJ: Religion Education Social Laa Roiba Journal
Publisher : Intitut Agama Islam Nasional Laa Roiba Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.47467/reslaj.v6i12.5079
The main problem faced is the low level of understanding and social inclusion of people with disabilities in Pekalongan. The Recognizing Disability Class (KMD) program carried out by the GPAD Pekalongan Community aims to overcome this problem through inclusive and interactive education. This program seeks to change negative stigma, develop empathy and deep understanding, and increase active community participation in supporting people with disabilities. The research method is a qualitative method. The data collection method is through interviews, observation and documentation. The results of the analysis show that KMD increases public awareness and understanding. KMD uses an inclusive approach involving interactive learning methods and relevant contextual materials.
ANALISIS KELAS SOSIAL DALAM MEMBACA IKLAN
Mutahir, Arizal
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2019)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.14421/pjk.v12i2.1678
Many studies on advertising in Indonesia have been conducted. The discussions are mostly about the influence of advertising on consumers. However, such studies often slip into a deterministic understanding. Actions are understood as behaviors merely influenced by external factors. The study of advertising deals with the relationship between the subject's intentions, actions, and the meanings contained in the advertisement. Thus, it not only discusses the influence of advertising on consumption behavior, but also requires a study of representation in advertising. Unfortunately, some studies of advertising representation have not touched the theme of the representation of social classes, as if advertisements don't talk about social classes explicitly. The absence of social class analysis in advertisement study tends to disguise the actual conditions of the society. Using the method of semiotic analysis to read advertisements on television as the subject of the study, this paper aims to show that images of social class are still present in advertisements. This paper finds that social class images in advertisements are stereotyped. The lower social class is described as a social class that is dominated and is doing a class-passing. Based on the findings, this paper argues that the analysis of social classes is still required to examine any forms of popular culture such as advertising and, at the same time, can show the actual conditions of social classes in the society.
Urban space spatiality in Purwokerto, Jawa Tengah: Case from Gedung Soetedja
Rizkidarajat, Wiman;
Mutahir, Arizal;
Hanny, Isna;
Correa, Ismael Caceres
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 10 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30738/sosio.v10i1.16641
This article attempts to trace the spatiality of urban space in Purwokerto using Lefebvian theory. The main urban space in this article is Gedung Soetedja which was previously located on Jalan Gatot Soebroto, Purwokerto Barat. As long as it was an urban space, the central discourse of Gedung Soetedja was underground music which was born from the movements of urban youth in Indonesia in the early 2000s. The method used in this article is descriptive qualitative. The data was obtained through interviews with 2 actors and organizers of underground gigs in early 2000s, 2 actors of a youth collective called Heartcorner Collective, 2 cafe owners who were often used to Heartcorner Collective organize gigs (micro scale underground music concert), and 1 journalist. This data was obtained from May-August 2023. The findings of this article are the efforts of a collective, the Heartcorner Collective, to create urban spatiality through re-reading underground music discourse, placemaking, and spatiality of urban spaces. Furthermore, this article also presents things that caused Gedung Soetedja to lose its inclusiveness when Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas moved it to its new location.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah
Rizkidarajat, Wiman;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri;
Julianti, Shinta
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061
Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Marlina Si Pemenggal Kepala (Balas dendam dalam film "Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak" [2017])
Nur Azizah, Adinda Farah;
Mutahir, Arizal;
Restuadhi, Hendri
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 4 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31004/innovative.v4i4.12785
Film “Marlina” bukan hanya sekedar bentuk perlawanan dan pertahanan diri. Film “Marlina” merupakan bentuk balas dendam perempuan akibat pemerkosaan dan ketertindasan. Penelitian ini akan memberikan informasi terkait representasi balas dendam yang dilakukan perempuan dalam film “Marlina”. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan teknik semiotika Roland Barthes. Penelitian ini menggunakan teori aliran feminisme multikultural untuk menganalisis hasil temuan. Penelitian ini memiliki temuan utama yakni bentuk balas dendam perempuan atas pemerkosaan dan penindasan yang dialami. Perempuan dalam film ini meracuni para perampok dan memenggal kepala dua orang dari perampok tersebut. Melalui makna feminisme multikultural, perempuan diperbolehkan menggunakan kekerasan sebab pengalaman dalam mengatasi setiap penindasan dipengaruhi dari faktor budaya, ras, dan kelas sosial. Budaya Sumba dalam film “Marlina” menormalisasikan kekerasan, khususnya pemenggalan kepala musuh. Meskipun perempuan memiliki hak untuk membalas kejahatan, balas dendam kekerasan bukan solusi yang tepat. Lingkaran balas dendam akan terus berputar jika tidak ada intervensi yang komprehensif.
TRANSGRESIVITAS DAN PANDANGAN MASA DEPAN: STUDI BIOGRAFI PADA TUTUNG HITAM ANGGOTA PUNK PURWOKERTO
Injani, Indira Luthvia;
Rizkidarajat, Wiman;
Mutahir, Arizal
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 8 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31604/jips.v12i8.2025.3522-3529
Masyarakat sering memandang punk sebagai hal yang negatif dan menyimpang, penelitian ini justru menemukan narasi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini mengeksplorasi kisah pengalaman Tutung Hitam sebagai punk yang mempraktikkan ideologi DIY (Do It Yourself) dan menunjukkan pandangan mengenai masa depan. penelitian ini akan menyelami bagaimana transgresivitas yang dianut justru membentuk pandangan masa depan yang berbeda dan bukan sekedar pelabelan negatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi biografi oleh salah satu anggota komunitas punk Purwokerto yaitu Tutung Hitam. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dilanjut dengan teknik analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tutung Hitam tidak hanya menjadikan punk sebagai ekspresi penampilan, melainkan juga berpegang pada prinsip kemandirian DIY (Do It Yourself). Transgresivitas ditunjukan melalui perlawanan terhadap norma sosial yang dominan. Tutung Berhasil membuktikan bahwa Punk tidak selalu dikaitkan dengan penyimpangan dan masa depan yang negatif. Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai komunitas punk melihat masa depan mereka dan mengurangi stigma negatif yang melekat pada mereka.