p-Index From 2021 - 2026
6.398
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Transisi Kepemudaan dalam Pilihan Karier: Studi Musisi Do it Yourself (DIY) di Kota Purwokerto Abiyyu, Dany Farhan; Mutahir, Arizal; Rizkidarajat, Wiman; Hariyadi, Hariyadi
PADARINGAN (Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi) Vol 8, No 02 (2026): PADARINGAN : Jurnal Pendidikan Sosiologi Antropologi
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/pn.v8i02.18201

Abstract

Career choice among Indonesian youth does not occur autonomously but is shaped through negotiation with the surrounding social environment, particularly families that continue to regard formal employment as the primary marker of stability and success. This complexity becomes more pronounced when young people pursue non-conventional career paths such as do-it-yourself (DIY) music, which offers creative autonomy yet is marked by economic uncertainty. This article examines how DIY musicians in Purwokerto navigate their transition into the labour market, negotiate career choices with their families, and develop adaptive strategies to ope with structural constraints and dominant formal-work norms. Employing a descriptive qualitative method with a case study approach and informed by Karl Mannheim’s theory of social generations, data were collected through in-depth interviews and participant-as-observer, observations involving DIY musicians aged 20-24 who are still enrolled in higher education, additional informants who have completed the transition phase, and parents of the main informants. Data were analyzed using Miles and Huberman’s interactive model with source triangulation. The finding reveal that DIY youth transitions involve ongoing negotiation between creative aspirations, familial expectations, and limitations within the local music ecosystem, addressed through adaptive strategies combining creative labour, paid work, and collective networks.
ANALISIS KELAS SOSIAL DALAM MEMBACA IKLAN Arizal Mutahir
Profetik: Jurnal Komunikasi Vol. 12 No. 2 (2019)
Publisher : Faculty of Social Sciences and Humanities Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/pjk.v12i2.1678

Abstract

Many studies on advertising in Indonesia have been conducted. The discussions are mostly about the influence of advertising on consumers. However, such studies often slip into a deterministic understanding. Actions are understood as behaviors merely influenced by external factors. The study of advertising deals with the relationship between the subject's intentions, actions, and the meanings contained in the advertisement. Thus, it not only discusses the influence of advertising on consumption behavior, but also requires a study of representation in advertising. Unfortunately, some studies of advertising representation have not touched the theme of the representation of social classes, as if advertisements don't talk about social classes explicitly. The absence of social class analysis in advertisement study tends to disguise the actual conditions of the society. Using the method of semiotic analysis to read advertisements on television as the subject of the study, this paper aims to show that images of social class are still present in advertisements. This paper finds that social class images in advertisements are stereotyped. The lower social class is described as a social class that is dominated and is doing a class-passing. Based on the findings, this paper argues that the analysis of social classes is still required to examine any forms of popular culture such as advertising and, at the same time, can show the actual conditions of social classes in the society.
Citra Diri Maskulin Para Pelaku Kejahatan Seksual Terhadap Anak di Kabupaten Banyumas Jawa Tengah Wuryaningsih, Tri; Mutahir, Arizal; Dewi, Ratna
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2019): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v12i1.3827

Abstract

Persoalan kekerasan terhadap anak di Indonesia menjadi persoalan yang sangat serius. Pemerintah menyatakan bahwa ‘Indonesia Darurat Kekerasan terhadap Anak.’ Kasus kekerasan terhadap anak terus mengalami peningkatan. Kasus kekerasan seksual merupakan kasus terbanyak. Kasus kekerasan seksual tidak lepas dari gagasan maskulinitas yang sangat cenderung patriarkhis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan tentang gagasan maskulinitas para pelaku kejahatan seksual terhadap anak yang berkenaan dengan makna dan struktur sosial yang melingkupi mereka. Untuk meraih tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Temuan penelitian ini adalah: tindakan seksual para pelaku kejahatan seksual tidak dapat dilepaskan dari pemaknaan mereka tentang gender dan seksualitasnya, laki-laki dianggap sebagai sang penakluk, pemangsa, dan perempuan sebagai pihak yang ditundukkan (objek seksual). Bagi kaum paedofil (pelaku sodomi), perempuan adalah sosok yang selalu membuatnya sakit hati. Anak-anak dijadikan pelampiasan hasrat seksualnya; para pelaku kejahatan seksual menganggap persetubuhan dengan anak dilakukan atas dasar suka sama suka, tidak ada ancaman dan paksaan, bukan merupakan kekerasan atau tindak kejahatan; struktur sosial yang melingkupi para pelaku adalah: tingkat sosial ekonomi rendah, lingkungan pergaulan buruk, ketiadaan figur ayah, ketiadaan istri dalam jangka waktu lama, cenderung menutup diri dari lingkungannya, konsumsi obat-obat terlarang, minuman keras, materi pornografi serta seks bebas                                Kata kunci: kejahatan seksual, anak, maskulinitas, makna, struktur sosial Abstract"Indonesia Emergency Violence against Children" is the statement delivered by the government to show how the issue of violence against children in Indonesia has become a very serious problem. Currently the case of violence against children is increasing and cases of sexual violence cases occupy the highest among the other kinds of violence. This study aims to analyze and explain the idea of masculinity perpetrators of sexual crimes against children that focuses on the meaning and social structures that surround sexual offenders. The findings in this study are: 1) The sexual act of sexual offenders can not be separated from their meaning about gender and sexuality, in which the male sex is considered as the conqueror, predators, and women as the subjugated (sexual object). For the pedophile, the woman is a person who always made it hurt. Only the children can freely vent to his sexual desires; 2) According to sex offenders, that sexual intercourse with a child on the basis of consensual, there is no threat and coercion is not the violence or crime; 3) social structure that surrounds the sex offenders are: socio-economic level is low, the social environment is bad, the absence of a father figure, the absence of the wife in the long term, tend to close themselves from the environment, the consumption of illegal drugs, alcohol and pornographic material as well as free sex.Keywords: sexual crimes, child, masculinity, meaning, social structure
SEDUCTION DAN SIMULAKRA PADA LAYANAN SPAYLATER Ihsan, Alfian; Mutahir, Arizal
Jurnal Analisa Sosiologi Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : UNIVERSITAS SEBELAS MARET (UNS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jas.v12i1.63253

Abstract

“Buy Now Pay Later” service based on digital financial applications is increasingly being famous in Indonesia. One of them is SPaylater which was originally a financial loan for shopping on the Shopee application and is increasingly being used to pay for consumption-based on the merchant. SPaylater adopted the credit card method with several innovations such as faster and easier submissions, also the payment can be paid in installment. Employing qualitative method and hermeneutic approach, this paper collects data through observation and library research. It was written to debunk the operative of seduction and simulacra in SPaylater's service features.  SPaylater contained several seduction patterns so that the middle and lower classes are willing to use credit facilities in carrying out consumption activities. SPaylater service offered easy registration, discounts, free shipping coupons and cash back as seduction to attract users to use the payment method. SPaylater was a simulacra in a digital ecosystem. It was potentially entrap the user into consuming activity without realizing their financial reality. It was potentially also to trap the user in a prolonged cycle of debt and cause greater financial problems in the long term. Keywords: SPaylater, Shopee, Seduction, Simulacra. AbstrakLayanan “Beli Sekarang Bayar Nanti” berbasis aplikasi keuangan digital semakin marak di Indonesia. Salah satunya adalah SPaylater yang pada awalnya menjadi pinjaman keuangan untuk belanja pada aplikasi Shopee dan semakin meluas untuk bisa digunakan membayar pada toko fisik berbasis konsumsi dan jasa. SPaylater mengadopsi cara kerja kartu kredit dengan inovasi yang memungkinkan calon pengguna melakukan pengajuan secara lebih cepat, mudah, dan pembayaran yang bisa dicicil. Dengan menggunakan metode kualitatif dan pendekatan hermeneutik, tulisan ini mengambil data melalui pengamatan dan studi pustaka. Tulisan ini bertujuan untuk membongkar selubung seduction dan simulakra pada fitur layanan SPaylater.  SPaylater memuat beberapa pola seduction agar masyarakat kelas menengah dan bawah bersedia menggunakan fasilitas kredit dalam melakukan aktivitas konsumsi. Layanan SPaylater menawarkan kemudahan pendaftaran, potongan harga, kupon gratis ongkos kirim dan kembalian tunai sebagai seduction untuk menarik minat pengguna menggunakan metode pembayaran ini. SPaylater merupakan simulakra dalam ekosistem digital yang berpotensi membuat pengguna terlena untuk berbelanja tanpa menyadari realitas keuangan mereka. Ini berpotensi untuk menjebak pengguna dalam siklus utang yang berkepanjangan serta menyebabkan masalah keuangan yang lebih besar dalam jangka panjang. Kata Kunci: Spaylater, Shopee, Seduction, Simulakra.
Visual Commodification: Symbolic Representation Of Materiality And Aesthetics In Contemporary Coffee Culture (A Case Study Of Purwokerto, Central Java) Ihsan, Alfian; Mutahir, Arizal; Hariyadi, Hariyadi
Sosioglobal : Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi Vol 10, No 2 (2026): Sosioglobal: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Sosiologi
Publisher : Department of Sociology, Faculty of Social and Political Science, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jsg.v10i2.65196

Abstract

ABSTRACTThis research investigated the socio-cultural phenomenon of the cappuccino conquest in Purwokerto by exploring how specific aesthetic elements facilitate the raise of modern coffee shop. Utilizing Roland Barthes’ semiotic approach and Fredric Jameson’s concept of commodity aestheticization, the study identified serving equipment (ceramic cups) and visual appearance (latte art) as the two primary factors constructing the image of cappuccino as a luxurious, aesthetic, and modern commodity. These elements are the "myths" that shifted consumer interest from the beverage's use value to its sign value. Contemporary coffee consumption becomes a tool for expressing modern identity, knowledge, and social status. Consequently, this aestheticization has marginalized the local coffee craft, kopi clebek, and led to the neglect of local Banyumas robusta beans in favor of standardized beans from outside regions like Temanggung or Malang. It was concluded that the cappuccino conquest in Purwokerto is a realized cultural shift. Highlighting an urgent need for local government intervention to protect and promote indigenous coffee heritage.Keywords: Aesthetics, Cappuccino, Culture, Luxury, Modern ABSTRAKPenelitian ini mengkaji fenomena sosial-budaya berupa “penaklukan” cappuccino di Purwokerto dengan menelusuri bagaimana elemen estetika mendorong pertumbuhan kedai kopi modern. Menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes dan konsep estetikasi komoditas Fredric Jameson, studi ini mengidentifikasi bahwa peralatan saji (cangkir keramik) dan tampilan visual (latte art) merupakan dua faktor utama yang membentuk citra cappuccino sebagai komoditas mewah, estetis, dan modern. Elemen-elemen ini menjadi "mitos" yang menggeser minat konsumen dari yang semula fokus pada nilai guna minuman, menjadi fokus pada nilai simbolik. Di masa kini, konsumsi kopi telah menjadi alat untuk menunjukkan identitas modern, wawasan, serta status sosial seseorang. Fenomena estetikasi kopi modern membuat sajian kopi lokal Banyumas yaitu kopi clebek mulai terlupakan. Biji kopi robusta asli Banyumas juga terabaikan oleh kedai kopi modern karena mereka lebih suka menggunakan biji kopi dari luar daerah seperti Temanggung atau Malang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa fenomena "penaklukan” cappuccino melalui kedai kopi modern di Purwokerto adalah bentuk nyata dari pergeseran budaya. Hal ini merupakan sinyal peringatan bagi pemerintah daerah untuk melindungi dan mempromosikan kerajinan kopi dan komoditas biji kopi lokal.Kata kunci: Estetik, Cappuccino, Budaya, Mewah, Modern   
Toxic Productivity Among University Students: The Role of Institutional Policy and Student Experience Perspectives Laila Sabrina; Ratna Dewi; Arizal Mutahir; Wiman Rizkidarajat
G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling Vol. 10 No. 03 (2026): July 2026, G-Couns: Jurnal Bimbingan dan Konseling
Publisher : Universitas PGRI Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31316/g-couns.v10i03.8995

Abstract

Toxic productivity has become increasingly prevalent among university students as academic expectations, social pressures, and institutional policies collectively shape a culture that normalizes continuous activity. This study examines the phenomenon within the Faculty of Social and Political Sciences at Universitas Jenderal Soedirman by exploring how students interpret productivity-oriented academic regulations and how these structures interact with psychological tendencies. Using a descriptive quantitative design, data were collected from 233 undergraduate students through a structured questionnaire employing Likert and Guttman scales and analyzed using frequency distributions and descriptive statistics to identify behavioral patterns, perceptions of institutional policies, and experienced impacts. The findings show that many students experience persistent pressure to remain productive, often accompanied by guilt during rest, academic overload, and declining well-being. Students perceive institutional requirements, such as mandatory organizational involvement and credit-based activity systems, as reinforcing an achievement-oriented environment that promotes excessive productivity. These results demonstrate that toxic productivity arises not only from personal or social factors but also from structural academic expectations that shape bounded rationality in student decision-making. The study concludes that policy adjustments that promote flexibility, balanced performance indicators, and improved mental health support are essential to mitigating excessive productivity pressures and fostering healthier academic conditions. Keywords: burnout, mental health interventions, toxic productivity, university policy, well-being
TRANSGRESIVITAS DAN PANDANGAN MASA DEPAN: STUDI BIOGRAFI PADA TUTUNG HITAM ANGGOTA PUNK PURWOKERTO Indira Luthvia Injani; Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir
NUSANTARA : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial Vol 12, No 8 (2025): Nusantara : Jurnal Ilmu Pengetahuan Sosial
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jips.v12i8.2025.3522-3529

Abstract

Masyarakat sering memandang punk sebagai hal yang negatif dan menyimpang, penelitian ini justru menemukan narasi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini mengeksplorasi kisah pengalaman Tutung Hitam sebagai punk  yang mempraktikkan ideologi DIY (Do It Yourself) dan menunjukkan pandangan mengenai masa depan. penelitian ini akan menyelami bagaimana transgresivitas yang dianut justru membentuk pandangan masa depan yang berbeda dan bukan sekedar pelabelan negatif. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi biografi oleh salah satu anggota komunitas punk Purwokerto yaitu Tutung Hitam. Teknik pengumpulan data berupa wawancara, observasi, dan dokumentasi. Kemudian dilanjut dengan teknik analisis data menggunakan analisis tematik. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Tutung Hitam tidak hanya menjadikan punk sebagai ekspresi  penampilan, melainkan juga berpegang pada prinsip kemandirian DIY (Do It Yourself). Transgresivitas ditunjukan melalui perlawanan terhadap norma sosial yang dominan. Tutung Berhasil membuktikan bahwa Punk tidak selalu dikaitkan dengan penyimpangan dan masa depan yang negatif. Artikel ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai komunitas punk melihat masa depan mereka dan mengurangi stigma negatif yang melekat pada mereka.
Urban space spatiality in Purwokerto, Jawa Tengah: Case from Gedung Soetedja Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Isna Hanny; Ismael Caceres Correa
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 10 No 1 (2024): Februari 2024
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v10i1.16641

Abstract

This article attempts to trace the spatiality of urban space in Purwokerto using Lefebvian theory. The main urban space in this article is Gedung Soetedja which was previously located on Jalan Gatot Soebroto, Purwokerto Barat. As long as it was an urban space, the central discourse of Gedung Soetedja was underground music which was born from the movements of urban youth in Indonesia in the early 2000s. The method used in this article is descriptive qualitative. The data was obtained through interviews with 2 actors and organizers of underground gigs in early 2000s, 2 actors of a youth collective called Heartcorner Collective, 2 cafe owners who were often used to Heartcorner Collective organize gigs (micro scale underground music concert), and 1 journalist. This data was obtained from May-August 2023. The findings of this article are the efforts of a collective, the Heartcorner Collective, to create urban spatiality through re-reading underground music discourse, placemaking, and spatiality of urban spaces. Furthermore, this article also presents things that caused Gedung Soetedja to lose its inclusiveness when Pemerintah Daerah Kabupaten Banyumas moved it to its new location.
Kerja atau karier: Studi biografi pada strategi musisi DIY dalam menghadapi pilihan kemiskinan di Purwokerto, Jawa Tengah Wiman Rizkidarajat; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Shinta Julianti
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11 No 1 (2025): February 2025
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30738/sosio.v11i1.18061

Abstract

Pemuda selalu memiliki distingsi dalam memilih jenis pekerjaan dan karier untuk melanjutkan lintasan hidupnya. Contoh pilihan tersebut adalah melanjutkan karier sebagai musisi DIY. Dalam praktiknya, pilihan untuk melanjutkan karier di musik DIY seringkali harus dinegosiasikan dengan berbagai hal, mulai dari latar belakang sosial ekonomi pemuda yang mempraktikkannya hingga demografi kota tempat mereka tinggal. Artikel ini bertujuan untuk menyajikan strategi musisi DIY di kota kabupaten, Purwokerto yang terletak di Jawa Tengah. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan biografi. Informan dalam artikel ini adalah 20 orang praktisi musik DIY di Purwokerto yang diwawancarai secara mendalam pada bulan Mei 2023 hingga Mei 2024. Data yang diperoleh kemudian diolah dengan metode critical insider, dan menghasilkan 9 data representasi dari 2 kolektif yang diteliti dalam artikel yaitu Heartcorner Collective dan Voicehell. Temuan artikel ini adalah pilihan kemiskinan disebakan karena dua hal. Pertama kegagalan transisi pendidikan menuju kerja dan kedua keadaan kota yang tidak bisa menyediakan ruang untuk bekerja bagi para pemuda yang memilih menggunakan modal sosialnya sebagai musisi DIY. Keadaan tersebut membuat para pemuda harus menerapkan pemaknaan kerja dan karier dalam praktik bermusik mereka. Hasil dari penelitian adalah terdapatnya strategi yang diterapkan oleh para musisi DIY berupa melakukan juggling work dan menegosiasikan otentisitas DIYnya. Hal tersebut merupakan pilihan paling wajar untuk memisahkan pemaknaan terhadap kerja atau karier terhadap praktik bermusik DIY, sehingga para musisi DIY tetap dapat melanjutkan lintasan hidupnya melalui praktik bermusik DIY.
Identitas Sosial Dalam Pola Circle Mahasiswa Fajrianan Lutfi Ramadhan; Arizal Mutahir; Hendri Restuadhi; Wiman Rizkidarajat
Jurnal Sosiologi Kontemporer Vol. 5 No. 2 (2025): Jurnal Sosiologi Kontemporer, Desember 2025
Publisher : Program Studi Sosiologi Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56326/jsk.v5i2.6359

Abstract

Fenomena circle pertemanan di kalangan mahasiswa menunjukkan bagaimana identitas sosial terbentuk melalui proses interaksi sosial dalam kehidupan kampus. Mahasiswa tidak hanya berperan sebagai individu akademik, tetapi juga sebagai aktor sosial yang membangun jaringan pertemanan sebagai sarana pembentukan jati diri dan nilai sosial. Penelitian ini bertujuan memahami proses pembentukan identitas sosial mahasiswa melalui circle pertemanan di ruang fisik dan digital. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka (library research) berdasarkan teori Identitas Sosial Tajfel dan Turner serta teori Interaksionisme Simbolik Mead dan Blumer. Analisis dilakukan secara interpretatif dan komparatif terhadap literatur primer dan sekunder yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas sosial mahasiswa terbentuk melalui proses kategorisasi, identifikasi, dan perbandingan sosial yang menumbuhkan rasa memiliki terhadap kelompok (in-group) serta membedakan diri dari kelompok lain (out-group). Circle pertemanan menjadi arena negosiasi makna sosial dan pembentukan solidaritas, sementara ruang digital seperti grup WhatsApp dan media sosial memperluas interaksi simbolik yang memperkuat kohesi serta ekspresi identitas kolektif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa circle pertemanan berperan penting dalam membentuk identitas sosial mahasiswa yang adaptif, reflektif, dan inklusif, sekaligus mencerminkan perubahan pola interaksi sosial generasi muda di era digital. The phenomenon of friendship circles among students shows how social identity is formed through the process of social interaction in campus life. Students not only act as academic individuals, but also as social actors who build a network of friends as a means of forming identity and social values. This study aims to understand the process of social identity formation of students through the circle of friends in the physical and digital space. The method used is descriptive qualitative with library research approach based on social identity theory of Tajfel and Turner and symbolic interactionism theory of Mead and Blumer. The analysis was carried out in an interpretative and comparative manner to the relevant primary and secondary literature. The results showed that the social identity of students is formed through the process of categorization, identification, and social comparison that fosters a sense of belonging to the group (in-group) and distinguish themselves from other groups (out-group). Friendship circles become arenas for negotiating social meaning and forming solidarity, while digital spaces such as WhatsApp groups and social media expand symbolic interactions that strengthen cohesion as well as the expression of collective identity. This study concludes that the circle of friends plays an important role in shaping the social identity of students who are adaptive, reflective, and inclusive, as well as reflecting the changing patterns of social interaction of the younger generation in the digital age.
Co-Authors Abiyyu, Dany Farhan Adelia Rahma Putri Agung Kurniawan Aidatul Chusna, Aidatul Aldri Frinaldi Alfian Ihsan Aminuyati Anak Agung Gede Sugianthara Arbina, Satria Asmoro Aji Ayuni, Dwiyantissa Lesi Baharuddin, Nalfaridas Dalhar Shodiq Damayanti, Elok Dimas Rahman Rizqian Elis Puspitasari Elza Putra Azzura Eros Shidqy Putra Fadhila Citra Permata Fajri, Ahsani Taqwiim Fajrianan Lutfi Ramadhan Fara Syifa Amalia Firstyandini, Divka Handika, Pamungkas Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hariyadi Hendri Restuadhi Hendri Restuadhi Ignatius Suksmadi Ihda Agustio Devanda Nurico Kamala Ihsan, Alfian Imam Santosa Indira Luthvia Injani Ismael Caceres Correa Isna Hanny Isna Hanny Puspitaningtyas Jarot Santoso Jarot Santoso Joko Santoso Kholifatus Saadah Kholis, Ahmad Nur KHolis Laila Sabrina Makhasin, Luthfi Masrukin Masrukin Mega Fatimah Rosana Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Taufiqurrohman Muhammad Taufiqurrohman, Muhammad Muslihudin Muslihudin Nissa, Intan Adillia Novita Sari Nur Azizah, Adinda Farah Nursetiyawati, Puri Septiana Prasetyo, Ridho Iza Praya Ariffa Amirah Primadata, Ankarlina Pandu Putra Indriadi, Agheng Putri M, Aulia Raden Mohamad Herdian Bhakti Rahmad Santosa Rahmad Santosa Rajiv Umardi, Muhammad Rakhmat Agung Pramadani Ramadhan, Fajrianan Lutfi Ramadhan, Novan Ratna Dewi Ratna Dewi Ratna Dewi Rin Rostikawati Rofingatun Hamidah Romauli , Nethania Sabrina, Laila Shinta Julianti Siswahyudianto Steven Quincy Ibrahim Sulyana Dadan Sulyana Dadan Sulyana Dadan Tri Wuryaningsih Tyas Retno Wulan Tyas Retno Wulan Wiman Rizkidarajat Windiasih, Rili Yumna Raihanah