Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Penamas

RADIKALISME DALAM PAHAM KEAGAMAAN GURU DAN MATA PELAJARAN FIKIH DI MADRASAH ALIYAH: RADICALISM IN THE RELIGIOUS TEACHERS UNDERSTANDING AND IN SUBJECT JURISPRUDENCE AT ISLAMIC SENIOR HIGH SCHOOL Khamami Zada
Penamas Vol 28 No 1 (2015): Volume 28, Nomor 1, April-Juni 2015
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The radical religious thought can be traced from the Competences Standard and Basic Competences (SKKD), textbooks, teachers, and religious understanding. This research focuses on SKKD materials and textbooks, which potentially to increase understanding intolerant and radicalism. The study shows that intolerant and radicalism concepts were not found in SKKD materials, textbooks and the understandings of jurisprudence teachers in Islamic Senior High School in terms of marriage, inheritance, and politics. However, this study found that there is restriction on the rights of non- Muslims in the area of marriage, inheritance, and politics. This restriction is based on Islamic doctrine, which states that non-Moslems have no certain rights, such as inheritance, leadership, and representation. Keywords: Radicalism, jurisprudence, Islamic Senior High School, textbooks Paham keagamaan radikal di lembaga pendidikan dapat dilacak dari Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SKKD), buku ajar, dan paham keagamaan guru. Penelitian ini memfokuskan materi SKKD dan buku ajar yang berpotensi pada paham intoleran dan radikal. Penelitian ini menemukan, bahwa materi SKKD, buku ajar, dan pemahaman guru-guru fikih MA tidak ditemukan paham intoleran dan radikal dalam wilayah pernikahan, kewarisan, dan politik. Namun penelitian ini menemukan pembatasan hak-hak non-Muslim dalam wilayah pernikahan, kewarisan, dan politik. Pembatasan ini didasarkan pada doktrin Islam yang menegaskan, bahwa non-Muslim tidak mendapatkan hak-hak tertentu, seperti kewarisan, kepemimpinan, dan perwakilan. Kata Kunci: Radikalisme, fikih, Madrasah Aliyah, buku ajar.
DERADICALIZATION OF CHILDREN TERRORISM IN BRSAMPK HANDAYANI, JAKARTA Khamami Zada; Suardi Suardi; Latifatul Khasanah; Aderina Aderina; Fathudin Fathudin
Penamas Vol 34 No 1 (2021): Volume 34, Nomor 1, Januari-Juni 2021
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v34i1.491

Abstract

Aksi terorisme di Indonesia sudah tidak lagi hanya melibatkan orang-orang dewasa, tetapi telah bertransformasi dengan melibatkan anak-anak sebagai pelaku aksi terorisme secara langsung. Mereka telah menjadi korban dari orang tuanya yang telah melakukan indoktrinisasi paham keagamaan radikal sehingga mereka terlibat dalam aksi terorisme. Penanganan aksi terorisme yang melibatkan anak pun telah dilakukan oleh pemerintah. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penanganan anak yang terlibat aksi terorisme di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) yang dikelola Kementerian Sosial dan Sekolah Luar Biasa emotion (SLBe) Handayani yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Permasalahan penelitian yang ingin dijawab adalah deradikalisasi yang dilakukan BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani terhadap anak yang terlibat dalam aksi terorisme. Studi ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap anak yang terlibat terorisme di BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani di Bambu Apus, Jakarta Timur dengan melakukan observasi dan wawancara mendalam. Studi ini menemukan bahwa BRSAMPK Handayani menangani anak yang terlibat aksi terorisme dengan melakukan rehabilitasi dan deradikalisasi, sedangkan SLBe Handayani memberikan akses pendidikan dan deradikalisasi yang disisipkan di dalam mata pelajaran. Penanganan terhadap anak yang terlibat dalam aksi terorisme ini dilakukan dengan pendekatan integratif yang dilakukan secara bersama-sama antara BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani dalam satu atap layanan pendidikan khusus dan program rehabilitasi dan deradikalisasi. Muatan materi utama dalam melakukan deradikalisasi adalah rehabilitasi psikologis, wawasan keagamaan moderat, wawasan kebangsaan, dan ketrampilan sosial yang diberikan secara kolaboratif oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Agama, Kementerian Sosial, dan perguruan tinggi.
DERADICALIZATION OF CHILDREN TERRORISM IN BRSAMPK HANDAYANI, JAKARTA Khamami Zada; Suardi Suardi; Latifatul Khasanah; Aderina Aderina; Fathudin Fathudin
Penamas Vol 34 No 1 (2021): Volume 34, Nomor 1, Januari-Juni 2021
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v34i1.491

Abstract

Aksi terorisme di Indonesia sudah tidak lagi hanya melibatkan orang-orang dewasa, tetapi telah bertransformasi dengan melibatkan anak-anak sebagai pelaku aksi terorisme secara langsung. Mereka telah menjadi korban dari orang tuanya yang telah melakukan indoktrinisasi paham keagamaan radikal sehingga mereka terlibat dalam aksi terorisme. Penanganan aksi terorisme yang melibatkan anak pun telah dilakukan oleh pemerintah. Studi ini bertujuan untuk menganalisis penanganan anak yang terlibat aksi terorisme di Balai Rehabilitasi Sosial Anak Memerlukan Perlindungan Khusus (BRSAMPK) yang dikelola Kementerian Sosial dan Sekolah Luar Biasa emotion (SLBe) Handayani yang dikelola Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Permasalahan penelitian yang ingin dijawab adalah deradikalisasi yang dilakukan BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani terhadap anak yang terlibat dalam aksi terorisme. Studi ini menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus terhadap anak yang terlibat terorisme di BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani di Bambu Apus, Jakarta Timur dengan melakukan observasi dan wawancara mendalam. Studi ini menemukan bahwa BRSAMPK Handayani menangani anak yang terlibat aksi terorisme dengan melakukan rehabilitasi dan deradikalisasi, sedangkan SLBe Handayani memberikan akses pendidikan dan deradikalisasi yang disisipkan di dalam mata pelajaran. Penanganan terhadap anak yang terlibat dalam aksi terorisme ini dilakukan dengan pendekatan integratif yang dilakukan secara bersama-sama antara BRSAMPK Handayani dan SLBe Handayani dalam satu atap layanan pendidikan khusus dan program rehabilitasi dan deradikalisasi. Muatan materi utama dalam melakukan deradikalisasi adalah rehabilitasi psikologis, wawasan keagamaan moderat, wawasan kebangsaan, dan ketrampilan sosial yang diberikan secara kolaboratif oleh Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Kementerian Agama, Kementerian Sosial, dan perguruan tinggi.